Archive for the 'Islami' Category

Pemimpin yang adil penghuni syurga

September 11, 2010

Dua puluhlima tahun yang lalu, saat saya kelas 1 di sebuah SMA kawasan Bukitduri, saya diminta secara aklamasi untuk menjadi ketua Panitia Kurban. Seorang siswa yang belum genap satu tahun mengenal mesjid, rohis dank urban. Berkegiatan di mesjid merupakan pilihan saya, karena selama di SD dan SMP saya beraktivitas di pramuka dan majalah dinding. Saat itu OSIS periode XXI, sang ketua rohis meminta saya untuk mengatur sebbaik-baiknya. Arahan diberikan hampir setiap bertemu sebelumshalat ashar. Setelah semua panitia bekoordinasi, saya bertemu dengan Pak Ali Umar (Almarhum) guru agama Islam yang menjadi pembina kegiatan PHBI (peringatan Hari Besar Islam).

Banyak nasehat beliau, tetapi yang paling saya kenang adalah : sampaikan hewan kurban ke rumah-rumah penduduk yang termasuk fakir miskin, jangan kumpulkan mereka di sekolah. Malu rasanya kalau fakir miskin dibariskan hanya untik 1 -2 kg daging kambing atau sapi.

Entah beberapa tahun yang lalu, terdengar heboh : 3 orang tewas mengantri zakat di kabupaten x di Jawa Timur. Berita itu sedemikian menusuk hati. Bayangkan mereka meregang nyawa hanya karena zakat fitrah, yang seharusnya menjadi hak mereka. Sebuah pertarungan yang sia-sia. Akhir berita, yang memberi zakat dan panitia diputuskan bersalah dan ditahan, karena lalai sehingga berakibat kepada keselamatan orang lain.

Syahdan kata hikayat, berabad-abad yang lalu seorang khalifah yang telah merasa berhasil akan kepemimpinannya, berusaha mencari info secara langsung. Sang khalifah dengan penyamaran yang tidak diketahui para pengawalnya berjalan-jalan di wilayah perkampungan sebuah wilayah. Jalan demi jalan, perumahan demi perumahan telah dia lalui, semua orang tertidur pulas, mungkin karena kemakmuran telah membuat penduduk nyaman untuk hidup. Tetapi kenyataan memang selalu tidak sama dengan yang kita pikirkan. Measuki perkampungan berikut, sang khalifah mendengar tangis anak kecil dan sebuah gubuk yang masih terlihat terang, dengan perapian yang masih menyala.

Tangisan anak kecil tersebut mengundang sang khalifah untuk berkunjung ke rumah tersebut. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, terbukalah pintu gubuk itu. Tampak seorang tua rentah, dengan wajah yang masih mampu bertahan hidup mempersilakan sang khalifah masuk. Singkat pembicaraan, obrolan semakin lama, sang khalifah bertanya : sedang masak apa ? Orang tua tersebut tersenyum dengan wajah tuanya, : saya sedang memasak batu, saya berharap anak-anak dapat tertidur pulas karena menunggu batu ini matang. Karena mereka tidak tahu yang saya masak adalah batu.

Sang khalifah terkaget-kaget. Bahkan lebih kaget saat orang tua tersebut menyampaikan keluhannya tentang sang khalifah. ”mungkin sang khaifah sedang tertidur karena kecapaian mengurus bangsa dan negara ini.” Tanpa berlama-lama, sang khalifah berpamit pulang untuk menuju baitul mal. Sang penjaga sangat bingung karena sang khalifah bermalam-malam mengambil satu karung gandum, memanggul karung tersebut menuju gubuk tersebut. Sang khalifah sadar, ternyata rakyat yang dia pimpin masih ada yang miskin dan menjadi tanggung jawabnya. Yang lebih menyakitkan orang tua tersebut harus berbohong kepada anak-anaknya, tentunya sang khalifah tidak ingin dimurkai Allah di padang Masyar kelak.

Dua setengah prosen adalah kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita. Itu adalah hak fakir miskin, yatim piatu, ibnu sabil dan lainnya. Nilainya kecil, tetapi dihadapan Allah itu adalah penghapus dari kotoran dalam rizqi kita. Muhammad adalah orang yang tidak pernah menghardik anak yatim, beliau bahkan memuliakannya. Bahkan beliau mengangkat mereka menjadi anak sendiri.

Kematian seorang anak manusia demi uang seratus ribu atau pun lebih kecil dari itu, mengumpulkan fakir miskin dalam acara apa pun tidak pernah diajarkan rasulullah. Seharusnya kita malu mengumpulkan saudara kita untuk berbarisa, datangi, berikan hak mereka, insya Allah berkah. Pemimpin yang adil, akan tertidur pulas saat dia tahu seluruh rakyatnya telah makan, pemimpin yang adil akan berpakaian indah setelah tahu seluruh rakyatnya tidak kedingiinan dan masuk angin karena tidak ada selembar kain pun yang menutup tubuhnya.

Andaikan BAZIS berjalan dengan benar, semua umat mengumpulkan zakat dengan tidak mengharapkan untuk dilihat orang sehingga menaikkan citra, rasanya keiklashan akan menjadi modal dasar pemimpin yang adil penghuni syurga Allah. Jangan ada lagi seorang ibu yang menggendong mayat anaknya di kereta api, jangan ada lagi anak manusia di neger ini ditanyakan ada uang jaminan saat masuk ICU rumah sakit manapun, jangan ada lagi seorang siswa SD dikeluarkan dari sekolah karena bermasalah dengan bayaran sekolah. Jangan ada ketakutan dicaci maki anak bangsa, jangan sampai Allah yang melaknat kita. Semoga jadi bahan renungan.

Sabar,… masa depan adalah tujuan, masa lalu adalah kenangan dan masa kini adalah perjalanan

April 14, 2010

Saat jadi ketua rohis di SMA Negeri 8 Jakarta, saya selalu bercita-cita mempunyai keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah. Saya ingin mewujukan hal itu denga usaha, bukan “sudah jadi”. Membentuk keluarga adalah ibadah. Saya bangga dengan teman-teman saya yang hijrah dari kehidupan jahiliyah saat sman, berubah saat kuliah dan menjadi pribadi muslim yang kokoh saat terjun di masyarakat. Sering mengenang masa-masa indah ketika bagaimana berjuangnya adik-adik kelas di SMANDEL yang harus gonta-ganti pakaian atau bahkan membuka jllbabnya ketika menuju sekolah. Karena masa itu memang jilbab tabu dan menjadi musuh sekolah.
Kasus teman-teman akhwat di SMAN 68 yang berujung keluarnya para akhwat dari sekolah di tahu 1987-an akhir. Peristiwa penarikan jilbab di sekitar Kuningan Setiabudi. Bahkan issu Jilbab beracun. Lucunya masa itu banyak ikhwan yang membungkus Al Qur;an terjemahannya dengan wanitaIran berjilbab panjang menyandang M-16 atau Ak 47.Entah mengapa sosok wanita berjilbab saat itu menjadi primadona para ikhwan di hampir semua remaja mesjid SMA.
Setelah menjadi guru di SMANDEL, saya makin bangga bertemu dengan teman-teman atau adik kelas yang dulu berjuang untuk menutup aurat tubuhnya, untuk mnyelamatkan saudaranya dari neraka. Masa jahil mereka, tanpa jilbab adalah hal yang harus saya lupakan. Yang mesti diingat adalah perjuangan mereka memutuskan mengggunakan perintah Allah sebagai jalan hidup, pilihan hidup, be a good moeslem or die as syuhada,….

Beberapa menit yang lalu saya meilihat salah satu saudara saya begitu bangganya memperlihatkan auratnya saat masa-masa jahiliyah. Saya tercenung, apa ada yang salah? Kenapa kita tidak melupakan masa lalu yang mungkin akan menyakitkan kita, karena dosa-dosa kita pada-Nya ? Sebandingkah dengan kenangan yang kita dapatkan ? Lagi-lagi sebandingkah ?
Tahun 2002, saya mengenal seorang akhwat yang memilih memakai cadar,… karena malu dengan dosa masa lalu. Dia rela kehilangan semua pertemanannya, semua masa indah bahkan semua mantan-mantan pacarnya. Biarlah saya kehilangan dunia saya, tetapi saya tidak kehilangan rahmat Allah. Sampai hari ini, dia masih sering menulis di salah satu majalah islam ternama. Beberapa bukunya tentang pergaulan pria-wanita memang tidak selaku novel-novel percintaan islami. Buatnya yang hitam dan putih,.. jangan diabu-abukan.

Saya telah menghapus kenanganya saat SMA, saya hanya ingat dia tahun 2000-an, dan yang terbayang oleh saya sekarang ini hanyalah jilbab dan cadarnya,… subhanallah…

Tiap Pribadi Unik Sekali

April 13, 2010

Tiap Pribadi Unik Sekali

Tentunya teman-teman pernah mendengar cerita tentang seorang nenek tua yang menangis di sebuah surau, karena dia tidak bisa lagi menyapu membersihkan halamana mesjid, karena pohon dekat mesjid ditebang sang marbot, atau cerita seorang teman yang membantu teman dengan menyelipkan uang di tas, saat temannya tertidur, atau seorang tamu Allah yang selalu meletakkan uang di bawah tikar/sajadah mesjid sehabis sholat dzuhur. Kisah ini mungkin agak berbeda.

Ikhwan, pria kurus kering, hitam legam terbakar matahari, adalah seorang pemuda yang selalu tertidur di pojok belakang mesjid. Sehabis mengantar Koran pagi hari, bahkan tepatnya subuh hari, Ikhwan selalu mampir ke mesjid, menukar waktunya dengan berjual beli kepada Allah.
Saat usianya beranjak 7 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Kebakaran di kampung Bulak telah menelan semua keluarga dan tetangganya. Maklumlah rumah petakan, belakan pasar Klender Jakarta Timur. Mulailah Ikhwan hidup sebatang kara. Pak Haji Badri pemilik salah satu kios di Jatinegara-lah yang menyelamatkan Ikhwan dari kesendirian hidup.
Sudah hampi sepuluh tahun Ikhwan menjadi marbot tambahan, di mesjid tua Jatinegara Kaum. Sehabis sholat subuh, ikhawn akan mengayu sepedanya menuju pasar Sunan Giri untuk mengambil Koran pagi. Ikhwan akan menyusuri jalan-jalan bernama ikan di Rawamangu. Hingga pukul 7, keringat akan menemani pagi yang selalu memberi harapan. Ikhwan belajar menabung seperti yang diajarkan oleh Pak Haji.
Pak Haji Badri menabung dari kecil, hingga mampu mempunyai kios seperti sekarang ini. “Menabung untuk masa depanmu.” Itulah kalimat yang selalu dia dengar. Ikhwan telah melakukannya hamper 10 tahun. Setiap hari, sehabis mengantar Koran, dia selalu menabung.
Dua hari ini Ikhwan terserang flu, lumayan berat. Tetapi denga tekad yang kuat dia tetap melakukan sholat malam, dzikir hingga subuh pagi itu. Saat pak Haji Badri menyampaikan Kuliah Subuh, Ikhwan masih tegar duduk dengan kopiah tua dan sarung yang tidak pernah tersetrika. Tetapi tetap bersih karena selalu dicuci olehnya sendiri. Hampir 30 menit Kuliah Subuh diberikan. Setelah selesai, semua jamaah saling bersalaman, berpelukan dan mendoakan untuk kebaikan hari ini dan esok. Semua jamaah telah berdiri dan berputar bersalaman,…. kecuali seorang jamaah. Ikhwan. Dia masih terduduk dengan kepala tertunduk ke depan, jemarinya masih memegang untaian tasbih. Beberapa kali panggilan dari pak Haji Badri dan jemaah lain, tidak membuatnya terbangun. Khawatir tertidur pulas, Pak Haji Badri mendekatinya dan duduk di sebelah Ikhwan. Pak Haji lama terdiam, dan terdengar tangis kecil seorang muslim tangguh. Jamaah lain tersadar telah terjadi sesuatu. Pak Haji masih memegang tangan yang telah berubah dingin. Ikhwan telah pergi menghadap sang Khalik.

Pagi itu pun berubah, mesjid menjadi ramai oleh kesibukan para jamaah untuk menguburkan Ikhwan. Dengan seijin Kepala DKM, ruang marbot tempat lemari Ikhwan berada dibuka, untuk mengetahui mungkin ada hal-hal yang dipesankan oleh almarhum, atau mungkin masalah hutang piutang yang belum terbayarkan. Pak Haji Badri telah menyatakan akan membayar semua hutang Ikhwan kepada siapa pun. Saat lemari terbuka, terlihat beberapa pakaian, dengan beberapa buku dan kitab kuning. Pak Haji sempat kaget dengan jumlah pakaian yang ada. Tidak mampu membeli atau memang tidak mau membeli.

Terliha ada tumpukan amplop, yang tertutup rapi. Ada kalimat di setiap bagian depan amplop. Untuk Bu Ijah, penjual gado-gado di Pasar Waru. Untuk Pak Karyo, petugas kebersihan. Untuk Pak Alim, marbot mesjid. Untuk Dik Seno, siswa SD Negeri 12 Rawamangun. Dan lain-lain. Jumlah amplop tersebut hampir 50 buah. Pak Haji Badri kebingungan, ”Apa Ikhwan banyak hutang ?”. Pak Haji meminta warga lain, untuk mencari pemilik amplop-amplop tersebut. Sehingga hak orang-orang itu sampai.
Jam 09.00, berkumpulah ke 50 orang tersebut. Pak Haji menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran mereka, serta memohon maaf atas ketidaknyamanan hari ini. Terutama atas kelakuan Ikhwan. Para warga yang 50 orang tersebut bingung, Ikhwan itu siapa dan ada apa mereka dikumpulkan ? Karena suasana gaduh akhirnya pak Haji Badri menjelaskan duduk perkaranya. Dan semua warga melihat jenazah Ikhwan yang belum dikebumikan karena menunggu proses hutang piutang itu selesai. Warga makin bingung. Apalagi setelah pak Haji Badri membagikan Amplop. Pak Haji menjelaskan, ” Amplop ini pesannan almarhum untuk bapak ibu, mungkin hutan atau apa. Saya hanya menyampaikan.” Pak Haji menjelaskan hal tersebut sambil membuka penutup mayat. Semua warga terkaget dan berdesah , ” si tukang koran.”
Karena merasa makin bingung, warga membuka amplop tersebut. ”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih ibu, yang telah memberikan saya air minum. Pagi ini, selasa 12 januari 1998. Semoga uang ini dapat menebus air yang saya minum.”
”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih bapak marbot, yang telah membangunkan saya untuk sholat subuh. Subuh, Minggu 18 januari 1998. Semoga uang ini dapat bapak terima sebagai ucapan terima kasih saya.”
”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih Pak Karyo, yang telah membantu saya saat terjatuh dari sepeda di Jalan Gurame. Senin, 16 February 1998. Semoga uang ini dapat bapak terima sebagai ucapan terima kasih saya.” Dan seterusnya, seterusnya….
Pak Haji Badri menangis sejadi-jadinya. Ikhwan telah melakukan pelajaran yang diberiaknnya melebih apa yang dipikirkannya. Pak Haji menabung bertahun-tahun hanya menadapatkan kios, sementara Ikhwan menabung bukan untuk mendapatkan kios,… dia membangun rumah di surga. Membayar semua kebaikan orang di bumi. Bukan membayar hutang di akherat, yang akhirnya hanya akan terbayarkan oleh amal kebaikan kita. Ikhwan menabung di Bank Allah. Janji Allah pasti.

ibadah, hijab dan iklash

April 1, 2010

Hari ini lumayan sibuk, seharusnya. Tetapi karena saya terlalu lelah, tanpa tersa tidak maksimal akan semua yang saya kerjakan. Sehabis di pintu gerbang, dengan roni, tris, ranu, dan lain-lain, kami menuju maisng-masing proyek hari ini. Roni mau ke MHT, Tris dan Ranu piket, saya mengawal OSN di Av Grande hingga selesai. Hari ini beberapa guru salah kostum, maklumlah tanggal 31 jarang terlihat, tetapi buat saya yang honorer, tanggal demi tanggal menjadi amat penting. Bahagiannya kalau tanggal 20,…. Cihuy gajian…….

Tetapi hati memang tidak bisa bohong, masih bingung dengan kondisi seminggu ini. Kelelahan kah, kekesalan kah, kejenuhan kah atau ada maslaah yang terganjal ? Coba diajlani dengan seadanya,…. Dan ini bukan type saya. Menyusuri kelas yang lagi-lagi tidak ada gurunya, sempat bingung mau menangani, tetapi harus on fire di Av Grande, sudahlah hanya menanyakan siapa gurunya, ada tugas tidak, dan jangan keluar-keluar kelas kalau tidak penting amat. Tetapi buat siswa, ke wc dan kantin itu sebuah kepentingan dan sebuah wisata penutup waktu karena gurunya tidak ada.

Beberapa siswa yang selalu di luar kelas, bertemu lagi-lagi di luar kelas, jawabnya sudah biasa : terlambat pak…. Saya sempat bingung, lah yang membariskan anak terlambat di gerbang, saya, roni dan ranu, kok anak ini bilang terlambat,…..jangan-jangan terlambat bulan ? Cowok lagi, hehehehe.

Ada beberapa peristiwa jangal, lucu dan seru. Tetapi tidak semua boleh ditampilkan di public. Cukup bahan untuk mendewasakan saya berpikir dan bertindak, minimal mendewasakan diri sendiri. An Nur : 31 berisi tentang ajakan memakai jilbab, begitu juga dengan Al Ahzab, saya masih ingat kalimatnya. Kalau tidak salah : ulurkan/ panjangkan jilbab mu…. dst. Makna jilba itu, menurut saya adalah hijab, jadi kalau diulurkan, berarti perbesarlah hijab atau batasnya. Jelas-jelas jilbab atau hijab harus mempu untuk menutup aurat, dari sisi terlihat dan “bentuk” yang dihijabkan.
Begitu juga dengan muslim lainnya. Sesungguhnya jilbab bisa juga di artikan dalam arti luas, yaitu HIJAB, batasi ! Sholat, zakat, tasbih dan ibadah lainnya, sebenarnya berusaha memberi kita batas. Atas tindakan-tindakan di luar hal yang negatif. Kalau lidahnya serimng bertasbih, ”mensucikan Allah” rasanya tidak pantas kita mengotori mulut kita dengan kata-kata kasar, Kalau mata ini selalu menangis di malam hari di hadapan Allah, tentunlah karena kita ingat akan dosa-dosa kita. Air mata yang jatuh hanyalah pertanda begitu menyesalnya kita.

Efeknya, terjadi saat kehidupan kita. Jadi jangan pernah marah ketika ada orang-orang yang mempunyai titel keagamaan, tetapi belum mampu ”memperbesar ruang hijab”-nya. Contoh : pakai jilbab kokmasih bergunjing,…. udah haji padahal, kok masih begitu,… katanya muslim kok memfitnah….. masih banyak lagi dan lagi, Persoalannya cuma satu, jilbab/hijab hanya untuk wanita dan ibadah kita selama ini bukan membuat batas.

Hidup adalah ibadah. Semua perjalanan kaki kita, setiap detik degup jantung kita, bahkan setiap huruif yang kita ungkapkan adalah ibadah. Silakan bukan 6:162-163. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Jadi kenapa harus menyatakan,…. ada uangnya nggak ? Hahahha, hidup bukan untuk uang, tetapi untuk hidup perlu uang….. salah ah.

Punya uang belum tentu bis abayar hutang, punya Allah pasti hutang tertutup. Banyak orang yang punya hutang malas membayar hutang, karena berpikir nanti saja. Kalau dia merasa memiliki Allah, pasti akan melunasinya, karena kematian datang kapan pun, kalau mati hutang dibawa mati,….. serammmmmm.

Bahagia bertemu dengan teman-teman yang hingga hari ini mampu berkomitmen dengan pekerjaan dan ibadah. Allah akan membalas ibadah kita itu, bukan hanya dengan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Kalau kita iklash. Sebuah mata rantai ibadah tertinggi. Iklash.

Saya pernah ditegur secara kasar oleh seseorang,… sakit hati, sedikt. Untungnya ada Allah. Hati milik Allah, biarkan Allah yang mensibhgah. Kalau sibghahnya adalah harta, tahta dan kesenangan,…. pasti tiadak akan pernah tercukup. Saya juga pernah dicap : dinaturalisasi,……. sedih banget. Kesannya saya kotor dan bermasalah sekali. Tetapi tetap iklash, berusaha iklash, insya Allah batas iklash saya makin meluas. Amin.

Kisah Hamba Sahaya dan Tuhannya

Februari 26, 2009

Pagi itu pak Somad kembali tertunduk menghadapkan muka ke sejadah pemberian anaknya yang sedang bekerja menjadi TKW di negeri Jiran. Kalimat Istighfar, Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil terucapkan secara lirih namun mengetarkan iman di hatinya. Kakinya hampor tak terasa, karena sudah berjam-jam pak Somad mengadu kepada kepada Allah tentang hidup dan kehidupannya. Pak Somad terkenang masa-masa indah ketika masih memimpin banyak anak buah, datang paling pagi karena ingin memberi contoh yang  terbaik kepada semua, pulang paling malam karena harus mengevakuasi semua pekerjaan  bawahannya. Penghormatan anak buahnya terkadang menjadi semacam penyembahan. Padahal Pak Somad tidak ingin hal-hal seperti itu.  Pak Somad hanyalah putra desa yang memegang kejujuran sehingga mampu menjadi orang dalam jajaran tertinggi di perusahaan negara tersebut.

Hari itu, kira-kira 2 tahun yang lalu, Cak Kadir yang selalu mengantar Pak Somad ke kantor pusat tidak hadir, Pak Somad marah sekali, walau pun dia berusaha menahannya, tetapi tetap saja keluar kalimat yang tidak semestinya. Untungnya Pak Somad langsung mengucapkan istighfar. Sang istri hanya mengelus bahu Pak Somad untuk sabar, mungkin Cak Kadir ada gangguan di jalan. Akhirnya dengan kekesalan yang cukup mengganggu konsentrasi, Pak Somad naik taksi Express. Sepanjang jalan pak Somad berusaha menghilangkan kekesalan hati dengan mengobrol dengan sopir taksi tersebut. ” Aslinya mana mas ?”, kalimat pembuka yang pasti akan dijawab jujur oleh sopir kendaraan manapun. Tanpa sadar pak Somad mengeluarkan uneg-unegnya kepada sopir tersebut mengenai Cak Kadir. Hingga kahir perjalanan, selesai pula cerita pak Somad kepada sopir taksi, orang yang baru dikenalnya tetapi telah tahu sedikit tentang sisi kehidupannya.

Kepemimpinan pak Somad memang membawa hasil yang bagus untuk keluarga, kelimpahan rizki karena jabatan beliau juga karena doa dari istri dan anak-anaknya di rumah. Harus diakui semakin kita mendapatkan rahkmat dari Allah, jabatan dan kemudahan hidup, maka akan semkain banyak pula godaan yang datang. Begitu pun dengan pak Somad. Gaji yang rutin diterima menjadi bernilai kecil ketika dia mendapatkan bonus atau pun apa namanya dari rekanan-rekanan bisnis yang selama ini selalu datang ke kantor.  Mulai ada godaan untuk membuat proyek,  membuat proposal dan  kegiatan-kegiatan sosial atau  pun pelatihan.  Hampir semua ide pak Somad diterima oleh jajaran Direksi Kantor  Pusat. Apalagi pak Somad mulai membagi-bagi “kue”.

Tahun berganti tahun, pak Somad dikenal Mentri dan di proyeksikan untuk menjadi direktur utama BUMN. Beberapa kali pak Mentri mengundangnya untuk bertukar pikiran.  Kesibukan demi kesibukan, membuat pak Somad yakin bahwa semua hal bisa dicapai dan diraih, dengan kerja keras dan persekawanan. Koneksi harus dijaga, itu pikir pak Somad. Mulailah kesibukan menjamu tamu ini-itu, rekanan ini-itu. Dan semua itu butuh dana yang tidak sedikit. Mulanya memanga hanya sekedar makan siang di Restoran Sederhana Tebet, berlanjut ke Starbug dan seterusnya. Hanya Allah yang tahu.

Hingga suatu hari, pak Somad sadar bahwa itu semua harus ada dana tersendiri. Dana Pembinaan, semacam itulah. Maka terjadilah pembicaraan dengan bendahara untuk menyisihkan dari semua pos kepada dana tersebut. Sang Bendahara karena tahu posisi pak Somad yang sudah dikenal menteri, memberi ijin. Mulai saat itu amat berlimpagh hidup pak Somad, mudah mendapatkan uang dari mana pun, mudah meminta dari mana pun, bahkan dengan kewenangannya pak Somad mampu menggeser siapa pun orang yang tidak disukainya.

Pak Somad mulai jarang pulang ke rumah, jarang berjamaah dengan anak dan istri, jarang berkumpul dengan warga sekitarnya. Hingga akhirnya pak Somad tertangkap tangan di sebuah hotel dengan rekan-rekan bisnis sedang berpesta ria, shabu-shabu. Beberapa wanita nakal pun tertangkap. Tayangan televisi menunjukkan muka pak Somad yang masih dalam keadaan mabuk. Sang istri jatuh terjerembab melihat berita televsi pagi hari, pingsang tidak diketahui siapapun.

Hari ini pak Somad merafalkan Al Fatihah, berusaha mengerti makna dan artinya. Allah memberi perimbangan hidup seperti halnya surat Al Fatihah. Empat ayat pertama untuk Allah, berupa pujian dan sanjungan, berupa pernyataaan keyakinan akan kekuasaan Allah. Sedangkan ayat ke lima merupakan ayat pernyataan kita untuk melakukan sesuatu. Tetapi dengan kalimat “Hanya kepada Mu kami menyembah, dan hanya kepada Mu kami mohon pertolongan”.

Sembahlah Allah, setelah silakan meminta pertolongan dan itu hanya kepada Nya. Pak Somad telah membalikan ayat ini, dia begitu yakin bahwa mampu mengambil rizki seseorang karena kekuasaannya. Karena kewenangannya, karena kedekatannya dengan atasan. Padahal Allah bisa mencabut apa pun dari seseorang atau kaum, jika Allah memang berkenan.

Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku

Februari 1, 2009

Tiga jam di ruang Bimbingan Konseling terdiam, seakan lupa mau menuliskan sesuatu. Tepat jam 11.00 Wib, turun dari ruang BK, mencari makanan. Akhirnya dapat, mie pangsit depan pintu gerbang sekolah. Padahal kalau ingat nasehat bu Dokter, “jangan sering-sering mengkonsumsi mie, kurang baik untuk kesehatan.” Satu porsi dengan bakso saya santap di ruang piket dalam hitungan menit. Lapar sih, hehehehehe. Sepanjang perjalanan ke ruang BK, mulailah tersirat apa yang harus dituliskan. Allah memberi kekuatan saya kembali. Ternyata dengan mengingat cerita teman-teman guru saat di Pusdiklat lah baru terpikirkan mau menulis apa. Setiap hari adalah pembelajaran, setiap hari adalah ladang pahala, setiap hari adalah ibadah, karena kita tidak tahu kapan Allah akan memanggil kita. Jangan sampai kita meninggal dalam keaadaan kurang baik. Setiap shalat kita pasti mengucapkan judul di atas, entah karena terlalu sering diucapkan, seharusnya kita makin paham, nyatanya hidup kita justru makin menjauh dari hal tersebut. Ayat tersebut terdapat di surat 6 : 162-163. Allah sengaja meletakkan ayat tersebut untuk kita baca saat shalat (walau pun ada ayat lain penggantinya) maknanya, kita diingatkan Allah bahwa “Shalat (sebagai kata pertama) adalah kewajiban yang waktunya terbatas tetapi amat penting sebagai kewajiban manusia, walau pun pelaksanaannya amat singkat. Berkisar 5 – 15 menit. Bandingkan dengan waktu hidup kita yang 24 jam x 60 menit x 60 detik. Shalat adalah bagian dari ibadah, karena ibadah itu banyak macam dan waktunya bisa amat panjang, tetapi belum tentu semua ibadah itu kewajiban, ada ibadah yang sunnah untuk dikerjakan. Jadi “ibadah” sebagai kata kedua pada ayat tersebut, mempunyai rentang waktu yang amat luas, 24 jam, berhari-hari, bahkan berbulan dan betahun-tahun. Karena bukan seperti shalat yang akan diperiksa pertama kali saat di akherat kelak, ibadah hanyalah untuk orang yang mampu. Kalau sholat, hanya untuk orang beriman dan itu kewajiban. Sementara kata yang ketiga adalah “hidupku”, ini lebih luas lagi. Bayangkan dari saat kita dilahirkan hingga sekarang. Untuk saya, 60 detik x 60 menit x 24 jam x 30 hari x 12 bulan dan kali 40 tahun, ternyata panjang juga hidup saya. Justru dibagian inilah manusia mempunyai peranan lebih kea rah kepentingan hidup dirinya. Apakah shalat dan ibadahnya mampu mengalahkan makna hidupnya. Baguslah kalau shalatnya, ibadahnya dan hidupnya dipersiapkan untuk kata yang keempat. Matiku. Kenyataan menunjukkan pada bagian ketiga inilah manusia menjadi makhluk yang sesungguhnya. Apakah dia menjadi berkarakter seperti Malaikat yang beribadah, menjadi Iblis yang menghalangi manusia berbuat baik, atau malah menjadi keduanya yaitu manusia berhati iblis. Untuk hal ini hanya dirinya dan Allah semata yang tahu. Kata ketiga, yaitu “matiku”, merupakan hal yang disembunyikan Allah. Ada manusia yang sudah koma berbulan-bulan, menjadi hidup karena takdir Allah memang belum berlaku. Ada juga orang yang hidupnya selalu bertemankan dengan bahya dan kematian, malah hidup sampai tua. Saya pernah terhenyak, pada tahun 1995 saat mendengar seorang siswa meninggal saat shalat subuh, dalam keadaan sujud. Subhanallah. Makna, bersiaplah untuk mati kapan pun, saya ulangi kapan pun, dimana pun dan dalam kondisi apa pun. Tentunya hal ini menyadarkan untuk tetap berbuat baik. Karena semua yang kita lakukan kalimat terakhirnya adalah Li llahi rabbil ‘alamin. Hanya untuk Allah. Hanya untuk Allah dan hanya untuk Allah. Dua tahun ini saya sering terbangun malam oleh dering telpon siswa atau bahkan orang tua, untuk mengingatkan shalat tahajjud. “Assalmu’alaikum. Pak Wangsa maaf mengganggu. Apa bapak sudah shalat tahajjud ?.” Marahkah saya ? Tidak. Tengah malam dibangun siswa atau ortu untuk “meningkatkan kualitas hidup” kenapa harus marah ? Jadilah malam-malam hidup ini tahajjud bersama dengan siswa, walau tempat yang berbeda, berdoa bersama untuk para siswa demi keberhasilannya di ujian. Justru harus disyukuri masih ada orang yang mengingatkan kita, dan ini adalah ladang pahala. Untuk ibadah kepada Allah, kapan pun akan kita kerjakan. Saat seorang teman, tertunduk lesuh karena tak mampu memenuhi panggilan atasannya, hingga tekanan sedemikian kuat, jangan sampai shalat dan ibadahnya kepada Allah terganggu. Boleh jadi saat shalat malah terbayang ketidak mampuannya menginguti perintah sang bos. Kalau sampai demikian terjadi, seseorang terpaksa 24 jam memenuhi panggilan si bos, maka bos tersebut boleh jadi telah menjadi ila, ila yang lain. Tahun 1986 saat itu saya baru belajar tentang taddabur al Qur’an. Buku Kuliah Tauhid menjadi buku wajibb mahasiswa ITB, ada juga JDL (jundullah), ada Makna Syahadat, pokonya banyak buku-buku islami, ada Sayd Quthb, Hasan Al Banna, Said Hawa, membahas pilar-pilar syahadatain. Ila diartikan, sebagai sesuatu yang menyebakan makhluk sedemikian menyembah hal tersebut, atau hidunya didominir oleh hal itu. Oleh karenanya dalam Islam, tidak ada ila kecuali Allah. Jadi kalau ada menjadi sesuatu yang mungkin menjadi panutan, yang mungkin membuat orang takut karena jabatan anda, yang mungkin hayat hidup orang ada di tangan anda, berhentilah menjadi ila. Hanya Allah yang boleh mendominir hidup orang setiap detik, selama hidupnya. Jika ada makhluk yang sedemikian takutnya kepada anda, sehingga dia rela melakukan apa pun untuk anda, bahkan mungkin akan lebih keras demi menyelamatkan anda di dunia, pada dasarnya anda telah menjadi ila, buat orang-orang itu. Ingat ada kata keempat, kematian. Tetap menjadui rahasia, akan datang kapan pun, dimana pun dengan kondisi apa pun. Saat itu datang hanya shalat, ibadah dan hidup yang beriman menjadi pahala penolong anda di hadapan Allah. Maha Suci Allah yang telah membawa kita dari Kegelapan menuju Cahaya. Minna Dzulumati Illa Nnur. Ruang BK, 30 Januari 2009. Menghitung hari, menakar janji, mengharapkan keridhoan Illahi Rabbi.

Allah Maha Mengetahui

Januari 22, 2009

Mungkin kita sudah terbiasa mendengar kemampuan Allah yang satu itu, dari sekian banyak kemampuan Allah yang ada. Ada banyak hal yang mau saya tuntaskan dalam lembaran-lembaran berikut, bukan curhat. Lebih kepada sesuatu yang menjadi pelajaran buat saya, karena banyak hal kejadian dalam hidup yang membuat saya makin yakin akan kekuasaan Allah tersebut.

Tidak seperti biasanya pagi itu, seorang karyawan datang dan bicara,”Pak, tahun depan tidak mengajar lagi ?” Saya tersenyum mendengarnya. Seorang karyawan sampai tahu akan nasib saya itu surprise banget. “Insya Allah, Allah yang akan menentukan hal tersebut,” jawab saya seraya masih berpikir panjang lebar dalam dan luas. “Semangat, ya Pak.” Inilah kalimat yang membuat saya tersentak. Dia begitu yakin, dan memberi sesuatu dorongan moril buat saya untuk menghadapinya. Dalam hati saya mengucapkan, “ Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.” (Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, Allah adalah pelindung dan penolong yang baik),

Tahun 1986-1987 saya cukup aktif membuat bulletin jum’at untuk mesjid smandel, yang sekarang bernama Darul Irfan, nama yang gagah dan tinggi. Sering menginap di mesjid membuat saya mengenal ajaran agama Islam. Salah satu tulisan LJ saya sadur dari majalah Islam saat itu.

Malam itu, di sebuah rumah terdengar keributan. Tepatnya di dapur, yang bersebelahan dengan kamar tidur utama. Maklulah, keluarga ini termasuk miskin dalam kategori orang kebanyakan. Tanpa penerangan, sang istri terus memeluk erat suaminya yang tergolong berusia tua. Sang suami pun dengan kondisi tubuhnya, hanya mampu memeluk istrinya, memejamkan mata dan bibinya terus mengicapkan beristighfar kepada Allah. Mereka berdua juga melafadzkan : Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir, terus menerus. Kalimat tersebut semakin kuat dan keras, menimbangi ributnya dapur mereka. Itu pasti bukan segerombolan tikus yang berpesta pora, tetapi kawanan rampok yang memasuki dapur-dapur penduduk. Setelah beberapa lama, suara ribut menghilang dan tergantikan oleh desiran angin malam yang menerobos masuk. Kedua suami istri tersebut tetap tidak berani untuk bangkit. Adzan subuh, membuat suami istri ini tersadar dari ketakutan, dan bangun untuk menunaikan kewajibannya kepada Allah.

Lampu centir yang terisi minyak tanah beberapa sendok dinyalakan. Meraka kaget karena perabotan mereka hancur dan hilang. Beras dan sisa sayuran lenyap. Mereka menyebut nama Allah sekeras-kerasnya. Setelah beberapa saat sang suami berusaha merapihkan dapur tersebut. Tetap dalam keprihatinan, sang suami tersenyum, seraya berkata,”Bu, Allah masih melindugi kita. Beras dan beberapa peralatan kita hilang dicuri orang. Tetapi Allah masih menjaga iman kita. Sesungguhnya itu nikmat yang paling tinggi Allah berikan kepada kita.” Kedua suami itu pergi ke musholla untuk sholat, walau terpaksa harus bergantian, karena sarungnya cuma satu. Untungnya mukena tidak termasuk yang dicuri pula.

Kisah itu kembali teringat oleh saya. Kalau pun saya kehilangan pekerjaan, saya masih punya iman dalam hidup ini. Saya tidak menjual iman saya demi mempertahankan sesuap nasi. Beberapa kali saya pernah kehilangan pekerjaan, setiap kehilangan, ternayata Allah memberikan yang baru. Hingga hari ini Alhamdulillah saya masih bisa beribadah dan memenuhi kewajiban saya. Makan seadanya pernah saya alami, bahkan 3 minggu hanya bertemankan singkong rebus di kost saat kuliah juga saya nikmati. Allah terlalu baik untuk hidup dan iman saya.

Hampir dua minggu ini memang saya merasa tidak nyaman. Pilihan hidup semakin banyak. Pertarungan antar kepentingan semakin deras dan cukup signifkan. Juli 2002, saya memenuhi undangan Pak Sugiharto untuk mengajar SMA Negeri 8 Jakarta. Tahun 1995 memang saya sempat mengajar satu angkatan, tetapi saya tetap berkiprah di BTA. Lembaga yang membesarkan dan memberi kedewasaan saya dalam hidup. Banyak hal yang berbeda di SMA Negeri 8 saat itu, dibanding saat saya bersekolah. Kebanggan saya adalah masih bisa bertemu dengan guru-guru yang dulu mengajar saya. Meminta maaf dan mohon petunjuk, adalah hal yang saya lakukan pertama kali kepada mereka. Karena tidak ada mantan guru, selamanya mereka adalah guru saya.

Masa Pak Triyana, setelah masa tugas Pak Sugiharto ada beberapa guru terkena rasionalisasi. Saya sedih kehilangan beberapa teman mengajar. Tetapi saya bangga sama mereka, tetap tegar hingga keluar surat keputusan tersebut. Allah masih memberi pertolongan untuk saya.

Tahun berganti tahun, hingga akhirnya terdengar kabar yang menyesakkan buat saya. Sebuah sms,” sebenarnya mrs…. Baik, Cuma setelah bertemu dengan si wangsa menjadi buruk. Karena salah gaul……. Dst dst.” SMS itu menceritakan pertemuan oknum bla-bla, dengan beberapa teman guru. Saya langsung mengucapkan istighfar. Ya Allah kenapa orang tersebut bukan langsung menegur saya. Itu bisa menjadi ghibah dan fitnah. Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.” (Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, Allah adalah pelindung dan penolong yang baik). Ternyata orang yang berhubungan dengan saya mejadi tidak baik, salah gaul. Astaghfirullah.

Satu malam tanpa tidur dan hanya mengadu kepada Allah, Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.” (Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, Allah adalah pelindung dan penolong yang baik), jadi selama ini saya mengajar, dimata oknum bla-bla justru akan menghasilkan keburukan.

Malam itu Allah memberi kekuatan kepada saya untuk mengenang semua aktivitas saya di SMA Negeri 8 Jakarta. Memang ada buku harian yang selalu saya buat dari masa SMP, tetapi malam itu Allah memberikan secara nyata, live dan detail. Sedih, bahagia, terharu, bahkan perasaan yang paling tidak saya sukai, membalas. Kirim doa kebaikkan untuk mereka, yakini mereka tetap saudara kita, seiman.

Tokh masih ada pengadilan Allah di padang masyar kelak, terhadap semua yang kita kerjakan. Siang menjadi Jundi dan malam menjadi sufi. Tetapi jangan mempermainkan Allah. Jika kita melihat kemunafikan, katakan sejujurnya. Kebenaran itu berat dan sulit, tetapi Allah akan membimbing kita. Saya ingin menutup 4 – 5 bulan ini di SMA Negeri 8, bahkan boleh jadi 4 – 5 hari ke depan dengan prasangka baik. Bukan kalimat dari lagu, tidak ada dusta diantara kita, tetapi tidak ada dusta diantara saya dan Allah, antara Anda dengan Allah. Allah maha mengetahui, dan Allah pemilik hari pembalasan.

Menjaga Harta atau dijaga Ilmu sama halnya menjaga Jabatan atau dijaga oleh kewibawaan pemimpin

Januari 18, 2009

Jum’at itu memang tidak ada hal yang berbeda, seperti jum’at-jum’at lalu. Penceramah yang menjelaskan kutbah hari itu, suara anak-anak di sisi kiri dan lantai 2 mesjid atau sesekali orang dewasa yang mengobrol. Mungkin menjadi tidak biasa ketika seorang siswa datang ke saya. Sambil menyalami dan mencium tangan, “Pak boleh tanya nggak?” Akhirnya kami mengobrol panjang lebar tentang ilmu dan amal jariah. Lumayan, hingga bel berbunyi, sekitar 20 menit, malah saya yang banyak masukan dari siswa tersebut. Jadi malu amal ibadah selama ini.

Amal jariah akan menolak bala, itu hal yang selalu kita ketahui dan sering menjadi nasehat kita kepada teman-teman. Sebuah kalimat indah yang mungkin agak sukar untuk kita pratekkan setiap saat, bahkan yang paling mudah, setiap hari. Tetapi banyak rekan yang mungkin akan kecewa ketika telah sedemikian banyak memberikan amal jariah, kok tetap ada musibah yang terkena. Badan terserang penyakit, hati yang gundah gulana, bahkan ada keluarga yang terkena musibah. Apakah tidak ikhlash ? Sudah pasti ikhlash, karena itu cuma 2,5% dari pendapatan kantong kita. Jadi tidak besar dan tidak mengganggu aktivitas keuangan kita.

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya keuatamaan ilmu dibanding harta. Jawaban Ali, Ilmu akan menjaga kita, tetapi kita harus menjaga harta. Sebuah kalimat yang harus kita renungkan amat dalam. Bahkan harus kita pikirkan dalam keheningan malam. Selama ini kita menjaga harta atau ilmu yang menjaga kita ?

Ilmu memang menjadi bahasa yang dapat diterima dimanapun, makanya orang berilmu akan diterima dimanapun. Seorang berilmu akan menjadi sumber pembelajaran, akan dihormati dan bahkan akan diberi kemudahan hidup, oleh manusia lain bahkan Allah telah menjamin itu. Orang berimu itu dihargai beberapa derajat lebih tinggi dari yang lain. Semakin banyak ilmu, maka seorang manusia akan semakin dijaga oleh ilmunya. Bayangkan ketika seseorang yang mau berbuat nista, maka ilmu yang dimimilikinya akan mengatakan,”jangan lakukan”. Seorang berilmu akan yakin, Allah tidak akn pernah tidur dan akan lengah akan apa perbuatan kita.

Ilmu akan menjaga kita, akan menjaga perbuatan kita, akan menjaga keinginan kita bahkan akan menjaga pandangan orang-orang terhadap kita. Cobalah kita mulai menilai diri kita, selama ini ilmu kita menjaga kita atau kita manfaatkan utuk menutup mata hati kita ? Kok ? Seorang tidak berilmu ketika melakukan kejahatan, akan mudah sekali ditebak. Ujung-ujungnya mungkin hanya untuk mengisi perut, heheheheh. Tetapi ketika seseorang yang berilmu melakukan tindakan yang tidak baik, implikasinya banyak sekali. Ternyata ilmunya telah menutup mata hantinya, ternyata tujuannya bukan untuk perut pasti lebih dari itu.

Seorang teman sering mengeluh kok belum jadi PNS, padahal sudah sholat tahjjud, sholat dhuha, beramal jariah dan sebagainya. Pertanyaannya adalah, apakah Allah mengadakan sholat sunah tersebut untuk hal itu ? Atau sedemikian piciknya kita hanya berpikiran bahwa dengan hal tersebut Allah akan memberikan apa yang kita inginkan. Pada hal doa yang belum terwujud, bukan karena Allah tidak mendengar doa, bukan karena Allah marah, tetapi justru karena Allah sayang sama kita. Kita belum mampu mendapatkan cobaan yang lebih dari jabatan atau kesenangan hidup lebih dari yang kita peroleh sekarang ini.

Persoalan akan lebih krusial ketika seseorang memperebutkan jabatan, mempertahankan jabatan atau bahkan merasa jabatannya adalah kekuasaan, maka orang ini sedang berusaha menjaga hartanya. Boleh jadi mereka berpikir, kemudahan hidup indentik dengan harta, dan harta yag melimpah identik dengan jabatan dan kekuasaan, Jadi harus diperjuangkan dengan segala hal. Astaghfirullah, ……. Lebih banyak orang di dunia ini ketakutan kehilangan jabatan daripada kehilangan amanah. Ketakutan tidak dipandang orang lagi, ketakutan tidak bisa membiayai istri dan keluarga berjalan-jalan atau berbelanja atau mungkin takut anak tidak akan bisa bersekolah.

Padahal harta Allah berikan agar kita melihat sekeliling kita untuk berderma, masih adakah orang yang masih sulit beribadah karena tidak mempunyai kain sarung yang bersih, sholatnya terganggu tidak bias khusyu’ karena anak istrinya belum makan di rumah, atau mungkin anaknya sedang sakit.

Ternyata ilmu adalah hal yang utama Allah berikan, jika kita memanfaatkan ilmu untuk kebaikan, maka ilmu akan menjaga kita hingga bisa ke syurga. Kita akan tersenyum menghadap sang Khalik. Tetapi jika ilmu kita salah gunakan, yang kita dapatkan harta, yang boleh jadi harus kita jaga. Jangan sampai kita pucat pasih menghadap Allah di padang Masyar, begitu harus mempertanggung jawabkan harta kita.

Semoga saja pemilu bisa memilih pemimpin yang adil di mata Allah dan rakyat.
Ilmu lebih dekat ke Syurga.
Bekasi, 11 Januari 2009, berkah hujan menghampiri rumahku.

Jangan melawan Hukum Allah

Januari 9, 2009

Hukum Allah akan berlaku untuk semua, termasuk Anda !

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
QS. Yasin (36) :33 – 40

Berhagialah kita manusia ketika kita diciptakan, bayangakan sebagai makhluk sempurna. Banyak makhluk yang Allah ciptakan, juga sempurna. Tetapi terbatas pada fungsinya masing-masing. Malaikat diciptakan Allah dengan kesempurnaan, tugasnya menuriti perintah Allah dan beribadah sepanajnag masa, sementara Syaitan juga senpurna dengan fungsingnya menggoda manusia untuk berbuat jahat. Tidak ada syaithan yang baik. Kesempurnaan manusia diberikan Allah akal sehinga bisa memilih, mau jadi malaikat atau syaithan.

Dengan Akal manusia bisa memilih, dalam waktu 24 jam, mereka mau bertindak sebagai apa, malaikat atau syaithan ? Setiap hari manusia berjuang untuk mengisi hidupnya, dan setiap hari pula manusia kan tergelincir atau tidak, mereka yang merasakan. Tetapi terkadang manusia bisa menjadi lebih syaithan ketika fungsi syaithan yang menggoda manusia berbuat jahat, mereka tularkan kepada orang lain untuk berbuat jahat.  Oleh karena peran menjadi ulama akan berat sekali, seorang pembunuh hanya akan dihukum karena pembunuhan, tetapi seorang ulama yang salah memberikan fatwa akan dihukum juga atas umat yang melakukan sesuatu karena fatwa yang salah.

Seorang manusia ketika dia bekerja, maka Allah telah menetapkan manzilah dan hasil dari buah tangan kita. Tentunya itu karena Ridho Allah. Surat Yasin cuku gamblang menjelaskan, bulan dan matahari mempunyai garis edar sendiri. Garis edar tersebut dapat terus bergerak karena keduanya mempunyai “kekuatan hukum tetap” yang telah disepakati. Jika manusia juga bekerja dengan manzilah-manzilah tersebut, maka kehidupan akan harmonis. Semua merasa mendapatkan sesuatu sesuai dengan usahanya. Tetapi ketika matahari merasa paling berkuasa, bahkan mungkin karena bentuknya yang besar, power yang besar dan dia menarik bulan tidak sesuai dengan hukum, maka akan terjadi “kekuatan hukum yang berubah -ubah”. Jika ini terjadi, bersiaplah akan terjadi benturan.

Terkadang manusia juga berusaha nmenjadi matahari, merasa besar dan berkuasa. Karena merasa mempunyai power yang besar mampu mengeser apa pun dnegan gravitasinya. Allah memberikan kekuatan lain kepada benda-benda lain sekitar matahri untuk mengurangi kekuatan gravitasi matahari tersebut. Berputarlah sesuai hukum pula. Bekerjalah kamu sesuai TUPOKSI masing-masing. Tugas pokok dan fungsi merupakan manzilah-manzilah untuk kita semua.

Usaha manusia harus sesuai manzilah, karena Allah akan memberikan dua hal, hasil usaha karena kerja keras dan pahala karena bekerja sesuai aturan. Jika manzilah kita langgar, kita mendapatkan sesuatu dengan “memnafaatkan manzilah dan kekuatan hukum yang berubah-ubah” maka yang kita dapatkan hasil usaha dan laknat. Bukan hanya dari Allah, juga kan dapat umpatan dari makhluk sekitar kita. Makhluk sekitar kita yang terimbas oleh manzilah tersebut tentunya menjadi makhluk teraniaya, maka Allah memberikan kekuatan lain kepada mereka. Doa yang makbul diijabah Allah.

Banyak pempimpin yang jatuh bukan karena ketidakmampuan mereka memimpin, tetapi lebih karena egoisme syaithan yang harusnya mereka tekan atau kurangi. Pemimpin jatuh karena keinginan-keinginan mereka manklukanmanzilah dan hukum tetap Allah. Ketika pemimpin jatuh maka pengikutnya yang mengikutinya akan pula menpatkan “hasil usaha tangan mereka”. Jangan pernah menggunakan kalimat, ” Lebih baik menjadi raja di neraka, ketimbang menjadi rakyat jelatah di surga”.

Seorang sufi wanita pernah menuliskan sesuatu kalimat yang mungkin membuat kita berpikir berulang-ulang akan ketaqwaan sufi ini. “Saya senang masuk neraka dengan ridho Allah daripada masuk surga dengan murka Allah”. Rabiah Al Adawiyah menuliskan itu untuk mengingatkan para pemimpin dan para insan. Kenapa kita tidak ingin Allah meridhoi kita dalam keseharian kita.

Terakhir, ayat-ayat tersebut juga menuliskan semuanya akan kembali ke awal. Manusia yang datang dan pergi akan sama seperti kedatangan dan kepergiannya. Anda datang dengan kebohongan, maka anda harus menutup dengan kebohongan pula. Anda memimpin dengan kebohongan, maka Allah akan membalasnya.  Be a good moslems, or die as syuhada.

Buku harian, 5 Agustus 2008, peraduan ku, tempat sholat dan ibadahku.

Pornografi bukan semata urusan agama

November 1, 2008

Dampak negatif meruyaknya pornografi seperti semakin meluasnya perilaku seksual bebas, pelecehan seksual, perilaku seks menyimpang, penyebaran HIV/AIDS, seks permisif di kalangan generasi muda, dan aborsi, sudah banyak dirasakan masyarakat. Tanpa menyandarkan pada argumen teologis tertentu, pornografi menjadi problem kemanusiaan yang semestinya menjadi agenda bersama seluruh komunitas agama. Rekomendasi Sidang Tahunan MPR melalui TAP MPR No. VI Tahun 2002 kepada presiden agar mengambil langkah mencegah pornografi harus menjadi stimulasi lahirnya regulasi yang mengatur secara jelas masalah pornografi.

Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Ade Armando, ketua Jurusan Komunikasi FISIP UI dan aktivis LSM yang gencar memerangi pornografi, pada 15 Mei 2003:

Seberapa kronis kondisi real pornografi di Indonesia saat ini?

Sangat serius. Misalnya, Associated Press (AP) pernah menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi “surga pornografi berikutnya” (the next heaven of pornography) . Dua negara yang disebut AP adalah Indonesia dan Rusia. Indonesia jauh lebih serius dari Thailand, karena di Thailand sudah ada penataan yang sangat serius. Saat ini, di Thailand industri pornografi ilegal sudah semakin sempit. Nah, Indonesia dianggap sangat bebas, terutama kalau bicara masalah VCD porno. Juga karena Indonesia yang tidak mengatur adanya regulasi internet sama sekali.

Sekarang yang kita punyai menyangkut regulasi soal internet hanya berdasarkan KUHP pasal 282 tentang kesusilaan. Itupun terkait dengan larangan menyebarkan sesuatu yang melanggar susila dengan definisi yang amat longgar sekali. Selain itu, pasal 282 KUHP itu hanya menyebutkan larangan menyebarkan sesuatu yang membangkitkan birahi remaja.

Anda ingin mengatakan bahwa pasal-pasal dalam KUHP menyangkut kesusilaan itu tidak memadai?

Tergantung kita mau melihatnya dari segi mana. Justru kalau sekadar untuk menghabisi segala bentuk pornografi tanpa pandang bulu, (pasal KUHP) itu bisa dipakai. Itupun jika polisinya mau. Tapi itu bisa kontraproduktif.

Apa raison d’etre dari RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi?

Rancangan yang dimasukkan Departemen Agama (Depag) dan dibantu Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu bertajuk RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Sementara yang dibuat Badan Legislatif (Baleg) namanya hanya RUU Anti-Pornografi.

Ada situasi yang chaotic, sehingga adanya RUU Anti-Pornografi susah dibendung. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, perlu diakui, industri pornografi dalam skala global itu tumbuh terus, terutama sejak tahun 1990-an. Di Indonesia, industri pornografi disebut secara khusus karena dia bisa diakses oleh siapapun. Dan tak ada regulasi sama sekali. Sekalipun kita bicara tentang negara-negara Eropa Barat yang sangat bebas dalam nilai-nilai seksualnya, mereka memproduksi pornografi, tapi dijual di tempat-tempat khusus. Tidak sembarang orang bisa membelinya.

Kedua, masalah harga dari produk pornografi yang murah sekali. VCD porno di Glodok, Jakarta, dengan uang sepuluh ribuan bisa dapat tiga atau empat keping. Dalam tingkat kevulgaran pornografi juga luar biasa. Harga semurah itu bisa terjadi karena teknologinya yang sangat murah. Anda tahu, kepingan VCD itu sangat murah. Jadi dengan margin keuntungan yang rendah pun, karena jumlah pembeli yang banyak, mereka bisa juga untung. Hal ini yang tak terjadi di Eropa Barat.

Bagaimana membatasi pornografi ini, karena definisi pornografi itu sendiri tidak jelas?

Bila kita kembali ke istilah generik pornografi, secara sederhana, berasal dari dua kata yang berarti “gambar” dan “pelacuran.” Tapi, dalam perkembangannya, definisi pornografi yang bisa diterima oleh masyarakat modern adalah materi-materi dalam media massa yang membangkitkan gairah atau syahwat seksual. Itu definisi yang paling sederhana.

Adapun definisi yang dipakai dalam RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi sangatlah detail. RUU yang dikeluarkan Depag ini memang ambisius karena mencakup semua hal. RUU ini betul-betul untuk membersihkan semua jenis pornografi dan -jangan salah- juga pornoaksi.

Lantas apa definisi pornoaksi itu sendiri?

Jika pornografi itu ter-cover di media, baik berupa gambar, grafis atau bisa juga suara di radio. Cakupan pornografi terkait dengan media. Adapun pornoaksi menyangkut concern yang sama seriusnya tentang perilaku masyarakat sehari-hari. Misalnya, pertunjukan live show atau striptease (tari telanjang) sebagaimana yang digambarkan dalam buku Jakarta Under Cover (2003) karangan Moammar Emka.

Apakah buku seperti “Jakarta Under Cover” itu nanti bisa terjaring dengan RUU itu?

Bisa jadi. Memang ada persoalan penafsiran. Ada yang lebih tegas misalnya, bila ada gambar payudara. Jadi pornografi yang tersiar melalui audio-visual jauh lebih mudah ketimbang yang berupa teks atau suara. Itu problem yang mengandung jebakan-jebakan tertentu. Sebetulnya RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi yang sekarang dibuat pun belum tentu memuaskan. Masih ada celah-celah kelemahannya.

Bagaimana jika kita belajar dari pengalaman negara lain dalam mengatur masalah pornografi?

Ada beberapa contoh. Ada negara yang menghabisi pornografi sama sekali. Kalaupun masih tersisa, pornografi berada di wilayah yang ilegal. Misalnya, Arab Saudi dan Iran. Negara yang agak bergerak ke arah sana, tapi masih membuka kemungkinan lain adalah Malaysia. Kalau kita lihat negara-negara Barat, kita jumpai mereka masih mempunyai regulasi tentang pornografi.

Di negara-negara Barat ada larangan dalam artian tidak bisa dijual secara bebas. Kalaupun diizinkan, tetap dengan operasi, distribusi dan pasar terbatas. Atau dengan penonton, konsumen dan pembaca terbatas. Kalau kita bikin perbandingan seperti itu, maka yang bisa diterima semua kalangan di sini adalah yang berada di tengah-tengah. Singapura itu keras sekali dalam menangani masalah pornografi.

Saya tidak menjumpai barang-barang pornografi yang dijual secara terbuka di Singapura?

Ya. Majalah Playboy dan Penthouse tidak akan dapat ditemukan di Singapura. Tapi Singapura tetap terbuka untuk akses ke MTV. Di TV kabel Singapura, Britney Spears dimungkinkan untuk ditonton. Tapi Britney Spears sudah dianggap sebagai sesuatu yang tak boleh disiarkan di TV Malaysia. Di Indonesia masih boleh kan? Meskipun demikian gambar-gambar yang benar-benar seronok masih sulit ditemukan pada tabloid-tabloid di sini.

Bahkan Singapura mengeblok akses ke situs-situs internet yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Singapura. Salah kita selama ini adalah menganggap bahwa tak ada yang bisa diregulasi dari internet. Jadi ada sebuah list tentang hal-hal yang terlarang dalam soal pornografi dan ada hal yang masih dimungkinkan. Beda dengan Eropa Barat yang hanya membatasi distribusi, peredarannya dan akses terhadap terhadap pornografi.

Intinya, bentuk regulasi antarberbagai negara itu berbeda-beda?

Bahkan di Amerika Serikat (AS), regulasi soal pornografi antarnegara- negara bagian saja berbeda-beda. Ada yang disebut standarkomunitas. Karena itu, menarik bila AS kita tiru dalam hal tertentu. AS itu negara yang sangat luas dan relatif heterogen, sehingga standar komunitas antara satu wilayah dengan wilayah lainnya berbeda-beda. Di Utah yang sangat konservatif, kita tidak bisa menemukan media porno seperti majalah Playboy. Sangat berbeda dengan San Francisco.

Sementara kecenderungan di Eropa Barat yang sangat liberal membuat diadakannya red district atau red zone. Karena di Indonesia tak ada regulasi pornografi, maka disebut sebagai the heaven of pornography. Anda bisa memperoleh di mana pun dan tidak ada pembatasan atas siapa pun untuk mengedarkan pornografi.

Kalau kita mengatasi pornografi dan pornoaksi secara eksesif, apalagi misalnya, berbasis doktrin Islam, apakah tidak kontraproduktif?

Saya setuju dengan argumen Anda. Kita sulit meniru Malaysia yang jelas dasar negaranya adalah Islam. Karena itu, masalah pornografi di Indonesia harus kita sikapi tanpa menyebut dasar agama. Perlu apresiasi dan toleransi pada pihak-pihak yang barangkali menjadi konsumen pornografi. Juga di sini ada pihak yang memproduksi pornografi. Karena negara ini sangat plural dan multikultural, maka standar penilaian terhadap pornografi bisa bermacam-macam.

Barangkali tidak terlalu realistis hendak menerapkan standar buat perangkat peraturan perundangan yang menyamakan saja seluruh aspek yang dianggap pornografi. Artinya, segenap materi yang di media massa yang membangkitkan syahwat, di mana standar agama tertentu punya kriteria yang sangat ketat, lantas tidak dibolehkan sama sekali, barangkali itu tidak realistis.

Bagaimana jika RUU Anti-Pornografi itu diterapkan dalam kasus Inul?

Jadi segala hal yang membangkitkan syahwat kemudian harus dilarang semuanya justru akan kontraproduktif. Kalau ada pasal-pasal seperti itu dalam RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi, saya khawatir, malah akan terjadi debat berkepanjangan, sehingga meng-counter sebuah proses yang sudah sangat sehat, yaitu melahirkan undang-undang yang akan mengatur masalah pornografi. Alih-alih kita mendapatkan undang-undang yang dapat memproteksi kita semua dari bahaya pornografi, RUU itu malah tidak kunjung selesai karena kita juga mengatur bagaimana perilaku orang sehari-hari.

Mengapa semua hal harus diandalkan pada pemerintah untuk mengurusnya?

Pornografi itu bukan urusan agama saja. Bahkan di negara-negara yang sangat sekuler pun, ada pengaturan masalah pornografi. Yang penting pornografi itu tidak merugikan masyarakat. Sebagian pihak menganalogikan pornografi dengan narkoba. Tapi sebetulnya analogi itu kurang tepat karena pornografi tidak tunggal, meski ada juga pornografi yang levelnya setingkat narkoba. Maka dari itu harus ada pornografi yang dilarang sama sekali.

Maksudnya, harus ada kesepakatan tentang gradasi pornografi. Harus ada pornografi yang jelas disepakati oleh siapapun sebagai sesuatu yangtidak boleh sama sekali. Misalnya, pornografi di mana model yang tampil disiksa, atau pornografi yang melibatkan anak-anak atau berhubungan dengan binatang. Itu bisa disepakati bersama. Bangsa ini bisa bersepakat tentang hal-hal yang tidak boleh sama sekali. Di luar itu ada hal-hal debatable. Misalnya, goyangan Inul yang dianggap sebagian pihak mengandung unsur pornografi. Nah, apakah Inul ini akan dilarang sama sekali? Apakah tampilannya di media saja yang dibatasi? Ataukah Inul boleh tampil dengan pembatasan-pembatas an?

Jadi harus ada regulasi, dan regulasi itu yang mengeluarkan adalah pemerintah. Jangan kontradiktif juga mengatakan bahwa pemerintah tak boleh campur tangan dalam urusan masyarakat ini. Masalahnya siapa yang menjamin regulasi itu akan berjalan? Pemerintah juga kan. Maka perlu ada penataan dan aturan yang jelas, misalnya dalam masalah VCD porno. Saya kasih contoh sederhana saja. Buku tentang teknik bersenggama, misalnya. Bolehkah buku itu beredar di sebuah negara? Nah, kalaupun boleh, buku jenis itu mesti ditaruh di tempat khusus semacam adult book (bacaan dewasa), misalnya. Bukannya ditaruh di bagian best seller.

Dalam penerapannya, regulasi soal pornografi apakah bisa dilakukan secara beragam?

Bentuk regulasi itu bisa berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain. Undang-undangnya memang berlaku secara nasional, tapi tentang materi yang dilarang itu mesti lebih dahulu diperjelas. Misalnya, pornografi yang melibatkan anak, berhubungan dengan binatang dan mengandung unsur kekerasan, harus dilarang di seluruh Indonesia.

Tapi ada juga pengaturan pornografi yang lebih detail. Misalnya dalam hal distribusi. Bagaimana mengatur distribusi agar tayangan-tayangan pornografi itu tidak menggangu kalangan beragama. Kaum beragama di Padang dengan Bali, tentu saja, punya standar komunitas yang tidak sama. Masalah distribusi bisa berbeda teknisnya antara satu daerah dengan daerah lain.

Referensi: http://islamlib. com/id/index. php?page= article&id= 323