Posts Tagged ‘SMAN 8’

Sekolah Hanya Bisa Tunggu Kepastian

Desember 25, 2010

YOGYAKARTA, KOMPAS – Sekolah menanti kejelasan dan kepastian pelaksanaan ujian nasional tahun ajaran 2010/2011. Padahal, menurut kabar, terdapat beberapa perubahan mendasar dalam pelaksanaan ujian nasional (UN).
Kalau dua perubahan itu memang dilakukan akan butuh persiapan untuk itu.
— Timbul Mulyono

Kebijakan pendidikan yang hampir selalu mendadak ini menyulitkan sekolah. Pelajar yang akan menghadapi ujian pun kesulitan membuat persiapan yang matang.

Pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA DIY Timbul Mulyono mengatakan, sekolah baru mendengar adanya perubahan pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun ajaran ini dari media massa. Di antara perubahan itu, tidak adanya UN ulangan seperti tahun ajaran lalu dan penggunaan hasil ujian akhir sekolah (UAS) untuk menentukan kelulusan peserta didik.

”Kalau dua perubahan itu memang dilakukan akan butuh persiapan untuk itu,” kata Timbul di Yogyakarta, Kamis (23/12/2010) kemarin.

Menurut Timbul, sekolah perlu segera memberi informasi ke wali murid dan pelajar apabila hasil UAS ditetapkan sebagai salah satu parameter kelulusan. Dikhawatirkan pelajar kurang mempersiapkan UAS karena memprioritaskan UN. Padahal, bila jadi diberlakukan, hasil UAS akan berbobot lebih besar daripada UN.

Untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi, saat ini sekolah-sekolah di DIY menyelenggarakan tambahan pelajaran dan latihan soal. Rencananya UAS diselenggarakan pertengahan April atau setidaknya dua pekan sebelum UN. Hal ini agar sekolah mempunyai waktu cukup mengolah nilai UAS. (IRE)
Kompas Cetak
Sumber :

Mendadak UN, menyulitkan semua

Desember 25, 2010

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Selama setidaknya dua tahun terakhir, perubahan kebijakan pendidikan diumumkan secara mendadak. Tahun lalu, pengumuman penyelenggaraan ujian nasional (UN) ulangan dan percepatan waktu UN utama juga diumumkan pada pertengahan tahun ajaran.
Perubahan yang mendadak membuat sekolah kalang kabut dalam mempersiapkan.
— Timbul Mulyono

Kebijakan pendidikan yang hampir selalu mendadak ini menyulitkan sekolah. Pelajar yang akan menghadapi ujian pun kesulitan membuat persiapan yang matang.

Pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA DIY Timbul Mulyono mengatakan, sekolah baru mendengar adanya perubahan pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun ajaran ini dari media massa. Di antara perubahan itu, tidak adanya UN ulangan seperti tahun ajaran lalu dan penggunaan hasil ujian akhir sekolah (UAS) untuk menentukan kelulusan peserta didik.

”Perubahan yang mendadak membuat sekolah kalang kabut dalam mempersiapkan,” tutur Timbul.

Timbul berharap, semua kebijakan pendidikan ditetapkan sejak awal tahun ajaran sehingga perencanaan lebih mudah dilakukan. Hal ini karena pendidikan merupakan proses yang perlu dipersiapkan sejak awal.

Sekretaris Pendidikan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Budi Asrori mengatakan, POS UN diharapkan sudah turun akhir Desember. Untuk menghadapi UN, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta akan mengadakan tujuh uji coba (try out), yang terdiri atas tiga try out untuk SMP, dua try out untuk SMA, dan dua try out untuk SMK.

”Kami juga memberi pendampingan pada sekolah-sekolah yang hasil UN tahun kemarin belum begitu baik,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya, sekolah-sekolah kini menanti kejelasan dan kepastian pelaksanaan UN tahun ajaran 2010/2011. Padahal, menurut kabar, terdapat beberapa perubahan mendasar dalam pelaksanaan ujian nasional (UN).

Kebijakan pendidikan yang hampir selalu mendadak ini menyulitkan sekolah. Pelajar yang akan menghadapi ujian pun kesulitan membuat persiapan yang matang. (IRE)
Kompas Cetak

Beaiswa India untuk 2011

Desember 18, 2010

KOMPAS.com — Seperti biasanya, setiap tahun Pemerintah India menyediakan 20 beasiswa bagi pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tingginya di universitas-universitas di negara tersebut. Tahun ini beasiswa yang disediakan untuk level sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2 dan S-3).

Beasiswa tersebut diberikan oleh Indian Council of Cultural Relations (ICCR) melalui program General Cultural Scholarships Scheme (GCSS). Beasiswa yang dibuka setiap bulan November-Desember ini juga berlaku bagi para pelajar asal Timor Leste.

Bagi yang berminat, aplikasi beasiswa harus dikirimkan hanya melalui Kedutaan Besar India di Jakarta dan tidak langsung melalui ICCR atau universitas. Adapun beasiswa ini meliputi tunjangan hidup, biaya akomodasi, biaya kuliah, dan beberapa biaya lainnya, termasuk tunjangan kesehatan dan studi lapangan. Hanya saja, biaya pergi-pulang dengan penerbangan atau pesawat udara tidak ditanggung melalui skema beasiswa ini.

Informasi lebih mendetail mengenai beasiswa, syarat dan kriteria kandidat, serta formulir pendaftaran bisa dilihat di http://www.indianembassyjakarta.com/edu. Batas akhir pengiriman aplikasi hingga 22 Januari 2011.

Ujian Nasional 2011

Desember 18, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah dan Badan Standar Pendidikan Nasional telah siap dengan formula baru penilaian kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Untuk itu, pelaksanaan ujian nasional tahun ajaran 2010/2011 hanya dilaksanakan satu kali pada bulan Mei 2011.
Pada tahun ini UN ulangan ditidakan. Adapun ujian sekolah diadakan sebelum pelaksanaan UN.

Ujian nasional (UN) utama untuk SMA/SMK digelar pada minggu pertama Mei 2011, sedangkan untuk SMP pada minggu kedua Mei 2011. Adapun UN susulan bagi mereka yang belum mengikuti UN utama dilaksanakan satu minggu kemudian. Pada tahun ini UN ulangan ditidakan. Adapun ujian sekolah diadakan sebelum pelaksanaan UN.

Demikian perubahan yang terungkap dalam sosialisasi kebijakan UN Tahun Pelajaran 2010/2011 yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) di Jakarta, Kamis (17/12).

Kegiatan tersebut selain untuk mensosialisasikan juga meminta masukan soal perubahan UN dari dinas pendidikan kota/kabupaten dan perguruan tinggi.Pemerintah memnag telah memgang formula baru. Namun, sebelum ditetapkan secara resmi, pemerintah dan BSNP meminta masukan dari daerah apakah perubahan dalam pelaksanaan UN 2011 bisa diterima dengan baik.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan dengan adanya formula baru yang mengevaluasi siswa secara komprhensif selama tiga tahun belajar, polemik UN yang muncul tiap tahun diharapkan bisa berhenti. “Kita nantinya mesti lebih fokus pada apa yang perlu dikerjakan atau diperbaiki dari hasil UN,” ujar Nuh.

Ketua BSNP Djemari Mardapi mengatakan penilaian kelulusan antara UN dan hasil belajar di sekolah tidak lagi saling memveto, namun bisa saling membantu. Untuk itu, penilaian UN digabung dengan nilai dari sekolah.

Kelulusan siswa dari sekolah dengan melihat nilai gabungan rencananya dipatok minimal 5,5. Nilai gabungan merupakan perpaduan nilai UN dan nilai sekolah untuk setiap mata pelajaran UN.

Rumus yang ditawarkan pemerintah untuk nilai gabungan = (0,6 x nilai UN) + (0,4 x nilai sekolah). Nilai sekolah dihitung dari nilai rata-rata ujian sekolah dan nilai rapor semester 3-5 untuk tiap mata pelajaran UN.

Nuh mengatakan bobot UN mesti lebih besar dari nilai sekolah untuk mengontrol hasil kelulusan. Pasalnya, dari data-data yang ada masih banyak sekolah yang me-mark up nilai siswa.

Dengan formula baru ini, rencananya akan dipatok nilai tiap mata pelajaran minimal 4,00. Integrasi nilai UN dan nilai sekolah ini diharapkan jadi pendorong untuk menganggap penting semua proses belajar sejak kelas 1 hingga kelas 3.

Adapun kriteria kelulusan ujian sekolah diserahkan kepada sekolah. Nilai sekolah merupakan nilai rata-rata dari ujian sekolah dan nilai rapor semester 3-5 setiap mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas Mansyur Ramli mengatakan penilaian kelulusan siswa tidak lagi hasil potret evaluasi sesaat. Penilaian dilakukan selama proses belajar siswa di sekolah.

Pemimpin yang Amanah

Desember 18, 2010

Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang berpidato di atas mimbar. Sambil berpidato, beliau mengibas-ngibaskan bajunya. Para jamaah bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan beliau. Ketika diperhatikan, ternyata baju beliau itu basah. Beliau mengibas-ngibaskan bajunya agar cepat kering.

Ketika hal ini dikonfirmasikan, dengan tenang beliau bercerita bahwa beliau hanya punya sepotong baju dan kebetulan baju itu belum kering. Ketika itu, khalifah mengucapkan satu kalimat yang sangat bagus, yang pada intinya adalah beliau tidak ingin memberatkan harta negara atau harta rakyatnya.

Jawaban itu sekilas terasa membingungkan bila dilihat dari kacamata kita sekarang. Sebab pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, justru negara saat itu sedang dalam kondisi sangat makmur, baik dari sisi rakyat maupun kondisi keuangan negara. Saking makmurnya, sampai-sampai petugas zakat negara selalu bingung ketika hendak menyalurkan zakat yang melimpah lantaran tidak ada yang mau menerima karena semua orang sudah merasa memiliki kecukupan harta.

Sangat berbeda dengan kondisi negara kita sekarang ini. Untuk urusan zakat saja, setiap orang merasa dirinya layak menerima zakat. Sementara itu, pemimpinnya terlihat sering menggunakan aji mumpung. Mumpung sedang berkuasa, maka keruklah harta sebanyak-banyaknya.

Lebih jauh lagi dari masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Rasulullah mencontohkan sikap seorang pemimpin. Peristiwanya terjadi ketika Rasulullah dan para sahabat sedang shalat berjamaah. Ketika itu, terdengar badan Rasulullah mengeluarkan suara berderak-derak, seperti suara tulang yang sedang kaku.

Seleai shalat, para sahabat memeriksanya dan ternyata Rasulullah mengikatkan batu-batu di perutnya sebab beliau sedang kelaparan. Pada saat dikonfirmasi, Rasulullah mengaku bingung tentang apa yang harus beliau katakan nanti di hari akhir bila menjadi pemimpin itu hanya memberatkan umat.

Memimpin adalah mengabdi. Memimpin bukanlah masa-masa untuk mengeluarkan jurus aji mumpung. Islam mengajarkan bahwa sebuah jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak. Sehingga kita tidak bisa sembarangan memperlakukan jabatan itu.

Lalu, apa yang dimaksud dengan amanah? Amanah bisa berarti sesuatu yang harus ditepati. Bisa juga berarti amal atau dipercaya. Kadang bisa juga berarti sesuatu yang dipercayakan.

Dari pengertian ini, jelas seseorang yang diberi amanah wajib menjalankan amanah. Dari situ, kita bisa menyimpulkan bahwa seorang pemimpin yang kepadanya dititipkan amanah melindungi dan mengatur rakyatnya, jelas tidak boleh memberatkan rakyatnya dari sisi apapun juga.

Tapi coba kita lihat kondisi negara kita sekarang? Kondisi kita sangatlah jauh dari cerita-cerita masa lalu. Rakyat kita masih banyak yang miskin dan suka meminta-minta di semua tempat. Sementara pemimpin kita dari berbagai posisi dan tingkat jabatan, justru terlihat semakin makmur.

Para pemimpin kita nampaknya seperti tidak memahami konsep kepemimpinan. Hal ini terlihat dari seringnya mereka berganti kendaraan, merenovasi rumah padahal masih terlihat bagus, dan menaikkan tunjangan lain-lain di luar tunjangan standar mereka.

Padahal kita sama-sama tahu sumber uang yang mereka gunakan. Enam puluh hingga tujuh persen murni berasal dari pajak yang dibayar oleh rakyat.

Itulah bukti bahwa amanah yang seharusnya dijalankan ternyata melenceng dari yang seharusnya. Ini adalah bukti kerakusan dan kebodohan manusia dalam memegang amanah. Hal ini termaktub dalam AL-Quran, antara lain pada surta Al Ahzab ayat 72:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.â€Â

Akhirnya, kita sebagai rakyat tidak bisa melakukan hal lain kecuali berdoa. Semoga para pemimpin kita kelak akan menyadari kelemahan dan kesalahannya dalam menjalankan amanah dan pada akhirnya mereka tidak akan menyalahi amanah itu, termasuk tidak lagi membebankan kita sebagai rakyatnya.

Disarikan dari Ceramah Jumat, 12 Februari 2010 oleh Dr. Ir. Yan Orgianus, MT

Ciri pemimpin yang tidak amanah

Desember 18, 2010

بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ) رَوَاهُ البُخَارِيُّ(

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya . Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar”. Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata orang Badui itu, “Saya wahai Rasulullah saw.“ Rasul saw. berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat”. Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasul saw. menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari)

Hadits ini sebuah peringatan dari Rasul saw. agar amanah itu diberikan kepada ahlinya. Dan puncak amanah adalah amanah dalam kepemimpinan umat. Jika pemimpin umat tidak amanah berarti kita tinggal menunggu kiamat atau kehancuran..

Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!

Ciri-Ciri Pemimpin yang tidak amanah, adalah sbb:

Pertama, pemimpin yang tidak memenuhi syarat keahlian, yaitu sebagaimana syarat pemimpin yang disepakati ulama Islam, adalah: Islam, baligh dan berakal, lelaki, mampu (kafaah), merdeka atau bukan budak dan sehat indera dan anggota badannya. Pemimpin yang tidak memiliki syarat keahlian pasti tidak amanah. Misalnya, seorang yang tidak sehat indera dan anggota badannya dan menjadi pemimpin sebuah negara atau bangsa. Ia bisa dipastikan tidak mampu menjalankan amanahnya karena faktor kesehatannya, kemudian dia juga tidak mampu melakukan tugas-tugas yang berat karena cacat sehingga akhirnya lebih banyak berbuat untuk dirinya sendiri daripada untuk rakyatnya.

Begitu pula dengan syarat berakal, karena bila seorang pemimpin bodoh, tidak berakal, dan tidak mampu memimpin pasti orang itu juga tidak amanah, karena dia tidak mengerti apa yang seharusnya dikatakan dan diperbuat. Dan sangat mungkin ia akan diperalat oleh orang dekatnya atau kelompoknya.

Kewajiban kita wahai saudaraku, ialah memunculkan pemimpin bangsa dengan berpedoman pada syarat-syarat yang dituntut dalam Islam. Jika tidak maka kita semua berdosa, bahkan dosa besar. Kita semua harus berjihad untuk mewujudkan hal itu.. Bahkan Rasulullah saw. menyebutkan jihad yang paling utama adalah melakukan amar ma’ruf wa nahi munkar jika ada pemimpin yang tidak sesuai dengan syarat dalam Islam beliau bersabda, “Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang benar kepada penguasa yang zhalim”(HR Ibnu Majah, Ahmad, At-Thabrani, Al-Baihaqi dan An-Nasai). Hadits yang lain, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seorang yang bangkit menuju imam yang zhalim, memerintahkan dan melarang sesuatu lalu ia dibunuh”(HR Al-Hakim)

Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!

Ciri kedua pemimpin yang tidak amanah adalah mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Jika pemimpin yang amanah melaksanakan segala kepemimpinannya untuk semua rakyat dan bangsanya, maka pemimpin yang tidak amanah melakukannya hanya untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Ia tidak menegakkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Ia juga tidak mengembangkan kekayaan negeri untuk kepentingan rakyatnya, tetapi untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya saja, bahkan bila perlu dengan mengorbankan rakyat dan negaranya. Na’udzu billah min dzalika.

Ciri ketiga adalah berlaku zhalim. Pemimpin yang tidak amanah bersifat zhalim. Dia melaksanakan kepemimpinan itu bukan untuk melaksanakan amanah, melainkan untuk berkuasa dan memiliki segala kekayaan negeri sehingga dapat berbuat zhalim kepada rakyatnya. Yang dipikirkan adalah kekuasaannya dan fasilitas dari kekuasaan itu, tidak peduli rakyat menderita dan sengsara bahkan tidak peduli tumpahnya darah rakyat karena kezhalimannya.

Rasulullah saw bersabda:

إنها ستكون عليكم أمراء من بعدي يعظون بالحكمة على منابر فإذا نزلوا اختلست منهم وقلوبهم أنتن من الجيف فمن صدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم فليس مني ولست منه ولا يرد علي الحوض ومن لم يصدقهم بكذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فهو مني وأنا منه وسيرد علي الحوض

“Sesungguhnya akan datang di tengah-tengah kalian para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang di forum-forum dengan penuh hikmah, tetapi jika mereka turun dari mimbar mereka berlaku culas, hati mereka lebih busuk daripada bangkai. Barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kesewenang-wenangan mereka, maka aku bukan lagi golongan mereka dan mereka bukan golonganku dan tidak akan dapat masuk telagaku. Barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka maka ia adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka, dan mereka akan datang ke telagaku.” (H.R. At-Thabrani)

Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!

Ciri keempat adalah menyesatkan umat. Pemimpin yang tidak amanah akan melakukan apa saja untuk menyesatkan umat. Misalnya, dengan kekayaannya yang diperoleh secara zhalim membeli media masa untuk menjadi ‘corongnya’. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari Dajjaal –laknatullah-. Rasul saw bersabda:” “Selain Dajjaal ada yang lebih aku takuti atas umatku; yaitu para pemimpin yang sesat” (HR Ahmad).

Ciri kelima adalah membuat dan rusak dan hancur seluruh tatanan sosial masyarakat. Pemimpin yang tidak amanah akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran. Salah satu bentuknya adalah menjadi dominannya seluruh bentuk kemaksiatan, seperti kemusyrikan, sihir dan perdukunan, zina dan pornografi, minuman keras dan Narkoba, pencurian dan korupsi, pembunuhan dan kekerasan, dll.

Rasulullah saw. bersabda:

يخرج في آخر الزمان رجال يختلون الدنيا بالدين يلبسون للناس جلود الضأن من اللين ألسنتهم أحلى من العسل وقلوبهم قلوب الذئاب يقول الله: أبي يغترون أم علي يجترئون فبي حلفت لأبعثن على أولئك منهم فتنة تدع الحليم منهم حيران.

“Akan muncul di akhir zaman lelaki yang memanipulasi agama untuk kepentingan dunia, mengenakan pakaian yang halus-halus, lidah mereka lebih manis daripada madu tetapi mereka berhati serigala. Allah berfirman, ”Apakah kepada-Ku mereka sombong atau, kepada-Ku mereka berani. Atas nama-Ku mereka bersumpah. Maka akan ditimpakan kepada mereka fitnah, yang membuat orang-orang pandai jadi kebingungan” (H.R. Tirmidzi)

Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!

Dengan demikian kita harus memunculkan pemimpin yang adil, yaitu pemimpin yang senantiasa menegakkan keadilan dan berbuat untuk kemaslahatan rakyatnya di dunia dan di akhirat. Kita harus berjihad untuk sebuah proses lahirnya pemimpin yang adil. Kita harus menyiapkan ibu-ibu yang akan mencetak pemimpin yang adil. Kita juga harus menyiapkan sarana untuk terciptanya pemimpin yang adil, Dan akhirnya kita harus berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar agar mendapatkan pemimpin yang adil.

“Dan kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinan itu”. Umar bin Khathab r.a. berkata: Jika ada seekor keledai yang jatuh di Irak, maka aku akan ditanya di hadapan Allah Taala, kenapa engkau tidak memperbaiki jalan itu”

Doa kita adalah doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Rasulullah saw, bersabda:

Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah di hari yang tiada perlindungan, kecuali perlindungan Nya: Imam yang adil….(Muttafaq ‘alaih)

“يوم من إمام عادل أفضل من عبادة ستين سنة، وحد يقام في الأرض بحقه أزكى فيها من مطر أربعين عاماً”.

“Sehari bersama imam yang adil lebih baik dari ibadah seorang lelaki selama 60 tahun. Dan hukum hudud yang ditegakkan di muka bumi dengan benar lebih bersih dari hujan yang turun selama 40 tahun” (H.R. At-Thabrani dan Al-Baihaqi)

ثلاثة لا ترد دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يفطر، ودعوة المظلوم

Tiga kelompok yang tidak ditolak doanya: Imam adil, orang yang berpuasa sampai berbuka dan doa orang yang tertindas” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

أحب الناس إلى اللّه وأقربهم منه مجلساً يوم القيامة: إمام عادل، وأبغض الناس إلى اللّه يوم القيامة، وأشدهم عذاباً: إمام جائر

“Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat kedudukannya di hari kiamat adalah imam yang adil. Dan manusia yang paling dibenci Allah dan paling keras azabnya adalah imam yang zhalim” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan al-Baihaqi)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ – والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Beasiswa Pemerintah Brunei untuk tahun 2011-2012

Desember 6, 2010

Pemerintah Brunei Darussalam menawarkan program beasiswa untuk mahasiswa asing pada tahun akademik 2011-2012. Beasiswa ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Brunei yaitu Universiti Brunei Darussalam (UBD), Universitas Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) dan Institut Teknologi Brunei (ITB). Tahun akademik pada ketiga perguruan tinggi tersebut akan dimulai pada bulan Juli/Agustus 2011.

Beasiswa yang akan diberikan juga termasuk biaya masuk, tiket pesawat, tanggungan kesehatan pada rumah sakit pemerintah, biaya hidup per bulan dan biaya buku akademik.

Pendaftaran beasiswa Brunei 2011-2012 ini akan ditutup pada 15 Desember 2010. Ayo buruan!

Informasi selengkapnya download file pdf dari situs resmi pemerintah Brunei Darussalam di: http://www.mofat.gov.bn/scholarship/

Bursting the Bubble Tests

Desember 3, 2010

Secretary Duncan, state education leaders and ED staff spoke to reporters today to announce $330 million in grants to develop better student assessments.

Almost everywhere Secretary Duncan goes, complaints about “bubble tests” bubble up. Teachers are usually the first ones to bring up their issues with the ways states currently assess their students. We heard these criticisms over and over on our recent “Courage in the Classroom” tour.

“The number-one complaint I heard from teachers is that state bubble tests pressure teachers to teach to a test that doesn’t measure what really matters,” Arne said on a call with reporters this afternoon where he announced $330 million in grants from the Race to the Top program so states can develop a new generation of more sophisticated assessments. The grants aim to give teachers the assessments they’ve been asking for—tests that measure students’ critical thinking and other higher-level skills, gauge student growth over the course of a school year and provide ongoing feedback to teachers so they can adjust their approaches.

What’s unique about the Race to the Top assessment grants is who gets them—not individual states, but large coalitions of states that will work together to develop common assessments measuring college and career readiness. Sharing the work will save taxpayers hundreds of millions of dollars, if not billions, Arne said.

“Fifty states doing this individually (as they have historically done) has made no sense, whatsoever,” he said. All together, the 44 states in the funded coalitions, along with the District of Columbia, serve 85 percent of the nation’s public school students—and states not participating in a consortium are free to use the assessments that are developed.

The new generation of tests—Arne dubbed them “Assessments 2.0″—will be aligned to the higher standards that were recently developed by governors and chief state school officers and have been adopted by 36 states. The tests will assess students’ knowledge of mathematics and English language arts from third grade through high school. The assessments will be ready for use by the 2014-15 school year.

These more advanced assessments will replace tests currently in use and shouldn’t result in more time devoted to testing. “These tests will give us the tools to get better and smarter,” said Gene Wilhoit, executive director of the Council of Chief State School Officers. In addition, he said, the tests will be “more thoughtful and more connected” to the more streamlined college- and career-ready standards that states have developed together.

Link

Ketua IGI: Mendiknas Salah Memahami….

Desember 3, 2010

Jumat, 3 Desember 2010 | 14:50 WIB
DHONI SETIAWAN/KOMPAS.com
Ilustrasi: Salah besar jika UN model Indonesia bisa diterapkan di AS, terutama untuk menentukan kelulusan anak-anak didik.

JAKARTA, KOMPAS.com – Terlihat ada kesalahpahaman dari pernyataan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) dalam memahami artikel tentang ujian nasional (UN) berjudul Bursting the Bubble Tests di situs Kementrian Pendidikan Nasional Amerika Serikat (AS). Salah besar jika UN model Indonesia bisa diterapkan di AS, terutama untuk menentukan kelulusan anak-anak didik.
Di negara-negara maju seperti AS, Australia, New Zealand, dan China tidak ada UN yang diterapkan pada semua siswa di semua negara bagian mereka.
— Satria Dharma

Demikian dituturkan Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma melalui surat elektronik pada diskusi di sebuah mailing list pendidikan, Jumat (3/12/21010). Terkait hal itu, Satria mengaku sudah menyampaikan kesalahpahaman tersebut secara langsung ke staf ahli Mendiknas.

Dalam emailnya Satria mengatakan sudah mengkopi ulang potongan kalimat penting di situs http://www.ed.gov/blog/2010/09 yang dimaksud, yaitu, “What’s unique about the Race to the Top assessment grants is who gets them –not individual states, but large coalitions of states that willwork together to develop common assessments measuring college and career readiness”.

“Jadi, common assessments ini dianggap semacam ujian nasional (UN) yang sama dengan yang kita lakukan saat ini,” kata Satria.

Dia mengatakan, UN di Indonesia tidak perlu diterapkan di seluruh Indonesia atau berskala nasional. UN hanya bisa dilakukan pada daerah-daerah yang telah mampu menerapkan semua standar nasional yang perlu diuji dengan sebuah ujian nasional.

“Sekolah-sekolah yang belum bisa menerapkan ke delapan standar pelayanan minimum pendidikan tentu tidak perlu diuji dengan sebuah ujian yang berstandar nasional. Ujian yang berstandar nasional semestinya hanya boleh diberikan jika instrumen masukan dan proses pendidikannya sudah berstandar nasional juga,” tegas Satria.

Jika instrumen masukan dan proses yang diberikan tidak berstandar nasional, lanjut Satria, maka mengukurnya dengan sebuah UN adalah kesalahan fatal. Menjadikannya sebagai syarat kelulusan adalah sebuah kekejaman dan ketidakadilan bagi peserta didik yang tidak memperoleh pelayanan pendidikan berstandar nasional.

“Di negara-negara maju dan besar seperti Amerika Serikat, Australia, New Zealand, dan China tidak ujian nasional (UN) yang diterapkan pada semua siswa di semua negara bagian mereka. Negara dengan kualitas pendidikan terbaik seperti Finlandia malah tidak punya UN dan kelulusan siswa mereka ditentukan oleh sekolah masing-masing,” kata Satria.

Diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Senin (30/11/2010), Pernyataan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh ihwal ujian nasional (UN) model Indonesia sangat penting dilaksanakan di Amerika Serikat (AS) dinilai menyesatkan oleh para pemerhati pendidikan. Menurut Mendiknas, berdasarkan sebuah situs di AS dijelaskan, bahwa untuk melakukan revolusi pendidikan, UN di AS sangat penting dilaksanakan.

“Pernyataan Bapak Nuh, bahwa UN di AS diperlukan, itu sangat menyesatkan. Tolong Mendiknas membaca langsung situs yang dia maksud. Patut diduga beliau hanya mendapat bisikan orang-orang terdekatnya untuk menjustifikasi atau mencari alasan agar UN di Indonesia tetap berjalan,” tegas Heru Widiatmo, pemerhati pendidikan yang kini menjadi peneliti di American College Testing, AS, lewat surat elektronik yang dikirimkannya di sebuah diskusi mailing list pendidikan, Jumat (3/12/2010).

10 Rahasia Orang Jepang

November 30, 2010

http://momentku.com/10-rahasia-sukses-orang-jepang

1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.
jepang2Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).
Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak teman saya yang paling besar sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.