Mengawal siswa di sekolah,…

September 10, 2013

Mengawal siswa di sekolah,…

Menjadi guru yang pro adalah keinginan semua pendidik di negeri ini. Bukan karena tunjangan atau pun ketenaran, tetapi lebih kepada tanggung jawab profesi di hadapan Allah kelak. Guru adalah profesi yang mengedepankan pembentukan karakter dan akal budi. Walau pun profesi guru adalah ladang pahala tanpa batas, jangan kaget di keseharian para pendidik ini harus bertempur dengan segala kondisi. Pendidik bukan hanya mendidik para peserta didik, terkadang harus bertemu dengan tembok besar yang lebih cerdas dan lebih mapan,…. keinginan para orang tua peserta didik.

Mohon maaf hasil dari pengalaman saya di SMAN 8, akan terlihat sekali orang tua yang konsern dengan pendidikan putra/putrinya sehingga mereka tahu dengan detail kondisi terkini para siswa. Ada juga yang baru tahu setelah ada kasus yang harus dituntaskan di sekolah. Pendidikan juga bukan hanya berarti kognitifitas, pendidikan juga mengubah paradigma yang bertahan lama di jaman lalu yang para orang tua mengalaminya serta memberi perubahan pada hidup siswa sesuai jamannya. Jelas sekali, bukan hanya kemampuan akademik, tetapi jugta bekal masa depan dan karakter yang harus dimiliki para siswa.

Hampir 6 tahun yang lalu, sebuah perdebatan seru terjadi di ruangan klinik/ salon kepribadian alias ruang BK. Orang tua siswa yang hadir saat itu lebih dari 40-an, merupakan para orang tua yang putra/putrinya termasuk dalam kelompok “belum dapat dinyakan aman untuk Ujian Nasional”. Kebijakan sekolah adalah mengundang orang tua, mendesskripsikan kondisi riil siswa dan rencana sekolah ke depan. Pertemuan yang diharapkan menemukan solusi yang tebaik untuk siswa menjadi ajang saling menyatakan pendapat yang lebih kepada “menayakan kemampuan sekolah” untuk mengelola kemampuan siswa yang nyatanya saaat masuk ke SMAN 8, amat sangat terlalu pandai.

Saat itu saya terhimpit oleh banyak kekuatan kompetensi para orang tua, kemapanan, keunggulan jabatan dan keleluasaan pengalaman hidup. Niat yang baik pasti ada penolong. Salah satu orang tua, mohon maaf sangat mirip dengan Mario Teguh, bahkan dari sisi penampilannya, bapak tersebut adalah orang tua yang berbahagia sekarang karena puterinya menjadi salah satu lulusan terbaik di UI, saya sangat ingat sekali apa yang menjadi kalimat utamnya, “ bapak, ibu sekalian mohon saya diberikan waktu,.. hmhmhm.. saya saat menitipkan anak ke SMAN 8, sangat percaya bahwa sekolah ini akan mampu memberikan yang terbaik kepada putri saya, sehingga undangan ini saya sikapi sebagai upaya sekolah untuk berkoordinasi demi kebaikan putra/putri kita. Ada baiknya kita dengarkan dulu apa yang ingin disampaikan guru-guru, sehingga kita dapat membantu usaha tersebut,.. tentunya ini untuk putra/putri kita.”

Tidak ada sekolah yang akan membuat siswanya tidak berhasil dalam pendidikan dan masa depan. Sekolah akan bangga saat siswa mampu mengisi hidupnya dengan kebaikan dan kompetensi hidup yang seharusnya. Semua murid mempunyai kecerdasan yang tak perlu diragukan lagi, tetapi memang untuk mencapai titik tertentu, tidak akan sama, baik dari sisi waktu atau pun tingkat keberhasilan. Terus terang mendidik anak yang sudah matang akademik dan karakter diri, rasanya akan tidak banyak menimbulkan masalah. Kalau pun siswa bermasalah dengan kemampuan akademik, minimal karakter dirinya mampu membuat proses transfer kompetensi kognitifitas dapat berjalan. Peserta didik yang mau mendengar, mau berlatih dan mau menjaga komitmennya, rasanya akan mampu menjadi perwujudan keinginan semua pihak. Tetapi ketika masih ada ego dan penolakan, maka kerja tim yang seharusnya berjalan tidak dapat dilanjutkan. Sebuah kapal hanya punya satu nakoda, dan semua penumpang kapal harus menjadi elemen yang membuat kapal dapat sampai tujuan.

Pendampingan siswa adalah sebuah proses yang harus tetap dilaksanakan. Jika hal ini hilang maka proses pendidikan hanya akan bersifat satu arah dan doktrinisasi. Siswa mendapat ruang untuk bertanya, untuk diingatkan dan bahkan untuk diberi hadiah dan hukuman. Ketikas siswa terjun dalam kehidupan nyata, penghargaan dan cercaan akan selalu berdampingan. Pendidikan bukan untuk menghidari hukuman, pendidikan akan membuat manusia mampu bertahan dalam menghadapi hukuman. Dalam hukuman manusia juga bisa belajar kearifan dan kebijakan. Tetapi jangan dibalik, harus melakukan kesalahan dulu agar mendapat kebaikan hidup. Berusaha untuk berbuat baik, kapan pun, dimana pun, kepada siapa pun, dan jangan berharap mendapat imbalan apa pun, iklashkan Tuhan yang akan mencatatNya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: