JABAT TANGAN MALAIKAT

Oktober 14, 2016
Jabat Tangan Malaikat

(Pijar.net) – Salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Hanzhalah Al Usaidi bercerita, “Saya pernah bertemu Abu Bakar, lalu ia bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?’ Aku menjawab, ‘Hanzhalah telah menjadi munafiq!’ Abu Bakar tersentak kaget seraya berkata, ‘Subhanallah! Apa yang engkau katakan?’”

“Aku sering bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah aku melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika aku keluar dari sisi beliau dan bercengkerama dengan istri, anak dan sibuk dengan pekerjaan, aku pun sering melupakannya,” jawabku.

Abu Bakar mengiyakan perasaan seperti itu, “Demi Allah! Kami juga merasakan hal seperti itu!” Kemudian aku dan Abu Bakar berangkat bersama-sama untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku memulai pembicaraan, “Hanzhalah telah menjadi munafiq wahai Rasulullah!”

Rasulullah balik bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah! Ketika kami bersamamu, engkau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala kami. Namun ketika kami keluar dari sisi mu dan bercengkerama dengan istri, anak dan sibuk dengan pekerjaan, kami sering melupakannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian selalu dalam keadaan sebagaimana ketika kalian ada di sisiku dan selalu berdzikir, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Tetapi wahai Hanzhalah, suatu waktu seseorang bisa merasakan hal itu, dan di waktu yang lain ia merasakan hal yang lain.” (HR Muslim).

Apa yang dirasakan oleh sahabat Hanzhalah Al Usaidi dan Abu Bakar radhiyallahu’anhuma juga seringkali kita alami. Ketika kita berada di majelis ilmu mendengarkan ceramah di masjid-masjid atau melalui media elektronik, sejenak hati kita merasa dekat dengan Allah, mengingat segala nikmat dan karunia yang diberikanNya, mengingat setiap kesalahan dan dosa-dosa yang telah diperbuat, dan merasakan takut akan ancaman dan siksaNya.

Dalam suasana hati seperti itu, tak jarang di antara kita ada yang berjanji untuk mentaati semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, dengan tujuan agar kita benar-benar menjadi penghuni surga, dan benar-benar dijauhkan dari api neraka.

Tapi, perasaan seperti itu tiba-tiba menguap sedikit demi sedikit ketika kita keluar dari masjid atau berkumpul bersama sanak keluarga dan mulai asyik dengan aktifitas sehari-hari kita sehingga kita pun menjadi kembali lupa.

Perubahan suasana hati seperti ini mungkin sebagian kita menganggapnya sebagai hal yang biasa, namun para salafush shalih dahulu sangat besar ketakutan mereka terhadap hal yang demikian itu hingga mereka menganggapnya sebagai sebuah kemunafikan.

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua takut kemunafikan menimpa dirinya. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan bahwa keimanannya sejajar dengan keimanan Jibril dan Mika’il.”

Namun, jawaban Rasulullah menegaskan bahwa perasaan yang dialami sahabat Hanzhalah dan Abu Bakar Radhiyallahu’anhuma bukan merupakan kemunafikan, tetapi sebuah perasaan yang lumrah dirasakan setiap orang, pada satu waktu ingat pada janji dan ancamannya Allah, dan di waktu yang lain lupa akan janji dan ancaman tersebut.

Dan orang yang mampu selalu mengingat janji dan ancaman Allah dalam setiap aktivitasnya, maka ia akan menjadi manusia yang sangat istimewa, karena akan mendapat jabat tangan dari para malaikat (doa) di jalan-jalan dan di tempat tidurnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: