Archive for the 'J drost' Category

J Drost

September 12, 2008
Salah satu pemerhati/ ahli pendidikan yang buah pikirnya sering menjadi inspirasi untuk saya dalam mengajar. Berikut salah satu tulisna beliau yang kembali saya buka pagi ini. Semoga bermanfaat untuk kita dalam menyikapi dunia pendidikan akhir-akhir ini.

An archive of all of the messages sent to the UNAIR List is available at:
http://www.mail-archive.com/unair@itb.ac.id/
From: "General-Info"

Ebtanas dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi

Oleh J Drost

Apa yang diharapkan sebuah perguruan tinggi kepada lulusan SMU? Harapan atau tuntutan dapat dipadatkan dalam satu kata bahasa Jerman,
Hochschulreife, yaitu kematangan, baik intelektual maupun emosional, untuk dapat menempuh studi akademis. Teras dari kematangan itu adalah kemampuan
bernalar dan bertutur yang telah dibentuk oleh pengajaran SLTP dan SMU.

Jadi yang siap memulai studi di perguruan tinggi adalah dia yang dapat
mengendalikan bernalarnya, ialah mereka yang kritis. Apa yang dimaksudkan
dengan orang yang kritis? Seorang yang kritis adalah seorang yang mampu
membedakan macam-macam pengertian dan konsep, sanggup menilai
kesimpulan-kesimpulan tanpa terbawa oleh perasaan, menolak
perampatan-perampatan (generalisasi). Propaganda jangan diterima sebagai
pembuktian. Yang perlu juga ialah kritik diri yang memungkinkan orang
bernalar dan bertindak obyektif.

Ciri khas dari seorang Indonesia yang "matang" masuk perguruan tinggi adalah
penguasaan bahasa Indonesia, baik saat bertutur maupun saat menulis. Tata
bahasa dan ejaan harus dikuasai secara mutlak. Logika bahasa mencirikan
segala cara berkomunikasi. Sekali lagi bernalar dan bertutur diperoleh dan
dibentuk di sekolah menengah terutama lewat matematika dan bahasa Indonesia.

Matematika mengajar kita bernalar logis. Namun, karena matematika adalah
ilmu kuantitas, padahal ilmu-ilmu pengetahuan mencakup lebih dari kuantitas,
perlu juga diperoleh kematangan masuk perguruan tinggi lewat ilmu-ilmu yang
lain. Yang paling menunjang dan memperluas perolehan lewat matematika adalah
bahasa. Seseorang baru bisa bernalar dan bertutur secara dewasa bila dia
sudah menguasai ortografi, gramatika, dan sintaksis bahasanya sendiri.

Saya tidak berani menilai tingkat kematangan yang diperoleh para siswa lewat
matematika di SMU. Namun, mengenai bahasa Indonesia perlu dicatat, untuk
kebanyakan orang Indonesia, bahasa Indonesia ternyata a second language,
seperti bahasa Inggris. Walau bahasa ibu mereka (daerah) sudah tidak
dikuasai lagi, bahasa Indonesia belum menjadi bahasa pertama dan utama. Ini
berarti, bahasa Indonesia untuk para intelektual dan calon intelektual kita
bukan sarana humaniora. Bagaimana logika dan retorika bisa dikembangkan
kalau gramatika dari bahasa Indonesia tidak dikuasai.

Membaca uraian itu, kita tidak heran mendengar seorang rektor perguruan
tinggi di Jerman berkata, "Setiap mahasiswa yang ingin studi kimia, harus
mempunyai nilai ebtanas tinggi untuk matematika dan bahasa Jerman. Tidak
begitu penting nilai-nilai fisika dan kimia". Seorang rektor lain berkata,
"Kalau mau belajar fisika nilai untuk fisika dan kimia tidak penting, karena
fisika dan kimia akan dipelajari di sini. Akan tetapi, nilai matematika dan
bahasa Jerman harus tinggi. Karena nilai-nilai itu memperlihatkan apakah
calon mahasiswa itu pandai atau tidak".

Jadi untuk kita pun jelas. Nilai untuk matematika dan bahasa Indonesia
merupakan syarat mutlak untuk dapat berhasil di perguruan tinggi. Dan ini
berlaku untuk semua bidang studi.

***

MENDENGAR dan membaca ini semua, kita pasti bingung karena cara kita
menangani proses penerimaan mahasiswa, amat berbeda dan sama sekali lain.
Kita tidak memperhatikan aspek ini. Karena sudah amat lama EBTA SMU tidak
dapat dipercaya lagi sebagai seleksi masuk perguruan tinggi, seleksi
dipindahkan dari sekolah menengah ke perguruan tinggi. Seleksi itu kini
disebut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Hasilnya amat menyolok. Yang
lulus hanya lebih kurang 10 persen. Akan tetapi, yang tidak lulus, tetap
diterima karena amat banyak tempat tersedia. Karena amat banyak yang tidak
lulus pun bisa diterima, maka jumlah yang gugur (DO) di perguruan tinggi
negeri lebih kurang 80 persen dan di perguruan tinggi swasta 90 persen.
Untuk mengatasi berbagai masalah ini, direncanakan penggabungan ebtanas dan
UMPTN.

Berhubung dengan rencana itu, saya ingin mengajukan sejumlah pertanyaan.
Yang menempuh ebtanas jauh lebih banyak daripada yang mengikuti UMPTN. Dan
jumlah itu makin merosot karena banyak lulusan SMU lari ke program D-III.
Jadi jumlah yang sekarang, dengan penggabungan ini, menempuh UMPTN akan amat
besar. Ini terjadi kalau bahan ujian ebtanas dan UMPTN sama. Kalau tidak
sama, maka tetap dua ujian dan dua urusan administrasi. Kalau dua bahan
ujian, ebtanas lebih dahulu kemudian UMPTN? Bagaimana penilaiannya? Untuk
bisa ikut UMPTN harus lulus ebtanas dulu?

Atas hal-hal itu timbul masalah sebagai berikut. Dengan berlakunya kurikulum
tahun 1994, timbul kristalisasi, yaitu terbentuknya secara alamiah SMU-SMU
yang hanya menerima pelajar pandai (NEM SLTP = 45 ke atas). Sekolah-sekolah
itu disebut SMU Berprestasi atau Unggul. Hasilnya amat menggembirakan. Pada
tahun 1997, waktu ebtanas SMU yang pertama di Jakarta, ada 21 SMU Unggul
yang mengikuti ebtanas. Hasilnya sebagai berikut: NEM rata-rata untuk
program IPA = 7,0 untuk program IPS = 7.9. Jadi semua pengikut lulus dan
dapat langsung diterima di perguruan tinggi tanpa UMPTN. Untuk ratusan
SMU-non-Unggul ceritanya lain dan amat menyedihkan. NEM rata-rata untuk
program IPA = 5,12 dan untuk program IPS = 5,60. Ini berarti yang lulus
ebtanas kurang dari 50 persen. Tetapi, kita pintar mereka-reka. Dengan
memperhitungkan nilai catur wulan pertama, kedua, dan ketiga, yang semuanya
dapat diatur oleh guru yang bersangkutan, maka yang mendapat diploma (STTB)
lulus 95 persen lebih.

Bila kelak ebtanas digabung dengan UMPTN, bagaimana penilaian dan hasil
akhir akan ditentukan? Kalau bahan ebtanas dan bahan UMPTN identik, timbul
masalah, nilai-nilai ujian gabungan tidak dapat direka-reka. Karena
nilai-nilai catur wulan pertama, kedua, dan ketiga tidak boleh
diperhitungkan untuk menentukan lulus tidaknya UMPTN. Jadi terpaksa sistem
yang berlaku di mana-mana di dunia, hanya ebtanas dan tidak lagi nilai-nilai
catur wulan kelas III. Akan tetapi itu berarti, yang lulus kurang dari 50
persen.

Kalau bahan tidak sama, maka akan ada dua ujian. Apa bedanya dengan sistem
yang berlaku sekarang?

Saya usulkan sebuah sistem yang amat biasa di mana-mana, antara lain di
Singapura dan Malaysia. Semua lulusan sekolah-sekolah unggul dan kelas-kelas
unggul dari sekolah-sekolah biasa (di Singapura dan Malaysia disebut
A-level) langsung diterima di Universitas. Semua lulusan sekolah-sekolah
biasa (0-level) langsung diterima di sekolah-sekolah tinggi,
akademi-akademi, politeknik-politeknik, dan program D-III. Dengan demikian,
UMPTN dihapus dan yang ada hanya ebtanas yang tanpa direka-reka.

(J Drost SJ, ahli pendidikan, tinggal di Jakarta.)


Kompas CyberMedia Rabu, 13 Desember 2000

Iklan

J Drost

September 12, 2008
Salah satu pemerhati/ ahli pendidikan yang buah pikirnya sering menjadi inspirasi untuk saya dalam mengajar. Berikut salah satu tulisna beliau yang kembali saya buka pagi ini. Semoga bermanfaat untuk kita dalam menyikapi dunia pendidikan akhir-akhir ini.

An archive of all of the messages sent to the UNAIR List is available at:
http://www.mail-archive.com/unair@itb.ac.id/
From: "General-Info"

Ebtanas dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi

Oleh J Drost

Apa yang diharapkan sebuah perguruan tinggi kepada lulusan SMU? Harapan atau tuntutan dapat dipadatkan dalam satu kata bahasa Jerman,
Hochschulreife, yaitu kematangan, baik intelektual maupun emosional, untuk dapat menempuh studi akademis. Teras dari kematangan itu adalah kemampuan
bernalar dan bertutur yang telah dibentuk oleh pengajaran SLTP dan SMU.

Jadi yang siap memulai studi di perguruan tinggi adalah dia yang dapat
mengendalikan bernalarnya, ialah mereka yang kritis. Apa yang dimaksudkan
dengan orang yang kritis? Seorang yang kritis adalah seorang yang mampu
membedakan macam-macam pengertian dan konsep, sanggup menilai
kesimpulan-kesimpulan tanpa terbawa oleh perasaan, menolak
perampatan-perampatan (generalisasi). Propaganda jangan diterima sebagai
pembuktian. Yang perlu juga ialah kritik diri yang memungkinkan orang
bernalar dan bertindak obyektif.

Ciri khas dari seorang Indonesia yang "matang" masuk perguruan tinggi adalah
penguasaan bahasa Indonesia, baik saat bertutur maupun saat menulis. Tata
bahasa dan ejaan harus dikuasai secara mutlak. Logika bahasa mencirikan
segala cara berkomunikasi. Sekali lagi bernalar dan bertutur diperoleh dan
dibentuk di sekolah menengah terutama lewat matematika dan bahasa Indonesia.

Matematika mengajar kita bernalar logis. Namun, karena matematika adalah
ilmu kuantitas, padahal ilmu-ilmu pengetahuan mencakup lebih dari kuantitas,
perlu juga diperoleh kematangan masuk perguruan tinggi lewat ilmu-ilmu yang
lain. Yang paling menunjang dan memperluas perolehan lewat matematika adalah
bahasa. Seseorang baru bisa bernalar dan bertutur secara dewasa bila dia
sudah menguasai ortografi, gramatika, dan sintaksis bahasanya sendiri.

Saya tidak berani menilai tingkat kematangan yang diperoleh para siswa lewat
matematika di SMU. Namun, mengenai bahasa Indonesia perlu dicatat, untuk
kebanyakan orang Indonesia, bahasa Indonesia ternyata a second language,
seperti bahasa Inggris. Walau bahasa ibu mereka (daerah) sudah tidak
dikuasai lagi, bahasa Indonesia belum menjadi bahasa pertama dan utama. Ini
berarti, bahasa Indonesia untuk para intelektual dan calon intelektual kita
bukan sarana humaniora. Bagaimana logika dan retorika bisa dikembangkan
kalau gramatika dari bahasa Indonesia tidak dikuasai.

Membaca uraian itu, kita tidak heran mendengar seorang rektor perguruan
tinggi di Jerman berkata, "Setiap mahasiswa yang ingin studi kimia, harus
mempunyai nilai ebtanas tinggi untuk matematika dan bahasa Jerman. Tidak
begitu penting nilai-nilai fisika dan kimia". Seorang rektor lain berkata,
"Kalau mau belajar fisika nilai untuk fisika dan kimia tidak penting, karena
fisika dan kimia akan dipelajari di sini. Akan tetapi, nilai matematika dan
bahasa Jerman harus tinggi. Karena nilai-nilai itu memperlihatkan apakah
calon mahasiswa itu pandai atau tidak".

Jadi untuk kita pun jelas. Nilai untuk matematika dan bahasa Indonesia
merupakan syarat mutlak untuk dapat berhasil di perguruan tinggi. Dan ini
berlaku untuk semua bidang studi.

***

MENDENGAR dan membaca ini semua, kita pasti bingung karena cara kita
menangani proses penerimaan mahasiswa, amat berbeda dan sama sekali lain.
Kita tidak memperhatikan aspek ini. Karena sudah amat lama EBTA SMU tidak
dapat dipercaya lagi sebagai seleksi masuk perguruan tinggi, seleksi
dipindahkan dari sekolah menengah ke perguruan tinggi. Seleksi itu kini
disebut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Hasilnya amat menyolok. Yang
lulus hanya lebih kurang 10 persen. Akan tetapi, yang tidak lulus, tetap
diterima karena amat banyak tempat tersedia. Karena amat banyak yang tidak
lulus pun bisa diterima, maka jumlah yang gugur (DO) di perguruan tinggi
negeri lebih kurang 80 persen dan di perguruan tinggi swasta 90 persen.
Untuk mengatasi berbagai masalah ini, direncanakan penggabungan ebtanas dan
UMPTN.

Berhubung dengan rencana itu, saya ingin mengajukan sejumlah pertanyaan.
Yang menempuh ebtanas jauh lebih banyak daripada yang mengikuti UMPTN. Dan
jumlah itu makin merosot karena banyak lulusan SMU lari ke program D-III.
Jadi jumlah yang sekarang, dengan penggabungan ini, menempuh UMPTN akan amat
besar. Ini terjadi kalau bahan ujian ebtanas dan UMPTN sama. Kalau tidak
sama, maka tetap dua ujian dan dua urusan administrasi. Kalau dua bahan
ujian, ebtanas lebih dahulu kemudian UMPTN? Bagaimana penilaiannya? Untuk
bisa ikut UMPTN harus lulus ebtanas dulu?

Atas hal-hal itu timbul masalah sebagai berikut. Dengan berlakunya kurikulum
tahun 1994, timbul kristalisasi, yaitu terbentuknya secara alamiah SMU-SMU
yang hanya menerima pelajar pandai (NEM SLTP = 45 ke atas). Sekolah-sekolah
itu disebut SMU Berprestasi atau Unggul. Hasilnya amat menggembirakan. Pada
tahun 1997, waktu ebtanas SMU yang pertama di Jakarta, ada 21 SMU Unggul
yang mengikuti ebtanas. Hasilnya sebagai berikut: NEM rata-rata untuk
program IPA = 7,0 untuk program IPS = 7.9. Jadi semua pengikut lulus dan
dapat langsung diterima di perguruan tinggi tanpa UMPTN. Untuk ratusan
SMU-non-Unggul ceritanya lain dan amat menyedihkan. NEM rata-rata untuk
program IPA = 5,12 dan untuk program IPS = 5,60. Ini berarti yang lulus
ebtanas kurang dari 50 persen. Tetapi, kita pintar mereka-reka. Dengan
memperhitungkan nilai catur wulan pertama, kedua, dan ketiga, yang semuanya
dapat diatur oleh guru yang bersangkutan, maka yang mendapat diploma (STTB)
lulus 95 persen lebih.

Bila kelak ebtanas digabung dengan UMPTN, bagaimana penilaian dan hasil
akhir akan ditentukan? Kalau bahan ebtanas dan bahan UMPTN identik, timbul
masalah, nilai-nilai ujian gabungan tidak dapat direka-reka. Karena
nilai-nilai catur wulan pertama, kedua, dan ketiga tidak boleh
diperhitungkan untuk menentukan lulus tidaknya UMPTN. Jadi terpaksa sistem
yang berlaku di mana-mana di dunia, hanya ebtanas dan tidak lagi nilai-nilai
catur wulan kelas III. Akan tetapi itu berarti, yang lulus kurang dari 50
persen.

Kalau bahan tidak sama, maka akan ada dua ujian. Apa bedanya dengan sistem
yang berlaku sekarang?

Saya usulkan sebuah sistem yang amat biasa di mana-mana, antara lain di
Singapura dan Malaysia. Semua lulusan sekolah-sekolah unggul dan kelas-kelas
unggul dari sekolah-sekolah biasa (di Singapura dan Malaysia disebut
A-level) langsung diterima di Universitas. Semua lulusan sekolah-sekolah
biasa (0-level) langsung diterima di sekolah-sekolah tinggi,
akademi-akademi, politeknik-politeknik, dan program D-III. Dengan demikian,
UMPTN dihapus dan yang ada hanya ebtanas yang tanpa direka-reka.

(J Drost SJ, ahli pendidikan, tinggal di Jakarta.)


Kompas CyberMedia Rabu, 13 Desember 2000