Archive for the 'Ujian Nasional' Category

Peringkat SMA Negeri/Swasta DKI Jakarta Ujian Nasional 2010 IPA

Maret 15, 2011

Peringkat SMA Negeri/Swasta Berdasarkan UJian Nasional tahun 2010

Berdasarkan Jumlah Nilai

Kelompok IPA

No. Nama Sekolah N/S Jumlah Nilai Rataan
1 SMA KRISTEN 1 BPK S 52.92 8.82
2 SMA KRISTEN 3 BPK S 52.63 8.77
3 SMA SANTA URSULA S 52.31 8.72
4 SMA KRISTEN 5 BPK S 51.77 8.63
5 SMA KANISIUS S 51.22 8.54
6 SMA KRISTEN 4 BPK S 51.1 8.52
7 SMA NEGERI 8 N 50.66 8.44
8 SMA NEGERI 77 N 50.55 8.43
9 SMA KRISTEN IPEKA S 50.23 8.37
10 SMA NEGERI 13 N 50.08 8.35
11 SMA ISLAM AL AZHAR 1 S 49.94 8.32
12 SMA NEGERI 28 N 49.75 8.29
13 SMA YPK KETAPANG 1 S 49.66 8.28
14 SMA UNIVERSAL S 49.56 8.26
15 SMA SANTA THERESIA S 40.49 6.75
16 SMA NEGERI 61 N 49.31 8.22
17 SMA KRISTEN KARUNIA S 49.26 8.21
18 SMA NEGERI 81 N 49.19 8.20
19 SMA DON BOSCO II S 49.19 8.20
20 SMA NEGERI 68 N 49.17 8.20
21 SMA NEGERI 34 N 49.05 8.18
22 SMA NEGERI 26 N 49.04 8.17
23 SMA LABSCHOOL S 48.95 8.16
24 SMA NEGERI 39 N 48.88 8.15
25 SMA K IPEKA TOMANG S 48.85 8.14
26 SMA NEGERI 63 N 48.7 8.12
27 SMA IPEKA PLUIT S 48.65 8.11
28 SMA KRISTEN IPEKA PURI S 48.65 8.11
29 SMA NEGERI 48 N 48.65 8.11
30 SMA SAINT PETER S 48.64 8.11
31 SMA KATOLIK ABADI SISWA S 48.64 8.11
32 SMA BOROBUDUR S 48.62 8.10
33 SMA ST. BELAMIRNUS S 48.45 8.08
34 SMA NEGERI 77 N 48.44 8.07
35 SMA NEGERI 70 N 48.42 8.07
36 SMA NEGERI 25 N 48.33 8.06
37 SMA ISLAM AL AZHAR 2 S 48.27 8.05
38 SMA NEGERI 102 N 48.17 8.03
39 SMA NEGERI 3 N 48.14 8.02
40 SMA NEGERI 90 N 48.11 8.02
41 SMA KRISTEN 7 BPK S 48.09 8.02
42 SMA AL IZHAR S 48.01 8.00
43 SMA YASPORBI S 47.96 7.99
44 SMA SANTO KRISTOFORUS S 47.94 7.99
45 SMA GANDHI ANCOL S 47.92 7.99
46 SMA NEGERI 24 N 47.9 7.98
47 SMA NEGERI 49 N 47.9 7.98
48 SMA KATOLIK SANG TIMUR S 47.88 7.98
49 SMA NEGERI 47 N 47.84 7.97
50 SMA NEGERI 86 N 47.84 7.97
51 SMA NEGERI 12 N 47.83 7.97
52 SMA KRISTEN KALAM S 47.81 7.97
53 SMA REGINA PACIS S 47.76 7.96
54 SMA NEGERI 1 N 47.75 7.96
55 SMA KRISTEN IPEKA PURI S 47.71 7.95
56 SMA CENTRAL SCHOOL S 47.7 7.95
57 SMA KRISTEN YUSUF S 47.66 7.94
58 SMA NEGERI 74 N 47.59 7.93
59 SMA YAKOBUS S 47.58 7.93
60 SMA NEGERI 4 N 47.57 7.93
61 SMA NEGERI 99 N 47.53 7.92
62 SMA NEGERI 14 N 47.51 7.92
63 SMA NEGERI 71 N 47.47 7.91
64 SMA NEGERI PANGGUDI LUHUR S 47.41 7.90
65 SMA PSKD IV S 47.4 7.90
66 SMA NEGERI 38 N 47.38 7.90
67 SMA NEGERI 67 N 47.36 7.89
68 SMA DARUNAJAH S 47.34 7.89
69 SMA NEGERI 29 N 47.3 7.88
70 SMA MUHAMMADIYAH 18 S 47.23 7.87
71 SMA NEGERI 6 N 47.23 7.87
72 SMA KATOLIK RICCI S 47.11 7.85
73 SMA HANG TUAH 1 S 47.07 7.85
74 SMA NEGERI 35 N 47.05 7.84
75 SMA NEGERI 33 N 46.96 7.83
76 SMA KEMURNIAN II S 46.93 7.82
77 SMA NEGERI 55 N 46.91 7.82
78 SMA KRISTEN 2 BPK S 46.89 7.82
79 SMA INTERNASIONAL ISLAM S 46.85 7.81
80 SMA TRIGUNA S 46.84 7.81
81 SMA CITA BUANA S 46.83 7.81
82 SMA NEGERI 21 N 46.82 7.80
83 SMA NEGERI 109 N 46.78 7.80
84 SMA KARTIKA X-1 S 46.77 7.80
85 SMA NEGERI 78 N 46.7 7.78
86 SMA PSKD MANDIRI S 46.65 7.78
87 SMA NEGERI 89 N 46.62 7.77
88 SMA NEGERI 87 N 46.6 7.77
89 SMA KARTIKA VIII-1 S 46.59 7.77
90 SMA NEGERI 58 N 46.54 7.76
91 SMA JUBILE S 46.53 7.76
92 SMA BAKTI IDHATA S 46.52 7.75
93 SMA NEGERI 32 N 46.45 7.74
94 SMA MUHAMMADIYAH 18 S 46.44 7.74
95 SMA KRISTEN TIARA KASIH S 46.4 7.73
96 SMA NEGERI 92 N 46.38 7.73
97 SMA NEGERI 62 N 46.34 7.72
98 SMA LABSCHOOL JAKARTA S 46.3 7.72
99 SMA NEGERI 79 N 46.29 7.72
100 SMA NEGERI 91 N 46.26 7.71
101 SMA NEGERI 42 N 46.25 7.71
102 SMA NEGERI 75 N 46.18 7.70
103 SMA PERGURUAN RAKYAT 1 S 46.16 7.69
104 SMA NEGERI 54 N 46.14 7.69
105 SMA NEGERI 45 N 46.11 7.69
106 SMA TARAKANITA 2 S 46.06 7.68
107 SMA BUNDA HATI KUDUS S 46.05 7.68
108 SMA ISLAM HARAPAN IBU S 46.01 7.67
109 SMA KRISTEN KALAM S 46 7.67
110 SMA NEGERI 103 N 46 7.67
111 SMA NEGERI 53 N 45.98 7.66
112 SMA GONZAGA S 45.97 7.66
113 SMA VIANNEY S 45.92 7.65
114 SMA NEGERI 60 N 45.92 7.65
115 SMA NEGERI 97 N 45.91 7.65
116 SMA NEGERI 65 N 45.89 7.65
117 SMA BUNDA KANDUNG S 45.89 7.65
118 SMA NEGERI 104 N 45.84 7.64
119 SMA METHODIST S 45.81 7.64
120 SMA TARAKANITA 1 S 45.79 7.63
121 SMA NEGERI 52 N 45.78 7.63
122 SMA NEGERI RAGUNAN S 45.76 7.63
123 SMA NEGERI 82 N 45.74 7.62

 

Pengumuman Ujian Nasional 2010

April 24, 2010

Antara kebanggaan hasil dan proses

Senin ini sebagian besar siswa akan meneriakan pekik keberhasilan dari sebuah perjalanan panjang, masa SMA. Hanya sebagian kecil yang terpaksa harus mengulang Ujian Nasional. Tidak seperti tahun-tahun lalu, tahun ini ada dua hal yang berbeda yaitu : adanya ujian ulangan buat yang gagal dan naiknya tingkat ketidak lulusan. Dua hal ini tentunya sejalan, jika dianalisa lebih jauh, seharusnya memang tingkat kelulusan berkurang. Banyak faktor yang memjadikan hal ini terbukti. Lihat saja perubahan waktu UN dari tahun sebelumnya. Tahun ini dimajukan. Yang kedua, sebelum Ujian Nasional ternyata dua Perguruan Tinggi Negeri ternama dan paling banyak menyedot peminat, mengadakan Ujian Mandiri, yaitu Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Bandung. Keduanya hanya berselang 1 hari dari Ujian Nasional.

Hal ini sedikit banyak mengundang keraguan-raguan siswa, bayangkan ditengajh persiapan siswa harus berpikir ulang tentang Ujian Nasional. Untungnya ada Ujian Susulan, sehingga UN menjadi nomor 2. Ini pun juga terlihat dari sebulan sebelum Ujian Nasional dan Ujian Mandiri. Siswa mulai mendapatkan tingkat stress yang lumayan tinggi. Banyak siswa yang lebih memilh ke Bimbingan Belajar, dari pada ke sekolah. Tujuan mereka cukup realistis. ITB atau UGM.

Buat sebagian pemerhati dan pelaku pendidikan sesungguhnya hal ini menjadi sesuatu yang tidak pada tempatnya. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional dengan jelas-jelas menentang PTN yang mengadakan Ujian Mandiri sebelum pelaksanaan Ujian Nasional. Tetapi nyatanya Mendiknas pun tak mampu menghalangi niatan PTN-PTN favorit untuk menjaring siswa. Sehingga tanpa terasa Ujian Nasioanl hanyalah menjadi legalitas belaka. Terkadang ada sindiran cukup keras, kalau ujian Perguruan Tinggi Negeri bisa lulus, mana mungkn siswa gagal pada Ujian Nasional. Demikian rendahnya UN di mata para siswa dan masyarakat.

Kepergian siswa meninggalkan bangku sekolah menuju Bimbingan Belajar mulai terasa pada beberapa tahun terakhir. Hal ini dimulai saat Ujian Perguruan Tinggi semakin sulit diprediksi, dari tingkat kesukaran soal, jumlah peminat, batas kelulusan, biaya yang mahal dan tentunya waktu ujian. Waktu ujianlah yang paling menjadi kendala. Bayangkan 3 bulan sebelum Ujian, baru ada pemberitahuan. Hal ini banyak mengundang “gejala masalah”. Mulailah siswa berlomba mencari “bimbingan yang paling banyak membuat soal identik dengan ujian PTN”, bahkan yang menggunakan janji-janji dan jaminan.

Kondisi ini membuat posisi Ujian Nasional menjadi lemah. Siswa pasti akan memilih lulus PTN dulu, Ujian Nasional urusan nanti. Tanpa kita sadari dalam 3 tahun ini pengajaran di bimbingan belajar atau apa pun namanya sedemikian kreatif dan inovatif. Ini yang seharusnya ditiru para pendidik di Sekolah. Membuat belajar integral benda putar menjadi menyenangkan, menjadikan ksetimbangan kimia hal yang biasa, atau menghitung kecepatan mobil tabrakan dengan lenting sempurna menjadi keindahan,.. banyak hal yang membuat pelajaran menjadi berbeda.

Tetapi tidak semua hal menjadi indah dan positif, ada juga hal-hal yang membuat kita para pendidik menjadi berpikir ulang. Ada apa dengan mental siswa ? Terkadang ada siswa yang menggunakan jalur cepat, dan bukan dari proses pendidikan, tetapi merupakan hanya melihat hasil ujian, apa pun caranya. Mendiknas mengakui ada kebocoran, setiap tahun selalu berulang dan tidak membuat kita bangga sebagai guru. Selalu tanpa penyelesaian yang sebenarnya, yang mendidik dan terhormat. Apa pun hasil Ujian Nasional nanti, akhirnya akan berpulang kepada para pendidik, para siswa, para orang tua dan akhirnya para penentu kebijakan negeri ini. Banggakah dengan hasil tersebut ? Atau berpura-pura dengan kondisi nyata, bagaimana mereka ujian.

Kita berhasil mengajar, tetapi gagal mendidik. Tanpa mengurangi sisi perjuangan guru, tentunya kita tidak mungkin membiarkan, mata kejujuran menjadi hilang di dunia pendidikan. Selamat buat ananda yang Lulus dari Ujian Nasional dan Ujian Kejujuran, mohon maaf buat yang di luar hal itu. Secara kognitif anda lulus, tetapi moral dan mental anda perlu di revisi selama hidup.

BSNP Nilai Penyelenggaraan UN SMA-SMP Mulus

April 1, 2010

BSNP Nilai Penyelenggaraan UN SMA-SMP Mulus
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik
Kamis, 1 April 2010 | 15:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyatakan, penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-nusantara yang digelar 22-26 Maret untuk SMA dan 29 Maret-1 April untuk SMP ini berjalan dengan lancar dan mulus.

Hal ini disampaikan Anggota BSNP Teuku Ramli Zakaria dalam keterangan pers di Depdiknas, Kamis (1/4/2010). “UN berjalan dengan lancar, baik dengan berbagai perbaikan,” tuturnya.

Kalaupun ada penyimpangan yang terjadi, lanjutnya, tidak terlalu signifikan. Jumlah penyimpangan yang terjadi pun makin menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Lagipula, Ramli menegaskan Mendiknas sudah langsung menginstruksikan pengusutan dan pemberian tindakan kepada pihak-pihak yang terlibat.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Humas PIH Setiono mengatakan berdasarkan catatan Posko UN, ada sekitar 1.023 pesan singkat yang masuk ke layanan posko, 41 surat elektronik dan satu faksimili.

Sementara itu, informasi pelanggaran yang disampaikan media elektronik mencapai 1.891 informasi dan media cetak sebanyak 237. Pengaduan dan informasi yang paling menonjol terkait gangguan pelaksanaan UN, meliputi kerusakan soal, tertukarnya soal UN di tingkat SMA, laporan dana belum cair dan terkait daerah-daerah yang terkena banjir. Selain itu, juga terkait dugaan kebocoran UN.

Pesan Guru pada Muridnya agar Tidak Curang

Maret 16, 2010

Anak-anakku, Bapak tahu tugas yang kalian kerjakan banyak dan berat. Tahukah kalian bahwa dengan itulah kalian akan menjadi mandiri dan kuat? Semua anak

via Pesan Guru pada Muridnya agar Tidak Curang.

PESAN GURU AGAR MURID TIDAK CURANG
http://sekolahku.info/2009/10/pesan-guru-pada-muridnya-agar-tidak-curang/

Anak-anakku, Bapak tahu tugas yang kalian kerjakan banyak dan berat. Tahukah kalian bahwa dengan itulah kalian akan menjadi mandiri dan kuat?

Semua anak menginginkan banyak waktu luang untuk bermain. Tetapi kelak semua akan beranjak dewasa dan diberi berbagai tanggung jawab. Jikalau mulai sekarang kalian sedikit demi sedikit melatih diri dan mengasah kemampuan, maka itu tidak akan seberat dibanding melakukan semuanya sekaligus setelah kallian lulus.

Bagi yang memilih cara yang curang, PR, tugas, dan ulangan semua bisa saja mencontek dan mendapat nilai yang tinggi. Tetapi ingat…! Dengan begitu tidak akan pernah didapat KEMAMPUAN yang tinggi. Hanya dengan melihat petinju berlatih tidak serta merta membuat yang melihat ikut kuat, kita harus ikut melakukannya sendiri; berlatih, berkeringat, bersusah payah, dan barulah kekuatan itu kita peroleh sesuai dengan usaha kita.

Ujian yang sesungguhnya bukan yang dari sekolah, tetapi yang dari masyarakat. Saat mereka bertanya kepadamu malulah bila kau masih mencontek bukumu! malu bila kau masih mencontek temanmu! Saat kau dewasa, kau harus mencari kerja, malulah bila kau masih minta bantuan orang tuamu! Kau harus jujur, malulah bila kau ambil hasil pekerjaan orang lain lalu kau makan sendiri. Berusahalah sendiri! Malu bila kau masih cari muka mengemis suara rakyat agar diangkat jadi pejabat. Malu dirimu… malu Bapak ini… Malu orang tuamu!

Malulah kau dari sekarang, agar tidak dipermalukan kau esok hari!

3 Tips Menjawab Soal Pilihan Ganda UAN/UNAS

Maret 16, 2010

Tulisan hanya boleh dipikirkan, buat yang mau melaksakan, berpikir dulu lah yang maksimal. Sudah latihan yang banyak, sudah belajar, sudah try out dan berdoa.

3 Tips Menjawab Soal Pilihan Ganda UAN/UNAS.

Ujian Nasional masih menjadi beban stres bagi siswa kelas VI SD, IX SMP, dan XII SMA. Mau tak mau, semua yang duduk di bangku sekolah resmi harus melaluinya. Maka tidak ada cara lain selain menghadapinya. Berikut beberapa tips yang mudah-mudahan dapat membantu untuk memuluskan jalan menuju sukses.

* Soal-soal UAN adalah pilihan ganda (multiple choices) yang didasarkan pada jawaban yang benar, tanpa pengurangan nilai pada pilihan yang salah; artinya jika tidak tahu jawabannya sekalipun, t-e-b-a-k-lah!
* Soal UAN biasanya berkomposisi 20% sulit, 50% sedang, dan 30% mudah. Jadi targetkan saja nilainya 70% sehingga tidak terlalu menjadi beban.

Taktik 1: Kalau Bisa Langsung Jawab, Kalau Tidak Bisa Tinggal!

Naskah soal biasanya diberikan lebih dulu sebelum LJK. Ini kesempatan mengintip soal. Kerjakan dulu meski yang lain belum mulai. Baca sekilas, bila mudah, kerjakan! Bila sulit, lewati! Dimana menulis jawabannya? Cukup tandai dengan titik kecil di bagian awal huruf pilihan. Dengan begini kita dapat mencuri start sampai 5-6 soal lho.

Taktik 2: Bila Ragu, Beri Tanda!

Gunakan taktik no 1 sampai akhir lembar soal. Anda mungkin butuh artikel ini untuk lebih rincinya. Sampai disini kira-kira 75% soal mungkin belum terjawab. Lalu buka lagi lembar pertama, ulangi dari nomor yang belum terjawab. Sekarang ganti strategi, pikirkan jawaban dengan masak. Namun jangan diforsir (terlalu memaksa) untuk soal yang memang sulit, lewati saja dengan beri tanda segitiga (apa saja selain lingkaran agar berbeda dari kebiasaan) pada dua jawaban yang ragu-ragu tadi (misal apakah A atau B).

Taktik 3: Bila Blank, Tebak!

Menebak pun perlu jurus. Dan jurusnya adalah memilih pilihan yang paling sedikit dipilih sebelumnya. Gambarannya, bila pada jawaban lain kita sering memillih A, B, D, dan E… maka pilihlah C. Ini akan memberi kita sedikit peluang karena setiap pilihan sedikitnya digunakan pada 10 pertanyaan. Maksudnya 10 soal memiliki jawaban A, 10 yang lain jawabannya B, 10 lainnya C, dan seterusnya. Tapi, bagaimana pun juga, ini adalah perkiraan kasar.

Cara lainnya adalah dengan memilih jawaban yang terdengar akrab, sebab boleh jadi jawaban itu adalah yang pernah kamu baca sebelumnya.

Sedikit mengira-ngira saja, bila kita targetkan ada 20 jawaban benar (nilainya 40), lalu 20 ragu-ragu (ambillah separuhnya, jadi nilainya 20), lalu 10 soal tidak bisa sama sekali (bila kebetulan, paling sedikit betul 1 yang artinya bernilai 2), maka totalnya adalah 64. InsyaAllah lulus!

Soal Latihan Geografi SMAN 8 Jakarta

Februari 10, 2010

Ini soal latihan ke 4 untuk kelas XII IPS. Silakan di klik.

Bocoran UN Geografi 2010

Januari 28, 2010

Belajar dari soal-soal yang valid, dan teruji dapat meningkatkan kemampuan mengerjakan soal Ujian Nasional. Silakan download disin. Materi kedua. Materi ketiga. Materi keempat. Materi kelima. Materi keenam

Persoalan UN adalah Cermin Masyarakat Indonesia

Januari 28, 2010

abu, 13 Januari 2010 | 10:20 WIB
shutterstock
Ilustrasi: Sebesar apapun tekanan terhadap rencana pelaksanaannya, UN tetap akan dilaksanakan dan diterima masyarakat, kendatipun sebetulnya itu adalah keterpaksaan.
TERKAIT:

* Persiapan UN Kuras Saku Siswa
* Wah… “Facebookers” juga Menolak UN!
* UN Bukan Satu-satunya Penentu Kelulusan

JAKARTA, KOMPAS.com – Semua persoalan terkait penyelanggaraan Ujian Nasional (UN) merupakan cerminan masyarakat Indonesia, yakni sulitnya memberantas budaya korupsi.

Artinya, persoalan UN justeru berpangkal dari sebuah persoalan paling fundamental di negara ini, yaitu korupsi. Persoalan yang tiada habisnya dipermasalahkan tanpa banyak yang bisa dituntaskan.

“Tetapi, kita sebagai pendidik dan pengelola pendidikan harus mengembalikan semuanya pada perjuangan anak-anak didik,” ucap Kepala SMA Kolese Kanisius Jakarta, Rm Heru Hendarto, Selasa (12/1/2010).

“Saya sudah protes sana-sini, tetapi seberapa besar sih kekuatannya? Wong, putusan MA pun tidak ada yang diakomodir,” tambahnya.

Menanggapi pandangan tersebut, pengamat pendidikan Darmaningtyas bahkan menyayangkan sikap Komisi X DPR RI jika kelak tidak tegas terhadap keteguhan pemerintah menggelar UN. Darmaningtyas beranggapan, banyak anggota Komisi X yang tidak paham akan banyaknya manipulasi di dalam pelaksanaan UN.

“Mereka tidak tahu, bahwa di lapangan itu banyak guru yang heran melihat murid-murid mereka sendiri kok standar nilai UN-nya tinggi sekali, jauh dari nilai hariannya,” ujarnya.

Keterpaksaan

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Kolese Gonzaga Romo Y. Alis Windu Prasetya mengatakan, sebesar apapun tekanan masyarakat terhadap rencana pelaksanaannya, UN tetap akan dilaksanakan dan diterima, kendatipun sebetulnya itu adalah keterpaksaan.

“Mau tak mau itu akan dilaksanakan, bahkan siswa kami sendiri pun sampai bertanya, untuk apa sebetulnya UN, karena kalau begini terus lebih tidak perlu ada UN,” ujar Alis.

Siswa, kata Alis, adalah subyek pendidikan, bukan sebaliknya sebagai obyek, yang akhirnya malah menjadi korban dari pendidikan itu sendiri (kebijakan). Tidak heran, Alis mengaku geleng kepala melihat besarnya anggaran UN dan keluhan orang tua.

“Banyak hamburkan uang, UN itu tidak realistis, ada orang tua yang mengatakan hal semacam itu kepada kami, sebab ada UN berarti keluar tambahan biaya,” ujarnya.

Lebih dari itu, kata Alis, pelaksanaan kebijakan UN yang selama ini menjadi penentu kelulusan pun sebetulnya kian menjauhkan apa yang disebutnya dengan otonomi sekolah.

“Itu omong kosong, kurikulum KTSP itu mestinya sesuai dengan otonomi sekolah, nyatanya?” tambah Alis.

Kiranya, apapun yang terjadi nanti di UN, sudah saatnya semua pihak saat ini berjuang demi anak-anak didik dengan cara-cara yang bermatabat. Yaitu, menjunjung tinggi kejujuran sebagai hal utama, demi masa depan anak didik.

PDI-P: UN Hasilkan Peta Pendidikan Palsu!

Januari 28, 2010

Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu
Rabu, 27 Januari 2010 | 12:14 WIB
HERU SRI KUMORO/KOMPAS IMAGES
Ilustrasi: Heri mengatakan, penyelenggaraan UN yang dipakai sekarang ini telah terjadi kecurangan yang sistematis dan massif.
TERKAIT:

* Putusan UN Harus Dieksekusi
* Pernyataan SBY Bukan untuk Pendidikan
* Persoalan UN adalah Cermin Masyarakat Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang tetap dipaksakan pemerintah pada tahun ini pascaputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi pemerintah soal gugatan UN hanya menghasilkan peta pendidikan nasional yang palsu.
“Peta pendididikan nasional yang diklaim dari hasil UN juga palsu”
— Heri Akhmadi

Hasil UN diyakini tidak mencerminkan kualitas pendidikan yang sesungguhnya, tetapi hasil dari kecurangan massif. Demikian pernyataan Fraksi PDI Perjuangan Komisi X DPR RI di Jakarta, Rabu (27/1/2010), terkait pelaksanaan Ujian nasional (UN) yang tetap dilaksanakan sebagai syarat kelulusan siswa.

Hadir dalam penyampaian pernyataan tersebut antara lain Heri Akhmadi, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Komisi X, Dedi “Miing” Gumelar, Putu Guntur Soekarno, dan Guruh Irianto Sukarno Putra.

Heri mengatakan, penyelenggaraan UN yang dipakai sekarang ini telah terjadi kecurangan yang sistematis dan massif. “Peta pendididikan nasional yang diklaim dari hasil UN juga palsu,” kata Heri.

Hal itu, tambah Heri, ditandai dengan adanya sejumlah sekolah yang kategorinya berkualitas tetapi banyak siswa yang tidak lulus. Bahkan, ada sekolah yang seluruh siswanya tidak lulus.

Di sisi lain, ada sejumlah sekolah yang kategorinya kurang berkualitas, justru bisa meluluskan seluruh siswanya. “Pemerintah tidak boleh menutup mata dan harus jujur mengakui bahwa ada masalah yang serius di balik penyelenggaraan UN saat ini,” tegas Heri.

GEOGRAFI LINGKUNGAN DALAM RUANG LINGKUP GEOGRAFI

Januari 26, 2010
A. GEOGRAFI LINGKUNGAN DALAM RUANG LINGKUP GEOGRAFI

1. Pengertian Geografi dan Geografi Lingkungan

Sebelum mendefinisikan geografi lingkungan (environmental geography), sangat berguna untuk memandang terlebih dulu konsep geografi secara umum. Salah satu kesalahan konsep yang umum terjadi adalah memandang geografi sebagai studi yang sederhana tentang nama-nama suatu tempat. Implikasi dari pemahaman seperti itu menyebakan terjadinya reduksi terhadap hakekat geografi. Geografi menjadi pengetahuan untuk menghafalkan tempat-tempat dimuka bumi, sehingga bidang ini menjadi kurang bermakna untuk kehidupan. Geografi sering juga dipandanng identik dengan kartografi atau membuat peta. Dalam prakteknya sering terjadi para geograf sangat trampil dalam membaca dan memahami peta, tetapi tidak tepat jika kegiatan membuat peta sebagai profesinya.

Kata geografi berasal dari geo=bumi, dan graphein=mencitra. Ungkapan itu pertama kali disitir oleh Eratosthenes yang mengemukakan kata “geografika”. Kata itu berakar dari geo=bumi dan graphika=lukisan atau tulisan. Jadi kata geographika dalam bahasa Yunani, berarti lukisan tentang bumi atau tulisan tentang bumi. Istilah geografi juga dikenal dalam berbagai bahasa, seperti geography (Inggris), geographie (Prancis), die geographie/die erdkunde (Jerman), geografie/ aardrijkskunde (Belanda) dan geographike (Yunani).

Bertahun-tahun manusia telah berusaha untuk mengenali lingkungan di permukaan bumi. Pengenalan itu diawali dengan mengunjungi tempat-tempat secara langsung di muka bumi, dan berikutnya menggunakan peralatan dan teknologi yang makin maju. Sejalan dengan pengenalan itu pemikiran manusia tentang lingkungan terus berkembang, pengertian geografi juga mengalami perubahan dan perkembangan. Pengertian geografi bukan sekedar tulisan tentang bumi, tetapi telah menjadi ilmu pengetahuan tersendiri disamping bidang ilmu pengetahuan lainnya. Geografi telah berkembang dari bentuk cerita tentang suatu wilayah dengan penduduknya menjadi bidang ilmu pengetahuan yan memiliki obyek studi, metode, prinsip, dan konsep-konsep sendiri sehingga mendapat tempat ditengah-tengah ilmu lainnya.

Berkaitan dengan kemajuan itu, konsep geografi juga mengalami perkembangan. Ekblaw dan Mulkerne mengemukakan, bahwa geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bumi dan kehidupannnya, mempengaruhi pandangan hidup kita, makanan yang kita konsumsi, pakaian yang kita gunakan, rumah yang kita huni dan tempat rekreasi yang kita nikmati.

Bintarto (1977) mengemukakan, bahwa geografi adalah ilmu pengetahuan yang mencitra, menerangkan sifat bumi, menganalisis gejala alam dan penduduk serta mempelajari corak khas mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur bumi dalam ruang dan waktu.

Hasil semlok peningkatan kualitas pengajaran geografi di Semarang (1988) merumuskan, bahwa geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan atau kelingkungan dalam konteks keruangan.

James mengemukakan geografi berkaitan dengan sistem keruangan, ruang yang menempati permukaan bumi. Geografi selalu berkaiatan dengan hubungan timbal balik antara manusia dan habitatnya.

Berdasarkan telaah terhadap konsep tersebut penulis berpendapat, bahwa geografi merupakan studi yang mempelajari fenomena alam dan manusia dan keterkaitan keduanya di permukaan bumi dengan menggunakan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah. Dalam pengertian itu beberapa aspek yang esensial, yaitu (1) adanya hubungan timbal balik antara unsur alam dan manusia (reciprocal). (2) Hubungan itu dapat bersifat interelatif, interaktif, dan intergratif sesuai dengan konteksnya. (3) cara memadang hubungan itu berisifat keruangan.

Berdasarkan konsep tersebut, studi Geografi bekaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  • Where is it?
  • Why is it there?
  • So what?

Dalam kata yang lain, Geografi mempelajari penyebaran keruangan dari sesuatu (bahasa, kegiatan ekonomi, pencemaran, rote transportasi, tanah, iklim, dan dan fenomena lainnya) untuk menemukan mengapa fenomena itu menyebar sebagaimana adanya. Geografi selanjutnya mencoba untuk menggambarkan terjadinya distribusi itu, dan dengan pemahaman itu dapat mengusulkan pemecahan masalah yang terjadi.

Preston James mencoba untuk memecahkan pertanyaan apakah geografi dengan memberikan batasan geografi menjadi empat tradisi utama, yaitu:

  1. The spatial tradition
    Geographers have long been concerned with mapping and the spatial arrangement of things. Some geographers were developing statistical methods to improve both the description and analysis of such spatial patterns (James). Because this trend was not without its critics, the James article is often seen as a fence-mending effort within the discipline.
  2. The area studies tradition
    Geographers such as Reclus and Humboldt were famous for their exhaustive descriptions of places. Even today, many geographers develop an expertise in the study of one or two regions. Typically, geographers will learn the language or langauges spoken in the region being studied and they will develop an understanding of both the natural physical features and of the human activities and patterns. The goal is to become an expert on the region as it is and to study specific problems or questions about the region.
  3. The man-land tradition
    Beginning with George Perkins Marsh in the middle of the nineteenth century, geographers have sought to understand how the natural environment either determines or constrains human behavior and how humans, in turn, modify the physical world around them. Given the inherent sexism of this title, most geographers would now use the term “human-environment” to describe this tradition.
  4. The Earth sciences tradition
    Many geography programs in the United States emerged from geology departments, and the connection between the disciplines remains strong. Most geographers — even if they focus on human geography — receive some training in such physical geography areas landforms, climate, soils, and the distribution of plants.

Keberadaan geografi lingkungan tak terlepas dari masalah lingkungan, khsususnya hubungan antara pertumbuhan penduduk, konsumsi sumberdaya, dan peningkatan intensitas masalah akibat ekploitasi sumberdaya yang berlebihan. Geografi lingkungan dapat memberikan kombinasi yang kuat perangkat konseptual untuk memahami masalah lingkungan yang kompleks.

Geografi lingkungan cenderung pada geografi manusia atau intergrasi geografi manusia dan fisik dalam memahami perubahan lingkungan global. Geografi lingkungan menggunakan pendekatan holistik. Geografi lingkungan melibatkan beberapa aspek hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan. Untuk memahami masalah-masalah lingkungan tidak mungkin tanpa pemahaman proses ekonomi, budaya, demografi yang mengarah pada konsumsi sumberdaya yang meningkat dan generasi yang merosot. Kebanyakan proses tersebut kompleks dan tranasional. Solusi potensial hanya dengan memahami fungsi siklus biokimia (sirkulasi air, karbon, nitrogen, dan sebagainya) dan juga teknologi yang digunakan manusia untuk campur tangan pada siklus itu.

Atas dasar perspektif tersebut, dapat disarkan bahwa geografi lingkungan merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari lokasi dan variasi keruangan fenomena alam (fisis) maupun manusia di permukaan bumi. (Environmental geography is the scientific study ot the location and spatial variation in both physical and human phenomena of Earth) (James Hayes-Bohanan).

2. Obyek Geografi

Setiap disiplin ilmu memilki obyek yang menjadi bidang kajiannya.

Obyek bidang ilmu tersebut berupa obyek matrial dan obyek formal. Obyek material berkaitan dengan substansi materi yang dikaji, sedangkan obyek formal berkaitan dengan pendekatan (cara pandang) yang digunakan dalam menganalisis substansi (obyek material) tersebut.

Pada obyek material, antara bidang ilmu yang satu dengan bidang ilmu yang lain dapat memiliki substansi obyek yang sama atau hampir sama.Obyek material ilmu geografi adalah fenomena geosfer, yang meliputi litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, dan antroposfer. Obyek materal itu juga menjadi bidang kajian bagi disiplin ilmu lain, seperti geologi, hidrologi, biologi, fisika, kimia, dan disiplin ilmu lain. Sebagai contoh obyek material tanah atau batuan. Obyek itu juga menjadi bidang kajian bagi geologi, agronomi, fisika, dan kimia.

Oleh karena itu untuk membedakan disiplin ilmu yang satu dengan disiplin ilmu yang lain dapat dilakukan dengan menelaah obyek formalnya. Obyek formal geografi berupa pendekatan (cara pandang) yang digunakan dalam memahami obyek material. Dalam konteks itu geografi memilki pendekatan spesifik yang membedakan dengan ilmu-ilmu lain. Pendekatan spesifik itu dikenal dengan pendekatan keruangan (spatial approach). Selain pendekatan keruangan tersebut dalam geografi juga dikenali adanya pendekatan kelingkungan (ecological approach), dan pendekatan kompleks wilayah (regional complex approach).

3. Prinsip Geografi

Prinsip merupakan dasar yang digunakan sebagai landasan dalam menjelaskan suatu fenomena atau masalah yang terjadi. Prinsip juga berfungsi sebagai pegangan/pedoman dasar dalam memahami fenomena itu. Dengan prinsip yang dimiliki, gejala atau permasalahan yang terjadi secara umum dapat dijelaskan dan dipahami karakteristik yang dimilikinya dan keterkaitan dengan fenomena atau permasalahan lain.

Setiap bidang ilmu memiliki prinsip sendiri-sendiri. Ada kemungkinan satu atau beberapa prinsip bidang ilmu itu memiliki kesamaan dengan prinsip bidang ilmu yang lain, tetapi juga ada kemungkinan berbeda sama sekali. Dalam bidang geografi dikenali sejumlah prinsip, yaitu: prinsip penyebaran, prinsip interelasi, prinsip deskripsi dan prinsip korologi.

  1. Prinsip Penyebaran
    Dalam prinsip ini fenomena atau masalah alam dan manusia tersebar di permukaan bumi. Penyebaran fenomena atau permasalahan itu tidak merata. Fenomena sumber air tentu tidak dijumpai di semua tempat. Demikian pula permasalahan pencemaran air juga tidak dijumpai disemua sungai atau laut.
  2. Prinsip Interelasi
    Fenomena atau permasalahan alam dan manusia saling terjadi keterkaitan antara aspek yang satu dengan aspek yang lainnya. Keterkaitan itu dapat terjadi antara aspek fenomena alam dengan aspek fenomena alam lain, atau fenomena aspek manusia dengan aspek fenomena manusia. Fenomena banjir yang terjadi di wilayah hilir terjadi karena kerusakan hutan di bagian hulu. Kerusakan hutan alam itu dapat terjadi karena perilaku menusia. Perilaku manusia yang demikian terjadi karena kesadaran terhadap fungsi hutan yang rendah.
  3. Prinsip Deskripsi
    Fenomena alam dan manusia memiliki saling keterkaiatan. Keterkaitan antara aspek alam (lingkungan) dan aspek manusia itu dapat dideskripsikan. Pendiskripsian itu melalui fakta, gejala dan masalah, sebab-akibat, secara kualitatif maupun kuantitatif dengan bantuan peta, grafik, diagram, dll.
  4. Prinsip Korologi
    Prinsip korologi merupakan prinsip keterpaduan antara prinsip penyebaran, interelasi dan deskripsi. Fenomena atau masalah alam dan manusia dikaji penyebarannya, interelasinya, dan interaksinya dalam satu ruang. Kondisi ruang itu akan memberikan corak pada kesatuan gejala, kesatuan fungsi dan kesatuan bentuk.

4. Konsep Esensial Geografi

Konsep merupakan pengertian yang menunjuk pada sesuatu. Konsep esensial suatu bidang ilmu merupakan pengertian-pengertian untuk mengungkapan atau menggambaran corak abstrak fenomena esensial dari obyek material bidang kajian suatu ilmu. Oleh karena itu konsep dasar merupakan elemen yang penting dalam memahami fenomena yang terjadi.

Dalam geografi dikenali sejumlah konsep esensial sebagai berikut.

Menurut Whiple ada lima konsep esensial, yaitu:

  1. bumi sebagai planet
  2. variasi cara hidup
  3. variasi wilayah alamiah
  4. makna wilayah bagi manusia
  5. pentingnya lokasi dalam memahami peristiwa dunia

Dalam mengungkapkan konsep geografi itu harus selalu dihubungkan dengan penyebarannya, relasinya, fungsinya, bentuknya, proses terjadinya, dan lain-lain sebagainya. Sebagai contoh ungkapan konsep “variasi cara hidup” setidaknya harus terabstraksikan mata pencaharian penduduk, proses terbentuknya mata pencaharian itu, penyebaran mata pencaharian itu, jumlah penduduk yang bekerja pada masing-masing mata pencaharian itu, dan dinamika mata pencaharian itu.

Menurut J Warman ada lima belas konsep esensial, yaitu:

  1. wilayah atau regional
  2. lapisan hidup atau biosfer
  3. manusia sebagai faktor ekologi dominan
  4. globalisme atau bumi sebagai planet
  5. interaksi keruangan
  6. hubungan areal
  7. persamaan areal
  8. perbedaan areal
  9. keunikan areal
  10. persebaran areal
  11. lokasi relatif
  12. keunggulan komparatif
  13. perubahan yang terus menerus
  14. sumberdaya dibatasi secara budaya
  15. bumi bundar diatas kertas yang datar atau peta

Dengan menggunakan konsep-konsep tersebut dapat diungkapkan berbagai gejala dan berbagai masalah yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Penggunaan konsep itu akan memudahkan pemahaman terhadap sebab akibat, hubungan, fungsi, proses terjadinya gejala dan masalah sehari-hari. Selanjutnya dari kenyataan itu dikembangkan menjadi satu abstraksi, disusun model-model atau teori berkaitan dengan gejala, masalah dan fakta yang dihadapi. Jika ada satu masalah dapat dicoba disusun model alternatif pemecahannya. Sedangkan jika yang dihadapi suatu kenyaan kehidupan yang perlu ditingkatkan tarapnya, maka dapat disusun model dan pola pengembangan kehidupan itu. Dari berbagai konsep itu dapat disusun suatu kaidah yang tingkatnya tinggi dan berlaku secara umum yang disebut generalisasi.

5. Ruang Lingkup Geografi

Studi geografi mencakup analisis gejala manusia dan gejala alam. Dalam studi itu dilakukan analisis persebaran-interelasi-interaksi fenomena atau masalah dalam suatu ruang.

Menurut Rhoad Murphey ruang lingkup geografi sebagai berikut. (1) distribusi dan hubungan timbal balik antara manusia di permukaan bumi dengan aspek-aspek keruangan permukiman penduduk dan kegunaan dari bumi. (2) hubungan timbal balik antara masyarakat dengan lingkungan fisiknya sebagai bagian studi perbedaan area. (3) kerangka kerja regional dan analisis wilayah secara spesifik.

Berdasarkan uraian tersebut terlihat, bahwa ruang lingkup geografi tidak terlepas dari aspek alamiah dan aspek insaniah yang menjadi obyek studinya. Aspek itu diungkapkan dalam satu ruang berdasarkan prinsip-prinsip penyebarannya, relasinya, dan korologinya. Selanjutnya prinsip relasi diterapkan untuk menganalisis hubungan antara masyarakat manusia dengan lingkungan alamnya yang dapat mengungkapkan perbedaan arealnya, dan penyebaran dalam ruang. Akhirnya prinsip, penyebaran, dan korologi pada studi geografi dapat mengungkapkan karakteristik suatu wilayah yang berbeda dengan wilayah lainnya sehingga terungkap adanya region-region yang berbeda satu sama lain.

Untuk mengunkanpan fenomena atau permasalahan yang terjadi digunakan pertanyaan-pertanyaan geografi. Untuk pertanyaan what? Geografi dapat menunjukkan fenomena apa yang terjadi? Untuk pertanyaan when, geografi dapat menunjukkan kapan peristiwa itu terjadi. Untuk pertanyaan where? Geografi dapat menunjukkan lokasi terjadinya peristiwa. Untuk pertanyaan why? Geografi dapat menunjukkan relasi-interelasi-interaksi-integrasi gejala-gejala itu sebagai faktor yang tidak terlepas satu sama lain. Untuk pertanyaan how? Geografi dapat menunjukkan kualaitas dan kuantitas gejala dan interelasi/interaksi gejala-gejala tadi dalam ruang yang bersangkutan.

6. Hakekat Geografi

Untuk mendapat konsep yang lebih mendalam dalam uraian berikut akan dibahas hakekat geografi. Menurut Karl Ritter bahwa geografi mempelajari bumi sebagai tempat tinggal manusia. Dalam konsep itu, sebagai tempat tinggal manusia berkenaan dengan ruang yang memiliki struktur, pola, dan proses yang terbentuk oleh aktivitas manusia.

Selain itu konsep “tempat tinggal manusia” tidak hanya terbatas pada permukaan bumi yang ditempati oleh manusia, tetapi juga wilayah-wilayah permukaan bumi yang tidak dihuni oleh manusia sepanjang tempat itu penting artinya bagi kehidupan manusia.

Bertitik tolak pada pemikiran itu studi geografi meluputi segala fenomena yang terdapat dipermukaan bumi, baik alam organik maupun alam anorganik yang ada hubungannya dengan kehidupan manusia. gejala organik dan anorganik itu dianalisis peyebarannya, perkembangannya, interelasinya, dan interaksinya.

Sebagai suatu bidang ilmu, geografi selalu melihat fenomena dalam konteks ruang secara keseluruhan. Gejala dalam ruang diperhatikan secara seksama. Perhatian itu dilakukan dengan selalu mengkaji faktor alam dan faktor manusia, dan keterkaitan keduanya yang membentuk integrasi keruangan di wilayah yang bersangkutan. Gejala – interelasi- interaksi – integrasi keruangan menjadi hakekat kerangka kerja utama geografi. Kerangka analisisnya selalu menggunakan pertanyaan geografi.

7. Klasifikasi dan Cabang-Cabang Geografi

Disiplin ilmu geografi memiliki cakupan obyek yang luas. Obyek itu mencakup fenomena alam dan manusia, dan keterkaitan antar keduanya.Untuk mempelajari obyek yang demikian luas tumbuh cabang-cabang geografi yang dapat memberikan analisis secara mendalam terhadap obyek yang dipelajarinya. Cabang-cabang ilmu geografi dapat dirinci sebagai berikut.

Menurut Huntington, geografi terbagi empat cabang, yaitu:

  1. Geografi Fisik yang mempelajari faktor fisik alam
  2. Pitogeografi yang mempelajari tanaman
  3. Zoogeografi yang mempelajarai hewan
  4. Antropogeografi yang mempelajari manusia.

Menurut Muller dan Rinner, cabang-cabang geografi terdiri atas:

  1. Geografi Fisik yang terdari atas geografi matematika, geografi tanah dan hidrologi, klimatologi, geografi mineral dan sumberdaya, geografi tanaman, dan geografi tata guna lahan
  2. Geografi Manusia meliputi geografi budaya (geografi penduduk, geografi sosial, dan geografi kota), Geografi ekonomi (geografi pertanian, geografi transportasi dan komunikasi) geografi politik
  3. Geografi regional

Menurut Hagget, cabang geografi dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Geografi fisik merupakan cabang geografi yang mempelajari gejala fisik di permukaan bumi. Gejala fisik itu terdiri atas tanah, air, udara dengan segala prosesnya. Bidang kajian dalam geografi fisik adalah gejala alamiah di permukaan bumi yang menjadi lingkungan hidup manusia. Oleh karena itu keberadaan cabang ilmu ini tidak dapat dipisahkan dengan mansuia.
  2. Geografi Manusia
    1. Geografi manusia merupakan cabang geografi yang obyek kajiannya keruangan manusia. Aspek-aspek yang dikaji dalam cabang ini termaasuk kependudukan, aktivitas manusia yang meliputi aktivitas ekonomi, aktivitas politik, aktivitas sosial dan aktivitas budayanya. Dalam melakukan studi aspek kemanusiaan, geografi manusia terbagi dalam cabang-cabang geografi penduduk, geografi ekonomi, geografi politik, geografi permukiman dan geografi sosial.
    2. Geografi penduduk merupakan cabang geografi manusia yang obyek studinya keruangan penduduk. Obyek studi ini meliputi penyebaran, densitas, perbandingan jenis kelamin penduduk dari suatu wilayah.
    3. Geografi Ekonomi merupakan cabang geografi manusia yang bidang kajiannya berupa struktur keruangan aktivitas ekonomi. Titik berat kajiannya pada aspek keruangan struktur ekonomi masyarakat, termasuk bidang pertanian, industri, perdagangan, transportasi, komunikasi, jasa, dan sebagainya. Dalam analisisnya, faktor lingkungan alam ditinjau sebagai faktor pendukung dan penghambat struktur aktivitas ekonomi penduduk. Geografi ekonomi mencakup geografi pertanian, geografi industri, geografi perdagangan, geografi transportasi dan komunikasi.
    4. Geografi Politik merupakan cabang geografi manusia yang bidang kajiannya adalah aspek keruangan pemerintahan atau kenegaraan yang meliputi hubungan regional dan internasional, pemerintahan atau kenegaraan dipermukaan bumi. Dalam geografi politik, lingkungan geografi dijadikan sebagain dasar perkembangan dan hubungan kenegaraan. Bidang kajian geografi politik relatif luas, seperti aspek keruangan, aspek politik, aspek hubungan regional, dan internasional.
    5. Geografi permukiman adalah cabang geografi yang obyek studinya berkaitan dengan perkembangan permukimam di suatu wilayah permukaan bumi. Aspek yang dibahas adalah kapan suatu wilayah dihuni manusia, bagaimana bentuk permukimannya, faktor apa yang mempengaruhi perkembangan dan pola permukiman.
  3. Geografi Regional merupakan diskripsi yang menyeluruh antara aspek manusia dan aspek alam (lingkungan). Fokus kajiannya adalah interelasi, interaksi dan integrasi antara aspek alam dan manusia dalam suatu ruang tertentu.

Dalam pengkajian gejala dan masalah geografi harus selalu terpadu. Walaupun geografi fisik mengkaji aspek fisik, tetapi selalu mengkaitkannya dengan aspek manusia dalam suatu “ruang”. Sebaliknya geografi manusia selalu mengkaitkan dirinya dengan aspek-aspek fisik geografi. Geografi akan kehilangan “jati dirinya” jika tidak terjadi konsep keterpaduan.

Dalam tataran sistematika tersebut, geografi lingkungan merupakan bagian dari geografi regional. Karena, dalam perspektif bidang ini memberi tekanan pada hubungan antara manusia dengan lingkungannya sehingga terlihat karakteristk lingkungan di wilayah tersebut.

8. Pendekatan-Pendekatan Geografi

Geografi merupakan pengetahuan yang mempelajarai fenomena geosfer dengan menggunakan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah. Berdasarkan definisi geografi tersebut ada dua hal penting yang perlu dipahami, yaitu:

  1. obyek studi geografi (Obyek studi geografi adalah fenomena geosfere yang meliputi litosfere, hidrosfera, biosfera, atmosfera, dan antrophosfera), dan
  2. pendekatan geografi

Mendasarkan pada obyek material ini, geografi belum dapat menunjukan jati dirinya. Sebab, disiplin ilmu lain juga memiliki obyek yang sama. Perbedaan geografi dengan disiplin ilmu lain terletak pada pendekatannya. Sejalan dengan hal itu Hagget (1983) mengemukakan tiga pendekatan, yaitu:

  1. pendekatan keruangan,
  2. pendekatan kelingkungan, dan
  3. pendekatan kompleks wilayah

Pendekatan Keruangan.

Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).

Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).

Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

  1. What? Struktur ruang apa itu?
  2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
  3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
  4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
  5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
  6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur

Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.

Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal memiliki kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa contoh seperti cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik dapat diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989).

Agihan kenampakan areal (bidang) dapat berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan seperti kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa gabungan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu disertakan dalam setiap analisisnya.

Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh karena itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang digunakan sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.

Kerangka analisis pendekatan keruangan dapat dicontohkan sebagai berikut.

“….belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di kawasan hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan keruangan?

Untuk itu diperlukan kerangka kerja studi secara mendalam tentang kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan kawasan hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap ini dapat diidentifikasi fenomena/obyek-obyek yang terdapat di kawasan hulu sungai Konto. Setelah itu, pada tahap kedua dapat dilakukan zonasi wilayah berdasarkan kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona berdasarkan kemiringannya, misalnya curam, agak curam, agak landai, landai, dan datar. Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang digunakan untuk konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah langsung dapat dicegah, dan bersamaan dengan itu dapat melakukan budidaya tanaman pertanian pada zona yang sesuai.

Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu dapat digunakan untuk pengembangan kawasan yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat. Jenis tanaman apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya, pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan manusia di situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.

b. Pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach).

Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi

ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan (1) fenomena yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan manusia. (2) perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.

Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi sebagai berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena (phenomena environment). Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu pengembangan nilai dan gagasan, dan kesadaran lingkungan. Ada dua aspek penting dalam pengembangan nilai dan gagasan geografi, yaitu lingkungan budaya gagasan-gagasan geografi, dan proses sosial ekonomi dan perubahan nilai-nilai lingkungan. Dalam kesadaran lingkungan yang penting adalah perubahan pengetahuan lingkungan alam manusianya.

Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu relik fisik tindakan manusia dan fenomena alam. Relic fisik tindakan manusia mencakup penempatan urutan lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan lingkungan. Fenomena lingkungan mencakup produk dan proses organik termasuk penduduk dan produk dan proses anorganik.

Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer tertentu pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang kemudian diangap sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Keenam pertanyaan geografi tersebut selalu menyertai setiap bentuk analisis geografi. Sistematika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Kerangka umum analisis pendekatan kelingkungan dapat dicontohkan sebagai berikut.

Masalah yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor di Ngroto Pujon Malang. Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan kelingkungan dapat diawali dengan tindakan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi kondisi fisik di lokasi tempat terjadinya banjir dan tanah longsor. Dalam identifikasi itu juga perlu dilakukan secara mendalam, termasuk mengidentifikasi jenis tanah, tropografi, tumbuhan, dan hewan yang hidup di lokasi itu. (2) mengidentifikasi gagasan, sikap dan perilaku masyarakat setempat dalam mengelola alam di lokasi tersebut. (3) mengidentifikasi sistem budidaya yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (cara bertanam, irigasi, dan sebagainya). (4) menganalisis hubungan antara sistem budidaya dengan hasil dan dampak yang ditimbulkan. (5) mencari alternatif pemecahan atas permasalahan yang terjadi.

Dalam geografi lingkungan, pendekatan kelingungan mendapat peran yang penting untuk memahami fenomena geosfer. Dengan pendekatan itu fenomena geosfer dapat dipahami secara holistik sehingga pemecahan terhadap masalah yang timbul juga dapat dikonsepsikan secara baik.

c. Pendekatan Kompleks Wilayah

Permasalahan yang terjadi di suatu wilayah tidak hanya melibatkan elemen di wilayah itu. Permasalahan itu terkait dengan elemen di wilayah lain, sehingga keterkaitan antar wilayah tidak dapat dihindarkan. Selain itu, setiap masalah tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Faktor determinannya bersifat kompleks. Oleh karena itu ada kebutuhan memberikan analisis yang kompleks itu untuk memecahkan permasalahan secara lebih luas dan kompleks pula.

Untuk menghadapi permasalahan seperti itu, salah satu alternatif dengan menggunakan pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan itu merupakan kombinasi antara pendekatan yang pertama dan pendekatan yang kedua. Oleh karena sorotan wilayahnya sebagai obyek bersifat multivariate, maka kajian bersifat hirisontal dan vertikal. Kajian horisontal merupakan analisis yang menekankan pada keruangan, sedangkan kajian yang bersifat vertikal menekankan pada aspek kelingkungan. Adanya perbedaan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain telah menciptakan hubungan fungsional antara unit-unit wilayah sehingga tercipta suatu wilayah, sistem yang kompleks sifatnya dan pengkajiannya membutuhkan pendekatan yang multivariate juga.

Kerangka umum analisis pendekatan kompleks wilayah dapat dicontohkan sebagai berikut.

Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana memecahkan masalah urbanisasi. Masalah itu merupakan masalah yang kompleks, melibatkan dua wilayah, yaitu wilayah desa dan kota. Untuk memecahkan masalah itu dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut.

  1. menerapkan pendekatan keruangan, seperti dicontohkan pada pendekatan pertama
  2. menerapkan pendekatan kelingkungan, sebagaimana dicontohkan pada pendekatan kedua
  3. menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor di wilayah desa dengan di kota

9. Paradigma dalam Geografi

Pengertian paradigma secara komprehensif yaitu merupakan kesamaan pandang keilmuan yang didalamnya tercakup asumsi-asumsi, prosedur-prosedur dan penemuan-penemuan yang diterima oleh sekelompok ilmuan dan secara berbarengan menentukan corak/pola kegiatan ilmiah yang tetap. Selain itu, paradigma juga diartikan sebagai keseluruhan kumpulan (konstelasi) kepercayaan, nilai-nilai, cara-cara (teknik) dan sebagainya yang dianut warga suatu komunitas tertentu.

Menurut Harvey dan Holly pengertian paradigma dibedakan atas tiga macam pengertian yaitu:

  1. Paradigma Metafisika atau metaparadigm yang menggambarkan pandangan secara global keseluruhan sebuah ilmu, dimana mempunyai fungsi dasar yaitu, menetapkan apa saja yang sebenarnya (dan yang bukan ) menjadi urusan masyarakat ilmiah tertentu, memberi petunjuk kepada ilmuwan kearah mana melihat (dan arah mana yang tidak usah dilihat) agar menemukan apa-apa yang sebenarnya menjadi urusannya, serta memberi petunjuk kepada ilmuwan apa yang dapat diharapkan untuk ditemukan jika ia mendapatkan dan menyelidiki apa-apa yang sebenarnya menjadi urusan dalam bidang ilmunya.Paradigma ini mencakup wilayah konsensus paling luas dalam suatu disiplin dan menetapkan bagian-bagian wilayah penelitian.
  2. Paradigma Sosiologis, pengertiannya hanya terbatas pada keberhasilan ilmiah yang konkret yang mendapat pengakuan secara universal.
  3. Paradigma Artefak atau Construct paradigm mengandung artian paling sempit, yang dapat berarti apa-apa yang secara khas (spesifik) termuat dalam suatu buku, instrumen ataupun hasil karya pengetahuan klasik. Secara konseptual paradigma Artefak ada dalam lingkup cakupan paradigma Sosiologis, dan paradigma Sosiologis ada dalam lingkup cakupan Metaparadigm.

Dari segi ini ternyata geografi sosial sebagai ilmu telah mengalami berbagai periode perkembangannya. Masing-masing periode menunjukkan kesamaan karakter persepsi terhadap apa yang disebut sebagai suatu Paradigma.

Contoh paradigma dalam geografi sosial antara lain yaitu :

  1. Paradigma Determinisme lingkungan yang dikembangkan oleh Ratzel
  2. Paradigma atau faham Posibilitis sekaligus sebagai salah satu pengembang paradigma regional yang dikembangkan oleh Vidal
  3. Paradigma Bentang alam budaya yang juga menerapkan pendekatan kesejahteraan yang dikembangkan oleh Saver
  4. Paradigma Regional di Amerika yang dikembangkan oleh Hatshorne
  5. Paradigma Keruangan yang dikembangkan oleh Schaefer yang merupakan penganut positivisme ilmu

Sebenarnya perkembangan keilmuan yang terjadi pada ilmu pengetahuan bersifat evolutif dan berjalan melalui kurun waktu yang relatif panjang sehingga perkembangan-perkembangan yang telah berkembang sebelumnya, sejalan dengan perkembangan kualitas ilmu pengetahuan beserta alat-alat bantu penelitian dan analisisnya.

10. Periode Perkembangan Paradigma-paradigma Tradisional

Pada masa paradigma tradisional muncul 3 macam paradigma dalam studi geografi. Secara garis besarnya dimulai sebelum tahun 1960-an, antara lain:

  1. Paradigma Eksplorasi
  2. Paradigma Environmentalisme
  3. Paradigma Regionalisme

Masing-masing paradigma ini menunjukkan sifat-sifatnya sendiri dan produknya yang merupakan pencerminan perkembangan suatu tuntutan kehidupan serta pencerminan perkembangan teknologi penelitian serta analisis yang ada.

a. Paradigma eksplorasi

Menunjukkan proses perkembangan awal dari pada “geographical thought” yang pernah dikenal arsipnya. Kekuasaan paradigma ekplorasi ini terlihat dari upaya pemetaan-pemetaan, penggambaran-penggambaran tempat-tempat baru yang belum banyak diketahui dan pengumpulan fakta-fakta baru yang belum banyak diketahui dan pengumpulan tempat-tempat baru yang belum banyak diketahui dan pengumpulan fakta-fakta dasar yang berhubungan dengan daerah-daerah baru. Dari kegiatan inilah kemudian muncul tulisan-tulisan atau gambaran-gambaran, peta-peta daerah baru yang sangat menarik dan menumbuhkan motivasi yang kuat bagi para peneliti untuk lebih menyempurnakan produk yang sudah ada, baik berupa tulisan maupun peta-petanya.

Penemuan-penemuan daerah baru yang sebelumnya belum banyak dikenal oleh masyarakat barat mulai bermunculan pada saat itu. Sifat dari pada produk yang dihasilkan berupa deskriptif dan klasifikasi daerah baru beserta fakta-fakta lapangannya. Suatu hal yang mencolok adalah sangat terbatasnya latar belakang teoritis yang mendasari penelitian-penelitian yang dilaksanakan. Inilah sebabnya ada beberapa pihak yang menganggap bahwa untuk menyebut perkembangan “geographical thought” atau pikiran/ gagasan secara geografi sebagai suatu deskripsi sederhana tentang apa yang diketahui dan dihasilkan dari pengaturan (ordering) dan klasifikasi (classification) data yang masih sangat sederhana.

b. Paradigma Environmentalisme

Paradigma ini muncul sebagai perkembangan selanjutnya dari metode terdahulu. Pentingnya sajian yang lebih akurat dan detail telah menuntut peneliti-peneliti pada masa ini untuk melakukan pengukuran-pengukuran lebih mendalam lagi mengenai elemen-elemen lingkungan fisik dimana kehidupan manusia berlangsung. Paradigma ini terlihat mencuat pada akhir abad sembilan belas, dimana pendapat mengenai peranan yang besar dari “lingkungan fisik” terhadap pola-pola kegiatan manusia di permukaan bumi bergaung begitu lantang (geographical determinism). Bahkan, sampai pertengahan abad dua puluh saja, ide-ide ini masih terasa gemanya.

Bentuk-bentuk analisis morfometrik dan analisis sebab-akibat mulai banyak dilakukan. Dalam beberapa hal “morphometric analysis” pada taraf mula ini berakar pada “cognitive description”dimana pengembangan sistem geometris, keruangan dan koordinat yang dikerjakan telah membuahkan sistematisasi dan klasifikasi data yang lebih lengkap, akurat dibandingkan dengan tehnik-tehnik terdahulu.

Muncul analisis newtwork untuk mempelajari pola dan bentuk-bentuk kota misalnya, merupakan salah satu contohnya dan kemudian sampai batas-batas tertentu dapat digunakan untuk membuat prediksi (model-model prediksi)dan simulasi. Untuk ini, karya Walter Christaller (1993) merupakan contoh yang baik. Upaya untuk menjelaskan terkondisinya fenomena-fenomena tertentu, khususnya “human phenomena” oleh elemen-elemen lingkungan fisik mulai dikerjakan lebih baik dan sistematik. Akar daripada latar belakang analisis hubungan antara manusia dan lingkungan alam bermulai disini.

Perkembangannya kemudian nampak bahwa analisis hubungan antara manusia dengan lingkungan alam telah memunculkan bentuk-bentuk lain di dalam menempatkan manusia pada ekosistem. Manusia tidak lagi sepenuhnya didekte oleh lingkungan alam tetapi manusia mempunyai peranan yang lebih besar lagi di dalam menentukan bentuk-bentuk kegiatannya di permukaan bumi (geographical possibilism dan probabilism).

c. Paradigma Regionalisme

Perkembangan terakhir dari periode paradigma tradisional adalah paradigma Regionalisme. Disini nampak unsur “fact finding tradition of exploration” di satu sisi dan upaya memunculkan sistesis hubungan manusia dan lingkungannya di sisi lain nampak mewarnai paradigma ini. Konsep-konsep region bermunculan sebagai dasar pengenalan ruang yang lebih detail.

Wilayah ditinjau dari segi tipenya (formal and functional regions) wilayah ditinjau dari segi hirarkinya (the 1st order, the 2nd order, the3rd order, etc. Regions) dan wilayah ditinjau dari segi kategorinya (single topic, duoble topic, combine topic, multiple topic, total, regions) adalah beberapa contoh konsep-konsep yang muncul sejalan dengan berkembangnya paradigma regionalisme ini, dalam membantu analisis. Disamping itu “temporal analysis” sebagai salah satu bentuk “causal analysis” berkembang pula pada periode ini (Rostow, 1960; Harvey, 1969).

12. Periode Perkembangan Paradigma-Paradigma Kontemporer

Pada masa ini mulai terjadi perkembangan baru di bidang metode analisis kuantitatif dan “model building”. Perkembangan paradigma geografi pada msa ini juga disebut sebagai periode paradigma analisis keruangan (the spatial analysis paradigm). Coffey (1981) mengemukakan tentang ciri-ciri paradigma geografi kontemporer antara lain yaitu adanya sinyalemen bahwa salah satu ciri daripada geografi kontemporer adalah adanya kecenderungan spesialisasi yang dikhawatirkan akan menjauh dari fitrah geografi sendiri. Hal ini ternyata sejalan dengan apa yang masing-masing spesialisasi ini menjadi sedemikian terpisah atau salah satu sama lain sehingga hubungan intelektualnya pudar.

Kemudian dikemukakan pula bahwa untuk mengatasi agar bahaya yang disinyalir oleh para pakar mengenai pudarnya fitrah geografi adalah dengan pendekatan sistem, khususnya spatial system approach. Untuk sampai ke arah ini, dengan sendirinya pengetahuan dasar mengenai sistem sendiri harus dimiliki oleh mahasiswa geografi. Pada masa ini functional analysis, ecological analysis dan system analysis berkembang dengan baik pula sejalan dengan inovasi daripada teknik-teknik dan metode analisis (Holt-Jensen, 1980).

Ide untuk kembali ke fitrah geografi memang berulang-ulang didengungkan oleh para pakar. Hal ini memang wajar sekali karena telah disinyalir munculnya penyimpangan-penyimpangan yang dianggap mengaburkan ciri khas geografi itu sendiri. Selama perkembangannya, ada dua gerakan munculnya ide sintesis ini. Gerakan pertama kali dikemukakan oleh Ritter dimana studi Geografi tidak lain dianggap sebagai suatu “regional synthesis”. Semua fenomena dianggap berhubungan satu sama lain dan masing-masing mempunyai peranannya yang khas dalam satu perangkat sistem. Untuk itulah geografiwan harus mempelajari sintesis daripada gejala-gejala yang ada pada suatu wilayah dan yang mengungkapkan apa yang disebut sebagai “wholeness”. Ide pendekatan sistem memang tidak dapat dipisahkan dari pemikiran-pemikiran ini.

Konsep sintesis baru dikemukakan oleh Peter Haggett (1975) di dalam karyanya yang berjudul “Geography : A Modern Synthesis”. Sintesis baru ini berusaha merangkum beberapa pendekatan terdahulu sampai saat ini dengan memberi warna yang lebih fleksibel sesuai dengan tuntutan zaman dan kemajuan di bidang teknologi.

13. Arti Penting Pendekatan dalam Paradigma Geografi

Dalam menghampiri, menganalisis gejala dan permasalahan suatu ilmu (sains), maka diperlukan suatu metode pendekatan (approach method). Metode pendekatan inilah yang digunakan untuk membedakan kajian geografi dengan ilmu lainnya, meskipun obyek kajiannya sama. Metode pendekatan ini terbagi 3 macam bentuk pendekatan antara lain: pendekatan keruangan, pendekatan ekologi/kelingkungan dan pendekatan kewilayahan.

  1. Keruangan, analisis yang perlu diperhatikan adalah penyebaran, penggunaan ruang dan perencanaan ruang. Dalam analisis peruangan dikumpulkan data ruang disuatu tempat atau wilayah yang terdiri dari data titik (point), data bidang (areal) dan data garis (line) meliputi jalan dan sungai.
  2. Kelingkungan, yaitu menerapkan konsep ekosistem dalam mengkaji suatu permasalahan geografi, fenomena, gaya dan masalah mempunyai keterkaitan aspek fisik dengan aspek manusia dalam suatu ruang.
  3. Kewilayahan, yang dikaji yaitu tentang penyebaran fenomena, gaya dan masalah dalam ruangan, interaksi antar/variabel manusia dan variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Karena pendekatan kewilayahan merupakan perpaduan antara pendekatan keruangan dan kelingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya.

Pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. Jadi fenomena, gejala dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. Penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif-alternatif pemecahan masalah.

14. Tantangan Geografi Ke Depan

a. Dampak Teknologi Komunikasi dan Internet

Sekiar tahun 1990 beredar buku megatrend 2000. Dalam buku itu Naibit dan Arburdense (1990) mensinyalair ada sepuluh kecenderungan (trend) yang akan terjadi pada tahun 2000-an, yaitu:

  1. masyarakat informasi menjadi masyarakat industri
  2. teknologi pasca menjadi high tech
  3. ekonomi nasional menjadi ekonomi dunia
  4. jangka pendek menjadi jangka panjang
  5. sentralisasi menjadi desentralisasi
  6. bantuan institusional menjadi bantuan diri
  7. demokrasi representatif menjadi demokrasi partisipatif
  8. hirarki menjadi jaringan
  9. utara menjadi selatan
  10. salah satu menjadi pilihan ganda

Bedasarkan ramalan itu tampak bahwa dewasa ini terjadi perubahan dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi. Informasi telah menjadi bagian penting bagi individu, masyarakat dan negara. Informasi merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari untuk pengambilan keputusan.

Keberadaan masyarakat informasi dewasa ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi komuniasi dan internet. Integrasi kedua teknologi itu telah melipatkan gandakan informasi dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang cepat. Intergrasi teknologi komputer dengan teknologi komunikasi itu telah mewujudkan suatu jaringan besar antar warga negara tanpa harus diikat dengan batas-batas negara yang bersangkutan (bordeless).

Teknologi itu telah mampu membuktikan sebagai wahana untuk mengolah (procesess) data menjadi informasi dengan cepat. Selain itu teknologi itu juga telah mampu digunakan sebagai infrastruktur untuk pengiriman data atau informasi secara cepat, murah dan praktis.

Disiplin geografi merupakan salah satu bidang ilmu yang memerlukan infrastruktur untuk mengolah data geografis menjadi informsi geografi secara cepat. Informsi geografi hasil prosesing itu dibutuhkan oleh berbagai bidang untuk pengembangan wilayah, konsrvasi sumburdaya, penataan ruang, dan sebagainya.

Dalam mempelajari obyeknya, disiplin geografi menggunakan pendekatan keruangan. Dalam pendekatan itu struktur, pola dan proses keruangan harus dapat dipelajari dengan baik dan cepat.

Untuk mempelajari aspek keruangan seperti itu teknologi komputer telah menyediakan program-program analisis keruangan yang makin praktis dan mudah dioperasikan. Dengan kemudahan itu informasi geografi dapat lebih cepat dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan.

Dengan teknolgi internet informasi dapat dengan mudah dan cepat dikirim keseluruh penjuru dunia. Hal itu tidak hanya bermakna untuk penyebaran informasi, tetapi juga untuk memberikan paradigma baru dalam pengelolaan lingkungan menuju keberlanjutan. Sebagaimana permasalahan lingkungan dewasa ini yang paling serius adalah mewujudkan keberlanjutannya.

Dengan kehadiran komputer sebagai komponen teknologi informasi proses analisis dan integrasi yang rumit kalau dikerjakan secara manual akan menjadi mudah, cepat dan akurat (Sutanto, 2000). Oleh karena itu dalam 2 (dua) dekade belakangan ini peran teknologi informasi dalam aplikasi ilmu geografi berkembang dengan cepat dan mejadi kebutuhan yang penting bagi setiap warganegara untuk mengelola wilayah dan sumberdayanya. Pemanafaatan teknologi informasi dlam aplikasi ilmu geografi dikenana dengan Sistem Informasi geografi (SIG). SIG dewasa ini telah berkembang dengan pesat karena didukung dengan teknologi pengindraan jauh (inderaja) dan Global Posistion System (GPS).