Archive for the 'day' Category

BERITA DUKA CITA

Juli 10, 2011

Innalillahi wainna ilaihi rajiun.Telah berpulang ke rahmatullah bapak Imanudin (Staf Tata Usaha SMAN 8) sabtu,9 juli 2011 pukul 21.30. Alamat rumah duka Desa Cimulang, Bantar Kambing Gang Rukun Bogor. Jenazah akan dikebumikan esok pukul 8 atau 9 pagi.

Keluarga Besar SMA Negeri 8 Jakarta turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga Allah melapangkan kuburnya, diampuni kesalahannya dan diterima amalan hidupnya. Semoga keluarga yg ditinggalkan tabah dan tawwakal. Amiin..

Dare dreamer atau day dreamer

Januari 2, 2010

Dare Dreamer atau Day Dreamer?

“Happy are those who dream dreams and are ready to pay the price to
make them come true.” – Leon Joseph Cardinal Suenens

Baru-baru ini, saya menyaksikan tayangan biografi Presiden Amerika
Serikat yang baru terpilih, Barack Hussein Obama. Menilik perjalanan
hidupnya, sangat sulit terbayangkan bagaimana anak yang ditinggal
oleh ayah kandungnya sejak kecil dan sempat berpindah tempat
tinggal, termasuk pernah tinggal di Indonesia ini, akhirnya menjadi
orang nomor satu di negara adidaya Amerika Serikat.

Dengan darah campuran antara ibu kulit putih dan ayah keturunan
Afrika, membuatnya sempat mengalami kebingungan identitas. Bahkan,
pada usia awalnya, Obama sempat berkenalan dengan narkoba. Namun,
segalanya mulai berubah tatkala ia diterima di Harvard Law School
dan mulai melihat titik terang dalam hidupnya.

Mulailah Obama berani bermimpi, setahap demi setahap. Mulai dari
masuk ke Kongres, menjadi senator hingga menjadi presiden. Sebuah
perjalanan yang hanya bisa dilewati dengan berpegang teguh pada
mimpinya. Pada diri Barack Obamalah, kita melihat bagaimana pidato
Martin Luther King yang terkenal, “I have a dream”, betul-betul
terwujud!

Daring dream atau day dream?

Sudah begitu banyak buku, seminar, artikel yang mengajarkan kepada
kita soal pentingnya menetapkan sebuah impian. Namun, pertanyaan-nya
yang terpenting sekarang: apakah yang kita miliki sekadar mimpi (day
dream) atau itu merupakan mimpi berani yang harus dicapai (daring
dream)?

Dalam pembelajaran selama hidup ini, dari buku – buku yang saya
baca, seminar yang penah saya ikuti, termasuk belajar dari kisah
hidup Barack Obama, saya mendefinisikan ada lima perbedaan kualitas
antara yang berani bermimpi (daring dream) dan sekadar bermimpi (day
dream).

Pertama, orang yang berani bermimpi menggantungkan kepada disiplin
diri untuk meraihnya, sedangkan seorang pemimpi menggantungkan
kepada keberuntungan.

Seorang yang berani bermimpi, umumnya punya disiplin yang kuat untuk
merealisasikan mimpinya.

Ambil contoh Barack Obama, tatkala kalah dari Bobby Rush dalam
pemilihan Partai Demokrat untuk US House of Representative pada
2000, dia tidak menyerah dan masih setia mewujudkan mimpi-mimpinya.
Dengan kepala tegak dan penuh disiplin, Barack Obama tetap
melanjutkan perjuangan prinsip-prinsipnya. Itulah salah satu
disiplin mewujudkan mimpi yang ditunjukkan Barack Obama.

Dalam hal ini, benarlah apa yang dikatakan motivator dunia, Jim Rohn
bahwa, “Discipline is the bridge between goals and accomplishment. “
Jelas, hanya kedisiplinanlah yang menjadi kunci atau jembatan untuk
merealisasikan setiap mimpi kita.

Kedua, pribadi yang berani bermimpi tetap terfokus pada proses
pencapaian, sedangkan pemimpi selalu terfokus kepada tujuan akhir
saja, serta enggan melewati prosesnya.

Lihatlah Barack Obama. Ia memulai proses menjadi kandidat presiden
dengan tertatih-tatih, satu demi satu persaingan yang berat harus
dihadapinya. Termasuk persaingan yang luar biasa adalah justru
tatkala ia harus berhadapan dengan Hillary Clinton, istri mantan
Presiden Bill Clinton yang sudah begitu dikenal.

Jutaan pasang mata bisa melihat bagaimana proses perdebatan yang
sengit terjadi di antara mereka, dan Obama menjadi Presiden bukannya
dengan jalan yang mulus. Namun, itulah proses perjuangan yang
ditunjukkan seorang Barack Obama.

Berbicara tentang hal ini, Greg Anderson, seorang penulis dari
Amerika dan pendiri American Wellness Project pernah berujar, “Focus
on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing
an activity but in doing it.” Sungguh tepat!

Karena itu, kita pun perlu berfokus pada proses pencapaian setiap
visi, impian dan cita – cita kita, sesulit apa pun! Dan mulai
menikmati proses dalam pencapaiannya. Herannya, tatkala kita betul-
betul menikmatinya, suatu ketika kita akan merasa bahwa, tanpa
disadari ternyata kita sudah bisa meraih apa yang kita angan-
angankan.

Ketiga, seorang yang berani bermimpi mencari alasan untuk bertindak,
sedangkan seorang pemimpi mencari alasan untuk mengeluh.

Seorang yang benar – benar berani bermimpi, memfokuskan diri kepada
tindakan – tindakan yang makin mengarahkan kepada mimpinya.

Sebagai seorang yang pernah berkerja sama dan menggunakan
metode ‘agitasi emosi’-nya Paul Allinski, Barack Obama banyak
meletakkan dirinya pada situasi ketika ia betul-betul ‘marah’ pada
kondisinya sekarang untuk memaksanya mengambil tindakan. Itulah yang
diajarkan oleh Obama.

Tatkala kita tidak puas dengan kondisi sekarang dan mengharapkan
yang lebih baik, janganlah mengeluh tetapi berbuatlah sesuatu yang
mampu mewujudkan kondisi yang lebih baik. Fokus Obama hanya satu,
yaitu bertindak untuk mencapai apa yang menjadi impiannya. Bagaimana
dengan Anda? Lebih banyak berkeluh kesah atau bertindak?

Keempat, seorang yang berani bermimpi selalu mengambil inisiatif,
sedangkan orang yang hanya bermimpi selalu menunggu.

Seorang pemimpi punya kecenderungan menunggu. Entah menunggu waktu
baik, hari baik, kesempatan lebih baik, peluang lebih baik, rekan
yang baik, tempat yang baik, dan hal baik lainnya yang selalu
menjadi prekondisi untuk mewujudkan impiannya.

Hal ini kontradiktif sekali dengan orang yang benar – benar berani
bermimpi. Dalam kondisi atau situasi apa pun, orang ini selalu
mengambil inisiatif. Apa yang belum ada, maka dia akan berusaha
keras untuk mencari atau bahkan menciptakannya.

Perhatikan Barack Obama, kelahiran 1961, yang tidak menunggu
lantaran usianya yang relatif muda sebagai politisi. Bandingkan
dengan Obama yang tidak menunggu kesempatan datang, selalu mengejar
bahkan menciptakan peluang. Termasuk saat Obama berusaha bergabung
dengan Sidley and Austin law firms di mana ia bertemu dengan
Michelle pertama kali, sekaligus kesempatannya untuk bertemu dengan
para top leader.

Akhirnya, kelima, seorang yang berani bermimpi selalu menganggap
bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi,
sedangkan seorang pemimpi menganggap bahwa yang terjadi adalah
tanggung jawab orang lain.

Kualitas terakhir inilah yang menjadi penentu antara seorang yang
sekadar pemimpi dengan yang berani bermimpi. Mereka yang berani
bermimpi, punya respons yang benar atas apa pun yang terjadi.

Pada saat terjadi kesalahan ataupun kekeliruan, diri mereka tidak
mencari ‘kambing hitam’ untuk dipersalahkan, tetapi selalu belajar
dari pengalaman itu.

Mulai saat ini, marilah menjadikan diri kita sebagai Dare dreamer
bukan hanya seorang day dreamer!

Ngomong-ngomong, tahukah Anda buku pertama yang ditulis Barack Obama
yang sebagian besar diselesaikan di Bali, berhubungan juga dengan
mimpi yakni, “Dreams from My Father”! Barack Obama adalah dare
dreamer sejati!

Sumber: Dare Dreamer atau Day Dreamer? oleh Anthony Dio Martin