Posts Tagged ‘SMAN 8’

2012, DKI Terancam Defisit Guru

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengkhawatirkan kekurangan tenaga pengajar atau guru untuk tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Pada 2012 diperkirakan ada ribuan guru yang memasuki masa pensiun.

Hal tersebut dibenarkan Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika.

”Saat ini, kita sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi pensiun massal guru di Jakarta pada tahun 2012,” kata Suradika, Rabu (2/3/2011) di Balaikota DKI, Jakarta.

Pensiun massal ini terjadi lantaran sebelumnya, pada 1973, juga dilakukan rekrutmen massal sehingga masa pensiun pun berbarengan di 2012. Masa pensiun ini terjadi saat tenaga pendidik sudah menginjak usia 60 tahun.

Sesuai peraturan yang ada, guru yang berumur 60 tahun memang harus pensiun. Untuk mengantisipasi kurangnya tenaga pendidik akibat pensiun besar-besaran itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sedang melakukan pemetaan jumlah guru yang akan pensiun sehingga dapat mengajukan usulan pengangkatan guru pegawai tidak tetap (PTT) dan penerimaan guru baru.

170 Penelitian Siswa Dipamerkan di UI

Februari 22, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebanyak 170 proyek penelitian siswa bakal dipamerkan dalam kegiatan Olimpiade Proyek Sains Indonesia atau Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2011. Kegiatan ini berlangsung di Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (23/2/2011) hingga Kamis (24/2/2011).

Program ISPO bertujuan mendorong remaja Indonesia untuk mencintai ilmu pengetahuan, membudayakan berpikir ilmiah, melakukan penelitian dan mengembangkannya, serta menghasilkan produk ilmiah. Kegiatan yang digelar ketiga kalinya sejak 2009 ini dijadwalkan akan dibuka Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal.

Presiden ISPO Bambang Sudibyo menjelaskan, kegiatan ISPO untuk mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional yang hendak meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga untuk membantu membangun budaya kritis, melakukan penelitian, dan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang orisinal.

“ISPO bisa jadi wadah peneliti muda untuk berkompetisi sehat pada tingkat nasional dan mendorong lingkungan pembelajaran yang nyata dengan menafsirkan hal-hal yang abstrak dalam sains ke proyek yang realistis,” kata mantan Mendiknas itu.

Adapun proyek yang dipamerkan merupakan karya para finalis dari sebanyak 618 proyek penelitian siswa. Karya-karya tersebut akan dinilai oleh dewan juri untuk ditentukan pemenangnya.

Total sekolah yang mengajukan proposal penelitiannya tahun ini mencapai 156 sekolah dari 20 provinsi di Indonesia. Kegiatan yang terbuka bagi siswa SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK seluruh Indonesia ini meliputi enam bidang kajian, yakni fisika, kimia, biologi, teknologi, lingkungan, dan komputer.

Pemenang ISPO akan mengikuti ajang sejenis pada tingkat internasional. Pada 2009 dan 2010 lalu, para pemenang ISPO telah meraih berbagai penghargaan, di antaranya medali emas dan perak pada ajang I-SWEEPEP di Amerika Serikat dan ajang IYIPO di Georgia. Selain itu, mereka juga meraih medali emas di ajang ISTE-MOSTRATED di Brasil.

Lulus Undangan, Bisa Kuliah di PTN

Februari 22, 2011

PADANG, KOMPAS.com — Mahasiswa undangan yang dinyatakan lulus berdasarkan penjaringan prestasi akademik bisa kuliah di salah satu dari 60 perguruan tinggi negeri, kata Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Prof Musliar Kasim.

Musliar di Padang, Minggu (20/2/2011), mengatakan, penerimaan mahasiswa undangan tersebut juga berasal dari sekolah yang terakreditasi dan minimal tiap sekolah diberikan formasi 25 persen dari siswa terbaik mereka melalui program SNMPTN 2011.

Musliar yang juga Penanggung Jawab Pelaksana SNMPTN menyatakan, program seleksi nasional itu merupakan satu-satunya pola seleksi yang dilaksanakan secara bersama oleh seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) dalam satu sistem terpadu dan serentak.

Program pola penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi nasional dilakukan oleh seluruh PTN secara bersama untuk diikuti oleh calon mahasiswa dari seluruh Indonesia.

“Program ini pertama kali dilakukan setelah sebelumnya SNMPTN hanya untuk penerimaan lokal atau pengiriman formulir dan undangan terbatas dari perguruan tinggi penerima,” katanya.

Menurut dia, kebijakan ini cukup baik guna membuka akses secara nasional sekaligus memperkuat negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui jalur mahasiswa undangan tersebut.

Upaya memperkuat NKRI bisa ditempuh, antara lain, karena mahasiswa bisa berbagi pengetahuan tentang budaya, adat istiadat, sekaligus meningkatkan kualitas hubungan silaturahim antargenerasi muda se-Indonesia.

Ia mencontohkan, lulusan SMA asal Papua bisa melanjutkan pendidikan tinggi ke Universitas Andalas, Padang, begitu pula sebaliknya.

“Tentu saja calon mahasiswa undangan yang berhak kuliah tersebut terseleksi, antara lain berasal dari sekolah terakreditasi dan diutamakan mahasiswa dari keluarga tidak mampu dan berprestasi,” katanya.

Kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2010 tentang Pola Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana pada Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah.

Bingung, Sekolah justru tahunya dari siswa

Februari 22, 2011

PURWAKARTA, KOMPAS.com — Para guru dan siswa di sekolah-sekolah yang berada di perkotaan relatif lebih memahami SNMPTN jalur undangan karena informasi yang mereka terima cukup memadai. Kondisi itu sangat berbeda dengan sekolah-sekolah di daerah.

“Informasi kami peroleh dari perguruan tinggi dan dinas pendidikan,” kata Kepala SMAN 4 Bandung, Cucu Saputra.

Di SMAN 4 Solo, para siswa juga sudah memahami jalur undangan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).

“Untuk sekolah dan siswa yang akrab dengan pemakaian internet, rasanya tidak akan terlalu kesulitan mengisi form online. Yang harus diisi juga tidak banyak dan sederhana,” kata Kepala SMAN 4 Solo, Unggul Sudarmo.

Aji Setyawan, siswa kelas XII- IPA SMAN 4 Solo, mengatakan, sistem ini lebih adil karena siswa bisa memilih program studi dan perguruan tinggi mana pun, serta peluang diterima di PTN lebih besar.

Namun, lain halnya dengan kondisi yang terjadi di Puwakarta, Jawa Barat. Selain kekurangan tenaga untuk mengumpulkan dan mengolah data-data siswa berpretasi, kualitas akses jaringan internet di sejumlah sekolah juga tidak stabil. Hal itu mengakibatkan sosialisasi seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) jalur undangan masih sangat minim.

“Informasi tentang jalur undangan pun kami dapat justru dari siswa dan alumni sekolah ini. Kalau bukan mereka, kami tidak akan tahu,” kata Kepala SMA Negeri 2 Purwakarta, Jawa Barat, Marseno, Jumat (18/2/2011).

Ligar, siswa kelas XII jurusan IPA di SMAN 2 Purwakarta, mengatakan, ia menunggu pengumuman sekolah soal jalur undangan.

“Saya tunggu-tunggu kok tidak ada pengumuman dari sekolah. Ternyata sekolah belum tahu waktu itu,” katanya.

Koordinator Bimbingan dan Konseling SMAN 2 Purwakarta, Ihat Solihatin, mengatakan, kurang bagusnya akses internet menjadi kendala dalam memanfaatkan jalur undangan. (LUK/CHE/EKI)

Internet dan “celakanya” SNMPTN

Februari 22, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Lantaran akses internet yang “memble”, sosialisasi mengenai seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri jalur undangan di sekolah-sekolah di Purwakarta, Jawa Barat, sangat lamban. Ini baru di Jawa Barat, bagaimana dengan di Papua Barat atau kawasan Indonesia timur lainnya?

Seperti diberitakan, selain kekurangan tenaga untuk mengumpulkan dan mengolah data siswa, kualitas akses jaringan internet di sekolah-sekolah di Purwakarta juga tidak stabil.

“Padahal, seluruh proses pendaftaran harus melalui internet,” kata Kepala SMA Negeri 2 Purwakarta Marseno, Jumat (18/2/2011).

“Informasi tentang jalur undangan pun kami dapat justru dari siswa dan alumni sekolah ini. Kalau bukan karena mereka, kami tidak akan tahu,” ujarnya.

Rasanya, persoalan pemerintah yang kerap tidak siap saat menerapkan kebijakan dan peraturan baru di masyarakat seperti itu bukan pertama kali terjadi. Pada kasus seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) jalur undangan tahun ini terbukti bahwa kebijakan itu tidak sepenuhnya tertangkap dengan baik oleh masyarakat karena penerapannya terkesan setengah-setengah dan tidak siap.

Melihat persoalan di Purwakarta itu, potensi masalah yang muncul pada akhirnya adalah pelaksanaan SNMPTN 2011 yang sangat diskriminatif. Pasalnya, apakah adil ketika panduan pendaftaran SNMPTN jalur undangan yang mulai digelar ini hanya dapat diunduh di laman http://undangan.snmptn.ac.id dan jelas-jelas harus dengan akses internet?

Bagi siswa yang berada di daerah perkotaan, seperti DKI Jakarta, Surabaya, dan Medan, wilayah Indonesia bagian barat, serta beberapa kawasan di Indonesia tengah, pendaftaran SNMPTN secara online mungkin bukan masalah besar. Namun, bagi warga di kawasan Indonesia timur, cara pendaftaran ini berpotensi menjadi sebuah persoalan besar, yaitu diskriminasi.

Akses langka

Firdaus Cahyadi dari Knowledge Manager OneWorld-Indonesia pada Senin (21/2/2011) menuturkan pendapatnya kepada Kompas.com bahwa, di kawasan Indonesia timur, akses internet masih sesuatu hal langka. Rendahnya jumlah pengguna internet di kawasan Indonesia timur disebabkan oleh belum meratanya infrastruktur telematika (telekomunikasi dan informatika) di kawasan tersebut.

“Menurut buku putih ICT (Information and Communication Technology) tahun 2010 yang diterbitkan Kementerian Komunikasi dan Informatika, infrastruktur backbone serat optik belum merata di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Firdaus.

Sebanyak 65,2 persen infrastruktur backbone serat optik terkonsentrasi di Jawa, yang diikuti Sumatera (20,31 persen) dan Kalimantan (6,13 persen). Sementara wilayah Indonesia timur (Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua) belum terjangkau infrastruktur ini.

Kesenjangan infrastruktur telematika ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan digital antarwilayah di Indonesia. Distribusi akses internet pun masih didominasi wilayah Jawa dan Sumatera.

“Celakanya, di tengah fakta adanya kesenjangan digital tersebut, pemerintah memaksakan diri membuat aturan pendaftaran SNMPTN 2011 secara online. Aturan itu sangat berpotensi menimbulkan diskriminasi bagi warga di kawasan Indonesia timur yang masih sulit mengakses internet,” kata Firdaus.

Intinya, SNMPTN 2011 jelas “berbau” ketidakadilan karena hak warga di kawasan Indonesia timur, yang seharusnya sama dengan warga di kawasan Indonesia barat dan tengah, bisa dikebiri lantaran ketidaksiapan akses internet. Mereka yang seharusnya berhak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri juga harus pupus harapannya hanya karena susah mengakses laman pendaftaran

Jalur Undangan Siapkan 53.850 Kursi PTN

Februari 18, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Tersedia 53.850 kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) bagi mahasiswa baru yang masuk melalui seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) jalur undangan. Jumlah ini sekitar 33 persen dari 165.034 mahasiswa baru yang akan diterima melalui SNMPTN.

Ketua Umum Panitia SNMPTN 2011 Herry Suhardiyanto, Rabu (16/2/2011) kemarin, mengatakan, panitia memang tidak membagikan formulir undangan ke sekolah-sekolah, tetapi sekolah bisa mengaksesnya di internet.

“Bagi sekolah yang kesulitan mendapatkan jaringan internet, bisa memanfaatkan sentral telepon otomat Telkom yang ada di setiap daerah,” kata Herry, yang juga Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Untuk mengetahui pola penerimaan mahasiswa baru memalui jalur undangan, sekolah diminta proaktif melihat informasi secara online di http://undangan.snmptn.ac.id. Dalam jalur undangan, kepala sekolah memegang peranan kunci karena sekolah yang menyeleksi awal siswa dan mendaftar secara online ke panitia SNMPTN. (ELN/LUK)

University of Adelaide Buka 10 Beasiswa

Februari 18, 2011

KOMPAS.com – Tersedia hingga 10 beasiswa bagi pelajar Internasional yang ingin meraih beasiswa pascasarjana di University of Adelaide, Australia, untuk tahun akademik 2011/2012. Beasiswa tersebut diberikan melalui program Adelaide Scholarships International (ASI) untuk studi penelitian bagi pelajar Internasional di University of Adelaide.

Seleksi untuk meraih beasiswa ini sangat selektif dan sangat mengutamakan prestasi akademis. Namun demikian, beasiswa tersebut terbuka untuk berbagai macam disiplin ilmu tanpa mengutamakan prestasi ekstrakulikuler.

Bagi yang berminat, informasi mengenai syarat dan formulir Adelaide Scholarships International (ASI) 2011 ini bisa didapatkan di http://www.adelaide.edu.au. Batas pengiriman aplikasinya ditutup pada 1 Mei 2011 mendatang.

Sekolah Unggulan, Jatahnya Paling Besar

Februari 18, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2011, Herry Suhardiyanto, mengatakan, SNMPTN melalui jalur undangan dibuka hingga 12 Maret 2011. Pendaftaran dilakukan online di laman http://undangan.snmptn.ac.id.

Tersedia 165.034 kursi di PTN pada SNMPTN 2011. Kuota jalur undangan 53.850 kursi (33 persen). Sementara SNMPTN ujian tertulis/keterampilan 111.184 kursi (67 persen).

Perihal sekolah berakreditasi A dengan kelas akselerasi, semua siswanya bisa ikut SNMPTN jalur undangan. Sekolah terakreditasi A dengan jenis kelas RSBI/unggulan bisa mengirimkan 75 persen siswa terbaiknya. Adapun sekolah terakreditasi A dengan jenis kelas reguler diberi kuota 50 persen dari siswa terbaik.

Sementara itu, sekolah berakreditasi B mendapat jatah 25 persen. Sekolah berakreditasi C hanya mendapat kuota 10 persen. Sekolah juga bisa mendaftarkan siswa tak mampu ikut seleksi beasiswa Bidik Misi.

Tahun ini, pemerintah mengalokasikan 20.000-an beasiswa bagi lulusan SMA yang kuliah di PTN dari awal masuk hingga meraih gelar sarjana, maksimal empat tahun. Sayangnya, masih ada sekolah yang mengeluhkan sosialisasi.

“Tahun lalu, banyak alumnus PTN sosialisasi ke sekolah-sekolah, tetapi sekarang adem-ayem. Bulan-bulan ini seharusnya mulai penjaringan,” ujar Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan Subyanto.

Ia hanya tahu, ada regulasi baru bahwa ujian masuk PTN kembali ke masa lalu, yakni dilakukan serentak melalui SNMPTN. Tak ada lagi ujian masuk PTN pada tingkat lokal.

“Belum ada sosialisasi. Makanya, banyak sekolah bertanya-tanya,” ujarnya.

“Kalau memang ada sosialisasi, seharusnya cepat sampaikan agar lebih jelas dan kami bisa melakukan persiapan,” ujar Kepala SMA Swadaya Medan dan pengurus Serikat Guru Medan, Herliadi. (ELN/LUK)

“Track Record” Sekolah Dinilai PTN

Februari 18, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Penentuan siswa yang diterima lewat jalur undangan dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dinilai tidak semata mempertimbangkan sekolah favorit. PTN menyatakan telah memberikan pertimbangan pemerataan kesempatan.

Untuk jalur undangan SNMPTN 2011, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, misalnya, akan menyasar lulusan-lulusan SMA yang kurang mampu secara ekonomi dari sekitar wilayah Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga.

“Unsoed menyiapkan 800 kursi dari seluruh fakultas bagi mahasiswa baru melalui jalur undangan,” kata Rektor Unsoed Prof Edy Yuwono.

Jika kuota tersebut tidak terpenuhi dari putra-putra daerah, Unsoed tetap membuka kesempatan bagi siswa-siswa dari daerah lain.

“Terutama daerah perbatasan dengan Jawa Barat seperti Banjar, Tasikmalaya, dan Garut,” ujarnya.

Secara terpisah, Sekretaris Panitia Lokal SNMPTN Bandung Asep Gana Suganda mengatakan, perguruan tinggi akan bersikap adil dalam seleksi melalui jalur undangan, yakni bukan semata- mata melihat kualitas sekolah, tetapi juga kualitas siswa.

Sementara itu, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Priyo Suprobo, yang dihubungi dari Jakarta, Kamis (17/2/2011) kemarin, mengatakan, meskipun PTN lebih melirik siswa dari sekolah berakreditasi A yang akan diterima melalui jalur undangan, siswa dari sekolah berakreditasi B dan C tetap mempunyai peluang yang cukup lebar.

“Perguruan tinggi negeri juga menerapkan aksesibilitas atau pemerataan untuk sekolah-sekolah yang ada di daerah, termasuk kawasan Indonesia timur,” kata Priyo.

Menurutnya, ITS memiliki semua data dasar sekolah tingkat atas di seluruh Indonesia, termasuk jenis akreditasinya. Lalu, ITS membuat indeks nilai setiap sekolah yang dilihat dari nilai ujian nasional (UN) tahun lalu.

“Untuk jalur undangan jatahnya 20 persen dari kapasitas yang ada,” kata Priyo.

Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengatakan, penentuan siswa yang diterima lewat jalur undangan dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) tidak semata-mata mempertimbangkan dari sekolah favorit. PTN pun memberikan pertimbangan pemerataan kesempatan.

“Kami mengutamakan siswa yang memilih di pilihan pertama dan melihat track record sekolah. Jika sekolah favorit yang diundang kurang merespons, jatahnya bisa dikurangi,” katanya.

Mau, “Master” di Wageningen University?

Februari 18, 2011

KOMPAS.com — The Anne van den Ban Scholarship Fund menawarkan “Masters Degree Scholarships” bagi para pelajar dari negara-negara berkembang, termasuk para pelajar di Indonesia. Beasiswa tersebut ditawarkan untuk melanjutkan studi di Wageningen University, Belanda, tahun akademik 2011/2012.

The Anne van den Ban Scholarship Fund sebelumnya dikenal dengan “Stichting Redelijk Studeren”. Nama tersebut diubah kemudian dengan nama Dr Ir Anne van den Ban, seorang profesor pendiri Voorlichtingskunde (Rural Extension) di Wageningen University.

Dua dari beberapa syarat utamanya, kandidat harus memiliki nilai akademis yang baik di kampus asal negaranya. Kandidat juga harus berkomitmen kembali ke negara asalnya dan menuntaskan gelarnya.

Bagi yang berminat, syarat-syarat dan informasi penting mendapatkan beasiswa ini bisa langsung dilihat dan diunduh di http://www.fondsen.wur.nl. Batas waktu pendaftaran beasiswa bagi kandidat dari negara non-EU hanya sampai Mei 2011.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.