Archive for Oktober, 2010

LPTJ OSIS 45 Periode 2009/2010

Oktober 30, 2010

Akhirnya tunai juga kegiatan OSIS SMA Negeri 8 Jakarta, periode berganti dengan rancangan, kegiatan dan tentunya tantangan yang baru pula.PO 45

Susunan Pengurus OSIS XLVI SMA NEGERI 8 JAKARTA

Oktober 29, 2010

Susunan Pengurus OSIS XLVI
Ketua Perwakilan Kelas : Gifari Rahmat Alif XI IPA C
Ketua Penguurus OSIS : Sahilaushafnur Rosyadi XI IPA D
Subsie Rohani Islam : Muhammad DEvakto Ibnu Nur Fahmi XI IPA G
Subsie Rohani Kristen : Syalomitha Dimitry XI IPA B
Subsie Rohani Katolik : Theodorus Adrian XI IPS
Subsie Upacara : Satrio Amarela XI IPA E
Subsie Puapala : M. Irfani Nur Azza XI IPA A
Subsie Pramuka : Faisal Dimas Raditya Putra XI IPA A
Subsie Kemasyarakatan : Dhear Prima Putri Ayudianti XI IPA B
Subsie Media SIswa : Oddy Pradityo XI IPA F
Subsie Teksound : Fariskhi Vidyan XI IPA G
Subsie Koperasi : Fatira Ratri Audita XI IPA C
Subsie Sains dan Pepustakaan : Dwiriandra Rhesa Ghani XI IPA A
Subsie Olah raga : Kevin Rizky Putra XI IPA E
Subsie PMR : Nadia Fadila Irfani XI IPA A
Subsie Kesenian : Dannisworo Sudarmo XI IPA H

Demikianlah nama-nama pengurus osis SMA Negeri 8 Jakarta periode 46 atau 2010-0211

.: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika – BMKG :.

Oktober 27, 2010

.: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika – BMKG :..

Syukuran IA-SMANDEL

Oktober 26, 2010

Teman-teman tercinta,
Kami mengundang seluruh alumni Smandel / Smundel Jakarta untuk ikut serta dalam acara syukuran 1 tahun terbentuknya IA-Smandel Jakarta.
Kehadiran teman-teman sekalian sangat kami tunggu dan harapkan. Jangan lupa catat tanggalnya, Sabtu 30 Oktober 2010, jam 10.00. Bertempat di SMAN 8, jalan Taman Bukit Duri, Jakarta Selatan. Atas perhatian, partisipasi dan doa teman-teman semua, kami ucapkan banyak terimakasih.
RSVP silahkan klik link dibawah ini :
http://www.facebook.com/event.php?eid=136455209737111

Sekjend IA-Smandel
Adam Sudhiarto
(Smandel 80)

0sama, 0bama, 0lala

Oktober 20, 2010

Oleh: Gede Prama *

Mungkin sudah jadi kebiasaan tua manusia untuk bikin stigma. Bila orang terlihat cocok dengan kriteria, ia disebut baik. Tatkala tidak cocok, buruk judulnya. Perang, pertempuran, pertengkaran, semuanya bermula dari sini. Yang disebut baik jadi kawan, yang disebut munafik jadi lawan.

Padahal, dari segi yang bersangkutan lain lagi. Teroris dan orang-orang seperti 0sama bin Laden sebagai contoh juga menyebut dirinya baik. Bahkan, ada yang menyebut diri sedang berperang membela Tuhan.

0rang-orang yang dinobatkan dunia sebagai orang baik (Presiden Amerika Serikat Barack 0bama sebagai contoh karena diberi hadiah Nobel Perdamaian), jangan-jangan memiliki keraguan, apakah layak disebut baik. Buktinya, ia perlu waktu lama untuk memutuskan mengirim pasukan ke Afganistan atau tidak. Dan ujungnya semua sudah tahu, ribuan tentara dengan tidak terhitung senjata dimasukkan ke Afganistan.

Perhatikan percakapan keseharian orang Indonesia beberapa tahun terakhir. Dari cicak-buaya, Century, sampai dengan makelar kasus (markus). Mana berita mana cerita rekayasa, mana wacana mana propaganda, mana hasil penelitian mana rekayasa penjualan, semuanya campur aduk. Bagi yang sentimen akan menyebut mafialah yang melakukan, bagi yang diuntungkan akan mengatakan semuanya baik-baik saja. Ini tidak saja terjadi di negara berkembang, bahkan negara yang telah mengenal peradaban lebih dulu, seperti Inggris (sebagaimana ditulis Norman Fairclough dalam Discourse and social change), juga mengalami.

Begitulah dunia dan dinamikanya. Kalau dalam geografi berlaku rumus bentuk wilayah menentukan bentuk peta, dalam kehidupan manusia (tanpa disadari sepenuhnya) berlaku rumus sebaliknya: peta (cara memandang) menentukan bentuk wilayah yang dilihat (pemahaman).

Kehidupan nyanyian

Karena tahu bahaya dikacaukan pikiran, penekun kejernihan memilih terserap dalam-dalam (menyatu) dengan kekinian, kemudian mendengarkan kehidupan sebagai nyanyian (“0lala”). Nyanyian kehidupan serupa langit, ada saatnya terang benderang cerah bercahaya (baca: bersih jernih). Ada kala kelam ditutupi awan gelap (kesedihan). Di waktu lain, langit dibungkus awan putih (kebahagiaan) . Namun, awan gelap tak membuat langit jadi hitam. Awan putih tak membuat langit jadi putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru. Dalam meditasi, ini disebut pencerahan.

Ciri pertama, batin sudah bangun dari tidur panjang (the awakened mind). Terlalu lama batin tidur lelap bersama gonjang-ganjing pikiran. Seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan. Ciri kedua, muncul rasa lapar untuk berbakti kepada yang di atas (devotion), serta berbagi welas asih kepada semua makhluk (infinite compassion). Bagi yang telah sampai di sini mengerti, kebahagiaan tak melakukan penambahan, kesedihan tak melakukan pengurangan. Demi kasih sayang kepada semua makhluk, nyanyian suci kehidupan tetap harus didendangkan.

Jalalludin Rumi punya puisi bagus sekali: “Kehidupan serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Tapi siapa pun tamunya, jangan lupa selalu tersenyum”. Thich Nhat Hanh menyebut keadaan batin seperti ini present moment wonderful moment. Bila manusia kebanyakan hanya berbahagia jika menjadi majikan, Santo Fransiscus dari Asisi justru damai tatkala menjadi pelayan. Dalam bahasa kebanyakan, orang-orang seperti ini disebut “berkorban”. Namun, bagi yang melaksanakan, mereka merasa damai sekali menjaga keseimbangan alam. Kadang disebut menyatu dengan nyanyian alam. Di tengah miliaran manusia yang hanya mau menang, harus ada yang mengambil kekalahan. Dalam arus zaman yang mengagungkan kemewahan, harus ada yang mengenakan baju kesederhanaan. Ketika kehidupan bergejolak seperti samudra keriuhan, mesti ada yang istirahat dalam keheningan.

Inti jalan ini hanya satu, melihat, melakoni, mengakhiri kehidupan dengan keindahan. Inilah kehidupan sebagai kidung (nyanyian) suci. Dalam bahasa orang Hindu, ia disebut Satchittananda. Siapa saja yang senantiasa terserap jadi satu ke dalam kekinian, ia akan melihat keindahan di mana-mana.

Makanya tetua Jawa (ditiru tetua Bali) di pekarangan rumahnya sering menanam sawo kecik. Dalam bahasa Bali diterjemahkan menjadi sarwa becik (semuanya baik). Harapannya agar setiap manusia yang bertumbuh di rumah bisa melihat bahwa semuanya baik. Karena demikianlah, orang-orang yang memperlakukan kehidupan sebagai nyanyian suci mengisi kesehariannya dengan praktik kesadaran dan keindahan. Bangun tidur sebagai contoh, dimulai dengan bergumam pelan: “Hidup adalah sebuah pilihan lengkap dengan konsekuensinya. Bila memilih kemarahan, penderitaan akibatnya. Jika mengisi kehidupan dengan welas asih, maka kebahagiaan hadiahnya”.

Membuka pintu sebagai contoh lain, kelompok ini akan melafalkan renungan: “Pikiran berisi terlalu banyak burung riuh bernyanyi. Tuhan ditabrakkan dengan setan, orang baik dimusuhkan dengan orang munafik. Dengan membuka pintu ini, biarlah burung-burung riuh itu lepas ke angkasa. Menyisakan batin sunyi-sepi yang menyentuh hati”. Bila dilanda sial, ia akan memanggil guru di dalam diri: “Guru terima kasih terus-menerus membimbing. Dalam sukacita guru sedang memotivasi. Dalam dukacita guru sedang mengajarkan untuk selalu rendah hati”.

Dalam kehidupan yang diisi praktik kesadaran mendalam, semua tempat jadi tempat suci. Semua suara (termasuk pujian dan cacian) jadi mantra suci. Semua ciptaan jadi makhluk suci.

Sebagai hasil dari praktik mendalam seperti ini, manusia tak saja bisa tersenyum dengan bibir, juga bisa tersenyum dengan mata (baca: memandang semua dengan senyuman). Kadang ada yang menyebutnya memandang kehidupan dengan pandangan mendalam karena penuh pengertian dan permakluman. Hidup sesungguhnya serangkaian kidung suci. Cuma, semakin lama semakin sedikit yang menyanyikan kidung suci kehidupan. Dan di tengah hamparan samudra tangisan di mana-mana (bencana alam, bom teroris, bunuh diri, kriminalitas, korupsi, dan lain-lain), alangkah menyejukkan bila sebagian pojokan kehidupan mendendangkan nyanyian.

*) Gede Prama, Penulis Buku Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering into the Ultimate Healing

“Anakmu bukan anakmu“

Oktober 20, 2010

Khalil Gibran dalam ‘Sang Nabi’

Di satu ruko di pinggir Jakarta, seorang gadis tengah asyik menggesek biola. Tangan dan jari-jarinya belumlah sempurna memencet senar biolanya. Pantat biola sering jatuh dari pundaknya yang kecil. Maklum, usianya masih belum jauh berangkat dari angka lima. Namun dia senang tiada kepalang.

Sang ibunda mengambil kamera berponsel. Bunyi ngak-ngik-ngok menggempur telinga. Agak tidak beraturan nadanya. Namun si ibu senang dengan aksi anaknya di tempat kursus musik itu. Dia merekam aksi anak sulungnya selama tiga menit lewat sedikit. Yah, hampir tiga setengah menitlah. ”Ayah pasti senang,” katanya dengan tersenyum. Bangga sekali.

Nun jauh di timur Pulau Jawa. Ratusan kilometer dari Ibu Kota. Video berdurasi tiga setengah menit juga dibuat seseorang dan diunggah ke situs youtube.com. Isinya, sama-sama bocah. Tapi dia bukan bocah manis. Mulutnya disumpal sebatang rokok yang terus menyala dan omongannya itu lho, ampun, kasar dan vulgar.

Entah apa yang ada di benak si perekam dan mengunggahnya di situs video youtube.com. Jelas dia tidak sedang ingin bercanda dengan hasil rekaman video singkat itu. Namun, mungkin juga ia tidak pernah berpikir gambar hasil rekamannya itu dimaksudkan untuk memotret kelamnya sebuah negeri. 3,29 menit berlalu, negeri ini pun geger.

Berbagai berita mengabarkan tentang anak ini. Dia hidup bersama ibunya yang depresi dan tumbuh di lingkungan yang tidak bagus untuk pertumbuhannya. Kabarnya, Komnas Perlindungan Anak mendapatkan laporan sekitar 10 kasus serupa. Tapi itu mungkin yang ketahuan. Yang tidak dilaporkan?

Bisa jadi lebih. Lihatlah ke jalan-jalan. Saat berhenti di lampu merah, anak-anak yang baru berusia tiga hingga lima tahun sudah berada di sana dengan menengadah tangan, mengetuk-ngetuk jendela mobil. Sungguh pemandangan yang mengibakan.

Bocah-bocah ini tidak punya kesempatan belajar menggesek biola. Jangankan itu, untuk makan saja mereka terpaksa atau mungkin dipaksa untuk turun ke jalan. Ingus mereka belumlah kering, tapi mereka sudah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang.

Anak-anak adalah masa depan bangsa ini. Merekalah penerus negeri ini. Mereka yang kurang beruntung sejatinya menjadi urusan negara. Karena undang-undang memang mengamanahkan demikian. Namun kita semua tahu, negara ini terlalu banyak urusan yang harus ditangani.

Kita tentu bersyukur banyak orang-orang yang peduli dengan nasib buruk yang menimpa anak-anak itu. Sedikit uluran tangan pasti membantu anak-anak yang malang ini terhindar dari masalah besar. Anda pun dapat membantu mereka. Sesuai kemampuan Anda.

Tapi, bila kita tidak mampu melakukan itu, cukuplah menjaga anak-anak kita sendiri. Keluarga kita sendiri. Menghentikan semua urusan pekerjaan saat akhir pekan datang. Lalu membenamkan atau bahkan menjadi seperti diri mereka akan sangat menghilangkan kepenatan selama sepekan penuh. Jadi tak perlu ke tukang pijat.

Keluarga merupakan perhiasan yang sangat berharga. Anak-anak adalah permata yang makin membuatnya indah. Terlalu merugi untuk diabaikan.

*) Sonny Wibisono, penulis buku ‘Message of Monday’, PT Elex Media
Komputindo, 2009

Baksos TeSIS 2010 Desa Situraja Utara Sumedang

Oktober 19, 2010

Walau tidak hingar bingar, akhirnya baksos saat TeSIS tetap dapat dijalankan. Waktu yang singkat membuat bentuk baksos menjadi berbeda, untuk tahun ini SMA Negeri 8 Jakarta melalui Panitia TeSIS menyerah 20 unit komputer kepada Kepala Desa Situraja Utara. Komputer tersebut adalah komputer di ruang MGMP dan Lab Kom SMA Negeri 8 yang baru saja diremajakan. Semoga bermanfaat .

Ada pun distribusi komputer tersebut adalah :
1. Kantor Desa Situraja Utara : 3 Unit
2. SD Bk Bandung : 4 Unit
3. SD Pakemitan : 4 Unit
4. Karang Taruna Geulis : 2 Unit
5. TK PGRI : 1 Unit
6. TPA Pak Edi : 1 Unit
7. TPA Pak Agus : 1 Unit
8. Puskesmas : 1 Unit
9. Polsek : 1 Unit
10. Kantor Kecamatan : 1 Unit
11. PAUD : 1 Unit
Jumlah 20 Unit

Manjurkah 3 Opsi Perbaikan UN dari DPR?

Oktober 18, 2010

Jumat, 15 Oktober 2010 | 23:36 WIB

DHONI SETIAWAN/KOMPAS.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Panitia Kerja Ujian Nasional (UN) DPR RI menawarkan tiga opsi terkait banyaknya kelemahan pada pelaksanaan UN tahun lalu. Ketiga opsi tersebut diharapkan bisa dijadikan solusi untuk mengatasi titik-titik lemah tersebut.

Dipaparkan oleh Ketua Panja UN Rully Chairul Azwar dalam Lokakarya Ujian Nasional, di Jakarta, Jumat (15/10/2010), opsi pertama tersebut adalah, UN tetap berjalan seperti tahun lalu dengan fungsi sebagai penentu kelulusan siswa dan untuk pemetaan standar mutu pendidikan di Indonesia.

“Opsi kedua, UN tetap berjalan seperti saat ini dengan syarat penyempurnaan terhadap beberapa hal. Kita harus mencari formula terbaik UN sesuai fungsinya sebagai penentu kelulusan dan metode pemetaan mutu pendidikan nasional,” imbuh Wakil Ketua Komisi X DPR RI ini.

Opsi ketiga, lanjut dia, UN dapat dilanjutkan hanya sebagai sarana pemetaan standar mutu satuan pendidikan di tanah air. Artinya, UN tidak lagi menjadi penentu syarat kelulusan.

“Opsi terbaik harus memenuhi beberapa faktor, yaitu rasa keadilan, mengatasi kecurangan, meningkatkan standar mutu satuan pendidikan dan standar mutu pendidikan di tanah air, serta mengurangi resistensi masyarakat akibat berbagai kelemahan dari penyelenggaraan UN,” ucap Rully.

Diberitakan sebelumnya, Rully mengungkapkan, Panja UN DPR RI menyatakan telah menemukan sejumlah kelemahan pelaksanaan evaluasi akhir siswa tersebut. Kelemahan tersebut di antaranya terkait standar mutu yang belum merata antarsatuan pendidikan sehingga tidak adil jika UN dilakukan dalam kondisi belum seragamnya mutu pendidikan.

“Evaluasi akhir belajar bagi siswa SMP/Mts, SMA/MA, SMA Luar Biasa dan SMK tidak dilaksanakan secara serentak dan diseragamkan antara satu daerah dan daerah lain, karena masih ditemukan sejumlah kelemahan dalam pelaksanaannya,” kata Rully.

Koran edisi Kedua TeSIS 2010 Situraja Utara Sumedang

Oktober 17, 2010

Hari Pertama
Pagi ini suasana amat berbeda, karena kesibukan akan menjadi terakumlasi. Subuh saat bangun, beberapa guru mulai sibuk. Rancangan semalam telah menyepakati beberapa hal. Pembagian tugas telah diberikan. Hasilnya jam 9 harus sudah selesai semua persiapan di Posko.
Jam 7 hingga 8 ”keributan” di posko kembali terjadi. Memang hal yang sepele. Tetapi kalimat dari megaphone mesjid cukup jelas, ”bapak-ibu karena sesuatu hal, pam desa tidak berfungsi.” Maka semua meneriakan kalimat,…….. cepat mandinya ! Keluarlah kalimat dari dalam WC,….. iya sabar. Hehehhehee
Berangakatlah miss Desi, frau Kiki dan mas Hakim menuju Rumah Makan Ponyo untuk mempersiapkan makan siang peserta. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah posisi untuk droping makanan, dari hari pertama datang ke Sumedangm tim pendahulu bingung menentukan lokasi droping. Rumah makan Ponyo tidak mempunyai ruang parkir yang memadaim jalan terlalu sempit dan ada kalimat : tidak boleh ada konvoy. Jumlah bus yang sepuluh buah tentunya akan menjadi masalah. Kami memutuskan Terminal Bayangan Jatinangor, tepatnya di depan Universitas Padjajaran. Aman, hati mulai legah.
Komunikasi dengan teman-teman di Jakarta berjalan lancar. Jam 07.00 beberapa panitia di telpon,…. semuanya silence,… ada apa yaa. Ternyata lagi uacara dan berdoa. Semoga perjalana lancar dan tidak ada kendala yang berarti.
Jam menunjukan pukul 09.15 ada berita, masih ada di KM 57 dan berjalan lancar. Kami tim pendahulu berkoordinasi dengan panitia lokal tentang beberapa perubahan menu acara. Diharapkan sekitar pukul 13.00 semua kendaraan telah hadir semua, sehingga acara dapat berjalan dengan lancar. Kami mulai mengechek kesiapan perlengkapan yang akan digunakan di Alun-alun Situraja. Batere dipersiapakan. Panitia lokal juga sibuk mempersiapkan beberapa hal. Terutama tentang tas peserta TeSIS dan cara mengangkutnya ke Rumah Hunian Peserta. Jumlah rumah yang terpakai 74 buah, tersebar di 9 RW, terbanyak di RW 2 ada 12 rumah, sementara RW 9 menjadi RW yang paling sedikit, hanya dengan 3 rumah dan memang nun jauh di ujung sana,….. jauh banget,… tetapi masih berbendera Indonesia. Jadi ingat ke pernikahan miss Lolo, ada guru yang sampai 7 kali bertanya sama warga kampung untuk menuju lokasi. Bahkan ada guru-guru yang berujar,… hmmmm disana masih bendera Indonesiakah yang berkibar…?
Entah siapa yang membuat kehebohan pertama. Saat jam menunjukkan pukul 09.55 ada SMS : baru keluar Tol Cileunyi…… Waduh sontakpanitia di Posko kaget semua, apakah sedemikian sepinya jalan tol ? Atau para supir bus menggunakan kendaraan BOURAQ, sehingga bisa lompat jarak,.. hmmmm patut diteliti.
Akhirnya terjawab. Baru masuk Tol Cileunyi. Pak Edi datang dengan barang bawaan banyak sekali. Ada tempat pensil warna warni, pensil, penghapus, pensil otomatik, sekitar 100 buah per bagiannya. Perintah beliau singkat. Tolong yaa dibantu memasukan semua bagian ke dalam kotak. Maka kami yang ada di posko, berubah menjadi sentra produksi, pak Edi membuka tempat pensil, Irfan memasukan pulpen, saya memasukan pensil otomatik, mas Darmin memasukan pensil biasa dan penghapus, dan mas Wasam yang menutup tempat pensil dan mengaturnya. Hadiah yang tidak seberapa ini Panitia siapkan untuk para penari umbul yang terdiri dari 100 siswa SD, yang akan menyambut peserta di depan Balai desa. Semoga pemberian ini dapat diterima para siswa tersebut.
Kabar gembira kembali membuat kami sejuk dan bangga. Ada 20 komputer yang akan disumbangkan untuk Desa Situraja Utara dari pihak sekolah. Alhamdulillah, subhanallah. Ayo para siswa apa yang bisa kalian berikan buat desa ini…. Ingat : tinggalkan kenangan yang baik dan bermanfaat, buan dengan perbuatan yang akan dikenang sebagai keburukan….. SMS masuk lagi,…. Bus sudah menunggu di Terminal Bayangan, tetapi makanan belum datang. Kami kembali dalam tekanan, amat tertekan. Ternyata tim droping makanan belum sampai,… frau Kiki tidak bisa dihubungi,… waduh.. tekanan demi tekanan,… sing sabar yaaa teman-teman. Saat miss Desi telepon,… beritanya parah : kayakhnya bus nabrak orang ! Gubrak, saya, pak Edi dan Irfan terdiam. Saat itu kami sudah ada di alun-alun,…. yaaa Allah cobaan apalagi… Untungnya datang sms berikutnya, menyenangkan. Walau siangnya pak Roni memberik klarifikasi.
Kembali beberapa jam sebelumnya. Saat memberikan hadiah untuk para siswa yang akan menyambut kita, sang pelatih tari sedemikian tersentuhnya, padahal hanyalah perlengkapan tulis yang amat murah sekali untuk kita warga SMA Negeri 8. Bahkan pak Edi melihat butiran air mata sang pelatih tersebut, jatuh mengalir di wajah yang berusaha tersenyum dan menerima dengan ucapan syukur yang setnggi-tingginya. Wah ini juga keterlaluan yaaa,… emangnya pak Edi setinggi apa….nggak sampai 160 cm khan… Pelajaran berharga, bukan nilai sesuatu yang kita berikan yang menjadi berharganya sebuah tindakan, tetapi keiklashan dalam kebersamaanlah yang menetukan nilai hubungan kita.
Pak Edi, Pak Irfan, Mas Darmin dan Mas Wassam bersiap di lapangan alun-alun. Kondisi udara sedemikian panas. SMS masuk menyatakan bus sudah bergerak dari Pamulihan, perkiraan waktu tempuh 45 hingga 60 menit sampai ke alun-alun. Karang taruna sibuk menyiapkan lapangan. Kami mengobrol dengan pihak Dandim dan Polsek yang bertugas. Banyak hal yang kami dapatkan. Intinya menurut Babinsa, Situraja aman terkendali…. Alhamdulillah .
Saat yang memeriksa papan nama petunjuk penempatan tas, sempat kaget. Ternyata tas akan disusun berdasarkan RW hunian, padahal saya selalu konfirmasi dengan Pak Priyadi guru yang ditugaskan mengawal acara, ”tas akan disusun berdasarkan Kelas dan per kelompok kecil”. Wah jadi tegang sendiri.
Panitia lokal berharap : peserta sampai lokasi jam 13-an, karena para penari reag dan umbul akan siap sekitar jam tersebut. Ternyata,…. saat penari reag baru mempersipkan diri di alun-alun,… bus satu dan tujuh melintas,… panitia lokal berusaha memberhentikan untuk menentukan arah putar balik, sehinga peserta tidak perlu menyeberang.
Kelompok 7 sampai lokasi lebih dahulu, dan tutor yang sampai pertama adalah Ibu Siti Nadira. Sayangnya beliau jugalah yang terkena cobaan : tasnya hilang tidak terlacak. Waduh,….. walau pun akhirnya tas dapat ditemukan,…. malam hari. Maaf yaa bu.

