Posts Tagged ‘pendidikan’

Batas Komitmen dan Harga Diri

September 17, 2013

Menyikapi guru-guru yang galau, saat menerima uang tunjangan sertifikasi, tetapi mengajar kurang dari 24 jam.
Orang tua itu marah karena ananda tidak dapat masuk kelas IPA, padahal putranya telah belajar di tempat yang terbaik, apadaya nilainya kurang sehingga setelah ikut Placement testpun tidak mampu masuk kriteria IPA, alhasil kelas IPS-lah yang akan menganngungnya. Siswa tersebut telah ikut les dimana-mana, rasanya keinginan untuk dapat yang terbaik telah dilakukan, atau memang siswanya telah kelelahan untuk mencapai titik optimal,.. hmhmhm.. perlu penelitian lebih lanjut.

Berbeda dengan halnya, ketika kita berbelanja di pasar swalayan atau pun pasar tradisional. Setelah perhitungan harga total yang harus kita bayarkan, maka kita akan mendapatkan selisih dari pembayaran tersebut, entah pengembalian normal atau pun karena adanya diskon dari produk tertentu. Sepuluh tahun yang lalu, kita masih akan berlama-lama untuk menghitung penghembalian yang ada. Tetapi coba tengok beberapa tahun terakhir. Ketika pengembalian dari kasir kurang atau bahkan dikembalikan dengan 2 permen atau kalimat “bu, sisa uang 100 rupiah ini akan didonasikan atau apa ?”. Jawabnya sudah pasti,..”kembalikan saja mbak.”.
Atau ada yang lebih ekstrim sekarang ini, tanpa sadar,.. ketika pengembalian dari pihak kasir “LEBIH”,.. berapa banyak dari kita yang akan mengembalikan saat itu juga. Hmhmhm…

Dalam dunia pendidikan amat diajarkan untuk berlaku jujur dan adil. Dua hal yang berhubungan, tetapi sedikit berbeda. Jujur lebih ke arah tidak ada orang atau ada orang, ada yang melihat atau tidak, dipantau atau tidak kita pasti berbuat yang sama. Sedangkan adil adalah tingkat proporsi yang dapat diukur kapan pun, dan berlaku untuk smeua lini. Menurut saya yang lagi bengong malam ini, komitmen dan harga diri adalah dua hal yang merupakan inti dari jujur dan adil. Buah dari kejujuran dan keadilan akan melahirkan komitmen dan harga diri.

Banyangkann saat kita menerima gaji bulanan, saat tanda tangan (maaf kalau guru honor pakai tanda tangan, belum transfer ke bank), kita akan teringat apakah tanda tangan ini akan melahirkan komitmen kita dan memperbaiki atau mempertinggi harga diri kita,.. jika itu sesuai maka.. akan halal dan bahagia kita membawa sejumlah uang dalam amplop tersebut. Tetapi bayangkan jika kita merasa bahwa standar pekerjaan kita belum mencapai atau memenuhi kompetensi yang diinginkan, maka berpikir ke depan akankah komitmen dan harga diri kita akan menjadi baik… ingat-ingat saat kasir kurang memberikan hak kita,… tetapi ingat juga pada saat itu batas kejujuran semakin tinggi.. kita ingin itu kasir jujur,.. saat tanda tangan gaji… hmhmhmh.. apakah kita jujur dnegan pencapaian tugas yang seharusnya kita lakoni.

Selamat istirahat malam,.. semoga esok menjadi hari yang lebih baik lagi.

DAK 2,2 triliyun di kememdiknas RAIB

November 24, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan terus mengusut kasus dugaan korupsi di Kementerian Pendidikan Nasional, terutama pada dinas-dinas pendidikan di daerah yang terjadi sekitar tahun 2009. KPK sendiri pernah melakukan kajian terhadap pengelolaan Dana Alokasi Khusus atau DAK Kemdiknas Tahun 2009 dengan nilai Rp 9,3 triliun.
Penyelewengan tersebut bukan tanpa sebab. KPK melihat ada tiga alasan yang membuat pengelolaan DAK tidak sesuai tujuannya.
— Johan Budi SP

Demikian disampaikan Juru Bicara KPK Johan Budi SP di kantor KPK, Jakarta, Rabu (24/11/2010). Berdasarkan hasil kajian tersebut, KPK menemukan penyimpangan sebesar Rp 2,2 triliun dalam pengelolaannya yang diterapkan pada 451 kabupaten/kota di Indonesia.

“Yang sudah masuk ke penyelidikan adalah penggunaan anggaran Diknas tahun 2009 bagi daerah-daerah,” ucap Johan.

Johan mengungkapkan, penyelewengan tersebut bukan tanpa sebab. KPK melihat ada tiga alasan yang membuat pengelolaan DAK tidak sesuai tujuannya.

“Tiga alasan tersebut adalah tidak adanya ketidaksesuaian alokasi dana dan realisasi, terjadinya penyimpangan pemanfaatan dana dalam pelaksanaannya, terutama untuk pembayaran jasa konsultan dan izin mendirikan bangunan (IMB), serta sulitnya monitoring dalam bidang pengawasan karena tidak semua pemerintah daerah mau menyampaikan laporan kepada Departemen Pendidikan Nasional,” ujar Johan.

Kepentingan membutakan hati, atau martabat yang menutup nurani

Mei 6, 2010

Beberapa hari terakhir di SMA NEGERI 8 memang terjadi kesibukan yang menganggetkan. Kegiatan PPDB RSBI yang baru pertama kali diadakan, dengan sistem penerimaaan yang baru, dengan sosialisasi yang kurang dari dinas kepada para orang tua di tingkat SMP, rentang waktu yang dekat, dan akhirnya memang keterbatasan SDM dan kemampuan pra sarana.

Penggunaan IT dalam pendfataran sekolah telah menjadi lumrah setelag PSB Onine diberlakukan lebih dari 5 tahun yang lalu.Masyarakat menjadi terbiasa dengan OL. Walau saat awal pun sistem PSB Online sempat bermasalah. Waktu dan kematanganlah yang membuat sistem semakin baik.

PPDB RSBI menggunakan juga IT. Kemampuian jaringan atau pun server amat dipetaruhkan. Termasuk sistem tentunya. Disaat kebutuhan sedemikian mendesak, tekan semakin meninggi, jika terjadi sesuatu, maka akibat nya adalah kepada para pelaksana. Saat sistem overload, hang, maka seribu kebingungan akan membuat cacian-cacian ringan.

Beberapa guru dan petugas keamanan sekolah mendapatkan hal tersebut. Seleksi berkas hanyalah bicara penyerahan berkas, jadi panitia yang baik akan mengingatkan kelengkapan berkas. Saking emosinya seseorang bisa marah sekali, padahal diingatkan. “Kata anak saya ini sudah komplit !”. “Maaf bu, menurut kami belum komplit.” Setelah bersitegang beberapa saat Ibu itu, dengan kacamata hitamnya, “… halo,… ini gurunya nggak mau terima berkas,…gimana sish… kan rumah jauh,… capek deh…”.
Padahal sang guru hanya mengingatkan bahwa berkasnya belum komplit, jika dimasukan juga ke panitia, maka akan “GAGAL”. Tapi bukan tidak mau terima,… belum komplit deh…

Hari berikutnya. Setelah pengumuman hasil seleksi berkas. Saatnya mengambil kartu ujian, dengan syarat : bawa lembar penyerahan berkas. Panitia berharap proses ini tidak akan lama, jadi lembar penyerahan berkas adalah syarat mutlak. Pagi hari banyak orang tua sudah mengantri di pintu gerbang sekolah. Diingtakan untuk, menuliskan ruang ujian di lembar penyerahan berkas, agar proses hanya akan memakan waktu kurang dari 10 menit.

Pintu gerbang yang dijaga guru dan petugas keamanan berusaha memberikan arahan. Tetap saja ada orang tua yang tidak membawa. Saat diingatkan, dia menegrti sekali, terlihat dari angguikan yang pasti. Tapi ada yang lucu. Dia perintahkan anaknya untuk masuk langsung ke meja nomor. Padahal dia tahu hal itu tidak mungkin. Seorang anak diajarkan orang tuanya untuk melanggar aturan, hanya karena mereka enggan pulang balik ke arah Kramat Jati. Sebuah penanaman bibit penolakan aturan kepada anaknya.

Hari berikutnya : saat Ujian Mandiri. Kesibukan hari itu SMA Negeri 8 makin tinggi, sekitar 800 orang tua dengan mobil berhasil membuat kemacetan parahblan dari Kampung Melayu, Kuningan, Casablanka, Tongtek, hingga Slamet Riyadi. Berbagai mobil dari harga 100 juta hingga lipatan angka tersebut. Mestinya kemampanan hidup juga dibarengi dengan kedewasaan berpikir dan bertindak. Saking pentingnya mengantar anak, seorang ayah dnegan asesories yang amat mencolok, menggunakan celana hawai,…. saya ulangi: celana hawaiiiii, datang ke SMAN 8. Sebegtu bahagia dan indahnya hingga tidak sadar, bahwa SMAN 8 bukan WC umum atau pantai Kuta. Anaknya bahagia sekali, sementara sebagaian besar ibu-ibu senyum-senyum. Lagi-lagi kita salah menilai, pastinya kita salah meletakakan pondasi dasar berpikir seorang anak.

Mayoritas guru belum terapkan pendidikan karakter

Januari 16, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Selama ini pendidikan karakter yang kebanyakan dijalankan di sekolah hanya berbentuk konseling oleh guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), belum menyentuh secara optimal dalam kurikulum.

“Mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata”
— Anita Lie/Praktisi Pendidikan

Hal tersebut sulit dimungkiri, karena guru BP memang tidak bisa meraih semuanya sehari-hari di sekolah. Istilahnya, kalau ada masalah datang, kalau tidak, ya, tidak.

Selain itu, tidak jarang keberadaan guru BP dirangkap oleh guru mata pelajaran. Akhirnya, konsep pendidikan karakter sampai sejauh ini tidak pernah optimal.

“Padahal seharusnya semua guru bisa menerapkan pendidikan karakter itu, tetapi mereka harus bisa meneguhkan dulu, bahwa di kelas itu mereka juga mendidik, bukan cuma mengajar,” ujar praktisi pendidikan, Dr Anita Lie, di Jakarta, Jumat (15/1/12010).

Anita mengatakan, untuk menerapkan pendidikan karakter seluruh sekolah harus memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan di sekolahnya. Unsur-unsur pengembangan karakter itu pun harus diintegrasikan di semua mata pelajaran.

“Masalahnya, mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata,” ujarnya.

Pendidikan karakter sulit diterapkan

Januari 16, 2010

Sumber : kompas

Pemerintah menyatakan, bahwa pendidikan budaya dan karakter bangsa selama ini telah diterapkan dan menjadi kesatuan dengan kurikulum pendidikan yang sesungguhnya telah dipraktekkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Karena mengejar target-target akademik itu, sebutlah seperti UN misalnya, pendidikan karakter akan sulit diterapkan”
— dr Anita Lie/Praktisi Pendidikan

Demikian dikatakan oleh Direktur Pembinaan SMP Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Didik Suhardi di Jakarta, Jumat (15/1/2010), menjawab pers tentang langkah konkret penerapan pendidikan karakter bangsa kepada peserta didik.

“Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini  memang harus dipraktekkan, titik beratnya bukan pada teori,” kata Didik seperti dikutip di Antara.

Menurutnya, pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti kurikulum yang tersembunyi. Didik mengakui, banyak keluhan masyarakat tentang menurunnya tata krama, etika, dan kreativitas siswa karena melemahnya pendidikan budaya dan karakter bangsa.

“Soal implementasi yang mulai mengendur bisa saja terjadi. Tapi, masih banyak sekolah yang mampu memadukan kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan sosial sehari-hari di sekolah,” kata Didik Suhardi.

Seperti diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Jumat (15/1/12010), praktisi pendidikan Dr Anita Lie mengatakan, syarat menghadirkan pendidikan karakter dan budaya di sekolah harus dilakukan secara holistis. Pendidikan karakter, kata dia, tidak bisa terpisah dengan bentuk pendidikan sifatnya kognitif atau akademik

Peraih gelar Doktor Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University, Texas, Amerika Serikat, ini menambahkan bahwa pendidikan karakter sebaiknya tidak dikotomikan macam-macam. Dia katakan, konsep pendidikan tersebut harus diintegrasikan ke dalam kurikulum.

“Bukan berarti akan diterapkan secara teoritis, tetapi menjadi penguat kurikulum yang sudah ada, yaitu dengan mengimplementasikannya dalam mata pelajaran dan keseharian anak didik,” ujar Anita.

Mata pelajaran biologi, misalnya, siswa bisa diajak langsung menanam tumbuh-tumbuhan, diberi pemahaman tentang manfaatnya, dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan sebagainya. Dikatakannya, pelajaran biologi juga menyangkut hal-hal lain di luar disiplin ilmu tersebut.

Pada mata pelajaran kesenian pun bisa diterapkan pendidikan karakter. Sebutlah contohnya, siswa diajak mengenal dan mempraktikkan beragam peninggalan seni budaya yang menjadi muatan-muatan lokal, falsafah budaya, dan manfaatnya.

“Masalahnya, mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata,” ujarnya.

Hal tersebut, kata Anita, disebabkan pendidikan Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, baik secara nasional maupun lokal di satuan pendidikan. Sebaliknya, aspek soft skils atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan karakter justeru diabaikan.

“Karena mengejar target-target akademik itu, sebutlah seperti Ujian Nasional (UN) misalnya, pendidikan karakter akan sulit diterapkan. Kita semua memang masih terpusat pada prestasi akademik,” tambah Anita.

Bagian 3 : Merencanakan Pendidikan Masa Depan Berarti Merencanakan Hidup

Juni 2, 2009

BIMBINGAN BELAJAR/BIMBINGAN TES

Ketika tempat duduk di Perguruan Tinggi  menjadi lebih sedikit dari yang berminat, maka perlu diadakan seleksi. Awalnya, faktor pembatas adalah biaya dan kemampuan akademik. Banyak siswa yang pintar tidak mampu bersekolah karena ketidak adaan biaya. Rasanya sekarang ini faktor biaya bukan hal yang utama.  Pihak Perguruan Tinggi akhirnya menggunakan pola seleksi yang ketat, dari SKALU (Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas), Proyek Perintis (PP 1, 2, 3 dan 4) dikenal juga sebagai SKASU (Sekretariat Kerjasama Antar Sepuluh Universitas), berubah menjadi SIPENMARU (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), berubah lagi menjadi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tingi Negeri), berubah lagi menjadi SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), hingga akhirnya menjadi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) sekarang ini. Sebenarnya ada dua faktor yang menyebabkan sedemikian pentingnya kuliah di perguruan tinggi negeri, Prestise dan Prestasi. Kebanggan berkuliah di PTN sedemikian tinggi, dan itu merupakan prestasi, sementara dari sisi biaya relatif masih lebih murah dari PTS. Bayangkan saja, daya tampung beberapa juruasan jika dibandingkan peminatnya bisa mencapai 1 : 200-an.

Kondisi ini tentunya membuat keyakinan para siswa semakin terganggu. Untuk mendapatkan tempat duduk tersebut siswa harus berjuang menjadi yang terbaik dalam Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tahun 80-an ketika ketimpangan daya tampung dan peminat menjadi sedemikian tinggi, timbullah kebutuhan akan lembaga pendidikan tambahan selain di sekolah. Siki Mulyono, Santa Lusia, BTA, Teknos, Nurul Fikir, Santo Lukas, KSM, IPIEMS, SSC, GO mulai menghiasi jalan-jalan ibukota. Metode mereka pada dasarnya sama, memperkuat pondasi materi, memperbanyak latihan, meningkatkan mental dan tentunya konseling yang berkesinambungan. Pertengahan tahun 90-an, booming bimbingan belajar sedemikian tingginya. Bahkan bisa dikatakan hampir 100% siswa di PTN adalah produk bimbingan belajar.

Mendekati tahun 2000 hingga sekarang ini, bimbingan belajar lebih banyak variasi dan metodenya. Membuat siswa nyaman belajar dengan hasil maksimal. Hal ini mungkin yang berbeda dengan sekolah. Sekolah seakan hanya menjadi peletak pondasi awal, dan bimbingan pelajar yang mengajarakan cara menembak 12 pass atau pinalti. Sehingga sering yang mendapat nama adalah : Bimbingan Belajar.

Pertanyaan yang mendasar : Perlukah bimbingan belajar ?  Jawabannya adalah  perlu. Bimbingan belajar sebuah lembaga pendidikan yang memang bertujuan membantu siswa agar dapat lulus dalam ujian masuk perguruan tinggi. Seluk beluk tes, model ujian, variasi soal, cara menjawab soal, trik dan tips khusus menghadapi ujian hingga persiapan mental, menjadi bekal berharga buat siswa. Apalagi sekarang banyak bimbingan belajar yang juga menggunakan teknologi. Bukan hanya buku, materi via internet online menjadi bagian dari layanan.

Pertanyaan kedua : Bimbingan belajar yang terbaik ? Datanglah ke Bimbingan Belajar, cari tahu tentang layanan mereka, hasil mereka dan tentunya bicaralah dengan alumni bimbingan tersebut. Selama ini eksposnya selalu bagus. Bimbingan Belajar punya kurikulum ? Harus itu. Kalau tanpa kurikulum bagaimana menentukan tingkat pemahaman dan ketercapaian siswa. Jangan sampai siswa hanya diberikan harapan dan impian. Inti dari mengikuti bimbingan belajar adalah kebutuhan kita dilayani dengan baik. Untuk mengetahui standar terbaik bimbingan belajar, coba kita lihat beberapa hal :

  • Diterima di mana alumni bimbingan belajar tersebut (coba dapatkan nomor yang bisa dihubungi untuk membuktikannya, kalau dapat bisa ngobrol tentang baik buruknya bimbingan tersebut).
  • Staf pengajar lulusan dari mana saja, biasanya pemgajar lulusan PTN akan tahu tentang dunia PTN,bukan hanya cerita. Berikutnya, mereka pernah merasakan tes yang sama, stress yang sama dan tentunya bisa berbagi pengalaman
  • Metode pengajaran, berhubungan dengan jumlah siswa per kelas, jadwal pengajaran, materi yang diberikan, perangkat pembelajaran, ketersediaan guru di tempat, hingga model evaluasi. Evaluasi menjadi penting, apalagi jika daftar nilai siswa diumumkan dan disampaikan ke orang tua. Jumlah siswa per kelas pun menjadi bagian penting juga. Bayangkan ketika siswa di sekolah telah bertemu dengan 39 siswa lain dalam kelas, akan semakin tidak nyaman, dalam kondisi capai harus belajar dengan siswa yang sebanyak itu pula.
  • Jarak bimbingan belajar dan biaya, rasanya tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi dengan lalu lintas jakarta yang sukar diprediksi, jarak bisa menjadi kendala. Sebagian siswa yang jauh terpaksa harus kost mendekati sekolah dan bimbingan belajar.

ORANG TUA

Peran orang tua akan semakin penting seiring dengan berjalannya waktu. Masa kelas XII, orang tua dituntut untuk semakin mengetahui seluk beluk kebutuhan siswa. Kebutuhan siswa untuk dapat bersaing secara benar akan terlihat dari perjalanan keseharian siswa. Keperluan alat sekolah, buku-buku, alat tulis, bahkan meja jalan dan penggaris jawaban, penghapus khusus pensil 2B, peraut pensil dan tentunya tempat pensil. Siswa putra mungkin dulu agak malu membawa tempat pensil, rasanya sekarang menjadi hal yang biasa.

Orang tua harus mengevaluasi kemajuan dan kekurangan siswa selama ini. Nilai rapor dan undangan guru bk adalah salah satu indikator ada yang tidak sesuai dengan harapan. Beberapa orang tua dengan senang hati berkunjung ke sekolah untuk bertemu wali kelas, guru bidang mata pelajaran dan bahkan guru bimbingan konseling. Orang tua bukan menitipkan anak ke sekolah, tetapi menyerahkan sebagian kewenangan pendidikan kepada guru. Sehingga untuk hadir ke sekolah adalah hal yang wajar. Menanyakan perkembangan dan bakat anak serta minat merupakan hal yang harus didiskusikan. Beberapa anak lebih terbuka kepada wali kelas atau guru bimbingan konseling. Biasanya guru akan berusaha menjadi jembatan ketika ada persoalan-persoalan di keseharian siswa. Secara hitungan waktu, siswa lebih panjang waktunya berada di sekolah, tetunya ini membuat guru lebih tahu secara detail kondisi siswa di bidang akademik.

Orang tua juga bisa menanyakan perkembangan akademik anak kepada tempat anak mengikuti bimbingan belajar. Masalah kehadiran, pemahaman materi, hasil uji/tes, bahkan kesulitan-kesulitan lain. Jangan sampai anak mengikuti bimbingan belajar hanya sebagai tren, ikut-ikutan. Ada anak-anak yang mungkin tidak memerlukan bimbingan belajar/tes. Mengikuti bimbingan belajar bukan keharusan. Satu hal yang harus dicamkan, bahwa mengikuti bimbingan belajar hanyalah memperbesar kemungkinan seorang dapat diterima di Perguruan Tinggi. Dan bisa saja bimbingan belajar menjadi tidak berguna ketika siswa tidak mampu memanfaatkannya secara maksimal. Bayangkan bimbingan belajar biasanya diadakan 2 kali seminggu, sepulang sekolah. Waktunya hingga pukul 21.00. Kondisi lelah dari sekolah, membutuhkan stamina yang lebih. Boleh jadi konsentrasi siswa terganggu, terlalu lelah atau juga karena gangguan persekawanan. Solusinya manfaatkan tenaga untuk hal-hal yang berguna di sekolah dan cari bimbingan yang tidak terlalu banyak dari sekolah yang sama, bisa diatur waktunya atau lokasinya.

Tanggung jawab memang harus mulai diberikan kepada para siswa. Tetapi tetap orang tua harus memonitor perkembangan akademik, kegiatan siswa dan mungkin hubungan sosial. Beberapa tahun terakhir banyak siswa yang tidak hadir ke sekolah karena sibuk game online di warnet. Siswa bukan sepenuhnya diserahkan ke sopir atau ibu. Beban tanggung jawab yang tinggi, lulus dari sekolah dan diterima di Perguruan Tinggi, menuntut perjuangan dan perhatian lebih. Sesekali bersama anak, berkunjung ke perguruan tinggi akan membawa hasil yang positif. Bisa juga mengajak anak untuk datang ke kantor dan bertemu dengan rekan-rekan sejawat yang mempuyai keahlian khusus, biarkan mereka mengobrol dan berdiskusi tentang sesuatu. Yang paling mudah, bersama-sama berselancar di dunia maya. Banyak sekali informasi pendidikan yang tersebar di dunia maya.

Bibit yang baik akan  berbuah dengan hasil yang baik karena perawatan, jangan sampai bibit tidak sampai menjadi buah. Saya lebih suka orang tua marah karena pusing mendapatkan putranya diterima di banyak perguruan tinggi, daripada orang tua yang marah karena putranya ditolak di semua perguruan tinggi.

Bagian 1 :Rencanakan Pendidikan Masa depan berarti Merencanakan Hidup

Mei 28, 2009

Masa kelas XI akan  berakhir, banyak kenangan yang telah terlewati. Dari kenangan indah hingga kenangan yang mungkin mengaharu biru. Dapat kekasih, dapat nilai mid semester bagus, dan tentunya naik kelas. Di sisi lain mungkin saja, kehilangan HP, terlambat masuk hingga orang tua dipanggil, hingga ketahun menyontek. Semuanya tetap menjadi kenangan indah kelas XI. Kelas XI tetap harus dilewati karena tidak selama siswa kelas XI terus. Siswa akan memasuki masa perjuangan sesungguhnya. Kelas X dan XI amat menentukan perjuangan siswa selanjutnya. Jika siswa telah terbiasa berjuang keras, membangun kompetisi yang sehat, menetapkan pilihan perkuliahan, maka akan lebih mufah menghadapi dan mengisi hari-hari di kelas XII. Kemampuan dasar akademis ditanamkan di kelas X dan XI, kelas XII berupa pengulangan dan penguatan. Dapat dipastikan bahwa materi pembelajaran sepenuhnya diberikan di kelas X dan XI. Kelas XII hanya berisikan sebagian kecil materi pokok. SMA Negeri 8 Jakarta sebagai sebuah sekolah unggulan nasional, mempunyai sebuah formulasi untuk membuat siswanya dapat berhasil mencapai cita-cita. Cita-cita yang paling dekat adalah berkuliah di Perguruan Tinggi sesuai dengan minat dan kemampuan. Tulisan ini kami buat sebagai gambaran kegiatan siswa kelas XII saat menjalani hari-hari di sekolah dan kegiatan luar sekolah, sehingga siswa mampu untuk mewujudkan cita-citanya.

Tulisan ini didasarkan pada pengalama menjadi guru Bimbingan Konseling di SMA Negri 8 Jakarta. Sehingga mungkin saja yang kami tuliskan di paparan ini tidak sesuai dengan kenyataan setiap individu. Minimal para siswa mendapatkan gambaran tentang persiapan kakak-kakak mereka di tahun lalu mewujudkan cita-citanya. Sebenarnya ada 4 aspek yang akan kami bicarakan, yaitu siswa, guru, bimbingan tes/belajar dan orang tua. Kami akan lebih banyak membicarakan 3 aspek, yaitu siswa, bimbingan belajar/tes dan orang tua. Bukan mengecilkan arti peran guru, tetapi lebih kearah penghormatan kepada guru, yang telah berjuang menanamkan pondasi keilmuan, dan selalu dilupakan saat siswa diterima di Perguruan Tinggi. Siswa dan orang tua hanya akan mengingat Bimbingan Belajar/tes yang telah mengantarkan siswa mampu berjuang dalam ujian masuk perguruan tinggi. Kewajiban guru hanya mempersiapkan siswa mampu menghadapi ujian nasional. Tetapi terkadang menjadi lucu ketika siswa gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, justru guru yang dipersalahkan. Terkadang siswa juga akan menyakiti guru ketika mendekati masa-masa ujian masuk perguruan tinggi, dengan seenaknya siswa meninggalkan kelas menuju bimbingan belajar. Guru akan tetap bersemangat mengajar para siswa yang tersisa di kelas dengan semangat dan senyum. Guru SMA Negeri 8 Jakarta akan tetap berdoa untuk kebaikan anak didik. Tiga tahun yang lalu para siswa datang ke SMA Negeri 8 Jakarta dengan semangat yang amat tinggi, mewujudkan cita-cita, bukan hanya dapat masuk ke SMA Negeri 8 Jakarta, tetapi berkompetisi dengan para siswa terbaik se-Jakarta, juga tetap dalam jalur yang benar, menuju universitas pilihan. SMA Negeri 8 Jakarta selalu menjadi pilihan siswa SMP, sehingga rata-rata nilai masuk menjadi tinggi. Tahun lalu saja sudah mencapai angka rata-rata 9,3. Nuan SMP tertinggi DKI dapat dipastikan selalu menjadi siswa SMA Negeri 8 Jakarta. Sehingga dapat dipastikan, siswa SMA Negeri 8 Jakarta adalah sekumpulan anak terbaik di DKI Jakarta. Sebuah beban berat yang harus dipikul para guru. Mendidik anak pandai, justru tidak semudah mendidikan anak dengan kemampuan rata-rata. Argumentasi dan logika menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pengajaran di SMA Negeri 8 Jakarta. “Kenapa demikian, Pak?”. Atau,”Bukannya ……., Bu ?”. Di SMA Negeri 8 Jakarta, posisi siswa akan terlihat dari 3-4 bulan pertama di sekolah. Ada siswa yang langsung mampu beradaptasi, ada yang tidak peduli, atau ada juga yang sudan berteriak akan ketidak nyamanan. Siswa yang dari asal SMP telah menikmati kompetisi secara akan terus mampu menikmati pembelajaran, tetapi yang “karbitan” akan mulai tersengal-sengal. Akan lebih parah terhadap siswa yang hanya mampu mempunyai nilai baik saat UJIAN NASIONAL saja. Ini masa lalu siswa, jadi tidak perlu dibicarakan lagi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

• Tentukan Pilihan Cita-cita, Jurusan dan Perguruan Tinggi

• Ubah mental dan pola belajar

• Selalu evaluasi kemajuan dan kekurangan

• Menjaga komitmen Tentukan Pilihan Cita-cita, Jurusan dan Perguruan Tinggi

Cita-cita, jurusan dan Perguruan Tinggi merupakan awal dan roh perjuangan siswa. Kalau hanya lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, jangan melanjutkan membaca tulisan ini. Banyak siswa bahkan sampai kelas XII semester genap belum tahu mau jadi apa, akhirnya semua ujian masuk perguruan tinggi dicobanya. Hasilnya bisa ditebak. Beberapa anak akan mengikuti profesi bapak atau ibunya, beberapa anak terinspirasi paman atau kakaknya, tetapi banyak juga yang dipaksa orang tuanya. Kebijaksanaan orang tua melihat potensi dan kemampuan siswa , serta kemauan siswa justru akan menjadi kekuatan yang berlimpah dan kontinyu.

Terkadang cita-cita masa kecil akan berubah dengan perubahan masa usia, level sekolah dan bahkan tingkat hubungan dengan orang sekitar. Ada siswa yang dari kecil ingin menjadi dokter, keluarga di rumah memang lulusan kedokteran, akan berubah saat bertemu dengan orang tua siswa lain yang berhasil di Pemerintahan misalnya. Atau akan berbeda juga ketika seorang anak menentang orang tuanya karena tidak mau menjadi ABRI atau birokrat hanya karena melihat tanyangan kekerasan saat demonstrasi. Tetapi yang paling nyata terlihat adalah sesbuah kondisi keberhasilan hidup yang selalu ditilai dengan “kemampanan”. Orang tua akan amat berbahagia, apabila anaknya bisa masuk ke Pendidikan Dokter. Seakan telah memenangkan perjuangan hidup. Menjadi dokter adalah pilihan hamper 80% siswa dan oran tua. Selain masa depan yang pasti dokter juga masih merupakan profesi terhormat dan “kaum terdidik”. Banyak hal yang membuat orang menentukan sebuah cita-cita, dan yakini cita-cita adalah sebuah proses pemilihan dan bahkan menentukan pilihan hidup seseorang. Karena sebuah proses, maka seseorang akan menentukan sebaik mungkin. Bukan secepat mungkin, bukan kata “si A”, bukan karena tidak enak dengan “si B” atau lainnya.

Ada pun factor-faktor yang menyebabkan “pendewasaa” cita-cita adalah :

1. Pendidikan Orang tua dan sikap hidupnya

2. Informasi dari keluarga, guru atau rekan di sekolah

3. Perguruan Tinggi

4. Dunia kerja

5. Lain-lain

Orang tua bisa menjadi faktor yang menyulitkan siswa, dalam menentukan pilihan jurusan saat pemilihan jurusan atau fakultas. Sebagian orang tua yang melihat perkembanganya anaknya, tahu akan nilai-nilai rapor, sering berbicara tentang masa depan, diskusi yang acap kali terjadi di meja makan malam atau mendampingi anak untuk datang ke Pameran Pendidikan akan lebih terbuka akan pilihan-pilihan. Berbahagialah para siswa yang mempunyai orang tua yang mendukung cita-citanya, minimal satu kendala telah teratasi. Bayangkan beban siswa akan bertambah harus mempersiapkan bahan ujian, stress dengan kompetitor di sekolah, bahkan tertekan dengan nilai-nilai Try Out yang tidak naik-naik. Orang tua yang mempunyai pandangan terbuka, dimana para siswa diperkenankan memilih untuk hidupnya. Tidak kaget oleh pilihan siswa yang berbeda, atau malah menjadi teman dalam memilih jurusan atau fakultas, wah berbahagia sekali. Ketika ada sedikit perbedaa, maka para siswa akan mencari sumber lain untuk “meridhoi”pilihannya sendiri. Bisa keluarga. guru aatau teman. Alangkan bagusnya jika informasi yang adalah gabungan dari ketiganya. Karena ketiganya punya kekurangan. Tentunya jika anak diberikan perangkat teknologi akan lebih baik lagi. Dunia maya tersedia banyak informasi terkini. Situs perguruan tinggi mudah diakses. Siswa yang ikut milis beasiswa atau milis pendidikan daripada siswa yang terlalu “jadul” dengan teknologi. Apalagi belakangan ini banyak mahasiswa atau siswa sering bertukar informasi dan pengalaman menghadapi Ujian seleksi masuk perguruan tinggi, blog bahkan facebook menjadi ajang pertukaran informasi. Tiap hari Sabtu dan Minggu, beberapa siswa kelas XI mulai rajin melihat lapangan kerja, mereka ingin mendapatkan informasi kebutuhan pasar. Beberapa bidang pekerjaan memang tidak diiklankan, tetapi minimal siswa tahu. Jurusan dan Fakutas apa yang sedang tren. Ubah mental dan pola belajar Ini bagian kedua yang terpenting. Ketika siswa telah menentukan cita-cita atau pilihan ini, maka target telah terpilih.

Saya selalu meminta para siswa untuk punya target berisi dua hal, target jurusan dan target fakultas/PTN-nya. Jika siswa memilih Pendidikan Dokter, maka PTN bisa di UI atau di tempat lain. Tetapi jika memilih UI lebih dahulu, maka siswa akan hanya mempunyai pilihan sekitar 38 jurusan yang ada di UI.

Kalimat saya kepada siswa adalah ubah mental dan pola belajar. Target naik kelas menjadi diterima di perguruan tinggi. Naik kelas, lulus dari sekolah dengan metode ujian yang berbeda. Keduanya menggunakan pola ujian EVALUASI. Sementara diterima di PTN adalah pola ujian SELEKSI. Pola evaluasi akan lebih mudah dilalui, karena semua soal yang diujikan pasti telah dipelajari dan dilatih. Patokan nilai kelulusan jelas sekali, sehingga siswa berpikir untuk lulus dengan berapa soal harus dijawab dengan benar. Pola evaluasi dilakukan untuk mengakhiri sebuah kegiatan belajar mengajar. Pola seleksi, dilakukan oleh lembaga di luar yang memberi pembelajaran. Walau pun ada standar nilai terendah untuk dapat ikut seleksi kelulusan, tetapi sesungguhnya batas kelulusan bukan nilai mutlak, tetapi lebih kearah jumlah daya tampung yang tersedia. Daya tampung menjadi faktor pembatas. Satu sikap mental yang paling utama harus ada dari kondisi ini adalah : mental kompetisi. Ujian masuk perguruan tinggi adalah ajang kompetisi. Siswa yang terbiasa berkompetisi pasti akan mencari nilai terbaik, dan hanya siswa yang mempuyai kompetensi yang baik di semua mata uji, Sebuah keberhasilan ada di puncak karena di bawahnya ada ribuan tumpukan kegagalan. Selama ini orang hanya melihat sebuah keberhasilan, tidak melihat prose situ terjadi, ribuan kegagalan menyertai. Konsistensi adalah sikap mental kedua.