Budaya Malu (Bukan Malu-maluin)

November 30, 2010

“Opini” by Michael Razie
Written by michael razie
Friday, 27 March 2009 15:51
Budaya Malu – Bukan malu-maluin

malu-maluin_2Arti budaya menurut Koentjaraningrat, seorang pakar budaya yang pemikirannya paling banyak diadopsi oleh pakar budaya lainnya di Indonesia menyatakan bahwa budaya adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Jadi kebudayaan berhubungan sangat erat dengan masyarakat.

Karena budaya adalah sebuah karya, tindakan, gagasan dan hasil pemikiran manusia, maka budaya dapat menjadi karya yang negatif maupun positif. Contoh budaya yang positif dalam masyarakat Indonesia adalah budaya musyawarah, dapat kita lihat sampai pada tatanan struktur terendah dalam pemerintahan yaitu rapat rukun tetangga/rt. Ada budaya gotong- royong (rewangan dalam masyarakat pedesaan Jawa) dan masih banyak budaya positif lainnya yang seharusnya dapat kita kembangkan.

Sedangkan budaya yang negatif seperti “budaya korupsi”, “budaya ngemplang BLBI”, “budaya tebar janji pada waktu kampanye”, “budaya demo”, ada juga “budaya nyontek”, “budaya malas” dan “budaya meminta-minta”. Yang lebih miris adalah “budaya sengaja melanggar hukum” dan “budaya arogan”.

Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Budaya dapat diturunkan dari satu generasi kepada generasi lainnya dan menjadi ciri khas daripada masyarakat tersebut. Sangat mengerikan jika budaya yang negatif lebih banyak diwariskan kepada generasi yang berikutnya. Meskipun tidak dapat disangkal bahwa berbagai budaya negatif telah “ditularkan” kepada generasi muda saat ini.

Salah satu budaya yang perlu mendapat perhatian lebih yaitu budaya malu, bukan budaya malu-maluin. Budaya malu-maluin sudah terlanjur ada dan banyak dipertontonkan dan kita sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi yang kita mau bahas adalah budaya malu, sebuah budaya yang harusnya dipertahankan kalau bisa dikembangkan dalam masyarakat kita yang santun ini.

Malu terhadap tindakan amoral, malu untuk berbuat salah, malu untuk menjadi arogan, malu melakukan KKN atau menjadi narsis, malu jika salah tapi mengaku benar, harusnya menjadi malu jika sudah menjadi pejabat dan orang penting tapi selingkuh dan korupsi. Masih banyak malu-malu yang lainnya yang baik dan patut dijadikan sebuah budaya.

Lihat apa yang dilakukan pejabat kita setingkat Jaksa Agung beberapa waktu yang lalu yang mengangkat kembali Kemas Yahya dan M. Salim dengan kedudukan sebagai koordinator dan wakil koordinator Satuan Khusus Supervisi dan Bimbingan Teknis Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi. Padahal sebelumnya mereka baru saja dicopot dari jabatan mereka sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus dan Direktur Penyidikan berkaitan dengan kasus Artalita. Juru Bicara Kejagung tidak kuatir akan berdampak buruk dengan citra dari institusi penegak hukum ini. Tapi pada akhirnya tanpa merasa malu Jaksa Agung Hendarman mencopot kembali kedua rekannya atas desakan dari berbagai pihak. Seandainya budaya malu menjadi bagian dari budaya kerja di jajaran Gedung Bundar.

Belum habis rasa heran atas tindakan para pejabat kita, rekan-rekan pejabat di DPR tersandung dengan perbuatan mereka dan terjerat dalam kasus korupsi. Masih ingat Al Amin N dan masih banyak lagi sebelumnya dan sesudahnya para pejabat yang terimbas masalah korupsi ? Terbaru adalah kasus yang melanda Abdul Hadi Djamal yang berurusan dengan KPK.

Kita semua heran kenapa mereka tidak malu melakukan hal yang tercela dan menyakiti rakyat itu. Jawabannya mungkin bisa didengar dari apa yang dikatakan oleh Peniliti The Habibie Center, Andrinof A. Chaniago. Ia mengatakan bahwa ada 2 (dua) penyebab dari maraknya korupsi yang dilakukan oleh oknum anggota DPR, pertama karena konsekuensi dari politik berbiaya tinggi. Penyebab kedua adalah karena terjebak nafsu menaikkan status sosial dengan ukuran materi. Memang akan sangat memalukan jika hanya ingin menjadi lebih kaya salah satu caranya adalah menjadi anggota parlemen negeri ini. Semoga itu hanya masalah oknumnya saja, bukan budaya negatif yang sedang tumbuh subur.

Tidak berhenti di situ, lihat bagaimana para caleg mempromosikan diri melalui baliho dan brosur yang ditebar di berbagai sudut jalan, tembok, pagar rumah orang, tanpa memikirkan kesantunan, estetika dan kepentingan orang lain. Hal tersebut justru menunjukkan sikap arogansi seorang calon pemimpin walau dengan dalih bebas berbuat pada masa kampanye. Bagaimana seandainya terpilih apa tidak menjadi lebih arogan lagi ? Ada yang memasang atribut partai di tiang lampu merah tanpa memperdulikan keselamatan banyak pihak. Ketika berorasi para caleg ini kadang mengumbar janji yang tidak mungkin diwujudkan, sebuah impian kosong bagi negeri mimpi

Budaya malu juga menjadi bagian penting dalam kehidupan bergereja. Ketika budaya malu menjadi bagian kehidupan bergereja maka gereja menjadi panutan dalam banyak hal penting. Ketika orang hanya mengejar kepentingan diri sendiri dan mengabaikan moral dan etika, mereka akan menoleh kepada gereja.

Sudah seharusnya gereja menjadi teladan dalam berbudaya malu. Jemaat merasa malu jika datang terlambat di kebaktian, merasa malu jika berdosa tapi masih melayani juga atau merasa malu karena mampu namun tidak terlibat dalam pelayanan, memberi persembahan, mengembalikan perpuluhan. Malu jika ngerasani orang lain dan pemimpinnya. Malu jika selalu menuntut perhatian tanpa memberi perhatian.

Para pemimpin jemaat tidak berebutan”mimbar’ karena merasa malu jika melakukannya. Malu berkotbah seadanya karena tidak mempersiapkan dengan baik, malu ketika jemaat disuruh berpuasa tapi gembala pergi makan-makan bersama kolega (biasa, alasan hospitality. Wih memang berat nih!), malu ketika jemaat sakit tapi tidak punya waktu untuk mengunjunginya, malu jika menyimpan dosa tapi tetap kotbah berapi-api. Malu jika memiliki rasa malu karena hidup sebagai pelayan penuh perjuangan dan ada begitu banyak air mata yang harus dikeluarkan. Malu karena berusaha untuk dimengerti tanpa mengerti. Malu karena malu.

Seperti kata bijak dalam kitab Amsal 2:20 ; 4:19, 21: “Tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar” tapi “Jalan orang fasik seperti kegelapan, mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung” karena itu “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan”.

Ah seandainya negeri ini memiliki budaya malu yang tinggi maka tidak akan ada lagi negeri impian yang diimpikan. Kebangkanlah budaya malu bukan budaya malu-maluin !

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: