Tingkatan jika tidak mau disebut kasta

Agustus 27, 2013

Berjumpa dengan hari Sabtu dan Minggu, rasanya kata-kata umpatan akan keluar dengan mudahnya dari para pengendara mobil atau pun sepeda motor. Maklum saja, Cibinong sedang amat berkembang. Pengembangan pasar membuat relokasi sementara (walau nyatanya sudah 2 tahun) ke sebuah lokasi tepat di ujung Fly Over Cibinong menjadi salah satu-satunya kemacetan di pagi hari. Kemacetan akan terasa sekali saat memasuki pukul 06.30 – 09.00 pada kedua hari itu, Sabtu dan Minggu. Pasar relokasi akan tumpah ruah ke jalan raya. APTB, salah satu bus besar yang harus 2 x lebih lama dari yang lain untuk berputar agar mampu melanjutkan perjalannya.

Berbeda dengan pasar lain, pasar reloaksi Cibinong ini agak unik. Pasar ini sebelumnya terbelah dua, sama-sama super padat. Di Jalan Mayor Oking (pasar utama) dan di samping Ramayana di Jalan Raya Bogor ( pasar lama), hingga pukul 09.00 akan macet sekali. Di dua tahun ini pembangunan sedang dikejar, nyatanya target yang ada tidak sampai. Cibinong kota yang berkembang, banyaknya mini swalayan yang berdiri, pembangunan mal dan supermarket terlihat jelas mengikuti perumahan-perumahan baru, baik yang skala besar, sedang atau pun cluster. Giant, Tip Top, Hypermarket dan Carefour seakan tidak henti-hentinya menggemur keberadaan pasar tradisional.

Samping pasar relokasi Cibinong berdiri megah Carrefour, dalam rentang kurang dari 200 m berdiri mini swalayan, alfamart dan Indomart, dan 100 meter dari indomart ada Super Indo,…. wah memang ”gemuk” daya beli masyarakat Cibinong. Kekagetan akan semakin memuncak, di jalan Mayor Oking ada 6 mini swalayan yang diantarannya 2 buka 24 jam. Sebuah wilayah dengan pangsa pasar yang ”serius’.

Jika di Carefour masyarakat Cibinong berduyun-duyun mencari kebutuhan rumah tangga dari yang dapur hingga hiburan, dengan harga yang murah sekali, apalagi saat ada diskon, masyarakat amat dimanjakan. Wajar parkir motor di Carefour bisa mencapai 100 lebih setiap jamnya. Layanan yang prima, harga termurah dan suasana yang menyejukan adalah sebuah kondisi yang 7 tahun yang lalu sukar ditemui masyarakat Cibinong. Bisa memilih, kalau sudah ditimbang, bisa juga nggak jadi beli….. hehehe

Pasar tradisional Cibinong, sebuah surga untuk masyarakat yang sadar akan ”tingkatan”nya. Jam 24.00 mulailah berdatangan sayur mayur segar dari Bogor, Sukabumi bahkan Cianjur. Segar dan partai besar, pembelinya hingga pukul 03.00 adalah para pedagang eceran, pengusaha katering kecil – sedang, dan warung-warung tradisional perumahan. Penerangan yang ada masih mampu membuat para pembeli memilih dengan baik. Suasana akan semakin berubah jam demi jam.

Memasuki subuh hingga pukul 07.00 akan terlihat banyak ibu rumah tangga yang berlalu lalang mencari bahan makanan untuk makan hari itu. Harga sudah mulai berbeda, sedikit naik karena pembelian partai rumahan, untuk semua kebutuhan. Suara teriakan para pedagang yang menjajakan sayur mayur dan sebagaianya bergema dari seluruh pelosok. Hmmm pasar tradisonal banget yaa.

Mulai jam 12.00 – 16.00 sore, semua harga sayur mayur akan meroket tajam. Dua Ribu, tiga ribu dua bungkus dan lima ribu tiga bungkus adalah menu-menu harga hampir semua sayuran yang sudah dalam kemasan sekali pakai untuk keluarga sederhana. Bayam dan kangkung bisa 2000 sebanyak 3 ikat, atau jeruk lemon yang dua ribuan.. wah surga untuk para pekerja kantor yang bisa sampai sebelum pukul 4 di lokasi tersebut.

Mau mewah bisa ke carrefour, mau sederhana bisa ke pasar tradisonal. Semua ini berjalan dengan sendirinya, tanpa ada yang membuat dan masyarakat nyaman-nyaman saja. Tinggal pilihan kita. Hidup ada stratfikasinya, mau tidak mau. Kehidupan masyarakat juga demikian, secara kebendaan, kenyamanan dan kepemilikan. Justru dengan adanya stratifikasi inilah kita diajarkan untuk tenggang rasa atau tepo saliro. Bangsa yang besar menghargai perbedaan dan tingkatan tersebut. Tugas negara adalah membuat tingkatan tersebut tidak terlalu signifikan. Masyarakat tentu ingin mendapatkan pasar moder, bersih, aman, nyaman dan mudah dijangkau. Semua itu adalah sebuah proses. Pembelajaan di pasar tradisonal amat banyak, kemampuan bersosialisasi dan bernegosiasi terjadi di keseharian. Sementara di pasar modern kemampuan menghitung keuntungan amat diperlukan. Memang sudah demikian kondisinya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: