Batas Komitmen dan Harga Diri

September 17, 2013

Menyikapi guru-guru yang galau, saat menerima uang tunjangan sertifikasi, tetapi mengajar kurang dari 24 jam.
Orang tua itu marah karena ananda tidak dapat masuk kelas IPA, padahal putranya telah belajar di tempat yang terbaik, apadaya nilainya kurang sehingga setelah ikut Placement testpun tidak mampu masuk kriteria IPA, alhasil kelas IPS-lah yang akan menganngungnya. Siswa tersebut telah ikut les dimana-mana, rasanya keinginan untuk dapat yang terbaik telah dilakukan, atau memang siswanya telah kelelahan untuk mencapai titik optimal,.. hmhmhm.. perlu penelitian lebih lanjut.

Berbeda dengan halnya, ketika kita berbelanja di pasar swalayan atau pun pasar tradisional. Setelah perhitungan harga total yang harus kita bayarkan, maka kita akan mendapatkan selisih dari pembayaran tersebut, entah pengembalian normal atau pun karena adanya diskon dari produk tertentu. Sepuluh tahun yang lalu, kita masih akan berlama-lama untuk menghitung penghembalian yang ada. Tetapi coba tengok beberapa tahun terakhir. Ketika pengembalian dari kasir kurang atau bahkan dikembalikan dengan 2 permen atau kalimat “bu, sisa uang 100 rupiah ini akan didonasikan atau apa ?”. Jawabnya sudah pasti,..”kembalikan saja mbak.”.
Atau ada yang lebih ekstrim sekarang ini, tanpa sadar,.. ketika pengembalian dari pihak kasir “LEBIH”,.. berapa banyak dari kita yang akan mengembalikan saat itu juga. Hmhmhm…

Dalam dunia pendidikan amat diajarkan untuk berlaku jujur dan adil. Dua hal yang berhubungan, tetapi sedikit berbeda. Jujur lebih ke arah tidak ada orang atau ada orang, ada yang melihat atau tidak, dipantau atau tidak kita pasti berbuat yang sama. Sedangkan adil adalah tingkat proporsi yang dapat diukur kapan pun, dan berlaku untuk smeua lini. Menurut saya yang lagi bengong malam ini, komitmen dan harga diri adalah dua hal yang merupakan inti dari jujur dan adil. Buah dari kejujuran dan keadilan akan melahirkan komitmen dan harga diri.

Banyangkann saat kita menerima gaji bulanan, saat tanda tangan (maaf kalau guru honor pakai tanda tangan, belum transfer ke bank), kita akan teringat apakah tanda tangan ini akan melahirkan komitmen kita dan memperbaiki atau mempertinggi harga diri kita,.. jika itu sesuai maka.. akan halal dan bahagia kita membawa sejumlah uang dalam amplop tersebut. Tetapi bayangkan jika kita merasa bahwa standar pekerjaan kita belum mencapai atau memenuhi kompetensi yang diinginkan, maka berpikir ke depan akankah komitmen dan harga diri kita akan menjadi baik… ingat-ingat saat kasir kurang memberikan hak kita,… tetapi ingat juga pada saat itu batas kejujuran semakin tinggi.. kita ingin itu kasir jujur,.. saat tanda tangan gaji… hmhmhmh.. apakah kita jujur dnegan pencapaian tugas yang seharusnya kita lakoni.

Selamat istirahat malam,.. semoga esok menjadi hari yang lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: