Penjualan Karbon..versi siswa saya

Agustus 5, 2011

Apa yang dimaksud dengan gas emisi karbon?

(tugas harian seorang siswa, nama dirahasiakan,… hehhehe)

Gas emisi karbon itu gas buangan, ya kasarnya bisa dibilang sampahnya efek rumah kaca. Banyak industri-industri yang menyumbang gas emisi ini, terutama di bidang minyak bumi atau batu bara.  Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, dan Jepang adalah negara industri penghasil emisi karbon terbesar. Nggak heran lah ya, soalnya industri mereka udah maju banget. Penebangan hutan liar juga sangat berpengaruh terhadap besarnya emisi karbon yang ada di bumi ini. Namun sektor-sektor lain seperti transportasi dan rumah tangga juga ikut bertanggungjawab. Emisi karbon itu pada dasarnya normal, karena kegiatan apa saja yang kita lakukan bisa menghasilkan (atau menghemat) emisi tersebut, bahkan hal sepele sekalipun. Contoh simpelnya, kalau Anda terbiasa menyisakan makanan di piring alias nggak pernah habis. Itu juga menghasilkan emisi karbon loh, padahal simpel banget kan. Ada berapa g/kg karbon yang kita hasilkan, itu semuanya bisa dihitung. Namanya jejak karbon (carbon footprint).

Sekarang ini, industri terlalu semangat dalam berproduksi nih kayaknya. Makanya emisi yang dihasilkannya besar banget. Bisa bikin atmosfear jadi bolong-bolong dan salah satu dampak terbesarnya ya itu, El Nino.

Terus apa yang dilakukan oleh industri tersebut untuk memperbaiki keadaan?

Mungkin mereka insyaf atau apa saya nggak tahu, tapi mereka kasih ide cemerlang yaitu jual-beli karbon. Apaan tuh? Saya juga pas pertama kali dengernya merasa aneh banget. Karbon kok diperjual-belikan? Keliatan aja enggak barangnya. Tapi setelah browsing sana-sini akhirnya saya bisa berkata “oooh” dengan puasnya.

Apa yang dimaksud dengan jual-beli karbon?

Jual-beli karbon. Kesannya terdengar simpel banget ya. Padahal dibalik kesimpelannya itu, ada  kerumitan yang sangat rumit. Kalo versi gampangnya sih, jadi ada 2 negara nih, yang satu negara maju/industri dan yang satu lagi negara berkembang. Si negara maju ini menghasilkan banyak emisi karbon karena industrinya yang sudah merajalela. Si negara maju ini suatu hari merasa bersalah dan pengen merubah itu. Dia bingung tuh awalnya. Namanya juga industri, pasti menghasilkan emisi yang besar, nggak mungkin emisinya kecil. Kalau industrinya dikurangin secara total-totalan juga nggak mungkin, namanya juga negara industri. Akhirnya dia ketemu sama negara berkembang terus disitu mereka ngobrol. Si negara maju curhat kalau dia pengen mengubah keadaan tapi nggak bisa. Nah, kebetulan si negara berkembang ini letaknya di daerah tropis yang kaya akan hutannya. Keluarlah ide dari negara maju, “kenapa saya nggak bekerja sama sama Anda aja, Negara Berkembang?” Mulai dari situ semuanya mulai deh.

”Si negara maju bilang ia bakal bayar negara berkembang, asal dia janji bakal melestarikan hutan di negaranya supaya bisa mengurangi karbon yang dihasilkan oleh si negara industri. Jadi istilahnya, negara maju membeli karbon dari negara berkembang dan negara berkembang menjual karbon pada negara industri.”

Simpel kan, gitu aja udah beres tuh masalah emisi karbon, ya kan? Sebenarnya, belum beres sampai situ aja.

Karena kalau gitu caranya, menurut saya pribadi, jadi saling ketergantungan. Pada awalnya sih emang bagus, sama-sama menguntungkan. Lalu bagaimana kalau salah salah satu negara ini ada yang rakus. Misalnya si negara industri, gara-gara dia pikir “ah udahlah karbonnya kan diurusin sama negara berkembang..,” industri di negaranya makin menjadi-jadi, malah makin gede aja emisi karbonnya, toh udah ada yang ngurusin jadi dia tinggal terima beres. Lalu bagaimana kalau hutan kita rusak? Siapa yang mau menetralkan karbon tersebut kalau kita sendiri udah nggak punya hutan? Makanya menurut saya, lebih bagus mengurangi walaupun pelan-pelan deh, tapi sambil menetralkan, soalnya kejadian ngga enak kayak gitu kan pasti bakal ada. Jadi nggak segampang itu jual-beli karbon dapat dilakukan. Bahkan sampai sekarang, (*setahu saya doang loh, kalau salah mohon dikoreksi) Indonesia juga belum mulai menjual karbon kok. Iya, kita kan negara agraris dan masih berkembang, juga kita punya banyaaak banget hutan, jadi kita yang akan menjual karbon. Kabar terakhir yang saya denger, pemerintah masih mengurus mekanisme jual-beli karbon ini, karena yang kaya saya bilang di awal, ngga gampang. Beda hutan, beda tumbuhan, beda organisme, beda pula jejak karbon yang dapat dinetralkan.

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: