YANG PUNYA KOMITMEN MALAH DITUNTUT LEBIH… LEBAY LOE AH

Oktober 20, 2016

Setiap komunitas pasti mempunyai ragam dan corak individu. Sejogyanya sebuah komunitas akan mampu berjalan mencapai tujuan jika para anggota komunitas tersebut mampu berkolaborasi memanfaatkan kelebihan dan kekurangan dari tiap individu yang ada. Ada bagian yang penting yaitu toleransi, toleransi akan kekurangan dan toleransi akan  kelebihan semua pihak yang ada. Toleransi ini menjadi penting karena menjaga semua simpul menjadi sadar bahwa kebersamaan mereka dalam perbedaan itulah yang membuat mereka makin kuat.

Seikat lidi akan menjadi sapu lidi, tentunya kita sadar bahwa lidi-lidi yang terikat itu tidak sama panjang,  tidak sama besar dan tentunya tidak sama kuat. Tapi karena tujuan ikatan tersebut jelas, maka kekurangan masing-masing menjadi hilang. Tetapi perlu diingat penghormatan dan apresiasi akan toleransi juga harus menjadi bagian yang penting. Sesuatu yang di luar toleransi jika sebagian pihak menikmati situasi dalam “kenyamanan” sementara sebagian lain tidak dalam kondisi “nyaman”.

Contoh paling gampang adalah KOMITMEN. Lihat saja saat rapat akan dilakukan, banyak para pemimpin menunda rapat, karena sebagian besar anggota komunitas belum hadir. Berpikir rapat sesuatu yang penting dan harus didengar semua nggota , maka rapat ditunda hingga semua hadir. Padahal tanpa sadar yang datang tetpat waktu yang berkomtmen memenuhi undangan dan yang selalu menjaga kete[atan waktu serta penghormatan terhadap komitmen “kewajiban” menjadi salah kaprah. Mereka harus menunggu anggota komuntas yang belum mampu berkomitmen.

Lebih parah saat yang berkomtmen harus “mengalah” dan harus mengubah pondasi dasar, bahwa tidak memenuhi komitmen itu dalam kehidupan sesunguhnya sesuatu yang lumrah. Ayolah jangan keras kepala,…. jangan mau menang… jangan merasa paling benar….

Hahahhaa…. masyarakat tidak sadar sesunggughnya mereka yang berkomtmen tinggi terhadap kehidupan itu pasti menjaga aturan main dan kedisplinan. Kenapa harus mereka yang sudah mempraktekan “kebenaran pilhan hidup” harus menerima “kesalahan pilihan hidup”.

Saya hanya berpikir, ternyata memang banyak orang lebih mampu beradaptasi dengan kehidupan yang kurang baik, kurang benar dan kurang bermanfaat, daripada dengan komunitas yang menjadi agen perubahan kebaikan berkelanjutan…..bukan agen perubahana keburukan berkelanjutan.

Sumpe loe,… loe di bawah standar … hahahhaha

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: