Kisah dua ekor burung

Oktober 14, 2016

(Pijar.net) – Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesolehannya, bernama Syaqiq al Balkhi. Dia memiliki sahabat karib bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal dengan kezuhudannya. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishaq.

Suatu hari, Al Balkhi hendak berangkat ke suatu negeri untuk berdagang. Sebelum berangkat dia tidak ketinggalan untuk berpamitan dengan kawan karibnya itu. Namun belumlah lama Al Balkhi meninggalkan kotanya, tiba-tiba dia muncul kembali. Sahabatnya itu menjadi heran, mengapa dia pulang begitu cepat dari rencana sebelumnya. Padahal negeri yang hendak ditujunya sangat jauh. Ibrahim bin Adham yang pada saat itu berada di dalam masjid langsung bertanya kepada Al Balkhi, “Wahai al Balkhi sahabatku, mengapa engkau begitu cepat kembali?”.

“Dalam perjalanan”, jawab Al Balkhi, “Aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk membatalkan
perjalanan dagangku”.

“Keanehan apa yang kau maksudkan?”, tanya Ibrahim penasaran.

Kemudian Al Balkhi mulai menceritakan pengalamannya, “Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telak rusak, mataku tertuju pada seekor burung yang pincang dan buta, aku
memperhatikan setiap langkahnya. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati, bagaimana burung ini dapat bertahan hidup, padahal dia berada di tempat yang sangat jauh dari kawan-kawannya, dan matanya buta serta berjalanpun tidak kuasa”.

“Tidak lama kemudian, aku melihat ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya dengan membawa makanan di mulutnya lalu diberikannya untuk burung yang buta dan pincang itu. Aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata dia tidak pernah kekurangan makanan, karena dibantu oleh kawannya yang sehat tadi”.

“Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu yang cepat ini?”, tanya Ibrahim bin Adham yang masih belum memahami dengan jelas maksud Al Balkhi.

Al Balkhi melanjutkan, “Maka dengan semua yang aku perhatikan itu, aku berkesimpulan bahwa Allah Ta’ala si Pemberi rizki telah mencukupkan rizki untuk seekor burung yang pincang lagi
buta dan jauh dari teman-temannya. Dan tentu Dia Yang Maha Pemberi akan mencukupi rizkiku pula, sekalipun aku tidak bersusah payah untuk berdagang.

Oleh karena itulah aku memutuskan untuk kembali saat itu juga”. Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, “Wahai Al Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela menyamakan
derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta?, mengapa engkau mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup atas belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa engkau tidak berpikir untuk mencoba menjadi seperti burung yang
satunya lagi? Dia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan saudaranya yang tidak mampu bekerja? Tidakkah engkau tahu bahwa tangan yang diatas (yang memberi dan menyantuni) lebih baik daripada tangan yang di bawah?”.

Mendengar hikmah yang mulia ini, Al Balkhi pun sadar, dia telah salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung itu. Saat itu pula dia bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, “Wahai Abu Ishaq, engkaulah guru kami yang baik”, lalu berangkatlah dia untuk melanjutkan usaha dagangnya yang tertunda itu.

Dari kisah ini, mengingatkan kita kepada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):

“Tidaklah ada cara yang lebih baik bagi seseorang yang memakan makanan daripada memakan dari hasil tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Dawud AS, beliau makan dari hasil jerih payah tangan beliau sendiri”. (HR. Al Bukhori)

_______
Sumber: Majalah Nurul Hayat Edisi 139

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: