Kenyamanan itu anugerah Tuhan,.. perjuangkan

Agustus 24, 2013

Kenyamanan itu anugerah Tuhan,.. perjuangkan

Seorang siswa marah-marah kepada gurunya dan menyerang balik. Sang guru tidak marah dia terdiam, membisu dan hanya bisa tersenyum dalam hati. Ternyata pembelajaran yang diberikan selama ini berhasil. Pendidikan adalah upaya mentransfer sebuah pengalaman yang berjalan dan lama sekali pada diri seorang guru dan harus diberikan dalam bentuk yang nyaman dan menyenangkan kepada para siswa dalam rentang waktu yang lebih singkat.
Alkisah pada suatu hari, seorang guru melihat beberapa siswa sedang sibuk berdiskusi di lantai depan ruang sebuah kelas, lantai yang bersih dan suasana nyaman membuat siswa itu asyik membicarakan sesuatu yang penting. Sesekali terlihat mereka tertawa sambil menuliskan ide-ide segar dari teman-teman. Diantara beberapa siswa tersebut ada siswa yang dikenal baik oleh guru tersebut. Guru tersebut memang sering ”tawaf” di sekolah. Piket yang aktif melihat kalau-kalau ada kelas yang gurunya tidak hadir, belum hadir atau memang telah mengkonfirmasi ketidak hadiran dan telah menyerahkan tugas mandiri kepada piket untuk diberikan kepada para siswa.
Guru itu merasa janggal. Dia yakin siswa tersebut adalah salah satu siswa yang selalu melaksanakan sholat dhuha. Biasanya jam 09.40 atau sepuluh menit setelah bel istirahat pertama, siswa itu akan terlihat di dalam mesjid. Dhuha dan membaca al qu’an. Subhanallah.
Guru tersebut mendekati diskusi tersebut, ”Nak,.. nanti sholat Dzuhurnya bagaimana kalau celana atau roknya kotor karena lantainya belum tentu tidak bernajis.” Tegur guru tersebut dengan suara perlahan. Beberapa sisw berpaling ke arah guru tersebut, dan berusaha bangkit. Wah,.. gurunya membuat diskusi tersebut jadi terpecah perhatian. Guru tersebut merasa bersalah, karena telah mengganggu sebuah diskusi penting organisasi sekolah. Tiba-tiba anak yang dimaksud guru tersebut sebagai siswa yang sering bertemu kala shalat dhuha dengan kalimat skak mat,” Bapak emang yakin celana bapak yang menyentuh sepatu juga bersih dari najis.”
Waduh, sang guru terdiam membisu, sesuatu yang tidak diyakini akan mendapat jawaban seperti itu. Sambil berusaha tersenyum, guru tersebut menjawab,” Yaa udah maaf. Silakan lanjutkan diskusi kalian. Terima kasih telah mengingatkan.”

Guru itu bingung, senyum, bingung, senyum, bingung. Menyadari kesalahannya. Orang lain sedang nyaman-nyamannya berdiskusi terganggu oleh kalimat tersebut. Kenyamanan memang menjadi hak manusia siapa pun. Udara bersih yang kita hirup masih nyaman, tidak ada polusi bahkan masih gratis pemberian Allah. Air bersih mulai tidak nyaman untuk mendapatkannya, harus ditukar dengan benda-benda yang bernnilai, misalnya uang. Tahun 1980-an sekolah-sekolah di Jakarta amat nyaman, tidak ber AC, tetapi jendela lebar-lebar dan memang gedung sekolah dibuat tinggi-tinggi, karena Jakarta termasuk wilayah tropis. Lampu penerangan kelas pun Cuma 4 titik dengan dua neon ukuran 40 watt. Sekolah tanpa kain penutup jendela, sehingga sinar matahari di siang hari mampu menerangi kelas.

Ruang kelas di tahun 2000-an mulai ber AC, di tahun 1997 mulai ada OHP dan LCD pada tahun 2002. Nyaman sekali, Kipas angin mulai tertinggal. Tagihan listrik pada masa itu, hanya lampu, OHP/ LCD atau AC. Di 2005 saat laptop mulai dibawa para siswa, HP berbagai jenis hingga akhirnya semua alat komunikasi terbawa semua. Bukan satu siswa, hampir sekelas. Bohong sekali siswa jika tidak memiliki alat komunikasi saat ini.

Dan kenyamanan mulai terasa menjadi barang mewah. Saat guru ingin mengajar di kelas, terlihat sambungan listrik telah terpenuhi oleh Gadget para siswa. Bukan 2 atau 3, bisa ada tambahan kabel, sehingga alhasil 10 gadget terparkir di meja guru atau pun komputer ruang kelas.

Nah diskusi para siswa tadi adalah karena mereka menggunakan perpanjangan kabel untuk mendapatkan aliran listrik, menggunakan laptop pula. Dan tentunya gadget yang tersambung mencari wifi gratis atau memang sedang menggunakan pulsa pasca bayar. Nyaman. Kenyamanan ini terganggu bukan oleh sarana listrik saat diskusi yang padam atau dilarang penggunaannya oleh guru tersebut. Guru tersebut hanya mengingatkan, dengan mengingatkan guru akan merasa nyaman. Mengingatkan sebuah hal yang pantas dan tidak menyalahi aturan. Persoalannya guru tersebut telah merampas kenyaman para siswa tersebut.

Sebuah pelajaran berharga untuk guru tersebut, jangan pernah mengambil kenyamanan para siswa apalagi saat membicarakan kepentingan organisasi kesiswaan. Alamat dapat nasehat dari siswa. Hhmhmhm,.. makin bangga siswanya makin berkarakter. Semoga kejadian ini tidak berulang. Semoga tidak ada lagi guru yang terlalu berani memberikan nasehat. Apalagi dengan kurikulum 2013 dimana karakter siswa memang dididik. Saat menuliskan kisah ini di buku harian, guru tersebut tersenyum. Bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: