Posts Tagged ‘SMAN 8’

Fungsi Hukuman di Sekolah (4)

Februari 15, 2013

http://mjafareffendi.wordpress.com/2012/03/07/hukuman-dalam-dunia-pendidikan-haruskah-ada-hukuman-dalam-mendidik-anak/

Para Ahli yang Kontra Hukuman dalam Pendidikan
A.L Gary Gore dalam Suwarno (1992) salah seorang tokoh yang kontra terhadap hukuman badan mengatakan,
“Anak-anak tidak boleh dididik dengan ketakutan. Janganlah dibina dengan paksaan-paksaan yang tidak mereka pahami. Seorang pendidik yang ingin memaksakan kehendaknya kepada anak-anak, secara tidak sadar sedang mengajarkan bahwa kebenaran itu (harus dilakukan) dengan paksaan. Efek negatif lain dari kekerasan yang diterima anak-anak adalah anak-anak tidak melakukan pelanggaran karena takut akan pukulan (bukan lahir dari kesadaran mereka-peny.), sementara sifat buruknya tetap bersemayam di dalam dirinya. Pukulan tidak membawa kebaikan sama sekali bahkan merugikan. Rasa sakit itu akan masuk dalam memorinya. Masih ada orangtua yang sampai sekarang berpikiran bahwa anak-anak harus belajar sesuatu dengan pukulan, padahal anak-anak yang sering menerima kedisiplinan yang keras tersebut sebenarnya berusaha memerankan anak yang baik di depan mata orangtuanya, sementara jiwanya membelakangi mereka.”
Orangtua harus paham bahwa secara lahiriah hukuman fisik itu memang berhasil tapi pada hakikatnya orangtua akan merasakan berbagai kegagalan. Di depan orangtua anak-anak yang nakal itu bisa diselesaikan dengan hukuman fisik, tapi karena mereka memiliki tabiat yang buruk maka kenakalan mereka tetap tidak bisa dihentikan. Jika seorang anak menghentikan kebiasaan buruknya karena mendapatkan hukuman fisik, berarti si orangtua berhasil menanamkan rasa jera kepada si anak, namun keberhasilan ini harus ditebus dengan efek negatif lain yang tidak kurang buruknya, yaitu anak-anak yang dihukum secara fisik tersebut akan menderita ketakutan, atau memiliki sifat pengecut.
Selain itu perlu dicamkan dalam benak orangtua bahwa hukuman fisik itu bisa mengganggu sistem saraf anak-anak. Dalam kebanyakan kasus hukuman fisik itu selalu merusak saraf. Hukuman fisik juga kalau terus-terusan akan menimbulkan gejala mental yang tidak sehat.
Mendisiplinkan anak dengan hukuman fisik memang akan membuat anak tersebut menjadi patuh tapi bagaimana dewasanya kelak? Anak-anak yang lemah akan berubah menjadi anak-anak pemurung, apatis, minder dan penakut sementara anak-anak yang bengal akan tumbuh menjadi anak yang keras kepala. Di samping itu, efek buruk lain bagi kedua jenis anak tersebut adalah mereka menjadi terlatih untuk menjadi pendendam, pembohong dan penipu, hingga lenyaplah dunia anak-anak mereka yang polos, lucu dan ceria.
Sang pakar tersebut menambahkan,
“Semenjak kecil anak-anak ingin mengetahui segala hal yang ada di sekelilingnya. Kalau bisa mereka ingin melihat segala hal dan menyentuh benda-benda yang dilihatnya. Anak-anak yang sehat biasanya sangat aktif dan suka merusak benda-benda yang dipegangnya. Dan kadang-kadang anak-anak itu suka melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan orang lain. Tapi meskipun dengan segala macam kenakalannya itu, orangtua tidak menganggap anak itu memiliki tabiat yang buruk. Anak-anak itu aktif karena ingin melakukan sesuatu atau untuk menunjukkan jati diri. Sikap si anak ini bukan hanya tidak boleh ditekan, tetapi harus dibantu agar semakin aktif. Karena kalau ditekan, otak si anak akan menjadi lambat dan perkembangan mental serta motorik si anak akan terhambat. Anak-anak harus dibiarkan mengekspresikan keinginan-keinginannya tapi bukan berarti dibiarkan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya. Jika anak balita ingin menyentuh sesuatu yang berbahaya kita bisa menggantikannya dengan benda yang lebih aman bagi dirinya.
Anak-anak yang menerima hukuman fisik biasanya akan diam sambil menangis dan berjanji akan mematuhi orangtuanya dan orangtua biasanya akan merasa senang karena (dia menyangka) anaknya berhasil dididik dengan cara demikian. Namun dalam kebanyakan kasus keberhasilan itu harus ditebus dengan kegagalan yang pahit. Sangat jarang sekali hukuman itu berhasil menanamkan kesadaran kepada diri anak. Meskipun hukuman fisik itu diterapkan secara bertahap, tetap saja di dalam diri si anak akan muncul sikap-sikap negatif terhadap suasana dan lingkungannya. Ia akan menunjukkan sikap tidak suka dan tidak lagi berselera untuk mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dan pada sebagian besar anak berkembang sifat-sifat negatif seperti penakut, pemurung dan minder, memang tidak kelihatan secara langsung karena ia menyimpannya di dalam dirinya.”.
Untuk mendidik anak-anak yang masih kecil, usahakanlah terlebih dahulu agar anak-anak itu memahami keinginan orang dewasa, mempercayainya dan tidak keberatan mematuhi perintah-perintahnya. Kalau tidak demikian jangan menyuruh mereka secara paksa. Artinya orangtua atau guru pendidik sangat diharapkan untuk menghargai perasaan dan pikiran anak-anak.
Hukuman model ini sebagai bagian dari proses pembinaan anak-anak ditolak secara mutlak oleh pakar ini. Hukuman apapun, menurutnya, tidak efektif dan juga sangat beresiko apalagi hukuman fisik.
Di antara argumentasi yang disodorkan oleh kelompok yang kontra adalah bahwa anak-anak kecil itu tidak memahami konsep salah dan benar dan juga tidak bermaksud melakukan hal yang salah, tetapi ini bisa dijawab bahwa, Hukuman itu baru diberikan kalau anak sudah diberi penjelasan dan pada saat metode lain untuk menghentikan perbuatan buruk si anak tidak efektif lagi.
Anak-anak juga pada akhirnya harus diajarkan mana perbuatan yang baik dan yang buruk. Mereka harus mengerti perilaku apa saja yang bisa diterima oleh orangtuanya dan orang lain sebab ia akan berinteraksi kelak dengan mereka. Dan hukuman itu membuat mereka mengetahui apa saja yang bisa mereka lakukan dan apa yang tidak boleh ketika ada di tengah-tengah masyarakat.
Hukuman itu untuk menyadarkan bukan untuk melakukan pembalasan. Hukuman itu agar anak-anak menyadari kekeliruan mereka dan agar tidak mengulangi perbuatan jeleknya, bukan untuk melakukan balas dendam. Hukuman dalam pendidikan jangan dikelirukan dengan balas dendam.
Jean Soto menulis, “Semua penderitaan manusia, ketidakadilan, dan sebagainya berakar dari hukuman-hukuman dan kekerasan-kekerasan yang diterima oleh anak-anak dari orangtua mereka. Karena itu hukuman-hukuman itu harus dihapus sama sekali agar penderitaan umat manusia ini bisa sirna.”
Tetapi argumentasi beliau ini bisa dijawab dengan; pertama-tama , itu hanyalah klaim dan belum tentu bisa dibuktikan secara ilmiah. Yang kedua , seandainya kita terima pernyataan seperti itu bahwa penderitaan manusia itu berakar dari hukuman-hukuman keras yang diterima dari orangtuanya, maka akarnya adalah terlalu kerasnya hukuman tersebut dan bukan hukuman itu. Hukuman ekstrim itulah yang menjadi sumber penderitaan umat manusia.
Russel menambahkan, “Hukuman fisik yang ringan memang tidak begitu berbahaya, tapi tetap saja tidak ada gunanya dalam pendidikan. Hukuman seperti itu baru efektif kalau bisa menyadarkan si anak. Sementara hukuman fisik seperti itu biasanya tidak bisa membuat jera. Hukuman fisik itu membuat si anak merasa terpaksa memperbaiki diri dan bukan atas niatnya sendiri.”
Jawabannya bahwa anak-anak akan menyadari kekeliruannya melalui hukuman itu, dan kemudian dia akan lebih mengerti bahwa perbuatannya tidak disenangi orang lain dan karena ia ingin diterima oleh orang lain, ia akan berusaha menyesuaikan keinginannya dengan keinginan orang lain, supaya bisa mendapatkan bantuan atau memperoleh apa yang diinginkannya dari orang lain. Dengan demikian, hukuman fisik yang ringan pun masih ada gunanya jika diberikan dengan kadar dan waktu yang tepat.
Argumen lain yang disodorkan oleh kelompok penentang adalah bahwa pendidikan yang dijalankan dengan menanamkan rasa takut kepada si anak, akan membuat si anak seperti robot yang harus mengikuti suatu perintah. Proses pendidikan seperti itu sangat membahayakan perkembangan jiwa si anak, karena akan melahirkan anak-anak yang bermental budak yang harus tunduk terhadap segala perintah.
Hal ini masih bisa dibantah dengan kenyataan bahwa memang anak-anak tidak boleh dididik dengan sistem perbudakan, tapi tidak semua hukuman itu akan melahirkan kondisi demikian. Kalau hukuman itu dijalankan dengan benar dan dengan memperhatikan seluruh syarat-syaratnya maka tidak akan lahir anak-anak seperti itu.
Seorang anak yang terus-menerus melakukan perbuatan yang buruk padahal sudah sering kali diperingatkan agar tidak melakukan perbuatan tersebut mau tidak mau harus dihentikan dengan hukuman, sebab kalau kebiasaan buruknya tidak segera dihentikan, maka sang anak malah akan semakin berani. Tentunya hukuman itu harus ringan dan mengena kepada sasaran.
Dalih lain menurut kelompok tersebut bahwa hukuman itu sama sekali tidak mendidik, sebab hukuman itu tidak menghilangkan motivasi buruknya. Memang ia akan mengurungkan niatnya karena perasaan takut, tapi di dalam batinnya keinginan itu tetap ada. Ketika rasa takut itu hilang si anak akan kembali mengulangi perbuatan buruknya. Pukulan itu mungkin dihadapi oleh si anak dengan pura-pura berjanji akan menghentikan kebiasaan buruknya. Karena itu patut diingat statemen mereka bahwa hukuman juga akan melahirkan anak-anak yang asosial, penakut serta pasif.
Jawabannya: kami pun menerima pernyataan Anda bahwa hukuman itu tidak menghentikan apa yang bergetar di dalam batin. Untuk menghentikan kenakalan-kenakalannya kita harus mempelajari apa sebetulnya yang menjadi latar belakang kenakalan-kenakalannya dan kita cari solusinya sehingga anak-anak itu tidak mengulangi perbuatan buruknya. Tetapi jika si anak tetap saja mengulangi perilaku jeleknya, maka tidak ada cara lain selain memberinya hukuman. Rasa takut akan hukuman itu dapat menghentikan keinginan atau minimal mengurangi minatnya untuk berbuat buruk. Kalau hukuman itu diberikan secara proporsional, tidak akan melahirkan hal-hal yang tidak diharapkan. Memang benar seorang anak harus tumbuh dalam keceriaan dan kebebasan tapi pada saat yang sama anak-anak juga harus diajari bahwa di dunia ini tidak semua orang bisa hidup dengan kebebasan mutlak, apalagi kalau kebebasan itu dapat merugikan orang lain.

Fungsi Hukuman di Sekolah (3)

Februari 15, 2013

benci guru 9

benci guru 2

benci guru 4

benci guru 5

benci guru 6

benci guru 7

benci guru 8
http://mjafareffendi.wordpress.com/2012/03/07/hukuman-dalam-dunia-pendidikan-haruskah-ada-hukuman-dalam-mendidik-anak/

Perinsip Hukuman
Dalam memberikan suatu hukuman, para pendidik hendaknya berpedoman kepada perinsip “Punitur, Quia Peccatum est” artinya dihukum karena telah bersalah, dan “Punitur, ne Peccatum” artinya dihukum agar tidak lagi berbuat kesalahan, (M.J. Langeveld, 1995:117). Jika kita mengikuti dua macam perinsip tersebut, maka akan kita dapatkan dua macam titik pandang, sebagaiman yang dikemukakan oleh Amin Danien Indrakusuma, (1973:148) yaitu:
1. Titik pandang yang berpendirian bahwa hukuman itu ialah sebagai akibat dari pelanggaran atau kesalahan yang diperbuat. Dengan demikian, pandangan ini mempunyai sudut tinjauan ke belakang, tinjauan kepada masa yang lampau, yaitu pandangan “Punitur, Quia Peccatum est“;
2. Titik pandang yang berpendirian bahwa hukuman itu adalah sebagai titik tolak untuk mengadakan perbaikan. Jadi, pandangan ini mempunyai sudut tinjau ke muka atau ke masa yang akan datang, yaitu pandangan “Punitur, ne Peccatur”.

Teori Hukuman
Berdasarkan sudut pandang tersebut di atas, maka timbullah beberapa teori tentang hukuman, di antaranya ialah:
a. Teori Hukum Alam
1. Teori hukum alam ini dikemukakan oleh penganjur Pendidikan Alam, yaitu J.J. Rousseau. Rousseau tidak menghendaki hukuman yang dibuat-buat. Biarkan alam sendiri yang menghukumnya. Yang dimaksud di sini ialah, bahwa hukuman itu hendaknya merupakan akibat yang sewajarnya dari suatu perbuatan, hukuman harus merupakan sesuatu yang natuur menurut hukum-hukum alam, sesuatu akibat logis yang tidak dibuat-buat. Misalnya, anak yang senang memanjat pohon, adalah wajar dan logis apabila suatu ketika ia jatuh. Jatuh ini adalah merupakan suatu hukuman menurut alam sebagai akibat dari perbuatanya dari senang memanjat pohon (Amin Danien Indrakusuma, 1973:148);
2. J.J. Rousseau dengan aliran negativisme dalam pendidikan, berpendapat bahwa pendidikan bagi anak manusia tak berguna. Semua pembawaan anak adalah baik. Ia membiarkan anak berkembang sendiri dan menyerahkannya kepada alam. Kalau anak berbuat salah, biarlah alam yang menghukumnya, anak akan menderita sebagai akibatnya. Hukuman semacam ini dinamai hukum alam.
Contoh, anak bermain dengan air panas dan akhirnya tersiramlah kakinya. Anak dibiarkan merasakan kakinya sakit, hukuman lain tidak ada baginya. Dari hukuman alam tersebut, anak akan menerima pendidikan dan berusaha tidak menjalankan permainan yang berbahaya itu lagi, atau ia meneruskannya akan tetapi ia berusaha mengelak. (Ag. Soejono, 1980:165)
b. Teori Ganti Rugi
1. Dalam hal ini, anak diminta untuk bertanggung jawab atau menanggung resiko dari perbuatannya, misalnya anak yang mengotorkan atau merobekkan buku milik kawannya, maka harus menggantinya. Anak yang berkejar-kejaran di kelas, kemudian memecahkan jendela, maka ia harus mengganti kaca jendela itu dengan kaca yang baru (Amin Danien Indrakusuma, 1973:149);
2. Teori ganti rugi, di mana anak harus mengganti kerugian akibat perbuatannya yang salah, misalnya anak memecahkan kaca jendela tetangga, maka ia harus mengganti dengan uang tabungannya (Soewarnoa, 1992:115).
c. Teori Menakut-Nakuti
1. Hukuman yang diberikan untuk menakut-nakuti anak agar anak tidak melakukan pelanggaran atau perbuatan yang dilarang, dalam hal ini nilai didik itu telah ada, hanya saja perlu diperhatikan bahwa hal ini harus dijaga jangan sampai anak itu tidak berbuat kesalahan lagi hanya karena rasa takut saja, melainkan tidak berbuat kesalahan lagi karena adanya kesadaran, sebab apabila tidak berbuat kesalahan itu karena hanya takut, takut kepada bapak atau ibu guru. Maka jika tidak ada bapak atau ibu guru, kemungkinan besar ia akan mengulang kembali perbuatannya. Ia akan mengulangi perbuatannya secara sembunyi-sembunyi. Jika terjadi demikian, maka dapat dikatakan bahwa nilai didik dari hukuman tersebut sangat minim sekali. (Amin Danien Indrakusuma, 1973:115);
2. Soewarno (1992:115), mengemukakan bahwa teori menakutkan ialah memberi hukuman supaya menimbulkan rasa takut pada anak;
3. Sedangkan pendapat Ag. Soejono (1980:164), bahwa teori ini bertujuan menimbulkan rasa takut kepada orang lain. Biasanya hukuman dilaksanakan di muka umum. Pelanggaran kedua kalinya dihukum lebih berat, sebab perulangan pelanggaran berarti jeranya pelanggar. Begitulah hukuman makin lama makin berat, agar orang lain menjadi lebih takut. Fungsi hukuman dengan teori hukuman menakuti ini terhadap orang lain juga preventif.
d. Teori Balas Dendam
Amin Danien Indrakusuma (1973:150), mengemukakan bahwa macam hukuman yang paling jelek, yang paling jahat dan paling tidak dipertanggung jawabkan dalam dunia pendidikan ialah hukuman yang didasarkan kepada rasa sentimen. Sentimen ini dapat ditimbulkan oleh kekecewaan-kekecewaan (frustasi) yang dialami oleh guru, baik mengenai hubungannya dengan orang-orang lain, maupun hubungannya dengan para siswa secara langsung. Misalnya, karena seorang guru merasa dikecewakan dalam hal cinta oleh seorang gadis atau pemuda, maka ia melempiaskan kekecewaannya itu kepada para siswanya. Bagi guru muda, tidak terkecuali pria atau wanita, mungkin merasa bahwa seorang siswa telah dianggap sebagai saingan atau penghalang dari maksud-maksudnya, maka ia berusaha mencari kesempatan untuk setiap saat akan menghukum-nya atau menjatuhkannya.
e. Teori Memperbaiki
1. Satu-satunya hukuman yang dapat diterima oleh dunia pendidikan ialah hukuman yang bersifat memperbaiki, hukuman yang bisa menyadarkan anak kepada keinsafan atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Dan dengan adanya keinsafan ini, anak akan berjanji di dalam hatinya sendiri tidak akan mengulangi kesalahannya kembali. Hukuman yang demikian inilah yang dikehendaki oleh dunia pendidikan. Hukuman yang bersifat memperbaiki ini disebut juga hukuman yang bernilai didik atau hukuman pedagogis. (Amin Danien Indrakusuma, 1973:151);
2. Teori inilah yang harus kita gunakan sebagai pendidik, maksudnya untuk memperbaiki perbuatan anak yang buruk/salah. (Suwarno, 1992:115);
3. Teori ini bertujuan untuk memperbaiki. Adapun yang perlu diperbaiki ialah hubungan antara pemegang kekuaaan dan pelanggar dan sikap serta perbuatan pelanggar. Hubungan antara penguasa dengan umum yang tadinya telah menjadi rusak dengan terjadinya pelanggaran oleh orang yang bersikap dan berbuat salah itu perlu dibetulkan lagi. Rusaknya hubungan itu mengakibatkan hilangnya kepercayaan penguasa terhadap pelanggar. Fungsi hukuman dengan teori membetulkan ini korektif dan edukatif.
Di dalam dunia pendidikan, pendidik tidak menganut teori lain dari pada teori pembetulan. Hal ini sesuai dengan tugas pendidik, yaitu membimbing anak didik agar berbuat dan bersikap luhur. Tidak pada tempatnya pendidik menakut-nakuti dan membalas dendam anak didiknya. Anak didik yang takut pada pendidiknya menutup diri baginya dan tidak bersedia menerima petunjuk. Pendidik yang membalas dendam anak didiknya menganggap anak didiknya sebagai musuh, bukan sebagai anak asuhannya. (Ag. Seojono, 1980:165).
Amin Danien Indrakusuma (1973,148) mengutarakan contoh hukuman paedagogis misalnya anak yang melanggar tata tertib dapat dihukum dengan cara pembiasan, pengawasan, penyadaran yang diarahkan pada pembentukan diri sendiri.

f. Teori Melindungi
Teori melindungi, anak dihukum untuk melindungi lingkungan atau masyarakat terhadap perbuatan-perbuatan salah yang merusak/ merugikan lingkungan tersebut. (Suwarno, 1992:115).
g. Teori Menjerakan
Teori ini bertujuan agar pelanggar sesudah menjalankan hukumannya akan jera dan tidak akan menjalankan pelanggaran lagi. Fungsi hukuman tersebut adalah preventif, yaitu mencegah terulangnya pelanggaran sesudah pelanggar dikenai hukuman.

Fungsi Hukuman di Sekolah (1)

Februari 15, 2013

benci guru 1
http://mjafareffendi.wordpress.com/2012/03/07/hukuman-dalam-dunia-pendidikan-haruskah-ada-hukuman-dalam-mendidik-anak/

UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 menyebutkan “ Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Sehubungan dengan tujuan pendidikan sebagaimana terungkap di atas yakni untuk mengembangkan potensi kognitif, sikap dan keterampilan peserta didik maka pendidik/tenaga kependidikan memikul tanggung jawab untuk membimbing, mengajar dan melatih murid atas dasar norma-norma yang berlaku baik norma agama, adat, hukum, ilmu dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Untuk mewujudkan tujuan itu perlu ditanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, berani mawas diri, beriman dan lain-lain. Hukuman pun sering diterima siswa manakala mereka melanggar tata tertib yang telah disepakati. Hukuman itu dimaksudkan sebagai upaya mendisiplinkan siswa terhadap peraturan yang berlaku. Sebab, dengan sadar pendidik memegang prinsip bahwa disiplin itu merupakan kunci sukses hari depan. Apakah bentuk-bentuk hukuman bisa dikembangkan untuk mendisiplinkan siswa? Pertanyaan seperti inilah menjadi dilema bagi kaum pendidik dalam mengemban kewajiban dan tanggung jawabnya.
Apabila sanksi hukuman sama sekali tidak diadakan niscaya perilaku siswa akan lebih semrawut. Kita bisa menduga-duga, ada penerapan hukuman saja siswa yang melanggar masih banyak, apalagi jika sanksi hukuman ditiadakan. Tambah ruwet. Jika hukuman itu diadakan menuntut konsekuensi bagi para pendidik itu sendiri. Maksudnya, pendidik harus benar-benar bisa sebagai suri tauladan bagi anak didiknya. Penerapan aturan hukuman bagi para siswa yang melanggar tetapi tidak diikuti kedisiplinan pendidik, bagaikan halilintar di waktu siang bolong, banyak yang menyepelekan.

SMA Negeri 8 Jakarta, kembali ke Bukitduri

Januari 23, 2013

Diumumkan kpd murid, ortu murid dan Bpk/Ibu guru SMAN 8 Jkt.Insya Allah kt akan kbali mlaksananakn KBM d Bukit Duri pd hr Jumat 25 Januari 2013.Murid yg mbawa kdaraan pribadi tdk dperkenankn mmarkir kdaraan dsekitar skolah mengingat kondisi skolah blm mmungkinkn untuk mjadi lokasi parkir daraan pribadi.Murid dihimbau u mbawa bekal mkanan dr rmh mgingat kantin skolah blm bisa beroperasi. Terimakasih.Humas SMAN 8 Jkt

BEASISWA JEPANG 2012-2013

November 23, 2012
Info beasiswa ke jepang yang terlengkap yang pernah saya ketahui hehe. Thx to grup Pemburu Beasiswa!
=========================================

BEASISWA KE JEPANG

=========================================

> Monbukagakusho (D2,D3,S1,S2,S3,Teacher Training,Japanese Study)

www.id.emb-japan.go.jp/sch.html

> ADB Scholarship (S2)

Note : Harus memiliki pengalaman kerja selama 2 tahun.

www.adb.org/jsp/default.asp

> Okazaki Kaheita International Scholarship (S2)

www.okazakizaidan.or.jp/info/

> Panasonic Scholarship (S2)

http://panasonicscholarship.com/

> Monbusho U2U (S2)

http://dhresta.wordpress.com/2010/10/07/10-biggest-university-enrollment-using-mext-scholarship

> JOINT JAPAN/WORLD BANK GRADUATE SCHOLARSHIP PROGRAM FOR PUBLIC POLICY AND TAXATION (S2)

Note : Untuk teman2 yang memiliki posisi perkerjaan bidang tax administration akan mendapat prioritas yang lebih besar untuk mendapat beasiswa.

http://www.igss.ynu.ac.jp/wb-ppt/program_information02.html

> JOINT JAPAN/WORLD BANK GRADUATE SCHOLARSHIP PROGRAM

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/WBI/EXTWBISFP/EXTJJWBGSP/0,,contentMDK:20287115~menuPK:562877~pagePK:64168445~piPK:64168309~theSitePK:551644,00.html

> YSEP Tokyo Institute of Technology (Student Exchange Program)

http://www.ryu.titech.ac.jp/~ysep/home.html

> JYPE Tohoku University (Student Exchange Program)

http://www.insc.tohoku.ac.jp/jype/index.html

> Keio University (Exchange Program)

http://www.ic.keio. ac.jp/en/ study/exchange/ apply.html, http://www.ic.keio. ac.jp/en/ study/exchange/ courses.html

sedangkan untuk formulir pendaftaran bisa diunduh di :

http://www.ic.keio. ac.jp.en/ study/exchnage/ application. html

> University of Tokyo Monbusho U2U (Teknik Nuklir S2 & S3)

http://www.n.t.u-tokyo.ac.jp/eng/modules/news/article.php?storyid=7

> International Doctoral Scholarships in Engineering, Kochi University of Technology, Japan

http://www.scholarshipsgrantsloan.com/international-doctoral-scholarships-in-engineering-kochi-university-of-technology-japan/

> Hitachi Scholarship

Note : hanya untuk dosen (staf fakultas) dan denger2 hanya untuk universitas unggulan (ITB,UI,UGM)

http://www.hitachi-zaidan.org/global/scholarship/

> HONJO INTERNATIONAL SCHOLARSHIP FOUNDATION Scholarship for Foreign Students

http://www.hisf.or.jp/english/scholarship/index.html

> Indonesian Leadership Award : Scholarship Program (S1)

http://www.suryainstitute.org/en/content/view/95/1/

> Info-Info tentang Beasiswa Ke Jepang

http://beasiswa.ppijepang.org/

http://www.nippon-foundation.or.jp/eng/inter/app/index.html#block_top6

Info-Info Tentang Beasiswa Monbukagakusho (MEXT)

—————————————————————————

> Daftar Universitas yang di-cover oleh MEXT

http://www.geo-wlb.tsukuba.ac.jp/en/node/1741

> Alur Pendaftaran Monbukagakusho

http://www2.jasso.go.jp/study_j/documents/scholarships0803_e.pdf

> AlurPendaftaran Monbusho U2U

http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/22/u2u-mext-scholarship-timeline/

Info Pengalaman Mengenai Beasiswa

———————————————

> Pengalaman Mas Dhresta Monbusho U2U

http://dhresta.wordpress.com/2010/08/29/step-by-step-applying-at-japanese-university/

> Pengalaman Mbak Reisha Monbusho G2G

http://reisha.wordpress.com/2010/02/10/seleksi-dokumen-beasiswa-monbukagakusho/

> Thread Study in Japan di Kaskus

http://www.kas*kus.us/showthread.php?t=876221

> Video Panduan Hidup di Jepang Bagi Mahasiswa Asing dari Chiba University

http://www.international.chiba-u.ac.jp/movies/index-e.html

> ONE STEP TO JAPAN!

Oleh: Firman Alamsyah, M. Si

http://deatantyo.wordpress.com/2011/07/01/one-step-to-japan/

> Pengalaman kuliah di Jepang dengan biaya sendiri

http://mbantoelpoenya.wordpress.com/2012/02/11/pengalaman-kuliah-di-jepang-dengan-biaya-sendiri/

http://mbantoelpoenya.wordpress.com/2012/02/11/sekolah-bahasa-jepang-solusi-belajar-ke-jepang/

NOTE:

– Punten bagi yang punya blog yang saya comot tanpa minta ijin dulu. :D

– Silahkan bagi yang ingin menambahkan,tapi mohon dijaga agar tetap rapi.

Terima Kasih

 

:: thanks buat Radium Ikono ,… yang telah posting di FB,.. sorry nih dibajak,.. hehehe.. agar berkah

Go Green Music Festival 2012 SMA Negeri 8 Jakarta

Oktober 10, 2012

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Minggu 7 Oktober 2012 mulai jam 06.00 pagi sampai 15.00 di Plaza Arsipel, Taman Mini Indonesia Indah. Acara ini adalah acara kumpul tahunan, lintas angkatan, Ikatan Alumni Smandel (IA-Smandel) Jakarta. Kali ini masih bertemakan kecintaan pada lingkungan , namun akan makin heboh dan seru karena ditambah dengan kemeriahan musik dan hiburan.

Berhubung pendaftaran peserta sudah membludak dan pelaksanaaan acara kian dekat, maka bagi alumni yang belum sempat mendaftar melalui angkatannya atau melalui koordinator pendaftaran dipersilahkan langsung menuju Taman Mini Indonesia Indah (Go Show).

Tiket masuk TMII dapat dibeli di loket TMII, dengan harga per-orang Rp 9.000,- dan tiket kendaraan Rp 10.000,- per kendaraan.
Kaos untuk Alumni dan keluarga tersedia di lokasi dalam jumlah dan ukuran terbatas dengan harga Rp.25.000,- Konsumsi minuman, dan snack dijual di area bazaar.

Berikut susunan acaranya :
06:00 – 06:30 : Registrasi
06.30 – 07.30 : Senam Pagi dan Olga Bersama
07:30 – 08:00 : Pembukaan dan Sambutan
08.00- 08.30 : Penanaman Pohon oleh bapak Dahlan Iskan
08:30 – 09:30 : Talk Show bersama bapak Dahlan Iskan, dan Prita Laura
09:30 – 15:00 : Music Festival : SLATAN Band (Feat. Doddy Katamsi), ACID SPEED band, BIG Band, SETTLES 86, SMANDEL 80, 83, 85, 90, 92, 2003
MC : Krisna Purwana dan Prita Laura
09.00 – 15:00 : Bazaar Go Green

HASIL OSN 2012, SMA NEGERI 8 JAKARTA

September 7, 2012
Alhamdulillah,.. pencapaian SMAN 8 Jakarta pada OSN 2012,…. 3 emas ( komputer, fisika dan ekonomi), 2 perak ( astronomi dan ekonomi), dan 2 perunggu (astronomi dan kebumian),.. terima kasih kepada semua anggota tim,. selamat yaaa
Rudy ong-perunggu astronomi, Donny satrio-perunggu kebumian, Raditya dewangga-perak astronomi, Adrian karim-perak ekonomi, Yehezkiel david-emas fisika, Rakina-emas computer, Tiara-emas ekonomi

Buka Puasa Bersama, IA-Smandel dan Anak Yatim Piatu.

Agustus 4, 2012

Buka Puasa Bersama, IA-Smandel dan Anak Yatim Piatu.

“Semangat berbagi merupakan hal penting yang ingin disebarkan selama bulan Ramadhan. Melalui acara buka puasa bersama ini ingin disebarkan makna berbagi kepada anak yatim dan juga sekaligus menjalin silaturahmi dengan para guru dan alumni SMA 8 lainnya.”

Karenanya kami, para pengurus IA-Smandel mengundang :

– Seluruh alumni SMAN 8 Jakarta dari pelbagai angkatan

– Guru SMA N 8 Jakarta baik yang masih mengajar ataupun sudah pensiun

– Anak asuh dari beberapa panti asuhan di sekitar SMAN 8 Jakarta

Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk :

– Meningkatkan nilai ukhuwah Islamiyah

– Beramal dan berbuat baik di bulan Ramadhan

– Mewujudkan kepedulian terhadap anak yatim piatu

– Mempererat tali silaturahmi para alumni dan guru Smandel Jakarta.

Adapun acaranya Insya Allah akan dilaksanakan pada :

Hari, tanggal, Jam : Sabtu, 11 Agustus 2012. Mulai pukul 16.00.

Tempat : Masjid Darul Irfan, SMAN 8 Jakarta, Jalan Taman Bukit Duri Jakarta Selatan.

Adapun susunan acaranya adalah sbb :

16.00 – 16.05 Pembukaan oleh MC

16.05 – 16.10 Pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an

16.10 – 16.20 Sambutan oleh Ketua IA-Smandel

16.20 – 16.30 Sambutan oleh Kepala Sekolah SMA 8

16.30 – 17.30 Ceramah Ramadhan

17.30 – 18.00 Persiapan Berbuka dan Pembagian Makanan untuk anak yatim piatu

18.00 – 18.30 Berbuka puasa bersama

18.30 – 18.45 Sholat Maghrib berjamaah

18.45 – 19.00 Pembagian Santunan dan Bingkisan untuk anak yatim

19.00 – 19.05 Penutup

PERINGKAT SMP NEGERI DAN SWASTA TAHUN 2012 DI JAKARTA

Juli 14, 2012

PERINGKAT SMP NEGERI DAN SWASTA TAHUN 2012

1. SMPK 8 BPK PENABUR 37.97
2. SMP NEGERI 115 37.39
3. SMP IPEKA PURI 37.16
4. SMP SANTA URSULA 37.10
5. SMPK 2 OPENABUR 37.09
6. SMP KANISIUS 37.07
7. SMP LABS. KEBAYORAN 37.07
8. SMP NEGERI 41 36.75
9. SMP LABS. JAKARTA 36.51
10. SMP IPEKA TOMANG 36.47

PRESTASI AKADEMIK ALUMNI SMAN 8 ANGKATAN 2012

Juli 13, 2012

DATA DIAMBIL DARI

http://widisasongko.tumblr.com/post/26835894597/delapan2012

PRESTASI AKADEMIK

DAFTAR SISWA

DITERIMA DI PERGURUAN TINGGI

Jum’at, 13 Juli 2012

270/419 = 64.43%

XII IPA A (28/40 = 70%)

1.     Abdurrahman Alghani: FTMD ITB

2.     Adlan Dwijaka: Sistem Informasi UI

3.     Andra Bernama Priatma Adji: Teknik Kimia UI

4.     Anindyta Larasati: FTMD ITB

5.     Angginta Ramdani Ibrahim: Teknik Industri UI

6.     Azzikra Nurul Fajri Aviantari: Psikologi UGM, Prasetya Mulya Business School

7.     Devita Rahma Fitria: FTSL ITB

8.     Faiz Gifari: FTTM ITB

9.     Irvan Rizki Pahlevi: Akuntansi UI

10.    Jaka Haris Mustafa: Teknik Metalurgi dan Material UI

11.   Jovita Calista Romauli: SAPPK ITB

12.   Karima Adzhani Sari: Pendidikan Dokter Unair

13.   Marwah Nisa Hidayat: Pendidikan Dokter Unand

14.   Muhammad Rizky Firmansyah: FTMD ITB

15.   Nadya Debora: Pendidikan Dokter UKI

16.   Oki Suryolaksono: Teknik Industri UI

17.   Paramitha Putri Indraswari: Sistem Informasi UI

18.   Prinnisa Almanda Jonardi: Pendidikan Dokter Yarsi, Pendidikan Dokter UI

19.   Riesca Berlianty: Akuntansi Kelas Khusus Internasional UI

20.   Rifqi Tyas Samodro: Akuntansi UI

21.   Rizky Muhammad Reza: Teknik Elektro UI

22.   Sacha Audindra: Pendidikan Dokter Kelas Khusus Internasional UI

23.   Saidatul Fitria Tassha:  Business Korea University (Korea) (Scholarship)

24.   Stephanus Dipta Sahala: Management and Industrial Engineering University of Exeter (United Kingdom)

25.   Tiwi Aminati: FTSL ITB

26.   Widi Destrianda: Teknik Elektro UI

27.   Winalda Fahmi Nugrahadi: FTI ITB

28.   Yessica Berliana Megistriani: FTI ITB

XII IPA B (23/40 = 57.5%)

1.     Amanda Maharani: SBM ITB

2.     Arini Rahmawati: FTI ITB

3.     Averina: FTI ITB

4.     Dwirianda Rhesa Ghani: FTTM ITB

5.     Fauzi Hidayat: Binus University

6.      Fikri Farhan Witjaksono: FTTM ITB, Mechanical Engineering Nagoya University (Jepang), Mining Engineering Curtin University (Australia), Civil Engineering Monash University (Australia), Australian National University (Australia)

7.     Haidar: FTTM ITB

8.     Kartika Anastasia Kusasih: Pendidikan Dokter UI, Michigan University (USA), KAIST (Korea) (Full Scholarship)

9.     Komang Shary Karismaputri: Pendidikan Dokter UI

10.   Lenggo Septiady Putra: Pendidikan Dokter UI

11.   Muhammad Devakto Ibnu Nurfahmi: Ilmu Komputer UI

12.   Muhammad Rahmanaji Soeparmono: FTTM ITB

13.   Nabilah Syahidna Amelia: Pendidikan Dokter Unpad

14.   Nadhilah Reyseliani: Teknik Sipil UI

15.   Nanda Youleany Dalillya: FTI ITB

16.   Natasya Nurul Amalia: Ilmu Hukum UI

17.   Nurul Afifah Wulandari: Arsitektur UI

18.   Ricard Handoko: FTSL ITB

19.   Rizky Agusman Ekananda: STEI ITB

20.   Siswo Afrianto: FTTM ITB

21.   Syalomitha Dimitry Hukom: FITB ITB

22.   Tania Dwi Citra: SAAA (All AVIATION ACADEMY) (Philippines)

23.   Tesar Dayansyah: Teknik Industri UI

XII IPA C (24/41 = 58.5 %)

1.     Ahmad Zaki: STEI ITB, NTU (Singapore) (Bypass International Medals)

2.     Amalia Putri Hastiti:  Teknik Kimia Kelas Khusus Internasional UI

3.     Asiyah Nida Khafiyya: Pendidikan Dokter Unair

4.     Dannisworo Sudarmo: STEI ITB

5.     Dwi Shara: Teknik Lingkungan UI

6.     Dwitami Puspaningrum: SAPPK ITB

7.     Faisal Dimas: FTTM ITB

8.     Gifari Rahmat Alif: SAPPK ITB

9.     Hardya Gustada: Pendidikan Dokter UI

10.     Indira Nadia Rachel Simanjuntak: Ekonomi Pembangunan Unpad

11.   M. Irfani Nur Azza: Seleksi Unggulan Akademi Militer

12.   Mia Raissa Ulina: Pendidikan Dokter USU

13.   Muhammad Reza: Teknik Industri UI

14.   Nadia Fadila Irfani: FKG UI

15.   Natasha Alissa Rizki: International Relation University of Queensland (Australia) (Scholarship)

16.   Ratih Octarina Hasibuan: FTTM ITB

17.   Ratih Siswanina Putri: Teknologi Pangan Unpad

18.   Rizky Akbar Haeruman: Universitas Pembangunan Nasional

19.   Romilda Rosseti: FKG UI

20.   Satrio Amarela: Teknik Metalurgi dan Material UI

21.   Siti Aulia Destrianty: Teknik Perkapalan UI, Trinity College University of Melbourne (Australia), UNSW (Australia)

22.   Tedo Esmu Ziraga: SBM ITB

23.   Tiara: Teknik Lingkungan UI

24.   Widya Hapsari: FTSL ITB

XII IPA D (22/40 = 55%)

1.     Adelia Izza Khairina: Manajemen UI

2.     Adinda Putri Rachardi: Teknik Industri Unpar

3.     Afiq Bariz Tafkir: FTI ITB

4.     Azka Fathininta Windaningrum: SAPPK ITB, Teknik Industri Unpar

5.     Bintang Rahmat Wananda: FITB ITB

6.     Danang Aryo Pinuji: Pendidikan Dokter UGM

7.     Dhafinta Widyasaraswati: FMIPA ITB

8.     Dindasari Esterina Manao: FTSL ITB

9.     Fariskhi Vidyan: Ilmu Komputer UI

10.   Farrah Putri Amalia: Pendidikan Dokter UNS

11.   Ghea Lestarina: Ilmu Ekonomi UI

12.   Kanigara Ubaszti Putra: Arsitektur UI

13.   Muhammad Irfan Rafi Suparma: FTI ITB

14.   Nisrina Tache: Pendidikan Dokter Unpad

15.   Ranny Rahaningrum Herdiantoputri: FKG UI

16.   Rebecca Astrilia Wisnu Putri: Akuntansi UI

17.   Robby Dwitama: Teknik Mesin UI

18.   Roy Mario Fransiskus Klau: Sistem Informasi UI

19.   Sabrina Rizqi Aulia: FTI ITB

20.   Samira Tasyaa Navianda: FTI ITB

21.   Yunita Cahyani Rahadiani: FITB ITB

22.   Zahra Nabila: Teknik Industri UI

XII IPA E (26/41 = 63,41%)

1.     Agam Gumelar Soinanda: FTTM ITB

2.     Agatha Magistalia Cahiadewi: Pendidikan Dokter Undip

3.     Aghinia Hauna Azis: University of Massachusetts (USA)

4.     Aluyah: Pendidikan Dokter Trisakti

5.     Amirah Amatullah: SITH ITB

6.     Aris Prianto: STEI ITB

7.     Atria Shaula: STEI ITB

8.     Ausi Mutiara Dwi Atri: Pendidikan Dokter Unibraw

9.   Bregas Vikri Prayuko: Teknik Sipil Trisakti, Pendidikan Dokter Atmajaya, Teknik Arsitektur Unpar

10.   Christine: Teknik Industri Undip

11.   Gemilang Nurhasanah: Pendidikan Dokter Unair

12.   Hatfidian Mazaya: FITB ITB

13.   Hanisa Zianida: University of Bremen (Germany)

14.   Keneyzia Carla Gliselda: Pendidikan Dokter Unpad

15.   Muhammad Arifian Adin: FTI ITB

16.   Muhammad Lutfhan Togar: Teknik Metalurgi dan Material UI

17.   Muntaha Ilmi: STEI ITB

18.   Mutia Triningtyas: FTI ITB

19.   Naufal Anindito: FTTM ITB

20.   Meigy Savira Ulina: FTI ITB

21.   Puti Rineska Meilinda: Pendidikan Dokter UI

22.   Rizka Risyad: STEI ITB

23.   Rizky Ambardi: FTI ITB

24.   Siti Hasanah Dessy Sari: Teknologi Pangan Unpad

25.   Sari Bidadari Hawa: Prasetya Mulya Business School

26.   Villia Damayantie: Pendidikan Dokter Unpad

XII IPA F (25/40 = 62.5%)

1.     Abdul Kadir: Pendidikan Dokter UI

2.     Adila Luthfiana Idhar: FTI ITB

3.     Afifah Kencana: Pendidikan Dokter Trisakti

4.     Agum Gumelar Soinandi: Teknik Kimia UI

5.     Alif Ardiansyah Putra: Teknik Metalurgi dan Material UI

6.     Atan Tuahta: Teknik Kimia UI

7.     Azfina Putri Anindita: STEI ITB

8.    Bunga Karnisa Goib: SITH ITB, The Hague University (Netherlands), HAN University of Applied Science (Netherlands)

9.     Dela Medina: FKG UI

10.   Fransisca Emerald Christy: Pendidikan Dokter Universitas Udayana

11.   Gabriella Laura Lidya: FTSL ITB

12.   Haikal Eki Ramadhan: Ilmu Ekonomi UI, Wesleyan University (USA) (Full Scholarship)

13.   Haryo Satrio Muhammad: Pendidikan Dokter UI

14.   Kurniawan Aji Muhammad: FTMD ITB, Saxion University (Netherlands)

15.   Muhammad Azka Fariky: Teknik Metalurgi dan Material UI

16.   Nola Resti Tohir Sahara: Ilmu Komunikasi Unpad

17.   Nurina Sevrina: SAPPK ITB

18.   Oddy Pradityo: FTSL ITB

19.   Prazna Shafira: Pendidikan Dokter Trisakti

20.   Rafi Ghitha Atsmara: University of Queensland (Australia)

21.   Rezqi Adhika Prasetya: Arsitektur UI

22.   Rininta Zamazunistia: FTSL ITB

23.   Shoffan Reyhan: Teknologi Pangan UGM

24.   Verra Twee Rosalia: Ilmu Administrasi Negara UI

25.   Wardah Hanifah: Pendidikan Dokter Unpad

XII IPA G (29/40 = 72.5%)

1.     Ahmad Hafizh: FTMD ITB

2.     Anggara Widisasongko: Akuntansi UI

3.     Anthea Previanti Amalia: FITB ITB

4.     Audrey Muchlisa Rahmadita: FTSL ITB

5.     Cut Vania Syarira: Pendidikan Dokter Kelas Khusus Internasional UI

6.    Dian Wulandari:  Fashion Institute of Techonogy New York (USA), Instituto Marangoni Milann (Italy)

7.     Fajri Ramadhan: Akuntansi UI

8.     Farah Susanti: FTTM ITB

9.    Fatira Ratri Audita: Pendidikan Dokter UI, Pendidikan Dokter Kelas Khusus Internasional UI

10.   Guntur Frans Gerri: Ilmu Hukum UI

11.   Hafiz Yusaryahya: Pendidikan Dokter UI

12.   Inas Amirah Hanan: FTTM ITB

13.   Josan Putra: Teknik Elektro UI

14.   Julianto Saut Hamonangan: FITB ITB

15.   Kemala Putri: Psikologi Atmajaya

16.   Citra Hutami Saraswati: Pendidikan Dokter Undip

17.   Muhammad Iqbal Tawakkal: FTTM ITB

18.   Muhammad Rifqi Hanif: STEI ITB

19.   Muhammad Sri Radityo: Teknik Mesin Undip

20.   Olivinia Qonita Putri: Kesehatan Masyarakat UI

21.   Paripurna Bawonoputro: FTMD ITB

22.   Putri Erica Yulinafira: Pendidikan Dokter Yarsi

23.   Rakha Faturachman: Pendidikan Dokter UIN

24.   Samuel Reynaldo Hendrawan: Teknik Mesin UI

25.   Sarah Shafa Marwadhani: Pendidikan Dokter UI

26.   Safira Mayasti Nurrahmani: Teknik Lingkungan UI

27.   Shabrina Hapsaryta Aufari: FTI ITB

28.   Shafira Anindita: FTSL ITB

29.   Urwah Wali Aufi: Desain Industri ITS

XII IPA H (24/41 = 58.6%)

1.     Ahmad: STEI ITB

2.     Alida Efthyani: SF ITB

3.     Daniya Rachmadiani Atmawan: Ilmu Komputer UI

4.     Diva Melina Panjaitan: Teknik Arsitektur Unpar

5.     Firyal Maulia: Pendidikan Dokter Unsoed

6.     Irfan Nurhadi: FTMD ITB

7.     Jessica Wenda Friska: FTSL ITB

8.     Joanne Avionita: Arsitektur Lanskap IPB

9.     Kamila Puspita: Pendidikan Dokter UKI

10.   Keziah Cahya Virdayanti: SAPPK ITB

11.   Kharunisa: College of Wooster (USA) (Full Scholarship)

12.   Kristian Alda: Pendidikan Dokter Unpad

13.   Kuntum Basitha: Pendidikan Dokter UGM

14.   Lydia Febrina: FTI ITB

15.   Massaid Bimo Setyawan: Akuntansi UI

16.   Midia Rahmalia Arifandi: FTI ITB

17.   Muhammad Andy Putratama Siregar: STEI ITB

18.   Muhammad Anugerah Perdana: FTMD ITB

19.   Muhammad Aulia Nabigha: FTTM ITB

20.   Muhammad Firdaus: FTMD ITB

21.   Prassetio: FTTM ITB

22.   Rifqi Rizqullah: FTMD ITB

23.   Sahilaushafnur Rosyadi: STEI ITB

24.   Saviq Rasyid: FTTM ITB

XII IPS (22/37 = 59.45%)

1.     Adinda Sagita Maryami: Ilmu Ekonomi UI

2.     Adinda Zakiah: Ilmu Komunikasi Unpad

3.     Aisyah Hanifati: Ilmu Hukum Unpad

4.     Alisya Anindita Febriani: Ilmu Hukum UI

5.     Amira Zaranadia: Ilmu Ekonomi UI

6.     Annisa Maghfira: Akuntansi UI

7.     Arsuendi Cahyadi: Ilmu Admistrasi Fiskal UI

8.     Avia Athalia: Psikologi UI

9.     Dinda Nurhasanah Ridha: Telkom

10.   Essensia Kasih: Manajemen UI

11.   Fristami Restia Rahmayani: Binus University

12.   Hiyal Ulya Fillah: Ilmu Hukum UI

13.   Jacinda Kristy: Ilmu Hukum Unpad

14.   Laksmita Dewi Asastani: Akuntansi Unpad

15.   Lidya Corry: Ilmu Hukum UI

16.   Nadhira Putri Anzani: Ilmu Komunikasi Unpad

17.   Nahdiah Sofwatunnisa: Akuntansi UI

18.   Ning Ayu Khuthrunnada: Binus University, Trisakti

19.   Raissa Nidya Putri: Ilmu Komunikasi UI

20.   Risky Mayang Sari: Ilmu Administrasi Niaga UI, Accounting Sampoerna School of Business

21.   Yoga: Ilmu Hukum Unpad

22.   Yunisa Putri Syahriani: Psikologi UI

XII Science A (15/21 = 71.42%)

1.     Ichsan Prasetya: NTU (Singapore), NUS (singapore), FTTM ITB

2.     Diandra Safirina: Pendidikan Dokter Kelas Khusus Internasional UI

3.     Izma Rindamelia Efendi: Nagoya University (Japan)

4.     Mariska Anindhita: Pendidikan Dokter Kelas Khusus Internasional UI

5.     Muhammad Wahyunda: FTMD ITB

6.     Raihan Krishna: FTI ITB

7.     Sergi Andiva: Teknik Metalurgi dan Material UI

8.     Brenda Angeline Tiffany: FKG UI

9.     Dwinia Emil: Ilmu Ekonomi UI

10.   Edgar: FTMD ITB

11.   Eleny Marsha Claudia: SF ITB, Medicine School Kentucky University (USA)

12.   Meutia Rahmah: Pendidikan Dokter Unpad

13.   Mutiara Khairani: Arsitektur UI

14.   Nabilah: SITH ITB

15.   Masatommi Moh: Pendidikan Dokter Unpad

XII Science B (16/20 = 80%)

1.     Ali Wahyu Imanullah: Ilmu Hubungan Internasional UI

2.     Aninda Fariza: FTI ITB

3.     Arkanata Akram: Teknik Kimia Kelas Khusus Internasional UI

4.     Muhammad Husein Shahab: Teknik Kimia UI

5.     Muhammad Matin Firas: Teknik Mesin Kelas Khusus Internasional UI

6.     Luqman Alfarisi: STEI ITB

7.     Octa Bagus Ivanandy: Teknik Industri UI, APU (Japan)

8.     Orie Najla Claryssa: Ilmu Komunikasi UI

9.     Risa Hashimoto: Teknik Kimia UI

10.   Varinta Ghaniya Zein: APU (Japan)

11.   Zephania Novia: Saxion University (Netherlands)

12.   Ivan Ramadhan: STEI ITB

13.    Juandri Maruli Tua Aruan: Pendidikan Dokter Unpad

14.   Nadira Astarini: FTI ITB

15.   Petra Regina: FTI ITB

16.   Siti Sarah Ayunda: Pendidikan Dokter UI

XII Humanity (6/8 = 75%)

1.     Belle Larasati:  APU (Japan)

2.     Reva Ariane: Manajemen Kelas Khusus Internasional UI

3.     Vidia Kartika Adhyarini: Akuntansi UI

4.     Kartika Indira: Ilmu Hukum Unpar

5.     Btari Rahma Suhardi: Ilmu Hubungan Internasional Unpar

6.     Talita Luna: Ilmu Politik UI

XII Akselerasi  (10/11 = 90.90%)

1.     Brilliant Putri Kusuma Astuti: Pendidikan Dokter UI

2.     Chintya Rizkiaputri: FTTM ITB

3.     Eulogia Eldisa Ayu Lestari: FTTM ITB

4.     Indra Utami Mutiara Ningrum: Pendidikan Dokter UI

5.     Mohamad Yafi Zachary : FTTM ITB

6.     Primawestri Widya Iswari: Fontys University of Applied Sciences (Netherlands)

7.     Ardie Nirvansyah: Teknik Elektro Universitas Indonesia

8.     Arsyi Patrianisa: STEI ITB

9.     Geraldine Nadita: Pendidikan Dokter UGM

10.   Getty Inash: Pendidikan Dokter Unpad

 

PROSENTASE PER KELAS

XII IPA A (28/40 = 70%)

XII IPA B (23/40 = 57.5%)

XII IPA C (24/41 = 58.5 %)

XII IPA D (22/40 = 55%)

XII IPA E (26/41 = 63,41%)

XII IPA F (25/40 = 62.5%)

XII IPA G (29/40 = 72.5%)

XII IPA H (24/41 = 58.6%)

XII IPS (22/37 = 59.45%)

XII Science A (15/21 = 71.42%)

XII Science B (16/20 = 80%)

XII Humanity (6/8 = 75%)

XII Akselerasi  (10/11 = 90.90%)

ITB: 99

UI: 97

Unpad: 20

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya