Ketika syarat dan rukun menjadi keharusan

Agustus 25, 2013

Ceramah subuh, saat menyelesaikan itikaf hari itu di Al Azhar mungkin salah satu yang paling saya pikirkan. Sepanjang perjalanan dari Kebayoran menuju Cibinong bersama istri, mengobrol panjang lebar tetapi di dalam pikiran saya terus berkecamuk. Apa iya,….

Penceramah saat itu anak muda, hafidz Al qur’an, membawakan pentingnya membaca al Qur’an secara tartil. Dia menyampaikan dengan penuh semangat. Tetapi intinya adalah kalau kita salah satu makhraj saja, fatal,.. tidak diterima shalat tersebut. Tartil membaca memang sebuah keharusan, ketika salah membaca maka artinya pun pasti berubah. Bayangkan kata Amin,… amiin,.. amiiin,.. panjang pendeknya akan menentukan arti.

Begitu juga dengan berwudhu, kesempurnana berwudhu hingga tahu arti apa yang kita baca.. Saya tercenung terus mendengarnya,.. sesekali saya menguap karena terkantuk-kantuk, tetap saja tidak bisa tertidur, isi ceramahnya benar-benar membuat saya bertanya akan semua ibadah yang saya lakukan, apakah sesuai dengan syarat dan rukunya ?

Seorang guru saat menjadi guru juga mempunyai syarat dan rukunnya. Bayangkan jika seorang guru tidak berkompeten dalam bidang ilmu, tidak mampu menyampaikan ilmu, bahkan tidak mampu mempraktekannya,.. bisa fatal ilmu yang didapat para siswa. Seorang guru juga terikat akan waktu dan pengabdian. Menjadi guru adalah kegiatan 24 jam, setiap detik setiap waktu. Bagaimana tidak, seorang guru akan dilihat dan amat terlihat oleh para siswa, para tetangga bahkan orang lain yang mungkin tidak mengenalnya secara langsung.

Seorang guru yang memberikan contoh buruk di keseharian, tanpa sadar telah memberikan kompetensi akan sesuatu hal, baik secara teori, praktek bahkan penyebaran dari contoh tersebut kepada siswa. Jika seorang guru melakukan tindakan yang mungkin masih bisa dianggap wajar, sambil berjalan dia mengunyah permen, sambil berdiri dia minum air semoga tidak pakai tangan kiri.. atau banyak hal lain. Ulama dan guru adalah sebuah profesi yang sama dalam banyak hal. Penekanannya, ulama akan terlihat lebih mampu menjelaskan ayat-ayat Allah. Sementara guru berusaha menjelaskan dengan teori yang sudah diukur oleh penelitian dan pelaksanaan. Tetapi ingat, keduanya mempunyai konsekwensi yang amat tinggi.

Guru yang tidak hadir tepat waktu di kelas, lamanya waktu mengajar yang tidak sesuai, bahkan evaluasi setiap siswa tidak dilakukan dengan instrumen penilain yang benar akan menjadi profesi yang berbeda, artinya bukan guru. Negara membayar sesuai syarat dan keharusan. Sehingga sering kita jumpai seorang guru tua yang berpengalaman akan memakan waktun yang lama untuk memberikan penilain kepada para siswa, dan guru-guru muda akan lebih cepat menentukan nilai akhir sebuah penilaian. Pengalaman mengajar yang lama, untiuk guru-guru tua menajdi kunci penilaian tersendiri. Karena akhir penilain bukan hanya angka tetapi juga sikap hidup.

Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari ceramah subuh tersebut. Ibadah dan ketaqwaan adalah sebuah proses hidup, bukan hasil. Bayangkan jika semua ibadah hanya bernilai benar dan salah ? Bukan peningkatan ibadah menju ketaqwaan. Rasulullah mengajarakan setahap demi setahap pemahaman al qur’an,. Serta memberikan contoh-contoh di keseharian. Kehidupan beliau-lah yang menjadi contoh dari yang al qur’an tuliskan. Harus sesuai syarat dan rukun. Rasulullah selalu mengingatkan jika kurang atau pun berlebihan. Manusia memang diciptakan untuk mengurangi dan melebihkan, islam lah yang menuntun umat manusia untuk tidak kekurangan atau pun terlalu berlebihan. Shalat ada ketentuannya, shaum ada ketentuannya, begitu juga kehidupan sehari-hari.

Penuhi syarat dan ketentuan,..maka hakekat ibadah akan semakin nyata didapatkan oleh semua manusia. Taqwa bukan hasil, sebuah proses keseharian hingga Allah menyatakan cukup.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: