Archive for the 'kerja' Category

Menyusun Kelas

September 17, 2010

Menyusun Kelas

Hampir 7 tahun yang lalu, saat pertama kali ikut menjadi tim pembuatan kelas saat kenaikan kelas, sempat bingung dan pusing. Maklum saat itu belum lama jadi guru Bimbingan Konseling di SMA Negeri 8 Jakarta. Pokoknya coba belajar dan cari tahu bagaimana cara pembuatan kelas. Hampir satu minggu cuma melihat data siswa, dari data akademik, jenis kelamin, asal sekolah, dunia percintaan, pertemanan siswa, permusuhan siswa, perkelompokan (gank,… hehhehe ada juga), bahkan agama bahkan kembaran serta special request. Untungnya data siswa itu ada, yang terkumpul selama setahun, melalui observasi atau pun hasil wawancara siswa.

Tulisan ini akan menjelaskan pembuatan kelas versi saya, dengan segudang kelemahan tentunya, tetapi minimal ini yang saya lakukan selama 5 tahun. Pembuatan kelas yang paling sulit adalah saat kenaikan kelas X ke kelas XI. Kalau kelas X dan kelas XI ke kelas XII tidaklah terlalu rumit, data sudah ada.

Pertama
Tentukan dulu tujuan pembuatan kelas tahun ini dengan melihat kurikulum, kondisi siswa, kemampuan akademik. Setiap tahun akan berbeda, tetapi yang saya lihat saat lima tahun tersebut adalah, tidak ada kelas unggulan. Tetapi masih dimungkinkan untung mengumpulkan anak ”pandai” dalam satu kelas. Menghidari sekali kelas ”gerombolan atau kambing hitam”. Di Tahun 1986-1987, kala menjadi siswa, di SMA Negeri 8 ada kelas dengan julukan LASPENDOS ( kelas penuh dosa,… serem juga). Saat itu kelas saya bernama Du fi du ( dua fisika dua, hehehhehe temannya scooby doo)

Kedua
Faktor akademik adalah unsur utama membuat pengkelasan. Siswa kelas X yang naik ke kelas XI IPA digabungkan dalam satu file urutkan berdasarkan rataan nilai total. Bisa juga dengan hanya melihat rataan IPA saja ( Mat – Fis – Kim – Bio), maka urutkan hanya untuk rataan 4 nilai tersebut saja. Jika rataan nilai total siswa bagus maka rataan nilai IPA pun biasanya akan bagus, saat itu kondisi siswa ”aman”. Tetapi kalau ada perbedaan signifikan, maka pelajaran di luar mata pelajaran IPA lah yang mendominasi nilai siswa, pada kondisi ini gunaka nilai rataan IPA saja.

Ketiga
Setelah itu buatlah dengan menggunakan excel, kelas XI A 1 – 40 , kelas XI B 1 – 40 dan seterusnya hinggga kelas XI J 1 – 40. Setiap kelas akan berisi 40 siswa secara penuh. Tetapi dengan aturan sebagai berikut :
1. kelas XI A nomor urut 1 – 10, kelas XI B nomor urut 1 – 10 hingga kelas XI J nomor urut 1 – 10 adalah siswa unggulan secara akademik. Jangan pernah mengganggu distribusi yang terjadi saat kelas ini mendapatkan siswa
2. Kelas XI A nomor urut 11 – 30, kelas XI B nomor urut 11 – 30 hingga kelas XI J nomor urut 11 – 30, adalah kelas yang bisa saling bertukar siswanya, hanya ke kelas di sampingnya, misalnya XI A ke kelas XI B, dan seterusnya. Pada bagian kelompok 20 inilah kita bisa memainkan kelas sesuai aturan yang akan kita pakai. Jadi ada 200 anak yang akan bisa ditolerir bahkan bisa dipaksa untuk pindah secara bersisian.
3. Kelompok terakhir, kelas XI A nomor urut 31 – 30, kelas XI B nomo urut 31 – 40 hingga kelas XI J nomor urut 31 – 40, ini merupakan siswa dengan ”kemampuan akademik terrendah”. Setiap siswa di nomor urut kelompok ini bisa dipindahkan ke kelas di mana pun, tidak harus ke kelas di sampingnya. Jangan kaget biasanya anak-anak dalam kelompok ini ”biasanya” sejenis. Tanpa kita kelompokan mereka sudah dalam kelompo tersendiri, misalnya keseringan remedial, keseringan terlambat, keseringan madol, keseringan tidak mengerjakan tugas, bahkan ada anak-anak yang cuek….

Keempat
Mulailah memasukan daftar anak-anak tersebut secara manual, dengan excel cukup tarik-tarik saja dengan mouse. Siswa dengan urutan nilai 1 – 10 distribusikan di nomor urut 1 pada setiap kelas, siswa urutan nilai 11 – 20 distribusikan di nomor urut 2, dan seterusnya sehingga ada 100 anak yang sudah masuk pada 10 kelas pada nomor urut 1 – 10 di tiap kelas. Para jawara telah tersebar, kelas aman, karena tutor sebaya telah ada disetiap kelas. Adanya tutor sebaya akan membantu guru dalam memberika materi pelajaran, tugas harian bahkan PR.

Kelima
Berikutnya adalah memasukan anak di setiap kelas untuk urutan 11 – 20. Pada urutan nilai siswa nomor 101 hingga 200, masukan ke kelas-kelas (XI A hingga XI J) dengan cara setiap 10 anak, yaitu 101 – 110, 111 – 120 dan seterusnya ke dalam kelas-kelas yang berbeda. Sehingga anak dengan urutan nilai 101 – 110 akan ada di kelas XI A, anak denga urutan 111 – 120 akan ada di kelas XI B, demikian seterusnya, sehingga anak dengan urutan 190 – 200 akan ada di kelas XI J.

Cluster berikutnya adalah kelas dengan urutan 21 – 30. Pada dasarnya sama dengan yang di atas untuk nomor 11 -20, distribusikan seperti itu. Sehingga anak dengan urutan 201 – 210 akan ada di kelas XI A, dan anak dengan urutan 290 – 300 akan ada di kelas XI J.

Keenam
Untuk kelas urutan 31 – 40 di setiap kelas gunakan pola pada langkah ke empat. Sedikit repot tetapiakan aman nantinya.

Ketujuh
Lihatlah distribusi agama dahulu, hal ini dilakaukan agar pada tidak ada agama dengan pemeluk yang tidak banyak akan terkonstrasi di satu kelas. Ini akan tidak nyaman saat pelajaran agama. Setelah siswa dengan agama tertentu di beri warna berbeda, baru kita lihat distribusi jenis kelamin. Perpindahan jenis kelamin atau pun agama siswa tetap menggunakan pola perpindahan setiap cluster/kelompok.

Saya sering menuliskan komposisi jenis kelamin di bawah daftar kelas, misalnya 15 (L) Laki-laki dan 25 Perempuan (P).

Kedelapan
Pada bagian inilah ”permaianan” dimulai. Tentukan dulu urutan perpindahan antar siswa
1. pasangan kekasih…. bubarkan,.. hahahah, maksudnya jangan sekelas. Tidak ada kalimat ” pak kalau sekelas, saya jadi bersemangat ….” jawab saya, ”iya nak, semangat pacaran…”.
2. Organisasi atau kelompok, jangan gabungan terlalu banyak anak Pengurus Osis tau PK atau pun kelompok ”lain-lain”. Dahulu di delapa ada anak-anak cantik yang berkumpul menjadi DELAROS (delapan ROS,.. bunga ros… memang cantik-cantik dan memang amat cantik-cantik… kalau yang seperti ini disebar, guru-guru yang muda jadi semangat mengajarnya,… hahahhaa untung saya udah nikah,..tepatnya baru kemaren…)
3. Anak-anak satu type: misalnya Gamer,.. pengaggum game online, pengaggum futsal, pengaggum starbuck,… hahaha, bahkan movie mania… bisa hilang tuh kelas saat ada konser atau premiere…
4. Special request,…anak yang satu Bimbingan Belajar, anak yang biang ribut, biang ngobrol, biang cabut dari kelas ke koperasi atau kantin,… tapi yang sholat dhuha bareng juga harus dipikirkan…Jangan keget nanti ada anak yang sakit bareng di UKS. Pokoknya data Bimbingan Konseling harus menyeluruh.

Kesembilan
Print out, 2 hingga 3x, berikan kepada beberapa siswa yang terpercaya, teman guru yang mengenal banyak siswa, dan guru-guru BK. Biasanya akan ada masukan-masukan baru, bahkan mungkin request baru. Tetap diingat aturan pembagain, pemindahan dan penentuan harus dilakukan dengan baik. Intinya ini kelas dibuat agar semua guru tetap nyaman saat mengajar dimana pun, setiap siswa akan terpenuhi akan materi, suasana kondusif dan kebersamaan kelas akan terjadi.

Saya harus mengakui ini bukan yang terbaik, tetapi minimal kita jadi mengetahui bahwa pembuatan kelas bukan hanya sekedar membagi siswa, siswa bukan benda jadi pikirkan juga kenyamanan dan kepuasan mereka. Jadi tidak ada siswa yang meminta dipindahkan kelasnya hanya karena sesuatu hal. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan.

Kerja kreatif, siapa bisa

Januari 2, 2010

Kreatif – 1 …berkaitan dengan atau melibatkan imajinasi atau ide-ide
orisinil, khususnya dalam memproduksi pekerjaan artistik; 2 …
kemampuan untuk menciptakan aneka gagasan, terutama dalam pikiran,
imajinasi; 3 … orang (-orang) yang menghasilkan karya-karya; dsb…

Di sekolah kehidupan kita semua adalah mahluk pekerja. Sebab dalam
artinya yang luas, makna kata “kerja” dan “pekerjaan” menunjuk ke
hampir semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia atau karya-karya
manusia itu (mesin/alat/ teknologi) . Aktivitas-aktivitas itu ada yang
bertujuan untuk memperoleh nafkah lahiriah, yang kita sebut upah,
gaji, komisi, atau uang. Ada juga aktivitas yang lebih ditujukan
untuk memperoleh nafkah mental, seperti berburu ilmu pengetahuan dan
keterampilan, baik lewat institusi formal (sekolah-akademi-
universitas yang memberi gelar, bersifat akademis) atau informal
(lembaga non-gelar, bersifat praktis), bahkan nonformal (pergaulan
di masyarakat). Tak sedikit pula aktivitas yang ditujukan untuk
mempererat tali silahturahmi, semacam nafkah sosial-emosional dalam
konteks kehidupan. Dan sebagian aktivitas lagi bertujuan untuk
memperoleh nafkah spiritual yang memberikan kecerahan hati,
kedamaian batin, dan ketentraman yang fundamental dalam menghadapi
badai-badai kehidupan.

Meski semua manusia adalah mahluk pekerja, namun para ahli perilaku
organisasi sering membeda-bedakan jenis pekerjaan—dalam arti karier
yang menafkahi kehidupan pekerjanya—menjadi lima kelompok besar.
Pertama, pekerjaan fungsional yang terfokus pada keahlian teknis di
bidang-bidang khusus. Inilah yang dilakukan oleh ahli mekanik,
desain grafis, pustakawan, teknisi, operator, dan sebagainya. Kedua,
pekerjaan manajerial yang terfokus pada proses analisis informasi
dan pengelolaan neka ragam sumberdaya, termasuk memimpin manusia.
Pekerja di bidang manajerial ini disebut manajer, pimpinan, atau
eksekutif. Ketiga, pekerjaan entreprener yang terfokus pada upaya
menghasilkan produk/jasa baru dan/atau membangun organisasi usaha
(perusahaan) yang bertujuan mencetak laba bagi pemiliknya. Kita
menyebut kaum pekerja jenis ini sebagai pedagang, wirausaha,
pengusaha, konglomerat, atau tikon, tergantung pada skala usahanya.
Keempat, pekerjaan negara yang terfokus pada tugas-tugas
administrasi birokrasi dan pertahanan keamanan seperti pegawai
negeri dan militer, dengan jenjang yang jelas dan relatif stabil
sehinga memberikan rasa aman tertentu. Dan kelima, pekerjaan mandiri
yang terfokus pada kebebasan berkarya sesuai dengan irama atau waktu
kerja masing-masing, seperti pada peneliti, seniman, penulis lepas,
konsultan, dan sebagainya.

Banyak orang berpendapat bahwa dari kelima jenis pekerjaan tersebut
di atas, pekerjaan sebagai entreprener adalah jenis yang paling
banyak menuntut kreativitas. Sebab entreprener diharapkan untuk
melakukan inovasi dengan menghasilkan hal-hal baru yang berguna bagi
masyarakat luas atau menemukan cara-cara baru yang memberikan nilai
tambah terhadap sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Lahirnya produk-
produk legendaris seperti Aqua, Teh Sosro, Es Teller 77, Jamu Tolak
Angin, Dunia Fantasi, Kota Wisata, dan sebagainya, selalu digunakan
sebagai contoh kreativitas kaum entreprener di Indonesia. Dengan
kata lain, entreprener dianggap sebagai kaum “pekerja kreatif” di
masyarakat.

Pada sisi lain, sebagian orang melekatkan predikat “pekerja kreatif”
hanya terbatas pada praktisi industri periklanan. Terutama karena
secara eksplisit, dalam industri periklanan di kenal jabatan kunci
yang diberi label “Creative Director”. Selanjutnya, ada pula yang
mengaitkan konsep “pekerja kreatif” ini hanya terbatas kepada para
seniman, pemain teater, sastrawan, dan praktisi industri hiburan,
yang umumnya bekerja di luar kantor-kantor tradisional.

Jadi, apakah kerja kreatif itu hanya terbatas milik entreprener,
praktisi periklanan dan industri hiburan? Apakah pekerja fungsional,
pekerja manajerial, dan pekerja negara tidak perlu kreatif, cukup
mengikuti sistem dan prosedur saja?

Terus terang, dari proses pembelajaran saya di sekolah kehidupan,
saya melihat tuntutan untuk menjadi pekerja kreatif, setidaknya di
milenium ketiga ini, berlaku hampir di semua jenis pekerjaan yang
disebutkan di atas. Era kerja keras semata sudah bukan jamannya
lagi, meski sulit bagi sebagian besar orang untuk tidak bekerja
keras. Di atas kebiasaan kerja keras, perlu ditambahkan kemampuan
untuk bekerja secara cerdas, yaitu kerja kreatif.

Dalam konsep kerja keras, indikator pertama yang biasanya
dipergunakan untuk mengukur seberapa “keras” seseorang telah bekerja
adalah lamanya waktu bekerja. Misalnya, jika sebagian orang bekerja
dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam, maka ia kita sebut bekerja
keras, sebab orang kebanyakan bekerja dari jam 8/9 pagi hingga jam 5
sore saja. Atau jika orang masuk kantor di hari Sabtu, ketika kawan-
kawannya menikmati liburan akhir minggu, maka ia disebut sebagai
pekerja keras. Atau kalau ada orang yang bekerja sampai 50/60 jam
dalam seminggu, ia masuk kelompok pekerja keras karena umumnya waktu
kerja normal 40/44 jam seminggu.

Untuk mampu menjadi pekerja keras, sudah barang tentu dipersyaratkan
kondisi fisik yang prima. Orang-orang yang mudah jatuh sakit tidak
akan dikenal sebagai pekerja keras. Orang-orang yang tidak
menunjukkan disiplin dalam bekerja, juga umumnya tidak dimasukkan
dalam kategori pekerja keras. Jadi, kesehatan fisik dan disiplin
menjadi indikator kedua untuk dapat mengukur siapakah yang layak
disebut sebagai pekerja keras.

Pertanyaannya sekarang, jika pekerja keras dapat didefinisikan
dengan ukuran jumlah waktu kerja, kesehatan fisik, dan disiplin
kerja, bagaimanakah kita mengukur atau mendefinisikan “pekerja
kreatif” yang bekerja secara cerdas?

Ada orang yang menggunakan istilah “Lazy Achiever” untuk menunjuk
kepada kaum pekerja kreatif ini. Istilah ini sangat provokatif,
sebab bagaimana mungkin seorang pemalas bisa berprestasi? Namun
terlepas dari istilahnya itu, ia menawarkan konsep untuk bekerja 4-5
jam sehari dengan hasil-hasil yang sama atau bahkan lebih baik dari
orang-orang yang bekerja 9-10 jam sehari. Dengan kata lain, pekerja
kreatif adalah mereka yang bekerja dengan waktu yang lebih singkat
untuk memperoleh hasil yang sama atau lebih baik. Disamping itu,
konsep “Lazy Achiever” menunjuk kepada orang-orang yang bisa bekerja
secara mandiri atau berkolaborasi dan tidak terikat pada lokasi
kerja yang disebut kantor. Tempat kerja kaum kreatif ini bisa dimana
saja, mulai dari rumah, garasi, kafe, lobby hotel, kantin sekolah,
taman rekreasi, dan sebagainya. Dan mereka dimungkinkan untuk
bekerja dimana saja karena perlengkapan kerjanya mudah dibawa kemana-
mana (mobile working tools).

Jadi, kerja kreatif diartikan sebagai bekerja dengan waktu lebih
pendek dan fleksibel, secara mandiri atau berkolaborasi, di lokasi
kerja yang juga fleksibel, dengan hasil-hasil yang berkualitas
tinggi. Untuk itu tidak saja diperlukan fisik yang sehat dan
disiplin, tetapi dipersyaratkan penggunaan potensi kecerdasan
lainnya yang telah dikembangkan secara memadai.

Dengan pemahaman seperti di atas, muncul pandangan bahwa kerja keras
adalah fondasi yang perlu, tetapi tidak akan membawa seseorang
kepada kehidupan yang berkualitas. Kerja keras merupakan persyaratan
yang diperlukan, tetapi tidak mencukupi (necessary but not
sufficient condition) untuk menikmati kehidupan yang berkualitas dan
penuh makna. Dan kerja keras hanya menarik jika kita masih dalam
rentang usia 20-40 tahun. Setelah lewat usia 40 tahun, kita
seharusnya telah mampu bekerja secara cerdas, menjadi pekerja
kreatif, yang memberi makna pada hidup yang fana. Demikiankah?

Tabik Mahardika!

Sumber: Kerja Kreatif, Siapa Bisa? oleh Andrias Harefa, Penulis 30
Buku Laris dan Pendiri WRITERSCHOOL