belum ada judul

Desember 1, 2010

Pagi itu pak Raldi, pegawai BUMN, sedang bersiap ke kantor. Jas hitam kulit buatan Italia yang konon katanya anti peluru tersebut telah menutupi seragan dinas harian Bea Cukai Tanjungpriuk. Sudah hampir 20 tahun, dia menekuni pekerjaan arus masuk barang dari luar, memeriksa dokumen dan memverifikasi isi container, bahkan membuka pengaman jika memang dirasakan perlu. Perjuangan panjang untuk nmendapatkan jabatan ini. Inilah puncak karirnya. Karirnya melesat secemerlang tingkat kemakmurannya. Bayangkan saja, dari Vespa Piagio tua, Katana GX, hingga Blazzer berwarna hitam metallic mampu dia raih. Ketiga putranya pun menikmati rumah mewah di bilangan Kayu Putih Jakarta Timur.
“Pak Setyo,…. Ayo kita berangkat,” suara serak basah berwibawa pak Raldi mengagetkan sang supir tua yang amat setia, Setyo Putranto. Di usia yang senja Setyo Putranto adalah contoh pegawai rumahan yang amat baik. Tidak ada dalam kamus hidupnya menolak permintaan seseorang, amat menjaga rahasia dan kesetiaan amat menjadi pilihan hidupnya, sesuai namanya : Setyo. Supir tua itu membenahi semua perlengkapan, mencuci tangannya, menstarter mobil, menghidupkan AC, mencoba pedal rem, sesekali memencet knop wifer, merupaka pekerjaan rutinitas. Jangan kaget, pagi tadi pun sebelum mencuci mobil dia telah melakukan hal yang sama. Menurut pak Setyo suatu hari,” hanya untuk jaga-jaga kalau tidak berfungsi.”
Sang istri yang cantik telah membuahi 3 putra yang tampan dan cerdas, berpretasi di sekolah dan masyarakat. Hilma, sang istri, seorang ibu yang menjadi pendidik di rumah walau pun hanya seorang lulusan SMA terpencil nun jauh di Selatan Jogyakarta. Pembawaan yang lemah lembut dan sederhana sering menjadi bahan pembicaraan ibu-ibu di arisan warga. Mungkin Jogya telah membuat Hilma sedemikian tepo saliro-nya, nrimo-nya akan semua kejadian-kejadian yang Allah berikan. Dua tiga tahun berumah tangga dengan pak Raldi yang sedemikian optimis dalam hidup, selalu berjuang pantang menyerah dan amat menyanyangi keluarga. Sebuah kebahagian untuk semua wanita di dunia ini.
Sore hari, sebelum maghrib bergema, pak Raldy pulang membawa oleh-oleh. Sesuatu yang pak Raldy lakukan di 3 tahun terakhir ini. Buah tangan selalu menjadi harapan keluarga di rumah. Hilma pun bahagia, buah-buah segar kesukaannya selalu mengiringi makan malam keluarga. Kalau tidak mangga harumanis, pisang raja, atau jeruk medan acapkali menutup makan malam. Tapi hari ini berbeda, pak Raldi memenuhi mobilnya dengan barang-barang elektronik terbaru, TV LCD 31 inch sebanyak 3 buah, DVD Phillips versi terbaru, serta BB sebanyak 5 buah menjadi buah tangan terbesar dalam tahun-tahun terakhir. Semua itu untuk keluarga.
Hilma mencium mesra sang suami, menerima barang-barang tersebut. Apalagi sang putra terbungsu akan mengadakan ulang tahun. Sebuah kebahagian tentunya melihat keluarga dan anak-anak bahagia. Menu makan malam ini pun berbeda. Rumah Makan Padang Sederhana Lapangan Ros Tebet menjadi tempat pak Raldi untuk mendapatkan menu malam ini. Gulai kepala Kakap, Ayam pop, Udang goreng sambel, Ikan kembung bakar, ayam panggang dan tentunya sambel hijau teri medan. Meja makan penuh makanan khas Padang. Lima anggota keluarga ini dengan santapnya memakan makanan tersebut. Bi Oya yang selalu membantu di rumah itu, tampak sibuk menyiapkan buah, cucian tangan, serbet dan lainnya. Ada orang yang membantu keluarga Pak Raldi, ada pak Setyo yang supir, ada Bi Oya yang memasak dan mempersiapkan pakaian, dan Mbak Dima yang mengepel, nyetrika dan taman rumah.
Tepat pukul 20.00 WIB, keluarga Pak Raldi menuju ruang keluarga. Biasanya keluarga ini bersenda gurau menceritakan kejadian atau pengalaman hari ini. Malam itu Pak Raldi benar-benar menjadi bintang pembicaraan. Kebahagian terpancar dari matanya. Kelelahan hari ini telah terpuasi oleh hasil yang didapat. Ruang Keluraga pak Raldi luas dan berdiding kaca hampir 100%, sehingga bisa melihat semua taman dan jalan ke pintu masuk rumah. Kelima anak beranak pinak ini, sesaat berhenti tertawa karena melihat pak Setyo dengan tergopoh-gopohnya keluar dari pintu dapur dan berlari secepat kilat menuju sepeda tua. Selama ini memang pak Setyo selalu menggunakan sepeda itu untuk moda transportasi dari rumahnya ke rumah Pak Raldi. Keluarga ini kaget, kenapa pak Setyo amat tergopoh-gopoh. Pak Raldi dan keluarga curiga. Tanpa menanyakan ke Bi Oya atau Mbak Dima, pak Raldi memiunta Angga untuk mencari tahu. Angga sebagai putra pertama keluarga tersebut, dengan mengendarai Honda Astrea berusaha mengejar sepeda tua pak Setyo. Kecurigaan Angga semakin menjadi, apalagi pak Setyo memasuki kawasan perkampungan yang sulit untuk motor melaju cepat. Angga gagal mencapai rumah tersebut.
Keringat yang mengucur, menemani kekesalan dan kegagalan tersebut. Angga menceritakan setiap detik dan momen kejadian, dengan sedetil-detilnya, termasuk kekgagalannya menegetahui dimana rumah pak Setyo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: