Ketika Hidup Tidak Mempunyai Cita-Cita

September 29, 2010

Ketika Jakarta bajir besar banyak sekali warga dari Jakarta yang menderita. Bayangkan sampai bandara Soeta pun terpaksa menganggur karena jalur utamanya turut terendam. Sebuah hal sulit untuk dilupakan oleh banga ini. Banjir 2007 memang banyak merengut nyawa, SMA Negeri 8 pun sempat terendam dalam hitungan hari. Terkenang berlama-lama di sekolah menunggu banjir surut, hehehehe.

Di ujung utara sana, sebagian wilayah Tanjung priok ada sebuah komunitas yang sedemikian sengsaranya, sehingga mereka harus kehialngan banyak harta. Komunitas rumah kumuh tersebut memang terdiri dari para kuli panggul, tukang las kapal, para pembersih kapal, PSK, bahkan puluhan bahkan ratusan pencopet dan penjambret. Anak-anak kecil pun jarang yang bersekolah, karena lingkuingan mereka terlihat memang seperti itu adanya.

Kisah mereka tersebar hingga ke manca negara, yang akhirnya terlihat juga oleh komunitas keagamaan di Thailand. Informasi tentang duka warga Tanjung priok ini juga sampai ke pemimpin komunitas tersebut. Rasa kasih yang tinggi dengan balutan keimanan, kebersamaan dalum satu dunia membuat pemimpin tersebut mendatangi Sutiyoso, sang gubernus DKI saat itu. Setelah pertemuaan-pertemuan, disepakatilah untuk memberikan bantuan kepada kamu marjinal tersebut. Pemimpin komunitas tersebut bersedia membangun sebuah rumah susun di kawasan barat Jakarta, bersebelahan dnegan wilayah Tanggerang.

Ketika rumah susun itu berdiri, maka terjadilah kepindahan warga komunitas tersebut ke rumah susun. Pemimpin komunitas Tahiland bersedia memberikan banyak subsidi bahkan teramat besar. Urusna rumah tangga hingga sekolah. Saat guru-guru sukarela memberi pelaaran kepada para siswa, bertanyalah mereka :”apa cita-cita kalian nak ?”.

Jawab mereka bermacam-macam. Jika besar saya ingin jadi copet, jadi perampok, jadi PSK, jadi nelayan, jadi kuli di pelabuhan dan sebagainya. Buat mereka iitulah cita-cita. Ironisnya, ini ada di depan mata kita, wilayah Jakarta. Jumlah anak yang sekoplah memang tidak banyak, karena menurut orang tua mereka buat apa bersekolah, tokh akhirnya menjadi jambret, copet dan perampok pula.

Banyak guru exptariat yang sering mendapatkan anak-anak yang bersekolah jarang mandi, mereka memnag terbiasa tidak mandi, karena selama di Tanjung priok air tawar adalah hal yang mahal. Tetapi yang lebih menyakitkan ketika para ex patrait tersebut berkunjung ke rumah susun tersebut. Ternyata di pagi hari banyak kotoran manusia yang dijatuhkan dari lantai atas ek lantai dasar. Selidk punya selidik,. karena mereka sulit untuk membayar air yang digunakan saat mandi atau buang air, karena air harus bayar, maka kantong sampah menjadi menu pilihan. Sebuah hal yang tidak perlu terjadi.

Sang expatriat ternyata berpikir panjang untuk itu, mereka berpikir ternyata bukan hanya harus mendidik siswa, tetapi juga harus mendidik orang tua mereka. Mulailah program kebersihan dimuali. Pagi hari sebuah kelas mulai menggunakan pendelkatan pendidikan. “Siapa diantara kalian yang tadi pagi mandi ? Yang manid silakan berdiri ke depan kelas .” Saat itu ada satu anak yang mandi, dengan malu-malu anak itui menuju depan kelas. Sang guru meminta kepada smeua anak di kelas unti memberikan tepuk tangan sebagai rasa kesenangan. Esok hari jumlah anak yang berdiri di depan kelas bertambah. Sebuah model yang cukup baik saat itu.

Program kedua, semua anak wajib membawa sampah dari rumah masing-maisng. Maka berlombalah para siswa untuk membawa samaph ke sekolah. Orang tua siswa sampai bingung melihat anak-anak mereka slaing berebut mendpatkan sampah, hanya untuk sebuah permen karet. Program ini terus berjalan, sehingga tidak ada lagi kantong plastik hitam dijatuhkan dari lantai atas ke lantai dasar.

Program yang ketiga adalah mendatangkan para pejabat untik melihat kondisi komunitas warga tanjung priok. Mulailah berdatangan Gubernur DKI, Menteri Sosial, Para artis dan sebaginya. Apa yang terjadi dengan siswa ? Ternyata mereka merubah cita-cita mereka. Ada yang mau jadi Mensos karena sering memberikan sesuatu7, ada yang ingin jadi Gubernur karena gagah dan dikawal, ada yang mau jadi artis karena terkenal.

Sebuah proses panjang untuk membuat sebuiah cita-cita. Bayangkan ketika para siswa di SMA Negeri yang bingung mnentukan cita-cita. Semoga menjadi inspiratif buat kita.

Terima kasih kepada bu Widyawati (Ceplis) yang memberikan cerita ini saat kuliah Sistem Pembangunan. Tentunya dnegan perubahan tanpa mengurangi maknanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: