Archive for the 'masa depan' Category

3.718 Guru Akan Pensiun Tahun 2012

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika menyatakan, pensiun masal guru-guru di Jakarta memang benar akan menjadi kenyataan di tahun 2012. Pasalnya, di tahun tersebut angka guru yang akan pensiun melampaui tahun-tahun sebelumnya, mencapai 3.718 guru.

“Kami sudah mendata total guru yang akan pensiun mencapai 3.718 guru PNS di tahun 2012,” ucap Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika, Rabu (2/3/2011), saat dihubungi wartawan.

Dari jumlah guru yang akan pensiun tersebut terbanyak berasal dari jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Berikut rincian jumlah guru pensiun di tahun 2012, guru SD 1.112 orang, SMP 2.379 orang, SMA 145 orang, dan SMK 82 orang. Apabila ditotal mencapai 3.718 orang.

Jumlah tersebut mengalahkan angka pada tahun 2011 dan 2013. Di tahun 2011 sebanyak 3.352 guru pensiun dengan rincian: guru SD 843 orang, SMP 2.313 orang, SMA 144 orang, dan SMK 52 orang. Sementara pada 2013 mencapai 3.697 orang dengan rincian: guru SD 1.059 orang, SMP (2.376 orang), SMA (196), dan SMK (66).

Pensiun massal terjadi lantaran pada tahun 1970 hingga 1980-an kebutuhan Jakarta akan guru sangat diperlukan sehingga dilakukan rekrutmen besar-besaran. Tak mengherankan jika kemudian banyak guru yang dengan cepat diangkat menjadi PNS, tidak seperti yang terjadi saat ini.

Menghadapi angka pensiunan guru yang sedemikian tingginya, Agus mengaku tidak khawatir Jakarta akan kehilangan tenaga pendidik yang berujung pada penurunan kualitas. “Tidak khawatir soal itu, karena kalau ada regenerasi kualitas tetap bisa dipertahankan,” ujar Agus.

Penggantian posisi akan dilakukan melalui pengangkatan guru honorer dan rekrutmen guru-guru baru disesuaikan dengan kapasitas tenaga pendidik yang kosong semenjak ditinggalkan guru yang hendak pensiun.

“Mapping sedang kami lakukan selama 1-2 bulan ke depan, dari situ kami akan ketahui berapa jumlah kebutuhan guru tetap dan yang akan direkrut,” ujarnya.

Oleh karena itu, saat ini pihaknya belum bisa memastikan apakah akan ada dispensasi atau keringanan bagi guru honorer yang selama ini belum juga diangkat meski bertahun-tahun telah mengajar. “Kami tunggu dulu pemetaannya,” ucapnya.

Adapun berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta tahun 2010, guru dengan status PNS mencapai 37.206 orang, sedangkan non-PNS (honorer) mencapai 12.267 orang.

“Idealnya, 45.000-50.000 guru PNS diperlukan di Jakarta. Dengan adanya tenaga honorer menunjukkan bahwa Jakarta masih perlu tambahan tenaga pendidik,” tandas Agus.

Iklan

DKI Petakan Guru-guru yang akan Pensiun

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Pensiun besar-besaran tenaga pendidik yang diperkirakan terjadi di DKI Jakarta diakibatkan karena pada 1973 dilakukan rekrutmen massal sehingga massa pensiun pun akan secara berbarengan pada 2012 mendatang. Masa pensiun ini terjadi saat tenaga pendidik sudah menginjak usia 60 tahun.

Demikian diungkapkan Wakil Kepala Dinas Pendidikan (Wakadisdik) DKI Jakarta, Agus Suradika di Balaikota DKI, Jakarta, Rabu (2/3/2011). Sesuai peraturan yang ada, guru yang berumur 60 tahun memang harus pensiun.

Untuk mengantisipasi kurangnya tenaga pendidik akibat pensiun besar-besaran itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sedang melakukan pemetaan jumlah guru yang akan pensiun, sehingga dapat mengajukan usulan pengangkatan guru pegawai tidak tetap (PTT) dan penerimaan guru baru.

“Pendataan tengah dilakukan pada guru-guru yang pensiun dan pemetaan juga dilakukan pada tenaga pendidik baru yang dibutuhkan di enam wilayah Jakarta. Cara lain yang dilakukan dengan mengangkat guru honorer dan rekrut guru baru,” ungkap Suradika.

Berdasarkan data Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Pemprov DKI berencana akan mengangkat guru yang masih berstatus PTT menjadi PNS secara bertahap. Tahun ini, ada 374 guru yang berstatus PTT dan secara bertahap akan diangkat menjadi PNS DKI.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengkhawatirkan kekurangan tenaga pengajar atau guru untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pasalnya, pada 2012 diperkirakan ada ribuan guru yang memasuki massa pensiun.

PTT dan Guru Honor Nasibnya Belum Jelas

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo mengungkapkan, sampai saat ini belum ada tanda-tanda yang jelas tentang perubahan status para guru honor dan guru berstatus pegawai tidak tetap (PTT) untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Hal tersebut sangat dikhawatirkan karena kebutuhan guru semakin mendesak.

Mendesaknya kebutuhan itu karena tahun 2011 adalah batas terakhir pengangkatan guru honor dan PTT menjadi PNS untuk mengantisipasi pensiun besar-besaran pada 2012 nanti. Sulistiyo mengatakan, apabila tahun ini para tenaga guru bantu tersebut tidak juga diangkat PNS, Indonesia akan mengalami krisis pendidik.

“Terus terang saya sedih melihat kondisi ini. Sampai sekarang masih belum jelas perubahan status mereka, sementara di sisi lain kebutuhan itu terus mendesak dilakukan. Terakhir kami (PGRI) rapat dengan Menakertrans yang hadir Dirjennya, itu pun juga tidak memberikan informasi yang layak,” ujar Sulistiyo kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (2/3/2011).

Diberitakan sebelumnya, PGRI mendesak pemerintah segera mengangkat guru bantu atau honorer untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Pasalnya, tahun ini merupakan batas terakhir untuk mengangkat guru menjadi PNS.

“Kami akan mendesak Depnakertrans dan Pemprov DKI untuk mengangkat guru bantu menjadi PNS karena tahun ini tenggat waktu terakhir guru bantu jadi PNS,” ungkap Ketua Pengurus Besar PGRI Sulistiyo, Rabu (2/3/2011), di Jakarta.

Dinas Pendidikan DKI Jakarta misalnya, mengkhawatirkan kekurangan tenaga pengajar atau guru untuk tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Pada 2012 diperkirakan ada ribuan guru yang memasuki masa pensiun.

PGRI Desak DKI Angkat Guru Bantu

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera mengangkat guru bantu atau honorer untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Pasalnya, tahun ini merupakan batas terakhir untuk mengangkat guru menjadi PNS.

“Kami akan mendesak Depnakertrans dan Pemprov DKI untuk mengangkat guru bantu menjadi PNS karena tahun ini tenggat waktu terakhir guru bantu jadi PNS,” ungkap Ketua Pengurus Besar PGRI Sulistiyo, Rabu (2/3/2011), saat dihubungi wartawan.

Ia melanjutkan, apabila tahun ini para tenaga guru bantu tersebut tidak juga diangkat PNS, Indonesia akan mengalami krisis pendidik.

“Hal ini karena dari tahun 2010 hingga lima tahun akan banyak guru senior memasuki masa pensiun. Sehingga mengakibatkan jumlah guru tidak seimbang dengan jumlah anak murid,” ucap Sulistyo.

Oleh karena itu, regenerasi guru serta rekrutmen dan pengangkatan PNS baru harus segera dilakukan. Apabila tidak dengan segera diisi oleh tenaga baru, dikhawatirkan kekosongan tenaga pendidik akan menurunkan kualitas pendidikan.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 2012 nanti di DKI Jakarta akan terjadi pensiun besar-besaran para guru yang sudah menjadi PNS karena sudah memasuki usia 60 tahun. Pensiunan besar-besaran ini terjadi lantaran sebelumnya di tahun 1973, terjadi perekrutan besar-besaran sehingga memiliki masa pensiun yang bersamaan.

2012, DKI Terancam Defisit Guru

Maret 3, 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengkhawatirkan kekurangan tenaga pengajar atau guru untuk tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Pada 2012 diperkirakan ada ribuan guru yang memasuki masa pensiun.

Hal tersebut dibenarkan Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika.

”Saat ini, kita sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi pensiun massal guru di Jakarta pada tahun 2012,” kata Suradika, Rabu (2/3/2011) di Balaikota DKI, Jakarta.

Pensiun massal ini terjadi lantaran sebelumnya, pada 1973, juga dilakukan rekrutmen massal sehingga masa pensiun pun berbarengan di 2012. Masa pensiun ini terjadi saat tenaga pendidik sudah menginjak usia 60 tahun.

Sesuai peraturan yang ada, guru yang berumur 60 tahun memang harus pensiun. Untuk mengantisipasi kurangnya tenaga pendidik akibat pensiun besar-besaran itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sedang melakukan pemetaan jumlah guru yang akan pensiun sehingga dapat mengajukan usulan pengangkatan guru pegawai tidak tetap (PTT) dan penerimaan guru baru.

PENTING DARI UI

November 20, 2010

Universitas Indonesia tidak bekerjasama dengan pihak Bimbingan Belajar/Bimbingan Tes/lembaga sejenis manapun untuk mengadakan kegiatan Try-Out dan/atau menjanjikan kemudahan untuk diterima di UI.

Jangan percaya pada pihak manapun yang menawarkan kelulusan dengan membayar sejumlah uang atau imbalan.

Jawara Ujian Perguruan Tinggi

November 19, 2010

Mereka yang tersebut di bawah ini adalah para jawara siswa SMA Negeri 8 Jakarta, yang telah lulus ujian beberapa Perguruan Tinggi Ternama, baik dalam maupun luar negeri. Semoga menjadi bekal inspirasi angkatan 2011.

Angkatan 2009-2010
1. DITA AMALIA : STEI ITB, Pendidikan Dokter Unpad, Manajemen UI, TEKNIK INDUSTRI UI
2. GRANDY PARAMANANDA PUTRA : Mechanical Engineering NUS Singapore, Material EngineeringNTU Singapore, Pendiidkan Dokter UI
3. SHAFIRA ANINDYA : Pendidikan Dokter UNS PMDK, Pendidikan Dokter UI, Pendidikan Dokter Unpad
4. RAHADIANSYAH RAMADHANI : Pendidikan Dokter Unpad, Pendidikan Dokter Unair, Pendidikan Dokter Internasional UI
5. JODY GESIT UTOMO : Teknik Industri Undip , SAPPK ITB, Teknik Industri UI
6. MARSHIELLA : Political Science University of WisconsinMadison, International Studies University of Washington Seattle, PoliticalScience University of Minnesota Twin Cities, Political Science Ohio StateUniversity Columbus, Political Science Pensylvania State University UniversityPark.
7. PUTRI ENDYANA : Teknologi Pangan UGM, Teknik Lingkungan UI, PENDIDIKAN DOKTER USU
8. ATAS HASIBUAN : Teknik Elektro Undip, TEKNIK INFORMATIKA UIN, STEI ITB
9. JOHANNES LEONARDO SOFRESID SASIANG : Teknik Kimia Undip, Teknik Kimia UI, Teknik KimiaUGM
10. NUGROHO CHRISTIAN : Teknik Elektro UI, STEI ITB, PTU Jepang
11. GURUH PERMONO AJI : FITB ITB, Teknik Sipil UI, FTI ITB
12. NATASA EKAPUTRI P. : Project and Facilities Management NUS Singapore, Environment Engineering NTU Singapore, FTI ITB
13. RANDY HASUDUNGAN : Teknik Industri UGM, Teknik Indutsri UI, FTTM ITB
14. ERICKA RIZKY KEUMALA DEWI : Kedokteran Hewan IPB USMI, Biologi UGM, SEKOLAH FARMASI ITB
15. RADITYA YUDHA PRAWIRA : Mechanical Engineering NTU,STEI ITB, Sistem Informasi UI
16. RIDWAN MUHAMMAD : Teknik Sipil UGM, Teknik Sipil UI, FTSL ITB
17. GUSTI SATYAPERDANA : Teknik Elektro Undip, Teknik Elektro ITS, Teknik Mesin UI, TeknikFisika UGM
18. KANIA AZRINA : Asia Pacific Studies APU Jepang, Mechatronic Swiss-German University, STEI ITB, Arsitek UI

Angkatan 2008 – 2009
1. ADI HUTOMO : Teknik Industri Universitas Gajah Mada, Teknik Industri Universitas Indonesia, FTI Institut Teknologi Bandung
2. ANANDRA ACHMAD RINALDO SOROINDA : Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Teknik Elektro Universitas Gajah Mada, FMIPA Institut Teknologi Bandung
3. ELSA YUDHITA : FTI Institut Teknologi Bandung, Economics Nanyang Technological University, Teknik Kimia Universitas Indonesia
4. TERRYLIA FEISRAMI : SITH Institut Teknologi Bandung, Arkeologi Universitas Indonesia, Arkeologi Universitas Gajah Mada
5. BIESMOJO ADY WIDJANARKO : MSE Nanyang Technological University Singapura, Science NUS Singapura, FTI Institut Teknologi Bandung
6. DAVRINA RIANDA DAVRON : FTI Institut Teknologi Bandung, Pendidikan Dokter Universitas Indonesia, Materials Engineering NTU Singapore
7. EMIL ZOLA FARKHAN : Teknik Sipil Universitas Indonesia, FITB Institut Teknologi Bandung, FTI Institut Teknologi Bandung
8. FADITYO : Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Teknik Lingkungan UI, Pendidikan Dokter UNS
9. ADHIGUNA SURYA : Colorado School of Mine USA, FTI Institut Teknologi Bandung, Monash Collage Australia, Pendidikan Dokter Universitas Indonesia, STEI Institut Teknologi Bandung
10. BIMA ANDYAN WICAKSANA : Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro, Pendidikan Dokter Internasional Universitas Indonesia
11. HUMALA PRIKA ADITAMA : Pendidikan Dokter UNS, Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro, Pendidikan Dokter Unpad
12. NADHIRA PUSPITA AYUNINGTYAS : Teknologi Bioproses Universitas Indonesia, Pendidikan Dokter UNS, Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro
13. RIRIS ASTI RESPATI : SITH Institut Teknologi Bandung, Pendidikan Dokter Gigi Universitas Brawijaya, Pendidikan Dokter Unpad, Pendidikan Dokter Gigi Unpad
14. MUHAMMAD PANDU R. : The Fu Foundantion School Of Engineering and Applied Science Columbia University , School of Sciences Sloan School of Management Massachusetts Institute of Technology (MIT). , School Humanities and Science Stanford University, The Wharton School of Business University of Pensylvania
15. NUR ALFIANI : Electrical Engineering Fontys University Belanda, Food Process dan Technology The Hague Belanda , Teknologi Bioproses Universitas Indonesia, Pendidikan Dokter UNS, Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro
16. RADITZIA EKAYANTI Intern. Log. Managt Stendent University Belanda, FTI Institut Teknologi Bandung, Mombukagakusho Jepang
17. RAHMA HUTAMI RAHAYU : Food Process dan Technology The Hague Belanda , Pendidikan Dokter Gigi Universitas Brawijaya, Kesehatan Masyarakat UI
18. SAMIA SAFA NURRAHMAH: MS Nanyang Technological University, SAPPK Institut Teknologi Bandung, Ilmu Komputer UI
19. YOKO HUGO : Intern. Log. Managt Stendent University Belanda, STEI Institut Teknologi Bandung, Matematika UI
20. ANINDYA INDRIVIANI : Business and Management Arnhem University Belanda, SBM Institut Teknologi Bandung, Intern. Trade and Co. Kyungsung University Korea, New Business and Innovation Asia Pacific University, Japan
21. MADE GDE AGHES : Kyungsung University Korea, Sistim Informasi Universitas Indonesia, STEI Institut Teknologi Bandung
22. MUHAMMAD REZA HAREVI : Electrical Engineering Fontys University Belanda, Fisika Universitas Indonesia, Teknik Sipil Internasional Universitas Indonesia, FTSL Institut Teknologi Bandung, Teknik Mesin UI
23. NINDA ANDARIANTI : Ekonomi Internasional Universitas Indonesia, SAPPK Institut Teknologi Bandung, Akuntansi UI
24. PUTRI SYAHIDA AGUSTINA : SITH Institut Teknologi Bandung, Food Process dan Technology The Hague Belanda, Farmasi Universitas Indonesia
25. DHIYAS SATYATAMA : Akuntansi Universitas Indonesia, Akuntansi Universitas Diponegoro, Ekonomi Manajemen Universitas Gajah Mada
26. HARIZAH PERSIANA MANGKUNEGARA : BSM, Hukum Universitas Gajah Mada, Administrasi Fiskal Universitas Indonesia, Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia
27. PUTRI HUSNA RADITYA : Prasetya Mulya , SBM Institut Teknologi Bandung, Sastra Inggris Universitas Indonesia, Psikologi Internasional Universitas Indonesia, Psikologi UI
28. AUDI WIRATAMA: SBM Institut Teknologi Bandung, Administrasi Niaga Universitas Indonesia, International Bussiness Manag. Prog London Metropolitan University Inggris, Manajemen Internasional Universitas Indonesia
29. RIZKI ABADI DANURWINDO : International Relations & Politics London Metropolitan University Inggris, Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada, Ilmu Politik Universitas Indonesia , International Relations & Inter. Orga. Universityof Groningen Belanda

Angkatan 2007 – 2008
1. Amanda Jana S. – IBMS The Hague University Belanda, Ekonomi UI Internasional, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB
2. Ichsan Kharisma – Teknologi Pangan UGM, Kesehatan Masyarakat UI, Teknologi Pangan Unpad
3. Livia Ardelia Gentha – IBMS The Hague University Belanda, Banking and Finance Monash University Australia, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB
4. Falma Kemalasari – Agronomi IPB, SITH ITB, Ilmu Hubungan Internasional UI
5. Alika Dibyanta Tuwo – Biotechnology University of Edinburgh, Life Science National University of Singapore, Bio-Engineering : Pre-medical University of California USA, Biotechnology University of British Columbia Kanada
6. Andhika Putra – Fakultas Teknologi Industri ITB, Teknik Sipil Undip, Teknik Elektro UGM
7. Reo Audi – Teknik Pertanian IPB, Fakultas Teknik Sipil & Lingkungan ITB, Teknik Sipil & Lingkungan UGM
8. Srihajeng Ayu Rachmadiary – Teknik Kimia UGM, Fakultas Teknologi Industri ITB, Teknik Industri UI
9. Uswah Suryani Puteri – Teknologi Pangan IPB, Fakultas Teknik Pertambangan & Perminyakan ITB, Ilmu Komputer UI
10. Randy Agastya – IBMS Arnhem Business School (HAN) Belanda, Ekonomi Akuntansi UGM, Manajemen UI
11. Yohana Afrita – Pendidikan Dokter Unair, Pendidikan Dokter UGM, Pendidikan Dokter UI
12. Gendisya Damarinda – Pendidikan Dokter UGM, Fakultas Teknologi Industri ITB, Ilmu Hukum Unpad
13. Maima Aulia – Greenriver Community College USA, Indiana University Bloomington, University of Minnesota – Twin Cities

Angkatan 2006-2007
1. Kurniawan Surya Suminar – Kyungsung University Korea, Finance and Accounting Arnhem Business School Belanda, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
2. Dhika Satria Pratyangga – Electronic and Electrical Engineering Nanyang Technological University Singapura, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, Ilmu Komputer Universitas Indonesia
3. Dyah Ayu Nico Ramadhani – Hubungan Internasional UGM, Hubungan Internacional Unpad, Ilmu Hubungan Internasional UI
4. Shabrina Rizky Putri – Teknik Industri ITB, Pendidikan Dokter Unpad, Pendidikan Dokter UI
5. Sari Saraswati – Planologi ITB, Psikologi Unpad, Ilmu Keperawatan UI
6. Carolus Martinus Toga – International Business and Management Studies The Hague University Belanda, Business IT Asia Pacific Institute of IT Malaysia, Information Technology President University, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB
7. Amri Pitoyo Priyadi – International Trade and Commerce Kyungsung University Korea, Bisnis Prasetya Mulya Business School, Asia Pacific Studies (APS) Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Ilmu Hubungan Internasional UI, HubunganInternasional UGM
8. Adilla Inda Diningsih – Ilmu Komputer UGM, Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB, Computer Engineering Nanyang Technological University Singapore
9. Iqra Anugrah – Asia Pacific Studies (APS) Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Teknik Industri ITB, Ilmu Ekonomi (Studi Pembangunan) UGM, Mechatronics Swiss German University, Electrical Engineering Fontys University of Applied Sciences Belanda

Angkatan 2005-2006
1. Wulunggono – Pendidikan Dokter UI, Pendidikan Dokter UNAIR, Pendidikan Dokter UGM
2. Dita Kharisma – Industrial Engineering President University, Fakultas Ekonomi UGM, Ekonomi Studi Pembangunan Unpad
3. Fajar Setio Adriputra – University of Ontario Institute of Technology (Kanada), University of Ottawa (Kanada), Teknik Mesin ITB, Asia Pacific University Jepang
4. Fajar Perdana K – Administrasi Bisnis Kyungsung University (Korea), Asia Pasific Management Asia Pacific University (Jepang), Economics Singapore Management University (Singapore)
5. Mutia Prabawati – Teknik Fisika ITB, Sistem Informasi ITS, Manajemen Bisnis APU ( Jepang )
6. Rahma Evasari – Pendidikan Dokter UI, Pendidikan Dokter UNAIR,Teknik Kimia ITB
7. Iman Adrianto – Teknik Industri ITB, Ilmu Komputer UI, Ilmu Komputer UGM
8. Arie Aldila Pratama – Teknik Elektro ITB, Teknik Elektro Universiti Tinggi Malaysia (Malaysia), Teknik Elektro UGM, Pendidikan Dokter UNDIP
9. Meizar Rizaldi – Pendidikan Dokter UNIBRAW, Teknik Industri STT TELKOM, Bisnis internasional Breda University (Belanda), Teknik Planologi ITB
10. Tantia Dian – Tahap Persiapan Bersama IPB, Manajemen UI, School Of Business Management SMU ( Singapore )

Tuhan Sembilan Senti (Puisi Taufiq Ismail tentang bahaya rokok)

Maret 16, 2010

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok, Di sawah petani merokok, di pabrik

via Tuhan Sembilan Senti (Puisi Taufiq Ismail tentang bahaya rokok).

TUHAN SEMBILAN SENTI
(Puisi Taufiq Ismail Tentang Bahaya Rokok)
http://sekolahku.info/2009/11/tuhan-sembilan-senti-puisi-taufiq-ismail-tentang-bahaya-rokok/

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
Rokok hukumnya haram!

Rokok hukumnya haram!

25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghada

Bagian 2 : Rencanakan Pendidikan Masa Depan berarti Merencanakan Hidup

Juni 1, 2009

Sikap mental ketiga yang menurut saya menjadi besar maknanya ketika siswa sudah mempunyai dua hal tadi, yaitu mental Keberhasilan. Selalu adalm percakapan di ruang Bimbingan Konseling adalah kalimat-kalimat kegagalan. “Pak, kira-kira saya lulus tidak, ya ?”. “Pak, saya tidak yakin lulus.” Padahal kalimat yang bagus akan lebih baik hasilnya. “Pak saya perlu doa dari Bapak, agar saya bertambah yakin dapat diterima di ITB.” “Kira-kira apalagi Pak, yang saya harus lakukan agar Allah meridhoi Ujian saya kemaren ?”.
Ada ungkapan bijak yang selalu menjadi rujukan agar kita mempersiapan sebuah pertarungan yang baik, jangan pernah melakukan sebuah pertempuran yang kita yakini tidak akan pernah memenanginya. Hal ini menunjukkan kepada kita untuk mempersiapkan semua pertempuran dengan persiapan matang. Salah satu hal yang selama ini perlu diperhatikan siswa adalah mengubah pola belajar.
Pola belajar adalah bentuk dan metode belajar yang sehari-hari dilakukan. Tanpa sadar siswa telah membentuk polanya masing-masing. Tetapi kalau kita lihat sebenarnya bisa dibagi menjadi dua bagian besar. Siswa yang rajin belajar dan siswa yang tidak rajin. Untuk siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata dua metode ini masih mempunyai dampak yang baik, tetapi buat siswa yang di bawah rata-rata, maka hanya pilihan yang rajin belajar saja yang mampu meningkatkan kompetisi siswa. Rajin atau tidaknya siswa belajar, ternyata dipengaruhi banyak faktor. Tetapi jika siswa telah memiliki pilihan hidupnya, dukungan orang tua dan lingkungan, serta keinginan yang ingin berhasil dan hidup mandiri kelak, maka hal ini akan memperkuat pilihan kepada pilihan siswa rajin belajar.
Masa lalu orang tua kita selalu mengatakan belajar dua jam setelah sholat maghrib, sehingga bisa tidur di jam 21.00. Sekarang dengan kemajuan teknologi, kompetisi untuk mencapai yang terbaik, banyak siswa mengubah pola tersebut. Bukan lamanya waktu yang menjadu target, tetapi berapa halaman, berapa soal dan berapa banyak “hal” yang kita dapat. Kalau kita menghitung-hitung waktu belajar siswa, mulai dari era 80-an, amat berbeda sekali. Era 80-an, mulai timbul banyak bimbingan belajar. Sehingga siwa, sepulang sekolah langsung menuju bimbingan belajar. Hingga saat ini pola itu berjalan. Jam 07.00 – 15.30 siswa berada di sekolah, pukul 17.00 – 21.00 siswa ada dibimbingan belajar, 22.00 sampai rumah dan tertidur. Bahkan beberapa anak, karena masih merasa kurang, jam 04.00 sudah bangun dan belajar kembali untuk menghadapi pelajaran sekolah hari itu.
Siswa yang selama belajar di rumah menggunakan pola bukan hanya membaca atau menghapal teori, tetapi juga melakukan latihan, tentunya akan mempunyai keberhasilan tinggi. Siswa dengan pola ini telah menggunakan pola pembelajaran yang benar. Belajar bukan hanya membaca, terus selesai. Melakukan latihan adalah proses yang harus terjadi jika ingin belajar menjadi hal yang berguna. Evaluasi harus dilakukan.

Selalu mengevaluasi kemajuan dan kekurangan
Setelah melakukan proses pembelajaran, baik di sekolah, di bimbingan atau di rumah, siswa telampau sulit untuk sedikit mempunyai waktu menilai pembelajaran yang telah dilakukan. Selama ini proses pengukuran hasil belajar hanya dilakukan dengan ketercapaian nilai. ”Alhamdulillah nilai saya 75.” Evaluasi pembelajaran yang baik bukan hanya kemajuan mendapatkan nilai, tetapi juga kepada kegagalan mendapatkan nilai pada poin atau bagian lain. Belajarlah dari kesalahan. Itu kalimat bijak sekali.
Setiap habis try out, saya selalu bertanya : apa saja yang salah ? Buatlah daftar ketidakmampuan kamu, itulah kekurangan kalian. Ternyata dari 25 soal Matematika Dasar, saya tidak mampu mengerjakan Persamaan Linier, Fungsi Turunan, bahak Probabilitas. Atau : dari semua soal tenses, saya hanya benar 2. Buat daftar kekurangan atau ketidak mampuan tersebut. Tempelkan di dinding dekat meja belajar. Tempelkan pula nilai try out atau nilai tes dari latihan di sekolah atau bimbingan belajar.
Hal ini akan membuat para siswa semakin sadar, dimana ketidak mampuannya, dimana kemampuannya. Hal ini penting, karena siswa lain boleh jadi tidak mengevaluasi dirinya. Ini akan lebih berguna ketika para siswa mulai tahu standar minimal untuk masuk ke Jurusan atau Fakultas di PTN tertentu. Camkanlah, seorang siswa yang tahu akan kekuarangannya, dia akan belajar dan akan terus belajar. Tetapi seorang siswa yang tahu akan kemampuannya, dia akan merasa mampu, boleh jadi tidak mau meningkatkan kemampuannya.

Menjaga komitmen
Masa kelas XII, merupakan masa yang krusial. Ada siswa yang makin mantap dengan pilihannya, ada yang mulai ragu, tetapi yang lebih parah ketika ada siswa yang tidak mau berubah menjadi baik. Masih ingin main, kongkow-konngkow, dugem dan sejenisnya. Kelas XII masa yang menentukan. Salah mengambul sikap, maka menyesalnya berkepanjangan. Masa libur panjang kenaikan kelas XI ke kelas XII manfaatkan sebaik mungkin. Kelas XII nanti, jangan pernah berpikir untuk libur terus. Pertempuran di kelas XII. Senapan harus terisi terus dengan peluru. Kesiapan mental dan stamina akan amat menentukan.
Ada juga faktor penggoda. Mau cari kekasihlah, putus pacar, dimarahin orang tua, dihukum guru dan bahkan ada siswa yang karena merasa sudah paling tua, menunjukkan bakat ”asli terpendam”. Tidak disiplin, rajin menyontek dan bahkan menghilang dari sekolah, bolos. Padahal kalau siswa hadir dan mengikuti semua kegiatan, dia akan tahu apa yang harus diperbaiki agar lebih berkompeten dari siswa lain. Harus diingat, belajar yang ada kompetitornya akan lebih baik ketimbang belajar mandiri tanpa kompetitor.
Komitmen yang tinggi untuk berhasil di semua ujian, akan membuat para siswa mempersiapkan lebih matang, tidak tergoda, dan bahkan tidak akan mengubah pilihan secara dadakan dan tanpa pemikiran matang.

Bagian 1 : Rencanakan Pendidikan Masa Depan berarti Merencanakan Hidup

Mei 31, 2009

Masa kelas XI telah berakhir, banyak kenangan yang telah terlewati. Dari kenangan indah hingga kenangan yang mungkin mengharu biru. Dapat kekasih, dapat nilai mid semester bagus, dan tentunya naik kelas. Di sisi lain mungkin saja, kehilangan HP, terlambat masuk hingga orang tua dipanggil, hingga ketahun menyontek. Semuanya tetap menjadi kenangan indah kelas XI.
Kelas XI tetap harus dilewati karena tidak selama siswa kelas XI terus. Siswa akan memasuki masa perjuangan sesungguhnya. Kelas X dan XI amat menentukan perjuangan siswa selanjutnya. Jika siswa telah terbiasa berjuang keras, membangun kompetisi yang sehat, menetapkan pilihan perkuliahan, maka akan lebih mufah menghadapi dan mengisi hari-hari di kelas XII. Kemampuan dasar akademis ditanamkan di kelas X dan XI, kelas XII berupa pengulangan dan penguatan. Dapat dipastikan bahwa materi pembelajaran sepenuhnya diberikan di kelas X dan XI. Kelas XII hanya berisikan sebagian kecil materi pokok.
SMA Negeri 8 Jakarta sebagai sebuah sekolah unggulan nasional, mempunyai sebuah formulasi untuk membuat siswanya dapat berhasil mencapai cita-cita. Cita-cita yang paling dekat adalah berkuliah di Perguruan Tinggi sesuai dengan minat dan kemampuan.
Tulisan ini kami buat sebagai gambaran kegiatan siswa kelas XII saat menjalani hari-hari di sekolah dan kegiatan luar sekolah, sehingga siswa mampu untuk mewujudkan cita-citanya. Tulisan ini didasarkan pada pengalama menjadi guru Bimbingan Konseling di SMA Negri 8 Jakarta. Sehingga mungkin saja yang kami tuliskan di paparan ini tidak sesuai dengan kenyataan setiap individu. Minimal para siswa mendapatkan gambaran tentang persiapan kakak-kakak mereka di tahun lalu mewujudkan cita-citanya.
Sebenarnya ada 4 aspek yang akan kami bicarakan, yaitu siswa, guru, bimbingan tes/belajar dan orang tua. Kami akan lebih banyak membicarakan 3 aspek, yaitu siswa, bimbingan belajar/tes dan orang tua. Bukan mengecilkan arti peran guru, tetapi lebih kearah penghormatan kepada guru, yang telah berjuang menanamkan pondasi keilmuan, dan selalu dilupakan saat siswa diterima di Perguruan Tinggi. Siswa dan orang tua hanya akan mengingat Bimbingan Belajar/tes yang telah mengantarkan siswa mampu berjuang dalam ujian masuk perguruan tinggi. Kewajiban guru hanya mempersiapkan siswa mampu menghadapi ujian nasional. Tetapi terkadang menjadi lucu ketika siswa gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, justru guru yang dipersalahkan. Terkadang siswa juga akan menyakiti guru ketika mendekati masa-masa ujian masuk perguruan tinggi, dengan seenaknya siswa meninggalkan kelas menuju bimbingan belajar. Guru akan tetap bersemangat mengajar para siswa yang tersisa di kelas dengan semangat dan senyum. Guru SMA Negeri 8 Jakarta akan tetap berdoa untuk kebaikan anak didik.
Tiga tahun yang lalu para siswa datang ke SMA Negeri 8 Jakarta dengan semangat yang amat tinggi, mewujudkan cita-cita, bukan hanya dapat masuk ke SMA Negeri 8 Jakarta, tetapi berkompetisi dengan para siswa terbaik se-Jakarta, juga tetap dalam jalur yang benar, menuju universitas pilihan. SMA Negeri 8 Jakarta selalu menjadi pilihan siswa SMP, sehingga rata-rata nilai masuk menjadi tinggi. Tahun lalu saja sudah mencapai angka rata-rata 9,3. Nuan SMP tertinggi DKI dapat dipastikan selalu menjadi siswa SMA Negeri 8 Jakarta. Sehingga dapat dipastikan, siswa SMA Negeri 8 Jakarta adalah sekumpulan anak terbaik di DKI Jakarta. Sebuah beban berat yang harus dipikul para guru. Mendidik anak pandai, justru tidak semudah mendidikan anak dengan kemampuan rata-rata. Argumentasi dan logika menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pengajaran di SMA Negeri 8 Jakarta. “Kenapa demikian, Pak?”. Atau,”Bukannya ……., Bu ?”.
Di SMA Negeri 8 Jakarta, posisi siswa akan terlihat dari 3-4 bulan pertama di sekolah. Ada siswa yang langsung mampu beradaptasi, ada yang tidak peduli, atau ada juga yang sudan berteriak akan ketidak nyamanan. Siswa yang dari asal SMP telah menikmati kompetisi secara akan terus mampu menikmati pembelajaran, tetapi yang “karbitan” akan mulai tersengal-sengal. Akan lebih parah terhadap siswa yang hanya mampu mempunyai nilai baik saat UJIAN NASIONAL saja. Ini masa lalu siswa, jadi tidak perlu dibicarakan lagi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
• Tentukan Pilihan Cita-cita, Jurusan dan Perguruan Tinggi
• Ubah mental dan pola belajar
• Selalu evaluasi kemajuan dan kekurangan
• Menjaga komitmen

Tentukan Pilihan Cita-cita, Jurusan dan Perguruan Tinggi
Cita-cita, jurusan dan Perguruan Tinggi merupakan awal dan roh perjuangan siswa. Kalau hanya lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, jangan melanjutkan membaca tulisan ini. Banyak siswa bahkan sampai kelas XII semester genap belum tahu mau jadi apa, akhirnya semua ujian masuk perguruan tinggi dicobanya. Hasilnya bisa ditebak.
Beberapa anak akan mengikuti profesi bapak atau ibunya, beberapa anak terinspirasi paman atau kakaknya, tetapi banyak juga yang dipaksa orang tuanya. Kebijaksanaan orang tua melihat potensi dan kemampuan siswa , serta kemauan siswa justru akan menjadi kekuatan yang berlimpah dan kontinyu.
Terkadang cita-cita masa kecil akan berubah dengan perubahan masa usia, level sekolah dan bahkan tingkat hubungan dengan orang sekitar. Ada siswa yang dari kecil ingin menjadi dokter, keluarga di rumah memang lulusan kedokteran, akan berubah saat bertemu dengan orang tua siswa lain yang berhasil di Pemerintahan misalnya. Atau akan berbeda juga ketika seorang anak menentang orang tuanya karena tidak mau menjadi ABRI atau birokrat hanya karena melihat tanyangan kekerasan saat demonstrasi.
Tetapi yang paling nyata terlihat adalah sesbuah kondisi keberhasilan hidup yang selalu ditilai dengan “kemampanan”. Orang tua akan amat berbahagia, apabila anaknya bisa masuk ke Pendidikan Dokter. Seakan telah memenangkan perjuangan hidup. Menjadi dokter adalah pilihan hamper 80% siswa dan oran tua. Selain masa depan yang pasti dokter juga masih merupakan profesi terhormat dan “kaum terdidik”.
Banyak hal yang membuat orang menentukan sebuah cita-cita, dan yakini cita-cita adalah sebuah proses pemilihan dan bahkan menentukan pilihan hidup seseorang. Karena sebuah proses, maka seseorang akan menentukan sebaik mungkin. Bukan secepat mungkin, bukan kata “si A”, bukan karena tidak enak dengan “si B” atau lainnya. Ada pun factor-faktor yang menyebabkan “pendewasaa” cita-cita adalah :
1. Pendidikan Orang tua dan sikap hidupnya
2. Informasi dari keluarga, guru atau rekan di sekolah
3. Perguruan Tinggi
4. Dunia kerja
5. Lain-lain

Orang tua bisa menjadi faktor yang menyulitkan siswa, dalam menentukan pilihan jurusan saat pemilihan jurusan atau fakultas. Sebagian orang tua yang melihat perkembanganya anaknya, tahu akan nilai-nilai rapor, sering berbicara tentang masa depan, diskusi yang acap kali terjadi di meja makan malam atau mendampingi anak untuk datang ke Pameran Pendidikan akan lebih terbuka akan pilihan-pilihan. Berbahagialah para siswa yang mempunyai orang tua yang mendukung cita-citanya, minimal satu kendala telah teratasi. Bayangkan beban siswa akan bertambah harus mempersiapkan bahan ujian, stress dengan kompetitor di sekolah, bahkan tertekan dengan nilai-nilai Try Out yang tidak naik-naik.
Orang tua yang mempunyai pandangan terbuka, dimana para siswa diperkenankan memilih untuk hidupnya. Tidak kaget oleh pilihan siswa yang berbeda, atau malah menjadi teman dalam memilih jurusan atau fakultas, wah berbahagia sekali. Ketika ada sedikit perbedaa, maka para siswa akan mencari sumber lain untuk “meridhoi”pilihannya sendiri. Bisa keluarga. guru aatau teman. Alangkan bagusnya jika informasi yang adalah gabungan dari ketiganya. Karena ketiganya punya kekurangan.
Tentunya jika anak diberikan perangkat teknologi akan lebih baik lagi. Dunia maya tersedia banyak informasi terkini. Situs perguruan tinggi mudah diakses. Siswa yang ikut milis beasiswa atau milis pendidikan daripada siswa yang terlalu “jadul” dengan teknologi. Apalagi belakangan ini banyak mahasiswa atau siswa sering bertukar informasi dan pengalaman menghadapi Ujian seleksi masuk perguruan tinggi, blog bahkan facebook menjadi ajang pertukaran informasi.
Tiap hari Sabtu dan Minggu, beberapa siswa kelas XI mulai rajin melihat lapangan kerja, mereka ingin mendapatkan informasi kebutuhan pasar. Beberapa bidang pekerjaan memang tidak diiklankan, tetapi minimal siswa tahu. Jurusan dan Fakutas apa yang sedang tren.

Ubah mental dan pola belajar
Ini bagian kedua yang terpenting. Ketika siswa telah menentukan cita-cita atau pilihan ini, maka target telah terpilih. Saya selalu meminta para siswa untuk punya target berisi dua hal, target jurusan dan target fakultas/PTN-nya. Jika siswa memilih Pendidikan Dokter, maka PTN bisa di UI atau di tempat lain. Tetapi jika memilih UI lebih dahulu, maka siswa akan hanya mempunyai pilihan sekitar 38 jurusan yang ada di UI.
Kalimat saya kepada siswa adalah ubah mental dan pola belajar. Target naik kelas menjadi diterima di perguruan tinggi. Naik kelas, lulus dari sekolah dengan metode ujian yang berbeda. Keduanya menggunakan pola ujian EVALUASI. Sementara diterima di PTN adalah pola ujian SELEKSI. Pola evaluasi akan lebih mudah dilalui, karena semua soal yang diujikan pasti telah dipelajari dan dilatih. Patokan nilai kelulusan jelas sekali, sehingga siswa berpikir untuk lulus dengan berapa soal harus dijawab dengan benar. Pola evaluasi dilakukan untuk mengakhiri sebuah kegiatan belajar mengajar.
Pola seleksi, dilakukan oleh lembaga di luar yang memberi pembelajaran. Walau pun ada standar nilai terendah untuk dapat ikut seleksi kelulusan, tetapi sesungguhnya batas kelulusan bukan nilai mutlak, tetapi lebih kearah jumlah daya tampung yang tersedia. Daya tampung menjadi faktor pembatas.
Satu sikap mental yang paling utama harus ada dari kondisi ini adalah : mental kompetisi. Ujian masuk perguruan tinggi adalah ajang kompetisi. Siswa yang terbiasa berkompetisi pasti akan mencari nilai terbaik, dan hanya siswa yang mempuyai kompetensi yang baik di semua mata uji,
Sebuah keberhasilan ada di puncak karena di bawahnya ada ribuan tumpukan kegagalan. Selama ini orang hanya melihat sebuah keberhasilan, tidak melihat prose situ terjadi, ribuan kegagalan menyertai. Konsistensi adalah sikap mental kedua.