Archive for the 'pengembangn diri' Category

DAK 2,2 triliyun di kememdiknas RAIB

November 24, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan terus mengusut kasus dugaan korupsi di Kementerian Pendidikan Nasional, terutama pada dinas-dinas pendidikan di daerah yang terjadi sekitar tahun 2009. KPK sendiri pernah melakukan kajian terhadap pengelolaan Dana Alokasi Khusus atau DAK Kemdiknas Tahun 2009 dengan nilai Rp 9,3 triliun.
Penyelewengan tersebut bukan tanpa sebab. KPK melihat ada tiga alasan yang membuat pengelolaan DAK tidak sesuai tujuannya.
— Johan Budi SP

Demikian disampaikan Juru Bicara KPK Johan Budi SP di kantor KPK, Jakarta, Rabu (24/11/2010). Berdasarkan hasil kajian tersebut, KPK menemukan penyimpangan sebesar Rp 2,2 triliun dalam pengelolaannya yang diterapkan pada 451 kabupaten/kota di Indonesia.

“Yang sudah masuk ke penyelidikan adalah penggunaan anggaran Diknas tahun 2009 bagi daerah-daerah,” ucap Johan.

Johan mengungkapkan, penyelewengan tersebut bukan tanpa sebab. KPK melihat ada tiga alasan yang membuat pengelolaan DAK tidak sesuai tujuannya.

“Tiga alasan tersebut adalah tidak adanya ketidaksesuaian alokasi dana dan realisasi, terjadinya penyimpangan pemanfaatan dana dalam pelaksanaannya, terutama untuk pembayaran jasa konsultan dan izin mendirikan bangunan (IMB), serta sulitnya monitoring dalam bidang pengawasan karena tidak semua pemerintah daerah mau menyampaikan laporan kepada Departemen Pendidikan Nasional,” ujar Johan.

Sertifikasi Guru

November 24, 2010

Oleh Waras Kamdi

KOMPAS.com — Fenomena kecurangan dalam pelaksanaan Sertifikasi Guru Dalam-Jabatan lewat portofolio kian menguak apa yang sesungguhnya telah jadi rahasia umum. Terungkapnya kasus plagiasi 1.700 guru di Riau menunjukkan sebagian kecil dari kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi guru.

Banyak masyarakat yang merisaukan aneka pelanggaran itu, tetapi program sertifikasi terus saja melaju atas nama pemenuhan amanat peraturan perundang-undangan. Kerisauan juga berkembang di kalangan pimpinan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), terutama yang diserahi tugas melaksanakan sertifikasi tersebut.

Dalam lima tahun terakhir (2006-2009), lebih dari 500.000 guru telah diberi sertifikat oleh LPTK yang ditunjuk pemerintah (Kompas, 1/11/2010). Namun, hingga detik ini belum ada kabar menggembirakan adanya peningkatan kinerja guru bersertifikat pendidik itu.

Malahan, sertifikasi telah sempurna menyemaikan dan menyuburkan budaya jalan pintas yang amat mencederai sosok profesional guru itu sendiri. Publik hanya tahu guru-guru bersertifikat itu buah karya LPTK. Ketika mereka gagal mewujudkan impian publik akan peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air, LPTK-lah yang pertama akan ditagih akuntabilitasnya.

Ini sungguh tagihan yang amat berat bagi LPTK yang terlibat dalam prosesi sertifikasi guru meskipun sesungguhnya sejak awal sejumlah pimpinan LPTK skeptis mengenai sertifikasi massal itu akan membuahkan hasil seperti diidealkan, yakni peningkatan mutu pendidikan.

Alih-alih menuai kemaslahatan, kita lebih banyak menuai kemudaratan. Angka
Rp 60 triliun bukan angka kecil untuk peningkatan guru (Kompas, 1/11/2010).

Potensi ”GiGo”

Jauh lebih penting daripada soal pelanggaran adalah menyempurnakan perangkat dan sistem sertifikasi sungguh perlu dilakukan. Prosesi uji kompetensi yang dilakukan empat tahun terakhir banyak mengandung kelemahan, terutama instrumen dan teknik pengumpulan data. Instrumen penilaian yang menggunakan ukuran persepsional sangat berpotensi menghasilkan data dan informasi yang keliru.

Demikian pula teknik penilaian yang asal menelurkan angka juga berpotensi menghasilkan data penilaian yang keliru. Instrumen penilaian yang mengandalkan persepsi penilai, seperti pada penilaian kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional yang dipercayakan kepada kepala sekolah dan (pengawas), sangat sulit dipercaya dapat menghasilkan data valid.

Data penilaian terhadap variabel ini menunjukkan nyaris semua kandidat mendapatkan skor sempurna karena kepala sekolah dan pemda juga merupakan pihak yang berkepentingan. Demikian juga instrumen penilaian kompetensi profesional dan kompetensi pedagogis yang mengandalkan penilaian persepsional terhadap RPP dan sertifikat tanda mengikuti diklat dan aneka macam kegiatan lain juga tak cukup menggambarkan pengembangan profesional.

Skor pengukuran dengan instrumen serba persepsional itu sesungguhnya tak mampu membedakan antara guru kompeten dan tidak kompeten. Artinya, kesimpulan atas kelulusan guru juga berpotensi mengandung kesalahan. Kekeliruan semacam ini dikenal dengan istilah GiGo (garbage in garbage out), masuk sampah, keluar juga sampah. Apalagi pola penilaian kompetensi dengan menggunakan portofolio yang menyerupai borang ini telah dinodai aneka kecurangan.

Portofolio berbasis kelas

Sesungguhnya, menggunakan portofolio untuk uji kinerja guru dalam rangka sertifikasi adalah hal biasa. Bahkan, portofolio diyakini banyak ahli merupakan cara paling andal untuk mengukur kinerja.

Ada dua hal inti yang dilupakan yang membuat portofolio dimaksud jadi sosok lain yang mencederai portofolio itu sendiri. Pertama, diabaikannya unsur analisis dan refleksi kinerja yang mestinya ditampilkan penyusun. Kedua, tak mengukur kinerja, tetapi hal-hal yang bersifat instrumental-input yang masih diduga memengaruhi kinerja.

Sertifikasi guru seharusnya diletakkan dalam bingkai pengembangan profesionalitas pendidik dan bukan sekadar alat pemenuhan tuntutan yuridis formal yang penuh aroma politik praktis. Proses sertifikasi tak boleh terjebak pada justifikasi lulus-tidak lulus saja, tetapi harus menjadi sebuah prosesi yang fungsional-akademis yang memberikan pengalaman belajar bermakna bagi guru di dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

Proses sertifikasi guru yang demikian ini menempatkan penilaian sebagai bagian terintegrasi dalam proses pengembangan profesi. Portofolio itu merupakan analisis reflektif tentang praktik pembelajaran yang dilakukan guru dan dampaknya pada belajar siswa.

Jadi, karakteristik khas portofolio berbasis kelas adalah analitik-reflektif. Portofolio berupa laporan analisis (semacam evaluasi sumatif) terhadap kerja profesional guru mengenai segala keputusan tindakan pembelajaran yang telah dilakukan selama rentang waktu tertentu dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

Penilaian portofolio dapat menggunakan instrumen berupa rubrik, dengan skala pemeringkatan tertentu. Semangat yang dibawa adalah pemberdayaan guru. Dengan mekanisme penilaian portofolio ini, guru akan mengelola pembelajarannya dengan kerangka pikir pengembangan, dan dengan demikian berdampak pada proses pertumbuhan profesi secara berkelanjutan karena siklus kinerja yang analitik-reflektif akan menjamin pertumbuhan profesional.

Portofolio berbasis kelas juga tak bias kota, yang konon banyak menyediakan fasilitas seminar dan pelatihan. Untuk menyusun portofolio yang baik, guru cukup berkutat dengan urusan pemantapan pembelajaran. Dengan format portofolio berbasis kelas, di pelosok mana pun guru menjalankan tugas, mereka bisa membuat portofolio terbaik dan ”mengujikan” kompetensi dirinya untuk mendapatkan sertifikat pendidik.

Kompetensi pendidik merupakan bangun utuh antara domain proses berpikir dan domain tindak pembelajaran. Artinya, perangkat uji kompetensi juga satu kesatuan bangun utuh yang mampu mengukur domain berpikir dan domain tindakan guru. Portofolio harus mampu menjadi media pengukuhan profesi guru secara konsisten (berkelanjutan).

Sebagai perangkat penilaian kinerja, portofolio harus mampu mengungkap pengetahuan teoretik dan konsepsi (keyakinan) guru, pikiran, dan keputusan guru yang menggambarkan bangun (domain) proses berpikir guru, serta perwujudannya dalam bentuk tindak pembelajaran.

Bangun proses berpikir guru ini sesungguhnya menunjukkan epistemologi dan paradigma belajar dan pembelajaran yang dibangun guru lewat proses resiprokal antara pengalaman berpikir dan bertindak di sepanjang perjalanan karier sebagai agen pembelajaran.

Penulis adalah Ketua LP3 Universitas Negeri Malang; Pegiat Kelompok Peduli Pendidikan Guru

School is my playground ?

Mei 6, 2010

Tadi pagi habis melaksanakan tugas kelancaran lalu lintas di depan gerbang sekolah, membaca sebuah majalah yang cukup mengaggetkan akan isinya. Edisi XVII/2010 CHANGE IT’S TIME TO BE DIFFERENT SCHOOL IS MY PLAYGROUND. Majalah yang mempunya alamat redaksi : Jl. Tebet Barat Dalam 9A No. B1 Jakarta Selatan,dengan penerbit Yayasan Jurnal Perempuan, dengan penanggung jawab Mariana Amiruddin. Model majalah remaja yang gaul habis, dengan pangsa siswa SMA.

Diantara semua artikel saya hanya akan melihat bagian “school uncool”. Ada empat siswa yang mengutarakan pendapatnya tentang sekolah. Sayangnya hanya empat dan tidak berimbang,tiga anak jawabannya berseberangan dengan kebijakan sekolah. Kalau pun ada sekolah yang memperbolehkan sesuatu, misalnya rambut gondrong tentunya ada konsekwensi logis.

Johannes Dwi Saputro, 17 Tahun, SMA 1 Jakarta, ” Yang perlu diubah tuh tata tertibnya ! Harusnya bisa membebaskan siswa untuk berambut gondrong. Kan enak kalau boleh gondrong jadi nggak perlu kucing-kucingan lagi sama guru. Lagian kan juga nggak ngaruh banget kepintaran sama rambut gondrong, hehehhee. ” Siswa yang kedua, Karunia Putri, 18 tahun, SMAN 13 Jakarta,” Mushallanya mesti dirubah biar nggak lagi beralas terpal. Terus kalau yang telat nggak usah pakai dipanggil-panggil orang tuanya segala!”. Lerisca Putri Bianca, 16 tahun, SMAN 80 Jakarta,”Peraturan sekolah gue terlalu lebay !Sepatu harus itemlah, rok harus nutupin mata kaki lah, cowok nggak boleh gondrong lah, kaos kaki harus putih lah ! Menurut gue itu semua kan sepele. Peraturan kaya gitu justru malah mempengaruhi ke pelajaran siswa karena fokusnya kebelah dua. Terus guru-guru beserta staf yang suka rese !”. Sementara Ivana Lestari Sutanto, 17 tahun, SMA Fons Vitae 1 berkata,” Menurut gue perpustakaan dan ekskul nya yang tahun ajaran ini banyak yang diapus. Kalau bisa diadain lagi dong. Terus cara ngajar guru-gurunya juga harus lebih menarik.”

Saya senyum ketir membaca hal ini. Makin miris ketika seseorag mengirim SMS “Apakah bpk yakin setelah SMA 8 tesnya, pakai mandiri, msh bisa menjaring siswa berprestasi ? Saya khawatir nanti hanya yang bisa membayar mahal yg diterima.”

Saya tertegun dengan kalimat terakhir. Sebuah pertanyaankah ? Atau kekhawatiran yang berprasangka… Astagfirullah . Moga saya salah menilai.

Kembal ke pernyataan 4 siswa di atas. Tiga siswa mempertanyakan “ukuran” tata tertib, yang tentunya mereka setujui saat masuk menjadi siswa sebuah SMA, satu siswa mempertanyaakan sebuah “proses”. Hidup mempunyai 4 dimensi: keinginan, aturan, proses dan hasil. Sayangnya 3 siswa SMA NEGERI mempertanyakan hal yang fatal. Aturan. Hanya masyarakat barbar yang tidak suka dengan aturan, hanya masyarakat korup yang setelah berijab menyalahi janji. Saya selalu menyatakan : jangan pernah memotong meteran, potonglah bahan pakaiannya. Aturan, Tata tertib atau apa pun namanya adalah sebuah pondasi untuk kebaikan bersama. Aturan memang membuat sebagian kebebasan menjadi terkurangi. Tetapi itu buat kebaikan semua orang dan komunitas. De Brito, Panggudi Luhur atau pun sekolah yang masih memberikan toleransi siswa untuk berambut gondrong, pasti ada klausul khusus. Lah kenapa kalian yang senang dengan rambut gondrong tidak masuk ke sekolah tersebut.

Inikah yang dinginkan pengelola majalah Change, mengubah pola pikir siswa…… Pola destruktif generalis. Dimana pandangan para siswa di bawah ke arah yang berbeda, dengan format : masyarakat umum lebih suka terhadap hal tertentu… Kasihan tugas para guru, yang selama ini mengajarkan murid untuk berpikir konstruktif, teratur, bertahap dan konsisten.

Artikel School is my playground juga mempunyai “jiwa perlawanan”, inilah kalimatnya : menjadi siswa di Indonesia bisa jadi pekerjaan yang sangat berat. Bayangkan, masuk pagi, pulang hampir sore atau bahkan sore banget, dibebani pekerjaan rumah ‘segambreng’, harus mencerna lebih dari 10 mata pelajaran saat mendekti ujian, dan menjadi kelinci percobaan kurikulum yang tak pasti.

Di artikel School = my 2nd family : ada kalimat : Salah satunya, kita bisa “kas-bon” dulu sama penjaga kantin bila kalau uang jajan lagi minim.

Hahahahahaha, Majalah yang diterbitkan yayasan Jurnal Perempuan ini menjadi komplit….

Allah mempercayai Anda, bagaimana Anda terhadap-Nya

Maret 31, 2010

Rasulullah memanggil seorang sahabat, ”Saudaraku, kemanakah fulan bin fulan ? Sudah beberapa kali sholat fardhu, saya tidak melihatnya dalam jamaah sholat ? Sahabat tersebut dengan keberanian seaadnya menjawab pertantanyaan Rasulullah, ”Yaa Rasulullah, fulan bin fulan, adalah saudara kita yang cukup fakir. Karena kefakirannya tersebut, dia harus bergantian dengan istrinya menggunakan kain untuk sholat. Kemungkinan hal tersebut, yang membuat dia tidak mampu berjamaah.” Rasulullah terdiam, hati beliau demikian masygul, ada jamaah yang tidak mampu berjamaah karena ketidak adaan sarana.

Lima belas abad lebih kemudian. Sebuah surau di lereng bukit yang tidak sesubur tanah Pulau Jawa, terlihat cukup sesak. Padahal ukuran surau itu hanya 3 x 3 m, 10 orang jamaah sholat subuh telah membuat hidup surau tersebut. Sang Ajengan, Latif, tersenyum melihat para jamaah. Subuh itu Latif bercerita tentang keutamaan mencari rizki yang halal. Semua jamaah mendengarkan dengan khusyu. Ilmu agama telah menjadi butiran air yang selalu menyejukan keilaman mereka. Ajengan telah memberi banyak tentang ilmu agama.
Diantara semua jamaah, Ajengan Latif adalah yang tersukses, ternaknya hingga puluhan ekor, kambing dan sapi. Hari ini tanpa jamaah sadari, Ajengan ingin memberikan hak masing-masing jamaah atas harta yang Allah berikan padanya. Latif ingin jamaahnya juga mampu hidup lebih layak, agar bisa beribadah lebih baik.
Setelah berdoa semua jamaah saling bersalaman dan meninggalkan surau dengan wajah cerah dan hati yang bahagia. Latif melihat satu persatu jamaah, menuruni surau, dengan langkah gagah penuh semangat dan keimanan untuk memberi yang terbaik.
Waktu berjalan lambat di semua desa, desa memang tempat yang tidak terlalu banyak kegiatan. Kegiatan utama adalah berladang dan beternak. Kegiatan “mengangon” hewan sebuah pekerjaan yang amat menyenangkan buat warga desa. Melalang menyusuri padang rumput sisi barat Gunung Tambora yang tegak menembus awan kawasan Nusa Tenggara.
Sayup-sayup dari penjuru desa, terdengar kumandang “Allahu Akbar” berkali-kali. Hampir sepuluh kali, kalimat takbir bergema. Ternyata semua jamaah surau Ajengan Latif sedang bersyukur, karena di rumah mereka telah terikat sepasang kambing, dengan sebuah surat : dari hamba Allah, ini milik Allah manfaatkan untuk kehidupanmu. Saya iklash memberikan hewan ini. Tertanda : Hamba Allah.

Lima tahun kemudian, surau itu sudah hilang. Berganti sebuah mesjid besar berukuran 10 x 10 m, dengan tembok bata, beraatap genteng dengan sarana air yang baik, taman yang terjaga keindahannya mengelilingi mesjid tersebut. Ajengan Latif mengikuti kepergian surau, beliau wafat dalam perjalanan ibadah haji. Seluruh jamaah amat kehilangan dan berjanji tetap akan meneruskan kegiatan di surau tersebut.
Kemajuan terlihat dalam kegiatan keagamaan dan jumlah jamaah. Perubahan selalu terjadi. Ada jamaah yang datang dengan anak dan istrinya, walau sudah agak jauh dari desa sebelumnya. Ikatan hati yang terbangun membuat mereka terikat dengan surau tersebut. Bahkan ada jamaah yang rela mengurus mesjid tersebut, walau tanpa bayaran. Asal bisa membersihkan lantai mesjid. Asal diperbolehkan Adzan, asal diperbolehkan menyuci sajadah atau mukena yang habis pakai.
Suara jernih anak-anak usia sekolah yang membaca Al Qur’an sehabis maghrib, atau pun selepas subuh tetap berjalan. Orang tua mereka adalah orang-orang yang dulu mendapatkan rizki, sepasang kambing. MILIK ALLAH. Karena yakin itu pemberian Allah, mereka menjaga kesehatan kambing tersebut. Kambing telah berkembang menjadi sebuah peternakan besar, semua keluar memiliki hampir 50-an ekor. Mereka mampu hidup dari pemberian tersebut.

Sepuluh tahun kemudian, cobaan makin banyak. Jamaah mulai berganti. Ada yang sudah berpulang menghadap sang Khalik. Beberapa jamaah tersisa melihat saudara-saudaranya. Kekangenan saat lima belas tahun lalu amat terasa. Tiga jamaah asli yang tersisa saling berjamaah sholat, menyelesaikan juz demi juz Al Qur’an, hingga suatu hari…..

Hadi dan Seno dua hari ini tidak melihat Jaya. Rumah Jaya memang terbilang lumayan jauh dari Mesjid, tetapi dengan kendaraan yang dipunyainya Jaya selalu sampai setengah jam sebelum adzan sholat fardhu dikumandangkan. Akhirnya dengan bersepeda motor mereka ingin mengunjungi rumah Jaya, mereka khawatir Jaya sakit. Hampir 30 menit dengan kecepatan 20km/jam, mereka berdua sampai kerumah Jaya. Usaha Jaya ternyata amat maju, rumahnya besar dan terlihat ada musholla di samping rumah.
Mereka saling berpelukan, seakan belum bertemu sekian lama. Istri Jaya mempersiapkan makan siang itu. Tercium aroma masakan membuat tergoda Hadi dan Seno. Waktu berjalan terus, berbimcang dan saling berbagi pengalaman usaha. Jaya tetap memperhatikan para pegawainya, dengan teliti dia meliat pegawai yang mengambil makanan ternak, pupuk bahkan bibit tanaman. Jumlah kambing Jaya sedemikian besar, sehingga ternak kambingnya tidak ditempatkan di rumah. Usaha Dagang Jaya, demikian papan besar terpampang depan rumah megahnya.

Hadi dan Seno, sebenarnya sudah ingin pamitan karena sholat dzuhur hampir masuk. Tetapi Jaya menahan dengan mengatakan, ”Istriku sedang masak, hasil dari pekerjaan yang Allah berikan kepada kami, hargailah,” pinta Jaya. Jaya sibuk menghitung uang yang ada di tangannya. Ratusan ribu berlembar-lembar, hasil usahanya hari ini.

Saat terdengar suara Adzan Dzuhur, Hadi dan Seno mengajak Jaya untuk ke musholla karena tidak mungkin lagi ke Mesjid Ajengan Latif,….. bagai disambar petir Hadi dan Seno mendengar kalimat Jaya, ”Sabar lah, saya kan lagi menghitung nikmat Allah, pemberian Allah, milik Allah,….. sholat kan masih ada waktu,…. menghitung uang tanggung nih,” tanpa melihat muka Seno dan Hadi.

Ternyata arti milik Allah telah berubah. Kalau saja kita sadar, bahwa tubuh kita pun milik dan titipan dari Allah, maka kita akan menjaganya, bahkan memperbaikinya. Tidak mungkin kita merusak bahkan mengurangi manfaatnya. Allah memberikan dalam keadaan baik, kenapa saat Allah mengambil dalam keadaan rusak. Paru-paru rusak karena rokok, hati rusak karena bergunjing dan hasut, kekuasaan yang menistakan, bahkan amanat yang khianat. Kambing milik Allah hanyalah untuk kehidupan duniawi, guna mendukung kehidupan akhirat. Ibadah adalah panggilan Allah, bukan panggilan duniawi.

Moga-.moga bermanfaat

Menuai kritik, menjawab kritik

Januari 2, 2010

”Anda dapat menuliskan apa saja, tapi hanya dengan menerima kritik, maka dunia akan tahu bahwa Anda dapat menulis lebih baik lagi.”
— Oliver Goldsmith, penulis dan penyair, 1730-1774

KUPING jadi merah. Mata terasa panas. Hati pun mendidih. Itulah gejala saat kritik mengena. Seperti pukulan uppercut mengenai ulu hati. Tak enak rasanya. Hasilnya ada dua: kembali bangkit dan membenahi semua kekurangan seperti yang dilontarkan dalam kritik. Atau sebaliknya, ada yang langsung lunglai, lemas bagaikan tak bersendi. Ya, suatu kritik, pedas atau tidak, ternyata tak semua orang dapat mengelolanya dengan baik.

Itulah efek dari kritik. Semua tergantung pada orang yang menerima kritik itu. Telinga yang tidak sensitif bisa membuat segalanya berantakan. Sekadar menyebut contoh, mengenai apa yang dilakukan pelatih sepak bola Steve McClaren. Pelatih Tim Inggris tersebut berkali-kali diberi masukan, saran, dan pendapat, namun toh dia tetap dablek. Hasilnya, Inggris knock out. Tersisih dari ajang Piala Eropa tahun 2008. Akibatnya? Seluruh rakyat Inggris menangis.

Sebaliknya, Raymond Domenech, pelatih sepak bola Prancis begitu meresapi kritik yang berhamburan ke arahnya. Tim Ayam Jantan asuhannya dikritik tak memiliki kepemimpinan di lapangan hijau. Kritik itu ditindaklanjutinya. Dia pun memanggil kembali Zinedine Zidane, pemain gaek. Hasilnya sungguh memukau, Tim Perancis melaju hingga final Piala Dunia 2006 di Jerman.

Mari kita kembali ke dunia nyata. Kritik bukanlah hal yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Bos yang selalu memaksakan kehendak tanpa mau menerima masukan dari karyawan, Pemda yang tak mampu mengatasi banjir yang terjadi dari tahun ke tahun, atau Walikota yang tak juga mampu membenahi jalan yang bopeng, patutlah disembur kritik. Tujuannya tentulah mulia, untuk mengubah keadaaan menjadi lebih baik. Itulah maksud dan tujuan sesungguhnya dari sebuah kritik.

Apa saja yang di depan mata bisa menjadi bahan kritik. Sampah yang menumpuk, kemacetan di jalan, dan semua hal yang terlihat atau terdengar. Kritik seperti kripik, renyah dan enak dikunyah, meski belum tentu orang lain bisa menerimanya. Apapun kritik dan entah dengan cara bagaimanapun kritik itu sampai hingga ke telinga, haruslah disikapi dengan bijak.

Bagaimana kalau kita sendiri yang mendapat kritik? Belum tentu kita menerima dengan lapang dada. Seorang pembuat film di negeri ini shock ketika karyanya dibantai habis oleh seorang wartawan di media massa. Upaya yang dibuat berhari-hari, bahkan berminggu-minggu akhirnya kandas di tangan seorang kritikus. Salahkah dia kalau kemudian mutung? Wajar saja. Namun, seperti mendapatkan pujian, menerima kritik merupakan bagian lain dari suatu hasil karya. Seperti setelah membuat kue, kita tinggal menunggu ocehan orang: enak atau bikin muntah.

Jadi, apa pun tindakan dan perbuatan yang kita lakukan, sudah semestinya akan disertai dengan pendapat pro atau kontra. Masalahnya, bagaimana kita bisa mengelola kritik itu menjadi suatu penuntun untuk mencapai hasil yang lebih baik atau malah sebaliknya bikin kita tengkurap dan ogah bangun lagi.

Seburuk apa pun kritik yang sampai ke telinga kita, semestinya disikapi dengan dua hal. Kritik merupakan bagian dari satu upaya penyempurnaan. Dan, ini yang juga penting, rasa sayang dari orang-orang sekitar kita. Mereka atau entah siapapun itu orangnya, ingin kita bisa bertindak lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Tak usah sempurna: tapi paling tidak bisa mendekati sesuai dengan kritik yang mereka sampaikan.

Kritik merupakan bagian dari proses belajar agar seseorang menjadi bertanggung jawab atas tindakan dan ucapannya. Kualitas hidup seseorang pada akhirnya juga ditentukan bagaimana ia menanggapi kritik tersebut. Karena ia menyadari, bahwa dengan kritik itulah, ia dapat memperbaiki kualitas hidupnya menjadi lebih baik. Menyerap kritik yang disampaikan pihak lain, membuat kita juga bisa memberikan kritik di lain hari pada orang lain dengan jalan yang lebih elegan, dan tentunya, membawa kebaikan untuk semua. Semoga. (241108)

Sumber: Menuai Kritik, Menjawab Kritik oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta