Mental juara yang salah kaprah,… sebuah ciri kegagalan karakter pejuang

September 12, 2013

Menjadi yang terbaik adalah sebuah komitmen terbaik dalam hidup, memberi layanan yang prima juga sebuah tujuan mulia. Keduanya akan menjaid kekuatan pembentukan karakter siswa di semua bidang layananan pendidikan. Kelas kompetitif akan selalu terjaga dengan baik, berkembang dan tentunya menjadi kerjasama apik antara guru dan siswa dalam mewujudkan visi dan misi pendidikan.

SMA Negeri 8 Jakarta bangga menerima para peserta didik baru, dengan kemampuan di atas rata-rata pelajar DKI lainnya. Perjuangan peserta didik untuk masuk SMA Negeri 8 Jakarta tidaklah tergolong mudah. Hanya tahun ini yang relatif lebih mudah, hanya menggunakan hasil Nilai Ujian Nasional. Dua tahun yang lalu siswa harus berjuang lebih keras, Nilai Ujian Nasional bukan satu-satunya penentu siswa dapat masuk SMA Negeri 8 Jakarta. Nilai rata-rata rapor selama 5 semester minimal 7,0, adanya tes potensi akademik yang terdiri dari Matematika, IPA, IPS dan Bahasa Indonesia. Sekitar 900 siswa lulusan SMP berusaha mendapatakan 300-an tempat duduk.

Patut diduga, mereka adalah lulusan terbaik dan siswa yang meletakan perjuangan sebagai sebuah proses pembelajaran yang terbaik. Perjuangan yang kuat dan bermentalkan juara. Rasanya siswa yang “karbitan”, matang sesaat akan terlempar saat tes potensi akademik. Dan hanya siswa cerdas istimewa-lah yang akan tersaring. Sering ada ungkapan, mau pintar dan unggul masuklah SMA Negeri 8. Nyatanya memang demikian, pasca pembubaran RSBI, SMA Negeri 8 Jakarta masih yang terbaik di Jakarta. Hasil Ujian Nasional yang masuk dalam 10 Besar Nasional bahkan satu siswa berhasil berada di peringkat 7 Nasional, Siswa yang berhasil menjadi Mahasiswa di Perguruan Tinggi ( hingga 9 September 2013 ada 91.85% alumni 2013 diterima di Perguruan tinggi, dengan sebaran terbanyak di UI ada 48 (UND) + 10 (TALENT SCOUTING) + 23 (PPKB) + 2 (OSN) + 50 (SBMPTN) + 91 SIMAK UI = 222 SISWA, ITB ada 45 (UND) + 70 (SBMPTN) = 115 SISWA, sementara di ajang Olimpiade Sains Nasional menjadi penyumbang terbanyak untuk Tim DKI Jakarta dengan 4 emas, 1 perak dan 3 perunggu).

Seharusnya dengan kondisi ini menjadikan para peserta didik terpacu, makin bermental prima, makin berusaha tanpa batas dan makin sadar bahwa semua itu hanya bisa dicapai ketika ada sinergi antara guru, siswa dan orang tua siswa. Kondisi sekolah di Jakarta yang mendapat perlakuan sama dari Pemprov DKI Jakarta (BOS yang sama di setiap sekolah, tidak diperbolehkan menarik uang sepeser pun), tentunya tidak membuat SMA Negeri 8 Jakarta mengurangi kualitas layanan, justru berpikir dan bertindak, hasil yang telah diraih selama ini harus dipertahankan dengan segala keterbatasan yang ada. Dukungan dari siswa dan orang tua siswa merupakan kekuatan yang selalu ada di SMA Negeri 8 Jakarta, bahkan sebelum SMA Negeri 8 Jakarta menjadi Sekolah Unggulan di tahun 1995.

Sayangnya kemarin, Hari Rabu 11 September 2013 ada kejadian yang menunjukkan ketidak “cerdasan” dalam bersikap. Mental juara seakan hilang sirna oleh kekhawatiran yang berlebih. Seorang teman guru yang datangnya pagi hari sekali, sebelum jam 06.00, padahal rumahnya nun jauh lebih jauh dari Bekasi, dengan semangat berbagi ilmu dan kewajibannya sebagai guru harus dipenuhinya mendapat kenyataan pahit, 13 siswa tidak masuk hanya karena hari ini Kamis, 12 September akan menghadapi ulangan Matematika dan Fisika. Apa pun alasannya, menajdi lucu ketika kami di piket mendengarkan keluhan guru tersebut, “masa sih,… anak 8 gituh loh,… sampai nggak masuk.”

Sepanjang hari itu, saya tercenung, bingung, berusaha sadar akan kejadian tersebut. Jangan kaget, sampai masuk angin, pusing dan pusing. Salah satu keburukan saya selama ini adalah berusaha melihat kejadian di sekolah detil demi detil. Bahkan saat istirahat pertama ada siswa kelas X yang membawa setumpuk Koran bekas untuk disetorkan kepada kakak kelas XI IPA C pun dapat saya pantau. “Pak maaf,kelas XI IPA C dimana ya ?”. “Lantai satu nak, itu nanti belok kanan, pintu pertama,… ayo mau apa ke sana ?”. “Ini pak mau mengumpulkan Koran bekas, … kata kakaknya untuk menambah kekurangan dana ^%^***(.” Saya senyum-senyum saja. Hehehehe.

Semalam saya mempunyai kesimpulan, mungkin 13 anak yang tidak masuk tadi ada halangan, sakit atau ada acara keluarga. Amat tidak mungkin anak SMA Negeri 8 punya mental seperti itu, kasihan guru non IPA, jika mental tersebut ada. Jadi saya berpositif sajalah, mereka ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, kalau pun hari ini Kamis, 12 Sepetember ada ulangan, itu sebuah kebetulan saja. Mereka pasti cerdaslah, SNMPTN Undangan butuh semua nilai rapor, bukan hanya mata pelajaran IPA, jadi jika nilai IPA-nya bagus, terus Bahasa Indonesianya buruk, tetap saja kegagalan di SNMPTN Undangan akan menghampiri.

Untuk bapak guru yang telah ditinggalkan para peserta didik kemarin, tetap sabar pak, pahala bapak memberikan ilmu tetap berjalan walau tanpa kehadiran beberapa siswa tersebut. Tetap semangat dan jaga kesabaran. Seperti saya yang hanya punya kemampuan menulis dan menjaga hati ini tetap konsisten,…. Hehehehe…. semoga konspirasi hati ini,.. menjadi bernilai ibadah di mata-Nya. Amin,…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: