BANG ALI SADIKIN,…sebuah corertan dari bang Akmal….

Maret 10, 2015

Kalau ditanyakan siapa Gubernur DKI terbaik sepanjang zaman, mungkin semua orang akan menjawab (Bang) Ali Sadikin. Bahkan jawaban ini akan muncul dari mulut generasi yang tak pernah menyaksikan langsung gaya pemerintahan Bang Ali. Semua berdasarkan karisma beliau yang tak pudar dari masa ke masa.

Tapi kalau ditanyakan, tahukah bahwa Bang Ali pernah menggaplok supir truk ALRI (ya bukan truk sipil) sampai dua kali di tengah jalan By Pass, Jakarta Timur, atau berdebat hebat dengan para ulama yang awalnya keberatan jika pembuatan jalan-jalan raya di Jakarta salah satu sumber pendanaannya adalah dari hasil lokalisasi (Kramat Tunggak), mungkin tak semua yang mengidolakan Bang Ali tahu kisah ini.

Salah seorang pengkritik terkeras Bang Ali adalah Buya Hamka, Ketua MUI pertama. Bang Ali menjawab diplomatis jika para ulama keberatan lewat di atas jalan raya dari hasil lokalisasi, silakan pakai helikopter saja. Akibatnya, saat itu, muncul julukan, entah dari mana, bahwa Bang Ali adalah “Gubernur Maksiat”.

Ketika Bang Ali pergi haji, predikat “haji politik” langsung disematkan sejumlah kalangan kepadanya. Tetapi seorang ulama besar pula yang langsung membelanya: Buya Hamka! Kata Buya, “Mengenai batin manusia hanya Tuhan yang tahu. Tetapi kalau Ali Sadikin disebut ‘haji politik’ saya rasa tidak.”

Di kesempatan lain, Buya Hamka menulis di media tentang Bang Ali, yang sering dikritiknya, secara terbuka pula. “Orang itu paling tahan dikritik, sangat spontan, terbuka, terus terang, tidak birokratis dan tidak munafik,” tulis Buya. “Dan hal itu membuat rakyat Jakarta bersimpati kepadanya.” Membaca tulisan itu, Bang Ali sangat tergetar karena mendapat penghargaan seperti itu dari seorang ulama berpengaruh.

Semua cerita di atas terungkap gamblang dalam biografi “Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977” yang ditulis Ramadhan K.H. (Pustaka Sinar Harapan, 1992). Dan itu baru sebagian kecil dari kisah-kisah yang membuat jantung pembaca akan berdegup lebih cepat mengikuti sepak terjang Gubernur DKI terbaik sepanjang zaman tersebut.

Saat ini kita kehilangan fase bersejarah itu, ketika diskusi dan debat antara pejabat dan pemimpin umat, berlangsung keras, penuh kritik tajam, tapi tetap berlangsung dalam suasana bermartabat, dan tetap obyektif ketika sanjungan pun tetap disampaikan berdasarkan prestasinya. Secara terbuka pula.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: