Archive for Februari, 2013

meeting point

Februari 25, 2013

Sebuah perjalanan panjang pastinya memerlukan sebuah perencananan matang dan besar. Perjalanan akan semakin bermakna saat semua awak dan penumpang memenuhi sebuah janji dan komitmen. Awak akan berkomitmen untuk membawa para penumpang sesuai janji dan harapan, sementara para penumpang dengan sabar mengikuti semua aba-aba awak, tanap reserve dan hal-hal yang tidak pada tempatnya. Semua harus dalam satu komando dan satu komitmen. Komitmen terbaik dimulai dari sebuah titik. Namanya meeting point.

Pada tirik inlah sebuah perjalanann berikutnya dimulai. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang baik juga mencakup kelebihan dan kekurangan sebuah misi. Intinya terbukalah,.. hehhehe dilanjutkan nanti yaa

Iklan

comfort zone,.. atau main-main di zona aman

Februari 24, 2013

Tidak seperti tahun lalu. Tahun ini berbeda sekali kondisi semua hal dalam dunia pendidikan di DKI Jakarta. Perubahan kepemimpinan, perubahan status, perubahan kurikulum dan kondisi-kondisi lain yang tercipta dalam perjalanan pendidikan serta realitas perubahan keinginan para siswa atau pun keinginan para ortu,.. wah terasa sekali gempuran meteor perubahan tahun ini.

Tetapi yang amat terasa adalah hampir semuanya melakukan tindakan yang mengamankan sesuatu. Zona aman,.. sebuah istilah yang menurut saya malah tidak aman. Ketika semua hal amat berubah maka perubahan itu diyakini akan banyak mempengaruhi kehidupan kita, maka zona amannya adalah berusaha mengikuti, melihat dan mengatisipasi kondisi tersebut untuk tetap eksis.

Pada kondisi ini, seorang pemimimpin harus mengeluarkan kemampuan ekstra. Pemimpin hanya berhasil jika semua komponenn mampu membawa biduk menuju tempat yang lebih baik. Kalau hanya mendapatkan hal yang sama dalam agama Islam dianggap sebagai kondisi yang merugi.

Setipap tahun kita akan mendapatkan warganegara dan rakyat yang bertambah, artinya tanggung jawab amanah kita juga akan bertambah. Karena setiap tahun juga mempunyai karakteristik berbeda maka teruslah berencana dan beraktivitas serta melakukan evaluasi, sehingga pencapaian yang diinginkan dapat tercapai. Pemimpin yang hanya membiarkan sebuah kondisi karena sudah terlalu yakin bahwa warga negara atau rakyatnya akan berusaha dengan baik, saat keberhasilan datang kebanggan mana yang dia peroleh.

Apalagi ketika warga negara atau rakyatnya juga bermain di kondisi tersbut,.. mengamankan dirinya. Zona aman,.. terletak tidak jauh dari zona kegagalan,.. tipis… jadi kalau ada siswa misalnya yang hanya mengejar lulusa saja tanpa prestasi lebih,. atau seorang polisi lalu lintas hanya sibuk di pagi hari,. atau pun seorang pegawai kebersiahan yang hanya bebersih saat ada tamu, atau seorang guru yang hanya tampil sebagai guru saat di kelas,.. atau seorang gubernur yang mau terpilih kembali tiba-tiba mengunjungi rakyatnya berbeca dan membangun rumah …atau juga seorang muslim yang menjadi taat saat ibadah 5 waktu saja,.. atau kita hanya akan tampil baik saat ada orang-orang di sekitar kita… padahal Allah maha melihat.

Zona aman bukan pilihan saya,.. tanpa berubah,. tapi berharap lebih baik .. itu bukan zona aman… tetapi bermain-main di zona aman. Lebih baik tinggalkan zona aman,.. berusaha lebih,.. membuat visi dan misi,..ajak semua stake holder saling berbagi pekerjaan,.. bukan hanya mengeluh dan tanpa usaha. Doa bukan segala-galanya.. usaha lah yang Allah tilai. Taqwa bukan hasil,.. taqwa tidak datang sendiri,.. taqwa adalah proses.. yang tidak mau membuat atau menjalani proses… kasihan deh kamu. Pecundan.

Melawan Arus,…..lawannya,.. mengikuti arus

Februari 23, 2013

Seorang bapak pengendara motor di pertigaan tersebut sedang marah-marah. Pasalnya anaknya terjatuh karena dia menginjak rem sekuat-kuatnya untuk menghindari tabrakan dengan pedagangan buah rambutan yang melintas di jalan yang sama. Anak kecil tersebut terlempar 2 meter, terguling dan hampir terlindas ban bajaj, untung cuma bajaj. Tanpa helm dan bapak tersebut melawan arus kendaraan sesungguhnya. Semarah apa pun dia, sekeras apa pun dia, tetap dia bersalah. Bukan masalah helm lagi, tetapi lebih ke arah, dia melawan arus.

Terkadang memang pengendara motor maunya potong jalur, lawan arah bahkan berbelok di tempat yang bukan semestinya. Buat mereka istilah Raja Jalanana telag terpatri di hati mereka. Apalagi jika wilayah tersebut dekat dengan rumah, alias kampungnya sendiri.

Melawan arus memang bukan hal yang baik dan tidak diajarkan dimana pun. Arung jeram pun bukan untuk melawan arus. Mereka sadar mengikuti arus liar pada arung jeram saja sudah harus memikirkan strategi, kemampuan diri bahkan sudah dengan penggunaan pelampung pula. Lagi-lagi kita berpikir ini khan hanya olah raga, keselamatan tetap menjadi hal yang utama.

Beberap hari yang lalu, ada kondisi di mana beberapa siswa Caang sebuah subsie amat terkoordinir mendengarkan Seniornya, istilah mereka, tentang bagaimana cara push up yang benar. Saat tertangkap tangan Caang tersebut dia tidak menjelaskan bagaimana bisa para Caang yang 32 orang tersebut, dimana satu tidak hadir bisa terditribusi di beberapa kelas saat jam istirahat. Padahal jam istirahat waktunya ISOMA, itu kalua aturan mereka di kaderisasi menempatkan Tuhan pada pilihan pertama. Caang pasti mengikuti arus, untuk hadir di kelas tersebut. Walau pun itu bukan hari pertemuan mereka. Walau pun namanya Mentoring.. hahhaha.. istilah anak-anak musholla 20 tahunnan lalu pindah ke Caang sekarang bagus lah,.. keislaman pun sampai ke kaderisasi.

Yang satu bilang bagian dari kaderisasi,.. yang satu bilang bukan. Tetapi berkumpul dan mendengarkan sesuatu… sesuatu.. sesuatu.. seperti lagunya syarini… hehehe.

Pendidikan atau pun diklat atau pun kaderisasi adalah menyiapakan calon anggota untuk mampu mempunyai kemampuan yang sama dengan para “senior”. Pendidikan alam bebas punya aturan tertentu. Dan rasanya siswa akan diberikan dasar-dasar keorganisasian dan kehidupan alam bebas.

Kalau bicara DILATSARMIL,. boleh lah.. harus siap di segala medan. Waktu jadi mahasiswa geografi UI pun, saya diberi pengetahuan tentang peta dan kehidupan alam liar,… bukan lier atau iler,.. hehehe. Jogging bersama,.. mountenering bersama.. tapi nggak diteriakin, nggak ditabok,.. hahaha…

Seorang jenderal yang besar suaranya nggak keras,… tapi dihormati bawahan. Kalau kata Rasulullah :perhalus suaramu dan lemah lembutlah dengan sesama. Mendidik dengan hati,…akan menghaislkan siswa yang menggunakan hati,.. mendidik dengan kekerasan dan kebohongan.. hasilnya yaaa anak yang keras hatinya dan besar bohongnya.

Dan ingat jangan smapai kita membentuk seseorang, hingga menyebabkan mereka melawan arus,.. sholat dengan pakaian kotor.. bahkan tidak sholat,.. membohongi orang tua bahwa acara belum selesai,. nggak perlu dijemput,.. terus berkumpul di pertigaan jala mengerjakan tugas senior. Yang paling parah… di tata tertibnya tertulis : buku kaderisasi hanya boleh dibaca oleh keluarga…. keluarga yang mana yaaa. Ternyata keluarga,. alias organisasi yang baru mereka masuki.

Semoga cara-cara yang tidak berketuhanan dan melawan arus tidak lagi terjadi di mana pun. Kaderisasi bukan ajang balas dendam, kaderisasi adalah mendidik calaon anggota agar mampu menyintai organisasi yang diikuti. Bravo Manchester United,.. persisam.. hehehe

Pekan Korea di WordPress Wangsajaya,.. (3)

Februari 21, 2013

Sebuah Tulisan di Fb : Yiks

Semoga bermanfaat.

KOREA SELATAN: KEMAJUAN BERBASIS KEBUDAYAAN

Oleh Anwari WMK

Pengantar

Selama sepekan (3-10 Maret 2012) saya tercatat sebagai salah seorang peserta yang diundang oleh Korean Tourism Organization (KTO) dan Yayasan Kyungsung Indonesia untuk berkunjung menuju beberapa kawasan di Korea Selatan, yaitu Seoul, Paju City (Gyeonggi), Ulsan dan Busan. Sekali pun rombongan yang berangkat dari Jakarta sepenuhnya diperlakukan sebagai turis, saya berusaha menelisik dimensi-dimensi kultural Korea Selatan yang penting untuk dijadikan catatan kebudayaan. Berikut ini catatan tersebut.

Edukasi Internasional

Saat berkunjung ke Kyung Hee University di Seoul, ada catatan menarik dalam kaitannya dengan kebudayaan Korea Selatan. Di universitas yang berdiri pada tahun 1949 itu terdapat Institute of International Education (IIE). Dari sekian banyak program studi, tampak menonjol bahwa IIE sengaja dirancang sebagai faktor penting dari keberadaan Kyung Hee University di Korea Selatan, bahkan di dunia internasional.

Sebagai bagian dari Kyung Hee University, institusi IIE sendiri dibentuk pada tahun 1993 atau setelah Kyung Hee University berusia 44 tahun. Dengan mengusung motto “Creating a Civilized World”, IIE berupaya menumbuh kembangkan apa yang disebut “warga masyarakat global” dengan menerima kehadiran mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Pada kelembagaan IIE itulah termaktub Program Bahasa dan Kebudayaan Korea. Kini, jumlah mahasiswa Program Bahasa dan Kebudayaan Korea di bawah pengelolaan IIE mencapai lebih dari 6.000 orang. Bahkan, program Bahasa dan Kebudayaan Korea itu telah meluluskan 25.000 mahasiswa yang berasal dari 81 negara di dunia.

Apa sebenarnya filosofi yang melandasi keberadaan Program Bahasa dan Kebudayaan Korea itu? Mengapa Program Bahasa dan Kebudayaan Korea justru masuk ke dalam cakupan IIE?

Menurut Profesor Su Hui Kim, Program Bahasa dan Kebudayaan Korea dewasa ini memfokuskan perhatian untuk lebih banyak menerima mahasiswa asing. Semakin besar jumlah mahasiswa asing belajar Program Bahasa dan Kebudayaan Korea, maka semakin bermakna pula keberadaan IIE.

Memang, di IIE juga terdapat Program Studi Bahasa Jepang, Bahasa China dan Inggris. Baik warga Korea Selatan maupun warga asing terbuka untuk belajar Program Studi Bahasa Jepang, Bahasa China dan Inggris di IIE. Hanya saja, satatus “edukasi internasional” yang melekat dengan jati diri IIE justru ditekankan untuk memperkuat keberadaan Program Bahasa dan Kebudayaan Korea.

IIE tercatat sebagai institusi pendidikan terbaik di Korea Selatan dalam kaitannya dengan bahasa dan kebudayaan. Dengan membuka Program Bahasa dan Kebudayaan Korea, IIE diperhitungkan kedudukannya sebagai institusi pendidikan tinggi di Korea Selatan. Itulah mengapa keberadaan IIE akan terus diperhatikan oleh Kyung Hee University.

Apa yang penting digarisbawahi dari keberadaan Program Bahasa dan Kebudayaan Korea IIE adalah makna edukasi internasional dalam sistem pendidikan yang dikembangkan. Aspek pokok dari kata “edukasi internasional” tersebut adalah kehadiran mahasiswa dari berbagai negara di dunia. Semakin banyak jumlah mahasiswa asing yang terdaftar di Program Bahasa dan Kebudayaan Korea IIE, maka semakin jelas pula makna edukasi internasional dari keberadaannya Program Bahasa dan Kebudayaan Korea IIE.

Konsepsi pendidikan semacam ini menarik untuk digarisbawahi. Sebab dengan demikian berarti, latar belakang keberadaan mahasiswa [dari berbagai negara di dunia] justru diposisikan sebagai variable penentu keberadaan institusi pendidikan yang dideklarasikan bertaraf internasional. Sedangkan substansi dari pendidikan tersebut justru bahasa dan kebudayaan Korea. IIE dalam konteks ini tidak terjebak ke dalam reduksi makna edukasi internasional.

Dalam konteks persoalan yang lain di Indonesia, misalnya, edukasi bertaraf internasional cenderung direduksi maknanya hanya dalam kaitannya dengan penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran. Cara pandang semacam ini tidak mengubah keadaan secara berarti. Sebab memang, bukan terutama pada aspek penggunaan Bahasa Inggris sebuah institusi pendidikan disebut berwatak edukasi internasional. Di atas segalanya, justru kehadiran peserta didik dari banyak negara yang dijadikan dasar untuk menyebut adanya edukasi berwatak internasional.

Dalam dimensi yang lebih luas, Program Bahasa dan Kebudayaan Korea IIE justru menciptakan titik temu kesadaran berbudaya di kalangan peserta didik. Bayangkan ribuan mahasiswa dari berbagai negara di dunia berada dalam kesamaan spektrum untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan Korea. Langsung maupun tak langsung, bahasa dan kebudayaan Korea diletakkan sebagai faktor penentu terjadinya titik temu kesadaran berbudaya kalangan mahasiswa dari banyak negara di dunia.

Konsepsi pendidikan semacam ini melahirkan kalangan terpelajar dengan tingkat penguasaan yang memadai terhadap bahasa dan kebudayaaan Korea, sementara individu-individu kalangan terpelajar itu tersebar ke berbagai negara di dunia. Karena itu tak berlebihan pula jika dikatakan, bahwa melalui Program Bahasa dan Kebudayaan Korea IIE itu, maka Kyung Hee University meletakkan suatu dasar berpijak terciptanya kepemimpinan untuk masa depan kehidupan dunia.

Pelajaran paling penting di sini ialah edukasi berwatak internasional yang dikembangkan oleh sebuah institusi pendidikan tinggi tidak harus meninggalkan modal kultural nasional suatu negara-bangsa.

Industri Berbasis Kebudayaan

Kota Ulsan di Korea Selatan kini mencorong ke seluruh dunia sebagai tempat berdirinya Hyundai Motor Group. Saat berkunjung ke perusahaan otomotif tersebut, saya mendapatkan penjelasan ihwal sejarah berdirinya serta filosofi keberadaannya yang bertahan hingga hari ini. Saya juga melihat salah satu paberik pembuatan mobil Hyundai, yang beroperasi layaknya sistem ban berjalan. Di paberik ini ratusan orang bekerja berdasarkan spesialisasi penanganan satu aspek dari setiap unit mobil yang sedang diproduksi.

Industri otomotif Hyundai di Ulsan ini penting disorot untuk melihat keterkaitan antara keutuhan proses industri dengan kebudayaan. Hyundai mempertontonkan pola kerja kompleks industrial menyangkut keseluruhan proses manufakturing produk otomotif hingga ekspor produk akhir ke mancanegara. Bahkan, di kompleks industri Hyundai terdapat pelabuhan yang secara khusus berfungsi menunjang kelancaran ekspor mobil Hyundai ke mancanegara.

Sebagai perusahaan otomotif, Hyundai berdiri pada tahum 1967. Lebih dari satu dasawarsa kemudian, tepatnya pada 1976, Hyundai merilis Hyundai Pony. Itulah produk pertama Hyundai yang kemudian dikenal luas sebagai “mobil pertama berselera Korea”. Pada 1986, untuk pertama kalinya Hyundai mengekspor mobil ke mancanegara. Perkembangan selanjutnya ditandai oleh munculnya produk-produk bertajuk Elantra (2000), Verna (2001), EF Sonata (2001) EF Sonata II (2004), Sonata (2005), Elantra (2006), j30 (2007), Coupe (2008), Veracruz (2008), Accent Sport (2008), j30cw (2008), Azera (2008), j20 (2008), Genesis (2008), Getz (2008), Genesis Coupe (2008), Centennial (2009), Sonata (2010), Elantra (2010), Accent (2010) dan Azera (2011).

Apa yang penting dicatat dari munculnya produk-produk tersebut adalah dua hal. Pertama, Hyundai merupakan korporasi yang berdiri di garda depan sejarah perkembanagn industri otomotif Korea Selatan. Segenap narasi sejarah berkenaan dengan industri otomotif Korea Selatan menempatkan Hyundai pada posisi penting dan menentukan.

Kedua, berbagai macam produk otomotif Hyundai hadir sebagai konsekuensi logis tatkala Hyundai mengukuhkan dirinya sebagai industri manufaktur yang diperhitungkan di dunia. Mobil “Genesis”, misalnya, merupakan produk Hyundai yang banyak diminati konsumen Amerika Serikat. Kemampuan menembus pasar global menjadi indikator bagi Hyundai meraih keunggulan dalam kompetisi produk-produk otomotif yang pemasarannya berskala global.

Kehebatan Hyundai dengan demikian, harus ditelisik berdasarkan dua faktor sekaligus. Pada satu sisi, Hyundai mendeterminasi perkembangan historis industri otomotif Korea Selatan. Pada lain sisi, produk otomotif Hyundai diterima kehadirannya oleh pasar global. Dua hal ini saling berkesinambungan satu sama lain. Kemampuan berdiri di garda depan industri otomatif pada tingkat nasional Korea Selatan lalu dilanjutkan dengan kemampuan menembus dunia internasional. Dalam perjalanan historisnya, Hyundai memperlihatkan terjadinya proses evolusi yang niscaya ditempuh oleh sebuah perusahaan otomotif.

Pada keseluruhan fase perkembangan Hyundai, tahun 2010 tercatat sebagai kurun waktu yang menentukan. Chairman dan CEO Hyundai Moong-koo Chung menyebut tahun 2010 sebagai “a year of new challenges”. Itu karena, tahun 2010 ditandai oleh kemerosotan perekonomian America Serikat yang berdampak buruk bagi perekonomian dunia. Namun justru dalam situasi penuh tantangan semacam itu, selama 2010 Hyundai mencatat kemajuan menakjubkan, yaitu mampu mengekspor produk-produknya ke mancanegara hingga mencapai 3,61 juta unit mobil. Berdasarkan kenyataan ini pula Hyundai berada pada peringkat 65 dari 100 perusahaan terbaik dunia.

Di pasar otomotif China, Rusia dan Amerika Serikat, Hyundai mengukuhkan kehadirannya. Penjualan yang berarti di China merupakan keberhasilan menembus pasar otomotif terbesar dunia. Sebagai wujud nyata untuk memperkuat produksi global dan struktur penjualan, Hyundai membangun paberik pembuatan mobil di Rusia. Di Amerika Serikat, untuk pertama kalinya pada 2010 penjualan mobil Hyundai menembus angka rekor 500 ribu unit mobil, sehinga mendapatkan perhatian luas dari kalangan media massa berpengaruh di Negeri Paman Sam itu.

Kedahsyatan Hyundai dewasa ini tercermin dalam pernyataan Moong-koo Chung, bahwa Hyundai Motor Group sengaja menciptakan struktur industrial yang terintegrasi secara kuat dari hulu ke hilir. Bahkan seperti telah disebutkan di atas, Hyundai di Ulsan memiliki pelabuhan tersendiri untuk memperlancar ekspor produk-produknya ke seluruh dunia. Kata Moong-koo Chung, “Pasar dunia berubah dengan sangat cepat. Korporasi-korporasi yang gagal beradaptasi dengan perubahan cepat itu bakal bergeser dari sebelumnya sebagai pemenang menjadi pihak yang terkalahkan.” Maka, perubahan secara inovatif Hyundai ditandai oleh terciptanya struktur industrial yang terintegrasi secara kuat dari hulu ke hilir.

Kini, Hyundai Motor Group mengusung perspektif “New Thinking. New Possibilities.” Perspektif tersebut dapat dimengerti sebagai “new ideas create new values” dalam konteks penggunaan energi ramah lingkungan. Dengan upayanya yang tak kenal lelah sejak kurun waktu berdirinya hingga kini, Hyundai telah meletakkan satu format industrial berbasis kebudayaan. Sehingga, eksistensi Hyundai ditandai oleh apa yang disebut “the new beginning of modern premium” dengan aspek-aspeknya seperti berikut:

~ Gagasan-gagasan kecil dikembangkan justru untuk meruntuhkan paradigma lama. Kemunculan teknologi yang sederhana dimengerti sebagai lahirnya kebaruan yang belum pernah ada sebelumnya.

~ Inovasi Hyundai kini hingga ke masa depan mengusung nilai-nilai baru persis sebagaimana dituntut masyarakat konsumen.

~ Hyundai terus-menerus berupaya dekat dengan publik konsumen, sehingga dikembangkan tradisi industrial untuk menghasilkan produk-produk estetik yang sepenuhnya mencerminkan keindahan cita rasa manusia.

Maka, berbahagialah Korea Selatan, memiliki perusahaan semacam Hyundai. Inilah perusahaan yang tak hanya paham arti keuntungan. Di atas segalanya, Hyundai mengadopsi nilai-nilai kultural masyarakat Korea yang ulet dan dikenal sebagai pekerja keras menghadapi tantangan kehidupan.

Antara Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan

Di Busan, Korea Selatan, Kyungsung University merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka, berdiri sejak 1955. Kini, universitas dengan 13 ribu lebih mahasiswa itu keberadaannya dikaitkan dengan renaisan pendidikan menjawab tantangan masa depan. Menurut Dae Sung Kim, Chairman Kyungsung University, tantangan masa depan harus dijawab oleh dunia pendidikan tinggi melalui apa yang disebut “cinta dan pelayanan”. Terutama setelah usia Kyungsung University mencapai lebih dari 50 tahun, maka “cinta dan pelayanan” itu merupakan upaya tiada akhir. Sebab memang, hanya dengan “cinta dan pelayanan” Kyungsung University memiliki landasan filosofi menjawab tantangan masa depan.

Sejalan pula dengan makin menguatnya kehadiran masyarakat informasi, pendidikan tinggi dituntut mampu melakukan berbagai upaya kreatif dalam bidang riset. Pendidikan tinggi tidak boleh mandeg ke dalam serangkaian tindakan monoton serba mekanis. Itulah mengapa, kata Dae Sung Kim, mutu sebuah institusi pendidikan tinggi mustahil semata ditakar dengan hanya berdasarkan kemegahan secara fisik. Tetapi bagaimana segenap elemen pendidikan tinggi memiliki kesamaan spirit dan cita-cita menciptakan kualitas. Maka, keberadaan civitas akademika jauh lebih penting dibandingkan dengan kemegahan bangunan gedung.

Kesadaran para pengelola Kyungsung University menjawab tantangan masa depan penting digarisbawahi sebagai catatan kebudayaan. Sebab dengan demikian berarti, proses-proses pendidikan mengandung hakikat kerja-kerja kebudayaan. Menurut Soo Geun Sung, Presiden Kyungsung University, dibutuhkan transformasi berkesinambungan demi menjawab perubahan-perubahan besar dalam hubungannya dengan tantangan masa depan. Hanya melalui transformasi berkesinambungan itulah Kyungsung University, kata Soo Geun Sung, mampu menentukan berbagai determinasi yang relevan dengan kehidupan masa depan. Dengan juga berpijak pada transformasi berkesinambungan maka Kyungsung University menggedor masa depan melalui keterbukaan pikiran dan kreativitas.

Kyungsung University didirikan oleh tokoh Kristen Korea Dr. Kim Gil-Chang pada tahun 1955. Semula, Kim Gill-Chang mendirikan Kyungnam Teacher’s College. Pada 1979, Kyungnam Teacher’s College berubah menjadi Pusan Industrial University. Pembangunan fasilitas pendidikan tinggi dimulai sejak 1979 itu. Pada 1988 Pusan Industrial University berubah menjadi Kyungsung University

Perubahan yang terjadi pada 1988 itu memiliki makna yang sangat penting. Sejak saat itu, Kyungsung University berproses memasuki etape baru menjadi universitas berskala internasional. Kyungsung University berupaya melakukan proses-proses pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer Korea maupun masyarakat kontemporer dunia. Dengan mengukuhkan eksistensinya sebagai universitas berskala internasional, Kyungsung University berupaya mewujudkan apa yang dinarasikan sebagai “adhering education system to make student dream come true”. Tak mengherankan jika kemudiaan kelas internasional di Kyungsung University ditandai oleh hadirnya mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia.

Di Kyungsung University kini, terdapat 10 undergraduate colleges, yaitu: Liberal Art, Law and Politics, Commers and Economics, Science, Engineering, Pharmacy, Art, Theology, Multimedia, Chinese. Baik mahasiswa lokal Korea maupun mahasiswa asing terbuka untuk belajar pada salah satu dari 10 colleges tersebut.

Saat tiba di kampus Kyungsung University, saya mendapatkan pemahaman berkenaan dengan dua hal.

Pertama, Kyungsung University ternyata memiliki Museum Burung. Didukung oleh pakar-pakar biologi, Museum Burung ini merupakan salah satu ikon penentu keberadaan Kyungsung University di Busan. Pemerintah dan masyarakat di Busan mendukung keberadaan museum tersebut, dengan menyerahkan burung-burung yang ditemukan mati untuk kemudian diawetkan di Museum Burung Kyungsung University. Di museum ini 270 spesimen burung dari berbagai kawasan di dunia diawetkan serta tersedia 70 telor burung. Di samping itu, terdapat beberapa sangkar burung yang ditemukan di kawasan Korea.

Kedua, di Kyungsung University terdapat museum sejarah dan kebudayaan Dinasti Kaya. Begitu pentingnya museum ini, sampai-sampai disebut secara khusus sebagai “University Museum”. Di museum ini dipamerkan artefak-artefak masa lalu Dinasti Kaya. Baik artefak peralatan perang maupun peralatan kehidupan sehari-hari dipamerkan di museum ini. Kyungsung University dalam konteks ini melakukan upaya saksama merawat ingatan ihwal masa lampau Dinasti Kaya.

Menyimak keberadaan dua museum ini saya sampai pada kesimpulan, bahwa Museum Burung maupun University Museum merupakan simbol adanya saling kaitan antara ilmu dan kebudayaan. Kyungsung University melakukan upaya-upaya sadar agar ilmu pengetahuan dan kebudayaan berada dalam titik perlakuan sederajat untuk ditelaah secara saksama sebagai aspek penting merawat dinamika akademis.

Dengan Museum Burung, Kyungsung University bukan saja berpeluang menambah cadangan ilmu pengetahuan di seputar kehidupan hewan unggas. Lebih dari itu, Kyungsung University bisa memperluas wawasan tentang perubahan perilaku burung sejalan dengan timbulnya perubahan-perubahan ekologis. Apalagi seperti dewasa ini, ornetologi [ilmu pengetahuan tentang burung] merupakan salah satu faktor yang berperan penting untuk mengetahui secara lebih mendalam seluk beluk pemanasan global.

Melalui museum sejarah Suku Kaya, Kyungsung University termotivasi untuk terus melakukan pengkajian terhadap pola-pola kebudayaan di masa lampau. Pencarian makna terhadap kehidupan masa lampau dalam kaitannya dengan kebudayaan di masa kini, dapat ditemukan secara lebih mudah melalui interpretasi dan reinterpretasi terhadap artefak-artefak kebudayaan Suku Kaya. Bagaimana pun, manusia adalah mahluk historis, sekali pun hidup di masa kini. Itulah mengapa, tak ada prakarsa baru hari ini yang terlepas dari dialektika kehidupan di masa lalu. Dengan menyimak artefak demi artefak yang tersaji dalam museum ini, Kyungsung University sesungguhnya membangun pemahaman tentang kehidupan di masa kini yang berjalin kelindan dengan kehidupan masa lampau.

Begitulah eksistensi Kyungsung University di Busan, Korea Selatan.[]

Pekan Korea di WordPress Wangsajaya,….(2)

Februari 21, 2013

Tulisan diambil dari Fb : Yiks

Semoga bermanfaat.

Dinamika Mutakhir Sains Korea

KOREA SELATAN dewasa ini dikenal luas oleh publik dunia sebagai negeri yang ditandai oleh terjadinya perkembangan cepat dalam bidang teknolologi. Dari sejak industri otomatif, telekomunikasi, perekayasaan, hingga teknologi informasi, Korea semakin memantapkan posisi dirinya sebagai negara yang diperhitungkan di dunia. Namun demikian, kemajuan teknologi tak terjadi secara serta-merta. Ada sebab-sebab khusus yang melatarbelakanginya, yaitu perkembangan sains dalam kurun waktu mutakhir.

Dalam artikelnya bertajuk ‘Creation Science in Korea’, ilmuwan Young-Gil Kim dari Korea Advanced Institute of Science and Technology menjelaskan latar perkembangan sains di Korea yang besar pengaruhnya terhadap kemajuan teknologi di Negeri Gingseng itu. Gerakan kreasi sains di Korea, menurut Young-Gil Kim, semula diilhami oleh seminar bertema “Creation? Evolution?” pada 12-15 Agustus 1980. Tak tanggung-tanggung seminar tersebut dihadiri oleh 4000 orang peserta.

Young-Gil Kim menjelaskan, seminar ini berdampak positif terhadap perkembangan Korea di kelak kemudian hari. Bukan saja karena diberitakan secara luas oleh radio dan televisi nasional Korea, seminar ini juga menampilkan nara sumber dari Amerika Serikat. Nara sumber dimaksud adalah Dr. Henry Morris dan Dr. Duane Gish dari Institute for Creation Research, Dr. Walter Bradley dari Texas A & M, serta Dr. Charles Thaxton dari Foundation for Thought and Ethics. Dari pihak Korea sendiri, nara sumber yang tampil dalam seminar itu adalah Professor Young-Gil Kim.

Beberapa tahun kemudian, substansi pembicaraan para nara sumber dalam seminar tersebut diterjamahkan ke dalam berbagai bentuk kreasi sains, baik oleh kalangan universitas maupun oleh lembaga-lembaga penelitian. Dan sebagai ilmuwan yang pernah bekerja di NASA-Lewis Research Center, Young-Gil Kim menjadikan seminar besar itu sebagai titik permulaan terciptanya kemajuan teknologi di Korea.

Begitu seminar usai, maka dicanangkan rencana-rencana ke depan kreasi sains Korea. Dr. Morris dan Dr. Gish diundang hadir dalam pertemuan terbatas dengan 25 ilmuwan Korea yang memang memiliki minat besar melaksanakan agenda kreasi sains hingga ke masa depan. Sebagai hasilnya, terbentuklah organisasi “Korea Association of Creation Science” (KACR).

Pada 31 Januari 1981, KACR dinyatakan secara resmi berdirinya. Bahkan, inagurasi pendirian KACR dihadiri oleh sekitar 500 orang, serta mendapatkan perhatian luas dari masyarakat Korea. Koran-koran terkemuka seperti ‘The Korea Times’ dan ‘The Chosun Ilbo’ melaporkan peristiwa inagurasi itu sebagai berita utama di halaman depan. Di samping itu, Televisi Nasional KBS turut pula memberitakannya.

Sebagai organisasi beranggotakan kaum ilmuwan, KACR mengalami perkembangan yang berarti sejak awal berdirinya. KACR lalu mengawal perkembangan teknologi perekayasaan di Korea. KACR menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya kemajuan teknologi di Korea.

Apa yang penting dicatat dari cerita ini adalah makna sebuah seminar bagi kemajuan sebuah negara. Seminar tidak sekadar diselenggarakan tanpa memperhitungkan implikasinya dalam jangka panjang. Seminar justru dijadikan titik tolak untuk membangun daya saing teknologi berdimensi jangka panjang hingga ke masa depan.

Anwari WMK

Pekan Korea di WordPress Wangsajaya,..

Februari 21, 2013

ada tiga tulisan yang saya ambil dari fb : Yiks,…semoga bermanfaat.

Catatan Pendidikan:
PENDIDIKAN BERMUTU YANG HAKIKI

OPINI publik yang berhamburan di media massa dan media sosial dalam hubungannya dengan pendidikan menunjukkan satu hal. Bahwa, siswa, orangua dan masyarakat mendambakan pendidikan yang bermutu. Dambaan tersebut bergema tanpa batas waktu. Bahkan hingga ke masa depan, dambaan terhadap pendidikan bermutu itu bakal terus berkumandang. Tapi, pendidikan bermutu yang bagaimana, itulah masalahnya.

Merujuk pada tata kelola pendidikan nasional, maka ada dua format pendidikan bermutu. Pertama, pendidikan bermutu yang simbolistik. Kedua, pendidikan bermutu yang hakiki. Pendidikan bermutu menurut format yang pertama, tidaklah substansial. Sementara pendidikan bermutu menurut format kedua, bersifat substansial-fundamental.

Masyarakat sangat mendamba terbentuknya pendidikan bermutu yang hakiki. Masalahnya, pemerintah tidak mampu memenuhi dambaan tersebut. Pemerintah terjebak ke dalam kesadaran yang keliru. Pendidikan bermutu menurut perspektif pemerintah diterjamahkan menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI/SBI). Pada akhirnya, RSBI/SBI dibubarkan Mahkamah Konstitusi, lantaran dinilai bertentangan dengan konstitusi. Publik pun terbelalak oleh fakta dan kenyataan, bahwa pendidikan bermutu dalam konteks RSBI/SBI semata bermakna simbolistik.

Sesungguhnya, tidaklah sulit melacak akar masalah, mengapa pemerintah terjebak ke dalam format pendidikan bermutu simbolistik. Hingga abad XXI kini, pemerintahan terdistorsi oleh tiga kecenderungan buruk, yaitu: feodalistik, formalistik dan koruptif. Tersebab tiga kecenderungan itu, pemerintah gagap mencerap segala sesuatu yang yang secara substansial hakiki. Kapasitas pemerintahan hanya sebatas mampu bersentuhan dengan aspek-aspek pinggiran yang ecek-ecek. Fakta ini pula yang bisa menjelaskan mengapa kebijakan-kebijakan pendidikan tak dilandaskan pada riset-riset mendalam berdasarkan asumsi-asumsi filosofis yang fundamental.

Dengan mutu semata simbolistik, praksis pendidikan kosong dari inovasi dan terobosan-terobosan besar. Petunjuk pendidikan bermutu dipenuhi oleh indikator-indikator tak relevan. Misalnya, pendidikan bermutu dimengerti secara banal semata pada penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar. Pembelajaran ilmu pengetahuan tidak memiliki kejelasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dalam situasi demikian, pemerintah berkoar-koar telah berhasil mewujudkan pendidikan bermutu. Padahal, dalam realitas kongkretnya, tidak.

Sesungguhnya, keputusan Mahkamah Konstitusi membubarkan RSBI/SBI merupakan momentum untuk melakukan reinterpretasi secara radikal terhadap hakikat pendidikan bermutu. Cetak biru pendidikan bermutu mustahil merujuk pada cara pandang pemerintah yang memang terjebak ke dalam pusaran simbolisme. Sudah saatnya kini merancang bangun pendidikan bermutu yang hakiki, lepas dari perspektif dan cara pandang pemerintah.

Pendidikan bermutu dalam maknanya yang hakiki, bertali-temali dengan eksistensi guru dan siswa. Dalam konteks pendidikan bermutu, eksistensi guru ditandai oleh profesionalitas sebagai pendidik yang melampaui kehebatan profesi-profesi lain. Secara profesional, kehebatan kaum guru mutlak mengungguli profesionalitas dokter, pengacara, arsitek, peneliti, dan sebagainya. Kaum profesional lain di luar sektor pendidikan justru menimba inspirasi dari profesionalitas kaum guru.

Dalam konteks siswa, pendidikan bermutu yang hakiki ditandai oleh terbentuknya pemahaman secara utuh terhadap ilmu pengetahuan. Pembelajaran bersukma pencerahan, sehingga setiap siswa mampu mendeteksi secara mandiri talenta-talenta yang dimiliki. Proses edukasi mendorong siswa inovatif dan kreatif saat membangun pemahaman terhadap ilmu pengetahuan.

Secara demikian, dalam pendidikan bermutu yang hakiki, personalitas guru dan siswa utuh sebagai eksistensi. Kebijakan pendidikan dan politik pendidikan diniscayakan serius menjadikan guru dan siswa sebagai eksistensi bermartabat. Artinya, stop memberlakukan guru dan siswa semata sebagai obyek penderita dari kebijakan pendidikan dan politik pendidikan.

Sayang seribu sayang, imperatif atau tuntutan ini mustahil dipenuhi oleh pemerintahan berwatak feodalistik, formalistik, dan koruptif.[]

Anwari WMK

Ke Korea Yukkkksss….

Februari 21, 2013

6543217

Olimpiade Sains Geografi Nasional

Februari 20, 2013

http://www.geografiindonesia.com/2013/02/olimpiade-sains-nasional-bidang-geografi.html

Pada Tahun 2013 terdapat kebijakan yang memberikan peluang besar bagi para Geograf Indonesia yakni ditambahkannya Bidang Geografi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Hal ini dilatarbelakangi oleh kemenangan Tim Pelajar Indonesia yang turut serta bertanding dalam Olimpiade Geografi Internasional di Cologne, Jerman pada tahun 2012 lalu. Dan tim berhasil mendapatkan medali perak dalam perlombaan tersebut. Hal ini cukup membanggakan, karena Tim Pelajar Indonesia ini notabene merupakan tim pertama bagi Indonesia yang ikut serta dalam perlombaan ini.

PICT1866

Tim peraih mendali perak tersebut dibina oleh beberapa dosen yang kemudian dikoordinatori oleh Dr. Ir. Samsul Bachri, M.Eng dari Institut Teknologi Bandung. Adapun beberapa pelajar yang telah meraih juara dalam perlombaan tersebut diantaranya Bintang Rahmat Wananda, baru lulus dari SMAN 8 Jakarta dan kini kuliah di Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian ITB. Kemudian Mohammad Anja Istala juga baru lulus dari SMA Krida Nusantara dan sekarang kuliah di jurusan Geologi Universitas Gadjah Mada. Selain itu Adnan Jati Satria masih pelajar SMA Krida Nusantara, Bandung, serta Mohammad Ridwan yang juga masih bersekolah di SMA Bilingual Boardingschool Sragen, Jawa Tengah (Tempo, 11 september 2012).

Berkat peraihan juara tersebut, maka kebijakan yang muncul pada tahun 2013 ini bahwa selayaknya Bidang Mata Pelajaran Geografi masuk dalam perlombaan Olimpiade Sains Nasional. Adapun bidang Geografi ini merupakan bidang kesembilan dari awalnya hanya 8 (delapan) bidang perlombaan pada tahun 2012. Kesembilan bidang tersebut diantaranya:

1. Matematika
2. Fisika
3. Kimia
4. Biologi
5. Astronomi
6. Komputer
7. Kebumian
8. Ekonomi
9. Geografi

Tantangan yang muncul selanjutnya adalah bagaimana para tenaga pendidik geografi untuk bersiap dalam menghadapi pelaksanaan OSN tahun ini. Oleh sebab itu, untuk dapat mempersiapkan tersebut, berikut beberapa kurikulum yang akan menjadi materi dalam perlombaan pada bidang geografi ini:

1. Iklim dan perubahannya
2. Bencana dan manajemen kebencanaan
3. Sumber daya dan manajemen sumber daya
4. Geografi lingkungan dan perencanaan pembangunan berkelanjutan
5. Geomorfologi
6. Geografi pertanian dan permasalahan pangan
7. Kependudukan dan dinamikanya
8. Geografi ekonomi dan globalisasi
9. Geografi pembangunan
10. Geografi kota dan perencanaan kota dan wilayah
11. Pariwisata dan manajemen pariwisata
12. Geografi budaya dan identitas regional
13. Tata guna lahan
14. Geografi regional
15. Keterampilan pemetaan
16. Keterampilan analisis data

Sebuah kebanggaan dan potensi besar bagi para guru-guru geografi jikalau dapat terus menjalin komunikasi dengan beberapa pihak di Universitas dalam melakukan persiapan perlombaan tersebut. Baik secara personal, kelembagaan atau melalui komunikasi langsung dengan media organisasi profesi seperti Ikatan Geograf Indonesia. Dan tak lupa pula, terdapat beberapa tokoh Geograf Indonesia yang akan terlibat dalam penjurian sekaligus pembinaan terhadap kontingen Indonesia dalam Olimpiade Geografi Internasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 30 Juli hingga 5 Agustus 2013, di Kyoto, Jepang. Adapun beberapa tokoh tersebut diantaranya:

1. Dr. Mamat Ruhimat (Pendidikan Geografi UPI, Bandung)
2. Prof. Dr. Junun Sartohadi (Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta)
3. Dr. M. Baiquni, M.A (Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta)
4. Dr. Ahmad Yani (Pendidikan Geografi UPI, Bandung)
5. Prof. Dr. Enok Maryani (Pendidikan Geografi UPI, Bandung)
6. Drs. Ratna, M.S / Dr. Slamet Bisri, MBA (Universitas Indonesia)

Beberapa tokoh tersebut yang nantinya akan mengkawal pelaksanaan perlombaan di Bidang Geografi baik di Nasional maupun Internasional. Oleh sebab itu, informasi ini diluncurkan agar dapat membantu memberikan bekal bagi para tenaga pendidik geografi di seluruh penjuru tanah air, untuk bersama-sama mempersiapkan dalam keikutsertaan perlombaan yang kemudian dapat berdampak pada berubahnya persepsi Keilmuan Geografi di masyakat menjadi bidang yang sangat familiar serta potensial di masa depan. (agung)

TINGKAT KESULITAN RELATIF ITB

Februari 20, 2013

TINGKAT KESULITAN RELATIF

Berikut ini adalah tingkat kesulitan relatif untuk SNMPTN 2012, yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan fakultas/sekolah pada pelaksanaan SNMPTN 2013 dan SBMPTN 2013 :

Fakultas/Sekolah (Alfabetik)

Tingkat Kesulitan Relatif

Fakultas Teknologi Industri Sangat Tinggi

Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Sangat Tinggi

Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Sangat Tinggi

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Lebih Tinggi

Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Lebih Tinggi

Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Lebih Tinggi

Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Lebih Tinggi

Sekolah Farmasi Lebih Tinggi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Tinggi

Fakultas Seni Rupa dan Desain Tinggi

Sekolah Bisnis dan Manajemen Tinggi

Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Tinggi

catatan :

Sesuai dengan keputusan Pimpinan ITB, ITB melaksanakan seleksi penerimaan mahasiswa baru Program Sarjana melalui sistem Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Informasi mengenai pelaksanaan SNMPTN 2013 dapat diperoleh di situs http://snmptn.ac.id/, sedangkan informasi mengenai SBMPTN 2013 masin menunggu ketentuan dari panitia pelaksana pusat.
Sehubungan dengan telah terbitnya SK Rektor ITB no. 071/SK/K01/PP/2006, tertanggal 17 Maret 2006, tentang Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru ITB, maka secara resmi, setiap mahasiswa baru diterima menjadi mahasiswa fakultas/sekolah terlebih dahulu, sebelum akhirnya memilih salah satu program studi serumpun dalam fakultas/sekolah yang sama, pada awal tahun kedua.
Penempatan mahasiswa di salah satu program studi serumpun di fakultas/sekolah di ITB, dilakukan oleh ITB sebelum masa perkuliahan tahun kedua dilaksanakan, berdasarkan minat mahasiswa, kapasitas program studi yang bersangkutan, serta tergantung pada prestasi mahasiswa di tahun pertama perkuliahan, bila kapasitas program studi yang bersangkutan lebih kecil daripada jumlah mahasiswa yang memilih program studi tersebut. Kemungkinan bahwa seorang mahasiswa akhirnya dijuruskan pada program studi bukan pilihan utamanya dapat saja terjadi. Namun demikian karena pengelompokan program studi dalam suatu fakultas/sekolah didasarkan atas ekserumpunan dan kontekstualitas keilmuannya yang sama, maka perbedaan antara program studi yang satu dengan program studi yang lain dalam fakultas yang sama, tidak signifikan. ITB menyarankan agar calon mahasiswa mempelajari sistem penerimaan mahasiswa baru ini terlebih dahulu dan dapat membandingkannya dengan sistem yang diberlakukan di perguruan tinggi lainnya.
Sebagai informasi tambahan, pada kurikulum 2008, ITB mulai memperkenalkan mata kuliah Mayor dan mata kuliah Minor. Dengan demikian, mahasiswa dari suatu program studi dapat mengambil mata kuliah di program studi lainnya, dalam jumlah terbatas. Pendidikan di ITB lebih diarahkan pada pendidikan kesarjanaan yang memberikan penguasaan ilmu yang komprehensif disertai wawasan yang luas dibandingkan ke arah vokasional yang terfokus pada aplikasi suatu bidang keahlian saja.

KETENTUAN ITB PADA PELAKSANAAN SNMPTN 2013

Februari 20, 2013

http://usm.itb.ac.id/
KETENTUAN ITB PADA PELAKSANAAN SNMPTN 2013

Untuk tahun akademik 2013/2014, calon-calon mahasiswa yang secara akademik berpotensi tinggi dan akan mendapatkan ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas pada tahun 2013 (tahun ijazah 2013) dapat mengikuti seleksi untuk melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung melalui SNMPTN 2013. Ketentuan umum keikutsertaan pada SNMPTN 2013 dapat diperoleh di laman resmi panitia SNMPTN 2013 (http://snmptn.ac.id/). Calon mahasiswa dapat memilih fakultas/sekolah yang dikelompokkan berdasarkan latar belakang materi belajar calon mahasiswa sebagai berikut:

A. Calon mahasiswa yang berasal dari SMA IPA dapat memilih fakultas/sekolah berikut :

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), terdiri atas program studi :
Matematika
Fisika
Astronomi
Kimia
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), terdiri atas :
Program Sains, terdiri atas program studi :
Biologi
Mikrobiologi
Program Rekayasa, terdiri atas program studi :
Rekayasa Hayati
Rekayasa Pertanian
Rekayasa Kehutanan
Sekolah Farmasi (SF), terdiri atas program studi :
Sains dan Teknologi Farmasi
Farmasi Klinik dan Komunitas
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), terdiri atas program studi :
Teknik Geologi
Teknik Geodesi dan Geomatika
Meteorologi
Oseanografi
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), terdiri atas program studi :
Teknik Pertambangan
Teknik Perminyakan
Teknik Geofisika
Teknik Metalurgi
Fakultas Teknologi Industri (FTI), terdiri atas program studi :
Teknik Kimia
Teknik Fisika
Teknik Industri
Manajemen Rekayasa Industri
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), terdiri atas program studi :
Teknik Elektro
Teknik Tenaga Listrik
Teknik Telekomunikasi
Sistem dan Teknologi Informasi
Teknik Informatika
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), terdiri atas program studi :
Teknik Mesin
Aeronotika dan Astronotika
Teknik Material
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL), terdiri atas program studi :
Teknik Sipil
Teknik Lingkungan
Teknik Kelautan
Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air
Rekayasa Infrastruktur Lingkungan
Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), terdiri atas program studi :
Arsitektur
Perencanaan Wilayah dan Kota
B. Calon mahasiswa yang berasal dari SMA IPA atau SMA IPS dapat memilih :

Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM), terdiri atas program studi :
Manajemen
Kewirausahaan
C. Calon mahasiswa yang berasal dari SMA IPA, SMA IPS, atau SMK dapat memilih :

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), terdiri atas program studi :
Seni Rupa
Kria
Desain Interior
Desain Komunikasi Visual
Desain Produk
Khusus peminat Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), diharuskan mengunggah Portofolio Bidang Ilmu Seni Rupa pada pelaksanaan SNMPTN 2013, di laman http://snmptn.ac.id/ selama masa pendaftaran SNMPTN 2013, tanggal 1 Februari s.d. 8 Maret 2013. Informasi selengkapnya dapat diperoleh di laman http://www.snmptn.ac.id/portofolio.html.

Sehubungan dengan telah terbitnya SK Rektor ITB no. 071/SK/K01/PP/2006, tertanggal 17 Maret 2006, tentang Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru ITB, maka secara resmi, setiap mahasiswa baru diterima menjadi mahasiswa fakultas/sekolah terlebih dahulu, sebelum akhirnya memilih salah satu program studi serumpun dalam fakultas/sekolah yang sama, pada awal tahun kedua.

Saat ini, ITB memiliki 2 lokasi kampus, yaitu di Bandung (jl. Ganesa no. 10 Bandung) dan Jatinangor (jl. Winaya Mukti no. 1 Jatinangor). Kedua kampus ini telah siap untuk mendukung kegiatan perkuliahan para mahasiswa ITB.

Hingga saat ini, sebagian besar mahasiswa ITB masih melaksanakan kegiatan perkuliahan di Kampus ITB Ganesa. Namun demikian, karena keberadaan fasilitas pendukung untuk program studi Rekayasa Hayati, Rekayasa Pertanian, Rekayasa Kehutanan, Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air, Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, dan Kewirausahaan, lebih banyak berada di Kampus ITB Jatinangor, maka pada tahun kedua, mahasiswa yang mengambil program studi-program studi tersebut akan melakukan aktivitas perkuliahan di Kampus ITB Jatinangor.

Persyaratan yang harus dipenuhi calon mahasiswa yang berminat untuk melanjutkan pendidikannya di ITB meliputi hal-hal berikut:

Persyaratan tidak buta warna total maupun parsial, untuk Fakultas/Sekolah/Program Studi berikut :
Fakultas/Sekolah/Program Studi

Persyaratan

Keterangan

SITH

Tidak boleh buta warna total dan parsial

SF

Tidak boleh buta warna total dan parsial

FITB

Tidak boleh buta warna total

FTTM

Tidak boleh buta warna total dan parsial

FSRD

Tidak boleh buta warna total dan parsial

Kimia – FMIPA

Tidak boleh buta warna total dan parsial

Pada saat Penjurusan di ITB

Teknik Lingkungan – FTSL

Tidak boleh buta warna total dan parsial

Pada saat Penjurusan di ITB

Teknik Kimia – FTI

Tidak boleh buta warna total dan parsial

Pada saat Penjurusan di ITB

Bagi peserta seleksi yang dinyatakan lulus, wajib mengikuti kegiatan Program Pengembangan Karakter secara penuh, pada bulan Juni dan Juli 2013.
Calon mahasiswa yang dinyatakan lulus diminta hadir sendiri (tidak dapat diwakilkan) untuk melaksanakan Pendaftaran Awal dan Pendaftaran Program Pengembangan Karakter, pada tanggal 11 – 12 Juni 2013. Calon mahasiswa yang tidak hadir pada waktu tersebut, dianggap membatalkan kelulusannya di ITB dari SNMPTN 2013.
Kegiatan Program Pengembangan Karakter bagi peserta SNMPTN 2013, akan dimulai sejak pelaksanaan pendaftaran peserta, dengan jadwal yang akan diinformasikan kemudian.
Program Pengembangan Karakter akan berisi kegiatan yang berfungsi sebagai sarana Adaptasi, Pemetaan Potensi, Pembekalan Calon Mahasiswa, Pembinaan Karakter, dan Pengenalan Lingkungan Kampus bagi calon mahasiswa sebelum memulai kegiatan perkuliahan di ITB.
Calon peserta SNMPTN 2013 yang sejak awal hanya berminat untuk memilih Program Studi Astronomi (FMIPA), Rekayasa Pertanian (SITH-Program Rekayasa), Rekayasa Kehutanan (SITH-Program Rekayasa), Meteorologi (FITB), Oseanografi (FITB), Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (FTSL), Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (FTSL), dan/atau Kewirausahaan (SBM) akan dipertimbangkan untuk diterima langsung di program studi yang diminatinya, bila memenuhi kualifikasi akademik yang disyaratkan ITB. Untuk itu pemohon harus menyerahkan Formulir Pilihan Program Studi ITB paling lambat hari Minggu, 17 Maret 2013, pukul 15.30 WIB. Formulir yang telah diisi lengkap dikirimkan melalui kantor pos, faksimili, e-mail, atau diserahkan sendiri ke alamat:
Loket Direktorat Pendidikan ITB
Gd. CCAR ITB lt. 1, Jl. Tamansari no. 64 Bandung 40116
Telp./Fax. : 022-2508519
E-mail: usmitb@pusat.itb.ac.id

Ketentuan Pembiayaan

Ketentuan tentang biaya pendidikan di Institut Teknologi Bandung akan diinformasikan kemudian.

Beasiswa Bidikmisi

Ketentuan yang berlaku bagi peminat Beasiswa Bidikmisi pada pelaksanaan SNMPTN 2013 di ITB adalah sebagai berikut :

Peminat Beasiswa Bidikmisi tidak mendaftarakan diri ke PTN yang dituju. Pendaftaran dilaksanakan oleh sekolah siswa yang bersangkutan ke laman http://daftar.bidikmisi.dikti.go.id.
informasi selengkapnya mengenai proses keikutsertaan siswa di program Beasiswa Bidikmisi dapat diperoleh di laman http://bidikmisi.dikti.go.id.
Siswa yang telah terdaftar sebagai peserta program Beasiswa Bidikmisi di laman laman http://daftar.bidikmisi.dikti.go.id tetap harus mendaftarkan diri sebagai peserta SNMPTN 2013 di laman http://snmptn.ac.id.

Program Kemitraan Nusantara ITB

Sesuai dengan keputusan Jajaran Pimpinan Institut Teknologi Bandung, pada tahun 2013, ITB hanya menerima mahasiswa baru program sarjana melalui kegiatan SNMPTN 2013 dan SBMPTN 2013. Seleksi penerimaan mahasiswa baru tersebut dilaksakan secara nasional oleh suatu panitia terpusat yang diberi mandat oleh Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pada tahun 2013, ITB meniadakan program seleksi dan penerimaan mahasiswa baru melalui jalur Kemitraan Nusantara ITB (KN-ITB). Bagi calon mahasiswa yang berasal dari Perusahaan/Instansi/Pemerintah Daerah yang berminat untuk melanjutkan pendidikannya di ITB, dipersilakan untuk mengikuti SNMPTN 2013 dan/atau SBMPTN 2013.

Alamat Kontak

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi laman Penerimaan Mahasiswa Baru ITB 2013 atau alamat berikut :

Direktorat Pendidikan ITB
Gd. CCAR ITB lt. 4, Jl. Tamansari no. 64 Bandung 40116
Telp./Fax. : 022-2530689
E-mail: usmitb@pusat.itb.ac.id

Informasi mengenai pelaksanaan SNMPTN 2013 dapat diperoleh di laman http://snmptn.ac.id/