Pemimpin yang adil penghuni syurga

September 11, 2010

Dua puluhlima tahun yang lalu, saat saya kelas 1 di sebuah SMA kawasan Bukitduri, saya diminta secara aklamasi untuk menjadi ketua Panitia Kurban. Seorang siswa yang belum genap satu tahun mengenal mesjid, rohis dank urban. Berkegiatan di mesjid merupakan pilihan saya, karena selama di SD dan SMP saya beraktivitas di pramuka dan majalah dinding. Saat itu OSIS periode XXI, sang ketua rohis meminta saya untuk mengatur sebbaik-baiknya. Arahan diberikan hampir setiap bertemu sebelumshalat ashar. Setelah semua panitia bekoordinasi, saya bertemu dengan Pak Ali Umar (Almarhum) guru agama Islam yang menjadi pembina kegiatan PHBI (peringatan Hari Besar Islam).

Banyak nasehat beliau, tetapi yang paling saya kenang adalah : sampaikan hewan kurban ke rumah-rumah penduduk yang termasuk fakir miskin, jangan kumpulkan mereka di sekolah. Malu rasanya kalau fakir miskin dibariskan hanya untik 1 -2 kg daging kambing atau sapi.

Entah beberapa tahun yang lalu, terdengar heboh : 3 orang tewas mengantri zakat di kabupaten x di Jawa Timur. Berita itu sedemikian menusuk hati. Bayangkan mereka meregang nyawa hanya karena zakat fitrah, yang seharusnya menjadi hak mereka. Sebuah pertarungan yang sia-sia. Akhir berita, yang memberi zakat dan panitia diputuskan bersalah dan ditahan, karena lalai sehingga berakibat kepada keselamatan orang lain.

Syahdan kata hikayat, berabad-abad yang lalu seorang khalifah yang telah merasa berhasil akan kepemimpinannya, berusaha mencari info secara langsung. Sang khalifah dengan penyamaran yang tidak diketahui para pengawalnya berjalan-jalan di wilayah perkampungan sebuah wilayah. Jalan demi jalan, perumahan demi perumahan telah dia lalui, semua orang tertidur pulas, mungkin karena kemakmuran telah membuat penduduk nyaman untuk hidup. Tetapi kenyataan memang selalu tidak sama dengan yang kita pikirkan. Measuki perkampungan berikut, sang khalifah mendengar tangis anak kecil dan sebuah gubuk yang masih terlihat terang, dengan perapian yang masih menyala.

Tangisan anak kecil tersebut mengundang sang khalifah untuk berkunjung ke rumah tersebut. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, terbukalah pintu gubuk itu. Tampak seorang tua rentah, dengan wajah yang masih mampu bertahan hidup mempersilakan sang khalifah masuk. Singkat pembicaraan, obrolan semakin lama, sang khalifah bertanya : sedang masak apa ? Orang tua tersebut tersenyum dengan wajah tuanya, : saya sedang memasak batu, saya berharap anak-anak dapat tertidur pulas karena menunggu batu ini matang. Karena mereka tidak tahu yang saya masak adalah batu.

Sang khalifah terkaget-kaget. Bahkan lebih kaget saat orang tua tersebut menyampaikan keluhannya tentang sang khalifah. ”mungkin sang khaifah sedang tertidur karena kecapaian mengurus bangsa dan negara ini.” Tanpa berlama-lama, sang khalifah berpamit pulang untuk menuju baitul mal. Sang penjaga sangat bingung karena sang khalifah bermalam-malam mengambil satu karung gandum, memanggul karung tersebut menuju gubuk tersebut. Sang khalifah sadar, ternyata rakyat yang dia pimpin masih ada yang miskin dan menjadi tanggung jawabnya. Yang lebih menyakitkan orang tua tersebut harus berbohong kepada anak-anaknya, tentunya sang khalifah tidak ingin dimurkai Allah di padang Masyar kelak.

Dua setengah prosen adalah kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita. Itu adalah hak fakir miskin, yatim piatu, ibnu sabil dan lainnya. Nilainya kecil, tetapi dihadapan Allah itu adalah penghapus dari kotoran dalam rizqi kita. Muhammad adalah orang yang tidak pernah menghardik anak yatim, beliau bahkan memuliakannya. Bahkan beliau mengangkat mereka menjadi anak sendiri.

Kematian seorang anak manusia demi uang seratus ribu atau pun lebih kecil dari itu, mengumpulkan fakir miskin dalam acara apa pun tidak pernah diajarkan rasulullah. Seharusnya kita malu mengumpulkan saudara kita untuk berbarisa, datangi, berikan hak mereka, insya Allah berkah. Pemimpin yang adil, akan tertidur pulas saat dia tahu seluruh rakyatnya telah makan, pemimpin yang adil akan berpakaian indah setelah tahu seluruh rakyatnya tidak kedingiinan dan masuk angin karena tidak ada selembar kain pun yang menutup tubuhnya.

Andaikan BAZIS berjalan dengan benar, semua umat mengumpulkan zakat dengan tidak mengharapkan untuk dilihat orang sehingga menaikkan citra, rasanya keiklashan akan menjadi modal dasar pemimpin yang adil penghuni syurga Allah. Jangan ada lagi seorang ibu yang menggendong mayat anaknya di kereta api, jangan ada lagi anak manusia di neger ini ditanyakan ada uang jaminan saat masuk ICU rumah sakit manapun, jangan ada lagi seorang siswa SD dikeluarkan dari sekolah karena bermasalah dengan bayaran sekolah. Jangan ada ketakutan dicaci maki anak bangsa, jangan sampai Allah yang melaknat kita. Semoga jadi bahan renungan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: