Saat banjir dan saatnya komitmen dipertanyakan

November 22, 2014

Sudah bukan hal aneh, jika siswa ingin ke bersekolah di SMA NEGERI 8 Jakarta, adalah untuk mendapatkan pendidikan yang tebaik agar bisa berkuliah di UI atau ITB. Pendidikan Dokter, akuntansi Ui atau pun insinyur elektro ITB. Dan tren yang ada memang setiap tahun pilihan tersebut menjadi booming di SMAN 8. Pendidikan dapat berjalan dengan optimal jika semua stakeholder mendukung hal tersebut. Beberapa hari yang lalu saya melihat di media sebuah sekolah swasta mampu menunjukkan kemampuan para peserta didiknya untuk tampil di benua Eropa bahkan ke Rusia. Memang sih SMAN 8 pun kemaren ada kunjungan ke Spanyol untuk urusan yang identik. Tapi itu bisa dihitung dalam rentang 2 jari, jadi ingat salam dua jari.

Pasca keputusan MK yang meniadakan sekolah RSBI dan kelas Internasional, amat berdampak kepada semua sekolah RSBI. Cita-cita pemerintah untuk menggratiskan sekolah hampir pasti berhasil. Bayangkan SMA-SMA RSBI yang merupakan sekolah pilihan harus meniadakan sumbangan pendidikan, sumbangan sukarela apapun namanya. Kondisi ini membuat hampir 70% kegiatan tidak terkaver olehh pendanaan yang ada. BOS yang digadang gadang untuk menghidari adanya sumbangan menjadi rentan oleh banyak pertanyaan. Cukupkah sekolah mantan RSBI berjalan sesuai track yang pernah ada ?

Bayangkan dengan 400 ribu per siswa, yang datanngya terkadang melambat melambat dan melambat, belum lagi jumlah yang diterima dipotog pajak… yaaa nggak 400 ribu dong. Untuk sekolah mantan RSBI mungkin anggaran 400 ribu per siswa perbulan itu sama dengan SPP per anak per bulan lebih sedkit. Nggak sampai 100 ribu lebihnya. Padahal SPP hanya pelengkap untuk kegiatan sekolah. Selama ini kegiatan sekolah banyak terkaver oleh sumbangan peserta didik baru, yang jangan kaget nggak dipaksa kok. Bahkan ada yang di NOL khan. Sumbangan ini lah yang sesungguhnya mampu mengkaver semua kegiatan sekolah mantan RSBI untuk MEMBERI LAYANAN LEBIH ATAU PLUS PLUS.

Untuk sekolah non RSBI,  uang sebesar 400 ribu per siswa per bulan itu teramat besar. Sumbangan sekolah Reguler pada masa itu berkisar pada 1 – 2 juta rupiah itu pun penuh dengan persetruan dengan ortu siswa, lsm dan wartawan. Nah ketiban rejeki besar, ketika sebuh sekolah reguler yang biasaynya mempunya SPP 200 ribu rupiah mendadak dapat 200 ribu per siswa per bulan sebagai uang yang harus dimanfaat. Bayangkan jika siswanya berjumlah 800 siswa.. maka ada uang yang harus dikelola sebagai bentuk kegiatan baru di sekolah tersebut 160 juta tiap bulan.

Seorang teman pernah menghitung kebutuhan sekolah RSBI per anak per bulan, ternyata ada kisaran 900.000 hingga 1.100.000. Nah kebayankan banyaknya uang yang harus dialokasikan.

Jadi saat bencana banjir datang, saat BOS tidak mengalokasi dana Banjir, karena tidak semua sekolah terdampak oleh banjir, bandingkan SMAN 8 Jakarta, sekolah mantan RSBi yang selalu langganan banjir. Bayangkan jika banjir 3 kali saja dalam satu bulan, berapa biaya yang harus disediakan untuk pembersihan sekolah hingga layakh pakai, bersih, higienis, tidak berbau. Siapa yang akan membersihakan, tugas guru ? Tugas Karyawan ? Atau tugas orang lain ?

Jika harus mengungsi… berapa dana yang disediakan untuk itu ? Apakah di pengungsian tersedia laboratorium, LCD, Komputer dan lain-lain ? Terus siapa sih yang masih tetap menunutut bahwa ananda para siswa HARUS MENDAPATKAN LAYANAN YANG SAMA..?

JIKA BUKAN KALIAN SIAPA LAGI YANG AKAN MELAKUKANNYA…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: