UKURAN SUKSES ITU BERBEDA, KENAPA HARUS MENYAMA RATAKAN ?

Maret 29, 2019

Belajar di SMA Negeri 8 Jakarta memang bukanlah hal yang biasa. Sebut saja salah satu teman yang sekaran menjadi dir. perencanaan PLN, bu Syovie : Belajar di SMA Negeri 8 Jakarta itu jangan stress yaa, harus bahagia dan menyenangkan. Jaman saya dulu, stress wajarlah. Itu salah satu petikan kalimat bu Syovie di kelas XI MIPA B saat acara BUMN mengajar di SMAN 8 Jakarta. Menjadi salah satu petinggi di BUMN adalah pencapaian yang demikian baik, bu Oviet salah satunya. Putra-putri terbaik SMA Negeri 8 Jakarta juga ada ibu Siti Nurbaya yang sekarang masih menjabat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  Sukses, berhasil dan amanah tentunya.

Bicara kesuksesan, banyak peserta didik kalau ditanya akan berbeda tergantung level kelas. Kelas X akan menjawab, kalau tidak remed, bisa masuk 5 besar kelas, bisa masuk subsie, bisa jadi panita Collaboreight, dekat dengan guru dan dikenal angkatan. Kelas XI akan berbeda, bisa jadi pengurus PO-PK, bisa jadi anak keamanan (?), bisa nongkrong bareng senior di warung belakang, bisa loncat pagar, bisa kabur pakai iji piket, bisa kabur nomat atau futsal di kuningan dan lain-lain. Untuk kelas XII,… hmhmmhm,… punya gandengan saat promnite, jadi kakak terganteng, kakak tercantik, isi kultum sehabis dzuhur, yang pasti dapat PTN,  pendidikan dokter UI lebih yahud,.. atau STEI ITB,.. kalau keren habis bisa dapat NTU NUS full schollarship.

Fakta menunjukkan peserta didik yang punya kakak di SMAN 8 Jakarta lebih siap menghadapi cobaan tekanan dan beban mental di SMA Negeri 8 Jakarta. Berbeda halnya kalau punya bapak, atau ibu atau pun keduanya alumni SMA Negeri 8 Jakarta, bawaannya masa lalu terus. “Jaman dulu nggak gini, kenapa sekarang begini”. Apalagi kalau bapak atau ibunya yang alumni SMA Negeri 8 Jakarta tersebut aktif juga di forum orang tua siswa… waduh mantul deh. Kalau saya melihatnya ada hal-hal yang kurang pas,… kurang grek,.. kurang bagaimana gituh. Buat saya peserta didik menjadi terlalu “dikawal”. Pemberian warna kehidupan SMA Negeri 8 Jakarta yang selama ini berjalan, dari pembelajaran di kelas, dari kegiatan kerorganisasian di sekolah hingga kemampuan peserta didik untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah menjadi kurang sempurna. Ini versi saya jika membandingkan dengan dekade 5-10 tahun lalu.

Daya juang siswa mulai berbeda, apalagi saya guru piket ketika harus berhadapan dengan anak yang terlambat, atau menerlambatkan diri atau sengaja terlambat. Masa sih ketemu dengan LOH LAGI LOH LAGI. Jam 9.15 datang anak, ” pak ini surat dari ibu saya .” Saya terima selembar kertas terlipat, “ini surat nak ?”. “Iya Pak.” “Ditujukkan ke saya, piket Senin ?”. “isinya apa yaa nak ?”. “itu pak, saya ijin masuk tengah, tadi pagi perutnya sakit, buang-buang air hingga 5 kali. Tapi tadi pagi sudah minum promag.” “Oh, ijin tengah.”

Untuk beberapa guru yang baru mengajar di SMA Negeri 8 Jakarta atau guru lama yang tidak pernah berhubungan dengan dunia keorganisasian di SMA Negeri 8 Jakarta, jangan kaget.  Masuk Tengah itu ijin datang terlambat. Biasanya kegiatan OSIS, siswa berhalangan tepat waktu, keluarlah kalimat, “ijin masuk tengah.”

Apakah ikut bimbingan belajar atau pun bimbingan tes mampu membuat peserta didik eksis di kelas secara kompetensi keilmuan ? Terus bimbel mana yang pas buat anak SMA Negeri 8 Jakarta ? Terus bimbel mana nih buat kejar A Level agar bisa ke NTU atau NUS ?

Mau tahu atau mau tahu aja,… yuk simak tulisan berikutnya… sekarang sudah mau isya…..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: