Archive for the 'pendidikan' Category

DPR janji tidak akan keluarkan anggaran UN

November 24, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi X DPR RI menjawab desakan masyarakat agar pemerintah meninjau ulang ujian nasional (UN), bahkan meniadakannya. DPR berjanji membuat Panitia Kerja (Panja) UN dan sedang menyusun formula UN baru yang tidak menjadikan UN sebagai penentu kelulusan.
Di sini kami menegaskan jika Kemendiknas tetap mendesak akan diadakan UN dan dijadikan sebagai penentu kelulusan, maka DPR tidak akan menyetujui anggarannya.
— Popong Otje Junjunan

”Tanggal 29 November 2010 nanti kami akan menggelar rapat dengan pihak Kementrian Pendidikan Nasional yang salah satunya membahas mengenai UN. Rapat ini terbuka, siapa saja yang berkepentingan silahkan datang,” ujar Raihan Iskandar, Anggota Komisi X DPR RI dalam dengar pendapat dengan Education Forum di Gedung MPR/DPR RI, Rabu (24/11/2010).

Anggota Komisi X- DPR RI lainnya, Popong Otje Junjunan mengatakan, Komisi X sangat menguasai persoalan UN dan akan terus memperjuangkannya. ”UN memiliki Panja, di sini kami menegaskan jika Kemendiknas tetap mendesak akan diadakan UN dan dijadikan sebagai penentu kelulusan, maka kami sebagai Komisi X DPR RI tidak akan menyetujui anggarannya,” tandas Popong.

Popong mengatakan, harus ada formula baru mengenai UN yang tidak dijadikan sebagai penentu kelulusan sehingga DPR akan menyetujui anggarannya. Selain itu, kata dia, DPR juga akan mengkaji mengenai formula baru dan mengulasnya.

“Soal UN pilihan ganda itu bisa memandulkan otak siswa, untuk itu perlu kombinasi antara pilihan ganda dan esai,” ungkap Popong.

Hal senada juga diungkapkan anggota Harbiah Salahudin, anggota Komisi X DPR RI lainnya. Menurutnya, jika ada soal esai anak-anak menjadi lebih bersikap kritis.

”Dalam soal esai mereka bisa menganalisis, mengerti pertanyaan, dan lain-lain,” ujarnya.

”Jika UN dipertaruhkan untuk nasib anak-anak, saya rasa ini terlalu mahal harganya,” lanjut Harbiah.

Dia menegaskan, dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sangat terbatas. Untuk itu, jika UN tetap diadakan dan dijadikan penentu kelulusan, Komisi X tidak akan memberikan anggarannya.

”Penekanan kami di sini adalah, UN itu ada dan tidak dijadikan sebagai penentu kelulusan,” tegasnya.

Iklan

DAK 2,2 triliyun di kememdiknas RAIB

November 24, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan terus mengusut kasus dugaan korupsi di Kementerian Pendidikan Nasional, terutama pada dinas-dinas pendidikan di daerah yang terjadi sekitar tahun 2009. KPK sendiri pernah melakukan kajian terhadap pengelolaan Dana Alokasi Khusus atau DAK Kemdiknas Tahun 2009 dengan nilai Rp 9,3 triliun.
Penyelewengan tersebut bukan tanpa sebab. KPK melihat ada tiga alasan yang membuat pengelolaan DAK tidak sesuai tujuannya.
— Johan Budi SP

Demikian disampaikan Juru Bicara KPK Johan Budi SP di kantor KPK, Jakarta, Rabu (24/11/2010). Berdasarkan hasil kajian tersebut, KPK menemukan penyimpangan sebesar Rp 2,2 triliun dalam pengelolaannya yang diterapkan pada 451 kabupaten/kota di Indonesia.

“Yang sudah masuk ke penyelidikan adalah penggunaan anggaran Diknas tahun 2009 bagi daerah-daerah,” ucap Johan.

Johan mengungkapkan, penyelewengan tersebut bukan tanpa sebab. KPK melihat ada tiga alasan yang membuat pengelolaan DAK tidak sesuai tujuannya.

“Tiga alasan tersebut adalah tidak adanya ketidaksesuaian alokasi dana dan realisasi, terjadinya penyimpangan pemanfaatan dana dalam pelaksanaannya, terutama untuk pembayaran jasa konsultan dan izin mendirikan bangunan (IMB), serta sulitnya monitoring dalam bidang pengawasan karena tidak semua pemerintah daerah mau menyampaikan laporan kepada Departemen Pendidikan Nasional,” ujar Johan.

Sertifikasi Guru

November 24, 2010

Oleh Waras Kamdi

KOMPAS.com — Fenomena kecurangan dalam pelaksanaan Sertifikasi Guru Dalam-Jabatan lewat portofolio kian menguak apa yang sesungguhnya telah jadi rahasia umum. Terungkapnya kasus plagiasi 1.700 guru di Riau menunjukkan sebagian kecil dari kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi guru.

Banyak masyarakat yang merisaukan aneka pelanggaran itu, tetapi program sertifikasi terus saja melaju atas nama pemenuhan amanat peraturan perundang-undangan. Kerisauan juga berkembang di kalangan pimpinan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), terutama yang diserahi tugas melaksanakan sertifikasi tersebut.

Dalam lima tahun terakhir (2006-2009), lebih dari 500.000 guru telah diberi sertifikat oleh LPTK yang ditunjuk pemerintah (Kompas, 1/11/2010). Namun, hingga detik ini belum ada kabar menggembirakan adanya peningkatan kinerja guru bersertifikat pendidik itu.

Malahan, sertifikasi telah sempurna menyemaikan dan menyuburkan budaya jalan pintas yang amat mencederai sosok profesional guru itu sendiri. Publik hanya tahu guru-guru bersertifikat itu buah karya LPTK. Ketika mereka gagal mewujudkan impian publik akan peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air, LPTK-lah yang pertama akan ditagih akuntabilitasnya.

Ini sungguh tagihan yang amat berat bagi LPTK yang terlibat dalam prosesi sertifikasi guru meskipun sesungguhnya sejak awal sejumlah pimpinan LPTK skeptis mengenai sertifikasi massal itu akan membuahkan hasil seperti diidealkan, yakni peningkatan mutu pendidikan.

Alih-alih menuai kemaslahatan, kita lebih banyak menuai kemudaratan. Angka
Rp 60 triliun bukan angka kecil untuk peningkatan guru (Kompas, 1/11/2010).

Potensi ”GiGo”

Jauh lebih penting daripada soal pelanggaran adalah menyempurnakan perangkat dan sistem sertifikasi sungguh perlu dilakukan. Prosesi uji kompetensi yang dilakukan empat tahun terakhir banyak mengandung kelemahan, terutama instrumen dan teknik pengumpulan data. Instrumen penilaian yang menggunakan ukuran persepsional sangat berpotensi menghasilkan data dan informasi yang keliru.

Demikian pula teknik penilaian yang asal menelurkan angka juga berpotensi menghasilkan data penilaian yang keliru. Instrumen penilaian yang mengandalkan persepsi penilai, seperti pada penilaian kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional yang dipercayakan kepada kepala sekolah dan (pengawas), sangat sulit dipercaya dapat menghasilkan data valid.

Data penilaian terhadap variabel ini menunjukkan nyaris semua kandidat mendapatkan skor sempurna karena kepala sekolah dan pemda juga merupakan pihak yang berkepentingan. Demikian juga instrumen penilaian kompetensi profesional dan kompetensi pedagogis yang mengandalkan penilaian persepsional terhadap RPP dan sertifikat tanda mengikuti diklat dan aneka macam kegiatan lain juga tak cukup menggambarkan pengembangan profesional.

Skor pengukuran dengan instrumen serba persepsional itu sesungguhnya tak mampu membedakan antara guru kompeten dan tidak kompeten. Artinya, kesimpulan atas kelulusan guru juga berpotensi mengandung kesalahan. Kekeliruan semacam ini dikenal dengan istilah GiGo (garbage in garbage out), masuk sampah, keluar juga sampah. Apalagi pola penilaian kompetensi dengan menggunakan portofolio yang menyerupai borang ini telah dinodai aneka kecurangan.

Portofolio berbasis kelas

Sesungguhnya, menggunakan portofolio untuk uji kinerja guru dalam rangka sertifikasi adalah hal biasa. Bahkan, portofolio diyakini banyak ahli merupakan cara paling andal untuk mengukur kinerja.

Ada dua hal inti yang dilupakan yang membuat portofolio dimaksud jadi sosok lain yang mencederai portofolio itu sendiri. Pertama, diabaikannya unsur analisis dan refleksi kinerja yang mestinya ditampilkan penyusun. Kedua, tak mengukur kinerja, tetapi hal-hal yang bersifat instrumental-input yang masih diduga memengaruhi kinerja.

Sertifikasi guru seharusnya diletakkan dalam bingkai pengembangan profesionalitas pendidik dan bukan sekadar alat pemenuhan tuntutan yuridis formal yang penuh aroma politik praktis. Proses sertifikasi tak boleh terjebak pada justifikasi lulus-tidak lulus saja, tetapi harus menjadi sebuah prosesi yang fungsional-akademis yang memberikan pengalaman belajar bermakna bagi guru di dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

Proses sertifikasi guru yang demikian ini menempatkan penilaian sebagai bagian terintegrasi dalam proses pengembangan profesi. Portofolio itu merupakan analisis reflektif tentang praktik pembelajaran yang dilakukan guru dan dampaknya pada belajar siswa.

Jadi, karakteristik khas portofolio berbasis kelas adalah analitik-reflektif. Portofolio berupa laporan analisis (semacam evaluasi sumatif) terhadap kerja profesional guru mengenai segala keputusan tindakan pembelajaran yang telah dilakukan selama rentang waktu tertentu dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

Penilaian portofolio dapat menggunakan instrumen berupa rubrik, dengan skala pemeringkatan tertentu. Semangat yang dibawa adalah pemberdayaan guru. Dengan mekanisme penilaian portofolio ini, guru akan mengelola pembelajarannya dengan kerangka pikir pengembangan, dan dengan demikian berdampak pada proses pertumbuhan profesi secara berkelanjutan karena siklus kinerja yang analitik-reflektif akan menjamin pertumbuhan profesional.

Portofolio berbasis kelas juga tak bias kota, yang konon banyak menyediakan fasilitas seminar dan pelatihan. Untuk menyusun portofolio yang baik, guru cukup berkutat dengan urusan pemantapan pembelajaran. Dengan format portofolio berbasis kelas, di pelosok mana pun guru menjalankan tugas, mereka bisa membuat portofolio terbaik dan ”mengujikan” kompetensi dirinya untuk mendapatkan sertifikat pendidik.

Kompetensi pendidik merupakan bangun utuh antara domain proses berpikir dan domain tindak pembelajaran. Artinya, perangkat uji kompetensi juga satu kesatuan bangun utuh yang mampu mengukur domain berpikir dan domain tindakan guru. Portofolio harus mampu menjadi media pengukuhan profesi guru secara konsisten (berkelanjutan).

Sebagai perangkat penilaian kinerja, portofolio harus mampu mengungkap pengetahuan teoretik dan konsepsi (keyakinan) guru, pikiran, dan keputusan guru yang menggambarkan bangun (domain) proses berpikir guru, serta perwujudannya dalam bentuk tindak pembelajaran.

Bangun proses berpikir guru ini sesungguhnya menunjukkan epistemologi dan paradigma belajar dan pembelajaran yang dibangun guru lewat proses resiprokal antara pengalaman berpikir dan bertindak di sepanjang perjalanan karier sebagai agen pembelajaran.

Penulis adalah Ketua LP3 Universitas Negeri Malang; Pegiat Kelompok Peduli Pendidikan Guru

Menyusun Kelas

September 17, 2010

Menyusun Kelas

Hampir 7 tahun yang lalu, saat pertama kali ikut menjadi tim pembuatan kelas saat kenaikan kelas, sempat bingung dan pusing. Maklum saat itu belum lama jadi guru Bimbingan Konseling di SMA Negeri 8 Jakarta. Pokoknya coba belajar dan cari tahu bagaimana cara pembuatan kelas. Hampir satu minggu cuma melihat data siswa, dari data akademik, jenis kelamin, asal sekolah, dunia percintaan, pertemanan siswa, permusuhan siswa, perkelompokan (gank,… hehhehe ada juga), bahkan agama bahkan kembaran serta special request. Untungnya data siswa itu ada, yang terkumpul selama setahun, melalui observasi atau pun hasil wawancara siswa.

Tulisan ini akan menjelaskan pembuatan kelas versi saya, dengan segudang kelemahan tentunya, tetapi minimal ini yang saya lakukan selama 5 tahun. Pembuatan kelas yang paling sulit adalah saat kenaikan kelas X ke kelas XI. Kalau kelas X dan kelas XI ke kelas XII tidaklah terlalu rumit, data sudah ada.

Pertama
Tentukan dulu tujuan pembuatan kelas tahun ini dengan melihat kurikulum, kondisi siswa, kemampuan akademik. Setiap tahun akan berbeda, tetapi yang saya lihat saat lima tahun tersebut adalah, tidak ada kelas unggulan. Tetapi masih dimungkinkan untung mengumpulkan anak ”pandai” dalam satu kelas. Menghidari sekali kelas ”gerombolan atau kambing hitam”. Di Tahun 1986-1987, kala menjadi siswa, di SMA Negeri 8 ada kelas dengan julukan LASPENDOS ( kelas penuh dosa,… serem juga). Saat itu kelas saya bernama Du fi du ( dua fisika dua, hehehhehe temannya scooby doo)

Kedua
Faktor akademik adalah unsur utama membuat pengkelasan. Siswa kelas X yang naik ke kelas XI IPA digabungkan dalam satu file urutkan berdasarkan rataan nilai total. Bisa juga dengan hanya melihat rataan IPA saja ( Mat – Fis – Kim – Bio), maka urutkan hanya untuk rataan 4 nilai tersebut saja. Jika rataan nilai total siswa bagus maka rataan nilai IPA pun biasanya akan bagus, saat itu kondisi siswa ”aman”. Tetapi kalau ada perbedaan signifikan, maka pelajaran di luar mata pelajaran IPA lah yang mendominasi nilai siswa, pada kondisi ini gunaka nilai rataan IPA saja.

Ketiga
Setelah itu buatlah dengan menggunakan excel, kelas XI A 1 – 40 , kelas XI B 1 – 40 dan seterusnya hinggga kelas XI J 1 – 40. Setiap kelas akan berisi 40 siswa secara penuh. Tetapi dengan aturan sebagai berikut :
1. kelas XI A nomor urut 1 – 10, kelas XI B nomor urut 1 – 10 hingga kelas XI J nomor urut 1 – 10 adalah siswa unggulan secara akademik. Jangan pernah mengganggu distribusi yang terjadi saat kelas ini mendapatkan siswa
2. Kelas XI A nomor urut 11 – 30, kelas XI B nomor urut 11 – 30 hingga kelas XI J nomor urut 11 – 30, adalah kelas yang bisa saling bertukar siswanya, hanya ke kelas di sampingnya, misalnya XI A ke kelas XI B, dan seterusnya. Pada bagian kelompok 20 inilah kita bisa memainkan kelas sesuai aturan yang akan kita pakai. Jadi ada 200 anak yang akan bisa ditolerir bahkan bisa dipaksa untuk pindah secara bersisian.
3. Kelompok terakhir, kelas XI A nomor urut 31 – 30, kelas XI B nomo urut 31 – 40 hingga kelas XI J nomor urut 31 – 40, ini merupakan siswa dengan ”kemampuan akademik terrendah”. Setiap siswa di nomor urut kelompok ini bisa dipindahkan ke kelas di mana pun, tidak harus ke kelas di sampingnya. Jangan kaget biasanya anak-anak dalam kelompok ini ”biasanya” sejenis. Tanpa kita kelompokan mereka sudah dalam kelompo tersendiri, misalnya keseringan remedial, keseringan terlambat, keseringan madol, keseringan tidak mengerjakan tugas, bahkan ada anak-anak yang cuek….

Keempat
Mulailah memasukan daftar anak-anak tersebut secara manual, dengan excel cukup tarik-tarik saja dengan mouse. Siswa dengan urutan nilai 1 – 10 distribusikan di nomor urut 1 pada setiap kelas, siswa urutan nilai 11 – 20 distribusikan di nomor urut 2, dan seterusnya sehingga ada 100 anak yang sudah masuk pada 10 kelas pada nomor urut 1 – 10 di tiap kelas. Para jawara telah tersebar, kelas aman, karena tutor sebaya telah ada disetiap kelas. Adanya tutor sebaya akan membantu guru dalam memberika materi pelajaran, tugas harian bahkan PR.

Kelima
Berikutnya adalah memasukan anak di setiap kelas untuk urutan 11 – 20. Pada urutan nilai siswa nomor 101 hingga 200, masukan ke kelas-kelas (XI A hingga XI J) dengan cara setiap 10 anak, yaitu 101 – 110, 111 – 120 dan seterusnya ke dalam kelas-kelas yang berbeda. Sehingga anak dengan urutan nilai 101 – 110 akan ada di kelas XI A, anak denga urutan 111 – 120 akan ada di kelas XI B, demikian seterusnya, sehingga anak dengan urutan 190 – 200 akan ada di kelas XI J.

Cluster berikutnya adalah kelas dengan urutan 21 – 30. Pada dasarnya sama dengan yang di atas untuk nomor 11 -20, distribusikan seperti itu. Sehingga anak dengan urutan 201 – 210 akan ada di kelas XI A, dan anak dengan urutan 290 – 300 akan ada di kelas XI J.

Keenam
Untuk kelas urutan 31 – 40 di setiap kelas gunakan pola pada langkah ke empat. Sedikit repot tetapiakan aman nantinya.

Ketujuh
Lihatlah distribusi agama dahulu, hal ini dilakaukan agar pada tidak ada agama dengan pemeluk yang tidak banyak akan terkonstrasi di satu kelas. Ini akan tidak nyaman saat pelajaran agama. Setelah siswa dengan agama tertentu di beri warna berbeda, baru kita lihat distribusi jenis kelamin. Perpindahan jenis kelamin atau pun agama siswa tetap menggunakan pola perpindahan setiap cluster/kelompok.

Saya sering menuliskan komposisi jenis kelamin di bawah daftar kelas, misalnya 15 (L) Laki-laki dan 25 Perempuan (P).

Kedelapan
Pada bagian inilah ”permaianan” dimulai. Tentukan dulu urutan perpindahan antar siswa
1. pasangan kekasih…. bubarkan,.. hahahah, maksudnya jangan sekelas. Tidak ada kalimat ” pak kalau sekelas, saya jadi bersemangat ….” jawab saya, ”iya nak, semangat pacaran…”.
2. Organisasi atau kelompok, jangan gabungan terlalu banyak anak Pengurus Osis tau PK atau pun kelompok ”lain-lain”. Dahulu di delapa ada anak-anak cantik yang berkumpul menjadi DELAROS (delapan ROS,.. bunga ros… memang cantik-cantik dan memang amat cantik-cantik… kalau yang seperti ini disebar, guru-guru yang muda jadi semangat mengajarnya,… hahahhaa untung saya udah nikah,..tepatnya baru kemaren…)
3. Anak-anak satu type: misalnya Gamer,.. pengaggum game online, pengaggum futsal, pengaggum starbuck,… hahaha, bahkan movie mania… bisa hilang tuh kelas saat ada konser atau premiere…
4. Special request,…anak yang satu Bimbingan Belajar, anak yang biang ribut, biang ngobrol, biang cabut dari kelas ke koperasi atau kantin,… tapi yang sholat dhuha bareng juga harus dipikirkan…Jangan keget nanti ada anak yang sakit bareng di UKS. Pokoknya data Bimbingan Konseling harus menyeluruh.

Kesembilan
Print out, 2 hingga 3x, berikan kepada beberapa siswa yang terpercaya, teman guru yang mengenal banyak siswa, dan guru-guru BK. Biasanya akan ada masukan-masukan baru, bahkan mungkin request baru. Tetap diingat aturan pembagain, pemindahan dan penentuan harus dilakukan dengan baik. Intinya ini kelas dibuat agar semua guru tetap nyaman saat mengajar dimana pun, setiap siswa akan terpenuhi akan materi, suasana kondusif dan kebersamaan kelas akan terjadi.

Saya harus mengakui ini bukan yang terbaik, tetapi minimal kita jadi mengetahui bahwa pembuatan kelas bukan hanya sekedar membagi siswa, siswa bukan benda jadi pikirkan juga kenyamanan dan kepuasan mereka. Jadi tidak ada siswa yang meminta dipindahkan kelasnya hanya karena sesuatu hal. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan.

Tantia, Peraih IPK Tertinggi di UI

Agustus 27, 2010

Laporan wartawan Kompas.com M.Latief
Kamis, 26 Agustus 2010 | 20:23 WIB

Dok. Pribadi Tantia
Setelah terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi UI 2010 dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Nasional 2010, Tantia Dian Permata, mahasiswi FEUI terpilih sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi, 3,90.TERKAIT:
Tantia, Mahasiswi Berprestasi Nasional
Tantia, Mahasiswi Berprestasi UI 2010
DEPOK, KOMPAS.com – Setelah terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi UI 2010 dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Nasional 2010, Tantia Dian Permata, mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), menjadi satu di antara 275 wisudawan yang berpredikat cum laude untuk program S-1 reguler di Universitas Indonesia.

Tahun ini, Tantia terpilih sebagai mahasiswa UI berpredikat cum laude dengan raihan IPK tertinggi, 3,90. Sementara di Kelas Internasional terdapat 11 wisudawan yang juga mendapatkan predikat cum laude. IPK tertinggi Kelas Internasional diraih oleh Siti Soraya Larasati dari fakultas psikologi dengan nilai 3,81.

Kepala Kantor Komunikasi dan Humas UI, Visnu Juwono, menuturkan, dari total 8.426 wisudawan UI tahun ini meliputi 2.464 program sarjana reguler (S-1), 77 program sarjana Kelas Internasional, 1.224 program Sarjana Ekstensi, 1.519 program Diploma, 842 program Profesi, 217 program Spesialis, 1.997 program Magister, serta 86 program Doktor. Adapun wisudawan termuda UI diraih oleh Jennifer dari FTUI.

“Dengan IPK 3,53, Jennifer berhasil menyelesaikan studinya di usia 19 tahun lebih 4 bulan,” ujr Visnu kepada Kompas.com.

MEKANISME DAN PROSEDUR PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU JALUR MANDIRI

April 9, 2010

MEKANISME DAN PROSEDUR
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU JALUR MANDIRI
SMA NEGERI RSBI DI JAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Sumber : beberapa web SMA Negeri RSBI

A . KETENTUAN UMUM
1. Bahwa tahun pelajaran 2010/2011 SMA Negeri RSBI Jakarta akan melaksanakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) melalui 2 (dua) jalur yaitu Jalur Mandiri dan Jalur Online.
2. Jumlah peserta didik yang akan diterima adalah masing-masing maksimum 80% melalui Jalur Mandiri dan 20% melalui Jalur Online dari daya tampung.
3. Daya tampung peserta didik kelas X tahun pelajaran 2010/2011 adalah sesuai DT Sekolah dengan komposisi rasio per kelas adalah maksimum 36 peserta didik.
4. Tempat Pendaftaran Peserta Didik Jalur Mandiri SMA RSBI Jakarta hanya di SMA RSBI Jakarta.
5. Calon Peserta Didik Baru yang sudah diterima di semua Sekolah RSBI, tidak dapat mendaftar kembali pada waktu pendaftaran PPDB Online.
6. Calon Peserta Didik Baru yang telah diterima wajib lapor diri di SMA RSBI Jakarta dengan menyerahkan tanda bukti pendaftaran sesuai jadwal yang ditentukan
7. Pelaksanaan PPDB MANDIRI dilakukan hanya 1 (satu) putaran.
8. Apabila Calon Peserta Didik Baru yang diterima melalui Jalur Mandiri tidak lapor diri sesuai jadwal yang ditentukan, Calon Peserta Didik Baru tersebut dinyatakan mengundurkan diri dan tidak dapat mendaftar pada Jalur Online.
9. Tidak ada pungutan biaya dalam bentuk apapun selama proses pelaksanaan PPDB Mandiri.

B PERSYARATAN PESERTA
1. Memiliki Raport Semester 1 – 5 SMP/ MTs.
2. Nilai Raport mata pelajaran (Matematika, IPA, IPS, Bhs Indonesia, dan Bhs Inggris) tiap semester minimal 7,5.
3. Memiliki Surat Akte Kelahiran.
4. Memiliki Surat keterangan sehat & bebas narkoba dari dokter.
5. MemilikiSurat kelakuan baik dari sekolah asal.
6. MemilikiSurat keterangan sedang duduk di kelas IX dari sekolah asal.
7. Menandatangani surat pernyataan bersedia mengikuti seleksi PPDB.
8. Syarat Pendukung:
• Sertifikat kursus Bhs Inggris dan atau Komputer;
• Sertifikat/piagam Prestasi kejuaraan akademik/ non-akademik minimal tingkat Kabupaten/Kota;

C TATA CARA PELAKSANAAN
1. Calon Peserta Didik Baru SMA mendaftar sendiri atau kolektif sekolah dengan datang langsung di SMA RSBI Jakarta;
2. Mengisi formulir yang disediakan oleh Panitia Sekolah; dengan menyerahkan kelengkapan persyaratan (lihat B)
3. Pada saat pendaftaran menunjukkan Nomor Peserta Ujian Nasional yang tertera pada Kartu Peserta Ujian Nasional atau keterangan lain dari sekolah asal;
4. Setiap pendaftar yang memenuhi persyaratan diberikan tanda bukti pendaftaran, yang harus ditandatangani oleh Calon Peserta Didik Baru dan panitia di sekolah;

D JADWAL PENDAFTARAN
Pendafataran dilakukan dengan datang sendiri atau kolektif sekolah dengan jadwal sebagai berikut:

BULAN TANGGAL KEGIATAN
APRIL 2010 23 – 29 Pendaftaran
25 – 29 Seleksi Administrasi Pendaftaran
MEI 2010 3 Pengumuman hasil Seleksi Administrasi
5 – 6 Tes Tulis Akademik
14 Pengumuman Tes Akademik
15 Tes Psikotes
17 – 18 1. Tes Praktik
2. Interview
JUNI 2010 5 Pengumuman Final Seleksi PPDB Mandiri
7-8 Lapor diri

E JADWAL TAHAPAN SELEKSI

NO KEGIATAN TANGGAL WAKTU KETERANGAN
1 Tes Tulis Akademik 5 Mei 2010
08.00 – 09.30 WIB
10.00 – 11.30 WIB 1. Matematika (40 soal)
2. Bhs Inggris (50 soal)
6 Mei 2010
08.00 – 09.30 WIB
10.00 – 11.30 WIB
12.30 – 14.30 WIB 1. IPA (50 soal)
2. Bhs Indonesia (50 soal)
3. IPS (50 soal)
2 Psikotest 15 Mei 2010 08.00 – 14.00 WIB 1. Hanya peserta didik yang lulus tahap seleksi akademik tg 5 – 6 Mei 2010
2. Dilakukan oleh Lembaga Psikologi Independent
3
Tes Praktik

17– 18 Mei 2010 Kelompok A:
08.00 – 15.00 WIB 1. Komputer
2. Interview Orang Tua dan Peserta didik dengan Panitia Sekola
17 – 18 Mei 2010 Kelompok B:
08.00 – 15.00 WIB 1. Komputer
2. Interview Orang Tua dan Peserta didik dengan Panitia Sekolah

F TEMPAT PELAKSANAAN
Layanan pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru Jalur Mandiri SMA RSBI Jakarta hanya dilaksanakan di SMA Negeri RSBI Jakarta dengan alamat:

SMA Negeri RSBI Jakarta
………………………………………..
……………………………………….
……………………………………….

G PESERTA LUAR DAERAH DAN PRESTASI
1. Calon Peserta Didik Baru dari luar Provinsi DKI Jakarta adalah Calon Peserta Didik Baru yang berasal dari lulusan sekolah luar Provinsi DKI Jakarta
2. Calon Peserta Didik Baru yang berprestasi adalah Calon Peserta Didik Baru yang memiliki prestasi dalam bidang Akademik dan Non-Akademik.
3. Aturan dan jadwal pelaksanaan dilakukan tersendiri .
4. Peserta Didik lulusan SMP/MTs yang berasal dari luar Provinsi DKI, dan Calon Peserta Didik Baru dari sekolah luar negeri dapat diterima maksimum 5% dari daya tampung.
5. Bagi peserta didik berprestasi dalam bidang Akademik dan Non Akademik berlaku ketentuan kuota maksimal 5%*)
6. Kuota maksimal 5 % bagi peserta didik yang berasal dari Luar Provinsi DKI Jakarta termasuk di dalamnya peserta didik berprestasi, berlaku untuk pendaftaran Jalur Mandiri*).
Catatan:
*) diatur tersendiri

H DAYA TAMPUNG

JALUR % RASIO DT Sekolah
Mandiri 80% X 80%
Online 20% X 20 %
JUMLAH 100% 100 %

DT : Daya Tampung

Beasiswa Jepang untuk pelajar Indonesia (3)

Maret 1, 2010

Beasiswa Hitachi PDF Print E-mail

Scholarship Program for Postgraduate Study in Japan
The Hitachi Scholarship provides an excellent opportunity for Southeast Asian universities to send faculty members, who wish to continue teaching and research at their universities after graduation, to Japan as part of their human development programs. Recipients of this award are invited to attend Japanese public and private graduate schools that have close relationships with Southeast Asian universities. The Scholarship provides financial support and personal assistance and consultation.
Eligibility for the program is limited to faculty members up to the age of 30 for masters degree candidates or 35 for Ph. D. degree cabdidates in the fields of scince and technology and each applicant must be recommended by a senior staff at their home university as a potential cabdidate for international reasearch collaboration after graduation. Each grantee receives full financial support to study Japanese for six months after arrival. The Foundation funds tour programs every year to visit various location in the fields of industry, science technology, research, culture, history, society and nature so that the grantees’ experience and understanding during their stay in Japan will not be limited to one campus.

Term of assistance
Masters degree candidates:
2-1/2 years
LPh.D. degree candidates:
3-1/2 years

Scholarship and other financial support
Airfare:
Economy class roundtrip airfare
Stipend:
¥180,000 per month
Japanese language course:
At cost for 6months
Expenses for field trips in Japan:
¥50,000 per year upon request from host professor
Expenses for Int’l conferences:
At cost upon request from host professor
Arrival and return allowance:
¥50,000 each
Tuition and other school expenses:
At cost
Housing allowance: (maxmum per month)
Greater Metropolitan Tokyo:
¥60,000 (Single)
¥90,000 (With family)
Other areas:
¥40,000 (Single)
¥55,000 (With family)

Qualifications
• Be faculty members of one of the 15 eligible universities in 6 nations.
• Have been nominated by their university’s presidential office, with the approval and recommendation of the faculty and the department.
• Have received a specific and confirmed invitation from a professor at a Japanese university, who will act as the host professor to collaborate with and/or advise the applicant until graduation or the completion of the program.
Application and Screening
1. Applicants to all programs must be faculty members at one of the eligible universities.
2. English will be the common language used in most of the international conferences. Therefore,we strongly suggest that applicants have a good knowledge of English as a communication tool. A TOEFL score of 530 or above is preferred.
3. The Foundation shall mail application forms every year in June to the presidential office of each university.
4. Each applicant shall submit the application to his/her university’s presidential office with all requested information. The Foundation will accept applications and nomination letters from the presidential offices until the end of November. No direct application from individual will be accepted.
5. The application form should be supplemented with a recommendation letter from the Head of Department and/or the Dean of Faculty, along with a confirmed certificate of acceptance from a Japanese host professor (Scholarship) or advisory professor/research counterpart (Research/Komai Fellowship).
6. The selection committee of the Foundation initially screens applications received and identifies candidates to interview.
7. Interviews with candidates shall be carried out individually, usually at candidates’ home universities, during the period from January to April.
8. One of the most important points for evaluation is why the university has nominated the candidate and what kind of scenario the department or faculty has for the candidate in terms of academic collaboration after graduation. If the applicant’s department or faculty has been implementing specific cooperation/collaboration with the laboratory of the proposed host professor in Japan, this will receive positive consideration in the screening of the candidate.
9. Following the interview, the Foundation may contact both senior advisors at the home university and the proposed host professor in Japan for further verification.
10. Notification of final decisions will be made to the presidential offices, and award notices will be sent to each successful candidate in June.
Eligible Universities
Indonesia
• University of Indonesia
• Bandung Institute of Technology
• Gadjah Mada University
• Surabaya Institute of Technology
Singapore
• The National University of Singapore
Malaysia
• University of Malaya
• University of Technology Malaysia
Thailand
• Chulalongkorn University
• Chiang Mai University
• Khon Kaen University
• King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang
• King Mongkut’s University of Technology Thonburi
The Philippines
• University of the Philippines
Vietnam
• Hanoi University of Technology
• Ho Chi Minh City University of Technology

untuk info lebih lanjut silahkan klik http://www.hitachi-zaidan.org/global/scholarship/activities/active01.html

THE OKAZAKI KAHEITA INTERNATIONAL SCHOLARSHIP FOUNDATION PDF Print E-mail

Anyone who supports the objectives of the foundation to build his/her own country and to
promote international friendship, is outstanding in personality and ability, in sound health and is
deemed to be in need of financial assistance for educational expenses, and who meets the following qualifications:
(1)Be a citizen of Indonesia
(2)Be a resident of Indonesia on April 1, 2010
(3)Be born after April 2, 1986
(4)Academic Qualifications: Must have graduated from a university designated by our
foundation prior to March 31, 2011 and be able to obtain a letter of recommendation from
his/her supervising professor.
The applicants also required to have completed a total of 16 years of education at
recognized educational facilities.

(5)Major: The field of study selected by the applicant must be the same as his/her major at the
undergraduate level. (Preferably, the applicant should have selected the university of
his/her choice and the supervising professor under whom he/her wishes to pursue
graduate studies.)
The applicant’s proposed research theme should be suitable for study at the graduate level
in a Japanese university.
(6)Language ability: Must be able to understand graduate level lectures taught in Japanese
or English. Selected applicants who have not yet learned Japanese are required to attend a Japanese language course at a language school for 6 months (approximately 500 hours)prior to coming to Japan.
Furthermore, the selected applicant shall be required
(7) Dwelling: Must principally be willing to live in the ANA dormitory.
Note: The foundation thinks it desirable for the students to live in the ANA dormitory
Not only for the purpose of saving living expenses but also for the purpose of
associating daily with young Japanese people living in the same facility.
(8) Others: The foundation deems it most suitable that the selected applicant come to Japan
alone(without his/her family)to study under our program.
(ⅰ)The student must live alone(without his/her family)for the first year in Japan.
(ⅱ)After one year it is possible for the selected student to live with his/her family if
he/she wished to do so, but the foundation cannot give any assistance for his/her
family.
Note: It is generally very hard for students from abroad to live and study in Japan
With his/her family, as the student will meet many difficulties such as the high cost of living, housing problems and language difficulty.

http://www.okazakizaidan.or.jp/info/

Beasiswa Hasiya PDF Print E-mail

1. Nama Beasiswa

橋谷(はしや)奨学金

2. Besar Beasiswa dan lama periode Beasiswa

100.000/bulan
Sampai lulus degree saat apply
(mis apply saat M1 atau M2, tetap cuma sampai lulus S2)

3. Cara Pendaftaran dan Tahapan Seleksi

Pendaftaran melalui International Affair kampus
Seleksi hanya seleksi berkas
4. Tips-tips

Tidak ada tips khusus
Karena hanya ada seleksi berkas (tidak ada wawancara), berkas-berkasnya harus bagus, termasuk nilai
Beasiswa ini khusus untuk orang Indonesia, tapi kadang-kadang formulirnya tidak disediakan di kampus. Untuk kasus seperti ini, bisa minta International Affair untuk menelepon ke Hasiya untuk meminta formulir.

Narasumber : MY(Atas permintaan nara sumber untuk tidak ditampilkan)

Bahan Ajar Geografi SMA

Februari 25, 2010

Bahan ajar geografi semakin tahun semakin banyak terdapt di internet. Harapannya agar siswa semakin mudah mengenali tanah air dan bangsanya. Tidak asal bicara ketika ada bencana alam, tetapi pakai data dan fakta.

Berikut bahan ajar geogafi dari http://www.edukasi.net, semoga bermanfaat.

1. Peta dan Inderaja
2. Pengetahun Peta
3. Skala dan Proyeksi
4. Sistim Infrormsi Geografi
5. Sumberdaya Manusia
6. Peraian Darat dan Laut
7. Laut dan Pesisir
8. Lithosfer
9. Cuaca dan Iklim
10. Lingkungan dan Pembangunan
11. Bentuk muka bumi
12. Geografi dan manfaatnya
13. Penginderan Jauh
14. Atmosfer
15. Pedosfer
16. Lahan Kritis

KUMPULAN SOAL UJIAN PERGURUAN TINGGI

Februari 17, 2010

Lulus pada Ujian Perguruan Tinggi merupakan sebuah kebanggan yang patut disyukuri. Sebuah prestasi dan prestise tentunya buat siswa dan keluarga. Kenyataan menunjukkan bahwa satu tempat duduk banyak diperebutkan siswa, ini menjadi tidak sebanding jika kita melihat beberapa jurusan favorite. STEI ITB, Pendidikan Dokter UI, Akuntansi UI, Hubungan Internasional UI, FSRD ITB, Teknologi Pangan Gizi IPB dan lain-lain. Kondisi ini terkadang membuat siswa menjadi mengambil jalan pintas, padahal tingkat kesukaran soal Ujian Perguruan Tinggi mempuanyai “kelas” tersendiri. Sehingga hanya anak yang mampu mengerjakan soal secara “keseluruhan” (bukan semua soal, loh hehehhe) secara tepat dan cepat.
Untuk itu melalui blog ini, saya hanya bisa memberikan soal-soal tahun-tahun terdahulu. Soal-soal tersebut mempunyai variasi yang baik dan telah tervalidasi. Sehingga saya berharap soal-soal tersebut dapat memberikan gambaran kepada siswa seperti apa Ujian Perguruan Tinggi Negeri.

KUMPULAN SOAL IPA
1. IPA TERPADU 2004
2. IPA TERPADU 2003
3. IPA TERPADU 2005
4. IPA TERPADU 2006
5. IPA TERPADU 1998
6. MATEMATIKA IPA 2000
7. MATEMATIKA IPA 20011
8. IPA TERPADU 1995
9. IPA TERPADU 2002
10. MATEMATIKA IPA 1999
11. IPA TERPADU 1997
12. IPA TERPADU 1996
13. IPA TERPADU 2001
14. IPA TERPADU 2000
15. MATEMATIKA IPA
16. MATEMATIKA IPA 2004
17. MATEMATIKA IPA 1996
18. MATEMATIKA IPA 2007
20. MATEMATIKA IPA 2006
21. MATEMATIKA IPA 1997
22. MATEMATIKA IPA 2005
23. MATEMATIKA IPA 1995
24. MATEMATIKA IPA 2002
25.MATEMATIKA IPA 1998

USMI 2010

Februari 9, 2010

Daftar siswa dieterim di IPB 2010
1. Diah Prabhandhari Teknik Sipil Lingkungan
2. Ericka Rizky Keumala Dewi Kedokteran Hewan
3. Gita Chiriana Rahmayanti Teknologi Industri Pertanin
4. R.A. Anandya Surya Dewi Teknologi Pangan