Archive for the 'Info Subang' Category

Wana Wisata Curug Cijalu Subang, Tempat Mandi Bidadari

November 21, 2008

Subang yang merupakan bagian dari propinsi Jawa Barat yang termasuk ke dalam tanah sunda atau parahyangan memiliki beberapa tempat wana wisata alam yang merupakan alternatif setelah melewati kota Bandung. Salah satu wana wisata yang ditawarkanya selain daripada Guung Tangkuban Parahu yang terkenal dengan legendanya Sangkuriang terdapat wana wisata alam berupa air terjun yaitu Curug Cijalu.

Dilansir dari situs pemerintahan daerah kabupaten Subang, dideskripsikan bahwa Curug Cijalu terletak di Kecamatan Sagalaherang, berjarak 37 Km dari kota Subang ke arah selatan (1 jam perjalanan) dan sekitar 50 Km dari Kota Bandung kearah utara (1,5 jam perjalanan). Wana wisata ini terletak pada ketinggian 1.30 m dpl, konfigurasi lapangan umumnya bergelombang . Kawasan ini mempunyai curah hujan 2.700 mm/th dengan suhu udara 18-26C. Seperti namanya, curug (air terjun, Bahasa Sunda), hanya sepasang air terjun yang tumpahan airnya mengalir deras membelah bukit di puncak Gunung Sunda, sekira 800 meter di atas permukaan laut.

Tumpahan air itu menyajikan panorama indah pada birunya langit, sejuknya udara, dan hijaunya pepohonan yang menyelimuti suasana wisata yang berada di Kecamatan Sagalaherang Kabupaten Subang. Belum lagi percikan air terjun yang dingin, sejuk dan putih, membuat para wisatawan tak tahan lagi ingin segera bermandi ria di bawahnya. Curug Cijalu “ditemani” dua makam yang dikeramatkan dan juga “ditemani” oleh air terjun lain yang dikenal dengan nama Curug Perempuan yang terletak sekira 100 meter sebelum Curug Cijalu.

Dengan dicapai dari Kecamatan Wanayasa (18km), Sagala Herang (20km) dan dari Kabupaten Subang (37km) Purwakarta (40km) Bandung (63km) yang diketahui kondisi jalan umumnya beraspal dan hanya sebagian kecil yang masih berupa jalan batu, dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat, sarana transportasi umum yang ada ojek atau colt carteran dari Wanayasa.

Selain curug Cijalu dan Curug Perempuan, terdapat pula lapangan sebagai areal untuk camping bagi para pengunjung Secara keseluruhan, tempat ini dapat dijadikan alternatif bagi pengunjung yang memiliki hobi berpetualang. Selain menjanjikan ketenangan dan ketenteraman, juga kedamaian menjadi perpaduan yang kompak untuk menunjang daya tarik tersendiri.

Wana wisata ini terdiri dari hutan alam dan hutan tanaman, sumber air yang ada berupa mata air yang saat ini dimanfaatkan untuk keperluan pengunjung. Potensi visual lansekap didalam kawasan yang menarik adalah air terjun, hutan alam dengan udara yang sejuk dan hutan tanaman. Dimana wana wisata ini digunakan untuk wisata harian dengan kegiatan yang dapat dilakukan adalah piknik, mandi air terjun, lintas alam dan mendaki gunung.

Berdasarkan sejarahnya bahwa Curug Cijalu dibuka sejak 1 September 1984 berlokasi dihutan produksi blok Cijengkol RPH Tangkubanperahu Utara, BKPH Wanayasa Kab Purwakarta dan Desa Cipancar Kab Subang. Dengan luas 8ha daerah ini diproyeksikan sebagai obyek wisata. Dimana dulu sebelum dikelola air terjun itu sudah sering dikunjungi orang-orang keturunan Tionghoa. Mereka menganggap air terjun itu tempat mandi para bidadari, tutur seorang penduduk Desa Cipancar yang sudah tinggal disana lebih dari enam puluh tahun . Kepercayaan ini timbul lantaran saat matahari pagi memancar, akan bermunculan pelangi-pelangi kecil memantul dari air terjun. (Diperoleh dair berbagai sumber)

Wisata kuliner di Subang

November 21, 2008


Subang adalah sebuah kota yang – walaupun kecil – namun menyenangkan untuk disinggahi. Kota ini sekarang menjadi rumah baru saya setelah Jakarta dan Bandung. Di kota ini ada beberapa tempat makan yang enak, dari mulai yang kelas warung pinggir jalan, riverview restaurant (restaurant pinggir kali) hingga kelas restro yang beneran. Ini beberapa tempat yang mungkin bisa jadi referensi bila Anda ingin, sedang atau telah berkunjung ke kota ini. Selamat menikmati!

AYAM

· Ayam Goreng Kalama—Wesel

· Ayam Bakar Kajojo—Jl. Otista

BAKSO

· Bakso Goyang Lidah—Jl. Otista

· Bakso Malang– Jl. Letjen Suprapto

· Bakso Urat-Gg. Jl. Kapt. Hanafiah

· Bakso Urat-sebelah toko Menanti (dekat Bioskop Chandra)

· Bakso Mang Ade-Gg. Pelabuan

· Bakso Jampang-perapatan Msj. Agung

· Bakso RM. Sedap-Jl. Letjen Supratman

· Bakso, kue dan siomay-pinggir depanAS Foto

BATAGOR

· Batagor dan siomay-Jl. A. Yani

BUBUR AYAM

· Bubur Ayam Panglejar-Jl. Letjen Suprapto (dekat kantor pegadaian)

· Bubur Ayam Katineung-depan RS. PTPN

CAPCAY

· Capcay di daerah Cihanjuang

GADO-GADO

· Gado-gado-Jl. Letjen Suprapto (dekat toko Macan Ketawa)

MARTABAK

· Martabak Mas Yani-Pujasera

· Martabak Citra-Pujasera

· Martabak Denai-depan Toko Sedap

· Martabak Tiptop-dekat bubur ayam Panglejar

· Martabak Unyil-sebelah bakso urat Jl. Kapt. Hanifah

NASI GORENG

Nasi Goreng Lio-depan penginapan Pd. Dewi

Nasi Goreng PLN-depan Gd. PLN (Jl. DI Panjaitan)

Nasi Goreng Pelangi-sebelah radio Pelangi

NASI PADANG

Nasi Padang Galoro-Jl. Otista

Nasi Padang Pituah Bundo-Jl. Otista

Nasi Padang Simpang Ampe-daerah Ps. Inpres Lama

Nasi Padang Basuo-Gg. Panglejar

NASI UDUK

Nasi Uduk-Jl.Brigjen Katamso

Nasi Uduk Mang Uri – Jl. Otista

PEMPEK

Pempek ibu Maharani-Jl. Perumnas

Pempek Hagadipa-Perumnas dan Pujasera

Pempek Kafe Dhea-Subang Jaya

ROTI

Roti Bakar Panglejar-Jl. KS 27

Roti Ma’rifa-JL. A. Yani

Roti Raos-sebelah RM Sedap

Roti Bakar Pujasera-Pujasera

SATE

Sate Kajojo-Jl. Otista

Sate Perumnas-dekat bengkel Aloez

(www.bisma.wordpress.com)

Dari Peninggalan Prasejarah Hingga Tongkrongan ABG

November 21, 2008


Menelusuri Museum Purbakala dan Sejarah Nilai Budaya akan larut dan membawa kita ke era prasejarah. Sejumlah penemuan benda-benda bersejarah seperti perlengkapan tradisional era kerajaan hingga reflika candi, tunggangan Dewa Shiwa tersusun dan tertata rapih di sebuah estalase kaca. Meskipun tanpa bicara, namun ia mengungkap fakta sejarah…

Membicarakan sejarah dan asal-usul Kabupaten Subang, dirasa belum lengkap jika belum menyempatkan diri nongkrong seharian di Museum Purbakala dan Sejarah Nilai Budaya di area Wisma Karya Jl. Ade Irma Suryani No 2 Subang. Di museum warisan peninggalan zaman penjajahan dulu ini tersimpan sekitar 200 item peninggalan purbakala bernilai sejarah sejak zaman prasejarah ratusan tahun silam. Tidak hanya dimuseumkan, namun dari ratusan item benda sejarah tersebut disusun dalam satu alur cerita membingkai sebuah sebuah deretan cerita panjang sejarah dan asal-usul Subang sebagai kota kerajaan.

“Dengan penyajian seperti ini selain sambil rekreasi dan wisata budaya juga diharapkan pengunjung yang datang bisa mendapatkan pengetahuan dan mengapreisasi benda-benda bersejarah dalam setiap periode-nya,” ujar Ahmad Sholeh penjaga museum Purbakala dan Sejarah Nilai Budaya Kabupaten Subang

Menurut Sholeh dari jumlah yang ada, benda-benda tersebut diklasifikasikan menjadi delapan klasifikasi, yaitu geologika, biologika, etnografika, historika, numismatika, keramologika, seni rupa dan teknologika. Salah satunya seperti patung Tuian PW Hoflan bersama istri yang terbuat dari tembaga, Senjata Api masa VOC, pedang serdadu (tahun 1925), Kapak dan Corong Sepatu batu, tengkorak Cervus (masa Purba), Fragmen tanduk Kerbau Purba, Guci Thailand (Abad XVIII M), Mangkuk China (Abad XVII), mesin hitung pada masa Inggris dan Mesin Telpon masa Belanda hingga arca Nandi (Sapi Jantan) yang diyakini sebagai kendaraan Dewa Siwa untuk terbang ke Nirwana yang ditemukan di Desa Cipancar Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang.

Menurut Ahmad Sholeh benda-benda sejarah tersebut sebagian ditemukan oleh warga. Penemuan tersebut kemudian dilakukan oleh tim Arkelogi Bandung untuk memastikan benda yang dimaksud, sebelum dimuseumkan di Museum Purbakala dan Sejarah Nilai Budaya Subang.

Sayangnya, kekayaan khazanah sejarah tersebut belum mendapat respon banyak, baik dari kalangan masyarakat umum, maupun akademis. Hal ini terbukti masih minimnya jumlah pengunjung ke tempat penyimpanan benda sejaraha tersebut. “Setiap hari kami buka, kecuali hari Sabtu dan libur besar. Dalam satu bulannya rata-rata sekitar 150 pengunjung yang datang ke sini untuk melihat benda sejarah,” ungkap Sholeh

Sejurus dengan masih lemahnya jumlah masyarakat yang datang, sebaliknya Wisma Karya justu menjadi tempat mangkal anak baru gede dan hiburan musik. Menurut salah satu pedagang kaki lima di area Wisma Karya yang enggan disebuutkan jati dirinya menyebutkan pada malam minggu Wisma Karya menjadi tempat kencan sepasang kekasih.

“Kalau malam minggu di sini ramai sekali kang, mereka datang bawa motor berpasang-pasangan. Saya tidak tahu mereka ngapain aje setelah sampai sini,’ ujar sumber tadi

Titik terang aktivitas ABG di malam minggu tersebut, diketahui saat menjambangi Wisma Karya pada akhir pekan lalu. Tampak sejumlah ABG usia pelajar duduk berpasangan dengan jenis kelamin yang berbeda sembari bersenda gurau. Bahkan dari penelusuran tidak sedikit yang diketahui dalam posisi berpelukan.

Ketua Lembaga Advokasi Pendidikan Kabupaten Subang Yaya Sudarya menyayangkan adanya kondisi terbalik wisma Karya. Dia berharap dinas terkait melakukan tindakan membersihkan citra Wisma Karya yang menyimpan benda-benda bersejarah.

“Jadi jumlah yang datang ke Wisma lebih banyak pada malam hari dibandingkan dengan siang hari. ini kan berdampak kurang bagus pada fungsi Wisma Karya yang menyimpan benda-benda peninggalan,” ujar Yaya. (*)

(http://berita.blog.dada.net)

Menjelajahi bangunan bersejarah kota Subang

November 21, 2008

Bangunan tua bersejarah memang bisa menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat masa lalu menjalankan kehidupannya. Sisa penjajahan di Subang bisa menjadi salah satu contohnya. Secara umum, berdasarkan kepentingannya, di Subang ini ciri arsitektur kolonial dapat dibagi dua.

Pertama, bangunan-bangunan yang didirikan untuk kepentingan militer. Bangunan-bangunan kolonial ini berada di kawasan Lanud TNI-AU Suryadarma, Kalijati. Dari kompleks ini, yang paling terkenal adalah salah satu rumah dinas perwira yang kini dikenal sebagai Museum Rumah Sejarah. Bangunan ini beserta isinya menjadi saksi bisu kapitulasi (penyerahan kekuasaan) dari pemerintah Hindia Belanda kepada tentara pendudukan Jepang.

Kedua, bangunan-bangunan yang didirikan untuk kepentingan bisnis perkebunan. Subang dulu memang dikenal sebagai sentra perkebunan. Konon, pada masa kolonial di Subang ini, teh, coklat, tebu, dan karet adalah beberapa komoditas yang dieksploitasi pengusaha swasta asing sektor perkebunan (planters) melalui konsesi hak guna lahan. Pamanoekan en Tjiasem Landen (P&T Lands.) adalah perusahaan yang memiliki konsesi areal lahan yang luasnya hampir meliputi wilayah Subang sekarang. P.W. Hofland adalah tokoh sentral usaha komoditas perkebunan di kawasan ini.

Subang sebenarnya termasuk salah satu tempat yang paling beruntung karena masih memiliki salah satu saksi sejarah masa lalunya yang bisa dibaca lewat bangunan-bangunan tua khas perkebunan. Melalui salah satu kekayaan itu, orang bisa menelusuri perjalanan sejarah kota dan masyarakat Subang. Dari bangunan-bangunan khas kolonial ini pula, kita bisa membayangkan bagaimana berkuasanya para planters ini dan betapa besar pula aset yang mereka kelola.

Bangunan-bangunan kolonial khas perkebunan ini lebih tersebar, walau sebagian besar berada pada sebuah ”kompleks” di kawasan Subang kota. Gedung Wisma Karya adalah ciri paling khas bagaimana kejayaan Subangplanters masa lalu yang konon pula menjadi pesaing para preangerplanters di Bandung. Bangunan yang diresmikan tahun 1929 ini dulu dipakai sebagai sociteit, tempat para meneer beserta para mevrouw-nya berleha-leha sambil main bola sodok atau nonton toneel.

Sebagai sebuah ”kompleks” pusat sentra perkebunan, tak jauh dari gedung Wisma Karya ini berdiri megah kantor pusat administrasi perkebunan (kini Hotel Subang Plaza), gudang (atelier), perumahan (the big house, Jl. Ade Irma Suryani, perumahan menuju arah Sidodadi dan kompleks bangunan tua di kawasan Cidongkol). Dan jangan lupa, dulu ”kompleks” ini tambah megah dengan hamparan hijaunya padang golf yang kini menjadi alun-alun.

Bangunan-bangunan antik ini juga menjadi saksi bagaimana para pejuang dulu begitu gigih mempertahankan kemerdekaan. Gedung Wisma Karya, misalnya, konon pada tahun 1945-1947 dijadikan markas pasukan Kratibo (Karawang Timoer-Bandoeng Oetara), pimpinan Letkol Sukanda Bratamanggala dan H. Rusdi. Sementara gedung ”The Big House” yang kini terletak di Jl. Ade Irma Suryani Nasution, kala itu menjadi markas pasukan Hizbullah. Gedung lain yang dijadikan markas badan-badan perjuangan adalah Gedung Gede (depan gedung DPRD, telah hancur), Gedung Jeding, Gedung Cipo, dan Gedung Pasanggrahan.

Sementara, bangunan-bangunan khas perkebunan di Subang ini antara lain juga ditemui di kawasan perkebunan Ciater dan Tambaksari (selatan), perkebunan karet Wangunreja dan gedong satu (barat) serta Sumurbarang (timur). Beberapa gedung tua ini terpelihara dengan baik, terutama yang letaknya tidak jauh dari permukiman. Bangunan-bangunan di afdeling Kasomalang, Wangunreja dan afdeling Ciater adalah beberapa contoh yang relatif terpelihara. Umumnya, gedung-gedung ini dijadikan rumah dinas kepala afdeling ataupun kantor administrasi kebun.

Namun terdapat pula beberapa bangunan yang kondisinya memprihatinkan. Rumah dinas kepala afdeling kebun Bukanagara, Desa Cupunagara, Cisalak misalnya, kini tampak tak terurus. Berada di atas bukit kecil, gedung tua tak berpenghuni ini tampak kusam, beberapa genting bolong-bolong dan beberapa kusen jendelanya hampir copot. Walau dari jauh tampak menarik sebagai sebuah villa, lengkap dengan cerobong tungkunya, tapi dari dekat lebih mirip rumah hantu. Konon bangunan tersebut dibuat sekitar tahun 1930-1931.

Benda atau bangunan benda cagar budaya sesungguhnya bukan saja harus dilindungi, tetapi juga harus bisa dijamin kelestariannya. Di Subang, diakui atau tidak, keberadaan benda-benda cagar budaya sangat rawan berubah, bahkan rawan tergusur karena intervensi kekuatan komersial maupun karena kurangnya dukungan dana. Sebagai kota yang berkembang pesat, Subang dalam 5-10 tahun ke depan dikhawatirkan bukan saja tampil makin gemerlap dan modern, tetapi juga makin seragam, seolah-olah tidak ada lagi kekhasan dan akar sejarah kota yang tersisa.

Sejauh mana pemerintah, organisasi sosial dan warga Subang ini peduli pada upaya pelestarian bangunan dan benda cagar budaya yang dimiliki. Untuk menjawab pertanyaan ini harus diakui bukanlah hal yang mudah. Sekalipun disadari bahwa eksistensi bangunan dan benda cagar budaya perlu dilindungi dan dilestarikan, tetapi dalam praktiknya tidak selalu keinginan dan harapan mulia itu paralel dengan kenyataan di lapangan.

Akselerasi perkembangan kota yang luar biasa cepat dan dominannya pengaruh kekuatan komersial sering menyebabkan pertimbangan pragmatis menjadi lebih menonjol daripada pertimbangan yang idealis.

(Disarikan dari http://gerbang.jabar.go.id/kabsubang/index.php?index=16&idberita=183)

Sisingaan kesenian Subang

November 21, 2008

Sisingaan atau Odong-odong (dalam sebutan lain Gotong Singa) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang berupa keterampilan memainkan tandu patung kepala singa yang didekorasi berwarna-warni dan diusung oleh beberapa orang. Pertunjukan ini sering disajikan sebagai bagian dari upacara sunatan atau upacara lainnya dalam bentuk arak-arakan.
Sisingaan biasanya ditampilkan dalam dua bentuk yang berbeda. Warga Subang menamakannya sebagai singa pergosi dan singa buhun.
Pada atraksi sisingaan, sepasang anak kecil dengan memakai baju adat Sunda dinaikkan keatas sepasang tandu singa, yang diusung oleh empat orang pengarak. Atraksi dilakukan dengan berputar-putar, ataupun maju mundur dan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota sampai akhirnya kembali ke tempat semula.

Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

Gerakan-gerakan semacam jurus-jurus silat ditampilkan dipadu dengan gerakan jaipongan, tarian khas Jawa Barat. Atraksi sisingan memadukan tiga unsur seni utama. Yaitu seni gerak tari atau pencak silat dan jaipongan. Seni suara gamelan kendang dan gong, serta seni busana para pemainnya.

Para pemain sisingaan menampilkan gerak akrobat dan tarian yang atraktif. Berbagai gerakan ini membuat warga yang menyaksikan merasa terhibur. Semua atraksi akrobat ini dilakukan para pemanin yang terlatih tanpa unsur magic.

Sisingaan tetap bertahan sebagai seni pertunjukan rakyat Subang, Jawa Barat. Sisingaan tetap diminati karena atraksinya menarik dan menghibur.
(www.legowwo.multiply.com)

Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Anak

November 19, 2008

Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Anak

Televisi sekarang telah menjelma sebagai sahabat yang aktif mengunjungi anak-anak. Bahkan di lingkungan keluarga yang para orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah, televis telah berfungsi ganda, yaitu sebagai penyaji hiburan sekaligus sebagai pengganti peran orang tua dalam mendampingi keseharian anak-anak.

Ironisnya, di tengah-tengah peran vitalnya selaku media hiburan keluarga, dunia pertelevisian kini telah mengalami disorientasi dalam ikut mendidik penontonnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Titie Said, dunia pertelevisian kini terancam oleh unsur-unsur vulgarisme, kekerasan, dan pornografi (KR, 23/9-2003). Ketiga unsur tersebut hampir-hampir menjadi sajian rutin di sejumlah stasiun televisi serta dapat ditonton secara bebas bahkan oleh kalangan anak-anak. Padahal ketiga unsur itu mestinya dicegah agar tidak ditonton oleh anak-anak mengingat kondisi psikologi mereka yang belum mampu membedakan mana hal-hal yang positif dan mana hal-hal yang negatif dari sebuah tayangan TV.

Harus kita akui, belakangan ini berbagai tayangan televisi cenderung disajikan secara kurang selektif. Tayangan sinetron televisi, misalnya, kini didominasi oleh kisah-kisah percintaan orang dewasa, banyolan-banyolan konyol ala pelawak, intrik-intrik rumah tangga dari keluarga elit, cerita laga dan sejenisnya. Jika terus-terusan ditonton anak, hal ini akan membawa pengaruh kurang sehat bagi mereka. Sementara tayangan film yang khusus disajikan untuk anak-anak sering kali berisi adegan jorok dan kekerasan yang dapat merusak perkembangan jiwa. di sisi lain, aneka acara yang sifatnya menghibur anak-anak, seperti acara permainan, pentas lagu-lagu dan sejenisnya kurang memperoleh prioritas, atau hanya sedikit memperoleh jam tayang.

Masih minimnya komitmen televisi nasional dalam ikut mendidik anak-anak tampaknya menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para pemilik dan pengelola televisi. Orentasi pendidikan perlu menjadi semangat kerja para pemilik dan pengelola televisi dalam rangka membantu tugas orang tua, sekolah dan masyarakat dalam mengajarkan dan mendidik agama, budi pekerti, etos kerja, kedisiplinan, nilai-nilai kesopanan dan kreatifitas di kalangan anak-anak dan remaja.

Dalam situasi demikian tentu saja akan bersifat kontra produktif jika beberapa stasiun televisi menayangkan berbagai acara yang kurang memupuk upaya penanaman nilai agama dan budi pekerti. Untuk itu, sudah saatnya para pengelola televisi dituntut kesediaannya dalam memperbanyak volume acara yang membawakan pesan-pesan edukatif, positif. Sebaliknya mengurangi volume tayangan yang secara terselubung membawakan pesan-pesan negatif seperti sinetron yang bertemakan percintaan antara siswa dengan gurunya, intrik antar gadis dalam memperebutkan cowok keren, kebiasaan hura-hura, pesta, serta adegan-adegan kurang pantas lain yang membuat kalangan orang tua mengelus dada.

Kita akui, tayangan televisi seperti sinetron hanya sebatas rekaan sutradara yang tak mesti sejalan denga realitas pergaulan remaja kita sehari-hari. tetapi, karena TV telah menjadi media publik yang ditonton secara luas, termasuk kalangan anak-anak, maka akan memberi dampak kurang positif jika isinya bersifat vulgar. Di samping itu, judul sinetron yang selalu mengambil topik-topik tentang percintaan dan pacaran sedikit banyak akan mengajari anak-anak untuk berpacaran, tampil sexy, bergaya hidup trendy dan berorentasi yang penting happy. Walaupun tayangan ini belum tentu ditiru namun tetap akan mengontaminasi pikiran polosnya. Karena efek tayangan TV selama ini terbukti cukup ampuh bagi mereka. Simak saja, tingkah laku sebagian anak-anak remaja kita yang sangat mengidolakan tokoh-tokoh film percintaan dan sejenisnya.

Bertolak dari sini, dapat digarisbawahi bahwa penayangan bertemakan remaja yang kental nuasa percintaannya serta mengambil background anak sekolah seperti berseragan putih biru untuk SLTP maupun berseragan putih abu-abu untu SLTA justru kurang memberikan pra-kondisi bagi tumbuhnya remaja yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, disiplin dan lain-lain. Hal inilah yang membut orang tua menjadi ngeri dan sangat menyayangkan pemutranan sinetron yang miskin kandungan nilainya seperti itu.

Analisa dan Solusi
Munculnya beberapa TV swasta baru, baik yang cakupannya lokal maupaun nasional. Sebenarnya disambut hangat oleh publik. Hal ini lantaran publik merasa memperoleh tambahan berbagai sajian acara baru yang lebih beragam. Booming TV swasta sanggat diharapkan akan memberikan pencerahan budaya sekaligus pencerdasan melalui sajian informasi yang disampaikan secara tajam, objektif dan akurat, dengan sajian informasi yang tajam, maka akan mencerdaskan masyarakat dalam memahami berbagai persolan aktual baik di bidang ekonomi, pilitik, sosial, budaya, dan lain-lain. Disamping itu, TV juag akan memperluas wawasan masyarakat jika mereka aktif mengikuti acara dialog, debat, diskusi dan berbagai acara informatif-edukatif lain yang ditayangkan TV.

Namun tak dapat diingkari kehadiran beberapa TV swasta baru semakin mempertajam tingkat kompetisi bisnis pertelevisian di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, para awak TV swasta yang ada, baik pemain lama maupun pemain baru, harus memutar otak untuk memilih strategi jitu dalam menggait pemirsa. Logikanya, jika mereka berhasil merebut simpati penonton secara luas maka sejumlah iklan akan masuk.

Yang menjadi keprihatinan kita, ternyata sebagian TV swasta memilih strategi yang kurang tepat untuk menggaet penonton, diantaranya lewat eksploitasi anak-anak dan remaja secara berlebihan. Dan hal tersebut tampak pada tiga hal. Pertama, judul-judul sinetron selalu vulgar, menantang, dan mengandung unsur pornografi. Kedua, pemilihan aktris yang kebanyakan anak-anak dan remaja belia. Ketiga, jenis peran yang dilakoninya kurang berakar pada budaya pergaulan masyarakat Indonesia, dan bahkan sering kurang sesuai dengan tingkat kematangan psikologis dan umur pemerannya.

Agaknya, pemilihan aktris yang masih belia ini dimaksudkan untu menggaet penonton dari kalangan ABG atau remaja sebanyak-banyaknya. Disamping itu, pemilihan alur cerita yang memilih setting anak-anak sekolah tentunya diorientasikan untuk membidik segmen penonton yang duduk di SD kelas-kelas atas, SLTP, SLTA. Padahal adegan dalam sinetron bersetting sekolahan tersebut sebenarnya belum pantas dilakukan oleh mereka. Apa lagi apa bila kita berpijak pada nilai dan norma agama dan adat ketimuran, tentu peran dan adegan itu tidak layak diekspos di muka umum.

Agaknya, tanyangan TV terbukti cukup efektif dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku anak-anak lantaran media ini sekarang telah berfungsi sebagai rujukan dan wahana peniruan (what they see is what they do). Anak-anak sebagai salah satu konsumen media secara sadar atau tidak telah dicekoki budaya baru yang dikontruksi oleh pasar (market ideologi).

Untuk membantu anak agar dapat memanfaatkan tanyangan TV secara positif agaknya sangat membutuhkan peran optimal orang tua, terutama dalam mendampingi dan mengontrolnya. Orang tua harus sabar mendampingi anak-anaknya saat menonton TV. Hal ini perlu dilakukan orang tua agar anak tidak terpolusi oleh “Limbah budaya massa” yang terus mengalir lewat teknologi komunikasi yang hanya mempertontonkan hiburan sampah seperti hiburan opera sabun maupun sinetron akhir-akhir ini.

Orang tua perlu terus mananamkan daya pikir yang kreatif anak dalam belajar. Orang tua tidak perlu melarang anaknya menonton TV. Yang justru mendapat perhatian serius adalah bagaimana orang tua memilihkan acara yang betul-betul bermanfaat bagi pendidikan dan perkembangan anaknya, agar anak tersebut dapat terangsang untuk berfikir kreatif.

Hal tersebut sangat perlu dilakuakn karena mengingat kondisi psikologis anak yang belum matang, akan sulit bagi mereka untuk membedakan mana yang positif dan mana yang negatif. Orang tua perlu senantiasa mandampingi dan membimbingnya. Bentuk kehati-hatian dari para orang tua semenjak dini sangat diperlukan untuk menangkal efek samping (side effect). Yang kemungkinan timbul jika anak-anak dibebaskan menonton berbagai tanyangan TV sekehendaknya.

Kontrol orang tua terhadap tayangan TV juga dapat dilakukan secara langsung kepada stasiun TV yang menayangkannya. Caranya, orang tua dapat melayangkan protes kepada stasiun TV yang menayangkan sebuah acara yang dianggap bernilai negatif. Cara protes ini sekarang lebih mudah dilakukan karena telah disediakan salurannya. Hampir semua TV di Indonesia memiliki telepon, fax, email, bahkan SMS yang bisa dijangkau dari mana-mana. Mereka umumnya menerima layanan pelangan (custumer service) hampir 24 jam. Adaikan ada dua orang dari setiap propinsi di Indonesia yang rela menyempatkan diri ‘mengawasi’, atau bahkan melakukan protes terhadap setiap tayangan TV yang berbau ‘sesat’, maka dipastikan stasiun TV akan sangat selektif menampilkan tayangan akibat kewalahan menerima protes dari banyak permirsa. Jihad (memerangi) TV dengan memprotesnya, walau lewat telefon koin, lebih berguna demi satu abad masa depan anak-anak kita.

Bagi pemilik atau pengelola stasiun-stasiun TV itu sendiri, adalah bagaimana dapat memformat acara TV yang mampu melatih anak agar berfikir kreatif. Yaitu dengan lebih menambah acara-acara yang banyak mengandung unsur pendidikan, seperti, kuis anak-anak, sejarah, dan lain sebagainya. Stasiun TV hendaknya betul-betul memikirkan nasib perkembangan generasi bangsa ini. Hendaknya tidak bermuara pada meraup keuntungan yang sebayak-banyaknya, dengan tanpa memikirkan nasib konsumennya. Akan tetapi bagaimana sebuah stasiun TV itu dapat atau ikut andil dalam upaya mendidik generasi bangsa ini, dengan menyuguhkan tayangan-tayangan yang betul-betul bermanfaat.

Kontrol terhadap tayanagn TV di masa depan agaknya akan bertambah optimal jika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Lembaga Sensor Sinetron mampu berjalan optimal. Kinerja kedua lembaga tersebut sanggat kiat tunggu, terutama dalam tiga hal. Pertama, mencegah unsur pornografi masuk dalam tanyangan sinetron. Kedua, mencegah unsur kekerasan berlebihan dalam sintron. Ketiga, mencegah pandangan dan pemikiran yang menyesatkan masuk dalam tayangan sinetron.
So, yang jelas dan pasti, faktor keterpengaruhan TV terhadap realitas pendidikan kita bukan hanya tugas pengelola TV, orang tua, atau KPI dan LSS, namun merupakan tangggung jawab yang harus dipikul oleh siapa saja yang masih membutuhkan pendidikan dan ilmu sebagai proses pembelajaran dan menaruh peduli terhadap perkembangan dan masa depan generasi bangsa ini.

Wallahu ‘alam bis shawab

Daftar Pustaka:
Nurudin Televisi Agama Baru Masyarakat Modern Malang: UMM Press 1997.
Zubaidi Dr. M.Pd. Pendidikan Berbasis Masyarakat Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2006.

sumber : http://nadhirin.blogspot.com

PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI DESA DAN DI KOTA

November 19, 2008


PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI DESA DAN DI KOTA
written by Yudhi at 2008-02-04

SEMINAR SEHARI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA

KESEHATAN SEKSUAL REPRODUKSI
DR. dr. Wimpie Pangkahila

PENDAHULUAN
Sungguh tidak mungkin berbicara tentang kesehatan reproduksi tanpa berbicara tentang seksualitas. Masalahnya sistem reproduksi dan sistem seksual boleh dikatakan merupakan satu sistem, walaupun fungsinya dapat dipisahkan.

Dahulu ketika kontrasepsi belum diriapatkan, fungsi reproduksi dan fungsi seksual seolah-olah menjadi satu. Hubungan seksual (fungsi seksual), seolah-olah identik dengan kehamilan (fungsi reproduksi), karena hubungan seksual selalu beresiko menimbulkan kehamilan. Tetapi setelah kontrasepsi menjadi sebagian kebutuhan hidup manusia, fungsi reproduksi terpisah dari fungsi seksual. Maka manusia dapat melakukan fungsi seksualnya tanpa menimbulkan akibat pada fungsi reproduksinya. Bahkan kemudian manusia febih banyak menggunakan fungsi seksual daripada fungsi reproduksinya, karena fungsi reproduksi telah disepakati hanya dibatasi dengan sedikit anak. Di Indonesia semboyan “dua anak cukup’ agaknya sudah memasyarakat.

Maka sesungguhnya dalam peqalanan hidupnya, manusia lebih banyak berurusan dengan kesehatan seksual daripadsa kesehatan reproduksinya. Dengan demikian istilah kesehatan seksual-reproduksinya agaknya lebih mengena daripada kesehatan reproduksinya. Tetapi memang disadari penggunaan kata “seks” bagi sebagian orang di negeri ini seolah-olah merupakan sesuatu yang sangat mengerikan dan perlu dihindari, walaupun mereka juga akrab dengan urusan seksual.
atas^

PERKEMBANGAN SEKSUAL- REPRODUKSI
TAHAP PERKEMBANGAN AWAL

Pada masa remaja awal mulailah terjadi perkembangan seksual-reproduksi. Perkembangan seksual-reproduksi pada masa remaja dipengaruhi oleh hormon seks, baik pada laid-laki maupun perempuan. Hormon seks yang penting ialah testosteron, estrogen dan progesteron.

Pada perempuan, tanda fisik pertama yang menunjukkan perkembangan seksual adalah perkembangan payudara. Perkembangan ini diikuti oleh tumbuhnya rambia di bagian pubis dan di sekitar kelamin dan terjadinya menstruasi. Perkembangan payudara melewati 5 stadium, yaitu

Stadium 1 Bentuk infantil atau anak-anak

Stadium 2 Perkembangan payudara pubertas awal yang berbentuk tonjolan kecil jaringan payudara.

Stadium 3 Ukuran areola mamma (sekitar puting susu) dan payudara sendiri semakin besar dengan kontur bulat.

Stadium 4 Puting susu dan areola mamma bertambah besar dan membentuk tonjolan kedua di atas payudara

Stadium 5 Bentuk payudara dewasa. Tonjolan kedua yang tampak pada stadium 4 kini menjadi satu dengan kontur payudara.

Pertumbuhan rambut pubis pada perempuan juga melewati 5 stadium sebagai berikut:

Stadium 1 Bentuk infantil . Tidak ada rambut yang sebenarnya, meskipun mungkin ada rambut halus.

Stadium 2 Tumbuh rambut yang jarang, berpigmen dengan di daerah mons pubis dan labia

Stodium 3 Rambut pubis menjadi semakin gelap, lebih kasar dan keriting. Distribusinya masih minimal.

Stadium 4 Rambut pubis sudah seperti rambut pubis dewasa.

Stadium 5 Distribusi rambut pubis menjadi khas seperti pada perempuan dewasa yaitu berbentuk segitiga terbalik.

Seiring dengan itu, alat-alat kelamin perempuan baik bagian luar maupun bagian dalam juga berkembang menjadi sempuma. Alat kelamin bagian luar terjadi dari labia majora (bibir besar), labia minora (bibir kecil), dan klitoris. Sedang alat kelamin bagian dalam terdiri vagina yang di bagian lubang keluarnya mempunyai hymen (selaput dara) rahim, 2 saluran telur , dan 2 indung telur. Gangguan perkembangan mengakibatkan alat kelamin tidak sempurna dan tidak berfungsi.

Menstruasi pertama pada umumnya tejadi pada waktu payudara telah mencapai stadium 4, sebagian lagi pada waktu stadium 3, dan sedikit sekali mengalami ketika payudara mencapai stadium 2. Di samping perubahan-perubahan itu, bokong tampak melebar dan suara menjadi feminim.

Pada remaja laki-laki perubahan yang tejadi adalah bertambah besarnya buah pelir dan penis, tumbuhnya kumis dan rambut ketiak serta suara yang menjadi besar. Perkembangan kelamin laki-lai juga melalui 5 stadium, yaitu :

Stadium I Infantil, mulai dari lahir sampai perkembangan testis pubertas dimulai.

Stadium 2 membesaran testis (buah pefir) dan skrotum (kantung buah pelir) dengan perubahan warna skrotum yang semakin merah dan perubahan tekstur kulitnya.

Stadium 3 Penis bertambah panjang dan diametemya membesar. Testis dan skrotum masih mengalami perkembangan.

Stadium 4 Ukuran penis dan tests bertambah lagi. Skrotum berwama gelap. Glens penis (bagian kepala penis) telah berkembang sempuma.

Stadium 5 Ukuran dan bentuk kelamin dewasa.

Anak laki-laki mencapai stadium 2 pada usia 11-12 tahun, dan mencapai stadium 5 pada usia 15-16 tahun. Pertumbuhan rambut pubis pada laki-laki mirip dengan pertumbuhan pada perempuan yaitu melalui 5 stadium juga.

Peristiwa lain yang benar-benar merupakan pengalaman baru bagi remaja laki-laki ialah terjadinya nocturnal ejaculation yaitu keluamya sperma ketika tidur, yang biasanya diriahului oleh mimpi erotik. Noctumal Ejaculation biasanya terjadi bersama dengan nocturnal orgasm (orgasme = puncak reaksi seksual yang menimbulkan sensasi erofik yang menyenangkan). Pada remaja perempuan, frekuensi nocturnal orgasm lebih jarang. Tetapi frekuensi menjadi lebih sering pada remaja perempuan yang sebelumnya pernah mengalami orgasme, misalnya melalui masturbasi atau hubungan seksual.

Tetapi perkembangan seksual secara biologis dan fisiologis itu harus disertai oleh perkembangan psikoseksual yang selaras agar kehidupan seksual menjadi normal. Freud membagi perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak menjadi 4 stadium, yaitu 1) Fase Oral, 2) Fase Anal, 3) Fase Phallus, dan 4) Fase Laten.

Setelah itu anak memasuki masa remaja. Secara psilds, perubahan yang terjadi pada remaja ialah munculnya dorongan seksual, perasaan cinta dan tertarik kepada lawan jenisnya. Perasaan-perasaan ini juga tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormon seks, yaitu testosteron.

Perkembangan seksual yang terjadi pada remaja menimbulkan berbagai bentuk ekspresi seksualitas, yaitu masturbasi, nocturnal orgasm , percumbuan, dan hubungan seksual baik secara homoseksual maupun heteroseksual.

MASA REPRODUKSI AKTIF

Masa remaja sampai masa dewasa awal (15-45 tahun) merupakan masa reproduksi aktif, artinya masa di mana kesuburan berada dalam keadaan optimal, yadu perempuan mampu dan mudaj menjadi hamil, sedang laki-laki menjadi mampu dan mudah menghamili.

Data global di seluruh dunia menunjukkan kematian dan kesakitan ibu dan anak tinggi bila terjadi kehamilan senbelum berumur 18 tahun, sesudah berumur 35 tahun, dan sesudah terjadi 4 kelahiran dengan jarak kurang 2 tahun. Kehamilan pada usia di atas 35 tahun lebih memungkinkan terjadinya keguguran, bayi lahir mati, cacat bawaan pada bayi, dan kematian ibu.

Karena itu dalam perencanaan keluarga Indonesia, digunakan konsep NKKBS (Norma Koluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera) yaitu hamil pada umur 20-30 tahun, cukup 2 anak dengan jarak kelahiran 3 tahun. Setelah itu berhenti dari beban kehamilan dan kelahiran.

Tetapi konsep ini masih mengalami hambatan, khususnya ketika “dua anak cukup” dihubungkan dengan “laki-laki perempuan sama saja”. Hambatan ini terutama muncul di masyarakat yang menempatkan laki-laki lebih tinggi dari wanita, yang sangat berkaitan erat dengan adat-istiadat setempat. Untuk mengatasi hambatan ini teknologi kedokteran reproduksi melakukan upaya preseleksi jenis kelamin bayi sesuai dengan yang direncanakan, walaupun hasilnya tidak selalu tepat.

Selain” hambatan itu, batasan minimal 20 tahun tidak diriukung oeh Undang-undang karena Undang-undang Perkawinan tahun 1974 mencantumkan usia minimal 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk laki-laki. Memang telah teladi kecenderungan untuk menunda usia menikah baik bagi wanita maupun pda. Tetapi perkayanan antar remaja masih saja banyak dijumpai terutama di daerah pedesaan. Barangkali sudah tiba saatnya batas usia minimal tersebut diubah dan disesuaikan dengan perkembangan masa kini untuk mencegah bedangsungnya perkawinan usia remaja yang berdampak buruk baik bagi pihak pria, wanita , dan bayi.

Setelah tidak lagi merencanakan hamil dan melahirkan, fungsi reproduksi tidak berperan lagi. Maka tinggal fungsi seksual yang berperan dalam sisa usia yang masih panjang, bahkan semakin panjang, dengan semakin baiknya tingkat kesehatan dan sosial ekonomi masyarakat. Pada masa inilah kerap muncul masalah bila kesehatan seksual tidak diperhatikan dengan benar.

MENOPAUSE DAN ANDROPAUSE

Setelah melalul masa reproduktif aktif terjadilah perbedaan yang sangat jelas antara perempuan dan lald-laid dalam hal fungsi reproduksinya. Pada usia tua perempuan akan mengalami menopause, yang ditandai dengan berhentinya menstrusi. Pada masa menopause, fungsi reproduksi perempuan berhenti sama sekali, yang berarti tidak dapat menjadi hamil lagi. Tetapi ini bukan berarti padamnya kehidupan seksual perempuan.

Pada masa ini hormon estrogen dan progesteron menurun jauh sekali, yang selanjutnya menimbulkan berbagai akibat. Sekitar 80 % perempuan mengalami gejala akibat penurunan kadar hormon tersebut. Gejala yang umum terjadi adalah rasa panas pada tubuh bagian atas disertai warna kemerahan, berkeringat, dan kadang-kadang pusing. Rasa panas akan lebih mengganggu kalau terjadi pada malam hari, yang kemudian dapat mengganggu tidur sehingga dapat menimbulkan insomnia. Biasanya rasa panas ini akan hilang sendiri setelah terjadi beberapa tahun.

Akibat rendahnya kadar estrogen, terjadilah perubahan pada kelamin perempuan. Vagina berkerut dan lapisan epitelnya menipis, di samping elastisitas jaringannya hilang. Perlendiran vagina selama fase rangsangan, hanya sedikit terjadi. Perubahan-perubahan lni sering menimbulkan rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual. Namun keadaan ini dapat diatasi sehingga tidak menghambat hubungan seksual untuk selanjutnya.

Menopause tidak menurunkan atau melenyapkah dorongan seksual perempuan bila keadaan kesehatan seara umum baik. Demikian juga kemampuan mencapai orgasme tidak berubah karena menopause.

Berbeda dengan perempuan, laki-aki tidak mengalami sesuatu yang berhenti pada usia tua. Produksi sperma terus berlangsung walaupun telah mengalami penurunan. Kadar testostemn memang menurun secara perlahan-lahan, sedang penurunan pree testosteron lebih besar. Penurunan kadar hormon seks steroid pada perempuan terjadi lebih tajam.

Sekkar 5 % laki-laki pada usia enam-puluhan mengalami keadaan yang disebut “Andropause” , suatu istiah yang barangkali kurang tepat karena tidak ada sesuatu yang berhenti pada laki-laki. Masa ini ditandai dengan beberapa keluhan yaitu kelelahan, hiangnya selera makan, hilangnya dorongan seksual yang disertai hilangnya potensi seksual, mudah tersinggung dan mudah terganggunya daya konsentrasi.

Pada usia tua reaksi seksual laki-laki mengalami perubahan sebagai berikut:
1. Diperlukan waktu lebih lama dan rangsangan langsung pada penis untuk mengalami ereksi.
2. Ereksi terjadi dalam keadaan kurang kuat dan susdut yang terbentuk antara penis dan dinding perut menjadi lebih besar.
3. Intensitas ejakulasi menurun, dan volume sperma berkurang.
4. Kebutuhan untuk mengalami ejakulasi biasanya juga berkurang.
5. Periode refrakter menjadi semakin lama.

Perubahan-perubahan yang bersifat penurunan ini seringkali mencemaskan banyak laki-laki, apalagi kalau tidak ada pengertian dari istrinya. Keadaan ini akan terasa sebagai suatu masalah cukup besar dan mengganggu kalau terdapat perbedaan usia yang mencolok dengan istrinya.
atas^

GANGGUAN FUNGSI REPRODUKSI
Di tengah gemuruhnya program KB yang intinya untuk menekan laju pertambahan penduduk, terdapat sokitar 15 % manusia Indonesia yang justru mongalami kemandulan atau gangguan kesuburan sehingga tidak dapat menjadi hamil.

Kemandulan disebabkan oleh gangguan pada suami (40%), gangguan pada isteri (40%), gangguan pada kedua pihak (10%), dan tidak diketahui sebabnya (10%). Diantara gangguan yang terjadi pada suami maupun istri, penyakit menular seksual dan penyakit infeksi lain merupakan penyebab yang banyak dijumpai.

Akibat ketidak – mengertian, sampai saat ini masih banyak suami yang menyalahkan isterinya atau menganggap istrinya mandul bila kehamilan tidak kunjung terjadi. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menikah lagi, dan berkali-kali pula. Padahal gangguan kesuburan suami merupakan penyebab kegagalan kehamilan yang conderung semakin meningkat

Kemajuan dalam ilmu kedokteran, khususnya kedokteran reproduksi, walaupun sudah cukup dahsyat tetap tidak selalu mampu mengatasi semua masalah kemandulan. Maka lebih baik menghindari gangguan fungsi reproduksi dengan memelihara kesehatan seksual-reproduksi.
atas^

GANGGUAN FUNGSI SEKSUAL
Ada beberapa gangguan fungsi seksual yang dialami oleh pria maupun wanita, yang tidak jarang menimbulkan masalah lebih lanjut.

Gangguan fungsi seksual pada pria ialah impotensi, ejakulasi dini, ejakulasi terhambat, dan dyspharounia (rasa sakit ketika hubungan seksual). Sedang gangguan fungsi seksual pada wanita ialah kegagalan orgasme, dysphareunia, dan vaginismus (kekejangan abnormal otot vagina).

Gangguan fungsi seksual tidak jarang menimbulkan akibat buruk bagi hubungan suami istri, seperti ketidakharmonisan dalam perkawinan, terjadinya hubungan seksual ekstramadtal dengan segala akibatnya, hilangnya kebahagiaan dalam perkawinan, dan perceraian. Terhambatnya kehamilan juga dapat terjadi akibat gangguan fungsi seksual. Sebaliknya gangguan fungsi seksual juga dapat timbul akibat terhambatnya kehamilan.

Porkembengan seksologi dan andrologi telah mampu mengatasi gangguan fungsi seksual yang terjadi dengan cukup memuaskan.
atas^

PERUBAHAN PERILAKU SEKSUAL DAN AKIBATNYA
Sejak lebih dari satu dekade terakhir ini telah terjadi perubahan dalam pandangan dan perilaku seksual masyarakat, khususnya di kalangan remaja di Indonesia. Beberapa penelitan yang telah dilakukan di beberapa kota sejak tahun 1981 dengan kuat tolah menunjukkan adanya perubahan itu. Pola pergaulan menjadi semakin bebas yang diriukung oleh berbagai fasilitas, aktifitas seksual semakin mudah dilakukan, bahkan mudah berlanjut menjadi hubungan seksual. Agaknya hubungan seksual tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral, yang hanya patut dilakukan dalam ikatan perkawinan. Beberapa bentuk hubungan seksual bebas yang terjadi di masyarakat ialah hubungan seksual dengan WTS/LTS, hubungan seksual dengan banyak pasangan, hubungan seksual dengan satu orang yang mompunyai banyak pasangan dan hubungan seksual dengan orang yang tidak dikenal baik.

lronisnya di sisi lain masyarakat, khusunya remaja tidak menerima pendiriikan seks yang benar dan bertanggung jawab. Mereka menerima inforrnasi tentang seks justru dari sumber yang salah, bahkan menyesatkan, misalnya dari cerita teman, video pomo, tayangan televisi dan film.

Maka tidak aneh bila timbul akibat buruk yaitu penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) tertnasuk AIDS , kehamilan pra-nikah, dan kehamilan tidak diinginkan serta pengguguran kandungan. Ketiga masalah ini sebenarnya merupakan data yang momperkuat hasil-hasil penelitian perilaku seksual yang telah dilakukan di beberapa kota di Indonesia sehingga menjadi tidak dapat dibantah lagi.

Penyakit Menular Seksual dapat menimbul,..kan akibat lebih lanjut antara lain kemandulan, baik pada laki-laki maupun wanita. Bahkan kini penularan AIDS telah manjadi suatu ancaman yang tidak boleh diremehkan bagi keluarga, karena seks bebas morupakan cara penularan AIDS yang utama. Dari data kasus AIDS yang tercetat sampai Maret 1997 sejumiah 524,82 % mendapat penularan melalui hubungan seksual, baik heteroseksual (79,8%), maupun homoseksual (20,2%). Mereka terdiri dari kelompok usia remaja, dewasa awal, dewasa pertengahan bahkan dewasa lanjut.
atas^

PENUTUP
Kesehatan seksual-reproduksi berperan penting bagi terbentuknya sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera, yang sebenarnya merupakan inti suatu bangsa. Kalau kesehaten seksual-reproduksi masyarakat tidak sehat baik fisik maupun mental, maka kebahagisan dan kesejahteraan terganggu, bahkan lenyap. Lebih jauh, ketahanan bangsa menjadi runtuh.

Maka membina kesehatan seksual reproduksi morupakan hal penting dalam upaya membentuk masyarakat yang bahagia dan sejahtera dengan ketahanan yang andal.
atas^

DAFTAR RUJUKAN
Kolodny, R.C., Masters, W.H. , Johnson, V.E. (1979) : Textbook of Sexual Medicine. Little, Brown & Co. Boston. Pangkahila, W. (1991) : Kesehatan Seksual Remaja Dalam Era NKKBS. Seminar Peranan Kesehatan Saks Dalam Membentuk Keluarga Sejahtera, Perkumpulan Andrologi Indonesia, Surabaya, 26 Oktober 1991.

Pangkahila, W. (1992) : Hubungan Seksual Di Luar Nikah : Suatu Masalah Masyarakat Modem. Seminar Fenomena Hubungan Seksual Di Luar Nikah, Suatu tinjauan Masalah Dan Pemecahannya. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah NTB. Mataram, 6 Agustus 1992.

Pangkahila, W. (1992) : Kesehatan Seksual Dalam Membina Keluarga Bahagia. Seminar Peranan Kesehatan Saks Dalam Membina Kaluarga Bahagia, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin,, Ujungpandano, 14 September 1992

Pangkahlia, W. (1992) : Seksualitas Usia Muda : Kenyataan Dan Pembinaannya. Seminar Saks, Suatu Segi Bagi Keluarga Bahagia,, Rs. St. Borromeus. Bandung, 3 Oktober 1992.

Pangkahila, W. (1997) : Perkembangan Seksual Remaja : Masalah dan Upaya Mengatasinya, Lokakarya Kesehatan Reproduksi Remaja,, YLKI,, Bukitunggi, 1 1 Maret 1997.

Pangkahila, W. (1997): Perilaku Seksual dan AIDS. Ceramah pada Kunjungan Ilmiah Badan Eksekubf Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Denpasar, 12 Maret 1997.
atas^

REMAJA DAN KESEHATAN IREPRODUKSI
dr. Ramona Sari
Remaja adalah golongan yang cukup banyak terdapat dalam susunan penduduk Indonesia dimana dari 200 juta penduduk, sekitar 20 % adalah golongan yang berusia 10 – 14 tahun. Kelak mereka akan menjadi orang tua dan mempunyai anak

Remaja pun mempunyai kedudukan yang unik karena dalam ilmu kedokteran digolongkan dalam usia peralihan ( pubertas) dan masa anak-anak ke masa dewasa. Peralihan yang terjadi bukan saja fisik dan mental, tetapi juga terjadi perubahan secara berangsur-angsur pada sistim reproduksinya menjadi matang dan berfungsi seperti orang dewasa. Setiap perubahan bagaimana pun juga akan menyebabkan timbulriya goncangan bagi individu yang mengalami.

Kesehatan reproduksi secara singkat dapat digambarkan sebagai suatu keadaan dimana fisik mental dan sosial dinyatakan sehat supaya dapat menjalankan fungsi reproduksi. Hal ini berarti mencakup
1. Kemampuan ber-reproduksi
2. Berhasil mempunyai anak yang sehat, dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa
3. Aman menjalankan proses reproduksi termasuk melakukan hubungan seks, hamil, melahirkan, memilih jumlah anak dan menetapkan pemakaian KB.
Dan yang terpenting disini adalah hak laki-laki atau perempuan untuk mendapatkan informasi dun pelayanan serta menentukan keinginannya dalam kehidupan reproduksi.

Seperti yang telah disebut di atas, usia remaja berdasar antara 12 – 24 th (12 – 21 th) Pada awal usia remaja teqadi perkembangan dan pemasangan alat dan fungsi reproduksi secara berangsur-angsur sampai mereka memasuki usia dewasa muda. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan fisik seperti tubuh menjadi lebih tinggi dan otot tubuh menjadi lebih membesar, timbulnya jerawat wajah, tumbuh bulu diketiak dan kemaluan, tumbuhnya payudara, tejadi perubahan suara dan tumbuh kumis pada remaja pria. Dan yang terpenting adalah datangnya haid pada remaja putri dan hadirnya mimpi basah pada remaja putra, sebagai tanda bahwa organ reproduksinya mulai berfungsi. Perubahan ini kadang-kadang menimbulkan rasa cemas, takut, malu, merasa dirinya menjadi lain dan remaja pun bingung, karena mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup dan tidak mendapat informasi yang memadai.

Selain itu terjadi pula perubahan minat dan perilaku pada remaja seperti:
• mereka mulai memperhatikan penampilannya
• mulai tertarik pada lawan jenisnya
• melakukan usaha untuk menarik perhatian lawan jenis, bertingkah laku lebih genit.

Dikota besar, gejala-gejala seperti ini dapat kita lihat dengan banyak-nya remaja yang mangkal dan “ngeceng” di pusat-pusat perbelanjaan (mal), tempat-tempat pertunjukan, atau kalau remaja tinggal di pinggiran kota atau desa, terlihat gerombolan remaja yang memadati tontonan layar tancap, pertunjukan dangdut di perayaan-perayaan.. Mereka terlihat berdandan habis-habisan memakai pakaian yang sedang “ngetrend” dan terutama perilaku remaja banyak diarahkan untuk menarik perhatian.

Salahkah sepenuhnya remaja melakukan hal tersebut?, sulit bagi kita untuk menghakimi mereka, semata-mata dari tingkahnya yang genit, bebas dan kadang beriebihan. Seiring dengan matangnya alat reproduksi, maka pada tubuh remaja juga teqadi peningkatan hormon seks (estrogen, progestron, ondmgen, antosteron) yang mempunyai libido (dorongan/gairah seks).

Libido ini adalah karunia Tuhan, untuk menimbulkan keinginan yang berhubungan dengan aktivftas seks yang diperlukan dalam reproduksi manusia. Rasa ingin tahu, sulitnya meredam dan mengendalikan dorongan seks ditambah tidak adanya pengetahuan dan informasi yang memadai mengenai kesehatan reproduksi, dapat menyebabkan remaja terjerumus pada kesulitan “besae”.

Seperti yang disebut di atas bahwa hak untuk mendapatkan informasi dan pelayanan reproduksi adalah hak setiap orang. Sementara pada orang dewasa saja agaknya sulit diriapat karena sifat ‘tabu” membicarakan masalah seks. Apalagi pada remaja, dimana seharusnya mereka lebih baik mendapat informasi dari orang tua. Tetapi karena sebagian orang tua adalah produk diriikan generasi lama yang merasa tidak pantas, malu dan mengelak untuk membicarakan seks dengan anaknya. Bahkan mereka sendiri sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan kesehatan reproduksi yang lebih dibanding anaknya, walaupun orang tua adalah pelaku seks yang aktif.

Memang sudah ada beberapa LSM dan pusat pelayanan remaja yang menyediakan pelayanan reproduksi dalam bentuk ceramah, konsultasi melalui telpon/surat dan ada beberapa buku saku yang pernah diterbitkan, tetapi belum banyak, menjangkau masyarakat remaja dan belum dimasyarakatkan secara maksimal. Sementara banyak pihak termasuk remaja, orang tua, guru, pendiriik pemuka agama dan tokoh, masyarakat yang merasa takut apabila informasi dan pendiriikan seks diberikan kepada remaja akan disalah gunakan oleh remaja. Maka remaja pun lebih senang bertanya pada teman sebaya yang tidak lebih baik pengetahuannya atau melihat dari film di TV , bioskop dan membaca dari buku, majalah yang lebih banyak menyajikan seks secara vulgar ketimbang pengetahuan pendiriikan seks yang benar.

Beberapa contoh “masalah” kesehatan reproduksi remaja yang sedng muncul pada saat seminar/ceramah

1. Masturbasi

Dari ceramah yang diadakan, selalu timbul pertanyaan mengenai masturbasi Amankah? berdosakah? bisa menyebabkan kemandulan? bisakah menghilangkan keperawanan?. Pertanyaan tersebut mungkin dapat mencerminkan adanya hasrat seks yang timbul pada remaja.

2. Jerawat dan bau bodan

Bisa jadi hal ini adalah sepele bagi orang dewasa, tetapi bagi remaja yang mengalami merupakan malapetaka, dapat menghilangkan percaya diri, menyebabkan rasa rendah diri dalam pergaulan. Padahal jerawat adalah keadaan normal pada saat puber yang akan hilang sendiri setelah menginjak masa dewasa. Bau badan dapat terjadi karena kelenjar keringat mulai aktif saat puber dan dapat diatasi dengan menjaga kebersihan diri. Dokter pun sering tidak menolong dengan memberikan penjelasan pada remaja, cukup memeriksa dan memberi resep.

3. Keputihan pada remja putri

Sebagian besar remaja putd mengalami keputihan, keluarnya cairan bedebih dari vagina. Walaupun keputihan bisa terjadi secara fisiologis dan normal, tetapi bisa juga disebabkan karena jamur atau kuman. Keadaan ini membuat remaja putri merasa tidak nyaman dan umumnya mereka enggan berkonsultasi dengan dokter kerena harus membicarakan dan diperiksa alat kelaminnya.

4. Keperawanan

Ternyata baik di kota besar dan kecil, topik ini banyak dipertanyakan baik oleh remaja putra maupun putri; karena walaupun zaman sudah maju, sebagian orang menganggap bahwa virgin/perawan adalah tanda pada seorang perempuan baik-baik Remaja putri sering takut bila keperawanannya dapat hilang akibat olah raga, terjatuh, terobek oleh jarinya sendiri, saat membersihkan daerah vagina ketika buang air kecil, buang air besar. Remaja putra pun sering mempertanyakan tanda fisik yang dapat dilihat dari seorang perempuan apakah dia masih perawan atau tidak Mengapa masalah keperawanan masih saja dipertanyakan dan mengapa keperjakaan tidak menjadi isu moral.

Beberapa hal yang harus menjadi perhatian utama bagi remaja dalam kaitan dengan kesehatan reproduksi:

1. Penundaan Usia Nikah

Karena harus menyelesaikan sekolah dan meniti kalir, maka banyak remaja yang harus menunda usia nikah. Sementara pematangan organ reproduksi dan gairah/libido semakin mendesak Perlu ada jalan keluar untuk mengatasinya.

2. lnformosi seks yang aman.

Banyak penelitian yang mengungkapkan remaja sudah melakukan hubungan seks di beberapa tempat dengan pacarnya atau berganti-ganti pasangan. Apabila hubungan seks sudah menjadi kebutuhan biologisnya, apakah bisa kita menyuruh begitu saja menghentikan? Ada baiknya bila terdapat informasi yang baik dan lengkap untuk remaja yang ‘sudah terlanjur agar mereka dapat melakukan hubungan seks yang aman sehingga dapat terhindar dari PMS/AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan.

3. Parnikahan pada usia muda.

Hal ini dapat terjadi pasangan remaja yang mengalami “kecelakaan”. Bagaimana dengan masa depan mereka yang harus putus sekolah, bagaimana dengan proses kehamilan dan persalinan pada remaja putri yang beresiko tinggi, dan dimana pasangan muda bisa memperoleh kontrasepsi supaya tidak terlanjur punya bayi berikut?

Pada keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, anak gadisnya adalah tambang emas untuk mengentaskan kemiskinan keluarga. Bahkan sebelum alat reproduksiriya matang, remaja putri sudah dikawinkan dengan laki-laki yang lebih tua, lebih matang, dan jam terbang pengalaman seks nya sudah banyak, dengan demikian potensi untuk tertular PMS lebih besar dan juga karena semaidn muda la memulai hubungan seks dan berpotensi melahirkan anak banyak dalam keadaan gizi kurang, remaja putri juga beresiko untuk mendapat penyakit kanker leher rahim.

4. Remaja yang menjual dirinya untuk kebutuhan hidup atau kesenangan semata.

Tingginya angka standar aborsi dikalangan remaja, sering dikaitkan dengan pola hidupnya yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan, keinginan untuk hidup mewah, mencoba bertualang dalam cinta, ajakan teman sering membuat remaja tidak mampu mempertahankan norma-norma yang sudah diajarkan oleh agama, orang tua dan sekolah. Gemedap kehidupan sering menggoda pada remaja untuk lebih mudah melakukan hubungan seks dengan siapa saja.

Dari pembahasan di atas kita dapati bahwa ternyata tidak mudah untuk mempersiapkan remaja memasuki tahap reproduksi sehat kaitan antara remaja, orang tua, guru, tokoh masyarakat tokoh agama, pihak pemerhati dan tenaga kesehatan harus lebih terbuka dalam hal pembedan informasi dan pelajaran kesehatan reproduksi.

sumber :http://yudhim.blogspot.com

Beternak Sapi Tanpa Rumput

November 19, 2008

Beternak Sapi Tanpa Rumput
(naskah ini disalin sesuai aslinya untuk kemudahan navigasi)
(sumber : SINAR TANI Edisi 8-14 Februari 2006)
Memadukan antara tanaman dan ternak menjadi model pertanian. Konsep terpadu
(integrated system) tadi banyak menggunakan jenis komoditinya, tapi yang cukup populer belakangan adalah perpaduan kebun kelapa sawit dengan peternakan. Pada era ini ternak sapi tanpa rumput. Sebenarnya system beternak demikian bukan tidak menggunakan hijauan rumput, tapi dalam jumlah minimal, rumput bukan lagi merupakan pakan utama. Mengapa begitu? Umumnya kebunan sawit ketersediaan hijauan ini tidak begitu banyak alat transportasi . Limbah-limbah perkebunan dan pengolahan sawit dan temyata, dari hasil pangalaman yang dikembangkan oIeh DR. Ir. I. Wayan Mathius, M.Si, APU, Peneliti di Balai Peneliti Ternak Bogor pakan limbah kelapa sawit ini cukup bagus menunjang peningkatan berat badan sapi.
Wayan bahkan menyebut dengan menggunakan cara ini, “Ketergantungan terhadap
hijauan dapat diatasi, kita malahan dapat beternak sapi tanpa rumput. Bahan-bahan yang dapat digunakan, katanya mulai dari pelepah kelapa sawit sebagai salah satu bahan pakan hijauan altematif (sumber serat), hasil ikutan pengolahan buh sawit, seperti lumpur sawit, serat perasan, buah inti dan tandan kosong. Sebagai limbah industri kelapa sawit, kualitas nutrien bahan tersebut cukup rendah, dan oleh karena itu dalam pemanfaatannya perlu mendapat perhatian khusus, Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal dibutuhkan sentuhan teknologi atau diolah sebelum dapat digunakan sebagai bahan pakan.
Perpaduan ternak sawit yang paling berhasil ini dapat dilihat di Agricinal di Bengkulu untuk setiap pohon dapat menghasilkan 22 pelepah pertahun dengan rataan bobot pelepah perbatang mencapai 7 kg. Jumlah ini setara dengan 20.000 kg (22 pelepah x 130 pohon x 7 kg) pelepah segar yang dihasilkan untuk setiap Ha dalam setahun. Jumlah ini diperoleh dengan asumsi bahwa semua bagian pelepah dapat dimanfaatkan. Dengan perhitungan itu, bisa dibayangkan, jika diasumsikan bahwa luasan perkebunan kelapa sawit yang telah berproduksi dan terdapat di Indonesia adalah 2.014.000 ha (tahun 2000), maka jumlh bahan kering pelepah yang tersedia untuk dimanfaatkan adalah sejumlah 10.500.996 ton.(22 pelepah x 130 pohon x 7 kg) pelepah segar yang dihasilkan untuk setiap ha dalam setahun. Jumlah ini diperoleh dengan asumsi bahwa semua bagian pelepah dapat dimanfaatkan.

sumber : http://www.pustaka-deptan.go.id

November 19, 2008

DODOL NANAS MEKARSARI HASIL KEGIGIHAN BERSAMA

28 August 2003

Jakarta, KBI Gemari
Kegagalan kerjasama tidak harus berakhir dengan hancurnya persahabatan dan kebersamaan. Apabila semua pihak mempunyai etikat yang baik, kegagalan bisa dianalisis sebab musababnya dengan hati bersih, jujur dan semua pihak menjauhkan diri dari rasa curiga, dan menjauhkan diri dari kemarahan yang dilandasi saling menyalahkan, maka dengan kebersamaan yang tetap utuh dan akal sehat bisa saja dihasilkan pikiran dan prakarsa cemerlang sebagai jalan keluar yang lebih memberi harapan. Prakarsa itu dengan kerjasama yang baik dapat segera dilaksanakan dengan baik. Pelajaran yang ditunjukkan oleh penduduk warga Kampung Rancateja, Desa Tambakmekar, Subang, Jawa Barat, nampaknya patut direnung oleh para elite politik di tanah air bahwa persatuan dan kesatuan yang disertai dengan niat baik untuk mencari penyelesaian bersama bisa melahirkan ide-ide cemerlang yang kalau dilaksanakan dengan sungguh-sungguh bisa mengantar tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Kampung Rancateja, Desa Tambakmekar, bukanlah suatu kampung khusus yang ideal. Kampung ini biasa saja, seperti kampung lain di Subang, yang adalah suatu kampung yang terletak di desa Tambakmekar dipinggir jalan antara Subang dan Bandung. Daerah ini tidak jauh dari daerah wisata Ciater dan Gunung Tangkuban Perahu di Bandung. Sebagaimana kampung lain di sekitarnya, daerah ini mempunyai alam yang sejuk dan tanahnya subur. Masyarakat pada umumnya bertani. Salah satu produk unggulannya adalah nanas yang rupanya telah menjadi tanaman tradisional penduduk dari generasi ke generasi.

Drs. Oos M. Anwas, M.Si., dari Yayasan Damandiri yang ditugasi untuk meninjau kegiatan masyarakat di kampung ini melaporkan bahwa sejak tahun 1985, pada waktu BKKBN mulai melihat keberhasilan program KB yang luar biasa, para peserta KB diajak mengatur dirinya sendiri melalui kelompok-kelompok peserta KB yang dikembangkan di kampungnya. Salah satu kelompok itu adalah Kelompok Wanita “Sekar Arum”, yang sekaligus merupakan kelompok PKK di kampung itu. Sebagai kegiatan utama, sekaligus sebagai upaya latihan hidup mandiri, para anggota kelompok dianjurkan mengembangkan tanaman obat sebagai apotik hidup.

Sebagai usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera, sebagian anggota kelompok Sekar Arum dianjurkan juga membuat warung hidup yang menjual sayur mayur dan kebutuhan hidup sehari-hari lainnya. Sebagian anggota lain dianjurkan mengembangkan budi daya kacang kedele yang ditanam di tanah desa (bengkok desa). Selanjutnya mereka dianjurkan juga menanam jagung atau tanaman lain yang dianggap menguntungkan. Secara ideal, menurut para pembinanya, hasil dari tanaman tersebut bisa untuk menambah tabungan untuk membiayai kegiatan kelompok pada umumnya.

Namun ternyata usaha ini tidak berhasil, bahkan justru mengalami kerugian. Mereka dianjurkan pindah pada usaha lain yaitu berternak ayam dengan dukungan pembinaan oleh para Penyuluh Lapangan Pertanian (PPL) dari desa yang sama. Lagi-lagi usaha ini mengalami kegagalan.

Kegagalan itu tidak menyurutkan semangat para ibu yang mulai belajar berorganisasi tersebut. Sebagai layaknya para politikus ulung, mereka mengadakan pertemuan, sarasehan, dan diskusi hangat di rumah ibu-ibu pengurusnya untuk mencari jalan keluar. Salah satu yang tidak mereka lakukan adalah saling menghujat dan saling menyalahkan. Mereka, dengan kepada dingin dan semangat mencari jalan keluar, saling mencari sebab dari berbagai kegagalan yang dialami bersama.

Mereka mulai melirik pengalaman warga kampung yang telah turun temurun menanam Nanas, dan mencari terobosan untuk menghasilkan produk ikutan yang dapat diandalkan. Mereka mengetahui bahwa produk Nanas hanya dijual secara eceran dalam bentuk biji tanpa diolah, bahkan banyak sekali penjualannya dilakukan dengan sistem borongan. Sistem borongan itu hanya menghasilkan harga yang rendah. Dengan segala akal sering terjadi pemborong datang ke kampung dengan pura-pura tidak membutuhkan produk yang biasanya melimpah pada saat panen tersebut.

Pengalaman kelompok membuat produk sesuai dengan “instruksi guru” mulai ditinggalkan dan diganti dengan pengalaman baru yang berorientasi pasar. Program pengembangan kelompok dengan produk yang berorientasi pasar ini mengharuskan kelompok yang tadinya sekedar asal ada kegiatan, pada tahun 1996 “direformasi” menjadi kelompok dengan orientasi pasar. Kegiatan BKKBN dengan dukungan dari Yayasan Damandiri mulai dikembangkan dengan latihan menabung Takesra dan kredit Kukesra yang diberikan secara bertahap. Pada saat yang bersamaan muncul seorang tokoh pemimpin yang baru. Pemimpin ini adalah Ibu Kartika Sari yang relatif lebih muda dibandingkan dengan pemimpin kelompok sebelumnya.

Ibu Kartika Sari sesungguhnya bukan pemimpin karbitan. Kartika Sari adalah penduduk asli daerah ini. Ia pernah sekolah di Akedemi Gizi di Jakarta, tetapi hanya 2 tahun dan tidak tamat. Pada saat belajar ini dia berkenalan dengan seorang pemuda bernama Lily yang asalnya dari kampung yang sama. Perkenalan itu dilanjutkan, sebagai layaknya anak muda, dengan pacaran untuk merancang masa depan selama tiga tahun. Akhirnya mereka menikah dan memutuskan untuk kembali ke kampung.

Di kampung, layaknya penduduk kampung lainnya, apalagi masih hidup bersama orang tua, mereka bertani menanam jahe, kencur dan nanas. Tetapi usaha ini biasa saja dan tidak mengalami banyak kemajuan, bahkan terkesan bangkrut. Untuk memberikan penghasilan yang lebih mantab terpaksa Lily bekerja di perusahaan penggergajian kayu di kampungnya. Sementara itu isterinya, Kartika Sari, bergabung dengan ibu-ibu lainnya dalam kelompok dan secara pribadi mulai menekuni pembuatan dodol Nanas.

Dalam kesempatan penggantian ketua kelompok di Kelompok Sekar Arum, Kartika Sari yang muda dipercaya oleh teman-temannya untuk memimpin kelompoknya. Sebagai pimpinan baru, dia mengajak dan melatih anggotanya untuk belajar ketrampilan dengan melirik produk yang melimpah di kampungnya, yaitu Nanas. Disamping belajar sendiri mereka meminta pertolongan PPL yang ada di kampungnya bagaimana mengolah Nanas yang melimpah dan bisa menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Secara kebetulan PPL, dalam usaha pengentasan kemiskinan yang marak pada masa itu, menyediakan kegiatan pelatihan untuk penduduk kampung. Kelompok Sekar Arum secara spontan ikut dalam program pelatihan tersebut. Sebagaimana layaknya program pada masa itu, setiap peserta latihan mendapat jatah dana latihan sebesr Rp. 5000,- setiap hari. Jatah itu tidak diambil oleh peserta, karena mereka berlatih di kampungnya sendiri, tetapi dikumpulkan. Karena itu setelah pelatihan setiap peserta telah mempunyai uang sebesar Rp. 60.000,- yang dianggap cukup untuk modal membuka usaha Dodol Nanas yang mereka geluti selama pelatihan.

Pembuatan Dodol Nanas sebenarnya tidak sukar, tetapi memerlukan kesabaran dan ketelitian yang tinggi. Secara sederhana Nanas yang dipilih dengan baik sekitar 1,5 kg dikupas dan ditambah dengan gula pasir sebanyak 1 kg, 4 ons gula merah, 2,5 kg tepung ketan dan 2 gelas santan kanil. Campuran ini diaduk dalam wajan hingga rata. Setelah bercampur dengan sempurna adonan ini dimasak dalam api dan bara selama kurang lebih 1 jam. Setelah dianggap masak kemudian dituang dalam loyang serta diratakan untuk menghasilkan lapisan yang siap dipotong-potong menjadi Dodol. Baru setelah dianggap dingin adonan yang matang itu dipotong-potong sesuai ukuran yang dikehendaki dan dibungkus untuk siap di pak dalam kemasan yang menarik untuk dipasarkan. Sesuai anjuran banyak kalangan, mereka memberi nama Dodol produknya dengan merek “Dodol Mekar Sari”.

Pemasaran tingkat awal dilakukan antar keluarga sendiri di kampung. Keluarga yang merasa bahwa dodol itu enak rasanya, dianjurkan untuk ikut menawarkan kepada tetangga atau kenalan yang berkunjung sebagai oleh-oleh. Pemasaran secara sederhana tersebut tidak banyak membawa manfaat keuntungan berupa uang yang besar, tetapi telah menyadarkan penduduk akan kemungkinan baru bahwa Nanas produk kampungnya yang selama ini dijual mentah-mentah dapat diolah menjadi produk yang lebih menarik dan mendatangkan kemungkinan untung yang lebih besar.

Pada perkembangan berikutnya ada juga yang mengambil prakarsa untuk menititipkan dodol tersebut pada warung-warung yang ada di kampung lain atau dibawa dan dijajakan dengan alas sederhana atau bahkan koran bekas di tempat wisata Ciater yang tidak jauh dari kampung itu. Dengan cara itu dodol nanas Mekar Sari mulai dikenal luas di daerah lain.

Karena kegigihannya itu, pada tahun 1999, sebagai wujud dari program yang peduli terhadap upaya pengentasan kemiskinan, yang diprakarsai oleh Menko Kesra dan Taskin, dan bekerja sama dengan Yayasan Damandiri dan BKKBN, kelompok yang semula mendapat bantuan kredit Kukesra, dan dianggap lulus, dibantu untuk melanjutkan usahanya dengan skim baru yang disebut Kredit Pengembangan Kemitraan Usaha (KPKU). Melalui skim ini kelompok dan para anggota diajak mengembangkan kemitraan dengan usaha lain yang bisa menampung hasil produksi kelompoknya. Untuk itu mereka mendapat dukungan kredit melalui Bank BNI yang lebih besar, yaitu mula-mula pada tahun 1999 sebesar Rp. 10,5 juta. Dengan kredit itu para anggota kelompok harus bisa lebih leluasa memasarkan produknya ke daerah lain dan kalau perlu menitipkan produk itu ke toko atau warung-warung dalam jumlah yang lebih besar. Dana kredit dapat dipergunakan untuk menghasilkan produk yang lebih banyak sehingga jangkauan pemasaran lebih jauh.

Karena usaha kelompok itu dikelola dengan baik, bahkan apabila ada anggota terlambat membayar cicilan bisa dibantu lebih dulu oleh anggota lainnya, akhirnya para anggota makin disiplin dan tertib mengembalikan kredit. Kredit pertama lunas pada waktunya dan kegiatan kelompok bertambah maju. Karena keberhasilan itu maka kelompok dianggap layak untuk menerima bantuan kredit yang lebih besar. Dengan prosedur yang sudah baku kelompok itu kemudian mendapat kredit lebih besar pada tahun 2000, dan juga pada tahun 2001, dan selanjutnya pada tahun 2002.

Dengan adanya kredit yang selalu mereka bayar sesuai dengan perjanjian, bahan baku nanas yang relatif melimpah di desanya, serta kerja gotong royong yang akrab, mereka dapat saling tolong menolong untuk memenuhi permintaan langganannya. Untuk melayani langganan yang makin banyak mereka memutuskan bahwa setiap anggota dibantu untuk membuat tempat pembuatan dodol sendiri. Dengan tempat pembuatan yang makin menyebar diantara anggota, maka kemampuan produksi sebagai suatu kelompok bertambah besar. Salah satu sebabnya adalah karena setiap anggota diberi kesempatan untuk menambah tenaga pembantu sesuai dengan kemampuan produksinya. Namun semua produk harus tetap mengacu pada standar kualitas dan rasa yang sama serta diharuskan memakai nama merek yang sama, yaitu Dodol Mekar Sari.

Dengan memegang teguh kualitas yang sama dan merek dagang yang sama, maka pemasaran bisa dilakukan bersama dan dikurangi persaingan antar anggota kelompok, yang jumlahnya tidak pernah ditambah dari jumlah semula sebanyak 20 orang. Namun tidak berarti bahwa persaingan tidak ada. Dodol Mekar Sari bersaing dengan produk dari produsen lain yang mempergunakan merek dagang berbeda. Tetapi karena mereka tetap menjaga kualitas produk dengan baik, Dodol Mekar Sari tetap dianggap yang terbaik.

Sebagai produsen dodol unggulan yang maju, tidak jarang pimpinannya sebagai pemimpin kelompok atau sebagai perorangan, diundang ke daerah-daerah lain untuk memberikan kursus ketrampilan membuat dodol dan sekaligus memberikan petunjuk bagaimana memasarkan produk-produk itu secara luas. Untuk memelihara kekeluargaan dalam lingkungan kampungnya, kelompok ini secara bergiliran menyelenggarakan kegiatan pengajian secara teratur. Pengajian itu diikuti oleh tetangga yang sekaligus melakukan arisan dan kegiatan menambah pengetahuan, termasuk bagaimana membuat dodol yang enak dan disenangi masyarakat luas. Upaya ini untuk mempersiapkan tenaga yang sering dibutuhkan untuk membantu anggota yang kekurangan tenaga kerja kalau kebetulan pesanan melimpah.

Dengan adanya usaha itu, ibu-ibu di kampung makin mandiri serta tidak selalu tergantung pada suami yang bertani. Tetapi lebih dari itu kegiatan kelompok yang bekerja keras ternyata telah mampu menggalang persatuan dan kesatuan yang kokoh dan menjauhkan mereka dari rasa saling membenci. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan)

Sumber : http://kbi.gemari.or.id

Profil Yayasan As Syifa Al Khoeriyyah Subang

November 19, 2008


Profil Yayasan As Syifa Al Khoeriyyah Subang

Latar Belakang Sejarah

Masa Perintisan

Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah merupakan sebuah lembaga non pemerintah (Non Goverment Organization) yang bergerak dalam aktifitas Dakwah, Sosial, dan Pendidikan Islam. Awal perjalanan Yayasan ini dimulai pada tahun 2003 oleh para pegiat dakwah di Kabupaten Subang. Aktivitas sosial menjadi langkah awal yang dijalankan oleh para pengelola Yayasan. Dalam menjalankan aktivitasnya, para pengelola Yayasan mendapatkan amanah dari para donatur luar negeri, terutama dari Negara Qatar.

Awalnya, Yayasan bergerak dalam penyaluran dana-dana pembangunan sarana umat seperti mesjid dan madrasah. Seiring dengan tingginya tingkat kepercayaan dari para donatur, Yayasan pun mulai melakukan ekstensifikasi program tidak hanya menyalurkan sarana fisik, akan tetapi juga menjajaki program pengembangan Sumber Daya Manusia. Maka dibukalah program pendidikan tahfizh Al-Qur’an LTIQ Maqdim yang diperuntukkan bagi anak putus sekolah dengan menyewa rumah penduduk. Seiring dengan dibukanya program tahfizh, Yayasan mulai memikirkan untuk merancang program strategis yang akan dikembangkan.

Dengan Izin Allah SWT, pertengahan tahun 2004, Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah mulai mendapatkan kepercayaan untuk membangun Islamic Center di daerah Desa Tambakmekar Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. Setahun kemudian di areal seluas 4 hektar telah berdiri Masjid megah di tengah pusaran akhtifitas dakwah Masjid Jami’ Syaikhah binti Khalifah As-Suweydi, Gedung serba guna, Asrama Pesantren Putri, Pusat Kajian & Maktabah 2 lantai dan Guest house. Tanggal 4 Desember 2005 menjadi hari bersejarah setelah Bupati Subang bersama Duta Besar Qatar Untuk Republik Indonesia hadir meresmikan Pondok Pesantren As-Syifa Al-Khoeriyyah yang dihadiri tokoh Nasional dan Daerah. Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Pembina sekaligus pendiri Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah; Dokter Suleiman Omar Qush mendapatkan anugerah sebagai Tokoh Berjasa kabupaten Subang yang disematkan oleh Buoati Subang; Eep Hidayat.

Secara bertahap, Yayasan terus mengembangkan program pendidikan tahfizh yang non formal. Pada tahun 2005, Yayasan mulai mengembangkan pendidikan formal dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT) dan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) pada tahun 2006. Sambil terus menerus menjaga kontinuitas penyaluran bantuan sarana umat seperti mesjid dan madrasah, Yayasan pun berhasil membuka kran penyaluran bantuan sarana air bersih bagi masyarakat.

Masa Pengokohan

Tahun 2007, Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah sudah menyalurkan amanah para donatur sekitar 200 buah mesjid dan madrasah serta sekitar 300 buah sarana air bersih. Di samping itu, program rutin yang selalu dilaksanakan setiap tahun antara lain Program Penyebaran Hewan Qurban, Ifthar Shaim (buka puasa bersama), Kafalah Da’i/ Da’iyah, Santunan Anak Yatim, serta program-program pembinaan umat seperti daurah/ pelatihan, serta penerbitan risalah-risalah dakwah.

Secara kelembagaan pun mengalami perbaikan dan dinamisasi setelah estafeta kepemimpinan As-Syifa Al-Khoeriyyah dilanjutkan oleh Muhtar Fathony Wahyuddin melanjutkan pendahulunya H. Syaef Ma’mun, Lc. Sehingga memasuki tahun 2007 menjadi awal titik tolak pengokohan kemandirian Yayasan As-Syifa Al-KhoeriyyahSelanjutnya, Yayasan mulai merancang visi kemandirian.

Maka dibuatlah terobosan pengembangan usaha untuk mendukung visi tersebut. Rencana Strategis 2010 merupakan masa langkah awal menuju visi kemandirian. Yaitu dengan dicanangkannya masa pengokohan. Tercatat beberapa rencana usaha yang akan dikembangkan:

1. Pengembangan Usaha Pertanian dan Kehutanan

2. Pengembangan Usaha Peternakan

3. Pengembangan Usaha Koperasi

4. Pendirian Radio Siaran Swasta

Semuanya diupayakan untuk memujudkan kawasan pusat pendidikan terpadu yang berwawasan lingkungan dan berperan dalam pemberdayaan serta pembinaan masyarakat di sekitarnya.

Masa Kedewasaan Membangun Kemandirian

Bercermin pada perjalanan suksesnya dakwah Rasulullah Muhammad SAW, bahwa dalam menyikapi problematika umat dan dakwah hanya akan mampu diselesaikan dengan baik apabila kedewasaan dalam bersikap mampu diwarisi. Sehingga usia muda tidak menghalangi Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah untuk meraih kedewasaan sedini mungkin. Untuk itu, Yayasan mulai melakukan ekspansi pengembangan ke arah pemandirian melalui garapan-garapan bernilai investasi.

Sampai saat ini, Yayasan mencoba melakukan terobosan pengembangan kemandirian unit-unit garapan seperti kantin, klinik, minimarket, radio penyiaran, dan unit lainnya sebagai upaya pendewasaan. Dengan harapan akan menggerakkan roda ekonomi Yayasan secara keseluruhan. Sehingga visi yayasan bisa dengan mudah dicapai, tentunya dengan izin dan kehendak Allah SWT.

Visi dan Misi

Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah memiliki Visi:

”Kokoh dan Mandiri dalam membangun, membina dan melayani masyarakat”

Dalam mencapai visinya, Yayasan mempunyai misi:

1. Mengembangkan Lembaga Pendidikan Unggulan Kebanggaan Umat.

2. Menyelenggarakan kegiatan keilmuan untuk mencerdaskan masyarakat.

3. Mengelola aktifitas dakwah untuk melahirkan kader dakwah yang dapat berperan di
masyarakat.

4. Melakukan usaha-usaha ekonomi berbasis syariah secara mandiri

5. Membangun jaringan untuk kemitraan dengan lembaga-lembaga swasta maupun
pemerintah.

6. Memberikan kontribusi positif pada lingkungan, lembaga, dan masyarakat.

SASARAN BESAR

STRATEGI OPERASIONAL

LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL

Kokoh dalam membangun, Membina, Mengembangkan lembaga pendidikan unggulan kebanggaan ummat

Tingkat SD hingga Perguruan Tinggi

1. Mendirikan/menyelenggarakan Playgroup.
2. Menyeleggarakan TKIT terdepan dalam kualitas & prestasi di Kecamatan Jalancagak
3. Mendirikan SDIT (Full day) berkualitas di tingkat Kab. Subang
4. Menyelenggarakan SMPIT Boarding School (putra-putri) bervisi: merebut keunggulan
5. Menyelenggarakan SMA IT dengan kualitas pembinaan terbaik
6. Bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Tinggi/PT untuk program penyetaraan D1 – S1

Kokoh dalam Membangun dan Membina

Menyelenggarakan kegiatan keilmuan untuk mencerdaskan masyarakat
(masyarakat keluarga besar as-syifa dan masyarakat eksternal)

1. Mengadakan tatsqif/kajian berkala keluarga besar yayasan (juga untuk masyarakat) secara konyinyu.
2. Menyelenggarakan daurah-daurah/pelatihan bagi Da’i dan keluarga Yayasan
3. Menyelenggarakan sistem pembinaan pegawai (P4K) untuk memebentuk As-Syifa Berkarakter (ber-aqidah lurus, beribadah shahih, …).
4. Radio ELSHIFA Fm

Kokoh dalam Membina

Mengelola aktifitas dakwah untuk melahirkan kader dakwah yang dapat berperan di masyarakat

1. Optimalisasi Sumber Daya Da’i (SDD) Yayasan melalui pembentukan & pelatihan Korps Mubaligh.
2. Menerbitkan Bulletin Dakwah yg terkelola baik.
3. Membentuk kepengurusan/koordinator dakwah di minimal 1 koordinator dakwah di setiap kabpaten/kota di Jawa Barat.

Mandiri dalam Melayani

Melakukan usaha-usaha ekonomi berbasis syariah secara mandiri

1. Mengembangkan sektor bisnis retail SyifaMart.
2. Kantin, Wartel & Foto copy
3. Mendirikan Kopontren As-Syifa.
4. Mendirikan UD As-Syifa (Gudang)
5. Mengembangkan proyek pertanian & peternakan berbasis agrobisnis (agrowisata ruhani)
6. Membentuk lembaga bisnis property (CV. Dengan segmen general trading)
7. Membentuk & mengembangkan Lembaga Keuangan Khusus. dll

Mandiri untuk Melayani

Membangun jejaring kemitraan dengan lembaga-lembaga swasta maupun pemerintah

1. Menjalin kerjasama dengan lembaga swasta/LSM dalam mencapai misi Yayasan.
2. Mendirikan wajihah-wajihah sektor penjajakan kerjasama dengan program pemerintah.
3. Program percontohan peternakan melalui LM3 dan program lainnya.
4. Bekerja sama dengan lembaga2 penelitui untuk penataan Yayasan sebagai psat keilmuan (Mannah ilmiyyah) misal: IPB, Balitsa, dll

Mandiri Untuk Melayani

Memberikan kontribusi positif pada lingkungan, lembaga dan masyarakat

1. Membuat sistem pengelolaan project eksternal secara baik dan menetapkan koordinator daerah.
2. Mengelola Aitam dan mendirikan Panti Asuh Yatim

Personalia

Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah memiliki struktur organisasi sebagai berikut:

Dewan Pembina

Ketua : Dr. Suleiman Omar Qush

Anggota : KH. Tajudin Noor, Lc.

dr. H. Encep Sugiana

Solahudin Fadjri

Nandang Lukmanul Hakim

H. Cep Ahmad Muhtar, MA

Badan Pengurus Harian

Ketua : Muhtar Fatony Wahyuddin

Sekretaris : Budi Mulia

Bendahara : Ir. Asep Sudrajat

Dewan Pengawas

Ketua : Ir. Nurul Fatoni

Anggota : Ir. Agus Masykur Rosyadi, M.Si

Bidang-Bidang Pengurus Harian

Kabid. Umum : Dian Hamdani, ST

Kabid. Pendidikan : Dwi Fahrial, A.Md.

Kabid. Dakwah dan Humas : Solahuddin Fadjri

Kabid. Pembangunan : Dede Sugih Bagja, BA

Kabid. Sosial : Cecep Rahmat Ghozali, S.Pd.I

Kabid. Informasi & komunikasi : Kamsi

Sumber : http://www.alshifacharity.com