Tahukah kegiatan apa yang pertama kali siswa lakukan saat sampai di alun-alun Situraja :
a. membeli walls
b. mencari piscok
c. mencari rumah hunian
d. foto-foto
e. menyerbu WC

Jawabnya : menyerbu WC, antrian hingga 13 siswi di WC kanan mesjid. Sholat juga menjadi pilihan siswa dan para tutor.
Cobaan kembali terjadi, hujan bro ! Panitia lokal pun sibuk mencari alat penutup tas peserta. Para siswa pun semapat mengalami kebingunan. Perintah : arahkan siswa langsung ke Balai Desa. Ada yang aneh juga nih, di depan mesjid terlihat lima siswa ganteng berpakaian tidak layakh. Dengkulnya yang tidak bagus itu terpampang. Ada yang mau tidur bareng panitia nih, hehehe. Jadi ingat kejadian TeSIS beberapa tahun lalu saat beberapa siswa kami ajak tidur bareng bahkan kami hukum …. adalah….. hahahha.

HT menjadi sarana ampuh untuk berhubungan antar panitia/ tutor di bus-bus. Sayang pulsa lagi. Heheheehee. SMS DuDu mulai berdatangan. Inilah salah satunya :
D: Kelompok 21
U : peserta dan panitiaTeSIS 2010
DU : Sering2 ke RW 04 RT 02, ada baso harga 3000 dapat 7. ENAK BANGET. Buat kongkow ngerjain tugas

D : 0856458892XX
U: Panitia TeSIS
DU : Thanks,.. rmhnya bagus,… tahu sumedangnya krunciiii
D : Oecret admirer ( maaf gambar wajahnya nggak ada di kompi) 0857142500xx
U : aa’ mamat
DU : kok kamu ganteng sih ? tadi nyasar yaa mau ke sekret malah ke sini

D : 0856913917XX
U: untuk semua
DU : kangen sama jakarta ? kangen kongkow2 ? datang ke sitos….. Situraja townsquare RT 02 RW 4

TeSIS salah satu tujuannya adalah menghayati kehidupan masyarakat pedesaan dan memupuk kepedulian sosial, sehingga terbentuk kepribadian yang berwawasan kebangsaan. Nah ini yang seharusnya disadari, dihayati dan dimaknai kita bersama. Tentunya ada ketidaknyamanan, namanya juga pergi menginap di tempat orang lain. Kita harus berusaha menerima apa adanya.
Dan hal ini berhasil ditunjukkan salah satu kelompok, saat mendapat sarana Wcnya agak unik,…. tanpa atap. Sampai jam 22.00 beberpa panitia masih berkoordinasi dengan pihak Desa,… solusinya bagus. Saat ditelpon Mr. Nice Guys… jadi gimana nak,… kalau seandainya yang siswa tukar rumah dengan yang siswi ?…. Jawabnya : nggak perlu pak, nggak masalah kok… Subhanallah. Jika semua Peserta TeSIS, baik siswa-siswi, tutor, bahkan panitia mampu berbuat seperti apa yang dilakukan para siswa kelompok tersebut, maka butir ke enam dari tujuan TeSIS telah tercapai.
Acara Hari Ini :
1. cari data, validasi data, persiapkan presentasi esok
2. makan pagi dengan menu utama tahu deng,….
3. sholat Jum’at jangan lupa

Tetap menjaga nama baik diri, keluarga dan sekolah tercinta, bertutur kata sopan, bersikap arif dan bijak, berpikir ilmiah dan bertanggung jawab

Koran Perdana TeSIS 2010 Situraja Utara Sumedang

Oktober 17, 2010

Perjalanan Tim Pendahulu
Berangkat dari sekolah jam 09.15, dengan kekuatan tim yang terdiri dari Pak Edy, Pak Irfan, Frau Kiki, Miss Desi, Pak Darmin, Pak Wasam, Pak Hakim dan saya sendiri. Elf sekolah berjalan perlahan menyusuri jalanan Jakarta yang sibuk dan padat disisi kanan. Memasuki Tol Cikampek, suasana padat disisi kanan sedemikian parah.
Perjalanan pertama kami akan ke rumah pak Edi yang harus mengambil pakaian. Salut loh buat beliau yang menyempatkan diri pada last minute untuk ikut tim pendahulu. Pak Edi tentunya manusia smandel yang paling banyak mengisap asam garam, rasakan saja keringatnya yang tidak bias dideteksi dengan kertas lakmus atau indicator pH,,,, yaa nggak nyambung lah.
Perjalanan berlanjut ke lokasi setelah mampir kurang lebih 30 menit ke tempat pak Edi. Warung depan rumah pak Edi menjadi tempat berkumpul beberapa teman, menikmati minuman dingin dan kerupuk rambak kecil. Ternyata kerupuk tersebut punya sambel yang dikemas dalam sachet kecil, dan hampir semua teman baru sadar akan keberadaan sambel tersebut saat kerupuknya sudah habis…
Memasuki wilayah ujung Tol Cikampek sebelum berbelok ke Cipularang, kemacetan bertamabah parah karena pembuatan pintul tol Utama. Tetapi hamper semua penumpang elf merah tertidur, kecuali sang supir, Mas Akim, ditemani suara alunan CD-nya Ebiet G. Ade. Selidik punya selidik, ternyata penumpang bangku belakang, yaitu mas Darmin, Pak Edi dan Pak Irfan tertidur karena kekenyangan Cemilan. Uhhh enaknya tertidur karena cemilan, sementara saya di depan tertidur karena kembungnya perut tertembus AC mobil.
Tol Cileunyi berakhir, mobil bergerak terus mengarah ke Jatinangor, jalan agak sempit dan banyak kelokan. Aktivitas masyarakat juga terlihat. Permukaan tanah yang bergelombang membuat perjalanan makin mengasyikan. Tujuan kami saat itu adalah mencari lokasi untuk drop makan siang para peserta. Pilihan yang mungkin adalah depan Unpad Jatiangor. Terminal bayangan tersebut mampu menahan banyak bus besar. Tempat drop makan siang diperlukan karena Rumah Makan Ponyo yang menyediakan makan, tidak mempunyai parkir luas, dan jalur jalan Cadas Pangeran hingga Pangeran Kornel terbilang sempit dan padat.
Sehabis makan siang, puku 15.35 kami melanjutkan perjalanan ke lokasi TeSIS, Situraja Utara. Perkiraan waktu tempuh 45 menit ke lokasi dari RM Ponyo. Wilayah persebaran sawo Sukatali terlewati, terlihat sepanjang jalan. Sepanjang jalan, pemandangan sawah yang menghijau menghampar menutup perbukitan Sumedang.
Tim Pendahulu juga nyasar. Pak Edi yang sudah 7 tahun tidak datang ke tempat ini pun lupa-lupa ingat, setelah melewati alun-alun Situraja kea rah pasar memutar balik, mencari gapura Situraja Utara di sisi kanan jalan yang tadi terlewati.
Subhanallah, jalan kecil yang langsung menuju kantor Kepal Desa ternyata sedang ada kesibukan. Jalan dipenuhi anak-anak perempuan usia SD, dengan selendang di leher, kacamata hitam, dengan alunan musik gamelan sunda. Terlihat anak-anak itu bersemangat berusaha menundukan suara gong, gendang, dan semacam alat musik alat musik lainnya. Sang pelatih terlihat dengan ceria dan amat gemulai memberikan aba-aba. Apakah mereka akan menyambut peserta TeSIS lusa ?
Pak Edi memang sudah terkenal hingga Situraja, ini tergambar saat beberapa warga desa masih mengenali beliau sebagai : “yang menyanyikan Terajana khan?”, Hebat euuyyyy.
Setelah wara-wiri sebentar sambil melihat anak-anak yang menyelesaikan sesi latihan hari itu, kami menuju posko panitia. Berjalan kaki, kurang lebih 10 menit, terlihatlah posko yang dulu juga ditempati. Lebih indah, mega, dengan ruang yang bersih. Kami bersiap-siap untuk mandi, makan malam dan bertemu dengan aparat tentang persiapan TeSIS, terutama dengan Panitia Lokal Situraja.
Menikmati pecel ikan peda, telur asin, sayur lodeh, nasi panas, tahu Sumedang, tempe, kerupuk dan teh panas membuat kelelahan di perjalanan tadi siang hilang. Persiapan berlanjut, mendengarkan rencana panitia local bertukar informasi dan hal-hal lain. Ternyata mereka amat siap sekali menerima kami dan kalian peserta TeSIS. Latihan anak-anak perempuan SD tadi siang adalah salah satu menu acara yang mereka siapkan seminggu ini.
Yang menarik saat bertemu panitia lokal, mereka sedemikian antusias mengulangi masa-masa kebersamaan 7 tahun yang lalu. Banyak menu acara yang akan mereka tampilkan untuk menyambut kedatangan para peserta TeSis. Ada beberapa faktor tersebut, waktu yang lebih singkat dari TeSIS 2003 yang 5 hari, atau hal yang menarik adalah kesenian khas Situraja Utara ini telah pentas di berbagai event di Jakarta. Mereka ingin sekali bias tampil di SMA 8 Jakarta. Semoga saja nanti dapat terwujud.
Diskusi banyak hal dengan suasana keakraban menyertai pertemuan malam itu, kami juga sempat menayangkan kegiatan TeSIS 2003 dalam format Video. Ini yang membuat suasana makin hangat. Walau sedikit terusik oleh tampilnya artis lokal SMA Negeri 8 yang berdurasi lama, yaitu Pak Teguh. Ternyata yang ngedit itu film, beliau sendiri….. Pak Teguh memang nakal…..
Selesai pertemuan, kami menuju posko panitia. Sesungguhnya badan ini lelah sekali. Istirahat atau pun tidur pulas adalah dua kata yang kami perlukan saat ini. Maka ruang posko utama menjadi tempat tidur 6 pria yang benar-benar kelelahan. Padahal ada 3 kamar kosong. Mungkin kami sedang membangun keakraban, atau karena tahu di belakang posko ada kuburan,… ihhhh kok bercandanya gituh ah.
Konser orkes simponi orang kelelahan terjadi di ruang tersebut. Hal ini merupakan ulangan dari kegiatan TeSIS Cigugur Kuningan, saat itu ruangan posko dipenuhi suara-suara perut, suara tenggorokan dan suara batuk pilek orang-orang flu. Cuiiiiit,… erhhhhh,…. Pluuuuusss,… cerrrrr… shhhshshhhshhshshhshsh. Entah dengan irama berapa apakah 4/4 atau bahkan 1/16, hihihihihiiii,…..
________________________________________________________
Hasil pertemuan malam itu adalah mengganti beberapa rumah hunian. Dari sisi kelayakan atau pun hal lain. Untungnya banyak solusi terbaik yang didapatkan. Akhirnya harus disadari bahwa semua komponen harus berusaha menerima kondisi, TeSIS salah satu tujuannya adalah bersosialisasi. Rumah hunian yang kami dapatkan relative bagus. Berbeda dengan 7 tahun yang lalu bahkan hampir di semua penyelengaraan TeSIS.
Pagi-pagi kami sudah dapat menu makan yang khas Situraja, ada tape goring, singkong goreng dan tentunya makan pagi yang nikmat. Sedemikian ingin merasakan makanan pagi, seorang guru rela memberhentkan seorang penjual makanan dan membeli banyak makanan. Dari Pastel, surabi, risol… pokoke buanyak banget…. Bayangkan surabi dengan taburan oncom. Saya sendiri cuma makan 2,….
Frau Kiki sibuk mengisi amplop untuk hunian rumah, karena jam 9 rencananya tim pendahulu akan menuju semua rumah hunian, yang berjumlah 74 rumah. Yang terdekat kelompok 29 L dan 29 P,… persis di depan Posko….emang enak,,,, hehehehehe Tim pun terbagi 3, miss desi dengan miss fani, miss edoi dan frau kiki, mas wassam dan saya.
Didampingi 3 petugas desa, masing-masing tim menuju wilayahnya. Saya dan mas wassam mendaptkan wilayah jauh,,, RW 4 dan 5. Awalnya takut kelelahan juga, Khan saya bawa beban tubuh, sementara mas wassam, tanpa beban,… ehhehehe.
Alhamdulillah, perjalanan ke rumah-rumah warga yang rumahnya menjadi tempat hunian berlangsung baik. Beberapa warga malah terharu, menerima kami kembali. Berita yang menarik adalah salah satu rumah mengabadikan kegiatan tersebut di ruang tamu. Kelompok tersebut dulunya mempunyai tutor Ibu Paulin. Di rumah yang lain lebih fantastis, anak-anak yang pernah tinggal di rumah tersebut masih sering mampir ke rumah tersebut. Subhanallah, sedemikian membekasnya ikatan emosional yang terbangun,…. Sebuah keberhasilan dari usaha membentuk pribadi siswa yang terbaik.
Ternyata, tim saya lebih dahulu selesai, capek. Lelah dan kekenyangan. Bayangkan setiap mampir ke rumah warga, selalu ada reginang, peganan khas Sumedang, dan lebih kenyang lagi saat bertemu di sebuah rumah terlihat miss desi dan miss fani sedang berdiskusi dengan salah satu warga. Kirain menjelaskan TeSIS, Hp miss desi jadi kurban,…. Hp terjatuh saat mandi dan membentuk otonomi yang berbeda antara keypad dan mesin…..saat itu Hp si miss sedang di perbaiki, hehehhe. Yang mengenyangkan, miss desi membawa lemet/ ketimus atau sejenisnya dan misro…
Kata miss desi, payung merah dengan merek esprit yang asli dari perjalanan ke negeri paman sam, berfungsi banget buat miss fani…..kok bisa yaaa.
Sayangnya tidak semua ibu/bapak asuh berhasil di foto, sehingga saat saya mencetak tidak banyak foto-foto tersebut. 181 foto, hanya 52 yang saya cetak. Banyaknya foto dengan foto syurrrr menjadi kendala, Salah satunya saat Mas darmin sedang diurut,… mas wassam sedang mempraktekan ilmunya,… pengobatan urut asli SMAN 8,…dengan minya GPU (gosok, pijat… uring-uringan)..
Jangan kaget, kami juga sering ganggu teman-teman loh. Ada teman yang dikunciin di kamar mandi lah, ditambah lampu dimatikan, plus dari jendela dilambai-lambaikan tangan,…… satu teman jadi korban.. teriaknya :”euyyy,… ah jangan gituh dong,…”. Menurut korban, dia bingung mau ambil sabun atau yang lain saat gelap. Hiiihiihiiii.
Tidur pun kembali menjadi tujuan utama, wilayah tidur pun jelas. Saya pasti dekat dua laptop, dengan IM2-nya miss desi. Hidung ini yang kembali flu, dengan tissue tessa tinggal setengah. Dekat kaki ada mas Darmin, dekat mas Darmin ada miss fani dan pak edoi, sementara di kursi dewa, dengan ruang yang sempit mas Hakim dan mas Wassam berbagi sofa,… kasihan tuh sofa.
Hampir semua keinginan guru dan karyawan tercapai. Tetapi tidak dengan satu orang ini. Keinginannya untuk gowes tak terwujud, karena tidak ada penyewaan sepeda dan bahkan yang bersedia meminjamkan,.. hehhehe
Sebenarnya gowes itu merupakan pilihan yang baik, teman kita itu tak mungkin naik motor, takut jatuh, kalau jalan jauh, takut capai, sehingga dicarilah jalur tercepat,…… panggil tukang pijat professional.
Sang pemijat hadir di posko, maka terjadilah prosesi urut-mengurut, pijat memijat di sebuah kamar yang bercahaya lebih redup dari semua ruang yang ada. Semua guru berceloteh untuk meninggalkan ruang, sang teman khawatir. Bayangkan saking khawatirnya, cuci tangan pun minta ditemani. Mas darmin senang banget…. Hahahaaha
____________________________________________
Acara hari ini :
1. Pelepasan peserta TeSIS dari SMAN 8 Jakarta
2. Penerimaan peserta TeSIS oleh Muspika dan warga
desa Situraja Utara
3. Peserta ke rumah hunian, ramah tamah, observasi
medan, briefing, mandi, makan, minum dan
mimpikan rumah di Jakarta

• Mulai bisa kirim DU-DU (dari-untuk – dengan-ucapan ), bebas biaya, kirim ke 08569844169. Tulis ”DUDUucapan”. Jika bagus, sopan dan menggelitik, akan ditampilkan dalam koran berikutnya
• Kuis hari ini : siapakah miss fani ? silakan menjawab dengan format : ”JAWAB jawaban”. Kirim ke 08569844169
• Untuk keperluan surat menyurat, panduan ilmiah, kegiatan penelitian atau pun bantuan panitia lokal bisa berhubungan langsung dengan Posko Panitia
• Telepon panitia ada di buku panduan.

RUANG IKLAN IKLASH
Ruang ini tersedia untuk curhat, cerita atau apa pun yang mau bisa dibagi-bagikan untuk kebaikan pribadi kita

 UNTUK SEMUA PESERTA SELAMAT DATANG DAN BERKEGIATAN DI TESIS 2010
 BUAT PANITIA SELAMAT BERTUGAS, JADIKAN INI SEMUA SEBAGAI IBADAH SEHINGGA KEIKHLASAN HIDUP TETAP TERJAGA.

Tetap menjaga nama baik diri, keluarga dan sekolah tercinta, bertutur kata sopan, bersikap arif dan bijak, berpikir ilmiah dan bertanggung jawab