KEJUJURAN ADALAH UJIAN DI SETIAP WAKTU

Desember 2, 2013

Dapat diterima di SMA Negeri 8 Jakarta adalah sebuah preastasi dan prestisi, merupakan kalimat yang selalu saya sampaikan kepada para peserta didik baru. Prestasi karena tidak semua lulusan SMP di Jakarta baik negeri atau pun swasta yang diterima, apalagi dengan skala nilai Ujian Nasional SMP yang menjadi patokan. Rata-rata nilai Ujian Nasional pun mencapai perolehan tertinggi di Jakarta. Ini menunjukkan bahwa para siswa terbaik SMP di Jakarta berkumpul di SMA Negeri 8. Prestise, apalagi kalau bukan kebanggan. SMA Negeri 8 Jakarta adalah pemasok mahasiswa terbanyak ke Universitas Indonesia. Sehingga sering ada pernyataan yang sangat-sangat dihebohkan. Jika ingin masuk SMA Negeri 8, silakan ke SMP Negeri 115 dulu, tetapi jika ingin masuk Universitas Indonesia bersiaplah untuk bertarung memperebutkan tempat duduk di SMA Negeri 8 Jakarta.

            Ada yang lebih ekstrim, jika ingin masuk ke Pendidikan Dokter UI, paling nyaman jika melalui SMA Negeri 8. Alumni SMA Negeri 8 Jakarta seakan pindah dari Taman Bukiduri ke Depok. Walau pun sesungguhnya jumlah alumni SMA Negeri 8 Jakarta di UI dan ITB,.. hmhmhmmh.. beda tipis lah. Jika dibandingkan dengan alumni SMA Negeri 3 Bandung di ITB, SMA Negeri 8 Jakarta harus mengakui kalah dengan mereka.

            Harus diakui tingkat kompetisi di SMA Negeri 8 Jakarta amat tinggi. Sehingga hanya yang berkompetenlah yang mendapatkan kesempatan lebih banyak dan lebih luas. Lebih dari 90%  alumni SMA Negeri 8 Jakarta, setiap tahunnya akan terserap di PTN terbaik negeri ini dan mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi papan atas baik Asia, Eropa atau Amerika.  Memang tidak setiap tahun alumni SMA Negeri 8 Jakarta ada di MIT, atau pun Wesleyan University, begitu pun dengan Tokyo University atau APU, tetapi untuk NTU di Singapore pencapaian SMA Negeri 8 Jakarta baik sekali.

            Selain kecerdasan, karakter kejujuran juga menjadi kompetensi yang dikuasai para alumni yang mampu mendapatkan tempat terbaik. Nilai ujian, nilai rapor dan nilai tes yang mereka dapatkan adalah hasil kejujuran. Ketidak jujuran dalam ujian adalah sebuah virus yang akan memakan semua benih kebaikan. Saat seseorang melakuka kecurangan, sesungguhnya orang tersebut telah menanda tangani malapetaka seumur hidup.

            Salah satu ketidak jujuran adalah menyontek saat ujian berlangsung. Menyontek era sekarang ini dianggap pekerjaan wajar, dan  hal kecil yang tak perlu dipermasalahkan. Padahal menyontek adalah sesuatu tindakan yang tidak boleh ditolerir. Menyontek membuat kepercayaan diri hilang, menganggap mudah semua kondisi dan amat praktis.  Padahal menyontek adalah bentuk pencurian kecil, pencurian buah pikiran, pencurian hak pikir, pencurian hak usaha.  Padahal boleh jadi orang yang dicontek telah berjuang dengan keras, bertenaga dan memakan waktu.

            Jum’at kemaren, di jam terakhir setelah saya mengawas ujian di kelas XI IPS ruang 26, yang hanya memakan waktu 90 menit. Saya mengitari kelas-kelas yang juga sedang melaksanakan ujian dengan durasi 120 menit. Kebiasaan buruk ini saya lakukan, khawatir ada pengawas yang karena mempunyai kebutuhan khusus seperti ke WC, dapat melaksanakan hajatnya.  Alhamdulillah mulai tahun ini pengawas Ujian Akhir Semester selalu diawasi oleh dua orang guru. Berarti aman terkendali.

            Saat melintas di Ruang 7, tampak seorang peserta didik, mengeluarkan kertas kecil, putih bersih tampak satu muka. Saat mukanya berpapasan dengan pandangan saya, dia kaget dan berusaha membuang kertas tersebut. Waw,.. keren nih. Saya ketuk pintu ruang tersebut, ijin kepada pengawas dan meminta kertas yang tadi dipegang peserta didik tersebut. Dia mengambil kertas tersebut yang ternyata telah dibuangnya di bawah kursi. Ini mah versi lama,.. ketinggalan jama. Saat saya baca, dia berkata ,” pak itu jawaban saya sendiri.” Hmhmhm,.. dalam pikir saya, buat apa yaa ? Hehehhe… hampir saya foto wajah tersebut dan lembar kertas kecil tersebut. Saya beri tanda tangan di Lembar Jawaban Komputer dan saya menyerahkan bukti tersebut kepada pengawas.

            Ini bukan mau menyontek, tetapi bersiap memberikan contekan kepada peserta didik lain. Peserta didik ini pasti cerdas sekali, dalam rentang 90-an menit sudah mampu mengerjakan hampir semua soal ujian matematika kelas X. Sayangnya dia mempunyai virus,…. virus menyontek. Sebuah karakter yang sulit saya terima di SMA Negeri 8 Jakarta. Dia mungkin berhasil  dalam ujian tersebut, tetapi dia gagal mendapatkan pendidikan karakter. Sayang sekali,.. masuk ke SMA Negeri 8 Jakarta hanya untuk menyebarkan virus menyontek.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: