Ketua IGI: Mendiknas Salah Memahami….

Desember 3, 2010

Jumat, 3 Desember 2010 | 14:50 WIB
DHONI SETIAWAN/KOMPAS.com
Ilustrasi: Salah besar jika UN model Indonesia bisa diterapkan di AS, terutama untuk menentukan kelulusan anak-anak didik.

JAKARTA, KOMPAS.com – Terlihat ada kesalahpahaman dari pernyataan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) dalam memahami artikel tentang ujian nasional (UN) berjudul Bursting the Bubble Tests di situs Kementrian Pendidikan Nasional Amerika Serikat (AS). Salah besar jika UN model Indonesia bisa diterapkan di AS, terutama untuk menentukan kelulusan anak-anak didik.
Di negara-negara maju seperti AS, Australia, New Zealand, dan China tidak ada UN yang diterapkan pada semua siswa di semua negara bagian mereka.
— Satria Dharma

Demikian dituturkan Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma melalui surat elektronik pada diskusi di sebuah mailing list pendidikan, Jumat (3/12/21010). Terkait hal itu, Satria mengaku sudah menyampaikan kesalahpahaman tersebut secara langsung ke staf ahli Mendiknas.

Dalam emailnya Satria mengatakan sudah mengkopi ulang potongan kalimat penting di situs http://www.ed.gov/blog/2010/09 yang dimaksud, yaitu, “What’s unique about the Race to the Top assessment grants is who gets them –not individual states, but large coalitions of states that willwork together to develop common assessments measuring college and career readiness”.

“Jadi, common assessments ini dianggap semacam ujian nasional (UN) yang sama dengan yang kita lakukan saat ini,” kata Satria.

Dia mengatakan, UN di Indonesia tidak perlu diterapkan di seluruh Indonesia atau berskala nasional. UN hanya bisa dilakukan pada daerah-daerah yang telah mampu menerapkan semua standar nasional yang perlu diuji dengan sebuah ujian nasional.

“Sekolah-sekolah yang belum bisa menerapkan ke delapan standar pelayanan minimum pendidikan tentu tidak perlu diuji dengan sebuah ujian yang berstandar nasional. Ujian yang berstandar nasional semestinya hanya boleh diberikan jika instrumen masukan dan proses pendidikannya sudah berstandar nasional juga,” tegas Satria.

Jika instrumen masukan dan proses yang diberikan tidak berstandar nasional, lanjut Satria, maka mengukurnya dengan sebuah UN adalah kesalahan fatal. Menjadikannya sebagai syarat kelulusan adalah sebuah kekejaman dan ketidakadilan bagi peserta didik yang tidak memperoleh pelayanan pendidikan berstandar nasional.

“Di negara-negara maju dan besar seperti Amerika Serikat, Australia, New Zealand, dan China tidak ujian nasional (UN) yang diterapkan pada semua siswa di semua negara bagian mereka. Negara dengan kualitas pendidikan terbaik seperti Finlandia malah tidak punya UN dan kelulusan siswa mereka ditentukan oleh sekolah masing-masing,” kata Satria.

Diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Senin (30/11/2010), Pernyataan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh ihwal ujian nasional (UN) model Indonesia sangat penting dilaksanakan di Amerika Serikat (AS) dinilai menyesatkan oleh para pemerhati pendidikan. Menurut Mendiknas, berdasarkan sebuah situs di AS dijelaskan, bahwa untuk melakukan revolusi pendidikan, UN di AS sangat penting dilaksanakan.

“Pernyataan Bapak Nuh, bahwa UN di AS diperlukan, itu sangat menyesatkan. Tolong Mendiknas membaca langsung situs yang dia maksud. Patut diduga beliau hanya mendapat bisikan orang-orang terdekatnya untuk menjustifikasi atau mencari alasan agar UN di Indonesia tetap berjalan,” tegas Heru Widiatmo, pemerhati pendidikan yang kini menjadi peneliti di American College Testing, AS, lewat surat elektronik yang dikirimkannya di sebuah diskusi mailing list pendidikan, Jumat (3/12/2010).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: