Sikap hidup keseharian di rumah yang menentukan seperti apa kita di masyarakat August 20, 2013

Agustus 20, 2013

Tahun 2005 – 2006, awal mula saya diajak Kepala Sekolah untuk coba mengatur lalu lintas di perempatan SMA Negeri 8 Jakarta. “Pak Wangsa,.. ayo temani saya ke belakang,. saya masih bingung yang membuat anak-anak terlambat itu apa yaa ?”. Salah satu kepala sekolah yang mencoba membuat desain kedisplinan di SMAN Negeri 8 Jakarta. Ternyata memang untuk sesutau yang baru, apalagi merubah kebiasaan berbuat salah akan banyak sekali lawan daripada kawan. Survey tersebut membuat beliau mencari model penanganan kedisiplian awal masuk pelajaran.
Yang beliau lakukan adalah :
1. Guru tidak boleh terlambat masuk ke kelas
2. Siswa tidak boleh datang terlambat, jika terlambat siswa dipulangkan
3. Siswa yang diantar dengan kendaraan bermotor dan bermobil untuk dapat berhenti tidak tepat di pintu gerbang
4. Memerintahkan kepada beberapa guru dan satpam untuk mengatur lalu lintas
5. Menempatkan beberapa guru di Pintu Gerbang Belakang dan Depan, untuk memeriksa kelengkapan atribut seragam siswa
6. Guru diwajibkan untiuk kompak dalam berseragam, dikenal sebagai BIRU-BIRU

Sebuah kebijakan dipastikan sudah mengalami pemikiran panjang dan tentunya dilakasanakan untuk mencari solusi terbaik. Awal pelaksanaanya, banyak ortu dan siswa komplain,.. bahkan jangan kaget guru pun yang biasanya hanya datang saat jam mengajar atau pun sering salah seragam akan terkena “nasehat”.
Tokh akhirnya tidak sampai 3 minggu, jumlah siswa yang terlambat hilang… karena mereka tahu harus datang pukul 06.25 WIB, maksimal. Saat itu hanya SMA Negeri 8 Jakarta yang berani memulangkan siswa. Sebuah pekerjaan besar untuk teman-teman di bidang kesiswaan.

Waktu berlalu, jumlah kendaraan makin banyak. Sebaran siswa SMA Negeri 8 Jakarta makin variatif, bukan hanya depok dan bekasi, pamulang dan cinere mulai terdata… wah makin jauh dan makin berpikir akan waktu tempuh. Ketika seorang siswa memilih, maka secara langsung dia sudah mengetahui konsekwensi yang akan terjadi. SMA Negeri 8 Jakarta,.. wah banyak PR,.. wah banyak remedial.. wah macet pagi dan petang.

Situasi kondusif amat dibutuhkan siswa, guru dan warga sekitar. Beberapa kali, Dosen Geografi saya yang tinggal di belakang SMA Negeri 8 Jakarta datang ke sekolah dan hanya menyatakan : tolong perhatikan parkir mobil siswa dan kurangi kemacetan. Sudah sering warga yang komplain karena di depan pintu rumahnya ada mobil siswa atau sopir yang terparkir sementara pemiliknya nggak jelas dimana.

Saya amat yakin kehidupan yang mapan, terbaik di rumah, adan dan kebiasaan yang terbangun di rumah akan terealisir di jalan dan di sekolah. Saya amat memantau sekali kedisiplinan siswa, bahwa banyak siswa yang bermasalah dengan kedisplinan amat tidak suka ketika orang tua atau waloi siswa diundang ke sekolah. Komunikasi yang tidak lancar atau terjadi salah pengertian dalam mendefinisikan hubungan tata aturan dan sebagianya.

Saat ini saya hanya berpikir, kemacetan di SMAN 8 Jakarta bisa dikurangi. Tidak ada maksud lain. Dan seharusnya kami, siswa, ortu siswa, dan para sopir pribadi dapat membantu kondisi ini. Hanya curhatan seorang alumni yang kini menjadi guru di almamater tercinta.
Mohon maaf jika tidak berkenan, tidak banyak ilmu yang saya punyai. Hanya ingin melihat kondisi kemacetan di SMAN 8 bisa tertanggulangi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: