Archive for Desember 5th, 2008

Ini mah sotoy, hehehehhe

Desember 5, 2008

Cerita dari tetangga …

Pola Pikir Seorang Guru dan murid

Seorang Guru SD kelas 2 sedang menerangkan soal Matematika, kemudian guru itu menunjuk salah satu muridnya untuk menjawab pertanyaan.

Amin… coba jawab pertanyaan ibu, kalo ada 5 ekor burung di pagar kemudian seorang pemburu menembak mati salah satu dari burung tersebut, sekarang berapa sisa burung yang ada di pagar?”, tanya Bu Guru.
“Abis dong bu…”, jawab Amin dengan yakin.
“Salah Min.. coba kamu pikir lagi jawabannya”, bantah Bu Guru.
“Iya bu.. jawabannya abis..!”, Amin mencoba mempertahankan pendapatnya.
“Ya sudah, tolong kamu jelasin kenapa jawaban kamu begitu..!”
“Begini bu.. khan ada 5 ekor burung.. di tembak satu.. terus darahnya kemana-mana khan bu.. trus temen-temennya jadi panik dan pada ngabur.. jadi burung yang tinggal di pagar itu nggak ada lagi.”, jawab Amin.
“Sebenarnya jawaban itu bukan yang ibu minta, jawaban yang benar adalah 4, tapi Ibu suka cara kamu berpikir..”, kata Bu Guru.

“Bu guru boleh tanya ga?”, teriak Amin.
“Silahkan Amin.. mau tanya apa?”, jawab Bu Guru.
“Ada 3 Cewek lagi makan ice cream. Cewek Pertama makan dengan cara jilatin ice creamnya, Cewek Kedua makan dengan cara menggigit ice creamnya, trus Cewek Ketiga makan dengan cara ngemutin tuh ice cream. Pertanyaannya, yang mana diantara 3 Cewek tersebut yang sudah menikah?”, tanya Amin.
Ibu guru kaget sejenak tetapi karena tidak mau mengecewakan muridnya, ibu guru menjawab, “Yang sudah menikah adalah Cewek yang ngemut ice creamnya..”.
“Salah bu.. yang sudah menikah adalah cewek yang pakai cincin kawin.
Tapi tidak apa-apa.. saya suka cara ibu berpikir..”

————— …..——————-

Saya cukup kaget dengan tulisan tersebut yang dikirimkan seorang teman ke milis alumni. Buat dia mungkin menjadi lucu ketika tulisan tersebut bisa membuat kita tersenyum dan mungkin tertawa. Dan tentunya akan semakin membuat tertawa kadang yang menjadi objek akhirnya sebuat jabatan profesioanal, seorang guru. Hahaha, sedemikian kerdilnya kita, yang pernah merasakan tangan dingin para guru, kemarahan seorang guru, bahkan mungkin nasehat dari seorang guru. Seorang teman sesama alumni, saat diskusi dengan para guru SMA Negeri 8 Jakarta, di pertengahan oktober 2001, menyatakan “bapak, ibu tak mungkin lah saya duduk berjauhan dengan bapak atau ibu. Kalau pun ada persoalan, itu adalah antara kami, para murid bapak- ibu sekalian. Buat kami tidak ada mantan bapak-ibu guru kami. Sampai kapan pun kami tetap murid bapak – ibu guru, ……” dan seterusnya.

Mungkin kalimat yang disampaikan Mas Sugiharjo, Alumni Smandel ’82, merupakan salah satu bagian dari momen  kehidupan saya yang akhirnya mengambil profesi sebagai guru. Saya tetap bangga dengan Bapak Lono Suparno kepala sekolah SDN Cikini 05 yang banyak memberikan saya ilmu saat saya harus mengejar beasiswa supersemar, bu Ida Faridah yang mengajar dengan tensi tinggi agar muridnya berkonsentrasi di kelas 5, bu Sitorus dengan suara yang keras di kelas 4 mampu membuat saya terbangun dari permaina dan obrolan setiap hari di kelas, bu Asni yang mengajar di kelas 1 dan 2 mengajar membaca dan berhitung dengan sabar walau saya masuk SD sudah bisa membaca koran Sinar Harapan terutama kolom Strategi Perang dan Militer, dan Pak Udin yang menuntaskan kewajiban belajar saya di kelas 6 dengan prestasi tertinggi.

Tulisan ini juga mengingat kepada para orang pintar negeri ini untuk tidak memanfaatkan guru sebagai bagian dari kampanye yang tidak mendidik. Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah harian Ibukota, untungnya koran dengan tiras tidak seperti Kompas. Ada tulisan Anas Urbaningrum, tentang profesi guru. Intinya, guru harus berterima kasih sama SBY dengan perbaikan kesejahteraan yang diadapat sekarang ini. Ini merupakan hasil dari obrolan Anas Urbaningrum di sejumlah daerah di Indonesia. Guru hanya mengeluh masalah lain, yaitu kesetaraan. Buat saya, ini kampanye mas. Memang komunitas guru bisa menjadi lumbung suara yang besar. Selain guru, mereka mengajar para siswa, yang tentunya merupakan lumbung suara pemilih muda. Dengan menyebutkan karena era SBY, tentunya guru harus sadar dong kenapa mereka mendapatkan peningkatan kesejahteraan. Hehehehe

Bapak saya adalah guru saya. Beliau wafat tahun 1992, saat saya sedang kuliah. Saya mampu menyelesaikan kuliah dengan dukungan teman-teman di BTA tempat saya mengajar. Pesan bapak saya, beberapa menit sebelum menghembuskan napas terakhir, “jaga diri baik-baik dan jadi orang yang bermanfaat.” Beliau menutup matanya, bersamaan dengan azan subuh. Beliau tidak pernah mempertanyakan gaji pensiunan yang mungkin akan menjadi kecil saat diukur dari tingkat kesejateraan. Seorang Pembatu Letnan Satu (PELTU). Harus menghidupi 9 anak yang masih bersekolah.

Kesejahteraan adalah hak semua pegawai negara, dan itu kewajiban negara untuk memenuhinya.
Bapak tidak pernah mengeluh saat hidupnya. Beliau tidak marah dengan sang pemimpin saat ada kondisi Sanering, pemotongan nilai uang tahun 60-70-an.  Bunda di rumah menghitung kesejahteraan bukan dengan uang, tapi saat beliau jalan kaki dengan aman dan tenang untuk membeli sayuran untuk dijual di rumah untuk menambah penghasilan ayah. Bunda jalan kaki dari Cikini ke Manggarai membawa sayuran jam 4 – 5 pagi, tanpa gangguan berarti. Jika ada kakak yang masuk rumah sakit “Sebiset” nama lain untuk RSCM saat itu, nggak ada yang aneh-aneh. Pasien langsung masuk tanpa menanyakan,”berapa punya uang. Ada uang buat tempat tidur nggak ? Buat kelas III atau kelas II.”

Bunda tidak pernah bingun mau masak apa, dan bahkan harus berpikir beli ini-itu dimana. Bahkan mengantri pula. Hahahahaha. Lagi-lagi, ada kewajiban negara dan hak warga negara.

Saya menjadi guru bukan mencari kemakmuran. Tapi saya mau membentuk anak bangsa, agar anak cucu saya dapat hidup terjamin. Dan pilihan guru bukan main-main. Kalau seorang dokter bis amemperbaiki penyakit yang terlihat, bahkan mungkin yang tak terlihat (pskis), guru adalah orang yang membentuk masa depan. Jadi jangan pernah mempermainkan guru, atau lebih baik parah menjadikan guru sebagai komoditas politik. Atau kita menutup kalimat dengan, ” Salah bu.. yang sudah menikah adalah cewek yang pakai cincin kawin. Tapi tidak apa-apa.. saya suka cara ibu berpikir..” Guru aja disalahkan, heheheheheheee. Dan sebaiknya guru hanya berpikir, juga hehehheheee.