Archive for Februari, 2009

Data PSB kelas X SMA Negeri 8 Jakarta Tahun Pelajaran 2008-2009

Februari 27, 2009

SMP PEMASOK TERBESAR DAN NILAI RATAAN NUN

SISWA KELAS X SMA NEGERI 8

TAHUN PELAJARAN 2008-2009

NO.

ASAL SEKOLAH

JUMLAH

RATAAN NUN

1

LABSCHOOL KEBAYORAN

21

9.31

2

SMP ISLAM ALAZHAR

28

9.29

3

SMP ISLAM AL IZHAR

8

9.355

4

SMP KRISTEN PENABUR

14

9.28

5

SMP LABSCHOOL

30

9.248

6

SMP NEGERI 109

11

9.181

7

SMP NEGERI 115

134

9.361

8

SMP NEGERI 19

10

9.36

9

SMP NEGERI 216

16

9.25

10

SMP NEGERI 252

8

9.25

11

SMP NEGERI 30

8

9.3

12

SMP NEGERI 41

7

9.27

RENTANG NILAI UN

SISWA KELAS X SMA NEGERI 8 JAKARTA

NO.

RENTANG NILAI

JUMLAH SISWA

1

> 9.5

38

2

9.00 – 9.49

316

3

< 8.99

2

JUMLAH

356

TAHUN LAHIR

SISWA KELAS X SMA NEGERI 8 JAKARTA

NO.

TAHUN

JUMLAH

1

TAHUN 1992

32

2

TAHUN 1993

241

3

TAHUN 1994

75

4

TAHUN 1995

8

JUMLAH

356

Kisah Hamba Sahaya dan Tuhannya

Februari 26, 2009

Pagi itu pak Somad kembali tertunduk menghadapkan muka ke sejadah pemberian anaknya yang sedang bekerja menjadi TKW di negeri Jiran. Kalimat Istighfar, Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil terucapkan secara lirih namun mengetarkan iman di hatinya. Kakinya hampor tak terasa, karena sudah berjam-jam pak Somad mengadu kepada kepada Allah tentang hidup dan kehidupannya. Pak Somad terkenang masa-masa indah ketika masih memimpin banyak anak buah, datang paling pagi karena ingin memberi contoh yang  terbaik kepada semua, pulang paling malam karena harus mengevakuasi semua pekerjaan  bawahannya. Penghormatan anak buahnya terkadang menjadi semacam penyembahan. Padahal Pak Somad tidak ingin hal-hal seperti itu.  Pak Somad hanyalah putra desa yang memegang kejujuran sehingga mampu menjadi orang dalam jajaran tertinggi di perusahaan negara tersebut.

Hari itu, kira-kira 2 tahun yang lalu, Cak Kadir yang selalu mengantar Pak Somad ke kantor pusat tidak hadir, Pak Somad marah sekali, walau pun dia berusaha menahannya, tetapi tetap saja keluar kalimat yang tidak semestinya. Untungnya Pak Somad langsung mengucapkan istighfar. Sang istri hanya mengelus bahu Pak Somad untuk sabar, mungkin Cak Kadir ada gangguan di jalan. Akhirnya dengan kekesalan yang cukup mengganggu konsentrasi, Pak Somad naik taksi Express. Sepanjang jalan pak Somad berusaha menghilangkan kekesalan hati dengan mengobrol dengan sopir taksi tersebut. ” Aslinya mana mas ?”, kalimat pembuka yang pasti akan dijawab jujur oleh sopir kendaraan manapun. Tanpa sadar pak Somad mengeluarkan uneg-unegnya kepada sopir tersebut mengenai Cak Kadir. Hingga kahir perjalanan, selesai pula cerita pak Somad kepada sopir taksi, orang yang baru dikenalnya tetapi telah tahu sedikit tentang sisi kehidupannya.

Kepemimpinan pak Somad memang membawa hasil yang bagus untuk keluarga, kelimpahan rizki karena jabatan beliau juga karena doa dari istri dan anak-anaknya di rumah. Harus diakui semakin kita mendapatkan rahkmat dari Allah, jabatan dan kemudahan hidup, maka akan semkain banyak pula godaan yang datang. Begitu pun dengan pak Somad. Gaji yang rutin diterima menjadi bernilai kecil ketika dia mendapatkan bonus atau pun apa namanya dari rekanan-rekanan bisnis yang selama ini selalu datang ke kantor.  Mulai ada godaan untuk membuat proyek,  membuat proposal dan  kegiatan-kegiatan sosial atau  pun pelatihan.  Hampir semua ide pak Somad diterima oleh jajaran Direksi Kantor  Pusat. Apalagi pak Somad mulai membagi-bagi “kue”.

Tahun berganti tahun, pak Somad dikenal Mentri dan di proyeksikan untuk menjadi direktur utama BUMN. Beberapa kali pak Mentri mengundangnya untuk bertukar pikiran.  Kesibukan demi kesibukan, membuat pak Somad yakin bahwa semua hal bisa dicapai dan diraih, dengan kerja keras dan persekawanan. Koneksi harus dijaga, itu pikir pak Somad. Mulailah kesibukan menjamu tamu ini-itu, rekanan ini-itu. Dan semua itu butuh dana yang tidak sedikit. Mulanya memanga hanya sekedar makan siang di Restoran Sederhana Tebet, berlanjut ke Starbug dan seterusnya. Hanya Allah yang tahu.

Hingga suatu hari, pak Somad sadar bahwa itu semua harus ada dana tersendiri. Dana Pembinaan, semacam itulah. Maka terjadilah pembicaraan dengan bendahara untuk menyisihkan dari semua pos kepada dana tersebut. Sang Bendahara karena tahu posisi pak Somad yang sudah dikenal menteri, memberi ijin. Mulai saat itu amat berlimpagh hidup pak Somad, mudah mendapatkan uang dari mana pun, mudah meminta dari mana pun, bahkan dengan kewenangannya pak Somad mampu menggeser siapa pun orang yang tidak disukainya.

Pak Somad mulai jarang pulang ke rumah, jarang berjamaah dengan anak dan istri, jarang berkumpul dengan warga sekitarnya. Hingga akhirnya pak Somad tertangkap tangan di sebuah hotel dengan rekan-rekan bisnis sedang berpesta ria, shabu-shabu. Beberapa wanita nakal pun tertangkap. Tayangan televisi menunjukkan muka pak Somad yang masih dalam keadaan mabuk. Sang istri jatuh terjerembab melihat berita televsi pagi hari, pingsang tidak diketahui siapapun.

Hari ini pak Somad merafalkan Al Fatihah, berusaha mengerti makna dan artinya. Allah memberi perimbangan hidup seperti halnya surat Al Fatihah. Empat ayat pertama untuk Allah, berupa pujian dan sanjungan, berupa pernyataaan keyakinan akan kekuasaan Allah. Sedangkan ayat ke lima merupakan ayat pernyataan kita untuk melakukan sesuatu. Tetapi dengan kalimat “Hanya kepada Mu kami menyembah, dan hanya kepada Mu kami mohon pertolongan”.

Sembahlah Allah, setelah silakan meminta pertolongan dan itu hanya kepada Nya. Pak Somad telah membalikan ayat ini, dia begitu yakin bahwa mampu mengambil rizki seseorang karena kekuasaannya. Karena kewenangannya, karena kedekatannya dengan atasan. Padahal Allah bisa mencabut apa pun dari seseorang atau kaum, jika Allah memang berkenan.

Sepuluh Kepribadian Bilionaire

Februari 26, 2009

Dua tahun yang lalu melalui milis resosnansi di yahoogroups saya mendapatkam pelajaran yang berharga tentang hidup. Semoga ini berguna buat teman-teman, sudah saya sarikan :

Minggu lalu saya berada di New York City, tepatnya Manhattan, yang
jaraknya kurang lebih 2500 mil dari kediaman saya di San Francisco Bay
Area. Seorang “mogul” alias pengusaha kelas kakap yang berteman dekat dengan Donald Trump memanggil saya untuk membantunya dalam mendirikan divisi baru institusi pendidikannya yang sudah mendunia. Sebutlah namanya Mr. JC.

Sebagai seorang konsultan yang sering mendengar nama Mr. JC ini disebut-sebut, tentu saja saya sangat girang ketika dikontak oleh asistennya untuk mengunjungi Si Mogul ini untuk business meeting. Dengan harap-harap cemas saya mempersiapkan segala sesuatunya agar presentasi saya nanti tidak memalukan. Namanya saja berbisnis dengan seorang
pengusaha kelas kakap. Siapalah saya ini di matanya.
Ternyata, di luar dugaan saya, Mr. JC sangat ramah dan informal.
Kecerdasannya tampak jelas dari “being comfortable in his own skin.” Ia
sangat nyaman dengan dirinya sendiri, tidak ada unsur intimidasi maupun
berusaha tampak lebih cerdik daripada lawan bicaranya. Sungguh saya
sangat terkesan.

Selama kurang lebih 6 jam perjalanan pulang di pesawat, saya banyak
merenungkan pertemuan ini, terutama mengenai kepribadian Mr. JC yang
sangat menawan. Otak saya yang gemar melakukan studi komparasi kembali
bekerja.Satu per satu wajah orang-orang sukses muncul di benak saya.
Wah, ternyata banyak sekali kemiripan sifat dan perilaku mereka dengan
Mr. JC, yang tampaknya sangat bertolak belakang dengan sifat-sifat dan
perilaku mereka yang kurang berhasil.

Sepuluh unsur kepribadian seorang billionaire yang saya sarikan
berdasarkan komunikasi dan pergaulan pribadi dengan para billionaies dan
beberapa pengusaha sukses adalah sebagai berikut:

Satu, keberanian untuk berinisiatif
Di sinilah letak keunikan utama pengusaha kelas kakap dunia. Mereka
selalu punya ide-ide jenial. Sebagai contoh, lihat saja si Raja Real
Estate,
kebangkitannya dari bangkrut beberapa tahun yang lalu sekarang sudah
membuahkan lebih dari sekedar kerajaan properti belaka. Ada boneka
Donald, ada seri TV The Apprentice, ada online university Trump
University.com, bahkan ada t-shirt “You’re Fired” dan buku-buku
best-sellernya. Semuaberangkat dari inisiatif belaka, yang bisa kita
pelajari dan tiru.

Dua, tepat waktu
Selalu menepati janji dan tepat waktu karena ini adalah bukti kemampuan
memanage sesuatu yang paling terbatas di dalam hidup kita, yaitu waktu.
Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan,
terutama keberhasilan berbisnis. Respek terhadap waktu merupakan
pencerminan dari respek terhadap diri send iri dan partner bisnis.

Tiga, senang melayani dan memberi
Seorang billionaire pasti mempunyai kepribadian sebagai pemimpin dan
seorang pemimpin adalah pelayan dan pemberi. The more you give to
others, the more respect you get in return. Syukur-syukur kalau ada
karma baik sehingga mendapat kebaikan juga dari orang lain. Paling tidak
dengan memberi dan melayani, kita sudah menunjukkan kepada dunia betapa
berlimpahnya kita. Alam bawah sadar kita akan terus membentuk blue print
sukses berdasarkan kemampuan memberi ini.

Empat, membuka diri terlebih dahulu
Pernah Anda bertemu orang yang selalu mau bertanya soal hal-hal pribadi
tentang orang lain namun tidak pernah mau membuka diri? Mereka biasanya
hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang pasti mereka akan sangat
sulit untuk mencapai kesuksesan karena dua hal ini adalah lawan dari
unsur-unsur yang membangun sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk
membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman
dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, sesuatu yang
dicari oleh para partner bisnis sejati. (Siapa yang mau bekerja sama
dengan orang yang misterius?)

Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik dengan para partner
bisnis.
Teamwork jelas adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Donald Trump
dan Martha Stewart pun mempunyai tim-tim mereka yang sangat loyal
sehingga mereka bisa mencapai sukses luar biasa. “No man is an island,”
kita semua perlu membangun network kerja yang baik, sehingga jalan
menuju sukses semakin terbuka lebar.

Enam, senang mempelajari hal-hal baru
Kembali kita mengambil contoh Pak Trump yang baru saja membuka online
university. Apakah beliau adalah ahli pendidikan? Seorang profesor?
Jelas tidak, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta
langsung mengaplikasikannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas
baginya.Dunia bisnis baginya adalah tempat bermain yang luas dan tidak
terbatas. Kuncinya hanya satu: senang belajar dan mencari hal-hal baru.

Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama
Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days
and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang
sangat baik. Jangan sekali-kali mengeluh di dalam bisnis, walaupun suatu
hari mungkin Anda akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali
gagal adalah kesempatan untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri
sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana Anda gagal
tetap adalah agood day (hari yang baik).

Delapan, berani menanggung resiko.
Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses.
Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari
penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great
day (lihat di atas). So, untuk apa takut? Kegagalan pun hanyalah
kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari
kan?

Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat)
Berpikir positif adalah environment atau default state di mana
keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif
sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini
(kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita
akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin
besar kemungkinannya.

Sepuluh, “comfortable in their own skin” alias nyaman dengan diri sendiri tanpa perlu berusaha menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak
“lebih” dari lawan bicaranya
Pernah bertemu dengan billionaire yang rendah diri alias tidak nyaman
dengan diri mereka sendiri? Saya yakin tidak ada. Kenyamanan menjadi
diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak
tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia
yang tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya
sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa
tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset
yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri.

Apakah Anda mempunyai kepribadian seorang billionaire? Hanya Anda yang
bisa menjawab. Salam sukses, sampai bertemu di puncak gunung kesuksesan

Sumber: Sepuluh Unsur Kepribadian Billionaire oleh Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev adal ah konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator
berbasis di San Francisco Bay Area. Baca perjuangan dan prestasinya
di JennieSBev.com.

100 Siswa Terbaik kelas X SMA Negeri 8 Tahun Pelajaran 2008-2009

Februari 25, 2009
NO. KELAS NAMA SISWA AGA PPKn IND ING MAT FIS BIO KIM SEJ GEO EKO SOS SEN PEN JER TIK SIN JUM RT
1 X – A ASRI OKTAVIONI INDRASWARI 93 85 80 94 91 88 81 90 83 91 85 81 88 69 98 83 95 1475 87
2 X – A ADLINA KARISYAH 92 84 77 85 90 85 91 92 79 87 86 85 88 69 94 83 95 1461 86
3 X – A MAYVITA DEWI 91 84 83 92 75 86 87 88 79 87 83 85 90 69 98 83 98 1459 86
4 X – A HAIKAL EKI RAMADHAN 95 84 83 87 83 93 83 84 81 91 83 80 88 69 97 86 85 1450 85
5 X – B JOICE 87 87 84 91 77 80 78 86 86 82 83 84 88 71 94 86 98 1442 85
6 X – C SESILIA GENESY THIRZA IVANNA KIA 85 86 85 88 79 83 87 88 82 85 82 83 85 71 92 87 90 1439 85
7 X – B HAFIZH INSAN AKMALUDDIN 90 88 81 83 82 84 85 93 80 88 84 78 88 71 95 84 85 1439 85
8 X – A DWI RENDRA HADI 89 87 80 85 93 90 70 89 78 92 86 78 88 69 89 88 88 1438 85
9 X – A KHAIRUNISA HAFIARNI 91 86 81 85 96 75 85 84 73 82 80 82 88 73 97 85 95 1438 85
10 X – B MUHAMMAD NASSIRUDIN 91 86 82 74 100 79 84 86 79 89 78 76 85 71 94 85 93 1434 84
11 X – D MUHAMAD REFKY KAMAJAYA 85 85 82 84 96 83 78 92 81 82 78 75 89 71 95 85 90 1429 84
12 X – B NADESHA QUADONYA 91 86 77 93 75 78 79 80 86 92 81 82 87 71 94 86 93 1429 84
13 X – B LIDYA PURNAMASARI 80 87 77 89 79 77 80 83 87 85 82 86 88 71 95 87 95 1428 84
14 X – B RUMAISA RESTIANI 90 89 81 83 75 77 72 92 88 88 85 82 87 71 93 86 88 1426 84
15 X – B KHAIRUNNISA 88 87 78 90 88 85 76 78 83 88 81 77 87 71 87 83 93 1421 84
16 X – A FATIMAH AZZAHRA 93 86 81 77 89 84 83 89 79 88 78 81 89 69 94 82 80 1421 84
17 X – A FIRDA ANNISA 92 86 79 83 77 79 84 86 80 89 84 82 86 69 93 83 88 1420 84
18 X – B CHOIRON ABDILLAH 89 88 78 80 88 90 84 89 82 82 83 82 86 65 89 85 80 1419 83
19 X – C MIRANTI PUTRI LESTARI 90 86 85 84 96 78 83 88 80 46 84 83 86 75 95 88 90 1417 83
20 X – B NATALIA RASTA MALEM 83 87 82 76 79 83 79 84 88 87 81 83 86 71 94 86 90 1417 83
21 X – A DARIN SAFINAZ 92 87 78 73 87 87 83 91 81 86 79 84 89 69 88 82 83 1417 83
22 X – A HANIF SATYO PRABOWO 90 86 84 76 77 83 80 88 82 86 83 77 88 69 94 86 88 1417 83
23 X – B FADILA HASNADHIA 93 90 75 75 80 79 79 88 87 88 84 84 86 65 88 84 90 1415 83
24 X – A DWIANTARI SATYAPERTIWI 89 85 76 86 75 81 77 89 80 86 80 79 88 69 96 86 90 1413 83
25 X – A HAFIZH HAIDAR 90 84 80 82 78 82 84 92 80 80 78 79 89 69 94 81 90 1413 83
26 X – A PRIHADI PRASETYO 90 83 75 79 81 88 85 83 74 87 83 78 87 71 93 87 88 1412 83
27 X – E PATRICIA ANDRIANI 87 84 87 76 89 83 73 85 83 82 80 83 87 71 92 81 90 1412 83
28 X – A NURINA SEVRINA 90 86 82 76 79 82 83 85 78 86 77 81 89 67 96 83 90 1411 83
29 X – C CESIA ANTIKA NUGRAHENI 91 86 78 77 82 83 76 88 80 87 81 83 88 71 92 84 78 1407 83
30 X – A JOLATUVEL BAHANA 88 86 76 83 85 90 81 89 78 87 79 81 86 69 96 83 70 1407 83
31 X – B DIANA RIZKI RAMADHANY 92 87 79 75 77 87 74 85 82 89 83 83 89 65 86 83 93 1406 83
32 X – A MUHAMMAD HANIFI 88 85 75 83 80 83 83 90 77 86 85 80 86 69 85 84 88 1405 83
33 X – D MAHARANI KARLINA CH 85 85 77 77 76 80 77 89 82 80 83 83 89 71 87 87 95 1403 83
34 X – A AMANDA AMALIA 89 85 76 79 84 79 74 90 76 83 83 79 89 69 93 84 88 1400 82
35 X – G MEGA ANARA MANURUNG 83 90 78 82 89 87 78 81 79 84 70 79 88 71 90 81 90 1399 82
36 X – D FITRIANI REVANDA 87 84 76 89 75 67 80 90 82 84 83 79 87 75 90 79 93 1399 82
37 X – E GARDA WIDHI NURRAGA 92 86 88 83 75 83 75 87 82 83 70 80 86 71 92 85 80 1399 82
38 X – A ROMY FATINHIZAM LAMADJIDO 86 87 76 87 80 89 83 86 76 86 86 76 88 67 92 83 70 1398 82
39 X – A PASHA LAKSAMANA PUTRA 88 85 77 78 92 88 78 91 74 83 78 77 86 67 86 85 85 1398 82
40 X – C ALBERTUS DHISA YOGA PRADANA 85 85 82 85 75 71 76 83 77 87 84 79 89 71 93 86 90 1396 82
41 X – C ISNA RASYAD HANIEF 91 85 77 76 82 82 79 80 78 83 84 79 86 71 89 87 88 1396 82
42 X – B RIZQA FEBRILIANY PUTRI 91 85 84 71 74 76 78 82 82 93 80 79 84 71 89 84 93 1395 82
43 X – A DERYANA AVIDHIANITA 91 83 80 80 82 87 72 83 80 91 77 79 88 69 92 82 80 1395 82
44 X – A TASYA KAMILA 90 86 77 84 79 83 72 78 78 82 80 79 88 67 95 85 93 1395 82
45 X – G HANISSA ZIANIDA 92 87 79 82 84 75 69 80 77 84 76 78 86 71 99 83 88 1390 82
46 X – F MOHAMMAD RISANDI PRITAMA 92 85 85 68 74 89 76 79 84 84 83 80 88 71 86 84 85 1390 82
47 X – F AKMAL PRIMADIAN SUPRAPTO 92 84 75 71 94 87 83 88 81 81 81 80 86 71 87 79 70 1389 82
48 X – D GINA MARIANA 85 84 75 85 83 72 80 84 86 73 77 79 89 71 96 77 93 1389 82
49 X – F FARIDAH MARZUQAH ZHAFIRAH 92 85 82 81 91 83 71 81 81 69 80 78 87 71 83 83 90 1388 82
50 X – B NUKE FERDILIA PRASIWI 89 87 80 70 76 71 73 82 86 88 83 84 86 71 87 86 90 1388 82
51 X – B REIHAN PUTRI 92 89 84 81 64 76 68 89 82 86 81 78 88 71 93 86 80 1387 82
52 X – B YUWINDA PRIMA ARDELIA 89 88 76 69 75 83 77 84 83 82 83 82 87 71 89 85 83 1386 82
53 X – B ARDYS SHAFIRA 88 85 82 78 75 76 67 80 86 90 81 79 89 65 90 83 93 1386 82
54 X – A ANNISA FATHARINI 90 86 78 91 72 79 77 78 81 76 75 81 88 69 95 81 88 1384 81
55 X – A ANTHONY HANS 85 84 79 86 80 84 80 81 77 86 73 76 88 69 94 81 80 1383 81
56 X – D BAGAS PRIMA ANUGERAH 87 84 75 80 76 89 74 86 83 83 75 76 89 71 92 79 85 1383 81
57 X – A REZA PRADITYANTO 90 82 80 80 78 77 74 82 77 80 85 80 88 67 95 84 85 1382 81
58 X – C HANNI WARDHANI 86 85 79 76 76 69 76 86 79 85 81 87 86 71 89 84 88 1381 81
59 X – B NOUMI AISHA PERMATASARI 87 86 80 77 75 73 76 79 88 82 76 79 87 71 95 84 88 1381 81
60 X – A ADIWENA ARISYANTO 84 86 75 85 85 80 77 82 75 83 81 82 88 69 87 84 78 1381 81
61 X – A HENRY JULIAN ANTONIUS 80 86 79 81 80 79 78 85 76 85 81 76 92 69 96 82 75 1380 81
62 X – D ESTI NUHA ILMAZAKIYYA 87 85 80 75 82 78 76 85 86 76 83 83 89 71 86 79 80 1379 81
63 X – A CAROLINA ASTARI 92 85 75 78 80 76 74 83 79 82 80 81 88 69 89 81 85 1377 81
64 X – B ANJANI PRIMAWERDHANI 88 87 82 68 77 71 75 80 81 86 82 82 89 65 89 87 90 1377 81
65 X – C KEMAL FADHLI 89 88 77 90 75 83 81 78 79 78 77 81 86 71 90 83 70 1377 81
66 X – E ANDIKA RIZKI 92 84 75 80 96 90 68 85 80 77 76 78 84 71 94 76 70 1376 81
67 X – C SHOFA NISRINA LUTHFIYANI 84 88 87 81 80 75 75 85 76 81 72 81 88 71 84 83 85 1376 81
68 X – A KEMAL RAZINDYASWARA 87 84 76 85 79 82 79 85 77 82 80 83 89 69 90 81 68 1374 81
69 X – A INTAN DYAH AYU PRILLANI WINANDOKO 91 85 75 76 75 74 78 76 75 87 78 81 88 69 92 83 90 1374 81
70 X – D HARYO PRAMANTO 85 84 82 77 75 80 74 78 80 79 80 79 89 71 88 81 90 1372 81
71 X – A INDHRA CAHYANITA 85 86 75 84 75 78 75 88 77 82 77 81 88 69 83 83 85 1372 81
72 X – C ANDYTA NALARESI 88 86 76 91 71 74 80 78 75 83 75 79 86 75 91 83 80 1372 81
73 X – C PUTI BUNGO RINA 87 87 83 75 75 81 74 79 77 86 80 83 84 75 90 84 73 1372 81
74 X – C FARISA ISHMA NADHILA 84 85 83 93 79 86 79 80 76 73 71 78 86 71 93 83 70 1371 81
75 X – B SYARIFAH AINI KHAIRUNISA 88 87 81 75 77 71 71 81 80 84 83 80 89 71 88 85 83 1370 81
76 X – B SATRIA INDRAWAN PUTRA 89 87 76 86 79 78 71 77 78 77 76 74 88 71 90 85 88 1370 81
77 X – B JAYSA RAFI 84 86 76 78 80 88 77 85 80 88 77 81 84 71 81 83 70 1370 81
78 X – B PRATAMA ISTIADI 90 87 76 79 77 85 75 76 79 83 84 77 82 71 85 85 80 1370 81
79 X – F KHAULA LUTHFIYAH 92 84 82 88 79 72 73 81 82 78 79 77 86 71 90 75 80 1370 81
80 X – F GEFARITZA RABBANI 92 85 82 79 75 72 70 82 80 77 84 82 85 71 91 83 78 1368 80
81 X – C KAMILA RAHANDINI 88 83 78 79 75 76 75 83 77 78 82 83 88 71 90 85 75 1367 80
82 X – C THALYA PUTRI HERDHIYANTI 88 83 81 82 75 76 75 75 80 77 77 81 86 71 87 85 88 1366 80
83 X – A AYU ANANDHIKA SEPTISARI 90 85 77 75 75 80 77 81 79 81 80 82 89 69 92 81 75 1365 80
84 X – D FADIAH ZAHRINA 87 86 86 80 79 73 76 80 86 82 76 76 88 71 87 78 75 1365 80
85 X – E CHAULA RININTA ANINDYA 92 86 77 81 75 77 70 83 83 83 74 83 86 71 92 82 70 1365 80
86 X – C GUSTI ADINTYA PUTRI 81 86 83 86 87 75 76 78 77 74 78 76 86 71 87 86 78 1363 80
87 X – E ROSMALIA ANDINI 92 85 78 75 75 78 74 84 83 78 75 79 87 71 87 82 80 1363 80
88 X – B RIZQI KHAIRUN NISA 90 86 85 75 75 76 68 77 87 79 75 79 88 71 82 85 85 1362 80
89 X – C IRFAN ADI PUTRA 87 83 79 78 77 82 77 85 78 76 74 79 86 71 94 86 70 1362 80
90 X – A ANNISAA YUNEVA 90 86 76 86 75 73 75 78 76 78 71 79 87 69 95 81 85 1361 80
91 X – D MUHAMMAD IKHSAN 87 84 76 78 75 71 78 87 81 75 77 76 89 71 92 78 85 1361 80
92 X – C NADHIRA DINI PRATIWI 89 86 81 85 72 66 76 82 78 79 76 80 85 75 88 85 78 1361 80
93 X – E SYAVIRA RAHMADIANI 91 84 83 89 71 67 72 76 82 78 74 81 90 71 91 82 78 1360 80
94 X – I ANDHITA HERVIN 92 87 83 73 75 78 75 92 76 85 80 79 86 71 81 78 70 1359 80
95 X – B NISA AZIZA 87 89 75 80 75 71 68 83 83 84 76 78 89 71 86 83 80 1359 80
96 X – E DINDA TISI CALISTA 92 84 80 81 75 76 71 79 83 85 78 78 85 71 89 80 75 1359 80
97 X – B SATRIO WIBISONO 84 86 75 75 80 78 73 86 79 82 82 78 86 75 85 84 70 1359 80
98 X – D FAKHRI MUHAMMAD 87 84 76 76 77 74 77 79 80 85 78 77 89 71 85 82 80 1358 80
99 X – E HANIF DWIRATAMA 92 84 79 77 70 80 75 82 86 83 74 84 87 71 84 79 70 1357 80
100 X – E ARANNISA HANIFAUZIA SA’AD 92 85 80 78 76 75 68 78 80 81 76 80 85 71 89 82 80 1356 80

EVALUASI UN 2008 : antara BOCORA, SKL DAN KUALITAS PENDIDIKAN

Februari 19, 2009

http://gini-arimbi.blogspot.com/2008/04/evaluasi-un-2008-antara-bocoran-skl-dan.html

“Wow.” Begitulah komentar saya mengenai pelaksanaan 3 hari UN 2008 yang berlangsung tanggal 22-24 kemarin dan diikuti oleh 1,3 juta pelajar se Indonesia. Terlalu banyak cerita, terlalu banyak komentar, dan terlalu banyak kesan untuk diungkapkan. Gembar-gembor UN 6 pelajaran memang sudah lama terdengar. Ketika keputusan bahwa UN 6 pelajaran telah final, saya berusaha menghadapi ini seoptimis mungkin. Memprotes pemerintah dengan segala dalih untuk meniadakan UN nampaknya tidak ada gunanya. Saya pikir , “daripada buang-buang waktu memprotes ini itu dan toh UN tetap diakan, jadi lebih baik sekarang belajar, belajar, belajar.” Alhamdulillah, saya berada di SMAN 8 yang sangat perhatian masalah UN. Dari awal, materi pelajaran kelas 3 dipadatkan di semester 1, sehingga semester 2 kita hanya fokus belajar UN. Siswa mengikuti Try Out sampai 6 kali (2 dari sekolah, 3 dari Diknas,1 dari Gunadarma). Setiap hari guru-guru fokus sudah membahas dan mengulang materi-materi UN dari kelas 1. Untuk setiap Try Out anak yang nilainya masih kurang diberikan klinik (pelajaran tambahan), begitu seterusnya. Belum lagi bantuan dari BTA yang selalu memberikan soal-soal pengayaan. Intinya, faktor sekolah sudah memberikan dukungan maksimal bagi murid-muridnya menghadapi UN. UN pun tiba. Awalnya semua berjalan lancar. 3 mata pelajaran pertama UN (B.Indo, Mat, B.Inggris) Alhamdulillah bisa saya kerjakan dengan cukup baik. Saya pun makin optimis bahwa saya bisa melewati ini semua. Sampai ketika hari ke 2, ketika menghadapi soal kimia dan soal IPA lainnya. “Oh Tuhan”, hanya itu yang ada dalam pikiran saya. Untuk Kimia IPA rayon Jakarta, soal hitung-hitungan hanya 5 nomor. Sisanya teori. Dan, teori nya adalah teori yang gak ketebak dan tidak seperti di Try Out. SKL sistem koloid misalnya. Yang selalu muncul di TO adalah soal seperti “sebutkan koloid yang pendispersi gas dan medium pendispersi cair”. Wajar dong kalau anak SMA berasumsi soal seperti yang keluar dan mempelajari itu. Tapi yang keluar di UN adalah soal “manakah contoh di bawah ini yang menggunakan efek fotolistrik sistem koloid?” Saya udah baca soal UN selama 15 taun serta tidak terhitung latian-latian soal kimia UN, dan saya tidak pernah menemukan tipe soal itu. Nah, soal-soal tipe ‘SKL-sih-tapi-mana-gw-tau-itu-yang-bakal-keluar’ seperti itu yang justru banyak ditanyakan. Untuk fisika dan biologi juga begitu. Tidak mirip soal TO. Alhasil, banyak teman-teman saya yang menangis setelah ujian berlangsung. Dan, percayalah, mereka yang menangis itu bukan tipe tidak pernah belajar dan tidak mempersiapkan apa-apa untuk UN. Sama seperti lainnya, mereka kaget karena mereka sudah mempersiapkan semaksimal mungkin, dan nyatanya soal UN tidak sesuai prediksi dan banyak pertanyaan-pertanyaan tidak tertebak yang keluar. Cara Belajar UN dan Tipe Soal Kalau saya survey, rata-seperti ini cara belajar orang-orang menghadapi UN: belajar materi sesuai SKL, banyak latihan soal tipe UN, serta mempelajari soal Try Out Diknas baik-baik. Jika ada yang bilang, “makanya jangan belajar dari try out doang.” Kenyataannya adalah, dalam waktu beberapa bulan, saya harus menguasai materi 3 taun 6 pelajaran yang berbeda. total buku kimia SMA Memang saya yakin soal teori kimia itu ada semua di antara 6 buku ini. Apakah saya harus baca semua ini dari awal? Memang bisa. Tapi apakah efektif? Tidak. Bagiamana nasib 5 pelajaran lain yang harus saya kuasai? Saya harus menguasai klasifikasi monera, fungsi jamur-jamur, juga latihan integral trigonometri. Belum lagi menghafal rumus fisika dan mengerti siklus metabolisme sel. Intinya, dalam waktu cuma beberapa bulan, ada banyak sekali hal yang harus saya hafal dan pelajari. Jelas waktu tidak akan cukup untuk mengulang dengan detail semua buku pelajaran dari kelas 1. Jadi, pilihan pelajar SMA untuk belajar sesuai materi SKL dan soal try out adalah pilihan yang paling realistis. Pertanyaannya, apakah yang membuat soal UN tidak mengacu pada soal TO? Apakah mereka tidak sadar bahwa para pelajar berpegangan pada soal TO? 3 soal TO diknas dan Gundar setelah saya pelajari mirip-mirip dan sangat berpola, membuat saya optimis bahwa soal UN pasti setipe juga. Apalagi saya pikir, ini taun pertama UN 6 pelajaran. Masa sih pemerintah tega memberikan soal yang susah-susah dan terlalu detil? Eh ternyata… Kecurangan UN Hal kedua yang paling meresahkan adalah masalah kecurangan UN. Bangsa Indonesia memang bangsa yang suka gotong royong. Hal ini saya sadari betul ketika UN. Bocoran UN merebak dengan sangat cepat, dari satu sumber ke sumber lain. Dari sekolah X ke sekolah Y, dari satu murid ke semua murid. Jaringan kunci jawaban UN memang menyebar dengan begitu cepatnya. Luar biasa. Oknum yang menjual kunci jawaban UN dengan harga jutaan, anak-anak lalu patungan membelinya, dan jawaban itu menyebar ke seluruh Nusantara sesuai rayon (persis seperti iklan provider yang mengjangkau seluruh nusantara. Satu nusa satu bahasa satu kunci jawaban.) Yang megang kunci jawaban ini pun punya alasan yang berbeda-beda. Ada yang benar-benar malas dan tidak mengerti pelajaran sama sekali dan 100 persen mengandalkan kelulusannya dari kunci jawaban, ada yang sebenarnya lumayan bisa tapi tidak pede, ada yang hanya untuk sekedar nyocokin jawaban. Indikator nya, liat saja pagi-pagi di sekolah masing-masing. Beda kan antara anak yang belajar sambil baca-baca buku, sama anak yang ngegerombol megang hp sambil nulis-nulis di papan jalan. (ngerti kan?) Dan, kunci jawaban ini merebak dengan begitu frontalnya dan sangat meluas. Bahkan ada teman saya di sebuah SMA X cerita, “Di sekolah gue mah semua anak pake kunci jawaban, gak terkecuali. Kita udah nyari ini (kunci jawaban) dari 3 bulan lalu. Di sekolah gue udah tradisi.” Saya tidak pakai, dan saya berusaha tidak peduli dengan orang yang pakai (walopun rasa kesal itu pasti ada). Yang jelas, saya akui saya lebih penakut dari mereka. Saya takut 1.Takut kena balasan 2.Takut ketauan 3.Takut kunci jawaban salah (gimana coba rasanya nggak lulus UN karna pake kunci jawaban salah? Saya nggak kebayang.) Walaupun saya nggak pinter-pinter amat dan masih tidak yakin bakal lulus UN, saya percaya ongkos produksi otak saya lebih mahal dari kunci jawaban yang dibeli dengan harga jutaan itu. Kembali ke topik. Jadi, bagi ada orang non pelajar kelas 3 SMA bertanya, “masa sih UN kemarin ada kecurangan?” Saya akan dengan pasti menjawab, “Absolutely YES 100%.” Jadi kalau pemerintah memberi kesimpulan bahwa “Secara umum UN 2008 berjalan lancar dan fair.” Saya adalah orang pertama yang ketawa mendengar itu. Lancar mungkin iya. Fair? Silahkan si orang pemerintah itu tanya sendiri ke keponakan atau anaknya yang kelas 3 SMA. Esensi UN Saya sangat hargai niat baik pemerintah yang berusaha menegaskan UN untuk meningkatkan standar pendidikan. Jika dilakukan benar, tujuannya mulia. Saya sendiri merasakan dampaknya. -Saya jadi dipaksa belajar. Tadinya, saya sangat lemah dan tidak suka pelajaran biologi. Nilai TO pun gak jauh dari angka 4 dan 5. Tapi, karena ada UN, mau nggak mau saya harus pelajari sampai bisa. (feel dan usaha yang akan dikeluarkan antar UN dan UAS pasti beda) – Saya juga sadar bahwa rata-rata daya juang belajar pelajar Indonesia masih amat sangat rendah. Dengan adanya UN 6 pelajaran orang-orang jadi panik dan ikut bimbel sana sini. Hal yang bagus bukan, akhirnya mau nggak mau, suka nggak suka, orang jadi belajar. -UN juga memberikan dampak langsung ke semua sistem di sekolah. Tidak hanya murid, kepala sekolah dan guru pun berjuang mati-matian agar anak didiknya bisa lulus UN. Berbagai program pengayaan dan tambahan pun dilakukan menghadapi UN. Intinya, jika saja indikator pencapaian UN bisa ditakar dengan tepat, banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil. Semua pihak akan bekerja lebih keras. Bukankah itu sesuatu yang bagus? (ini semua di luar konsep bahwa akhirnya sistem pembelajaran akan jadi score oriented dan UN oriented. Percuma membuat sistem belajar yang interaktif, mendorong anak jadi kritis, dll. Tapi tidak usahlah kita bahas itu sekarang.) Tapi, realistis aja, hal-hal yang terjadi pada prakteknya benar-benar menyimpang. Esensinya jadi berubah. Secara umum, mental pelajar Indonesia masih belum siap. Alhasil, karena ketakutan tidak lulus UN, mencari bocoran adalah jalan pintas yang mereka tempuh. Saran Untuk Pemerintah Jelas, saya ingin pendidikan di Indonesia lebih maju. Buat apa keluar anggaran 500an milyar untuk UN kalau target peningkatan kualitas pendidikan tidak tercapai? Buat apa kalau adanya UN justru dijadikan lahan bisnis bagi para cukong-cukong kunci jawaban? Pemerintah harus evaluasi betul pelaksanaan UN tahun ini. Dan, inilah evaluasi dari saya. Evaluasi langsung dari kacamata seorang pelajar kelas 3 SMA. Percayalah, saya tidak mengada-ada atau muluk-muluk. Saya juga bukan pelajar yang dari awal sudah menyerah duluan dan tidak berusaha menghadapi ini semua. Saya hanya ingin pemerintah sadar atas 2 masalah yang amat sangat nyata : kecurangan UN serta ketidak sesuaian bobot soal. -Pembuat soal harus konsisten dengan SKL dan merujuk pada try out. Jika teman-teman saya di sekolah unggulan dengan fasilitas bagus saja sampai nangis menghadapi soal seperti itu, apa yang pemerintah harapkan dari SMA yang serba kekurangan? Sebetulnya, menurut saya, untuk mengkompensasi dampak ketidak merataan standar pendidikan di berbagai SMA, maka dari itu UN harus gampang. UN harus sesuai SKL. UN harus mirip-mirip soal TO. -Sindikat kunci jawaban harus ditangkap sampe bener-bener bersih ke akarnya. Kalau perlu murid-murid yang tertangkap basah make kunci jawaban juga ditindak, juga guru-guru yang terlibat (ekstrim emang. Mengingat jika hal ini benar-benar terjadi pertanyaan bukan ‘berapa yang akan tertangkap’ tapi ‘berapa yang tidak akan tertangkap’.) Tapi ya, untuk mengubah sesuatu yang udah sedemikian umumnya dan udah sedemikian membudayanya perlu diperlukan langkah sangat tegas walaupun akan menimbulkan kontroversi (seperti penangkapan anggota DPR yang korupsi akhir-akhir ini oleh KPK yang memberikan shock therapy untuk masyarakat). Kira-kira begitulah yang bisa saya ceritakan. Untuk teman-teman 2008 lainnya, share your UN experience here!

STT TELKOM

Februari 18, 2009

STT TELKOM 2009

Hasil Seleksi JPPA-Unggulan :

No Nama SMA Hasil Seleksi

1 ADITYA MAULANA SMAN 8 JAKARTA S1 ADMINISTRASI NIAGA

2 JULIVA SESIRIA SMAN 8 JAKARTA S1 DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

3 DERA HAFIYYAN S.S SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Elektro

4 KARINA MAULIDYA SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Elektro

5 DIAH KEUSUMA WARDHANI SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Industri

6 DWI WAHYU MANUNGGAL SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Industri

7 FACHRI ARTADI SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Industri

8 M SADYAGA H.S. SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Industri

9 SITI NURSARI ISMARINI SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Industri

10 FATMA JANNA SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Informatika

11 HANDY AULIA FATHONY SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Telekomunikasi

STT TELKOM 2009

Hasil Seleksi JPPA-Nasional :

1 WENA ANGGANA P SMAN 8 JAKARTA S1 Desain Komunikasi Visual

2 ANITA KUSUMARANNY SMAN 8 JAKARTA S1 Akuntansi

3 PUSPANINGTYAS UTAMI SMAN 8 JAKARTA S1 Manaj. Bisnis Telekomunikasi & Informatika

4 ZAHRA KHAIRIZA ANRI SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Telekomunikasi

5 RAHMADANI DIAN P SMAN 8 JAKARTA S1 Teknik Industri

PPKB UI SMA Negeri 8 Jakarta

Februari 18, 2009
DAFTAR SISWA SMA NEGERI 8 JAKARTA YANG DI TERIMA
PROGRAM PRESTASI DAN PEMERATAAN KESEMPATAN BELAJAR
UNIVERSITAS INDONESIA TAHUN 2009-2010
31710045 – SMA Negeri 8 Jakarta
NO NO. PPKB NAMA SISWA L/P JURUSAN NIS Diterima di
Kode Program Studi
1 6093100010 CITTA PARAHITA W P IPS 20921 23114 Ilmu Hukum
2 5093100010 DWI INDAHAYU P IPA 21077 224341 Ekonomi Pembangunan
3 5093100013 ELEYNA FARIHAH P IPA 21154 220641 Biologi
4 5093100020 FATIMAH P IPA 21002 220246 Pendidikan Dokter Gigi
5 5093100019 FITRI N RACHBINI P IPA 21235 211644 Ilmu Komputer
6 6093100009 INDIRA NUR SHADRINA P IPS 21122 224646 Manajemen
7 5093100021 MIRANDA ADIANTI P IPA 20972 224743 Akuntansi
8 5093100017 NINIEK DWI HAPSARI P IPA 21050 221443 Teknik Kimia/GP
9 5093100007 NISSIA ANANDA P IPA 21094 220246 Pendidikan Dokter Gigi
10 5093100009 OVILIANI WIJAYANTI P IPA 21013 220142 Pendidikan Dokter
11 5093100018 PANDU WICAKSONO L IPA 21129 221644 Ilmu Komputer
12 5093100011 SITI HUMAIRA P IPA 21138 221845 TeknikIndustri
13 6093100008 SITI LAILA KADRIAH P IPS 21025 223546 Psikologi

DISIPLIN (dari berbagai tulisan di blog)

Februari 17, 2009

Untuk mengenang kata tersebut.

Diambil dari beberapa blog, setelah saya ditegur oleh guru-guru yang dulu menagjar saya secara formal. Sekarang mereka menjadi teman yang bertugas di SMA Negeri 8 Jakarta.

Sekolah yang menegakkan disiplin akan menjadi sekolah yang berkualitas, baik dari segi apapun juga, benarkah itu? Ini adalah bahasan sekilas dari satu sisi namun justru sangat primer (proses belajar-mengajar saja), tapi ini banyak terjadi di beberapa sekolah.

Konon bagaimanapun atau apapun model dan kualitas inputnya semua akan menjadi berkualitas, semua bisa dilakukan lewat disiplin. Mungkin ada benarnya. Setidaknya membuat lingkungan sekolah berdisiplin, terutama disiplin dalam belajar dan proses mengajar. Yah setidaknya pengkondisian dalam soal disiplin akan membuat image tersendiri di lingkungan sekitar tentang kondisi sekolah.

Disiplin di sini diartikan ketaatan pada peraturan. Dari sini semuanya bermula, sebelum disiplin diterapkan perlu dibuat peraturan atau tata tertib yang benar-benar realistik menuju suatu titik, yaitu kualitas tadi. Lalu mengapa banyak sekolah yang mutunya rendah baik ditinjau dari nilai-nilai siswa, kinerja personal sekolah. Jawabanya mungkin disebabkan masih belum jelasnya peraturan sehingga tidak mudah diaplikasikan, atau buruknya pengawalan penerapan peraturan itu. Dalam hal ini kekurangkonsistenan semua pihak. Bahkan kadang gurupun tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam kelas, sehingga ia hanya mengajar apa adanya terkesan menghabiskan waktu mengajar saja.

Banyak hal yang harus ditangani dalam ranah pendidikan di sekolah, tapi jika itu terlalu berat mungkin bisa saja sedikit dikurangi hanya untuk hal belajar dan mengajar saja. Selama ini yang terjadi di beberapa sekolah adalah seringnya kelas kosong saat jam belajar. Ini dikarenakan guru tidak masuk kelas dan tanpa ada tugas yang harus dikerjakan siswa. Ketidakmasukan guru itu bisa saja karena kepentingan dinas atau yang lain.

Ketidaktepatan dalam hal guru masuk kelas sehingga jeda waktu pergantian jam bisa dimanfaatkan siswa untuk melakukan tindakan indisipliner. Komitmen guru dalam hal ini kadang sering menjadi penyebabnya. Dalam manajemen sekolah, biasanya pengawasan banyak yang tidak bisa berjalan dengan baik, lebih-lebih jika komitmen guru dan siswa rendah maka sekolah-pun akhirnya sulit majunya.

Rama dari Blitar mennulis dalam sebuah komen blog : “Kepemimpian sekolah berfokus pada kegiatan instructional leaders “kepemimpian pembelajaran” artinya fokus manajemen sekolah adalah proses belajar mengajar. Saya sependapat dengan yang mengatakan bahwa yang perlu dibenahi adalah manajemen kelas “Classroom management” atau orang biasa menyebut pengelolaan kelas, jika manajemen kelas bagus, tak ada kesempatan untuk indisipliner. Mengapa siswa indisipliner, merasa merasa belajar adalah sebuah kewajiban, bukan sebuah kebutuhan “Needs”. Maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana seorang guru bisa menciptakan kondisi dimana siswa merasa belajar itu adalah kebutuhan; seperti halnya kalau dia lapar harus makan; kalau sedang bersantai alangkah nikmatnya jika sambil makan “camilan” atau makanan kecil. Maka proses pembelajaran harus dengan suasana yang enjoi-sehingga siswa “addiction” kecanduan kalau tidak belajar, atau dia merasakan belajar sama nikmatnya dengan membaca novel ,menonton sinetron, menonton flim. Dengan demikian saya rasa kata disiplin sudah usang, dan perlu dibuang jauh-jauh. Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak banyak aturan tetapi muridnya sudah teratur, dan tentunya yang paling buruk adalah sekolah yang banyak aturan tetapi muridnya tetap tidak teratur.”

Kedisiplinan bisa membuat sekolah maju, walau banyak faktor yang bisa menyebabkan sekolah maju. Komitmen semua pihak yang ada di sekolah merupakan pondasi awal, selanjutnya ditunjang kebijakan yang mendukung dan akhirnya kesiapan semua faktor antara lain faktor ketenagaan, administrasi, kurikulum, dan tentunya keuangan.
Tapi, ada yang lebih penting sekarang. Sehingga sekolah sanggup melakukan apa saja yaitu keberhasilan UAN dengan prosentase lulus 100%, bahkan kalo perlu gurunya yang ujian. Saya ingin sekali membongkar kebusukan ini.

Saya jadi teringat dulu, ketika saya masih SMA. Saya sering bolos pelajaran khususnya pada jam-jam awal/pagi, saya baru masuk sekolah ketika istirahat pertama. Aturan di sekolahku ketika itu menyebutkan bahwa siapapun yang terlambat datang, tidak bisa masuk karena pintu gerbang ditutup. Kalaupun toh bisa masuk, maka harus mendapat hukuman berupa lari-lari mengelilingi halaman sekolah. Saya tidak mau lari-lari itu, dan memilih bolos lalu masuk sekolah pada waktu istirahat…. Bolos…dan bolossss…….

Bila ingat hal itu, saya jadi tertawa sendiri…karena ulangan saya untuk jam pertama yang sering mbolos lebih baik hasilnya daripada yang sering mbolos…… Dan itu menimbulkan kecemburuan teman-teman saya yang rajin, dan hampir tidak pernah terlambat. Mereka tidak tahu kalau ternyata saya bisa menggarap ulangan karena saya nyontek….. ha ha ha ha ha.

Itu adalah beberapa tulisan yang saya dapat di gogle ketika saya ingin membahas arti kedisplinan. Bagaimana kita melihatnya ?

Konfirmasi penting

Februari 6, 2009

Pagi ini di buka dengan lembaran yang buat saya perlu diklarifikasi. Awalnya saya beroikir untuk tidak peduli yang namanya “move” atau istilah saya “penetrasi”. Dalam islam namanya Ghawzul Fikri, penjajahan pikiran berkonotasi “kontra ideologi”. Entahlah nama yang tepat apa ? Saya turun dari ruangan BK, menuju lapangan. Ada Pak Suhaman yang tetap dengan komitmen mengawasi siswa dari lapangan. Masih dalam keadaan sakit, kakinya belum mampu memakai sepatu. Luka ditimbulkan oleh sepatu buat penderita diabetes akan menjadi berkepanjangan. Komitmen yang harus dibayar mahal, berusaha tetap menjaga kedisiplinan siswa untuk masuk ke kelas. Minimal siswa akan berpikir, “Pak Suhaman, tetap komitmennya, walau sudah tidak menjadi Kepala Sekolah”. Jangan-jangan ada yang berpikiran terbalik. “Emangnya loh siapa ?”. Nilai positif yang harus diketengahkan adalah, jabatan beliau dulu adalah tugas tambahan, tugas guru sebenarnya adalah mendidik. Dan Pak Suhaman sedang melakukan tugas utama beliau. Selagi mengobrol dengan Pak Suhaman, datanglah pak Sutrisno Prasodjo. “Pak Wangsa, mohon maaf saya tadi mendengar kabar dari Alumni. Katanya Pak Wangsa mau keluar dari SMA 8 karena clash dengan Saya ?”. Astaghfirullah. Saya cukup kaget, tetapi karena ada Pak Suhaman, saya berusaha tetap tenang. Saya clash dengan Pak Tris dan yang memberilan berta tersebut Alumni ? Wah ini parah, untungnya Pak Tris memberi tahu nama Alumni tersebut. Kepada Alumni (tersebut), mohon diklarifikasi dulu ya, hehehhee. Pak Tris seorang guru yang amat saya hormati. Beliau yang banyak mensupport saya selama ini. Hanya beliau yang tahu kenapa saya belum menikah, hanya beliau. Sebuah kepercayaan yang tinggi saya berikan kepada beliau. Dan komitmen beliau terhadap SMA Negeri 8 Jakarta, saya amat tidak ragukan. Hari Kamis kemaren ada peristiwa unik. Pak Tris sampai harus dijemput sang Istri (yang juga alumni 8) untuk menemui dokter agar memeriksa kesehatan beliau. Bayangkan sampai dijemput oleh istri. Komitmen belaiu ada di sekolah melebihi keinginannya untuk tidak hadir dalam berbagai kondisi. Saya salut pak. Sebulan ini saya amat bangga masih ada empat guru yang selalu memberikan saya semangat untuk menghadapi kondisi yang terjadi. Pak Tris-lah yang membela saya selama ini salah satunya. Jadi kalau ada kabar saya clash dengan Pak Tris, ulah siapa lagi ini ? Masih kurang apa tekanan yang diberikan kepada saya ? Dihadapan Pak Tris, pernah saya ungkapan perasaan dan keinginan saya. “Untuk SMA Negeri 8 apa pun akan saya lakukan, Pak.” Itu bentuk komitmen saya selama ini. Tahun 2002 saya mulai bertugas di Bimbingan Konseling, berusaha mengenal tugas dan fungsi BK. Pak Sugiharto, kepala sekolah SMA Negeri saat itu, yang juga guru BK mendorong saya untuk memahami tugas guru Bimbingan Konseling. Saya belajar dari Bu Anidar tentang Penerimaan Siswa di perguruan tinggi, saya belajar dari Pak Suhaeli memberikan dorongan dan motivasi, saya belajar teknik pendekatan kepada siswa dari Bu Paulin, saya belajar dari Bu Ika tentang ke BK an, dari Bu Tatik menghadapi orang tua dan dari Bu Minda keteguhan akan sesuatu. Maka saya praktekan hal-hal tersebut, di ALMAMATER tercinta. Jadi mungkinkah saya clash dengan orang-orang yang punya komitmen dengan SMA Negeri 8, orang-orang yang telah menjaga dan memajukan SMA Negeri 8 Jakarta ? Komitmen bukan diucapkan, lihatlah dari sikap keseharian. Siapa yang membiarkan SMA Negeri 8 Jakarta jatuh, bahkan berniat menjatuhkan, itulah yang sesungguhnya harus saya hindari. Islam mengajrakn komitmen untuk kebaikan, jaga komitmen maka rahmat Illahi akan datang.

Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku

Februari 1, 2009

Tiga jam di ruang Bimbingan Konseling terdiam, seakan lupa mau menuliskan sesuatu. Tepat jam 11.00 Wib, turun dari ruang BK, mencari makanan. Akhirnya dapat, mie pangsit depan pintu gerbang sekolah. Padahal kalau ingat nasehat bu Dokter, “jangan sering-sering mengkonsumsi mie, kurang baik untuk kesehatan.” Satu porsi dengan bakso saya santap di ruang piket dalam hitungan menit. Lapar sih, hehehehehe. Sepanjang perjalanan ke ruang BK, mulailah tersirat apa yang harus dituliskan. Allah memberi kekuatan saya kembali. Ternyata dengan mengingat cerita teman-teman guru saat di Pusdiklat lah baru terpikirkan mau menulis apa. Setiap hari adalah pembelajaran, setiap hari adalah ladang pahala, setiap hari adalah ibadah, karena kita tidak tahu kapan Allah akan memanggil kita. Jangan sampai kita meninggal dalam keaadaan kurang baik. Setiap shalat kita pasti mengucapkan judul di atas, entah karena terlalu sering diucapkan, seharusnya kita makin paham, nyatanya hidup kita justru makin menjauh dari hal tersebut. Ayat tersebut terdapat di surat 6 : 162-163. Allah sengaja meletakkan ayat tersebut untuk kita baca saat shalat (walau pun ada ayat lain penggantinya) maknanya, kita diingatkan Allah bahwa “Shalat (sebagai kata pertama) adalah kewajiban yang waktunya terbatas tetapi amat penting sebagai kewajiban manusia, walau pun pelaksanaannya amat singkat. Berkisar 5 – 15 menit. Bandingkan dengan waktu hidup kita yang 24 jam x 60 menit x 60 detik. Shalat adalah bagian dari ibadah, karena ibadah itu banyak macam dan waktunya bisa amat panjang, tetapi belum tentu semua ibadah itu kewajiban, ada ibadah yang sunnah untuk dikerjakan. Jadi “ibadah” sebagai kata kedua pada ayat tersebut, mempunyai rentang waktu yang amat luas, 24 jam, berhari-hari, bahkan berbulan dan betahun-tahun. Karena bukan seperti shalat yang akan diperiksa pertama kali saat di akherat kelak, ibadah hanyalah untuk orang yang mampu. Kalau sholat, hanya untuk orang beriman dan itu kewajiban. Sementara kata yang ketiga adalah “hidupku”, ini lebih luas lagi. Bayangkan dari saat kita dilahirkan hingga sekarang. Untuk saya, 60 detik x 60 menit x 24 jam x 30 hari x 12 bulan dan kali 40 tahun, ternyata panjang juga hidup saya. Justru dibagian inilah manusia mempunyai peranan lebih kea rah kepentingan hidup dirinya. Apakah shalat dan ibadahnya mampu mengalahkan makna hidupnya. Baguslah kalau shalatnya, ibadahnya dan hidupnya dipersiapkan untuk kata yang keempat. Matiku. Kenyataan menunjukkan pada bagian ketiga inilah manusia menjadi makhluk yang sesungguhnya. Apakah dia menjadi berkarakter seperti Malaikat yang beribadah, menjadi Iblis yang menghalangi manusia berbuat baik, atau malah menjadi keduanya yaitu manusia berhati iblis. Untuk hal ini hanya dirinya dan Allah semata yang tahu. Kata ketiga, yaitu “matiku”, merupakan hal yang disembunyikan Allah. Ada manusia yang sudah koma berbulan-bulan, menjadi hidup karena takdir Allah memang belum berlaku. Ada juga orang yang hidupnya selalu bertemankan dengan bahya dan kematian, malah hidup sampai tua. Saya pernah terhenyak, pada tahun 1995 saat mendengar seorang siswa meninggal saat shalat subuh, dalam keadaan sujud. Subhanallah. Makna, bersiaplah untuk mati kapan pun, saya ulangi kapan pun, dimana pun dan dalam kondisi apa pun. Tentunya hal ini menyadarkan untuk tetap berbuat baik. Karena semua yang kita lakukan kalimat terakhirnya adalah Li llahi rabbil ‘alamin. Hanya untuk Allah. Hanya untuk Allah dan hanya untuk Allah. Dua tahun ini saya sering terbangun malam oleh dering telpon siswa atau bahkan orang tua, untuk mengingatkan shalat tahajjud. “Assalmu’alaikum. Pak Wangsa maaf mengganggu. Apa bapak sudah shalat tahajjud ?.” Marahkah saya ? Tidak. Tengah malam dibangun siswa atau ortu untuk “meningkatkan kualitas hidup” kenapa harus marah ? Jadilah malam-malam hidup ini tahajjud bersama dengan siswa, walau tempat yang berbeda, berdoa bersama untuk para siswa demi keberhasilannya di ujian. Justru harus disyukuri masih ada orang yang mengingatkan kita, dan ini adalah ladang pahala. Untuk ibadah kepada Allah, kapan pun akan kita kerjakan. Saat seorang teman, tertunduk lesuh karena tak mampu memenuhi panggilan atasannya, hingga tekanan sedemikian kuat, jangan sampai shalat dan ibadahnya kepada Allah terganggu. Boleh jadi saat shalat malah terbayang ketidak mampuannya menginguti perintah sang bos. Kalau sampai demikian terjadi, seseorang terpaksa 24 jam memenuhi panggilan si bos, maka bos tersebut boleh jadi telah menjadi ila, ila yang lain. Tahun 1986 saat itu saya baru belajar tentang taddabur al Qur’an. Buku Kuliah Tauhid menjadi buku wajibb mahasiswa ITB, ada juga JDL (jundullah), ada Makna Syahadat, pokonya banyak buku-buku islami, ada Sayd Quthb, Hasan Al Banna, Said Hawa, membahas pilar-pilar syahadatain. Ila diartikan, sebagai sesuatu yang menyebakan makhluk sedemikian menyembah hal tersebut, atau hidunya didominir oleh hal itu. Oleh karenanya dalam Islam, tidak ada ila kecuali Allah. Jadi kalau ada menjadi sesuatu yang mungkin menjadi panutan, yang mungkin membuat orang takut karena jabatan anda, yang mungkin hayat hidup orang ada di tangan anda, berhentilah menjadi ila. Hanya Allah yang boleh mendominir hidup orang setiap detik, selama hidupnya. Jika ada makhluk yang sedemikian takutnya kepada anda, sehingga dia rela melakukan apa pun untuk anda, bahkan mungkin akan lebih keras demi menyelamatkan anda di dunia, pada dasarnya anda telah menjadi ila, buat orang-orang itu. Ingat ada kata keempat, kematian. Tetap menjadui rahasia, akan datang kapan pun, dimana pun dengan kondisi apa pun. Saat itu datang hanya shalat, ibadah dan hidup yang beriman menjadi pahala penolong anda di hadapan Allah. Maha Suci Allah yang telah membawa kita dari Kegelapan menuju Cahaya. Minna Dzulumati Illa Nnur. Ruang BK, 30 Januari 2009. Menghitung hari, menakar janji, mengharapkan keridhoan Illahi Rabbi.