Posts Tagged ‘Guru’

DOA,….. yang sudah tak bisa hadir

Oktober 13, 2016

Inilah adalah salah satu doa saya di pagi hari yang terbit di Facebook : semangat pagi,.. ada doa untuk orang tua, istri, keluarga,.. para guru, teman-teman guru yang istiqomah dan menjaga martabat, alumni yang menyumbangkan pikiran untuk bangsa ini,.. para peserta didik yang menjaga kejujuran dan keikkhlasan… dan para orang tua siswa yang iklash karena kecintaan kepada kebenaran dan kebaikan dunia akhirat,.. semoga Allah memudahakn perjlanan hari ini.. memberikan rahmat ampunan kasih sayang.. melimpahkan karunia rejenik yang halal dan baik.. memberikan perlindungan dari kejahatan duniawi dan angkara murka… menjadikan diri pikiran dan perbuatan selalu berguna untuk orang banyak,.. aamiin..

Sayangnya hal ini tidak dapat saya lakukan kembali, semoga Allah mengabulkan doa tersebut walau tidak diaminkan lagi oleh para sahabat… semoga Allah memberikan ketenangan dan ketentraman untuk orang-orang yang membuat doa tersebut tak tampil kembali.. aamiin.

iman-2016

belajar arti sebuah…..

April 15, 2015

Berita Kompas

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memastikan bakal memberi sanksi kepada Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Setiabudi, Jakarta Selatan, Retno Listyarti yang tidak mengawasi pelaksanaan ujian nasional (UN) di sekolahnya, Selasa (14/4/2015) pagi tadi.

Retno justru berada di SMA 2 saat Presiden Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan meninjau pelaksanaan UN di sana.

“Makanya nanti kami periksa dan pasti dikasih sanksi. Nanti Kadis (Kepala Dinas Pendidikan) yang akan urus (pemberian sanksi untuk Retno),” kata Ahok, sapaan Basuki, di Balai Kota, Selasa (14/4/2015). [Baca: Keluyuran Saat UN, Kepala SMAN 3 Setiabudi Terancam Kena Sanksi]

Menurut dia, seharusnya kepala sekolah ada di sekolahnya masing-masing dan bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi. Ia juga mempertanyakan peran kehadiran Retno di SMA 2.

Di sisi lain, Retno juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).

“Makanya seharusnya enggak boleh dia (keluyuran saat UN), ngapain coba. Terus mana tadi (saat Retno ke SMA 2), dia enggak pakai seragam (seragam dinas Kepsek berwarna biru dongker) lagi,” kata Basuki sambil menggelengkan kepalanya.

Di SMA 2, diketahui Retno juga terlihat melakukan sesi wawancara dengan salah satu televisi swasta.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Arie Budhiman mengatakan seharusnya kepala sekolah berada di sekolahnya masing-masing untuk mengawasi peserta didiknya melaksanakan ujian.

Sehingga ia akan memberi sanksi pada Retno. “Saya kira Gubernur menyatakan tidak suka dengan kondisi seperti itu.

Ketika syarat dan rukun menjadi keharusan

Agustus 25, 2013

Ceramah subuh, saat menyelesaikan itikaf hari itu di Al Azhar mungkin salah satu yang paling saya pikirkan. Sepanjang perjalanan dari Kebayoran menuju Cibinong bersama istri, mengobrol panjang lebar tetapi di dalam pikiran saya terus berkecamuk. Apa iya,….

Penceramah saat itu anak muda, hafidz Al qur’an, membawakan pentingnya membaca al Qur’an secara tartil. Dia menyampaikan dengan penuh semangat. Tetapi intinya adalah kalau kita salah satu makhraj saja, fatal,.. tidak diterima shalat tersebut. Tartil membaca memang sebuah keharusan, ketika salah membaca maka artinya pun pasti berubah. Bayangkan kata Amin,… amiin,.. amiiin,.. panjang pendeknya akan menentukan arti.

Begitu juga dengan berwudhu, kesempurnana berwudhu hingga tahu arti apa yang kita baca.. Saya tercenung terus mendengarnya,.. sesekali saya menguap karena terkantuk-kantuk, tetap saja tidak bisa tertidur, isi ceramahnya benar-benar membuat saya bertanya akan semua ibadah yang saya lakukan, apakah sesuai dengan syarat dan rukunya ?

Seorang guru saat menjadi guru juga mempunyai syarat dan rukunnya. Bayangkan jika seorang guru tidak berkompeten dalam bidang ilmu, tidak mampu menyampaikan ilmu, bahkan tidak mampu mempraktekannya,.. bisa fatal ilmu yang didapat para siswa. Seorang guru juga terikat akan waktu dan pengabdian. Menjadi guru adalah kegiatan 24 jam, setiap detik setiap waktu. Bagaimana tidak, seorang guru akan dilihat dan amat terlihat oleh para siswa, para tetangga bahkan orang lain yang mungkin tidak mengenalnya secara langsung.

Seorang guru yang memberikan contoh buruk di keseharian, tanpa sadar telah memberikan kompetensi akan sesuatu hal, baik secara teori, praktek bahkan penyebaran dari contoh tersebut kepada siswa. Jika seorang guru melakukan tindakan yang mungkin masih bisa dianggap wajar, sambil berjalan dia mengunyah permen, sambil berdiri dia minum air semoga tidak pakai tangan kiri.. atau banyak hal lain. Ulama dan guru adalah sebuah profesi yang sama dalam banyak hal. Penekanannya, ulama akan terlihat lebih mampu menjelaskan ayat-ayat Allah. Sementara guru berusaha menjelaskan dengan teori yang sudah diukur oleh penelitian dan pelaksanaan. Tetapi ingat, keduanya mempunyai konsekwensi yang amat tinggi.

Guru yang tidak hadir tepat waktu di kelas, lamanya waktu mengajar yang tidak sesuai, bahkan evaluasi setiap siswa tidak dilakukan dengan instrumen penilain yang benar akan menjadi profesi yang berbeda, artinya bukan guru. Negara membayar sesuai syarat dan keharusan. Sehingga sering kita jumpai seorang guru tua yang berpengalaman akan memakan waktun yang lama untuk memberikan penilain kepada para siswa, dan guru-guru muda akan lebih cepat menentukan nilai akhir sebuah penilaian. Pengalaman mengajar yang lama, untiuk guru-guru tua menajdi kunci penilaian tersendiri. Karena akhir penilain bukan hanya angka tetapi juga sikap hidup.

Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari ceramah subuh tersebut. Ibadah dan ketaqwaan adalah sebuah proses hidup, bukan hasil. Bayangkan jika semua ibadah hanya bernilai benar dan salah ? Bukan peningkatan ibadah menju ketaqwaan. Rasulullah mengajarakan setahap demi setahap pemahaman al qur’an,. Serta memberikan contoh-contoh di keseharian. Kehidupan beliau-lah yang menjadi contoh dari yang al qur’an tuliskan. Harus sesuai syarat dan rukun. Rasulullah selalu mengingatkan jika kurang atau pun berlebihan. Manusia memang diciptakan untuk mengurangi dan melebihkan, islam lah yang menuntun umat manusia untuk tidak kekurangan atau pun terlalu berlebihan. Shalat ada ketentuannya, shaum ada ketentuannya, begitu juga kehidupan sehari-hari.

Penuhi syarat dan ketentuan,..maka hakekat ibadah akan semakin nyata didapatkan oleh semua manusia. Taqwa bukan hasil, sebuah proses keseharian hingga Allah menyatakan cukup.

Sekolah Dirancang Untuk Menghasilkan Orang-orang Gagal

Januari 20, 2012

http://www.forplid.net/artikel/80-sekolah-dirancang-untuk-menghasilkan-orang-orang-gagal-.html

Oleh : ADI W.GUNAWAN

Judul di atas terkesan sangat provokatif, bukan? Saya sengaja membuka tulisan ini dengan statement yang keras dan menggugat. Namun jangan salah mengerti. Saya bukan tipe orang yang anti pendidikan formal. Saya sendiri adalah seorang pendidik, lebih tepatnya Re-Educator, yang sangat concern dengan kondisi pendidikan di tanah air.

Apa yang saya tulis di bawah ini merupakan kristalisasi hasil belajar saya atas pemikiran para pakar pendidikan seperti Paulo Freire, Ivan Illich, Drost, Everett Reimer, John Holt, Alfie Kohn, Neil Postman, dan William Glasser, ditambah dengan perenungan dan pengalaman pribadi.

Proses pendidikan atau lebih tepatnya pembelajaran yang terjadi di sekolah selama ini sangat jauh dari praktik pembelajaran yang manusiawi, yang sesuai dengan cara belajar alamiah kita. Konsep “belajar” yang diterapkan telah sangat usang dan merupakan warisan dari jaman agraria dan industri.

Kembali saya ulangi, masalah utama yang ada dalam sistem pendidikan kita adalah sekolah memang dirancang untuk menghasilkan anak gagal. Ini semua sebagai akibat dari sistem pengujian kita yang menggunakan referensi norma, yang sangat mengagungkan penggunaan kurva distribusi normal atau kurva lonceng (Bell Curve). Kurva distribusi normal ini mengharuskan ada 10% anak yang prestasinya rendah, 80% rata-rata, dan 10% yang berprestasi cemerlang.

Bulan lalu dalam dua kesempatan yang berbeda saya memberikan pelatihan untuk para kepala sekolah SD Negeri dan Pengawas (tingkat TK dan SD) se kabupaten/kota Jawa Timur. Saat bertanya, “Bapak/Ibu, jika anda punya 40 orang murid dalam satu kelas, dan saat ujian semua dapat nilai 100, anda sukses atau gagal?”. Bak paduan suara yang sangat kompak, serentak mereka menjawab, “Gagal…”. “Lho, koq gagal”, tanya saya. “Ya Pak, kalau semua dapat 100 maka pasti soalnya terlalu mudah, atau gurunya yang tidak bisa membuat soal”, jawab mereka kompak.

Saya lalu mengejar dengan pertanyaan, “Bapak dan Ibu, misalnya anda diminta mengajar 40 orang anak memasak nasi goreng sea-food spesial. Kalau semua belum bisa (saya tidak menggunakan kata “tidak bisa”) memasak nasi goreng seperti yang anda inginkan, apa yang akan anda lakukan?”. “Ya, kita akan mengulangi lagi sampai si anak benar-benar bisa”, jawab mereka. “Sekarang, kalau semuanya berhasil memasak nasi goreng yang sangat enak, anda berhasil atau gagal?”, tanya saya lagi. “Wah, kalau semuanya bisa, ini berarti kita sangat berhasil Pak”, jawab mereka. “Kalau begitu apa bedanya antara mengajar anak memasak nasi goreng dengan mengajar anak suatu pelajaran, misalnya matematika atau bahasa Inggris?”, kejar saya lagi. Kali ini semuanya diam dan tidak bisa berkomentar.

Saya lalu menjelaskan mengenai kurva distribusi normal yang sebenarnya, kalau menurut pendapat saya pribadi, tidak normal. Mendapat penjelasan ini para peserta akhirnya bisa memahami apa yang saya sampaikan. Saat break saya menemukan satu hal yang sangat menarik. Para kepala sekolah dan pengawas ini sadar bahwa apa yang saya sampaikan itu memang benar dan memang seharusnya demikian cara kita mendidik murid. Namun mereka terikat pada aturan main (baca: sistem pendidikan). Mereka merasa tak berdaya karena bila mereka bersikeras untuk tidak mau mengikuti arus maka mereka akan mendapat kesulitan.

Saya lalu menceritakan keberhasilan kawan saya, Bpk. Danang Prijadi saat mengajar mata kuliah Dasar Filsafat di satu universitas ternama di Surabaya. Ada 3 kelas pararel, masing-masing berisi 40an mahasiswa, dengan dosen yang berbeda. Saat ujian, 95% dari murid di kelas Pak Danang mendapatkan nilai A, sisanya yang 5% dapat nilai B dan C. Hal ini sangat mengejutkan pihak universitas dan dosen lainnya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi ? Bukankah ini menyalahi kurva distribusi normal? Dan yang lebih ciamik lagi, soal yang diujikan bukan disusun oleh Bpk Danang, tapi disusun oleh tim tersendiri.

Tujuan kita mengajar anak adalah agar anak bisa menguasai apa yang diajarkan, tidak peduli apa cara yang digunakan. Yang penting ujung-ujungnya anak bisa menguasai dengan baik apa yang diajarkan. Kalau cara mengajar yang digunakan di sekolah kita terapkan untuk mengajar anak kita, yang masih kecil, belajar bicara atau berjalan, maka pasti kita akan “shocked” karena ternyata, dengan sistem penilaian yang digunakan di sekolah, anak-anak kita akan masuk kategori anak yang ?idiot?. Mengapa masuk kategori “idiot”? Karena anak-anak kita “gagal” terus. Nilai mereka selalu Do ? Re ? Mi alias 1 , 2, atau 3.

Dalam hampir setiap kasus yang pernah saya temui, bila ada timbul masalah belajar biasanya kita hanya melihat pada sisi anak. Jarang sekali kita melihat dan mencari tahu peran yang dimainkan oleh sekolah dan sistem pendidikan kita hingga masalah muncul. Anak yang dianggap bermasalah biasanya akan diterapi melalui BK (bimbingan konseling) dan kalau masih tidak bisa menjadi anak yang “baik” , anak ini dikeluarkan. Di sini terlihat bahwa sebenarnya anak tidak “Drop Out” tapi “Pushed Out”.

Lalu, apa sih sebenarnya ujian itu? Untuk kondisi saat ini, ujian adalah suatu cara untuk mengetahui kecepatan mengingat kembali (recall), suatu informasi yang telah dihapal sebelumnya (register), dan menggunakan (apply) informasi yang telah diingat kembali untuk menjawab soal ujian, bukan menjawab persoalan hidup. Singkatnya, ujian saat ini hanyalah menguji kemampuan menghapal. Celakanya, sekolah tidak pernah mengajarkan anak didik teknik, cara, metode, atau strategi menghapal yang baik dan benar, yang sesuai dengan cara kerja otak dan pikiran dalam menyerap informasi.

Sistem ujian kita menggunakan sistem closed-book atau buku tertutup. Praktek ini didasari oleh asumsi bahwa kemampuan mengingat suatu pengetahuan jauh lebih berharga dari pada kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Ujian closed-book ditambah lagi murid tidak boleh kerja sama akhirnya sangat membebani anak didik.Tolong jangan salah mengerti. Saya juga tidak setuju bila anak nyontek. Tapi kalau memang bisa mengapa kita tidak mengajarkan cara belajar kolaborasi? Sistem closed-book mempunyai beberapa keburukan lainnya. Cara menguji seperti ini memberikan beban ekstra bagi anak. Anak yang sangat pintar dalam hal aplikasi akan mendapat nilai jelek bila ia lupa rumus atau definisi. Bila kita mengacu pada hirarki kognisi seseorang, sesuai dengan taksonomi Bloom, maka cara ujian seperti ini hanya mengajarkan anak untuk berpikir pada level yang rendah, level menghapal saja. Kita tidak mengajar anak berpikir pada level yang lebih tinggi yaitu analisa, sintesa dan evaluasi.

Jadi, bila kita berbicara mengenai sistem pengujian, kebanyakan yang anak lakukan adalah suatu permainan yang tidak bermutu. Anak hanya belajar menghapal dan membeo. Anak tidak dibenarkan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Agar lulus dan selamat, anak harus menjawab seperti yang diajarkan oleh guru dan harus sesuai dengan kunci jawaban yang dimiliki guru. Para pendidik saat ini telah merendahkan martabat dan kemampuan mahluk ciptaan Tuhan. Otak kita, yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, dirancang untuk berpikir namun sistem pendidikan telah mereduksi fungsi otak hanya sebagai mesin foto kopi.

Setiap kegagalan yang dialami oleh anak di sekolah akan mengakibatkan konsep diri yang buruk. Padahal kita tahu bahwa konsep diri merupakan pondasi untuk keberhasilan di bidang apa saja dalam hidup. Dari pengalaman saya memberikan konseling, saya menemukan bahwa konsep diri yang buruk ini selalu berhubungan dengan berbagai kegagalan yang telah atau pernah dialami saat sekolah. Dan satu hal yang penting yang saya temukan adalah bahwa untuk bisa memperbaiki konsep diri yang sudah terlanjur negatip atau buruk kita perlu mencari dan mengingat kembali berbagai keberhasilan yang pernah kita capai (kisah sukses). Mengutip apa yang Glasser katakan, “Tidak peduli berapa banyak kegagalan yang pernah dilakukan oleh seseorang di masa lalu, tidak masalah apa latar belakang, budaya, warna kulit, latar belakang sosial ekonomi, atau apapun itu, ia tidak akan bisa berhasil hingga ia, melalui suatu kesempatan, mulai mencapai keberhasilan dalam salah satu aspek kehidupan mereka”.

Saya percaya jika seorang anak, tidak peduli apapun latar belakangnya, dapat berhasil di sekolah, maka ia mempunyai kemungkinan besar untuk berhasil dalam hidupnya. Jika ia merasakan kegagalan dalam proses pendidikannya, baik itu pada tingkat SD, SMP, dan SMA, atau di PT/Universitas, maka kesempatannya untuk berhasil dalam hidup menurun drastis. Kalau kita hubungkan dengan proses pemrograman pikiran, maka semuanya akan tampak sangat gamblang. Anak yang telah terlanjur (diprogram untuk) percaya bahwa ia adalah seorang pecundang, bodoh, tidak bisa, dan selalu gagal, pasti akan menjadi seperti yang ia yakini. It’s a self-fulfilling prophecy.

Sudah saatnya kita mengubah sistem pendidikan kita menjadi suatu sistem yang benar-benar mampu memberdayakan anak kita. Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk bisa membantu mengembangkan semua potensi yang dimiliki olah anak-anak kita, melalui proses pendidikan yang memanusiakan anak manusia.

Lalu bagaimana cara kita untuk bisa membantu anak berkembang? Ada dua hal dasar, menurut Glasser, yang perlu diperhatikan berkenaan dengan kebutuhan anak. Yang pertama, kebutuhan akan cinta dan mencintai. Yang ke dua adalah kebutuhan akan rasa diri berharga.

Kebutuhan akan cinta dan mencintai ini merupakan hal yang paling mendasar yang perlu didapat oleh anak, dan berlaku sebagai pondasi untuk mencapai sukses. Jika seseorang mampu memberikan dan menerima cinta, dan mampu melakukannya secara konsisten dalam hidupnya, maka sampai pada tingkat tertentu ia bisa dikatakan berhasil.

Sering kali kita berpikir bahwa pemenuhan kebutuhan cinta dan mencintai ini hanya bisa dilakukan di rumah saja. Ternyata keyakinan ini salah. Banyak masalah yang timbul di sekolah, baik itu dalam bentuk murid yang tidak kooperatif, tidak ada motivasi belajar, masalah disiplin, murid yang nakal, dan masalah lainnya, semua berawal dari tidak terpenuhinya kebutuhan mendasar seorang anak yaitu cinta dan mencintai. Anak membutuhkan cinta tidak hanya dari rumah, tetapi juga di sekolah, baik itu dari gurunya maupun dari kawan-kawannya.

Sekolah lebih banyak memperhatikan kebutuhan dasar yang ke dua yaitu rasa diri berharga. Bagaimana sekolah bisa memenuhi kebutuhan rasa diri berharga? Untuk bisa mencapai rasa diri berharga dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir. Jika seorang anak masuk sekolah dan gagal dalam upaya memperoleh pengetahuan, belajar cara belajar, belajar berpikir yang benar ? berpikir level tinggi, belajar memecahkan masalah, maka kegagalan ini akan terus terbawa hingga anak menjadi manusia dewasa. Orangtua, lingkungan, dan masyarakat tampaknya tidak mampu memperbaiki kegagalan ini.

Dalam proses mengembangkan rasa diri berharga, dengan memiliki pengetahuan, mampu berpikir benar dan memecahkan masalah yang dia hadapi, seorang anak akan mempunyai rasa percaya diri yang kuat untuk belajar memberi dan menerima cinta. Paling tidak seorang anak mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan cinta, saat ia merasa dirinya berharga, sehingga ia dapat bertahan dalam menghadapi penolakkan.

Melalui cinta seorang anak akan mengembangkan motivasi untuk berhasil dan merasa diri berharga. Jika anak tidak belajar untuk bisa memberikan cinta maka anak akan menjadi anak yang sering merasa gagal. Hal ini terlihat pada anak yang terlalu dimanja dan terlalu dilindungi.

Cinta dan rasa diri berharga ini merupakan satu kesatuan yang sering kita hubungkan dengan identitas pribadi. Cinta dan rasa diri berharga dapat dipandang sebagai dua jalan untuk mencapai identitas pribadi yang berhasil. Bagi kebanyakan anak hanya ada dua tempat di mana mereka bisa mendapatkan identitas diri sebagai pribadi yang sukses yaitu di rumah dan sekolah.

Dalam konteks sekolah, cinta dapat diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab sosial. Bila anak tidak belajar untuk bertanggung jawab terhadap sesama, peduli dengan sesama, dan membantu sesama, maka cinta akan menjadi konsep yang lemah dan terbatas.

http://adiwgunawan.com

3.718 Guru Akan Pensiun Tahun 2012

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika menyatakan, pensiun masal guru-guru di Jakarta memang benar akan menjadi kenyataan di tahun 2012. Pasalnya, di tahun tersebut angka guru yang akan pensiun melampaui tahun-tahun sebelumnya, mencapai 3.718 guru.

“Kami sudah mendata total guru yang akan pensiun mencapai 3.718 guru PNS di tahun 2012,” ucap Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika, Rabu (2/3/2011), saat dihubungi wartawan.

Dari jumlah guru yang akan pensiun tersebut terbanyak berasal dari jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Berikut rincian jumlah guru pensiun di tahun 2012, guru SD 1.112 orang, SMP 2.379 orang, SMA 145 orang, dan SMK 82 orang. Apabila ditotal mencapai 3.718 orang.

Jumlah tersebut mengalahkan angka pada tahun 2011 dan 2013. Di tahun 2011 sebanyak 3.352 guru pensiun dengan rincian: guru SD 843 orang, SMP 2.313 orang, SMA 144 orang, dan SMK 52 orang. Sementara pada 2013 mencapai 3.697 orang dengan rincian: guru SD 1.059 orang, SMP (2.376 orang), SMA (196), dan SMK (66).

Pensiun massal terjadi lantaran pada tahun 1970 hingga 1980-an kebutuhan Jakarta akan guru sangat diperlukan sehingga dilakukan rekrutmen besar-besaran. Tak mengherankan jika kemudian banyak guru yang dengan cepat diangkat menjadi PNS, tidak seperti yang terjadi saat ini.

Menghadapi angka pensiunan guru yang sedemikian tingginya, Agus mengaku tidak khawatir Jakarta akan kehilangan tenaga pendidik yang berujung pada penurunan kualitas. “Tidak khawatir soal itu, karena kalau ada regenerasi kualitas tetap bisa dipertahankan,” ujar Agus.

Penggantian posisi akan dilakukan melalui pengangkatan guru honorer dan rekrutmen guru-guru baru disesuaikan dengan kapasitas tenaga pendidik yang kosong semenjak ditinggalkan guru yang hendak pensiun.

“Mapping sedang kami lakukan selama 1-2 bulan ke depan, dari situ kami akan ketahui berapa jumlah kebutuhan guru tetap dan yang akan direkrut,” ujarnya.

Oleh karena itu, saat ini pihaknya belum bisa memastikan apakah akan ada dispensasi atau keringanan bagi guru honorer yang selama ini belum juga diangkat meski bertahun-tahun telah mengajar. “Kami tunggu dulu pemetaannya,” ucapnya.

Adapun berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta tahun 2010, guru dengan status PNS mencapai 37.206 orang, sedangkan non-PNS (honorer) mencapai 12.267 orang.

“Idealnya, 45.000-50.000 guru PNS diperlukan di Jakarta. Dengan adanya tenaga honorer menunjukkan bahwa Jakarta masih perlu tambahan tenaga pendidik,” tandas Agus.

DKI Petakan Guru-guru yang akan Pensiun

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Pensiun besar-besaran tenaga pendidik yang diperkirakan terjadi di DKI Jakarta diakibatkan karena pada 1973 dilakukan rekrutmen massal sehingga massa pensiun pun akan secara berbarengan pada 2012 mendatang. Masa pensiun ini terjadi saat tenaga pendidik sudah menginjak usia 60 tahun.

Demikian diungkapkan Wakil Kepala Dinas Pendidikan (Wakadisdik) DKI Jakarta, Agus Suradika di Balaikota DKI, Jakarta, Rabu (2/3/2011). Sesuai peraturan yang ada, guru yang berumur 60 tahun memang harus pensiun.

Untuk mengantisipasi kurangnya tenaga pendidik akibat pensiun besar-besaran itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sedang melakukan pemetaan jumlah guru yang akan pensiun, sehingga dapat mengajukan usulan pengangkatan guru pegawai tidak tetap (PTT) dan penerimaan guru baru.

“Pendataan tengah dilakukan pada guru-guru yang pensiun dan pemetaan juga dilakukan pada tenaga pendidik baru yang dibutuhkan di enam wilayah Jakarta. Cara lain yang dilakukan dengan mengangkat guru honorer dan rekrut guru baru,” ungkap Suradika.

Berdasarkan data Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Pemprov DKI berencana akan mengangkat guru yang masih berstatus PTT menjadi PNS secara bertahap. Tahun ini, ada 374 guru yang berstatus PTT dan secara bertahap akan diangkat menjadi PNS DKI.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengkhawatirkan kekurangan tenaga pengajar atau guru untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pasalnya, pada 2012 diperkirakan ada ribuan guru yang memasuki massa pensiun.

PTT dan Guru Honor Nasibnya Belum Jelas

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo mengungkapkan, sampai saat ini belum ada tanda-tanda yang jelas tentang perubahan status para guru honor dan guru berstatus pegawai tidak tetap (PTT) untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Hal tersebut sangat dikhawatirkan karena kebutuhan guru semakin mendesak.

Mendesaknya kebutuhan itu karena tahun 2011 adalah batas terakhir pengangkatan guru honor dan PTT menjadi PNS untuk mengantisipasi pensiun besar-besaran pada 2012 nanti. Sulistiyo mengatakan, apabila tahun ini para tenaga guru bantu tersebut tidak juga diangkat PNS, Indonesia akan mengalami krisis pendidik.

“Terus terang saya sedih melihat kondisi ini. Sampai sekarang masih belum jelas perubahan status mereka, sementara di sisi lain kebutuhan itu terus mendesak dilakukan. Terakhir kami (PGRI) rapat dengan Menakertrans yang hadir Dirjennya, itu pun juga tidak memberikan informasi yang layak,” ujar Sulistiyo kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (2/3/2011).

Diberitakan sebelumnya, PGRI mendesak pemerintah segera mengangkat guru bantu atau honorer untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Pasalnya, tahun ini merupakan batas terakhir untuk mengangkat guru menjadi PNS.

“Kami akan mendesak Depnakertrans dan Pemprov DKI untuk mengangkat guru bantu menjadi PNS karena tahun ini tenggat waktu terakhir guru bantu jadi PNS,” ungkap Ketua Pengurus Besar PGRI Sulistiyo, Rabu (2/3/2011), di Jakarta.

Dinas Pendidikan DKI Jakarta misalnya, mengkhawatirkan kekurangan tenaga pengajar atau guru untuk tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Pada 2012 diperkirakan ada ribuan guru yang memasuki masa pensiun.

2012, DKI Terancam Defisit Guru

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengkhawatirkan kekurangan tenaga pengajar atau guru untuk tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Pada 2012 diperkirakan ada ribuan guru yang memasuki masa pensiun.

Hal tersebut dibenarkan Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika.

”Saat ini, kita sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi pensiun massal guru di Jakarta pada tahun 2012,” kata Suradika, Rabu (2/3/2011) di Balaikota DKI, Jakarta.

Pensiun massal ini terjadi lantaran sebelumnya, pada 1973, juga dilakukan rekrutmen massal sehingga masa pensiun pun berbarengan di 2012. Masa pensiun ini terjadi saat tenaga pendidik sudah menginjak usia 60 tahun.

Sesuai peraturan yang ada, guru yang berumur 60 tahun memang harus pensiun. Untuk mengantisipasi kurangnya tenaga pendidik akibat pensiun besar-besaran itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sedang melakukan pemetaan jumlah guru yang akan pensiun sehingga dapat mengajukan usulan pengangkatan guru pegawai tidak tetap (PTT) dan penerimaan guru baru.

Beasiswa untuk pengajar bahasa Inggris di Inggris

Februari 12, 2011

KOMPAS.com – Hornby Scholarships Program 2011 mengundang para pengajar Bahasa Inggris profesional yang masih termotivasi meraih gelar S-2 di perguruan tinggi di Inggris. Batas waktunya masih tersisa dua hari lagi, yaitu 13 Februari 2011.

Syaratnya, pelamar diminta mengirimkan CV dan menjawab dua pertanyaan berikut; pertama, mendeskripsikan tugas dan tanggung jawabnya mengajar Bahasa Inggris. Banyaknya tulisan kira-kira 250 kata.

Kedua, pelamar diminta membuat tulisan yang jumlahnya tak lebih dari 1000 kata tentang alasannya ingin meraih gelar S-2 ini di Inggris. Pelamar diminta menceritakan pengalamannya sebagai pengajar profesional, skil dan ketertarikannya untuk melajutkan studi dengan beasiswa ini, serta manfaat yang akan didapatkannya bagi karir serta pengembangan dirinya di masa mendatang.

Informasi lengkapnya bisa dilihat di http://www.britishcouncil.or.id. Lamaran dikirimkan melalui lenggo.geni@britishcouncil.or.id sebelum Minggu, (13/2/2011).

Bel Masuk,… santai dulu ahhhhh,..

Februari 12, 2011

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Di MTs kami, bel tanda masuk tidak begitu dihiraukan oleh murid dan sebagian guru. Walaupun sudah terdengar bel tanda masuk, murid-murid masih di luar kelas dengan alasan Bapak atau Ibu guru belum masuk ke kelas. Sebagian guru kapok masuk kelas tepat waktu karena murid-murid banyak yang belum masuk kelas. Saya sendiri sebagai kepala merasa rikuh atau sungkan bila menegur guru-guru yang lebih tua untuk masuk kelas tepat waktu. Mohon saran dan masukannya.

Terimakasih.

Faiq Aminuddin,
MTs. Irsyaduth Thullab Tedunan, Wedung, Demak

Jawaban

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,

Bapak Faiq yang dirahmati Allah swt, pertama-tama saya mengucapkan selamat. Sepertinya Anda masih muda, tapi sudah menjabat sebagai Kepala Sekolah. Memang jabatan tidak selalu berkorelasi positif dengan usia, artinya tidak selalu jabatan kepala sekolah diberikan kepada orang yang lebih tua. Tapi jika seseorang mempunyai kompetensi sebagai seorang pemimpin, maka ia mempunyai kesempatan untuk mengemban amanah tersebut.

Membaca pertanyaan Bapak, saya jadi balik nanya, sikap siapa yang harus diperbaiki terlebih dulu, siswa atau guru?

Bapak Kepala Sekolah yang hebat, sebagai pemimpin Anda sudah membaca gejala budaya sekolah yang tidak kondusif yaitu belum terciptanya disiplin di sekolah Anda. Ketika bel tanda masuk berbunyi siswa maupun sebagian guru tidak menghiraukannya. Sepertinya peraturan sekolah belum diterapkan sepenuhnya. Sehingga kondisi ini memunculkan sikap saling menyalahkan. Siswa menyalahkan guru ketika mereka tidak disiplin, demikian juga sebaliknya.

Hal pertama yang harus Bapak lakukan adalah menegakkan peraturan disiplin. Misalnya semua warga sekolah harus datang 15 menit sebelum bel berbunyi. Jika bel tanda masuk berbunyi, maka baik siswa maupun guru harus sudah ada di kelas. Jika hal tersebut dilanggar maka ada sanksi. Sanksi harus selalu disertakan dalam pembuatan peraturan, mulai sanksi pelanggaran ringan sampai berat. Mulai dari memberi peringatan/teguran sampai hukuman. Tentu saja, peraturan tersebut harus disosialisasikan terlebih dahulu ke semua warga sekolah, mulai dari siswa, guru, pegawai administrasi bahkan penjaga sekolah kalau ada. Tak kalah penting adalah alasan kenapa peraturan tersebut dibuat. Sehingga, akan terbentuk kesadaran dari seluruh warga sekolah.

Sikap siapa yang harus dibenahi dulu, apakah siswa atau guru? Tentu saja guru. Karena guru adalah model atau teladan yang dapat dicontoh oleh siswa. Siswa akan belajar perilaku dari orang dewasa dalam hal ini guru. Jika guru tidak disiplin, maka jangan salahkan siswa tidak disiplin juga. Jika hal ini dibiarkan siswa akan memperkuat perilakunya dengan tetap tidak disiplin. Oleh karena itu, sebagai kepala sekolah Bapak mempunyai hak untuk memperbaiki kinerja guru-guru Anda. Tapi, tentu saja sebagai pemimpin Anda juga harus terlebih dahulu memberi teladan yang baik buat guru maupun siswa.

Sebagai kepala sekolah yang secara usia lebih muda dari guru-guru yang senior, tentunya Bapak merasa sungkan untuk menegur mereka. Tapi karena Bapak adalah pimpinan yang mempunyai kewajiban menegakkan kedisiplinan, maka Bapak berhak menegur jika ada guru yang tidak disiplin. Namun Pak, yang perlu diperhatikan adalah cara komunikasi dan pesan yang akan Bapak sampaikan. Dalam hal ini Bapak harus asertif, artinya yaitu menyampaikan pesan secara lugas tanpa membuat orang lain merasa tersinggung. Sehingga, komunikasi menjadi efektif. Demikian yang dapat saya jawab Pak. Semoga jika kedisiplinan dilakukan di sekolah Bapak melalui proses pembiasaan maka akan terbentuk karakter dan budaya positif di sekolah Bapak. Semoga bermanfaat…

Evi Afifah Hurriyati, M.Si
Trainer Pendidikan & Kepala Program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia LPI Dompet Dhuafa Republika

pendidikan@rol.republika.co.id