Baju batik dan sepatu dinas

Januari 11, 2013

Senin, 19 Oktober 1987, pagi pukul 05.15 WIB, ayah sibuk mencari baju batik diantara baju-baju yang tertata rapi hasil setrikaan ibu di lemari besar 3 pintu peninggalan nenek Tjia almarhum. Jangan lupa, sepatu hitam mengkilap hasil semiran saya dari kelas 1 SD, masih tetap menjadi kekaguman beliau. Usia beliau 57 tahun, masih gagah, walau pun hanya polisi dengan pangkat Kapten. Hari ini spesial, beliau diundang wali kelas untuk mengambil rapor bayangan di sekolah tercinta. Ayah orang selalu hadir ke sekolah apa pun undangannya. Saya sering mendengar kalimat yang beliau ucapkan saat masih kecil, “ayah bahagia nak, rajin belajar dan beri ayah kebanggan serta jaga kehormatan dirimu. Kamu harus lebih baik dari ayah.”

Saat mengambil rapor SD pertama kali, saat kelas 1 wali kelas saya bu Akmar memberikan banyak kata-kata ucapan selamat atas keberhasilan saya kepada ayah. Saat itu Ayah memakai pakaian dinas dan berkendara sepeda dari Polda Metro Jaya di Semanggi, menuju sekokahku di daerah Menteng. Setiap hari ayah bangga berkendara sepeda tersebut, Jl. Raya Cikini, Megaria, Diponegoro, Taman Surapati, Jl. Sudirman , Semangi dan Polda Metro. Padahal pada masa itu bus PPD nomor 11, 12 dan 13 tersedia di Megaria menuju Blok M atau Velbak. Ayah bangga dengan sepeda dinasnya. Tahun 1976 memang jalan-jalan di Jakarta tidak seramai sekarang ini.

Tepat jam 07.00 WIB, ayah terlihat sampai di SMA tercinta. Undangan ke orang tua memang terbatas. Hanya beberapa orang tua siswa, ada 7 orang tua yang sudah tampak hadir di ruang guru. Saya mengintip dari jendela samping piket, tampak ayah duduk tenang dengan pakaian batik parang. Sudah 2 tahun ini ayah tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, boleh jadi karena hasil laboratorium tentang penyakit beliau membuat ayah tidak aktif berbicara seperti tahun-tahun sebelumnya. Kanker paru-paru yang di derita baru terasa pada usia tersebut, walau pun rokok telah berhasil beliau hentikan dari kebiasaanya saat bermain catur dengan pak Simamora di gedung karang taruna kelurahan. Saya selalu menemani beliau bermain catur dari pukul 21.00 hingga larut malam, dan rokok Kansas selalu tersedia di meja.

Hari itu menjadi hari yang paling tidak bisa saya lupakan. Saat bertemu ayah di lapangan olah raga dengan 8 buah pohon palem kebanggaan sekolah, saya menghilangkan kebanggaan ayah. Ada 5 ulangan harian saya mempunyai nilai di bawah 6,0, berwarna merah dan menjadi kotoran hitam yang saya balurkan di muka ayah. Sorot mata ayah tajam dan rasanya beliau akan marah sekali. Saya yang masih mengenakan pakaian olah raga amat gemetar. Pak Warno guru olah raga, melihat saya juga dengan muka tanpa senyumnya. Wah parah ini. Saya memang sudah tahu, bahwa siswa yang mendapat nilai harian merah lebih dari 3 orang tuanya akan dipanggil sekolah.
Ayah menjabat tangan Pak Warno dan mengajak beliau menjauh dari saya. Mereka tampak dalam pembicaraan yang serius. Sesekali saya mencuri pandang, ternyata ayah mulai tersenyum dan tertawa-tawa kecil dengan guruku tersebut. Hmhmhm,… semoga pertanda baik. Selepas pembicaraan tersebut, ayah memanggil saya. Saya ingat sekali ketika tangan tua itu memegang pundak siswa yang mempunyai berat 41 kg dengan tinggi 148 cm, dengan lemah lembut. Ayah tersenyum dengan sedikit terbatuk,”Nak ayah pulang ya,… Ayah tetap bangga. Lebih rajin belajar dan jangan ulangi kesalahan yang sama.” Sebuah pelukan hangat ayah saya dapatkan di pagi itu, diantara pepohonan palem dan pandangan teman-teman kelas Doo fi du (dua fisika dua).

Tembok sekolah yang hanya setengah meter di tambah besi-besi yang hanya satu meteran, tidak dapat menghalangi pandangan saya melihat Ayah menaiki Metro Mini S 60, Kampung Melayu – Manggarai. Setelan batik tua masih pantas beliau kenakan untuk mengambil rapor bayangan saya yang punya 5 nilai merah.

Bagian kenangan ini saya ambil dari buku harian. Hanya karena terusik ketika beberapa hari yang lalu ada orang tua siswa yang bertandang ke sekolah untuk mengambil rapor. Rapor semester ganjil seharusnya diambil 3 minggu yang lalu, mungkin karena kesibukan orang tua tersebut, sehingga baru sempat sekarang ini. Celana jeans, kaos oblong dan sendal kulit menemani orang tua tersebut berkunjung ke sekolah, tempat dimana anak kandungnya dititipkan kepada para guru. Orang tua tersebut melintas di depan meja saya, … srrrrr wessss…. Sungguh saya kaget.

”Pak Wangsa,… kok orang itu seperti itu ya ?”. Jawab saya,…”hmhmhm.. mungkin di rumahnya nggak ada batik parang dan sepatu dinas polisi, bu..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: