Sekolah gaya bimbingan tes,… serba tes,..

Juli 3, 2013

http://regional.kompas.com/read/2013/05/25/05564518

Sejak pemerintah menerapkan sistem UN, SMA Negeri 4 Denpasar selalu berinovasi dengan melakukan perubahan sistem evaluasi setiap tahunnya. “Seperti tahun ini kami menghadapi 20 paket soal. Kami lebih kreatif, kami membentuk klub-klub UN, grup yang khusus mendongkrak nilai UN,” ungkap Rika saat ditemui di Kantornya, Jumat (24/5/2013).

Klub UN ini terdiri dari 20 siswa dengan nilai terbaik yang kemudian dikumpulkan menjadi satu kelompok. Mereka mendapat pelajaran tambahan selama dua jam setelah pulang sekolah. “Anak-anak terbaik kami beri perlakuan khusus, kami kelompokkan sehingga belajar lebih efektif,” jelas Rika.
—————————————-

Sah-sah saja sekolah menggunakanformulasi apa pun untuk mendongkrak nilai siswa. Sehingga wajar jika siswa makin tertekan dengan gaya : ayo kita beri mereka tambahan,.. sisipkan pengayaan dan tambahkan try out. Semester 2 di kelas XII menjadi sebuah kesibukan yang tinggi.Bayangkan saja, ada Ujian Sekolah, Ujian praktikum sekolah, Try out sekolah, Try Out dinas, Try out Gunadarma,.. dan Ujian Nasional.

Sebenarnya Ujian Nasional itu tidak membawa momok yang berat, kalau semua pihak tidak panik. Gubernur panik,kepala dinas pendidikan,kepala sekolah dan akhirnya guru-murid sama-sama panik. Ujian Nasional pada dasarnya adalah sebuah evaluasi pendidikan, tujuannya untuk pemetaan. Menjadi sebuah momok ketika Ujian Nasional menjadi sebuah tujuan.

Target : lulus 100%, nilai terbaik,… peringkat nasional. Dan ini bukan tujuan Tujuan UJIAN NASIONAL.

Wajar sekolah-sekolah menggandeng pihak luar, baik itu bimbingan belajar, seminar hipnoterapi bahkan para ustadzh untuk istighosah. Prsiapan ujian nasional melebihi persiapan apa pun di sebuah sekolah. Tanpa sadar, gaya bimbingan belajar atau tes dipakai pihak sekolah,.. soal-soal ujian diperbanyak,.. menjawab soal secara tepat dan cepat,.. pembuatan kelas-kelas khusus,.. khusus memble,.. khusus normal .. dan yang punya kekuatan akademik… jelas tujuannya : mendongkrak nilai,.. mencapai skala nasional dan membahagiakan semua pihak.

Kalau hari ini regulasi PPDB “diakali” olehorang tua siswa dengan menintiplan putranya pada Kartu Keluarga orang lain demi mendapatkan pendidikan yang bermutu,.. sebenarnya ini telah mencederai tujuan regulasi PPDB tahun ini. Bayangkan jika jalur lokal juga diisi oleh siswa-siswa yang berasal dari luar zona.

Begitu pun tujuan diadakannya : Ujian Nasional… juga telah diubah bahkan oleh pejabat negara sendiri. Jika kita menyimak semua media akan terpampang: seorang anak dari keluarga miskin mampu menembus nilai ujian nasional tertinggi.Ini menjadi berita hangat dari pada inti Ujiannasioanl tersebut. Anak mampu terpetakan….

Yang selalu dipamerkan adalah : anak keluarga kurang mampu mencapai nilai tertinggi UN. Terus bagaimana dengan keluarga yang biasa-biasa saja,.. anak nya juga lulus. Itu bukan berita.

Negeri ini memang butuh seremoni,.. butuh pengakuan… dan yangdiakui itu memang harus sedikit. Hingar bingar sekolah yang mau runtuh,.. muridnya berjam-jam baru bisa sampai lokasi,.. atau pun guru-guru yang tidak terbayarkan,… hanyalah berita sambil lalu.

Dan di acara kick andi semua undur pendidikan tersenyum dengan keberhasilan UN 2013.

Tahun depan kita senyum lagi yaaa..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: