Archive for the 'SMAN 8' Category

Berita Duka Cita

Desember 29, 2015

BERITA DUKA CITA

Inna Lillahi Wa inna Ilahi Raji’un

06.Subroto

Telah wafat Bapak Soebroto, Kepala Sekolah SMA Negeri 8 Jakarta Tahun 1982-1985, pada hari Senin, 28 Desember 2015 pukul 22.25 WIB di RS Medistra Jakarta Selatan. Alamat Rumah duka : Jl. Pondok Kelapa III Kac. PTB DKI Blok B6. No. 14 Kelurahan  Pondok Kelapa. Kec. Duren Sawut Jakarta Timur.

Keluarga Besar SMA Negeri 8 Turut Berduka cita, semoga Allah mengampuni semua kesalahan dan menerima amal  ibadah almarhum, aamiin.

Beasiswa Buat Guru

Januari 1, 2010

BEASISWA PROGRAM PASCASARJANA
DIREKTORAT PENDIDIKAN MADRASAH DITJEN PENDIDIKAN ISLAM
DEPARTEMEN AGAMA
TAHUN 2006

A. Sasaran :

1. Guru bidang studi matematika, kimia, fisika, biologi, bahasa Arab dan bahasa Inggris pada MTs dan MA negeri maupun swasta, PNS maupun non-PNS.
2. Guru pendidikan agama Islam (PAI) pada MTs, MA, SMP, dan SMA negeri maupun swasta, PNS maupun non-PNS.
3. Pegawai di lingkungan Mapenda pusat dan daerah untuk program studi kurikulum dan evaluasi pendidikan.
4. Pengawas di lingkungan Departemen Agama untuk program pascasarjana bidang manajemen pendidikan.

B. Persyaratan :

– Umum :

1. Mengisi formulir pendaftaran;
2. Berusia maksimal 40 tahun untuk guru bidang studi dan 50 tahun untuk pengawas dan tenaga truktural pada saat pendaftaran;
3. Menyerahkan fotocopy ijazah terakhir dan dilegalisir sebanyak 2 lembar;
4. Melampirkan fotocopy nilai (IPK) minimal 2,75 dan dilegalisir sebanyak 2 lembar;
5. Melampirkan pas photo berwarna ukuran 2 x 3 sebanyak 2 lembar;
6. Melampirkan SK mengajar dari Yayasan/Kepala madrasah/sekolah/Kandepag/Kakanwil;
7. Melampirkan Surat Persetujuan dari kepala madrasah / sekolah / instansi;
8. Sanggup menyelesaikan studi maksimal 2 tahun, dibuktikan dengan surat pernyataan di atas materai Rp. 6.000,- (diminta setelah dinyatakan lulus oleh Perguruan Tinggi yang relevan).

– Khusus:

1. Sedang mengajar di madrasah / sekolah minimal 5 tahun yang dibuktikan dengan surat keterangan kepala madrasah / sekolah yang bersangkutan;
2. Program studi yang dipilih sesuai dengan bidang studi yang diajarkan dan ijazah S1 yang dimiliki, kecuali untuk manajemen pendidikan, evaluasi, dan kurikulum;
3. Selama melaksanakan studi, yang bersangkutan dibebastugaskan dari mengajar atau tugas lainnya.

Fujitsu 2010 Beasiswa

Januari 1, 2010

ujitsu, sebuah perusahaan produsen komputer menawarkan program beasiswa manajemen kepemimpinan global di Japan-America Institute of Management Science (JAIMS) tahun 2010 bagi mahasiswa yang berasal dari wilayah Asia-Pasific* termasuk diantaranya Indonesia.

Program beasiswa ini bertujuan memberikan kesempatan bagi masyarakat di Asia Pasifik untuk memberikan sumbangsih lewat pembelajaran nilai dan budaya yang berbeda, serta bisnis global. Fujitsu memberikan beasiswa bagi program baru di JAIMS, yakni East-West Leaders Program (EWKLP) yang bertujuan menyiapkan generasi baru pemimpin bisnis.

Pendaftaran permohonan beasiswa ini dibuka hingga 10 Maret 2010. Dilanjutkan dengan wawancara pada April dan pemilihan peserta di bulan Mei.

JAIMS EWKLP 2010 Fall Term ini akan berlangsung mulai 11 Oktober 2010 hingga 6 Januari 2011 di Hawaii, AS dan Jepang. Program EWKLP menggabungkan praktik-praktik terbaik dari Timur dan Barat dengan format pembelajaran intensif. Setelah masa perkuliahan di Hawaii, peserta akan diundang ke Jepang untuk mengikuti berbagai kegiatan terkait kebudayaan, pendalaman tentang Fujitsu dan pemberian penghargaan.

Beasiswa Fujitsu ini meliputi:

* Tuition and Fees for the EWKLP
* Stipend Toward Living Expenses
* Airfare
* Health Insurance
* Housing Arrangements
* Visa Arrangements

Persyaratan:

1. A bachelor’s degree or a degree equivalent to a four-year standard baccalaureate degree in any discipline from a regionally or nationally accredited institution.
2. Cumulative grade point average of 3.0 on a 4.0 scale.
3. A minimum TOEFL score of 577/233/90 (paper/computer/Internet), TOEIC score of 750, or IELTS overall band test result of 6.5 or higher from tests taken between March 2008 and March 2010. Applicants who received a bachelor’s degree or an advanced degree with at least two years of full-time coursework within the last five years from a regionally accredited institution in the United States, Australia, United Kingdom, or New Zealand; or from a university in Canada, Africa or Singapore, where English is the language of instruction are exempt from taking the TOEFL, TOEIC, or IELTS.
4. A minimum of three years of relevant full-time work experience (five years preferred) at the time of application.

Cara Pendaftaran

1. Download the Fujitsu Scholarship Application Packet from the bottom of the Application Checklist.
2. If you are unable to do so, please request the application packets through your local Fujitsu Limited affiliated office. You can find your local affiliate from this list here.
3. Complete and submit all documents listed on the Application Checklist.
4. Deadline for submission: March 19, 2010
Applicants who fail to submit all documents by the due date cannot be considered.
Submitted application documents will not be returned to applicants.
5. Submit all application materials to:
Fujitsu Hawaii Representative Office
c/o JAIMS
6660 Hawaii Kai Drive
Honolulu, HI 96825
U.S.A.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai beasiswa fujitsu, silakan hubungi contact information for Indonesia:

Mr. Raditya Padmawangsa and Ms. Erni Rahmawati

PT Fujitsu Indonesia
Tel: +62-21-570-9330
Fax: +62-21-573-5150
E-mail:scholarship@id.fujitsu.com

Address: Wisma Kyoei Prince 10th Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav. 3-4 , Jakarta
Indonesia
10220

Informasi terkait publikasi beasiswa fujitsu bisa dilihat di beberapa link berikut:

1. Fujitsu scholarship 2010
2. detikiNet – Fujitsu tawarkan beasiswa bagi Indonesia
3. the Official Website: http://www.fujitsu.com/global/about/responsibility/community/scholarship/

*) the state of Hawaii, U.S.A., or a citizen of one of the following countries: Australia, Cambodia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, New Zealand, the Philippines, Singapore, South Korea, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, or Vietnam.

Bagian 1 : Rencanakan Pendidikan Masa Depan berarti Merencanakan Hidup

Mei 31, 2009

Masa kelas XI telah berakhir, banyak kenangan yang telah terlewati. Dari kenangan indah hingga kenangan yang mungkin mengharu biru. Dapat kekasih, dapat nilai mid semester bagus, dan tentunya naik kelas. Di sisi lain mungkin saja, kehilangan HP, terlambat masuk hingga orang tua dipanggil, hingga ketahun menyontek. Semuanya tetap menjadi kenangan indah kelas XI.
Kelas XI tetap harus dilewati karena tidak selama siswa kelas XI terus. Siswa akan memasuki masa perjuangan sesungguhnya. Kelas X dan XI amat menentukan perjuangan siswa selanjutnya. Jika siswa telah terbiasa berjuang keras, membangun kompetisi yang sehat, menetapkan pilihan perkuliahan, maka akan lebih mufah menghadapi dan mengisi hari-hari di kelas XII. Kemampuan dasar akademis ditanamkan di kelas X dan XI, kelas XII berupa pengulangan dan penguatan. Dapat dipastikan bahwa materi pembelajaran sepenuhnya diberikan di kelas X dan XI. Kelas XII hanya berisikan sebagian kecil materi pokok.
SMA Negeri 8 Jakarta sebagai sebuah sekolah unggulan nasional, mempunyai sebuah formulasi untuk membuat siswanya dapat berhasil mencapai cita-cita. Cita-cita yang paling dekat adalah berkuliah di Perguruan Tinggi sesuai dengan minat dan kemampuan.
Tulisan ini kami buat sebagai gambaran kegiatan siswa kelas XII saat menjalani hari-hari di sekolah dan kegiatan luar sekolah, sehingga siswa mampu untuk mewujudkan cita-citanya. Tulisan ini didasarkan pada pengalama menjadi guru Bimbingan Konseling di SMA Negri 8 Jakarta. Sehingga mungkin saja yang kami tuliskan di paparan ini tidak sesuai dengan kenyataan setiap individu. Minimal para siswa mendapatkan gambaran tentang persiapan kakak-kakak mereka di tahun lalu mewujudkan cita-citanya.
Sebenarnya ada 4 aspek yang akan kami bicarakan, yaitu siswa, guru, bimbingan tes/belajar dan orang tua. Kami akan lebih banyak membicarakan 3 aspek, yaitu siswa, bimbingan belajar/tes dan orang tua. Bukan mengecilkan arti peran guru, tetapi lebih kearah penghormatan kepada guru, yang telah berjuang menanamkan pondasi keilmuan, dan selalu dilupakan saat siswa diterima di Perguruan Tinggi. Siswa dan orang tua hanya akan mengingat Bimbingan Belajar/tes yang telah mengantarkan siswa mampu berjuang dalam ujian masuk perguruan tinggi. Kewajiban guru hanya mempersiapkan siswa mampu menghadapi ujian nasional. Tetapi terkadang menjadi lucu ketika siswa gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, justru guru yang dipersalahkan. Terkadang siswa juga akan menyakiti guru ketika mendekati masa-masa ujian masuk perguruan tinggi, dengan seenaknya siswa meninggalkan kelas menuju bimbingan belajar. Guru akan tetap bersemangat mengajar para siswa yang tersisa di kelas dengan semangat dan senyum. Guru SMA Negeri 8 Jakarta akan tetap berdoa untuk kebaikan anak didik.
Tiga tahun yang lalu para siswa datang ke SMA Negeri 8 Jakarta dengan semangat yang amat tinggi, mewujudkan cita-cita, bukan hanya dapat masuk ke SMA Negeri 8 Jakarta, tetapi berkompetisi dengan para siswa terbaik se-Jakarta, juga tetap dalam jalur yang benar, menuju universitas pilihan. SMA Negeri 8 Jakarta selalu menjadi pilihan siswa SMP, sehingga rata-rata nilai masuk menjadi tinggi. Tahun lalu saja sudah mencapai angka rata-rata 9,3. Nuan SMP tertinggi DKI dapat dipastikan selalu menjadi siswa SMA Negeri 8 Jakarta. Sehingga dapat dipastikan, siswa SMA Negeri 8 Jakarta adalah sekumpulan anak terbaik di DKI Jakarta. Sebuah beban berat yang harus dipikul para guru. Mendidik anak pandai, justru tidak semudah mendidikan anak dengan kemampuan rata-rata. Argumentasi dan logika menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pengajaran di SMA Negeri 8 Jakarta. “Kenapa demikian, Pak?”. Atau,”Bukannya ……., Bu ?”.
Di SMA Negeri 8 Jakarta, posisi siswa akan terlihat dari 3-4 bulan pertama di sekolah. Ada siswa yang langsung mampu beradaptasi, ada yang tidak peduli, atau ada juga yang sudan berteriak akan ketidak nyamanan. Siswa yang dari asal SMP telah menikmati kompetisi secara akan terus mampu menikmati pembelajaran, tetapi yang “karbitan” akan mulai tersengal-sengal. Akan lebih parah terhadap siswa yang hanya mampu mempunyai nilai baik saat UJIAN NASIONAL saja. Ini masa lalu siswa, jadi tidak perlu dibicarakan lagi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
• Tentukan Pilihan Cita-cita, Jurusan dan Perguruan Tinggi
• Ubah mental dan pola belajar
• Selalu evaluasi kemajuan dan kekurangan
• Menjaga komitmen

Tentukan Pilihan Cita-cita, Jurusan dan Perguruan Tinggi
Cita-cita, jurusan dan Perguruan Tinggi merupakan awal dan roh perjuangan siswa. Kalau hanya lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, jangan melanjutkan membaca tulisan ini. Banyak siswa bahkan sampai kelas XII semester genap belum tahu mau jadi apa, akhirnya semua ujian masuk perguruan tinggi dicobanya. Hasilnya bisa ditebak.
Beberapa anak akan mengikuti profesi bapak atau ibunya, beberapa anak terinspirasi paman atau kakaknya, tetapi banyak juga yang dipaksa orang tuanya. Kebijaksanaan orang tua melihat potensi dan kemampuan siswa , serta kemauan siswa justru akan menjadi kekuatan yang berlimpah dan kontinyu.
Terkadang cita-cita masa kecil akan berubah dengan perubahan masa usia, level sekolah dan bahkan tingkat hubungan dengan orang sekitar. Ada siswa yang dari kecil ingin menjadi dokter, keluarga di rumah memang lulusan kedokteran, akan berubah saat bertemu dengan orang tua siswa lain yang berhasil di Pemerintahan misalnya. Atau akan berbeda juga ketika seorang anak menentang orang tuanya karena tidak mau menjadi ABRI atau birokrat hanya karena melihat tanyangan kekerasan saat demonstrasi.
Tetapi yang paling nyata terlihat adalah sesbuah kondisi keberhasilan hidup yang selalu ditilai dengan “kemampanan”. Orang tua akan amat berbahagia, apabila anaknya bisa masuk ke Pendidikan Dokter. Seakan telah memenangkan perjuangan hidup. Menjadi dokter adalah pilihan hamper 80% siswa dan oran tua. Selain masa depan yang pasti dokter juga masih merupakan profesi terhormat dan “kaum terdidik”.
Banyak hal yang membuat orang menentukan sebuah cita-cita, dan yakini cita-cita adalah sebuah proses pemilihan dan bahkan menentukan pilihan hidup seseorang. Karena sebuah proses, maka seseorang akan menentukan sebaik mungkin. Bukan secepat mungkin, bukan kata “si A”, bukan karena tidak enak dengan “si B” atau lainnya. Ada pun factor-faktor yang menyebabkan “pendewasaa” cita-cita adalah :
1. Pendidikan Orang tua dan sikap hidupnya
2. Informasi dari keluarga, guru atau rekan di sekolah
3. Perguruan Tinggi
4. Dunia kerja
5. Lain-lain

Orang tua bisa menjadi faktor yang menyulitkan siswa, dalam menentukan pilihan jurusan saat pemilihan jurusan atau fakultas. Sebagian orang tua yang melihat perkembanganya anaknya, tahu akan nilai-nilai rapor, sering berbicara tentang masa depan, diskusi yang acap kali terjadi di meja makan malam atau mendampingi anak untuk datang ke Pameran Pendidikan akan lebih terbuka akan pilihan-pilihan. Berbahagialah para siswa yang mempunyai orang tua yang mendukung cita-citanya, minimal satu kendala telah teratasi. Bayangkan beban siswa akan bertambah harus mempersiapkan bahan ujian, stress dengan kompetitor di sekolah, bahkan tertekan dengan nilai-nilai Try Out yang tidak naik-naik.
Orang tua yang mempunyai pandangan terbuka, dimana para siswa diperkenankan memilih untuk hidupnya. Tidak kaget oleh pilihan siswa yang berbeda, atau malah menjadi teman dalam memilih jurusan atau fakultas, wah berbahagia sekali. Ketika ada sedikit perbedaa, maka para siswa akan mencari sumber lain untuk “meridhoi”pilihannya sendiri. Bisa keluarga. guru aatau teman. Alangkan bagusnya jika informasi yang adalah gabungan dari ketiganya. Karena ketiganya punya kekurangan.
Tentunya jika anak diberikan perangkat teknologi akan lebih baik lagi. Dunia maya tersedia banyak informasi terkini. Situs perguruan tinggi mudah diakses. Siswa yang ikut milis beasiswa atau milis pendidikan daripada siswa yang terlalu “jadul” dengan teknologi. Apalagi belakangan ini banyak mahasiswa atau siswa sering bertukar informasi dan pengalaman menghadapi Ujian seleksi masuk perguruan tinggi, blog bahkan facebook menjadi ajang pertukaran informasi.
Tiap hari Sabtu dan Minggu, beberapa siswa kelas XI mulai rajin melihat lapangan kerja, mereka ingin mendapatkan informasi kebutuhan pasar. Beberapa bidang pekerjaan memang tidak diiklankan, tetapi minimal siswa tahu. Jurusan dan Fakutas apa yang sedang tren.

Ubah mental dan pola belajar
Ini bagian kedua yang terpenting. Ketika siswa telah menentukan cita-cita atau pilihan ini, maka target telah terpilih. Saya selalu meminta para siswa untuk punya target berisi dua hal, target jurusan dan target fakultas/PTN-nya. Jika siswa memilih Pendidikan Dokter, maka PTN bisa di UI atau di tempat lain. Tetapi jika memilih UI lebih dahulu, maka siswa akan hanya mempunyai pilihan sekitar 38 jurusan yang ada di UI.
Kalimat saya kepada siswa adalah ubah mental dan pola belajar. Target naik kelas menjadi diterima di perguruan tinggi. Naik kelas, lulus dari sekolah dengan metode ujian yang berbeda. Keduanya menggunakan pola ujian EVALUASI. Sementara diterima di PTN adalah pola ujian SELEKSI. Pola evaluasi akan lebih mudah dilalui, karena semua soal yang diujikan pasti telah dipelajari dan dilatih. Patokan nilai kelulusan jelas sekali, sehingga siswa berpikir untuk lulus dengan berapa soal harus dijawab dengan benar. Pola evaluasi dilakukan untuk mengakhiri sebuah kegiatan belajar mengajar.
Pola seleksi, dilakukan oleh lembaga di luar yang memberi pembelajaran. Walau pun ada standar nilai terendah untuk dapat ikut seleksi kelulusan, tetapi sesungguhnya batas kelulusan bukan nilai mutlak, tetapi lebih kearah jumlah daya tampung yang tersedia. Daya tampung menjadi faktor pembatas.
Satu sikap mental yang paling utama harus ada dari kondisi ini adalah : mental kompetisi. Ujian masuk perguruan tinggi adalah ajang kompetisi. Siswa yang terbiasa berkompetisi pasti akan mencari nilai terbaik, dan hanya siswa yang mempuyai kompetensi yang baik di semua mata uji,
Sebuah keberhasilan ada di puncak karena di bawahnya ada ribuan tumpukan kegagalan. Selama ini orang hanya melihat sebuah keberhasilan, tidak melihat prose situ terjadi, ribuan kegagalan menyertai. Konsistensi adalah sikap mental kedua.